Anda di halaman 1dari 21

TRAUMA KIMIA

Siti Fatkhiyyatur
Rohmah
20090310066
dr. Sri Yuni Hartati,
Sp.M

PENDAHULUAN
Setiap hari lebih dari 2000 pekerja di amerika
Serikat menerima pengobatan medis karena trauma
mata pada saat bekerja.
Laki-laki : perempuan = 4:1

Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun


tidak disengaja yang menimbulkan perlukaan
mata merupakan kasus gawat darurat mata.
Penyebab trauma :
-Trauma kimia (chemical injury)
-Trauma benda asing pada mata (foreign bodies)
-Trauma tembus bola mata (penetrating injury)
-Trauma tumpul (blunt injury)
-Trauma mata yang bersamaan trauma kepala
(assosiated with head injury)
-Trauma thermal/luka bakar (welding burns)

Anatomi Mata
Mata terdiri atas bola mata, rongga orbita, kelopak mata,
pembuluh darah dan sistem persarafan.

Trauma Kimia
!! Kedaruratan Oftalmologi !!
Di akibatkan zat asam dengan pH < 7 ataupun zat basa
pH > 7
Tingkat keparahan trauma:
- Jenis
- volume
- Konsentrasi
- durasi pajanan
- derajat penetrasi dari zat kimia tersebut.

Epidemiologi
Dari data WHO tahun 1998 trauma okular berakibat
kebutaan unilateral sebanyak 19 juta orang, 2,3 juta
mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta
mengalami kebutaan bilateral akibat cedera mata.
United States Eye Injury Registry (USEIR), frekuensi di
Amerika Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi
kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada
laki-laki (93 %) dengan umur rata-rata 31 tahun

Etiologi
Trauma Asam
ion hidrogen. Merusak permukaan okular dengan
mengubah pH.
anion dalam kornea. Merusak dengan cara denaturasi
protein, presipitasi dan koagulasi.
Koagulasi protein mencegah penetrasi yang lebih
lanjut dari zat asam tampilan ground glass dari
stroma korneal trauma asam lebih ringan daripada
basa.
Kecuali Asam hidroflorida!

Bahan kimia bersifat asam :


asam sulfat
air accu
asam sulfit
asam hidrklorida
zat pemutih
asam asetat
asam nitrat
asam kromat
asam hidroflorida.

Trauma Basa
hidrofilik dan lipolifik.
Terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan
kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses
safonifikasi, disertai dengan dehidrasi.
Bahan kimia bersifat basa:
- NaOH
- CaOH
- Amoniak
- Freon/bahan pendingin lemari es
- Sabun
- cairan pembersih rumah tangga
- Shampo
- Soda kuat.
- kapur gamping - Semen
- Tiner
- lem

Patofisiologi
1. Kerusakan
Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai
gangguan dan oklusi pembuluh darah pada limbus.
Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi
dan konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan
kerusakan persisten pada epitel kornea dengan perforasi dan
ulkus kornea bersih.
Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan
kerusakan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi
kornea.
Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat
menyebabkan kerusakan iris dan lensa
Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang
dibutuhkan untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea.
Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi.

2. Penyembuhan epitel kornea dan stroma


Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi
atau pergeseran dari sel-sel epitelial yang berasal dari
stem cell limbus
Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh
keratosit terjadi sintesis kolagen yang baru

Klasifikasi
Derajat 1: kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus
(prognosis sangat baik)
Derajat 2: kornea berkabut dengan gambaran iris yang
masih terlihat dan terdapat kurang dari 1/3 iskemik
limbus (prognosis baik)
Derajat 3: epitel kornea hilang total, stroma berkabut
dengan gambaran iris tidak jelas dan sudah terdapat
iskemik limbus (prognosis kurang)
Derajat 4: kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih
dari limbus (prognosis sangat buruk)

Diagnosa anamnesa, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang.

Gejala Klinis :
- Epifora
- Blefarospasme
- Nyeri berat
- Penurunan
penglihatan.
Pemeriksaan Fisik :
- Irigasi terlebih dahulu.

Pemeriksaan Penunjang:
- Pemeriksaan PH
secara berkala.
- Lup atau slit lamp.
- Pemeriksaan
oftalmoskopi
- Pemeriksaan tonometri

Diagnosis Banding

Konjungtivitis
Konjugtivitis hemoragik akut
Keratokunjugtivitis sicca
Ulkus kornea

Penatalaksanaan
Emergency!
1. Irigasi
2. Double eversi pada kelopak mata
3. Debridemen
4. bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek dan
artificial tear (air mata buatan).

Medikamentosa
Steroid. steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off
setelah 7-10 hari. Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED
diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon
IV 50-200 mg

Sikloplegik untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan


sinekia posterior. Atropin 1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan
2 kali sehari.

Asam askorbat mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan


meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan
kolagen matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat 10% topikal
diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai
dosis 2 gr.

Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor untuk


menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya
glaukoma sekunder. Diberikan secara oral asetazolamid (diamox)
500 mg.

Antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman


oportunis. Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase,
menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus.
Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin
100 mg).

Asam hyaluronik untuk membantu proses re-epitelisasi kornea


dan menstabilkan barier fisiologis. Asam Sitrat menghambat
aktivitas netrofil dan mengurangi respon inflamasi. Natrium sitrat
10% topikal diberikan setiap 2 jam selama 10 hari. Tujuannya untuk
mengeliminasi fagosit fase kedua yang terjadi 7 hari setelah trauma.

Pembedahan
Segera. Pembedahan yang sifatnya segera dibutuhkan
untuk revaskularisasi limbus, mengembalikan populasi
sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks.
Lanjut

Komplikasi

Simblefaron,.
Kornea keruh, edema, neovaskuler
Sindroma mata kering
Katarak traumatik.
Glaukoma sudut tertutup
Entropion dan phthisis bulbi

Prognosis
Ditentukan oleh bahan penyebab trauma tersebut.
Derajat iskemik pada pembuluh darah limbus dan
konjungtiva merupakan salah satu indikator keparahan
trauma dan prognosis penyembuhan. Iskemik yang
paling luas pada pembuluh darah limbus dan konjungtiva
memberikan prognosa yang buruk. Bentuk paling berat
pada trauma kimia ditunjukkan dengan gambaran
cooked fish eye dimana prognosisnya adalah yang
paling buruk, dapat terjadi kebutaan.