Anda di halaman 1dari 56

Fabella Khoiriah

Jihan Nurlaela
Ratih Nur Indah Siregar
Rozi Kodarusman Warganegara

Ginjal memiliki sejumlah peranan penting


dalam fungsi fisiologi manusia. Utamanya
ginjal berperan dalam menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit serta
keseimbangan asam dan basa. Ginjal
memproduksi renin, yang memiliki peranan
yang vital dalam mengontrol tekanan darah
dan erythropeietin, yang mempengaruhi
produksi sel darah merah.

Trauma didefinisikan sebagai kondisi morbid


dari tubuh yang diakibatkan oleh kekerasan
eksternal atau suatu keadaan yang
menyebabkan kerusakan tubuh atau organ
tubuh dimana faktor penyebab berasal dari
luar tubuh. Trauma ginjal terjadi 1% 5%
dari keseluruhan trauma. Ginjal merupakan
organ genitourinaria dan organ abdomen
yang paling sering sering mengalami
trauma.

Secara patologis trauma pada ginjal dapat


dibagi atas:
Kontusio ginjal: + 80 % trauma tumpul
ginjal. Perdarahan di parenkim ginjal tanpa
kerusakan
kapsul,
kematian
jaringan
maupun kerusakan kaliks.
Laserasi ginjal: robekan parenkim mulai dari
kapsul ginjal berlanjut sampai pelviokaliks.
Cedera pedikel ginjal: cedera pada arteri
maupun vena utama ginjal ataupun cabang
segmentalnya.

Grade 1 :
Kontusio renis
terdapat
perdarahan di ginjal tanpa
kerusakan jaringan, kematian jaringan
maupun kerusakan kaliks
Hematuria dapat mikroskopik/ makroskopik
Pemeriksaan imajing normal

Grade 2
Hematom subkapsular atau perirenal yang
tidak meluas, tanpa adanya kelainan
parenkim.

Sub kapsular hematom

Grade 3
Laserasi ginjal tidak melebihi 1 cm
Tidak mengenai pelviokaliks
Tidak terjadi ekstravasasi.

Laserasi superfisial

Grade 4 :
Laserasi lebih dari 1 cm dan tidak mengenai
pelviokaliks atau ekstravasasi urin
Laserasi yang mengenai korteks, medulla,
dan pelviokaliks

Laserasi dalam/ profunda

Ekstravasasi kontras pada CT scan (tanda panah)

Grade 5 :
Cedera pembuluh darah utama
Avulsi pembuluh darah gangguan
perdarahan ginjal
Laserasi luas pada beberapa tempat
Ginjal yang terbelah

Infark renal segmental

Infark renal total

Penyebara
n energi

Trau
A
ma
langs
ung

MEKANISME

Jatu
Bh
dud
uk

Type trauma ginjal


Smiths General Urology, ed 12

Type trauma ginjal


Smiths General Urology, ed 12

Type trauma ginjal


Smiths General Urology, ed 12

Anamnesa yang cermat.

Besarnya senjata,kaliber peluru,lokasi trauma


(dada,flank,abdomen), penting untuk
menetukan beratnya trauma.

Pemeriksaan fisik:

Inspeksi abdomen,thorak,dan flank unutuk


tanda-tanda luar dari trauma ; excoriasi,jalan
masuk ddan keluar peluru,fr.kosta,distensi abd.

Urinalisis :

Sangat penting

Pemasangan kateter segera dilakukan


setelah sampai di IRD,periksa urin.Kecuali
pasien dicurigai trauma urethra.

Hematuria
pada 95% pasien dgn trauma ginjal; dan
merupakan indikasi adanya trauma pd ginjal.
Tingkat hematuria,tidak berhubungan langsung
dengan beratnya trauma.Hematuria bisa tidak
ada pada trauma ginjal dengan %-kecil.
Trauma pada renovascular tidak ada hematuria
pada 24-60% kasus.
Pemeriksaan radiologis.

Tujuannya :
menentukan secara akurat stadium dari
trauma ginjal,
menentukan perlu operasi dan rencana
tindakan operasi.

Laserasi akibat trauma tumpul ginjal,biasanya


terjadi pada bidang tranversal dari ginjal.
Mekanisme trauma ditransmisikan dari pusat
benturan (center of impact) ke parenkhim
ginjal.
Pada deselerasi,ginjal bergerak keatas atau
kebawah tarikan tiba-tiba pada pedikel ginjal
avulsi partial atau komplit.
Trombosis akut dari a.renalis,bisa disebabkan oleh
robekan intima pada trauma deselerasi cepat
pada tarikan yang tiba-tiba.

1.

Urinoma
Laserasi dalam yang tidak direpair extravasasi urin
yang persisten massa besar di perinefrik
hydronephrosis dan abses.

2.

Hydronephrosis
Hematom besar di retroperitoneum dan ektravasasi urine
fibrosis perinefrik meliputi ureter di uretropelvic
junction hydronephrosis

3.

Arteriovenous fistula
Bisa terjadi setelah trauma penetran.
Jarang terjadi

4.

Renal vascular hypertention


Sekitar 1% dari kasus.
Aliran darah pada jaringan yang rusak akibat trauma terganggu;
ini vascular hypertension.
Fibrosis dari jaringan sekitar p.d akibat trauma konstriksi arteri
vascular hypertention.

Riwayat
trauma(punggung,pinggang,thorak
bag.bawah,perut bag.atas)
Fraktur kostae bagian bawah /
prosesus transv.corpus vertebra.
Hematuria
Massa di daerah flank
Hilangnya opasitas ginjal atau adanya
extravasasi dari urin pada
pemeriksaan excretory urography.

Trauma
Hematuria
Nyeri / nyeri tekan didaerah ginjal
Hemorrhagic shock oliguria / anuria
Nausea, vomiting, distensi abdomen
( ileus )
Pemeriksaan fisik :
Ada echymosis , trauma penetran pada
CVA atau flank.
Ekstravasasi darah atau urin teraba
massa di flank.

Pemeriksaan serial Hematokrit persisten


bleeding.
Hematuria

BNO / Plain Foto :


Hilangnya bayangan m.psoas
Fraktur kosta / prosesus transv. CV
USG
IVP :
Ginjal bisa N bila kontusi ringan
Ekstravasasi kontras bila ada laserasi ginjal.
Nonfungsi ginjal trauma vasa pedikel.
Pemeriksaan IVP (dosis tinggi & tomografi ) pilihan
pertama.
Trauma ginjal terlihat berupa :

1. Ekskresi kontras yang berkurang (bandingkan


kontralateral)
2. Garis psoas / kontur ginjal hilang (tertutup
ekstravasasi urin hematoma)
3. Skoliosis yang menjauhi sisi yang terkena trauma
kontraksi otot psoas
4. Ekstravasasi kontras

CT-Scan terbaik
Dapat menentukan :
o Adanya laserasi ginjal
o Kerusakan arteri
o Ekstravasasi
o Hematoma retroperitoneal
o Jaringan ginjal non-vital
o Trauma penyerta
Renal Angiography (Bila dicurigai trauma vasculer, dan penderita
stabil)
Pilihan kedua bila IVP tidak informatif dan CT-scan tidak ada
Yang dapat ditemukan pada arteriografi :
- Adanya ekstravasasi
- Bagian ginjal yang avaskuler
- Oklusi total arteri renalis

Trauma vesika hematuria.


Kontusio jaringan lunak sekitar
ginjal

A.

B.

AWAL
Perdarahan perirenal yang berlanjut
fatal.
Infeksi pada hematoma perirenal.
LAMBAT
Hydronephrosis
Hypertensi

Terapi shock dan perdarahan resusitasi cairan


dan transfusi.
Pada trauma tumpul perdarahan bisa
berhenti spontan istirahat (bed rest) smp
hematuria (-).
Bila perdarahan persisten laparotomi.
Trauma tajam explorasi
Perinefrik abses drainase.
Hypertensi ok renal ischemia vascular
reconstruction atau nephrectomy.

Trauma tembus
Hematuria
> 5/LPB
Tidak stabil
Laparatomi
eksplorasi

Stabil
IVP
Normal
Abnormal/
Tidak informatif
eksplorasi

Observasi

Hematom retroperitoneal
Meluas/berdenyut
eksplorasi

Tidak meluas
Observasi

Hematuria
mikroskopik
tanpa syok
Imajing () Kec:
Trauma penyerta
Deselerasi cepat
Stabil
IVP

Trauma tumpul
Hematuria
Gross/mikroskopik dengan syok
Tidak stabil
Laparatomi
eksplorasi

Tidak informatifAbnormal/ Normal


Hematom retroperitoneal
Trauma penyerta
(-)

(+)

Observasi eksplorasi

Observasi

Meluas/berdenyut
eksplorasi

Tidak meluas
Observasi

Approach:

Transperitoneal

Mengenali dan menanggulangi


trauma intraabdominal lain
Isolasi pembuluh darah ginjal

Isolasi pembuluh darah ginjal (prosedur Mc


Anninch)

A. Insisi
retroperitoneal
diatas aorta
medial dari v.
mesenterika
inferior
B. Hubungan
anatomi dari
pembuluh darah
ginjal
C. Insisi
retroperitoneal
lateral dari kolon
memperlihatkan
ginjal

A. Insisi
retroperitoneal
diatas aorta
medial dari v.
mesenterika
inferior

Hubungan anatomi
dari pembuluh
darah ginjal

Insisi retroperitoneal
lateral dari kolon
memperlihatkan
ginjal

Rekonstruksi

Bila dapat memapar seluruh bagian ginjal

Bila klem arteri renalis > 30 menit es


Debridement

Diseksi tajam
30% ginjal cukup
Sisakan kapsul ginjal

Hemostasis

Kromik 4-0
Jangan pakai non-absorbabale

Rekonstruksi
Penutupan pelviokalises
Kromik 4-0
Kedap air

Nefrektomi parsial
Tutup defek omentum flap

Renorrhaphy
Pinggir parenkhim kromik 3-0

Total renal exposure

Pemotongan
Secara tajam
Untuk jaringan
Yang non viabel

Teknik renorafi
A. Cidera khas pada ginjal tengah
B. Debridement, hemostasis dan penutupan sistem pengumpul
C. Aproksimasi tepi parenkim
D. Penjahitan dengan gelfoam

Teknik renorafi
A. Cidera khas pada ginjal tengah
B. Debridement, hemostasis dan penutupan sistem pengumpul

Teknik renorafi
C. Aproksimasi tepi parenkim
D. Penjahitan dengan gelfoam

Cedera pembuluh darah


Kiri : Cedera pada pembuluh darah utama/ cabang segmental
Tengah: perbaikan pada vena utama ginjal
Kanan : Dilakukan ligasi pada cabang vena

Tirah baring
Mobilisasi bila hematuria (-)
Drain banyak hari 5-7 obstruksi distal

Komplikasi:

Perdarahan ulang
Abses perirenal
Urinoma

Tanda komplikasi:

Nyeri kostovertebra
Demam
Massa retroperitoneal
Penurunan hematokrit tiba-tiba

Dengan follow-up yang cermat, kebanyakan


trauma ginjal mempunyai prognosis baik,
dengan penyembuhan spontan dan fungsi
ginjal kembali baik.
Follow-up dengan excretory urography dan
observasi tekanan darah dapat mendeteksi
adanya :
Hydronephrosis
Hypertensi
Kematian, biasanya karena ada trauma lain.