Anda di halaman 1dari 87

MODUL

PELAKSANAAN
ANGGARAN
KELEMAHAN DI BIDANG
PENGANGGARAN
 Fungsi perencanaan yang belum tegas benang
merahnya dengan penganggaran;
 Institusi penganggaran yang terbelah antara
anggaran rutin dan pembangunan;
 Anggaran yang berorientasi pada input, bukan
output atau outcomes;
 Landasan pelaksanaan hak bujet legislatif
yang belum tersedia.

2
KELEMAHAN DI BIDANG
PELAKSANAAN ANGGARAN
 Fungsi financial management yang tidak
terpadu, dan fungsi operasional yang belum
optimal (let the managers manage);
 Dukungan pembiayaan alternatif yang belum
tersedia setelah independensi BI;
 Duplikasi dan akumulasi sehubungan dengan
pemisahan anggaran rutin dan pembangunan;
 Penyelenggaraan fungsi treasury (kas, piutang,
utang, investasi, aset lain) yang jauh dari
optimal.

3
KELEMAHAN AKUNTANSI DAN
PERTANGGUNGJAWABAN
 Tanggung jawab kementerian thp penggunaan
anggaran belum cukup tegas;
 Belum tersedia standar akuntansi bagi
pelaporan keuangan pemerintah, dan belum
jelas otoritas pembuat standar dimaksud.
 Laporan keuangan hanya meliputi realisasi
anggaran dan penyajiannya sangat lambat.
 Fungsi pemeriksaan yang kurang efektif dan
tumpang tindih;

4
AGENDA REFORMASI:
Dari Hulu Sampai ke Hilir
 Reformasi bidang Perencanaan & Penganggaran.
 Reformasi bidang Pelaksanaan Anggaran.
 Reformasi bidang Perbendaharaan, dan Sistem
Penerimaan & Pembayaran.
 Reformasi bidang Pengelolaan Kas, Piutang,
Barang Milik Negara, dan Kewajiban Pemerintah
 Reformasi bidang Akuntansi, Pelaporan, dan
Pertanggungjawaban
 Reformasi bidang Pemeriksaan dan Sistem
Pengendalian

5
AGENDA REFORMASI:
Perangkat Perubahan

 Perubahan Hukum & Peraturan Per-UU-an


 Penataan ulang sistem, prosedur, dan kalender
 Penyesuaian kelembagaan/organisasi
 Perubahan kerangka perilaku
 Peningkatan kapasitas personil
 Penyediaan sarana kerja
 Perwujudan kepemimpinan/leadership baru

6
Budget Cycles

Fiscal planning &


management Budget preparation &
enactment

External audit &


external review

Budget execution
revenue raising, expenditure, loans

Transaction accounting,
recording and reporting

7 02/14/10
LANDASAN HUKUM PELAKSANAAN
ANGGARAN
1. UU No.17 tahun 2004 tentang Keuangan Negara
2. UU No. 01 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
3. UU No. 15 tahun 2003 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan
Negara
4. PP Nomor 20 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah.
5. PP Nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran K/L
6. PP Nomor 23 tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum.
7. PP Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.
8. Kepres Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara, sebagaimana telah diubah dengan Kepres Nomor 72 tahun 2004.
9. Kepres Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, sebagaimana telah diubah dengan Kepres Nomor 61 Tahun 2004.
10. PMK No. 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN.
11. PMK Nomor 97/PMK.06/2007 tentang Bagan Perkiraan Standar.
12. PMK Nomor 80/PMK.06/2009 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana
Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan,
Pengesahan dan Pelaksanaan DIPA Tahun 2009.
13. Perdirjen Perbendaharaan Nomor PER-66/PB/2005 Mekanisme Pelaksanaan
Pembayaran atas Beban APBN.
OVERVIEW
PERENCANAAN ANGGARAN
BAPPENAS RPJM PP
KEMENTERIAN/LEMBAGA RENSTRA-KL
BAPPENAS+DEPKEU PAGU SE
PERENCANAAN
KEMENTERIAN/LEMBAGA INDIKATIF B
RENJA-KL
BAPPENAS RKP PP
DEP.KEUANGAN PAGU SE-
SEMENTARA MK
KEMENTERIAN/LEMBAGA RKA-KL
DEP.KEUANGAN HIMPUNAN
PENGANGGAR
RKA-KL AN
DEP.KEUANGAN NOTA KEU &
RAPBN
PEMERINTAH+DPR APBN UU PENGESAHAN
DEP.KEUANGAN RINCIAN Perpr ANGGARAN
APBN es PELAKSANAAN
KEMENTRIAN/L+DEPKEU DIPA
PEMERINTAH+DPR LKPP UU PERTNGGJWB
SIKLUS APBN
(2)

(1) Pokok-pokok
Kebijakan Fiskal dan (3)
Kerangka Ekonomi
RKP Makro
Pagu Indikatif (Pertengahan Mei) Pagu Sementara
(Maret) (Pertengahan Juni)
(7)
DIPA K/L
(6) (31 Desember) (4)

Rincian Anggaran RAPBN


Belanja K/L (5) (Agustus)
(Akhir November)
APBN
Perpres (Akhir Oktober) RUU & NK

UU
PENUTUP : SIKLUS APBN
(2)

(1)
Pagu Sementara t+1 (3)
(Pertengahan Juni)
Pagu Indikatif t+1
(Maret) RAPBN t+1
(Agustus)
(c)

LKPP t-1
(b) (4)

APBN-P t APBN T+1


(September) (a) (Akhir Oktober)

RAPBN-P t
(Juli)
ALUR APBN
Departemen
Keuangan

.Komisi-Komisi DPR
PLAFON
.Depkeu
RAPBN .Kementerian/Lembaga

• Depkeu
• Bappenas Asumsi Pembahasan RKA-KL
• Bank Indonesia Makro
• BPS

• Pertumbuhan Ekonomi
• Inflasi
• Nilai Tukar
• Harga Minyak
• Produksi Minyak
• Tk. Suku Bunga
TINGKAT PEMBICARAAN RUU APBN
Dilakukan dalam 2 tingkat pembicaraan:
 TINGKAT I
Rapat Komisi, Rapat Gabungan Komisi, Rapat Badan
Legislasi, Rapat Panitia Anggaran, atau Rapat Panitia
Khusus
 TINGKAT II
Rapat Paripurna: pengambilan keputusan

Sebelum dilakukan pembicaraan Tingkat I dan Tingkat II


diadakan Rapat Fraksi.
PELAKSANAAN ANGGARAN

Siklus Anggaran :
1.Penyusunan & Penetapan APBN
2.Pelaksanaan APBN
3.Pengawasan APBN
4.Pertanggungjawaban APBN
Penyusunan & Penetapan APBN
1. Pemerintah sampaikan pokok2 kebijakan fiskal &
kerangka ekonomi kpd DPR (bulan Mei)
2. Pemerintah pusat & DPR bahas kebijaksanaan
umum dan prioritas anggaran sbg acuan bagi K/L
dalam penyusunan anggaran
3. Menteri/Pimp. Lembaga menyusun RKA-KL dan
dibahas dgn DPR, hasilnya disampaikan ke
Menkeu sbg bahan rancangan UU APBN tahun
berikutnya
4. Pemerintah Pusat sampaikan RUU APBN + Nota
Keuangan kpd DPR untuk dibahas (bulan
Agustus)
5. DPR menyetujui RUU APBN selambat-lambatnya 2
Pelaksanaan APBN
1. Setelah UU APBN ditetapkan, rincian pelaksanaannya
dituangkan dlm Perpres tent. Rincian APBN
2. Menkeu beritahu K/L agar sampaikan dok. Pelaksanaan
anggaran berdasarkan alokasi anggaran dlm Perpres
tent.Rincian APBN (termasuk RBA BLU)
3. Menkeu mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran dan
disampaikan menteri/pimpinan lembaga, BPK, Gubernur, Direktur
Jenderal Anggaran, Direktur Jenderal Perbendaharaan, Kepala
Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan terkait, Kuasa Bendahara
Umum Negara (KPPN) terkait, dan Kuasa Pengguna Anggaran.
4. Penanggung jawab Keg. Mengajukan dana dgn menerbitkan
SPM kpd kuasa BUN
5. Pemerintah susun lap. Realisasi semester I APBN & prognosis
dan disampaikan ke DPR selambat-lambatnya akhir Juli TA Ybs.
6. Jika ada penyesuaian pemerintah pusat ajukan RUU perubahan
APBN
PROSES PENYUSUNAN DAN
DPR RI Presiden PELAKSANAAN ANGGARAN

6
3a 4
5 7

8b
DJA DJPb
9b
3 8a 12

11
Kementerian Dit PA/
/Lembaga Kanwil DJPb
13
2 9a 13 b
a
10
14
Unit
SATKER KPPN
Organisasi 1

15

16

BANK Rekanan
18
Pengawasan Pelaksanaan APBN

1. Pengawasan dilakukan atasan kepala kantor/satker


K/L
2. Inspektorat Jenderal melakukan pengawasan atas
pelaksanaan APBN
3. Pengawasan oleh DPR
Pertanggungjawan Pelaksanaan
APBN
1. Menteri/pimpinan lembaga membuat laporan keuangan :
- Laporan Realisasi Anggaran
- Neraca
- Catatan atas Lap. Keuangan
(termasuk Lap. Keuangan BLU)
2. LK disampaikan ke Menkeu paling lambat 2 bulan setelah
TA berakhir.
3. Menkeu menyusun rekapitulasi LK dan disampaikan ke
Presiden
4. Presiden sampaikan LK ke BPK utk diaudit
5. LK (audited) disampaikan Presiden ke DPR sbg RUU
Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN.
Hal mendasar dlm Pelaksanaan
APBN
1. Pemisahan kewenangan administratif (ordonatur)
yang berada pada Menteri/pimpinan lembaga dan
kewenangan perbendaharaan (comptable) yang
berada pada Menkeu
2. Menkeu sbg pembantu Presiden dlm bidang
keuangan pada hakikatnya adalah Chief Financial
Officer (CFO) Pemerintah
3. Menteri/pimpinan lembaga pada hakikatnya adalah
Chief Operasional Officer Pengawas keuangan dan
manajer keuangan.
4. Kementerian Keuangan berwenang dan bertanggung
jawab atas pengelolaan aset dan kewajiban negara
secara nasional, sementara kementerian
negara/lembaga berwenang dan bertanggungjawab
atas penyelenggaraan pemerintah sesuai dengan
ANGGARAN PENDAPATAN
& BELANJA NEGARA
ANGGARAN PENDAPATAN DAN
BELANJA NEGARA
1. Pengertian
2. Struktur dan Format APBN
3. Format APBN bentuk I-account
4. Pengelompokkan dalam Penganggaran
Terpadu
Pengertian

Menurut UU no. 17/2003 Pasal 1 angka 7:


APBN adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan Negara yang disetujui oleh
Dewan Perwakilan Rakyat
Struktur dan Format APBN
APBN dituangkan kedalam suatu struktur
dan format yang memuat pengelompokan
jenis transaksi berkaitan dengan rencana
kegiatan penyelenggaraan negara
menurut pengaruhnya terhadap posisi
keuangan Negara dalam kurun waktu satu
tahun anggaran
Format APBN bentuk I-account

Terdiri dari tiga kelompok utama yaitu:


• Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah,
• Anggaran Belanja Negara dan
• Pembiayaan Defisit Anggaran.
FORMAT DAN STRUKTUR
APBN
1. APBN terdiri atas anggaran pendapatan,
anggaran belanja, dan pembiayaan.
2. Pendapatan negara terdiri atas penerimaan
pajak, penerimaan bukan pajak, dan hibah.
3. Belanja negara dipergunakan untuk keperluan
penyelenggaraan tugas pemerintahan pusat dan
pelaksanaan perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah.
4. Belanja negara dirinci menurut organisasi,
fungsi, dan jenis belanja
STRUKTUR APBN
Pendapatan Negara dan Hibah
 Pendapatan Negara

-
 Hibah

Belanja Negara
 Belanja Pemerintah Pusat
 Transfer ke Daerah

=
Surplus/Defisit Anggaran
Pembiayaan
Anggaran Pendapatan Negara dan
Hibah

• Penerimaan perpajakan,
terdiri dari :
- pajak dalam negeri dan
- pajak perdagangan internasional
• Penerimaan Negara Bukan Pajak terdiri dari:
- penerimaan sumber daya alam,
- bagian pemerintah atas laba badan usaha milik Negara
- penerimaan negara bukan pajak lainnya
• Penerimaan Hibah
Anggaran Belanja Negara dan
Pembiayaan Defisit Anggaran.

• Anggaran Belanja Pemerintah Pusat


dikelompokkan menurut:
- organisasi/bagian anggaran,
- fungsi dan belanja
- jenis belanja
• Anggaran Belanja ke daerah terdiri dari:
- dana perimbangan dan
- otonomi khusus dan dana penyesuaian
Belanja pemerintah pusat menurut
organisasi/bagian anggaran

adalah semua pengeluaran negara yang


dialokasikan kepada kementerian
negara/lembaga, sesuai dengan program-
program yang akan dijalankan
Belanja pemerintah pusat menurut
fungsi
adalah semua pengeluaran Negara yang digunakan
untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan Negara
yang terdiri dari:
• fungsi pelayanan umum,
• fungsi pertahanan,
• fungsi ketertiban dan keamanan,
• fungsi ekonomi,
• fungsi lingkungan hidup,
• fungsi perumahan dan fasilitas umum,
• fungsi kesehatan,
• fungsi pariwisata dan budaya,
• fungsi agama, fungsi pendidikkan dan perlindungan
social
Belanja pemerintah pusat menurut
jenis belanja
adalah semua pengeluaran negara yang
digunakan untuk membiayai belanja negara
yang terdiri dari:
• belanja pegawai,
• belanja barang,
• belanja modal,
• pembayaran bunga utang,
• subsidi,
• belanja hibah,
• bantuan sosial dan
• belanja lain-lain.
Anggaran belanja ke daerah
 Dana perimbangan;
 Dana otonomi khusus dan Penyesuaian
Pembiayaan dalam negeri
adalah semua pembiayaan yang berasal dari:
• Perbankan dalam negeri,
• Non-Perbankan dalam negeri, terdiri dari :
- hasil privatisasi,
- penjualan aset program restrukturisasi
perbankan dan
- surat utang negara
- dukungan infrastruktur
Pembiayaan luar negeri bersih
adalah semua pebiayaan yang berasal dari
penarikan utang/pinjaman luar negeri yang
terdiri dari:
• Penarikan pinjaman luar negeri (bruto)
- pinjaman program,
- pinjaman proyek.
• dikurangi dengan pembayaran cicilan
pokok utang/pinjaman luar negeri.
contoh format APBN tahun anggaran 2007
menurut UU 18/2006 sebagai berikut:
A. Anggaran Pendapatan Negara dan Hibah 723.057.922.783.000,-
A.1.Penerimaan Perpajakan 509.462.000.000.000,-
1. Pajak Dalam Negeri 494.591.600.000.000,-
2. Pajak Perdagangan Internasional 14.870.400.000.000,-
A.2.Penerimaan Negara Bukan Pajak 210.926.957.783.000,-
1. Penerimaan Sumber Daya Alam 146.256.914.000.000,-
2. Bagian Pemerintah atas Laba BUMN 19.100.000.000.000,-
3. Penerimaan Negara Bukan Pajak Lainnya 45.570.043.783.000,-
A.3.Penerimaan Hibah 2.668.965.000.000,-
B. Anggaran Belanja Negara 763.570.776.199.000,-
B.1.Anggaran Belanja Pemerintah Pusat504.776.199.968.000,-
1. Menurut Organisasi/Bagian Anggaran 504.776.199.968.000,-2. Menurut fungsi
504.776.199.968.000,-
3. Menurut Jenis Belanja 504.776.199.968.000,-
B.2. Anggaran Belanja untuk Daerah 258.794.599.050.000,-
B.2.1.Dana Perimbangan 250.342.751.050.000,-
1. Dana Bagi Hasil 68.461.251.050.000,-
2. Dana Alokasi Umum 164.787.400.000.000,-
3. Dana Alokasi Khusus 17.094.100.000.000,-
B.2.2. Dana Otonomi khusus dan Penyesuaian 8.451.848.000.000,-
1. Dana Otonomi Khusus 4.045.748.000.000,-
2. Dana Penyesuaian 4.406.100.000.000,-
C. Pembiayaan Defisit Anggaran -40.512.876.235.000,-
C.1.Pembiayaan Dalam Negeri 55.068.296.235.000,-
1. Perbankan Dalam Negeri 12.962.028.920.000,-
2. Privatisasi dan penjualan asset program 1.500.000.000.000,-
restruturisasi perbankan
3. Surat Utang Negara Bersih 40.606.000.000.000,-
4. Dukungan infrastruktur -2.000.000.000.000,-
C.2. Pembiayaan Luar Negeri Bersih -14.555.420.000.000,-
1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri 40.274.580.000.000,-
- Penarikan Pinjaman Program 16.275.000.000.000,-
- Penarikan Pinjaman Proyek 23.999.580.000.000,-
2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar -54.830.000.000.000,-

Negeri
BAGAN ALIR PROSES PEMBAYARAN PADA SATUAN KERJA
PEMBUAT PENGUJI BENDAHARA UNIT AKUNTASI
PENERBIT SPM
KOMITMEN TAGIHAN PENGELUARAN SATKER

Bayar
SK LAPORA
SPK N
KONTRAK KEUANG
Draft
SPM - SPM AN
GU GU
BUKTI
Proses
Draft SPM SAI
Daftar SPM - LS
Lembur LS BUKTI
DAFTAR GAJI
BA PK
Transfer
BA PB UP/GU
BA SERAH
TERIMA PEMBEBAN
AN

Benar Transfer
BUKTI pihak III
SP2D
DAN UJI
SPM
TAGIHA DAN
N PERIK
SA Salah 41
KPPN 02/14/10
Pengelompokan Anggaran Menurut
Organisasi/Bagian Anggaran
Pengelompokan organisasi yang digunakan dalam
anggaran belanja negara adalah klasifikasi untuk
masing-masing kementerian negara/lembaga
sebagai pemegang bagian anggaran/pengguna
anggaran.

Selanjutnya dirinci ke beberapa unit organisasi


sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (Satker Pusat,
Satker vertikal, SKPD (dana dekon dan TP), Satker
khusus (BAPP))
Pengelompokan Anggaran
Menurut Fungsi dan Sub fungsi
Menurut fungsi menunjukkan rincian
anggaran menurut fungsi/subfungsi,
program, dan kegiatan/subkegiatan.
Klasifikasi fungsi
• pelayanan umum,
• pertahanan,
• ketertiban dan keamanan,
• ekonomi,
• lingkungan hidup,
• perumahan dan fasilitas umum,
• kesehatan,
• pariwisata dan budaya,
• agama,
• pendidikkan, dan
• perlindungan sosial
Pengelompokan Anggaran Menurut
Klasifikasi Ekonomi

• belanja pegawai,
• belanja barang,
• belanja modal,
• beban bunga,
• subsidi,
• bantuan sosial,
• hibah dan
• belanja lainnya
STRUKTUR ORGANISASI
PENGELOLA KEUANGAN NEGARA

PRESIDEN

MENTERI MENTERI KEUANGAN


PENGGUNA BENDAHARAWAN
ANGGARAN UMUM

SATKER SATKER KPPN KPPN


Kuasa Pengguna Kuasa Pengguna Kuasa Bendara Kuasa Bendara
Anggaran Anggaran Umum Umum
SEKJEN
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

KEPALA KEPALA
KARO KEUANGAN
BIRO BIRO

UNIT
PEMBUAT PEGUJI PENERBIT
BENDAHARA AKUTANSI
KOMITMEN TAGIHAN SPM
INSTANSI
DITJEN
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

DIREKTUR SEKDITJEN DIREKTUR

UNIT
PEMBUAT PEGUJI PENERBIT
BENDAHARA AKUTANSI
KOMITMEN TAGIHAN SPM
INSTANSI
IRJEN
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

INSPEKTUR SETITJEN INSPEKTUR

UNIT
PEMBUAT PEGUJI PENERBIT
BENDAHARA AKUTANSI
KOMITMEN TAGIHAN SPM
INSTANSI
BADAN
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

DEPUTY / DEPUTY /
SEKBADAN
KEPALA PUSAT KEPALA PUSAT

UNIT
PEMBUAT PEGUJI PENERBIT
BENDAHARA AKUTANSI
KOMITMEN TAGIHAN SPM
INSTANSI
ESELON 2
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

KEPALA KEPALA
KABAG UMUM
BIDANG BIDANG

PEMBUAT PENERBIT PEMBUAT


BENDAHARA
KOMITMEN SPM KOMITMEN

UNIT
PEGUJI
AKUTANSI
TAGIHAN
INSTANSI
ESELON 3
KUASA PENGGUNA
ANGGARAN

KEPALA SEKSI
KASUBAG TU KEPALA
PEMBUAT
Penerbit SPM SEKSI
KOMITMEN

PEGUJI
BENDAHARA TAGIHAN

UNIT
PEGUJI
AKUTANSI
TAGIHAN
INSTANSI
DAFTAR ISIAN
PELAKSANAAN
ANGGARAN
(DIPA)
Pengertian DIPA
1. Dokumen Pelaksanaan anggaran yang memuat
uraian sasaran yang hendak dicapai, fungsi,
program dan rincian kegiatan, rencana penarikan
dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta
pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian
negara/lembaga
2. Sesuai PMK 80/PMK.05/2007, DIPA adalah dokumen
pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh
Menteri/Pimpinan Lembaga serta disahkan oleh
Direktur Jenderal Perbendahaan atas nama Menteri
Keuangan dan berfungsi sebagai dasar untuk
melakukan tindakan yang mengakibatkan
pengeluaran negara dan pencairan dana atas
beban APBN serta dokumen pendukung kegiatan
Jenis-Jenis DIPA
a. DIPA Kementerian Negara/Lembaga :
1. DIPA Satker Pusat/Kantor Pusat
2. DIPA Satker Vertikal/ Kantor Daerah
3. DIPA Dana Dekonsentrasi (SKPD Provinsi)
4. DIPA Tugas Pembantuan (SKPD Prov/Kab/Kota)

a. DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (DIPA APP)


1. DIPA Belanja Pemerintah Pusat (contoh : BA 061)
2. DIPA Belanja Daerah (contoh : BA 070)
3. DIPA Pembiayaan (contoh : BA 096)
4. DIPA Khusus (kondisi darurat, bersifat politis)
DIPA (lengkap)
1. Surat Pengesahan DIPA (SP DIPA), berisi informasi mengenai hal
- hal yang disahkan dari DIPA dan ditandatangani oleh
DirjenPerbendaharaan atau Kakanwil DJPB atas nama Menteri
Keuangan.
2. DIPA halaman I (Umum), terdiri dari halaman IA dan halaman IB.
Halaman IA memuat informasi yang bersifat umum dari setiap
satuan kerja. Halaman IB memuat informasi umum tentang
rincian fungsi, program dan sasarannya serta indikator keluaran
untuk masing2 kegiatan.
3. DIPA halaman II, berisi informasi setiap satuan kerja, uraian
kegiatan / sub kegiatan beserta volume keluaran yang hendak
dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang
dicerminkan dalam MAK
4. DIPA halaman III, berisi informasi tentang rencana penarikan
dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi
tanggungjawab setiap satuan kerja
5. DIPA halaman IV, berisi catatan-catatan yaitu hal-hal yang perlu
menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan
DIPA KANTOR PUSAT :
DIPA Kantor Pusat adalah Dokumen
Pelaksanaan Anggaran Kantor Pusat
Kementerian Negara/Lembaga. Penelaahan
DIPA dilakukan secara bersama antara
Direktorat Pelaksanaan Anggaran Direktorat
Jenderal Perbendaharaan dengan
Kementerian Negara/Lembaga terkait.
Menteri/Pimpinan Lembaga atau pejabat
yang ditunjuk menetapkan DIPA dan Direktur
Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri
Keuangan mengesahkan DIPA
DIPA KANTOR DAERAH :
DIPA Kantor Daerah adalah Dokumen
pelaksanaan anggaran Kantor
Daerah/Instansi Vertikal Kementerian
Negara/Lembaga. Penelaahan DIPA
dilakukan secara bersama antara Kanwil
Ditjen Perbendaharaan dengan Kantor
Daerah/Instansi Vertikal Kementerian
Negara/Lembaga. Kepala Kantor
Daerah/Instansi Vertikal Kementerian Negara
/Lembaga atau pejabat yang ditunjuk
menetapkan DIPA dan Kepala Kanwil
Direktorat Jenderal Perbendaharaan atas
DIPA dalam rangka Pelaksanaan
Dekonsentrasi :
DIPA dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi
adalah dokumen pelaksanaan anggaran dalam
rangka pelimpahan wewenang pemerintahan
oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil
Pemerintah dan/atau kepada Instansi Vertikal di
wilayah tertentu. Penelaahan DIPA dilakukan
secara bersama antara Kanwil Direktorat
Jenderal Perbendaharaan dengan Dinas terkait
atas nama Gubernur. Gubernur/Kepala Dinas
atau pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA
dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan
mengesahkan DIPA
DIPA dalam rangka Pelaksanaan Tugas
Pembantuan :
DIPA dalam rangka pelaksanaan Tugas
Pembantuan adalah dokumen pelaksanaan
anggaran dalam rangka penugasan dari
Pemerintah kepada Daerah dan/atau Desa
untuk melaksanakan tugas tertentu.
Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama
antara Direktorat Pelaksanaan Anggaran
Ditjen Perbendaharaan dengan Kementerian
Negara/Lembaga terkait. Menteri/Pimpinan
Lembaga atau pejabat yang ditunjuk
menetapkan DIPA dan Direktur Jenderal
Perbendaharaan atas nama Menteri
Keuangan mengesahkan DIPA
DIPA ANGGARAN PEMBIAYAAN
DAN PERHITUNGAN
1) Cicilan Bunga Utang (BA 061)
2) Subsidi dan Transfer (BA 062)
3) Belanja Lain-Lain (BA 069)
4) Dana Perimbangan (BA 070)
5) Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (BA 071)
6) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negari (BA 096)
7) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Dalam Negeri (BA 097)
8) Penerusan Pinjaman sebagai Pinjaman (BA 098)
9) Penyertaan Modal Negara (BA 099)
10) Penerusan Pinjaman sebagai Hibah (BA 101)
11) Penerusan Hibah sebagai Hibah (BA 102)
61
PENYUSUNAN DIPA
PENYUSUNAN DIPA
- Pengertian :
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kantor/satker
K/L dalam mempersiapkan konsep DIPA yang akan
dimintakan pengesahannya kpd Dirjen PBN utk DIPA
kantor pusat atau Kakanwil DJPBN utk DIPA daerah.
- DIPA yg disusun oleh K/L harus berpedoman pd Perpres
tentang rincian APBN, maka struktur penganggaran dalam
DIPA harus terinci unit organisasi, fungssi, program,
kegiatan, sub kegiatan , jenis belanja dan lokasi.
-

63
Hal-hal yang harus diperhatikan dlm
pencantuman PHLN dalam DIPA

1. Status loan.
2. Jenis cara pembayaran.
3. Alokasi dana.
4. Standar biaya.
5. Kartu Pengawasan Alokasi Pagu PHLN
6. NPPHLN.

64
PENYUSUNAN DIPA
Penyusunan DIPA oleh Satker berpedoman pada :
• Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 80/PMK.05/2007
tanggal 18 Juli 2007 tentang : Petunjuk Penyusunan dan
Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan,
Pengesahan dan Pelaksanaan DIPA Tahun Anggaran 2008
• Peraturan Menteri Keuangan No. 81/PMK.02/2007
tanggal 23 Juli 2007 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran
2008

65
BELANJA MODAL
Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya
menambah aset kementerian negara/lembaga dengan
kewajiban untuk menyediakan biaya pemeliharaan.

Dengan demikian, Belanja Modal merupakan


pengeluaran anggaran untuk memperoleh aset tetap
dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu
perode akuntansi

66
Aset Tetap
• Aset tetap mempunyai ciri-ciri/karakteristik sebagai
berikut : berwujud, akan menambah aset pemerintah,
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun,
nilainya relatif material (di atas Rp 300.000,- per unit).
Sedangkan batasan minimal kapitalisasi untuk
Gedung dan Bangunan dan Jalan, Irigasi dan
Jaringan adalah sebesar Rp 10.000.000,-.

• Ciri-ciri/karakteristik Aset Lainnya adalah tidak


berwujud, akan menambah aset pemerintah,
mempunyai masa manfaat lebih dari dari 1 (satu)
tahun, nilainya material.
Dikategorikan Belanja Modal apabila
memenuhi kreteria :

 Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya


perolehan aset tetap atau aset lainnya;
 Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimal
kapitalisasi aset tetap;
 Aset lainnya yang telah ditetapkan oleh
pemerintah;
 Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan
untuk dijual.
BELANJA MODAL
1. belanja modal tanah,
2. belanja modal peralatan dan
mesin.
3. belanja modal gedung dan
bangunan,
4. belanja modal jalan, irigasi dan
jaringan,
5. belanja modal fisik lainnya.
Belanja Bunga
Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan
atas kewajiban penggunaan pokok utang
(principal outstanding), baik utang dalam
negeri maupun luar negeri yang dihitung
berdasarkan posisi pinjaman.

Jenis belanja ini khusus digunakan


dalam kegiatan dari Bagian Anggaran
Pembiayaan dan Perhitungan (BAPP).
Subsidi
Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan
kepada perusahaan/lembaga yang
memproduksi, menjual, mengekspor, atau
mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi
hajat hidup orang banyak sedemikian rupa
sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh
masyarakat.

Belanja ini antara lain digunakan untuk


penyaluran subsidi kepada perusahaan negara
dan perusahaan swasta.

Jenis belanja ini khusus digunakan dalam


kegiatan dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan
Perhitungan (BAPP).
Belanja Bantuan Sosial.
Bantuan sosial yaitu transfer uang atau barang yang
diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari
kemungkinan terjadinya resiko sosial.

Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota


masyarakat dan atau lembaga kemasyarakatan termasuk di
dalamnya untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan
dan keagamaan.

Yang termasuk kedalam belanja bantuan sosial adalah :


 bantuan kompensasi sosial,
 Transfer dalam bentuk uang, barang atau jasa yang diberikan
kepada masyarakat, sebagai dampak dari adanya kenaikan
harga BBM.
 Bantuan kepada lembaga pendidikan dan peribadatan.
 Transfer dalam bentuk uang, barang atau jasa yang diberikan
kepada lembaga pendidikan dan peribadatan.
PENELAAHAN DIPA
Pengertian
Pengertian penelaahan adalah proses pencocokan
SRAA, peraturan presiden tentang rincian APBN
(menurut organisasi, fungsi, sub fungsi, program,
kegiatan, sub kegiatan, jenis belanja, serta lokasi
kegiatan/sub kegiatan) dari Direktur Jenderal
Anggaran dengan konsep DIPA dari instansi
kementerian negara/ lembaga/satuan kerja terkait.

Proses penelaahan DIPA s/d penetapan SP DIPA


harus telah diselesaikan selambat-lambatnya pada
tanggal 31 Desember sebelum tahun anggaran
berjalan.
PEMBLOKIRAN DANA KEGIATAN
1. Terdapat ketidaksesuaian kegiatan dan alokasi pagu
jenis belanja yang tercantum pada konsep DIPA yang
diajukan oleh satuan kerja terkait dengan yang
tercantum pada SRAA dan atau Peraturan Presiden
tentang Rincian APBN satuan kerja yang bersangkutan.
2. Keperluan biaya operasional satuan kerja baru yang
belum mendapat persetujuan Menteri Negara PAN,
kecuali satuan kerja sementara.
3. Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar Negeri (NPHLN)
belum efektif dan atau kegiatan PHLN yang belum
tersedia dana pendampingnya.

75
Catatan atas hasil penelaahan DIPA
1. Dalam hal sebagian atau seluruh kegiatan DIPA dibiayai dana
yang berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),
dalam halaman IV Catatan DIPA agar dicantumkan catatan
khusus.
2. Dalam penelaahan belanja pegawai dalam DIPA agar tetap
memperhatikan dasar perhitungan gaji atas dasar gaji bulan
April 2007 (untuk DIPA tahun 2008).
3. Apabila dalam penelaahan DIPA dijumpai alokasi pagu
kegiatan pada jenis belanja tertentu yang tidak sesuai dengan
klasifikasi belanja sebagaimana diatur dalam PP 24/2005
tentang Standar Akuntansi Pemerintah, DIPA tetap diproses
dengan dengan catatan diadakan pemblokiran atau tanda
bintang(*) sampai adanya penetapan lebih lanjut dari Direktur
Jenderal Perbendaharaan

76
PENGESAHAN DIPA
 Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum
Negara mengesahkan DIPA Pusat setelah ditelaah
kesesuaian antara konsep DIPA dengan Rincian
APBN yang ditetapkan dalam Perpres.
 Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan
selaku Bendahara Umum Negara mengesahkan
DIPA daerah setelah ditelaah kesesuaian antara
konsep DIPA dengan SRAA dan/atau Rincian
APBN yang ditetapkan dalam Perpres.

77
PETUNJUK OPERASIONAL
KEGIATAN (POK)

 Setelah DIPA disahkan oleh Direktur


Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kanwil
Ditjen PBN, setiap satker dapat
menerbitkan Petunjuk Operasional
Kegiatan (POK) sebagai pedoman
pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA.
 Revisi POK dilakukan oleh satker
sepanjang tidak bertentangan dengan
DIPA.
78
BELANJA NEGARA
Belanja Negara
adalah semua pengeluaran negara yang
digunakan untuk membiayai belanja
pemerintah pusat dan belanja untuk
daerah
belanja pegawai
yaitu kompensasi dalam bentuk uang
maupun barang yang diberikan kepada
pegawai pemerintah yang bertugas di
dalam maupun di luar negeri sebagai
imbalan atas pekerjaan yang telah
dilaksankan
Belanja barang
yaitu pembelian barang dan jasa yang
habis pakai untuk memproduksi barang
dan jasa yang dipasarkan maupun yang
tidak dipasarkan. Belanja ini antara lain
digunakan untuk pengdaan barang dan
jasa, pemeliharaan, dan perjalanan.
Belanja modal
yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam
rangka pembentukan modal. Dalam
belanja ini termasuk untuk tanah,
peralatan dan mesin, gedung dan
bangunan, jaringan, maupun dalam
bentuk fisik lainnya, seperti buku, binatang
dan lain sebagainya.
Beban bunga
yaitu pembayaran yang dilakukan atas
kewajiban penggunaan pokok utang
(principal outstanding), baik utang dalam
negeri maupun utang luar negeri yang
dihitung berdasarkan posisi pinjaman.
Subsidi
yaitu alokasi anggaran yang diberikan
kepada perusahaan/lembaga yang
memproduksi, menjual,mengekspor, atau
mengimpor barang dan jasa untuk
memenuhi hajat hidup orang banyak
sedemikian rupa sehingga harga jualnya
dapat terjangkau oleh masyarakat
Hibah
yaitu transfer dana yang sifatnya tidak
wajib kepada Negara lain atau kepada
organisasi internasional. Belanja ini antara
lain digunakan untuk hibah kepada
pemerintah luar negeri dan organisasi
internasional.
Belanja lain-lain
yaitu pengeluaran/belanja pemerintah
pusat yang tidak diklasifikasikan kedalam
jenis belanja yang telah tersebut diatas.