Anda di halaman 1dari 34

TUTORIAL FORENSIK KASUS MATI

KECELAKAAN LALU LINTAS


20 FEBRUARI 2015

A L H A N R AO
H I D R I S DAM A N I K
OTTY M. OCTRIZA
K OM A N G I DA W. R .
H I K M A H S O R AYA
RICKA HARDI
ARIFI
KADEK DWI PUTRA M.

IDENTITAS JENAZAH

Nama

: Ny. I

Umur

: 41 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Sleman

No. V e R

: 17/2015

Pelaksanaan otopsi pada hari Minggu, 15 Januari 2015


pukul 12.14 13.15 WIB

KRONOLOGIS

Kecelakaan lalu liintas tunggal


15 Feb 2015
04.00
Jalan Palagan
Sepeda motor membentur pohon
taman kota

Penerimaan jenazah
15 Feb 2015
05.00
RSS dari polisi

PL
12.14-13.15

KRONOLOGIS
Ny. I diduga telah mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal
yang terjadi pada hari Minggu tanggal 15 Februari 2015
sekitar jam 04.00 WIB, di Jl. Palagan tepatnya di depan
Dalem Agung Palagan, Dsn. Mudal, Sariharjo , Ngaglik,
Sleman, Yogyakarta sewaktu mengemudi Sepeda motor
Yamaha Mio dengan No. Pol: AB 6282 SE membentur pohon
taman kota yang berada di tepi jalan sebelah barat.

Berita Acara Penerimaan Jenazah


Surat Permintaan Penyidik
Lembar visum et Repertum

Medikolegal

Laporan medis sementara


Surat pernyataan persetujuan
keluarga
Surat pengantar pemeriksaan
laboratorium

KEADAAN JENAZAH

KEADAAN JENAZAH
Tidak berlabel
Terletak di meja otopsi, tidak dibungkus dengan kantong jenazah, ditutup
dengan kain berwarna putih bermotif batik merah.
Kain batik dibuka, terdapat jenazah memakai jaket berwarna merah tidak
bermerk, terdapat empat buah kantong kanan dan kiri, jaket dibuka
jenazah memakai kaos berwarna putih berbahan katun, berlengan
pendek, dan terdapat tulisan Hyatt Regency Yogyakarta.
Kaos dibuka, jenazah memakai BH berwarna krem, jenazah memakai
korset berwarna cokelat. Jenazah memakai celana warna hitam berbahan
jeans dan menggunakan peniti sebagai pengait celana. Celana dibuka,
jenazah memakai celana dalam berwarna krem berbahan katun, tidak
bermerk.

SIKAP JENAZAH

SIKAP JENAZAH DI ATAS


MEJA OTOPSI

Jenazah terlentang dengan muka menghadap ke kanan depan.

Lengan atas kanan terhadap sumbu tubuh membentuk sudut


sembilan puluh derajat. Lengan atas kanan terhadap lengan bawah
kanan membentuk sudut empat puluh lima derajat. Tangan kanan
dan jarijari tangan kanan menghadap ke bawah di atas perut.
Lengan atas kiri terhadap sumbu tubuh membentuk sudut empat
puluh lima derajat. Lengan atas kiri terhadap lengan bawah kiri
membentuk sudut empat puluh lima derajat. Tangan kiri dan jari
jari menekuk menghadap ke bawah di atas pinggang kiri.

Tungkai atas kanan terhadap sumbu tubuh membentuk sudut tiga


puluh derajat. Tungkai atas kanan terhadap tungkai bawah kanan
membentuk sudut seratus lima puluh derajat. Telapak kaki kanan
menghadap ke dalam dan jarijari kanan menghadap ke dalam.
Tungkai atas kiri terhadap sumbu tubuh membentuk sudut seratus
delapan puluh derajat. Tungkai atas kiri terhadap tungkai bawah
kiri membentuk sudut seratus delapan puluh derajat. Telapak kaki
kiri menghadap ke bawah dan jarijari kaki kiri menghadap ke atas.

Kaku Jenazah (Rigor Mortis)

Keterangan:

KAKU
SUKAR

KAKU
MUDAH

TIDAK
KAKU

Lebam Jenazah (Livor Mortis)

*Lebam mayat masih hilang dengan penekanan

Pembusukan
Tidak terdapat pembusukan jenazah
Ukuran Jenazah
Berat jenazah : 83,25 kg
Panjang jenazah : 157,4 cm

Kelopak
mata
berwarna
putih (pucat)

Keluar
cairan
berwarna merah
dari
kedua
lubang telinga

Keluar
cairan
berwarna merah
dari
kedua
lubang hidung.
Terdapat
jendalan darah

Teraba derik tulang


dengan
ukuran
16x14 cm

Luka robek, berbentuk


memanjang, berwarna
merah, dengan arah
dari bawah ke atas,
kondisi kotor, dasar
tulang dengan ukuran
empat sentimeter, lebar
satu sentimeter, dalam
satu sentimeter.

Sekumpulan luka lecet tekan, bentuk


tidak beraturan, warna kemerahan, arah
tegak lurus, kondisi kotor. Ukuran
panjang dua belas sentimeter, lebar
enam sentimeter. Tidak terdapat derik
tulang, pada pengetukan terdengar
nyaring

Luka lecet geser, bentuk tidak beraturan, arah


dari atas ke bawah dasar kulit, ukuran panjang
empat sentimeter, lebar satu sentimeter. Pada
pengetukan terdengar nyaring.

LENGAN - TANGAN KANAN

Derik Tulang
dan Deformitas

Akrosianosis

Luka lecet tekan, bentuk tidak


beraturan, berwarna merah,
arah tegak lurus dari sumbu
tengah lengan bagian luar,
kondisi kotor, dasar kulit, dengan
ukuran panjang satu sentimeter,
lebar dua milimeter dan teraba
derik tulang.

Lengan - Tangan Kiri

Terdapat
luka
lecet
tekan,
bentuk
tidak
beraturan, arah tegak
lurus, kondisi kotor,
dasar
kulit,
dengan
ukuran panjang nol
koma lima sentimeter,
lebar nol koma lima
sentimeter
Akrosianosis

Terdapat luka lecet tekan,


bentuk tidak beraturan,
arah tegak lurus, kondisi
kotor, dasar kulit, dengan
ukuran panjang nol koma
lima sentimeter dan lebar
nol koma lima sentimeter

Tungkai - Kaki
Kanan

Terdapat luka robek, bentuk


tidak
beraturan,
warna
merah, arah dari dalam ke
luar, kondisi kotor, dasar
tulang,
dengan
ukuran
panjang tujuh sentimeter,
lebar satu sentimeter, dalam
tiga koma lima sentimeter,
teraba derik tulang

Akrosianosis

Terdapat sekumpulan luka


memar, luka lecer geser dan
luka lecet tekan, bentuk tidak
beraturan, warna kemerahan,
arah dari bawah ke atas,
kondisi kotor, dasar kulit,
dengan
ukuran
panjang
sepuluh
sentimeter,
lebar
enam sentimeter
Teraba Derik Tulang
Sekumpulan luka memar, bentuk
tidak beraturan, warna merah,
kondisi kotor, dasar kulit, dengan
ukuran panjang lima sentimeter
dan lebar empat sentimeter serta
tidak teraba derik tulang

Tungkai - Kaki Kiri


Memar, luka lecet geser, bentuk tidak
beraturan, warna merah kebiruan, arah
tegak lurus, kondisi kotor, dasar kulit
dengan ukuran panjang enam sentimeter
dan lebar satu sentimeter

Terdapat luka lecet tekan, bentuk tidak beraturan, warna


merah, arah tegak lurus, kondisi kotor, dasar kulit, dengan
ukuran panjang dua sentimeter, lebar nol koma lima
sentimeter
Terdapat luka lecet tekan, bentuk tidak beraturan,
warna merah, arah tegak lurus, kondisi kotor, dasar
kulit dengan ukuran panjang dua sentimeter, lebar
satu koma lima sentimeter

Luka lecet tekan, bentuk tidak beraturan, warna merah


arah tegak lurus, kondisi kotor, dasar kulit, dengan ukuran
panjang dua sentimeter, leber satu koma lima sentimeter
Akrosianosis

HASIL LABORATORIUM

Golongan Darah: B
Alkohol Darah: Negatif

ANALISIS KASUS
A

Penyebab
Kematian
:
Pada
korban tidak
diketahui secara pasti.
Kemungkinan karena
trauma mekanik
akibat kecelakaan lalu
lintas

(Hipotesis)
Mekanisme
Kematian :
Perdarahan
intrakranial,
Kerusakan jaringan
otak, Asfiksia, dan
Cardiac arrest

Kematian

CAUSE OF DEATH
1. Severe blunt force injuries will point to a traumatic cause of
death.
2. Severe natural disease alone or in combination with significant
trauma will point to a natural cause of death.
3. Minor trauma may be sufficient by affecting diseased organs or
vital areas, e.g. Nervous centers of the brain or the conduction
system of the heart.

CAUSE OF THE ACCIDENT


1. Natural disease processes
Epilepsy
Diseases of the heart and blood vessels
Hypoglycaemia
Rupture of congenital aneurysm of cerebral vessels
Brain tumor
Poor sight or hearing as a result of disease or aging
2. Psychologic factors
Disorganization of skilled reaction may occur in persons who are
emotionally upset or suffer from anxieties
3. Suicide
Look for the circumstances preceeding the accident
4. Other causes
Alcohol, drugs, mechanical failure, poor design and maintenance of the
highway.

WAKTU KEMATIAN

Waktu kematian diperkirakan 6-12 jam

ASPEK MEDIKOLEGAL
KUHAP pasal 133 ayat 1 dan 2 mengenai
permintaan tertulis dari penyidik
Surat nomor B/154/II/2015/Lantas
KUHAP pasal 133 ayat 3 tentang
pelabelan jenazah
Jenazah tidak diberi label

KUHAP pasal 134 ayat 2 dan 3 mengenai


persetujuan tertulis dari keluarga
Surat persetujuan pemeriksaan luar
ditandangani oleh kakak kandung korban

KESIMPULAN
1. Jenazah perempuan, panjang badan seratus lima puluh tujuh
koma empat sentimeter, berat badan delapan puluh tiga koma
dua puluh lima kilogram, dengan golongan darah B.
2. Teraba derik tulang pada kepala kanan bagian belakang disertai
keluarnya darah dari lubang hidung dan telinga akibat
kekerasan tumpul.
3. Terdapat luka robek ,luka lecet tekan, luka memar, luka lecet
geser pada bagian tubuh yang lain akibat kekerasan tumpul.
4. Kelainan nomor dua bisa menyebabkan kematian tanpa
menyingkirkan sebab kematian pasti yang lain yang tidak dapat
diketahui karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam sesuai
surat permintaan penyidik.
5. Saat kematian diperkirakan enam sampai dua belas jam dari
sebelum saat pemeriksaan.

TERIMAKASIH

QUESTION
Komang: Adakah perkiraan mekanisme kematian lain pada
kasus ini selain perdarahan?
Hidris: Apa dasar-dasar hukum pemeriksaan luar pada KLL?
Ricka: Kenapa kaku mayat pada pasien ini masih ada yang
mudah dan sudah ada yg keras?
Otty: Apabila keluarga menolak, apakah pemeriksaan tetap
dapat dilakukan? Dasar hukumnya?
Kadek: Korban tanpa label mayat tetap di proses, apa ada
konsekuensinya?
Arifi: Apakah perlu pemeriksaan dalam pada korban ini?
Hikmah: Kenapa akrosianosis?
Rao: Perlukah pemeriksaan penunjang lain?

ANSWER
2. Pasal 133 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan,
ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksuda
dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat
itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka
atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat.

ANSWER
3. Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena
metabolism tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan
glikogen otot yang menghasilkan energy. Energi ini digunakan untuk
mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut
aktin dan myosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis,
maka energy tidak terbentuk lagi, aktin dan myosin menggumpal dan otot
menjadi kaku. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian.
Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari
bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kearah dalam (sentripetal). Teori lama
menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati
klinis 12 jam, kaku mayat menjadi lengkap dan dipertahankan selama 12
jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Faktor yang
mempercepat kaku mayat adalah: aktivitas fisik sebelum mati, suhu
tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil, dan suhu
lingkungan tinggi. Pada jenazah dalam kasus ini terdapat bagian yang
fraktur sehingga kaku mayat tidak terbentuk dan tidak dapat dinilai.

ANSWER
4. Pasal 134 KUHAP menyebutkan:
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan
pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari,
penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib
menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan
tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan
apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu
tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan
ketentuan sebagaimana dimaksuda dalam pasal 133 ayat
(3) undang-undang ini.

ANSWER
4. Pasal 222 menyebutkan:
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalanghalangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk
pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah.

ANSWER
5. Pasal 133 ayat (3) menyebutkan:
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan baik
dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
dberi label yang memuat identitas mayat diberi cap jabatan
yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan
mayat.
Pada jenazah dalam kasus ini, sebaiknya tidak dilakukan
pemeriksaan karena tidak dilengkapi dengan label dokter
pun harus fleksibel menimbang beberapa faktor yang
menyulitkan pihak penyidik dalam membuat label dimana
mereka mendapat kesulitan dalam meminta tanda tangan
pimpinan dan lain sebagainya.