Anda di halaman 1dari 32

REFERAT RETARDASI MENTAL

Delvina Tandiari
(C111 11 140)
Supervisor : dr. Rabiah Thantawie,
Sp.KJ
Residen Pembimbing : dr. Jumiarni
Umar

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENDAHULUAN

Suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau


tidak lengkap atau tidak sesuai dengan tingkat
perkembangan anak seusianya. Ditandai oleh adanya
hendaya keterampilan selama masa perkembangan,
sehingga berpengaruh pada tingkat intelegensia anak yaitu
pada kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial anak
Bukan suatu penyakit melainkan suatu kondisi yang
timbul pada usia yang dini (biasanya sejak lahir) dan
menetap sepanjang hidup individu tersebut
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

RETARDASI MENTAL

DEFINISI

Mental Retardation

Intelectual
Disability

The American Association on Intellectual and


Developmental Disabilities (AAIDD, 2002) mendefinisikan
retardasi mental sebagai keterbatasan dalam fungsi intelektual
dan perilaku adaptif.
Menurut Diagnostic and Scientific Manual IV-TR (DSM IVTR) retardasi mental adalah suatu disabilitas yang ditandai
dengan suatu limitasi/keterbatasan yang bermakna baik dalam
fungsi intelektual maupun prilaku adaptif yang diekspresikan
Fakultas Kedokteran
Universitas
Hasanuddin
dalam
keterampilan konseptual, sosial dan praktis dengan batas

DEFINISI

Menurut Diagnostic and Scientific Manual V, disabilitas


intelektual (retardasi mental) adalah suatu gangguan dengan
onset selama periode perkembangan yang meliputi defisit fungsi
intelektual dan adaptif dalam konseptual, sosial, dan domain
praktis; antara lain: Keterampilan konseptual (komunikasi,
bahasa, waktu, uang, akademik), keterampilan sosial
(keterampilan interpersonal, tanggung jawab sosial, rekreasi,
hubungan pertemanan) serta keterampilan praktis (keterampilan
sehari-hari, bekerja, rekreasi, dsb)

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

EPIDEMIOLOGI RETARDASI MENTAL


Belum ada data yang sistematis dan tidak ada
data yang memadai untuk menunjukkan
gangguan ini lebih banyak pada laki-laki atau
perempuan. Tapi sebagian besar kasus
menggambarkan bahwa kelainan ini lebih
banyak di derita pada LAKI-LAKI, terutama di
militer.
Insiden Fugue Disosiatif Meningkat sealama
MASA STRES, termasuk BENCANA ALAM
dan PEPERANGAN. Tercatat sebagian besar
kasus terjadi selama PERANG DUNIA II.

ETIOLOGI

Retardasi mental ringan (IQ > 50), lebih dihubungkan dengan


pengaruh lingkungan.
Gabungan faktor genetik (anak yang mewarisi gangguan
intelektual)
Faktor sosio-ekonomi (kemiskinan dan undernutrition).
Penyebab biologis paling sering adalah sindrom genetik dengan
kelainan kongenital, prematuritas, penyalahgunaan obat yang
menyebabkan
gangguan
intrauterin,
danmental
abnomalitas
Penyebab spesifik
gangguan
retardasi
ringan kromosom
hanya
seks
teridentifikasi pada <50% penderita

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Retardasi mental berat (IQ < 50), lebih dihubungkan dengan
penyebab biologis.
Penyebab penyakit tersebut antara lain :
sindrom genetic (sindrom Fragile X, Prader willi syndrome)
kromosom (Down sindrom, klinefelter syndrome)
gangguan metabolisme sejak lahir fenilketonuria (PKU)
gangguan neurodegenerative (mukopolisakaridosis), malnutrisi
berat, paparan radiasi
infeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV), toksoplasma, rubella,
sitomegalovirus(CMV), syphilis, herpes simpleks, kelainan pada
masa perinatal, meningitis, intoksikasi alkohol pada masa fetal,
kelainan pada masa postnatal (trauma, meningitis, hipotiroid
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Sindrom Down merupakan
kelainan genetik yang dikenal
sebagai trisomi, karena individu
yang mendapat sindrom Down
memiliki kelebihan satu
kromosom. Mereka mempunyai
tiga kromosom 21 dimana orang
normal hanya mempunyai dua
saja. Kelebihan kromosom ini
akan mengubah keseimbangan
genetik tubuh dan
mengakibatkan perubahan
karakteristik fisik dan
Fakultas Kedokteran
kemampuan
intelektual, serta
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Sindrom fragile X merupakan
bentuk retardasi mental yang
diwariskan dan disebabkan oleh
mutasi gen pada kromosom X.
Derajat retardasi mental terentang
dari ringan sampai berat. Ciri
perilakunya adalah tingginya angka
gangguan defisit
atensi/hiperaktivitas, ganguan
belajar, dan gangguan
perkembangan pervasive seperti
gangguan akuisitik. Defisit dalam
fungsi bahasa adalah pembicaraan
Fakultas cepat
Kedokteran dan perseveratif dengan
yang
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Sindrom Prader-Willi
Kelianan ini akibat dari
penghilangan kecil pada kromosom
15, biasanya terjadi secara sporadic.
Prevalensinya kurang dari 1 dalam
10000.
Orang dengan sindrom ini
menunjukkan perilaku makan yang
kompulsif dan sering kali obesitas,
retardasi mental, hipogonadisme,
perawakan pendek, hipotonia, dan
tangan dan kaki yang kecil. Anak
anak dengan sindrom ini seringkali
Fakultas Kedokteran
memiliki
perilaku oposisional yang
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Sindrom tangisan kucing (cat-cry syndrome)
Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian
dari kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat
dan menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai
dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga
yang letaknya rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme,
dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing yang khas
(disebabkan oleh kelainan laring) yang memberikan nama
sindrom secara bertahap berubah dan menghilang dengan
bertambahnya usia

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Sindrom tangisan kucing (cat-cry syndrome)
Anak-anak dengan sindrom tangisa kucing kehilangan bagian
dari kromosom 5. Mereka mengalami retardasi mental berat
dan menunjukkan banyak stigmata yang seringkali disertai
dengan penyimpangan kromosom, seperti mikrosefali, telinga
yang letaknya rendah, fisura palpebra oblik, hipertelorisme,
dan mikrognatia. Tangisan seperti kucing yang khas
(disebabkan oleh kelainan laring) yang memberikan nama
sindrom secara bertahap berubah dan menghilang dengan
bertambahnya usia

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

ETIOLOGI
Phenylketonuria (PKU)
Fenilketonuriaadalah gangguan desakan
autosomal genetis yang dikenali dengan
kurangnyaenzimfenilalanin hidroksilase(PAH).
Fenilalanin adalah suatu asam amino penting
dan banyak terdapat pada makanan, biasa
disingkat dengan Phe atau F, yang bersamasama dengan asam aminotirosin (Tyr, Y) dan
triptofan (Trp, W)merupakan kelompok asam
amino aromatik yang memiliki cincin benzena.
Fenilalanin bersama-sama dengan taurin dan
triptofan merupakan senyawa yang berfungsi
sebagai penghantar atau penyampai
pesan(neurotransmitter)
pada sistem saraf otak.
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin
Dalam
keadaan normal, fenilalanin diubah

SIGN OF MENTAL RETARDATION

Adanya keterlambatan dalam tahapan perkembangan


Adanya kesulitan dalam belajar dan kesulitan dalam bersosialisasi
Tidak mampu memahami/melaksanakan instruksi
Adanya perilaku seksual yang tidak sesuai (pada anak remaja)
Adanya kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari (orang dewasa)
Adanya kesulitan dalam adaptasi sosial (orang dewasa)
RM sedang dan berat pada umumnya dapat dideteksi pada anak yang
berusia di bawah 2 tahun

GAMBARAN KLINIS
1. Aspek fisik, misalnya dalam kemampuan anak untuk duduk, berjalan, dan
menulis
2. Aspek perawatan diri sendiri, misalnya kemampuan untuk makan sendiri,
mandi sendiri dan menggunakan alat-alat yang umum digunakan dalam rumah
3. Aspek komunikasi, seperti berbicara, berbahasa dan memahami instruksi
4. Aspek sosial, seperti bersosialisasi dan bermain dengan anak lain
5. Aspek mental emosional, seperti hiperaktivitas, depresi dan kecemasan

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

KRITERIA DIAGNOSIS

F70 Retardasi Mental Ringan


Bila menggunakan tes IQ baku yang tepat, maka IQ berkisar antara
50 69
Pemahaman dan penggunaan bahasa cenderung terlambat pada
berbagai tingkat, dan masalah kemampuan berbicara yang
mempengaruhi perkembangan kemandirian dapat menetap sampai
dewasa. Walaupun mengalami keterlambatan dalam kemampuan
bahasa, tapi sebagian besar dapat mencapai kemampuan bicara untuk
keperluan sehari hari. Kebanyakan juga dapat mandiri penuh dalam
merawat diri sendiri dan mencapai ketrampilan praktis dan
ketrampilan rumah tangga, walaupun tingkat perkembangannya agak
lambat daripada normal.
Kesulitan
utama biasanya tampak dalam pekerjaan sekolah yang
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin
bersifat
akademis dan banyak masalah khusus dalam membaca dan

KRITERIA DIAGNOSIS
F71 Retardasi Mental Sedang
IQ biasanya berada dalam rentang 35 49. Umumnya ada profil kesenjangan
dari kemampuan, beberapa dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam
ketrampilan visuo-spasial daripada tugas tugas yang tergantung pada
bahasa, sedangkan yang lainnya sangat canggung namun dapat
mengadakan interaksi sosial dan percakapan sederhana. Tingkat
perkembangan bahasa bervariasi, ada yang dapat mengikuti percakapan
sederhana, sedangkan yang lain hanya dapat berkomunikasi seadanya untuk
kebutuhan dasar mereka.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasikan pada kebanyakan penyandang
retardasi mental sedang. Autisme masa kanak atau gangguan perkembangan
pervasif lainnya terdapat pada sebagian kecil kasus, dan mempunyai pengaruh
besar pada gambaran klinis dan tipe penatalaksanaan yang dibutuhkan.
Epilepsi, disabilitas neurologik dan fisik juga lazim ditemukan meskipun
kebanyakan penyandang retardasi mental sedang mampu berjalan tanpa
bantuan.
Kadang kadang didapatkan gangguan jiwa lain, tetapi karena
Fakultas
Kedokteran
Universitas Hasanuddin
tingkat perkembangan bahasanya yang terbatas sehingga sulit menegakkan

KRITERIA DIAGNOSIS

F72 Retardasi Mental Berat


IQ biasanya berada dalam rentang 20 34. Pada umumnya mirip
dengan retardasi mental sedang dalam hal :
Gambaran klinis
Terdapatnya etiologi organik
Kondisi yang menyertainya
Tingkat prestasi yang rendah
Kebanyakan penyandang retardasi mental berat menderita
gangguan motorik yang mencolok atau defisit lain yang
menyertainya, menunjukkan adanya kerusakan atau penyimpangan
perkembangan yang bermakna secara klinis dari susunan saraf
pusat.
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

KRITERIA DIAGNOSIS

F73 Retardasi Mental Sangat Berat


IQ biasanya dibawah 20. Pemahaman dan penggunaan bahasa
terbatas, hanya mengerti perintah dasar dan mengajukan
permohonan sederhana. Keterampilan visuospasial yang paling dasar
dan sederhana tentang memilih dan mencocokkan mungkin dapat
dicapainya dan dengan pengawasan dan petunjuk yang tepat,
penderita mungkin dapat sedikit ikut melakukan tugas praktis dan
rumah tangga.
Suatu etiologi organik dapat diidentifikasi pada sebagian besar
kasus. Biasanya ada disabilitas neurologik dan fisik lain yang
berat yang mempengaruhi mobilitas, seperti epilepsi dan
hendaya daya lihat dan daya dengar. Sering ada gangguan
perkembangan pervasif dalam bentuk sangat berat khususnya
autisme
yang tidak khas (atypical autism) terutam pada penderita
Fakultas
Kedokteran
Universitas Hasanuddin
yang dapat bergerak.

KRITERIA DIAGNOSIS

Kriteria Diagnosis Retardasi Mental menurut DSM-IV :


1. Fungsi intelektual dibawah rata rata (IQ 70 atau kurang) yang telah diperiksa secara individual.
2. Kekurangan atau gangguan dalam perilaku adaptif (sama dengan kekurangan individu untuk memenuhi
tuntutan standar perilaku sesuai dengan usianya dari lingkungan budayanya) dalam sedikitnya 2 hal, yaitu
komunikasi, self-care, kehidupan rumah-tangga, ketrampilan sosial/interpersonal, menggunakan sarana
komunitas, mengarahkan diri sendiri, ketrampilan akademis fungsional, pekerjaan, waktu senggang,
kesehatan dan keamanan
3. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun
Berdasarkan karakteristik perkembangan anak dengan retardasi mental, digolongkan sebagai berikut:

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

Kode diagnostik dan derajat RM menurut DSM V TR adalah sebagai berikut :


317 Retardasi mental ringan, IQ 50 55 sampai 70
318 Retardasi mental sedang, IQ 35 40 sampai 50 55
318.1 Retardasi mental berat, IQ 20 25 sampai 35 40
318.2 Retardasi mental sangat berat, IQ dibawah 20 atau 25

DIAGNOSIS BANDING
Autisme merupakan suatu keadaan di mana anak mengalami
perubahan perilaku sosial, sering melakukan gerakan yang sama
berulang-ulang, dan mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi, baik komunikasi verbal maupun non verbal. Anak
yang menderita autis biasanya lebih suka bermain sendirian dan
mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan anak-anak lainnya
dan orang dewasa. Anak autis biasanya jarang melakukan kontak
mata saat berbicara dan sering melakukan gerakan yang sama
secara berulang-ulang. Perubahan apapun pada lingkungan
sekitarnya cenderung membuat anak merasa terganggu. Sebagian
besar anak autis memiliki IQ normal dan beberapa anak lain
bahkan memiliki IQ yang tinggi.Anak autis kurang dapat
Fakultas Kedokteran
menunjukkan
emosinya dan sulit membangun suatu hubungan atau
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan tindakan yang dilakukan untuk
menghilangkan atau menurunkan kondisi yang menyebabkan
gangguan perkembangan yang disertai dengan retardasi mental.
Tindakan tersebut termasuk :
1. Pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat umum tentang retardasi mental.
2. Usaha terus-menerus dari professional bidang kesehatan untuk
menjaga dan memperbaharui kebijaksanaan kesehatan
masyarakat.
3. Aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan maternal dan
anak yang optimal.
4. Eradikasi gangguan yang diketahui disertai dengan kerusakan
system saraf pusat.
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
Pencegahan Sekunder dan Tersier
Jika suatu gangguan yang disertai dengan retardasi mental telah
dikenali, gangguan harus diobati untuk mempersingkat perjalanan
penyakit (pencegahan sekunder) dan untuk menekan sekuele atau
kecacatan yang terjadi setelahnya (pencegahan tersier). Gangguan
metabolik dan endokrin herediter, seperti PKU dan hipotiroidisme,
dapat diobati dalam stadium awal dengan control diet atau dengan
terapi penggantian hormone. Anak retardasi mental seringkali
memiliki kesulitan emosional dan perilaku yang memerlukan terapi
psikiatrik. Kemampuan kognitif dan sosial yang terbatas yang
dimiliki anak tersebut memerlukan modalitas terapi psikiatrik yang
dimodifikasi berdasarkan tingkat kecerdasan anak
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
Pendidikan untuk anak
Lingkungan pendidikan untuk anak-anak dengan retardasi mental
harus termasuk program yang lengkap yang menjawab latihan
keterampilan adaptif, latihan keterampilan sosial, dan latihan
kejujuran. Perhatian khusus harus dipusatkan pada
komunikasi dan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup.
Terapi kelompok seringkali merupakan format yang berhasil dimana
anak-anak dengan retardasi mental dapat belajar dan
mempraktekkan situasi hidup nyata dan mendapatkan umpan balik
yang mendukung

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN

Terapi perilaku, kognitif, dan psikodinamika


1. Terapi perilaku untuk membentuk dan meningkatkan perilaku
sosial dan untuk mengendalikan dan menekan perilaku agresif
dan destruksi pasien. Dorongan positif untuk perilaku yang
diharapkan dan memulai hukuman (seperti mencabut hak
istimewa) untuk perilaku yang tidak diinginkan telah banyak
menolong.
2. Terapi kognitif seperti menghilangkan keyakinan palsu dan
latihan relaksasi dengan instruksi dari diri sendiri, juga telah
dianjurkan untuk pasien retardasi mental yang mampu mengikuti
instruksi pasien
3. Terapi psikodinamika digunakan pada pasien retardasi mental
dan keluarganya untuk menurunkan konflik tentang harapan
yang menyebabkan kecemasan, kekerasan, dan depresi yang
menetap.
Fakultas
Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
Pendidikan keluarga
Satu bidang yang penting dalam pendidikan keluarga dari pasien
dengan retardasi mental adalah tentang cara meningkatkan
kompetensi dan harga diri sambil mempertahankan harapan yang
realistic untuk pasien. Keluarga seringkali merasa sulit untuk
menyeimbangkan antara mendorong kemandirian dan memberikan
lingkungan yang mengasuh dan suportif bagi anak retardasi mental,
yang kemungkinan mengalami suatu tingkat penolakan dan
kegagalan di luar konteks keluarga.

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
Intervensi Farmakologi
1. Agresi dan perilaku melukai diri sendiri
Beberapa bukti dari penelitian telah menyatakan bahwa lithium
(Eskalith), anntagonis narkotik seperti naltrexone (Trexan),
Carbamazepine (Tegretol) dan valproic acid (Depakene) adalah
medikasi yang juga bermanfaat pada beberapa kasus perilaku
melukai diri sendiri.
2. Gerakan motorik stereotipik
Medikasi antipsikotik, seperti haloperidol (Haldol) dan
chlorpromazine (Thorazine), menurunkan perilaku stimulasi diri
yang berulang pada pasien retardasi mental, terapi medikasi
tersebut tidak meningkatkan perilaku adaptif.
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PENATALAKSANAAN
3. Perilaku kemarahan eksplosif
Penhambat-, seperti propranolol dan buspirone (BuSpar), telah
dilaporkan menyebabkan penurunan kemarahan ekspolasif di antara
pasien dengan retardasi mental dan gangguan autistik.
4. Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas
Penelitian terapi methylphenidate pada pasien retardasi mental
ringan dengan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas telah
menunjukkan perbaikan bermakna dalam kemampuan
mempertahankan perhatian dan menyelesaikan tugas.

Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

PROGNOSIS
Retardasi mental yang diketahui penyakit dasarnya,
biasanya prognosisnya lebih baik. Tetapi pada umumnya
sukar untuk menemukan penyakit dasarnya. Anak dengan
retardasi mental ringan, dengan kesehatan yang baik,
tanpa penyakit kardiorespirasi, pada umumnya umur
harapan hidupnya sama dengan orang yang normal. Tetapi
sebaliknya pada retardasi mental yang berat dengan
masalah kesehatan dan gizi, sering meninggal pada usia
muda
Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin

REFERENSI

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA: Retardasi Mental. Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Binarupa Aksara, Jakarta, 2010
2. Elvira SD, Hadisukanto G. Retardasi Mental. Buku Ajar Psikiatri, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 2010
3. Ronal T Brown. Handbook of pediatric psychologyIn school settings. Awrence
Erlbaum Associates, London, 2004
4. Maslim R. F70-F79 Retardasi Mental. Buku Saku PPDGJ-III, Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK-Unika Atmajaya, Jakarta, 2003
5. Prugh Dane G. Mental Retardation. The Psychosocial Aspects of Pediatrics.
Philadelphia: Lea & Febiger; 1983. p. 395-412.
6. G Tarjan. Classification and Mental Retardation : Issues Arising in the Fifth WHO
Seminar on Psychiatric Diagnosis, Classification and Diagnostic. Vol 128. The
American Journal of Psychiatry

TERIMA
KASIH