Anda di halaman 1dari 31

Penatalaksanaan Fisioterapi

pada Cerebral Palsy Spastik


Quadriplegi Tipe Ekstensi

Pendahuluan
Jumlah
penyandang
cacat 7-10 %

WHO
(2003)

Cerebral
Palsy ?

1-5 dari
1000
kelahiran =
Cerebral
Palsy

Cerebral Palsy
Cerebral
Palsy
adalah
kondisi
neurologis yang terjadi permanen tapi
tidak
mempengaruhi
kerusakan
perkembangan
saraf
karena
itu
bersifat non progresif pada lesi satu
atau banyak lokasi pada otak yang
immatur (Campbell SK et al, 2001
dalam Jan S, 2008)

Anatomi Otak

Neurofisiologi
Pembagian Area Broadmann

Homunkulus Cerebri

Pre Natal

Etiologi

1. Faktor genetik,
kelainan kromosom
2. Usia ibu < 20 th atau
> 40 th
3. Infeksi intrauterin :
TORCH
4. Radiasi saat masih
dalam kandungan
5. Asfiksia intrauterin

6. Keracunan saat
kehamilan,
kontaminasi air raksa
pada makanan, rokok
dan alkohol.
7. Riwayat obstetrik
8. Toksemia gravidarum
9. Disseminated
Intravascular
Coagulation

Natal
1.
2.
3.
4.
5.

Anoksia/hipoksia
Perdarahan otak
Prematuritas
Postmaturitas
Kelahiran
sungsang
6. Bayi kembar

Post Natal

1. Trauma kepala
2. Meningitis /
ensefalitis yang
terjadi 6 bulan
pertama kehidupan
3. Racun berupa
logam berat, CO
4. Luka parut pada
otak pasca bedah.

Patofisiologi
Demam

Reaksi kimia
tubuh
meningkat

Hipoksia otak

Cerebral Palsy

reaksi2 oksidasi
lebih cepat

oksigen lebih
cepat habis

Manifestasi Klinis

1. Terdapat spastisitas
2. Terdapat ataksia
3. Menetapnya refleks
primitif
4. Gangguan penglihatan
5. Gangguan pendengaran

6. Kesulitan makan dan


komunikasi
7. Gangguan Pertumbuhan
8. Kesulitan belajar
9. Gangguan tingkah laku

Cerebral Palsy Spastic


Quadriplegi
Cerebral Palsy Spastis Quadriplegi yaitu kerusakan
pada sistem saraf pusat yang berdampak tidak
berkembangnya sistem saraf tersebut ditandai tonus
otot yang meninggi serta semua badan terasa kaku
terutama pada lengan sehingga mengalami gangguan
pada
bagian
motorik
dan
terlambatnya
perkembangan anak. Quadriplegi dibeberapa klinik
disebut juga sebagai double hemiplegi yaitu dua sisi
tubuh terutama dilengan lebih kaku dibanding kaki.
(Pamela, 1993)

Prognosis

Berat ringannya
kerusakan yang dialami
pasien.

1. Mild
2. Moderate
3. Severe

Pemberian
terapi

Kondisi
tubuh pasien

Lingkungan
Tempat
Tinggal

Status Klinik
Identitas Pasien
Nama : DTW
TTL : Pacitan, 3 Juni 2012
Umur : 3 th
Jenis Kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Krajan, Mlati, Arjosari, Pacitan
Nama Ayah : Bp. K
Usia Ayah : 45 tahun
Nama Ibu : Ny. A
Usia ibu: 37 tahun

Keluhan Utama
Pasien belum bisa miring, tengkurap, berguling, merayap, merangkak, duduk, berdiri, dan
berjalan secara mandiri di usianya saat ini.

Riwayat Penyakit Sekarang


Riwayat kelahiran pasien lahir normal pada usia kandungan 9 bulan 10 hari dengan BBL
3, 3 kg, lahir spontan dan langsung menangis. Anak bisa tengkurap pada usia 3 bulan,
namun saat usia 9 bulan pasien mengalami panas tinggi tanpa kejang. Kemudian ibu
memeriksakannya ke bidan dan hanya diberi obat penurun panas. Setelah panas tinggi
kondisi anak menjadi menurun, anak menjadi lemah dan tidak bisa tengkurap lagi.
Kemudian orangtua membawanya ke dokter dan diterapi di pacitan. Namun karena
perkembangannya tidak signifikan, sekitar 3 bulan yang lalu ibu pasien membawanya ke
PNTC untuk menjalani terapi. Selama hamil ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan
tertentu dan tidak sakit. Saat ini pasien belum mampu miring, tengkurap, berguling,
merayap, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan secara mandiri.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pada usia 9 bulan anak pernah mengalami panas
tinggi.
Riwayat Pribadi (Keterangan Umum
Penderita)
Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara.
Saat ini pasien tinggal di kost dekat PNTC
bersama dengan ibunya. Setiap hari Senin-Sabtu
pasien menjalani terapi di PNTC setiap pagi.

PEMERIKSAAN FISIK
TANDA-TANDA VITAL:
Tekanan darah : (-)
Denyut nadi
: 86 kali per menit
Pernapasan
: 20 kali per menit
Temperatur
: 360 C
Tinggi badan : 90 cm
Berat badan
: 10 kg

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Pemeriksaan
Gerak

Kognitif, Intrapersonal,
Interpersonal
Kognitif : Pasien tidak dapat diajak berkomunikasi
Intrapersonal : Pasien datang ke tempat terapi
tidak menangis, namun pada saat diterapi pada
posisi tertentu anak menangis, seperti saat
terlentang, tengkurap, dan saat diminta
menegakkan kepalanya.
Interpersonal : pasien dapat diajak bekerjasama
saat terapi, namun kadang pasien menangis dan
memberontak.

Kemampuan Fungsional dan


lingkungan aktivitas
Kemampuan fungsional dasar
Pasien belum mampu miring, tengkurap (berguling),
merayap, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan
secara mandiri. Kontrol kepala pasien juga belum baik.
Aktivitas fungsional
Semua aktivitas sehari hari masih mememrlukan
batuan orang lain
Lingkungan aktivitas
Lingkungan rumah dan lingkunagn PNTC sangat
mendukung untuk latihan

Pemeriksaan Spesifik
Pemeriksaan Refleks

Pemeriksaan Sensori
Pemeriksaan

Hasil

Visual

Auditory

Touch

Smell

NT

Taste

NT

Vestibular

Propioceptif

Pemeriksaan Spastisitas dengan Skala


Asworth

Pemeriksaan Kekuatan Otot dengan XOTR

Pemeriksaan Kemampuan Motorik


Kasar dengan GMFM

Diagnosis Fisioterapi
Impairment
Adanya spastisitas pada ke-empat anggota gerak
Adanya hipotonus postural dan ekstremitas
Adanya spasme otot paravertebrae, leher dan otot biceps, triceps, hamstring, dan
gastrocnemius
Kelemahan otot secara general karena masih adanya refleks primitive
Control kepala pasien belum baik
Adanya gangguan keseimbangan
Functional Limitation
Pasien belum mampu berguling telentang ke tengkurap dan sebaliknya, merayap,
duduk, merangkak, berdiri dan berjalan secara mandiri.
Participation restriction
Pasien mengalami hambatan dalam bermain dengan teman seusianya

Tujuan
Jangka Pendek:
Mengontrol spastisitas pada ke-4 anggota gerak
Meningkatkan tonus otot postural
Untuk rileksasi otot yang spasme ( paravertebrae, upper
trapezius, rhomboideus, biceps, tricep, quadriceps, dan
gastrocnemius ).
Meningkatkan kekuatan otot secara general
Untuk meningkatkan keseimbangan.
Untuk meningkatkan control kepala pasien
Jangka Panjang:
Meningkatkan kemampuan fungsional pasien untuk miring,
tengkurap, berguling, merayap, merangkak, duduk, berdiri, dan
berjalan secara mandiri.

Intervensi Fisioterapi

Neurostructure
Mobilisasi trunk
Myofacial release
Patterning
Latihan standing
Massage ekspresi
General massage

Evaluasi
Evaluasi sensoris

Evaluasi Spastisitas dengan Skala Asworth

Evaluasi Kekuatan Otot (xotr)

Evaluasi Kemampuan Motorik


dengan GMFM

Hasil Terapi Akhir


Pasien berinisial An.DTW dengan diagnosis CP Spastik
Quadriplegi tipe ekstensi setelah mendapatkan tindakan
fisioterapi sebanyak 4 kali berupa neurostructure, mobilisasi
trunk myofascial relase, patterning, standing, massage
ekspresi, general massage didapatkan hasil adanya tidak ada
peningkatan kemampuan sensoris, kekuatan otot maupun
kemampuan motorik kasar namun pada pemeriksaan
spastisitas pada T3 terdapat penurunan spastisitas karena
kondisi anak yang cenderung tenang, namun saat T 4 terdapat
peningkatan spastisitas lagi karena kondisi anak menangis.