Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG
1. PROSES OVERHAUL TRAFO TENAGA TEGANGAN TINGGI DAN EXTRA TINGGI BERRESIKO TINGGI
2. TRAFO TENAGA TERSEBUT BERPERAN DOMINAN DALAM SISTEM TENAGA LISTRIK
3. PERSONIL YANG KOMPETEN UNTUK MELAKUKAN OVERHAUL TRAFO TENAGA
TEGANGAN TINGGI & EXTRA TINGGI MASIH LANGKA SEHINGGA MASIH SERING
DIPERLUKAN SUPERVISOR ASING

I.2. TUJUAN
1. MEMBERIKAN GAMBARAN TENTANG KONSEP DASAR TRAFO
2. MEMBERIKAN PETUNJUK INSTRUKSI KERJA PENGOSONGAN DAN PENGISIAN
MINYAK TRAFO TENAGA TEGANGAN TINGGI & EXTRA TINGGI
3. MEMBERIKAN PETUNJUK INSTRUKSI KERJA PENGUJIAN DAN ENERGYZED TRAFO
TENAGA TEGANGAN TINGGI & EXTRA TINGGI

I.3. SASARAN
MEMENUHI KEBUTUHAN BUKU PANDUAN LAPANGAN TENTANG PROSEDUR OVERHAUL TRAFO TENAGA TEGANGAN TINGGI & EXTRA TINGGI DISAMPING BUKU O & M
YANG ADA.

BAB I
PENDAHULUAN

I.4. SKUP BAHASAN


SKUP BAHASAN MELIPUTI SERBA SEKILAS TENTANG PRINSIP DASAR TRAFO, VEKTOR
GROUP TRAFO DAN SISTEM PROTEKSI TRAFO
KONSEP TRAFO TERSEBUT PERLU DIKETAHUI TERLEBIH DAHULU SEBAGAI DASAR
UNTUK MENDUKUNG PROSES OVERHAUL TRAFO, TERUTAMA PENGERTIAN
TENTANG TUJUAN DILAKUKANNYA PENGUJIAN TRAFO YANG HASILNYA MERUPAKAN
INDIKATOR DARI KONDISI TRAFO
BAHASAN SELANJUTNYA TENTANG PROSES PENGOSONGAN DAN PENGISIAN MINYAK
TRAFO, PENGUJIAN TRAFO DAN PROSEDUR ENERGYZED
DENGAN DEMIKIAN ROSES PEMELIHARAAN TRAFO TELAH TERCAKUP SECARA CUKUP
LENGKAP DAN MENYELURUH.

I.5. METODOLOGI
1. IDENTIFIKASI MASALAH
2. SURVEY LITERATUR
3. PENGAMATAN DILAPANGAN (dalam pelaksanaan Overhaul & Perbaikan Trafo 16,5/500
kV 400 MVA dengan Supervisor Mr. Misao Ishihara, Departemen Pengawasan Mutu
MELCO, Agustus 2002)
4. PEMBAHASAN DAN ANALISA MASALAH

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO
II.1. PENGERTIAN TRAFO
TRANSFORMATOR ADALAH SUATU PERALATAN UNTUK MENTRANSFORMASIKAN
ENERGY LISTRIK TANPA MERUBAH DAYA DENGAN TEGANGAN SESUAI YANG
DIBUTUHKAN
ENERGY
MEKANIK

Gambar 1. :
Transformasi Energy

G
EN
R
O
M ER
AT
A
O
R
R
E
TO TO
O
N
T
R
R
GE
O
M
TRANSFORMATOR
ENERGY
ENERGY
LISTRIK
LISTRIK
TRANSFORMATOR

II.2. ALASAN DIGUNAKAN TRAFO


1. TEGANGAN YANG DIHASILKAN SUMBER TIDAK SESUAI DGN. TEGANGAN PEMAKAI
2. BIASANYA SUMBER JAUH DARI PEMAKAI SEHINGGA PERLU TEGANGAN TINGGI
(PADA JARINGAN TRANSMISI)
3. KEBUTUHAN PEMAKAI / BEBAN MEMERLUKAN TEGANGAN YANG BERFARIASI

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.3. MACAM-MACAM TRAFO


1. TRAFO RADIO
DIMENSI SANGAT KECIL, EFISIENSI SANGAT RENDAH, DIGUNAKAN PADA RANG KAIAN RADIO & TELEVISI
2. TRAFO PENGUKURAN
DIMENSI RELATIP KECIL, EFISIENSI SANGAT RENDAH, AKURASI SANGAT TINGGI,
DIGUNAKAN UNTUK PENGUKURAN
a. Potential Transformer (PT)
Digunakan untuk mengukur tegangan menengah, tinggi & extra tinggi
b. Current Transformer (CT)
Digunakan untuk mengukur arus besar terutama pada tegangan menengah, tinggi &
Extra tinggi
3. TRAFO TENAGA
DIMENSI BERFARIASI DARI KECIL SAMPAI SANGAT BESAR, EFISIENSI RELATIP
TINGGI, DIGUNAKAN PADA PEMAKAIAN DAYA, DARI RUMAH TANGGA SAMPAI
PEMBANGKIT, TRANSMISI DAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.4. KONSTRUKSI TRAFO SATU FASA


1. JENIS INTI
a. PRIMER & SEKUNDER TERPISAH
ARUS
PRIMER

Gambar 2. :
Konstruksi Trafo Satu
Fasa Jenis Inti, Primer
& Sekunder Terpisah

ARUS
SEKUNDER

TEGANGAN
PRIMER

TEGANGAN
SEKUNDER

LILITAN
PRIMER

LILITAN
SEKUNDER
INTI BESI (KERN)

b. PRIMER & SEKUNDER DENGAN LENGAN BERSILANG

Gambar 3. :
Konstruksi Trafo Satu
Fasa Jenis Inti, Primer
& Sekunder Bersilang

TEGANGAN
PRIMER

TEGANGAN
SEKUNDER

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

2. JENIS CANGKANG (CELL TYPE)


Gambar 4. :
Konstruksi Trafo Satu
Fasa Jenis Cangkang

TEGANGAN
PRIMER

TEGANGAN
SEKUNDER

II.5. KONSTRUKSI TRAFO TIGA FASA


KONSTRUKSI TRAFO TIGA FASA TERDIRI DARI RANGAIAN TIGA BUAH TRAFO SATU
FASA
R
S
T

Gambar 5. :
Konstruksi Trafo
Tiga Fasa

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.6. JENIS PENDINGINAN TRAFO


1. JENIS TRAFO KERING
ISOLASI KERTAS ATAU KARET, PENDINGINAN SECARA ALAMIAH
2. JENIS TRAFO BASAH
ISOLASI MINYAK, SIRKULASI PENDINGINAN MINYAK BEBERAPA MACAM CARA
TERGANTUNG DARI DIMENSI / DAYA DAN PENEMPATANNYA
a. ONAN (Oil Natural, Air Natural)
Sirkulasi pendinginan minyak maupun udaranya secara alamiah
b. ONAF (Oil Natural, Air Force)
Sirkulasi pendinginan minyak secara alamiah, sedangkan sirkulasi udaranya secara
Paksa (dengan pompa)
c. OFAF (Oil Force, Air Force)
Sirkulasi pendinginan minyak secara paksa (dengan pompa) dan sirkulasi udaranya
juga secara paksa (dengan Fan).

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.7. LAMBANG TRAFO


1. LAMBANG TRAFO SATU FASA
ATAU DALAM
BENTUK SINGLE LINE
Gambar 6. : Lambang Trafo Satu Fasa
2. LAMBANG TRAFO TIGA FASA

ATAU
DALAM
BENTUK
SINGLE LINE

Gambar 7. : Lambang Trafo Tiga Fasa

Yd

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

3. LAMBANG TRAFO PENGUKURAN

ATAU DALAM
BENTUK SINGLE LINE

Gambar 8. : Lambang Current Trasformer (CT)

ATAU DALAM
BENTUK SINGLE LINE

Gambar 9. : Lambang Potential Transformer (PT)

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.8. PROSES TRANSFORMASI TEGANGAN


TRAFO DIHUBUNGKAN DENGAN SUMBER TEGANGAN
V1.
MENGALIR
ARUS EXCITASI (Iex / -90O )
Iex MEMBANGKITKAN ARUS GAYA MAKNIT ( / SEFASA DENGAN Iex )
MEMBANGKITKAN TEGANGAN TENTANG (E1 / -90O TERHADAP )
PRIMER
SEKUNDER
MEMBANGKITKAN TEGANGAN
Iex

SEKUNDER (E2 / -90O TERHADAP )

V1

E1

E2

V2

KARENA TRAFO TERSEBUT TIDAK


BERBEBAN, MAKA V2 = E2

INTI BESI

V1

Iex
V1

E1

Gambar 10. : Phasor Pendekatan


Proses Transformasi
Tegangan Trafo

E2

/2

(3/2)

Iex

E1
E2

10

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.9. FORMULASI TRAFO SATU FASA


SEBAGAIMANA TELAH DISINGGUNG DIMUKA, BAHWA TRANSFORMATOR ADALAH
SUATU PERALATAN UNTUK MENTRANSFORMASIKAN ENERGY LISTRIK TANPA
MERUBAH DAYA DENGAN TEGANGAN SESUAI YANG DIBUTUHKAN. MAKA :
DAYA PADA RANGAIAN PRIMER = DAYA PADA RANGKAIAN SEKUNDER

I1

I2

P1

= P2

I1.V1 = I2.V2
V1

V2

I2 : I1 = V1 : V2
=a
= Ratio Trafo

Gambar 11. :
Formulasi Trafo Satu Fasa

I1.N1 = I2.N2

P1 = Daya Primer

V1 = Tegangan Primer

P2 = Daya Sekunder

V2 = Tegangan Sekunder

I1 = Arus Primer

N1 = Jumlah Lilitan Primer

I2 = Arus Sekunder

N2 = Jumlah Lilitan Sekunder

N1 : N2 = I2 : I1
= V1 : V2
=a
= Ratio Trafo

11

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.10. FORMULASI TRAFO TIGA FASA


PADA DASARNYA FORMULASI TRAFO TIGA FASA DIKEMBANGKAN ATAU MERUPAKAN JUMLAH VEKTOR DARI TIGA BUAH TRAFO SATU FASA. JADI :
RUMUS DISAMPING INI BERLAKU BAIK PADA TRAFO
TERHUBUNG BINTANG MAUPUN SEGITIGA,
DENGAN CATATAN BAHWA ARUS (I) DAN TEGANGAN
= I1.V1 + I2.V2 + I3.V3
(V) ADALAH ARUS DAN TEGANGAN TRAFO SATU
= 3.I.V
FASA
(BUKAN ARUS DAN TEGANGAN LINE)
1. BILA RANGKAIAN PRIMER ATAU SEKUNDER TRAFO TERHUBUNG BINTANG.

P3 Fasa = P1 + P2 + P3

ILine

R
N
T
S

ILine = IFasa
IFasa

VLL

VRS = VR VS

VLN

VRS = VLL = Voltage line to line


VR = VS = VT = VLN

= VR.3.

= Voltage line to netral


P3 Fasa = Daya Trafo Tiga Fasa

Vrs

Gambar 12. :
Formulasi Trafo
Tiga Fasa
Hubungan Bintang

VLL = VLN. 3
VR

P3 Fasa = 3.I.VLN

Vrs

-VS
N
VT

Maka VLN = VLL / 3

VS

= 3.I.(VLL/ 3)
= I.VLL. 3

12

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

2. BILA RANGKAIAN PRIMER ATAU SEKUNDER TRAFO TERHUBUNG DELTA


T

It

Is

VLine = VFasa
S

Ir

VLine = VFasa

IR = IS = IT = ILine = Arus Line

IR = Ir It

Ir = Is = It = IFasa = Arus Fasa

= Ir.3.

IR

VRS = VST = VTR


= Tegangan Line

It

ILine = IFasa. 3
Is

P3 Fasa = Daya Trafo Tiga Fasa


Maka IFasa = ILine / 3

P3 Fasa = 3.IFasa.V = 3.(Iline / 3).V

Ir
- It
IR

Gambar 13. :
Formulasi Trafo Tiga
Fasa Hubungan Delta

= ILine.V. 3
JADI DAYA TRAFO TIGA FASA ADALAH :
P = V x I x 3
BILA BEBANNYA IMPEDANSI MAKA :
P = V x I x Cos x 3

RUMUS DIATAS BERLAKU PADA HUBUNGAN BINTANG MAUPUN SEGITIGA


TRAFO, PADA TEGANGAN LINE DAN ARUS LINE

13

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.11. RUGI-RUGI TRAFO


RUGI-RUGI TRAFO TERDIRI DARI :
1. RUGI-RUGI INTI
1.1. RUGI ARUS EDDY ATAU ARUS PUSAR
1.2. RUGI HYSTERISIS
2. RUGI TEMBAGA
1. RUGI-RUGI INTI
1.1. RUGI ARUS EDDY
RUGI ARUS EDDY ADALAH TERJADINYA ARUS PUSAR YANG ARAHNYA BERPUTAR DIDALAM INTI TRAFO. ARUS INI MENIMBULKAN PANAS DIDALAM INTI
TRAFO.
UNTUK MENGURANGI RUGI ARUS EDDY, INTI TRAFO DIBUAT BERLAPIS-LAPIS
MASING-MASING LAPISAN DISEKAT, SEHINGGA ARAH PUSARAN ARUS DIPERPENDEK.
EDDY CURRENT
INTI BERLAPIS
DAN DISEKAT
Gambar 14. : Rugi Eddy Current

14

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

1.2. RUGI HYSTERISIS


RUGI HYSTERISIS MERUPAKAN RUGI DARI SIMPUL/ JERAT KEMAKNITAN DI
DALAM INTI TRAFO, BERKAITAN DENGAN SIFAT LOGAM INTI TERSEBUT
Iex BERGERAK DARI NOL KE MAXIMUM, MENIMBULKAN DARI NOL KE MAX.
KETIKA Iex BERGERAK KE ARAH NOL, TIDAK MAU KEMBALI KE NOL,
MASIH TERJADI SISA KEMAKNITAN.
DEMIKIAN PULA KETIKA Iex BERGERAK
DARI NOL KE MINIMUM SERTA DARI
MINIMUM KE NOL DAN SETERUSNYA

Iex

RUGI HYSTERISIS MEMPERBESAR Iex


UNTUK MENGURANGI RUGI HYSTERISIS,
INTI TRAFO DIBUAT DARI BESI LUNAK
BAIK RUGI HYSTERISIS MAUPUN EDDY
CURRENT YANG MERUPAKAN RUGIRUGI INTI BERSIFAT TETAP, TIDAK TERGANTUNG BESARNYA BEBAN TRAFO
Gambar 15. : Jerat Kemagnetan

RUGI HYSTERISIS

15

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

2. RUGI TEMBAGA
RUGI TEMBAGA ADALAH RUGI-RUGI LILITAN PRIMER DAN SEKUNDER
LILITAN PRIMER DAN SEKUNDER TERDIRI DARI KAWAT TEMBAGA YANG MEMPUNYAI PANJANG DAN PENAMPANG
TAHANAN PRIMER RP = LP. / AP

TAHANAN SEKUNDER RS = LS. / AS

RUGI TEMBAGA PRIMER

(Watt)

= IP2.RP

= IP2.(LP. / AP) (Watt)


RUGI TEMBAGA SEKUNDER = IS2.RS
= IS2.(LS. / AS)

(Watt)
(Watt)

RP & RS = Tahanan Primer & Sekunder ()


LP & L S

= Panjang Kawat Primer & Sekunder (Meter)

= Tahanan Jenis Tembaga (0,0175)

AP & AS = Penampang Kawat Primer & Sekunder (mm 2)


IP & I S

= Arus Primer & Sekunder (Ampere)

KARENA RUGI TEMBAGA TERGANTUNG DARI ARUS PRIMER DAN SEKUNDER,


MAKA RUGI TEMBAGA BERSIFAT TIDAK TETAP TERGANTUNG BEBAN TRAFO

16

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.13. KRONOLOGI JATUH TEGANGAN KARENA PEMBEBANAN TRAFO


PRIMER TRAFO DIHUBUNGKAN DENGAN SUMBER TEGANGAN V 1 DAN SISI
SEKUNDER DIHUBUNGKAN DENGAN BEBAN IMPEDANSI INDUKTIP (Z).
AKAN MENGALIR ARUS SEKUNDER (IS) TERTINGGAL THD. V2 SEBESAR SUDUT
IS MENGALIR DLM LILITAN SEKUNDER, SHG. E 2 DROP MENJ. V2 SEBESAR IS(R + jXL)
-E1 SEGARIS DENGAN E2 DAN IP SEGARIS DENGAN IS
ARUS PRIMER (IP) RESULTAN DARI IP DAN Iex
ARUS IP MENGALIR DIDALAM LILITAN PRIMER, MEMBUAT V1 DROP MENJADI
-E1 SEBESAR IP(R1 + jXL1)
PRIMER
SEKUNDER
IP
IS
IP

IP

IP.R1
IP.jXL1

E1

V1

E2

V2

Iex

E2

-E1

V1

Z=
R + jXL

IS.Z

IS

Gambar 17. : Phasor Pendekatan


Proses Pembebanan Trafo

IS.jXL

V2

IS.R

18

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.12. PEMBEBANAN TRAFO DAN JATUH TEGANGAN KARENA IMPEDANSI


SETIAP TRAFO YANG DIBEBANI AKAN MENGALAMI RUGI TEGANGAN YANG DISEBABKAN OLEH RESISTANSI LILITAN PRIMER & SEKUNDER ( R 1 & R2 ) SERTA REAKTAN
BOCOR PRIMER & SEKUNDER ( X1 & X2 )
UNSUR R DAN X
MERUPAKAN
IMPEDANSI Z
SEHINGGA :

I1

V1

PRIMER
R1

SEKUNDER

X1

X2

E1

R2

I2

E2

V2

IMPEDANSI PRIMER
(Z1) = R1 + j X1
= (R12 + X12)

INTI BESI

Gambar 16. : Jatuh Tegangan Karena Pembebanan Trafo

IMPEDANSI SEKUNDER
(Z2) = R2 + jX2
= (R22 + X22)
JADI : JATUH TEGANGAN PRIMER (Vdrop primer) = I 1.Z1 = I1 (R1 + jX1)
JATUH TEGANGAN PRIMER (Vdrop primer) = I2.Z2 = I2 (R2 + jX2)

17

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.14. RANGKAIAN EQUIVALENT TRAFO


TRAFO TERDIRI DARI DUA RANGKAIAN YANG TERPISAH SATU SAMA LAIN, YAITU
RANGKAIAN PRIMER DAN RANGKAIAN SEKUNDER
RUGI TEMBAGA PRIMER

= I 12 x R1

RUGI TEMBAGA SEKUNDER = I x R2


UNTUK MEMPERMUDAH ANALISIS
DALAM PENGUJIAN, KEDUA RANGKAIAN TERSEBUT DIBUAT MENJADI
SEBUAH RANGKAIAN YANG DISEBUT RANGKAIAN EQUIVALENT

RANGKAIAN
PRIMER

2
2

RUGI TEMBAGA SEKUNDER DILIHAT


DARI PRIMER = I22 x R2

I1

R1

RANGKAIAN
SEKUNDER

X1

X2
E1

V1

R2

I2

E2

V2

Gambar 18. : Rangkaian Primer &


Sekunder Trafo

= I12 (I22/I12) x R2
= I12 (I2/I1)2 x R2

I1

= I1 2 x a2 x R 2
DARI SINI MAKA RESISTAN SEKUNDER
DILIHAT DARI PRIMER (R2) = a2 R2
DAN REAKTAN SEKUNDER DILIHAT
DARI PRIMER (X2) = a2 X2

R1

X1

X2

R2

V1

Gambar 19. : Rangkaian Equivalent Trafo


a = Ratio Trafo

19

BAB II
PRINSIP DASAR TRAFO

II.15. UJI HUBUNG SINGKAT TRAFO


UJI HUBUNG SINGKAT TRAFO DILAKUKAN
UNTUK MENDAPATKAN IMPEDANSI TRAFO,
PADA ARUS NOMINAL PRIMER
SISI SEKUNDER DIHUBUNG SINGKAT DAN
SISI PRIMER DIINJEKSI TEGANGAN BERTAHAP SAMPAI MENCAPAI ARUS NOMINAL

I1

R1

X1

X2

R2

V1

Gambar 20. : Uji Hubung Singkat Trafo

PARAMETER YANG DIUKUR ADALAH


V1, I1 DAN W DIMANA :
V1 = Tegangan Injeksi Primer (Volt)
I1 = Arus Injeksi Primer (Amp)

Z = ((R1+R2)2 + (X1+X2)2)

W = Rugi Tembaga Primer & Sekunder (Watt)


IMPEDANSI TRAFO ( Z ) = V1 / I1 ()
= (R1+R2) + j(X1+X2)
= ((R1+R2)2 + (X1+X2)2)
RUGI TEMBAGA = W (Watt)
= I12 x (R1+R2)

j(X1+X2)
(R1+R2)

I1

Gambar 21. :
Impedansi Hubung Singkat

20

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO
III.1. NOTASI PERGESERAN VEKTOR SUDUT FASA
PADA TRAFO TIGA FASA, BAIK LILITAN PRIMER MAUPUN SEKUNDER MASING-MASING
TRAFO SATU FASA DAPAT DIRANGKAI DENGAN TIGA CARA HUBUNGAN YAITU :
1. HUBUNGAN DELTA ATAU SEGITIGA DENGAN NOTASI (D)
2. HUBUNGAN STAR ATAU BINTANG DENGAN NOTASI (Y)
3. HUBUNGAN ZIGZAG DENGAN NOTASI (Z)
UNTUK MENYATAKAN SEBUTAN
PERGESERAN VEKTOR SUDUT FASA
TEGANGAN PRIMER TERHADAP
SEKUNDER, DIGUNAKAN PEDOMAN
JAM 0 (NOL) S.D. 11 (SEBELAS)
BILA VEKTOR SEKUNDER BERGESER
SEBESAR 30 O TERHADAP PRIMER,
MAKA DISEBUT JAM 1. DEMIKIAN
SETERUSNYA

(0O)
(330O)

11

(30O)

(300O)

10

(60O)

3 (90O)

(270O)9

(240O)

Gambar 22. :
Notasi Pergeseran Vektor Sudut Fasa

(120O)

(210 )
O

(150O)

(180O)

21

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.2. NOTASI VEKTOR GROUP


APABILA NOTASI RANGKAIAN PRIMER DAN SEKUNDER DISEBUTKAN BERSAMA,
MAKA DINYATAKAN SEBAGAI VEKTOR GROUP, MISAL :
TRANSFORMATOR DENGAN VEKTOR GROUP Yd5, ARTINYA PRIMER TERHUBUNG
BINTANG DENGAN POSISI FASA ( R ) PADA JAM NOL DAN SEKUNDER TERHUBUNG
DELTA DENGAN POSISI ( r ) PADA JAM 5
R
R

PRIMER
TERHUBUNG Yo
T

S
t

SEKUNDER
TERHUBUNG d5

PRIMER &
SEKUNDER
TERHUBUNG
Yd5

s
T

S
r

s
r

Gambar 23. : Contoh Vektor Group Yd5

22

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.3. CONTOH RANGKAIAN VEKTOR GROUP

Dd 0

Yy 0

R
r
t

R
r

R
r
s

Dz 0

Tt

Gambar 24. : Vektor Group Yd0, Yy0 dan Dz0

23

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

Dy 1
R
r
s

Yz 1

Yd 1

Tt

Gambar 25. : Vektor Group Dy1, Yd0 dan Yz1

24

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.4. PERBEDAAN SUDUT PANDANG


DALAM CONTOH-CONTOH TERDAHULU, SUDUT PANDANG VEKTOR GROUP SELALU
DILIHAT DARI ARAH PRIMER BARU KEMUDIAN SEKUNDER. BAGAIMANA BILA
PRIMER DIANGGAP SEBAGAI SEKUNDER DAN SEBALIKNYA ?. TENTUNYA NOTASI
VEKTOR GROUPNYA JUGA HARUS BERUBAH.
SEBAGAI CONTOH, VEKTOR GROUP SEBUAH TRAFO ADALAH Yd5 SEPERTI GAMBAR
BERIKUT. INI ARTINYA BAHWA HUBUNGAN BINTANG DIANGGAP SEBAGAI PRIMER
DAN HUBUNGAN DELTA DIANGGAP SEBAGAI SEKUNDER
BILA PADA TRAFO TERSEBUT HUBUNGAN DELTA DIANGGAP SEBAGAI PRIMER DAN
HUBUNGAN BINTANG DIANGGAP SEBAGAI SEKUNDER, MAKA VEKTOR GRUPNYA
MENJADI Dy7. OLEH SEBAB ITU MAKA Yd5 = Dy7. CARANYA DENGAN MEMUTAR
SERENTAK SELURUH VEKTOR SAMPAI FASA R HUBUNGAN DELTA PADA JAM 0 (NOL)
R

s
T

S
r

Yd5

Dy7

Gambar 26. : Yd5 Sama Dengan Dy7

25

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.5. MENENTUKAN VEKTOR GROUP TRAFO


DISAMPING BEBERAPA CONTOH YANG TELAH DISEBUTKAN, MASIH BANYAK LAGI
VEKTOR GROUP YANG DAPAT DIGUNAKAN DILAPANGAN YAITU :
1. Dd 0
2. Yy 0
3. Dz 0
4. Dy 1

5. Yd 1 9. Dz 2 13. Dd 4
6. Yz 1 10. Dy 3 14. Yy 4
7. Dd 2 11. Yd.3 15. Dz 4
8. Yy 2 12. Yz 3 16. Dy 5

17. Yd 5
18. Yz 5
19. Dd 6
20. Yy 6

21. Dz 6
22. Dy 7
23. Yd 7
24. Yz 7

25. Dd 8
26. Yy 8
27. Dz 8
28. Dy 9

29. Yd 9
30. Yz 9
31. Dd 10
32. Yy 10

33. Dz 10
34. Yy 11
35. Yd 11
36. Yz 11

DALAM MERANGKAI TIGA BUAH TRAFO SATU FASA MENJADI SEBUAH TRAFO TIGA
FASA, TENTUNYA ARAH VEKTOR HARUS DIPERHATIKAN SUPAYA MEMBENTUK
SEBUAH VEKTOR GROUP, ATAU VEKTOR GROUPNYA MENJADI JELAS
BAGAIMANA BILA PADA SUATU KASUS, SEBUAH TRAFO TIDAK DIKETAHUI VEKTOR
GROUPNYA ?. ATAU BAGAIMANA CARA MEMBUKTIKAN KEBENARAN VEKTOR GROUP
SEBUAH TRAFO ?
ADA DUA METODA YANG DAPAT DILAKUKAN, YAITU :
1. TEST POLARITY DENGAN SEBUAH BATU BATTERE
2. TEST POLARITY DENGAN VECTOR METHOD

26

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.6. TEST POLARITY DENGAN BATU BATTERE


PERALATAN YANG DIPERLUKAN :

1. BATU BATTERE
2. KABEL PENGHUBUNG
3. VOLT METER
LANGKAH-LANGKAH PENGUJIAN :

1. PASANG BATTERE DAN VOLT METER SPT. GBR.

2. KONTAKKAN SUMBER DC DARI BATTERE PADA


TERMINAL SISI PRIMER TRAFO (SESAAT)
3. AMATI ARAH PERGERAKAN JARUM PENUNJUK
VOLT METER PADA SISI SEKUNDER TRAFO
(KEKANAN ATAU KEKIRI)
4. LAKUKAN LANGKAH TERSEBUT PADA FASAFASA LAINNYA.

Gambar 27. :
Test Polarity Dengan Battere

5. CATAT SELURUH ARAH PERGERAKAN


6. ARAH VEKTOR SISI PRIMER DARI PLUS MINES, BERARTI DALAM RANGKAIAN TRAFO
DARI TERMINAL R KE S. SEDANGKAN ARAH VEKTOR SISI SEKUNDER TERGANTUNG
DARI ARAH PERGERAKAN VOLT METER. BILA KEKANAN, BERARTI ARAH VEKTOR
DALAM RANGKAIAN SEKUNDER DARI s ke r. DEMIKIAN PULA SEBALIKNYA.
7. GAMBARLAH SEBUAH RANGKAIAN TRAFO, LETAKKAN DATA ARAH VEKTOR
PADA GAMBAR TERSEBUT, MAKA AKAN MEMBENTUK SEBUAH VEKTOR GROUP

27

BAB III.
VEKTOR GROUP TRAFO

III.7. TEST POLARITY DENGAN VECTOR METHOD

PERALATAN YANG DIPERLUKAN :

1. SUMBER AC 3 FASA 220 V ATAU 380 V

2. KABEL PENGHUBUNG

3. VOLT METER

s
r

LANGKAH-LANGKAH PENGUJIAN :
1. HUBUNGKAN FASA T PRIMER DENGAN
FASA t SEKUNDER
2. INJEKSI TEGANGAN 3 FASA PADA SISI
TEGANGAN TINGGI (MISAL PRIMER)
3. UKUR BESAR TEGANGAN PADA MASINGMASING TERMINAL SEPERTI GAMBAR
4. BILA HASIL UKUR MISALKAN :
TEGANGAN TERM. R s > R r = S s = S r
MAKA VEKTOR GROUPNYA Yd 1

3 FASA 220 V

LANGKAH-LANGKAH TERSEBUT HANYA


MERUPAKAN SALAH SATU CONTOH. UNTUK
s
r
HUBUNGAN LAINNYA SILAHKAN DIKEMBANG
KAN, JANGAN LUPA SETELAH DIUKUR
R
Tt
TEGANGAN, GAMBARLAH VEKTORNYA
Gambar 28. :
Test Polarity Dengan Vector Method

28

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO
IV.1 SISTEM PROTEKSI TRAFO
SISTEM PROTEKSI TRAFO
ANTARA LAIN TERDIRI DARI :
1. OVER CURRENT RELAY
2. GROUND FAULT RELAY
2. DIFFERENTIAL RELAY
3. BUCHOLZ RELAY
4. SUDDEN PRESSURE RELAY

MENGAMANKAN TRAFO DARI


GANGGUAN ATAU KERUSAKAN
SISTEM TRANSMISI TENAGA LISTRIK
MENGAMANKAN TRAFO DARI
GANGGUAN ATAU KERUSAKAN
DALAM TRAFO ITU SENDIRI AGAR
TIDAK MENJADI LEBIH PARAH.

RELE-RELE TERSEBUT MINIMUM SETIAP TAHUN HARUS DIUJI, BAIK SECARA


INDIVIDUAL TEST MAUPUN FUNCTION TEST.
INDIVIDUAL TEST ARTINYA MENGUJI PERFORMACE RELENYA SENDIRI, SEDANGKAN
FUCTION TEST MERUPAKAN UJI FUNGSI SAMPAI DENGAN C B TRIP.
DENGAN DILAKUKANNYA FUNCTION TEST BERARTI TELAH TERUJI PULA SELURUH
RANGKAIAN SISTEM PROTEKSI, SEHINGGA DAPAT DIYAKINI BAHWA BILA TRAFO
DALAM KEADAAN BEROPERASI DAN TERJADI GANGGUAN YANG MENCAPAI NILAI
SETTING RELE, CB DAPAT TRIP DAN TRAFO DAPAT DIAMANKAN DARI GANGGUAN
ATAU KERUSAKAN.

29

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.2. KOORDINASI PROTEKSI


KOORDINASI PROTEKSI DIARTIKAN SEBAGAI KOORDINASI SETTING ARUS MAUPUN
WAKTUNYA (DELAY TIME/ INSTANTANOUS/ INVERS) ANTARA SISTEM PROTEKSI
TRAFO DENGAN SISTEM PROTEKSI PERALATAN DISEKITARNYA
YANG DIMAKSUD DENGAN PERALATAN DISEKITARNYA ADALAH BILA TRAFO
TERSEBUT TRAFO PEMBANGKIT, MAKA PERALATAN SEBELUMNYA ADALAH
GENERATOR, DAN PERALATAN SESUDAHNYA ADALAH BUSBAR GARDU INDUK DAN
JARINGAN TRANSMISI
DENGAN ADANYA KOORDINASI PROTEKSI MAKA BILA TERJADI GANGGUAN ATAU
KERUSAKAN PADA SUATU PERALATAN, MAKA GANGGUAN ATAU KERUSAKAN
TERSEBUT DAPAT DILOKALISIR MELALUI PENGATURAN PELEPASAN CB SEDEMIKIAN
RUPA SEHINGGA KESTABILAN SISTEM DAPAT DIPERTAHANKAN
KOORDINASI PROTEKSI DITENTUKAN PADA SAAT AWAL PEMBANGUNAN SISTEM
TENAGA LISTRIK DAN PERLU DITATA ATAU DITINJAU KEMBALI BILA ADA
PEMASANGAN PEMBANGKI-PEMBANGKIT BARU, JARINGAN TRANSMISI BARU
MAUPUN PUSAT-PUSAT BEBAN BARU, KARENA BASIS DARI PERHITUNGAN KOORDINASI PROTEKSI ADALAH ARUS HUBUNG SINGKAT.

30

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.3. OVER CURRENT RELAY


OVER CURRENT RELAY ATAU RELE ARUS LEBIH PADA TRAFO MERUPAKAN
PROTEKSI TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT ATAU ARUS LEBIH LAINNYA
DILUAR TRAFO
OVER CURRENT RELAY MEMBEBASKAN TRAFO DENGAN MELEPAS CB PENGAPIT
YANG DIMAKSUD DENGAN ARUS LEBIH ADALAH MELEBIHI ARUS NOMINAL PADA
SETTING ARUS DAN WAKTU TERTENTU

Yd
CB

CT

CT

CB

OCR
OCR

Gambar 29. : Rele Arus Lebih

31

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.4. GROUND FAULT RELAY


GROUND FAULT RELAY ATAU RELE HUBUNG TANAH PADA TRAFO MERUPAKAN
PROTEKSI TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT FASA KE TANAH DILUAR
TRAFO, OLEH SEBAB ITU HANYA BERLAKU BAGI TRAFO YANG TITIK BINTANGNYA
DITANAHKAN
PRINSIP KERJANYA SAMA PERSIS DENGAN OVER CURRENT RELAY, HANYA
CURRENT TRANSFORMER (CT) NYA DIPASANG PADA TITIK BINTANG TRAFO
GROUND FAULT RELAY MEMBEBASKAN TRAFO DENGAN MELEPAS CB PENGAPIT

Yd
CB

CB

CT
GFR

Gambar 30. : Ground Fault Relay

32

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.5. DIFFERENTIAL RELAY


DIFFERENTIAL RELAY PADA TRAFO MERUPAKAN PROTEKSI TERHADAP GANGGUAN
BOCOR ARUS DIDALAM TRAFO SESUAI DENGAN BATASAN PENEMPATAN CT TRAFO
BILA TIDAK ADA ARUS BOCOR, MAKA IS (CT1) = IS (ACT), DAN Id = NOL
BILA ADA KEBOCORAN ARUS, MAKA Id = NOL. PADA SETTING TERTENTU MENGERJAKAN RELE DAN MELEPAS CB PENGAPIT.

IP

Yd1

CB CT1 (Yy0)
IS (CT1)

Is
CT2(Yy0)

CB

IS (ACT)
IS (CT1)
Id
DIFFERENTIAL
RELAY

Gambar 31. :
Differential Relay

IP
= Arus Primer
IS
= Arus Sekunder
CT = Current Transformer
ACT = Auxilliary Current
Transformer

IS (ACT)

ACT
(Yd1)

Id = Arus Diferensial
CT1 = CT Sisi Primer
CT2 = CT Sisi Sekunder
Is CT1 = Arus Sekunder CT1
Is ACT = Arus Sekunder ACT

33

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.6. BUCHOLZ RELAY


BUCHOLZ RELAY MERUPAKAN PROTEKSI TERHADAP GELEMBUNG GAS AKIBAT
LONCATAN ELEKTRON DIDALAM BELITAN TRAFO ATAU AKIBAT PEMANASAN MINYAK
LAINNYA

GELEMBUNG GAS DARI TANGKI


TRAFO TERKUMPUL DAN
MENDORONG GELAS KACA
KE BAWAH
ALARM
COMMAND

GELAS KACA

CONSERVATOR

AIR RAKSA

SOURCE

GELEMBUNG
GAS DARI
TANGKI TRAFO

TANGKI TRAFO

Gambar 32. :
Bucholz Relay

34

BAB IV
SEKILAS TENTANG SISTEM PROTEKSI TRAFO

IV.7. SUDDEN PRESSURE RELAY


SUDDEN PRESSURE RELAY MENDITEKSI AKSELERASI KENAIKAN TEKANAN DIDALAM
TANGKI TRAFO, BUKAN TEKANANNYA ITU SENDIRI
APABILA TEKANAN DIDALAM TANGKI TRAFO NAIK SEDIKIT DEMI SEDIKIT SAMPAI
SANGAT BESAR, SUDDEN PRESSURE RELAY TETAP TIDAK MENDITEKSI.
KALAU KENAIKAN TEKANAN PERLAHAN DISEBABKAN LONCATAN ELEKTRON DIDALAM
BELITAN, MAKA GANGGUAN INI TELAH DI CLEARKAN OLEH BUCHOLZ RELAY
NAMUN BILA DISEBABKAN OLEH HAL LAIN, REAKSI UNSUR KIMIAWI MINYAK TRAFO
MISALNYA, TEKANAN BESAR INI AKAN DI CLEARKAN OLEH RELIEF VENT (PECAH)
SUDDEN PRESSURE RELAY MEMBEBASKAN TRAFO DENGAN MELEPAS CB PENGAPIT
SOURCE

TRIP COMMAND
MEMBRAN

KENAIKAN
TEKANAN
MENDADAK

KAPILER
MEMBRAN

TANGKI TRAFO

Gambar 33. : Prinsip Sudden Pressure Relay

35

BAB V
OVERHAUL TRAFO
V.1. JENIS PEMELIHARAAN TRAFO
1. PEMELIHARAAN RUTIN
PEMELIHARAAN RUTIN SELALU MENGACU KEPADA BUKU O & M, DARI BULANAN
SAMPAI DENGAN ENAM BULANAN, MELIPUTI MONITORING FISUAL, PEMBERSIHAN
DAN PENGUJIAN RUTIN
2. PEMELIHARAAN PERIODIK
DALAM BUKU O & M, PEMELIHARAAN RUTIN DAN PERIODIK TIDAK DIBEDAKAN
SECARA JELAS SEPERTI HALNYA MESIN PEMBANGKIT, NAMUN DAPAT DIKENALI
DARI JUMLAH ITEM-ITEM PEKERJAAN YANG HARUS DILAKUKAN DALAM PERIODE
SATU TAHUN KEATAS
BUKU INI MEMBAHAS TENTANG SKUP PEKERJAAN PEMELIHARAAN TRAFO YANG
RELATIP BESAR DAN BERRESIKO, SEPERTI HALNYA PENGOSONGAN DAN PENGISIAN MINYAK, PENGUJIAN TRAFO DAN PROSEDUR ENERGYZED
PEKERJAAN-PEKERJAAN TERSEBUT DAPAT TIDAK TERRENCANA DAN DIPERLUKAN SEWAKTU-WAKTU BILA KEADAAN MENGHENDAKI, MISALNYA TERJADI KERUSAKAN SEHINGGA DIPERLUKAN PENGGATIAN ATAU PERBAIKAN KOMPONENNYA
DALAM MELAKSANAKAN PEKERJAAN DIATAS, BATASAN-BATASAN NILAI HARUS
MENGACU KEPADA BUKU O & M, KARENA SETIAP PABRIK TELAH MENENTUKAN
SPESIFIKASI BAGI TRAFO YANG DIPRODUKSI

36

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.2. PEMELIHARAAN BUSHING


BUSHING MERUPAKAN MEDIA PENGHUBUNG ANTARA LILITAN TRAFO DENGAN
JARINGAN TEGANGAN TINGGI ATAU EXTRA TINGGI.
KECUALI DILENGKAPI DENGAN BAHAN ISOLASI TERHADAP BODY (GROUND),
BUSHING JUGA HARUS KUAT MENAHAN TEKANAN MEKANIS KARENA TERHUBUNG
DENGAN JARINGAN TEGANGAN TINGGI ATAU EXTRA TINGGI
MINYAK BUSHING JENISNYA SAMA DENGAN JENIS MINYAK TRAFONYA ITU SENDIRI,
MISAL DIALA C ATAU DIALA B, DAN TERISOLASI TERHADAP MINYAK TRAFO
PENGAMATAN ATAU MONITORING YANG DAPAT DILAKUKAN TERHADAP BUSHING
ADALAH :
1. LEVEL MINYAK
2. TEMPERATUR BUSHING
3. KEBERSIHAN ISOLATOR
4. KONDISI FISUAL BUSHING
SEDANGKAN PENGUJIAN YANG DAPAT DILAKUKAN ADALAH :
1. PENGUJIAN MINYAK
2. PENGUJIAN TAHANAN ISOLASI
3. PENGUJIAN ARUS BOCOR
SEHINGGA BUSHING DILENGKAPI DENGAN FASILITAS TEMPAT PENGUJIAN

37

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.3. SIRKULASI MINYAK BUSHING


DIDALAM INTI BUSHING TERDAPAT DUA LUBANG YANG BERFUNGSI UNTUK SIRKULASI ALAMIAH MINYAK BUSHING DARI DALAM INTI YANG BERBENTUK PIPA PENGHANTAR, KELUAR INTI YANG BERUPA LAPISAN ISOLASI KERTAS
LEVEL MINYAK BUSHING DAPAT DIAMATI DARI KACA PADA HEAD BUSHING. BILA
MINYAK BUSHING BOCOR, MAKA LEVEL AKAN TURUN DAN PERLU DITAMBAH SERTA
DIAMATI.
HEAD

LEVEL OLI
PADA 60OC
LEVEL OLI
PADA 20OC

TERHUBUNG
KE JARINGAN
TEGANGAN TINGGI
ATAU EXTRA TINGGI
DUA LUBANG
BERFUNGSI
UNTUK SIRKULASI
ALAMIAH
MINYAK BUSHING

TERHUBUNG
KE UJUNG
BELITAN
TRAFO

TANGKI
TRAFO
Gambar 34. :
Level Minyak Bushing

Gambar 35. :
Sirkulasi Minyak Bushing

38

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.4. CARA MENGISI MINYAK BUSHING


BILA MINYAK BUSHING BERKURANG, MAKA PERLU DITAMBAH MINYAK BARU DENGAN
JENIS YANG SAMA
CARA MENGISI MINYAK BUSHING
BUATLAH SEBUAH TANGKI KECIL DENGAN UKURAN SESUAI KEBUTUHAN, DILENGKAPI DENGAN GELAS PENDUGA
SEDIAKAN GAS N2 DALAM BOTOL, HUBUNGKAN DENGAN TANGKI BUATAN
BAGIAN ATAS
ISI TANGKI DENGAN MINYAK BUSHING, AMATI LEVELNYA
SIAPKAN SLANG DARI TANGKI BAGIAN BAWAH KE FASILITAS LUBANG PENGISIAN MINYAK BUSHING, YAKINKAN BAHWA SLANG TERSEBUT TELAH TERISI
MINYAK SEBELUM DIHUBUNGKAN KE BUSHING.
BUKA KRAN GAS N2 , ATUR TEKANAN DALAM TANGKI MAKSIMUM 1 kg/ Cm 2
KENDORKAN BAUD PADA FASILITAS PENGISIAN MINYAK BUSHING, MINYAK
AKAN KELUAR SEDIKIT, KEMUDIAN HUBUNGKAN DENGAN SLANG YANG TELAH
TERISI MINYAK DARI TANGKI BUATAN.
ATUR PEMASUKAN MINYAK DENGAN TEKANAN N2 , AMATI LEVEL MINYAK TANGKI
BUATAN JANGAN SAMPAI GAS N2 MASUK KE BUSHING

39

BAB V
OVERHAUL TRAFO

BUSHING

Gambar 36. :
Cara Pengisian Minyak Bushing

FASILITAS
UNTUK
MEGGERING

FASILITAS
OIL FILLING
DALAM PROSES PENGISIAN MINYAK
AMATI LEVEL TANGKI, JANGAN SAMPAI N2
MASUK KE BUSHING

FASILITAS PENGISIAN
MINYAK BUSHING
KENDORKAN
PRESSURE 1 kg/Cm2
N2
N2

TEMPAT MENGISI/
MENGELUARKAN MINYAK

MINYAK BUSHING

BOTOL N2

TANGKI BUATAN

40

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.5. PROSEDUR PENGOSONGAN MINYAK & INSPEKSI TRAFO


1. PROSEDUR PENGOSONGAN MINYAK TRAFO
PROSES PENGOSONGAN SECARA SEDERHANA, YANG PENTING VALVE-VALVE
PALING ATAS, DIATAS RELIEF VENT DIBUKA, KEMUDIAN OIL DI DRAIN MELALUI
FLANCE BAGIAN BAWAH TANGKI TRAFO
AKAN LEBIH BAIK LAGI APABILA PADA SAAT PROSES DRAIN GAS N2 DIMASUKKAN (NAMUN HANYA BILA MAN HOLE TERTUTUP)
BILA HANYA DIPERLUKAN INSPEKSI DIATAS COIL, PROSES DRAIN CUKUP
SAMPAI PERMUKAAN COIL, KEMUDIAN COIL DITUTUP DENGAN PELINDUNG
BILA DILAKUKAN MENGGANTIAN MINYAK, MAKA PROSES DRAIN HARUS SAMPAI
HABIS
2. PROSEDUR INSPECTION
PADA PROSES INSPECTION, PERSONIL MASUK MELALUI MAN HOLE TANPA
SEPATU
DI JEPANG, PADA SAAT PROSES INSPECTION, DARI SISI RELIEF VELVE DIISI
TERUS DENGAN DRY AIR KARENA BAIK UNTUK MANUSIA DAN PERALATAN

41

BAB V
OVERHAUL TRAFO

BILA PROSES INSPECTION BELUM SELESAI DAN AKAN DITERUSKAN KEESOKAN HARINYA, MAKA : ALTERNATIP 1 : MAN HOLE DITUTUP DAN DI VACUUM
ALTERNATIP 2 : MAN HOLE DITUTUP DAN DIISI DRY AIR
DENGAN TEKANAN 0,1 kg/ Cm2
SETELAH INSPECTION SELESAI, MAKA BOLEH MINYAK DI DRAIN TERLEBIH
DAHULU (BILA PENGOSONGAN HANYA SAMPAI PERMUKAAN COIL) , ATAU DARI
POSISI LEVEL TERSEBUT LANGSUNG DI VACUUM UNTUK PERSIAPAN PENGISIAN MINYAK KEMBALI
Gambar 37. :
Sketsa Pengosongan Minyak

OPEN
OPEN

OPEN

BUCHOLZ
RELAY

OPEN

RELIEF
VENT

OPEN
CONSERVATOR

VINYL HOSE
(OIL LEVEL)

CLOSE
OPEN
OPEN

OIL DRAIN OUT

TANGKI TRAFO BAGIAN BAWAH

42

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.6. PROSEDUR PEKERJAAN VACUUM


1. PERALATAN YANG DIPERLUKAN:
1. OIL DEGASSING EQUIPMENT
2. VOCUUM PUMP
3. ADAPTOR
4. OIL LEVEL GAUGE (TRANSPARENT VINYL HOSE)
5. OIL HOSE, VACUUM HOSE
6. VACUUM GAUGE, COMPOUND GAUGE DAN OIL MANOMETER
7. REGULATOR TUBE, OIL TRAP DLL.
2. PROSEDUR PEKERJAAN VACUUM
PASANG KOMPONEN TERSEBUT, KONDISIKAN VALVE SEPERTI GAMBAR
OIL MANOMETER DIGUNAKAN UNTUK MEMONITOR BEDA TEKANAN DIATAS
DAN DIBAWAH DIAPHRAGMA (SUPAYA TIDAK SOBEK)
VACUUM PUMP DISTART, AMATI LEVEL OIL MANOMETER, ATUR BUKAAN
KEDUA VALVE PADA GAMBAR (LEVEL OIL MANOMETER < 300 mm)
VACUUM PUMP DISTART, AMATI LEVEL OIL MANOMETER, ATUR BUKAAN
KEDUA VALVE PADA GAMBAR (LEVEL OIL MANOMETER < 300 mm)
PROSES VACUUM SAMPAI MENCAPAI 0,5 Torr (1 Torr = 1 mm Hg dihitung dari
Nol Absolute), BAHKAN STANDARD MITSUBISHI MUTAKHIR ADALAH 0,2 Torr

43

BAB V
OVERHAUL TRAFO

SETELAH MENCAPAI 0,5 Torr, BIARKAN VACUUM PUMP TETAP BEROPERASI


SAMPAI 8 Jam. CATAT PENUNJUKKAN PRESSURE GAUGE SETIAP JAM, UNTUK
MEMONITOR INDIKASI KEBOCORAN TANGKI TRAFO
SELANJUTNYA PROSES MINYAK MASUK HARUS MENGGUNAKAN HIGH
VACUUM OIL PURIFIER DENGAN VACUUM PUMP TETAP BEROPERASI
SELAMA 10 MENIT ADJUSTMENT
KEDUA VALVE INI, HARUS HATIHATI, LIHAT LEVEL OIL
MANOMETER, MAX 300 mm

CONSER
VATOR

BUCHOLZ
RELAY

OPEN

OPEN
VINYL
HOSE

LITTLE

OPEN

CLOSE

VACUUM
GAUGE

OPEN

VACUUM
PUMP

OPEN

BIG

OPEN
BIG

OPEN

VINYL HOSE
(OIL LEVEL)

OPEN
Max. 300 mm

VINYL
HOSE

OIL MANOMETER

Gambar 38. : Sketsa Pekerjaan Vacuum

TANGKI TRAFO
BAGIAN BAWAH

OPEN

44

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.7. PROSEDUR PENGISIAN MINYAK DALAM KONDISI VACUUM


1. PERSIAPAN
YAKINKAN KONDISI MINYAK MASIH BAIK DAN TELAH DILAKUKAN SIRKULASI
DENGAN HIGH VACUUM PURIFIER DALAM TANGKI PERSEDIAAN
VACUUM PUMP MASIH TETAP BEROPERASI DAN PERSIAPKAN INSTALASI
HIGH VACUUM PURIFIER UNTUK PENGISIAN MINYAK
KONDISIKAN INSTALASI SEPERTI GAMBAR
2. PENGISIAN MINYAK
MINYAK MASUK HARUS MENGGUNAKAN HIGH VACUUM PURIFIER (DISISI LAIN
VACUUM PUMP TETAP BEROPERASI)
SLANG DARI HIGH VACUUM PURIFIER KE TANGKI TRAFO HARUS DI VACUUM
TERLEBIH DAHULU SEBELUM MINYAK MASUK
PENGISIAN MINYAK SAMPAI 1 Mtr DIBAWAH LEVEL DIAPHRAGMA, KEMUDIAN
VACUUM PUMP STOP
ISI MINYAK LAGI HINGGA TEKANAN MENCAPAI 0 (NOL) kg/Cm 2 (TEKANAN UDARA
LUAR), LEVEL KIRA-KIRA SETINGGI SEPERTI GAMBAR CONSEVATOR SCALE = 6)
SELANJUTNYA VENTING (KELUARKAN) UDARA TERJEBAK DALAM BUCHOLZ
RELAY

45

BAB V
OVERHAUL TRAFO

PENGISIAN MINYAK SELESAI, LEPAS SEMUA ALAT-ALAT BANTU DAN KONDISIKAN VALVE-VALVE KE KEDAAN NORMAL

ADAPTOR

VACUUM
GAUGE

OPEN

OPEN
VINYL
HOSE

LITTLE

CONSER
VATOR

MAX
1,0 kg/Cm 2

N2

OPEN

BIG

BUCHOLZ
RELAY

OPEN

MINYAK MASUK

VACUUM
PUMP

BIG

OPEN
N2
GAS

OPEN

CLOSE

1. VACUUM PUMP STOP


2. A, B, C VALVE CLOSE
3. OIL FILLING STOP

VINYL HOSE
(OIL LEVEL)

CONSERVATOR
SCALE = 6
TANGKI TRAFO BAGIAN BAWAH

Gambar 39. : Sketsa Pengisian Minyak

46

BAB V
OVERHAUL TRAFO

V.8. PROSEDUR SIRKULASI MINYAK


SETELAH PENGISIAN MINYAK SELESAI, HIGH VACUUM OIL PURIFIER TETAP DIOPERASIKAN SELAMA 72 JAM UNTUK SIRKULASI MINYAK DIDALAM TANGKI TRAFO
(STANDAR JIS)
HARI PERTAMA, FAN DIOPERASIKAN SETENGAH DARI JUMLAH YANG ADA DAN
MINYAK MASUK DARI SISI FASA R SERTA KELUAR DARI FASA R SISI LAINNYA
HARI KEDUA, OPERASI FAN GANTI KE SETENGAH YANG LAIN. DISISI LAIN
MINYAK MASUK DARI SISI FASA S SERTA KELUAR DARI FASA S SISI LAINNYA
HARI KE TIGA, FAN DIOPERASIKAN SEMUA, MINYAK MASUK DARI SISI FASA T
SERTA KELUAR DARI FASA T SISI LAINNYA
SETIAP PERPINDAHAN SLANG, SEBELUM
MINYAK DIMASUKKAN MELALUI HIGH
VACUUM OIL PURIFIER, SLANG HARUS
SELALU DI VACUUM TERLEBIH DAHULU
DALAM JIS, SEBENARNYA PROSES SIRKULASI
SEPERTI GAMBAR BERIKUT, TUJUANNYA BILA
ADA PARTICLE YANG TERBAWA OLEH HIGH
VACUUM OIL PURIFIER TIDAK MENYANGKUT
DI BELITAN TRAFO

TANGKI
TRAFO

HIGH
VACUUM
OIL PURIFIER

SELAMA 3 HARI TERSEBUT SEHARI SEKALI


YANG DIMONITOR ADALAH TEMPERATUR, Gambar 40. :
KEBOCORAN DAN LEVEL MINYAK
Sketsa Sirkulasi Minyak Standard JIS

47

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO
VI.1. MEGGER LILITAN TRAFO
MEGGER DIMAKSUDKAN UNTUK MENGUKUR TAHANAN ISOLASI BELITAN TRAFO,
BAIK ANTAR BELITAN (PRIMER DENGAN SEKUNDER) MAUPUN ANTARA BELITAN
TERSEBUT DENGAN GROUND. OLEH SEBAB ITU SEBELUM PELAKSANAAN MEGGER,
TITIK NETRAL TRAFO KE TANAH HARUS DILEPAS
SATUAN DARI TAHANAN ISOLASI MERUPAKAN SATUAN TAHANAN (RESISTANSI),
YAITU , k, M ATAU INFINITY (TAK HINGGA). LEBIH BESAR NILAI TAHANAN ISOLASINYA, SUATU PERALATAN LEBIH BAIK
SECARA UMUM, KETAHANAN ISOLASI MINIMUM YANG AMAN BAGI SUATU PERALATAN ADALAH 1000 KALI TEGANGAN KERJANYA. JADI BILA SUATU PERALATAN BEROPERASI PADA TEGANGAN 20 kV, TAHANAN ISOLASI MINIMUM (YANG AMAN)
ADALAH 20 M
CARA MENGUKUR TAHANAN ISOLASI TRAFO
LEPAS TITIK NETRAL TRAFO KE TANAH
GUNAKAN MEGGER 1000 Volt ATAU YANG DIREKOMENDASIKAN DALAM BUKU
O&M
LAKUKAN (UKUR) TAHANAN ISOLASI TRAFO SEPERTI GAMBAR BERIKUT

48

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

MENGUKUR TAHANAN ISOLASI PRIMER (MISAL HUBUNGAN DELTA) TRAFO TERHADAP TANAH CUKUP SEKALI DISALAH SATU FASANYA, SEBAB DIUKUR DARI FASA
MANAPUN HASILNYA AKAN SAMA, KARENA FASA R, S DAN T TERHUBUNG SATU
SAMA LAIN.
Gambar 41. : Mengukur Tahanan
Isolasi Primer
T
R
MEGGER
Trafo Terhadap
Tanah
S
BARU KEMUDIAN APABILA HASILNYA ADA YANG DROP DIBAWAH NILAI YANG
DIREKOMENDASIKAN, MAKA HUBUNGAN DELTA TERSEBUT HARUS DILEPAS SATU
SAMA LAIN DAN MASING-MASING FASA DIUKUR, SEHINGGA FASA YANG BERMASALAH DIKETAHUI
SEPERTI HALNYA MENGUKUR TAHANAN ISOLASI PRIMER, MENGUKUR TAHANAN
ISOLASI SEKUNDER PUN (MISAL HUBUNGAN BINTANG) CUKUP SEKALI DISALAH
SATU FASANYA
Gambar 42. : Mengukur Tahanan
Isolasi Sekunder
Trafo Terhadap
Tanah

R
T
S
MEGGER

49

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

Gambar 43. : Mengukur Tahanan


Isolasi Primer Terhadap
Sekunder Trafo
SEPERTI HALNYA MENGUKUR
TAHANAN ISOLASI PRIMER DAN
SEKUNDER TRAFO TERHADAP
TANAH, PENGUKURAN ANTARA
PRIMER TERHADAP SEKUNDER
TRAFOPUN CUKUP SEKALI

R
S
MEGGER
R

T
S

BERIKUT CONTOH LEMBAR KETIGA PENGUJIAN TERSEBUT DIATAS


MEASUREMENT OF INSULATION RESISTANCE BY 1000 V MEGGER

MEASURED
CASE

HV - E

HV - LV

LV - E

OIL TEMP
(OC)

INSULATION
RESISTANCE
(M)

800

1500

800

27

50

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.2. MEGGER BUSHING TRAFO


MEGGER BUSHING TRAFO TERHADAP TANAH PRINSIPNYA SAMA DENGAN
MENGUKUR TAHANAN ISOLASI BELITAN TRAFO, HANYA FASILITAS TERMINAL
UNTUK PENGUJIAN BUSHING AGAK TERSEMBUNYI. BERIKUT GAMAR LOKASINYA
HEAD BUSING
DI GROUND

BUSHING

FASILITAS
UNTUK
OIL
FILLING

FASILITAS
UNTUK
MEGGER

TEKAN
DAN
GANJAL

BUKA
TUTUPNYA

TANGKI TRAFO

MEGGER
Gambar 44. : Lokasi Pengujian Tahanan Isolasi Bushing

51

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.3. PENGUJIAN IMPEDANSI TRAFO


SEBAGAIMANA TELAH DIBAHAS DALAM BAB II KHUSUNYA MENGENAI RUGI TEMBAGA, BAHWA BELITAN PRIMER DAN SEKUNDER TRAFO MEMILIKI PANJANG DAN
PENAMPANG SEHINGGA MERUPAKAN SEBUAH RESISTAN (R) DENGAN SATUAN ()
KARENA BERBENTUK COIL, MAKA MEMILIKI INDUKSI DIRI ( L ) DENGAN SATUAN
HENRY. BILA INDUKSI DIRI DIHUBUNGKAN DENGAN TEGANGAN YANG MEMILIKI
FREKUENSI ( f ), MAKA AKAN MENJADI REAKTANSI INDUKTIP ( X L ) DENGAN SATUAN
( ) JUGA , KARENA XL = .L = 2..f.L ( ) MENDAHULUI TERHADAP ARUS 90O
IMPEDANSI TRAFO (Z) MERUPAKAN JUMLAH VEKTOR ANTARA RESISTANSI (R )
DENGAN REAKTANSI INDUKTIP (XL ) JADI : Z = R + j.XL ()
DIDALAM BAB II KHUSUSNYA PEMBEBANAN TRAFO, TELAH DIBAHAS MENGENAI
IMPEDANSI YANG MEMBUAT TEGANGAN SEKUNDER DROP PADA SAAT TRAFO
DIBEBANI.
BAGAIMANA BILA KITA INGIN MEMANDANG IMPEDANSI PRIMER DAN SEKUNDER DARI
SATU SISI, MISALNYA DARI PRIMER ATAU SEKUNDER ? MAKA SALAH SATU SISI ARUS
DIHUBUNG SINGKAT DAN SISI LAINNYA DIINJEKSI TEGANGAN, SEHINGGA AKAN
TIMBUL ARUS, DAN Z = V / I (. )
KARENA IMPEDANSI MERUPAKAN KOMPONEN PASIF, MAKA NILAI Z AKAN SAMA BAIK
BILA DIBERI TEGANGAN EXTRA TINGGI MAUPUN TEGANGAN RENDAH ASALKAN
FREKUENSINYA SAMA. OLEH SEBAB ITU PENGUJIAN DAPAT DIWAKILI DENGAN
TEGANGAN RENDAH

52

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

LIHAT GAMBAR PROSES PENGUJIAN IMPEDANSI BERIKUT :


HUBUNG SINGKAT SISI LOW VOLTAGE
INJEKSI TEGANGAN 220 V DARI SISI HV PER FASA, DGN VOLTAGE REGULATOR
UKUR ARUS DAN TEGANGAN YANG TIMBUL, MISAL E (Volt)DAN I (Amp)
MAKA Z = E / I
Gambar 45. :
Pengujian
Impedansi
Trafo

220 V AC
VR

HV

LV

UMUMNYA SATUAN IMPEDANSI TRAFO DINYATAKAN DALAM BENTUK PERSEN,


ARTINYA PERSENTASE IMPEDANSI DALAM BELITAN TRAFO TERHADAP IMPEDANSI
TRAFO PADA BEBAN NOMINAL
UNTUK MENDAPATKAN SATUAN PERSEN PERHATIKAN LANGKAH-LANGKAH
BERIKUT :
MISAL KITA MENGUJI TRAFO 500/3 / 16.5 KV, 238 A DENGAN 9 TAP, IMPEDANSI
BELITAN = 18.18 % (FACTORY TEST)

53

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

IMPEDANSI NOMINAL Zn = V / I = (500000 / 3) / 238 = 1212.92 ()


HASIL UKUR TEGANGAN DAN ARUS E = 203 Volt DAN I = 0,9 Amp.
MAKA Z = E / I = 203 / 0,9 = 225,56
Z (%) = (225,56 / 1212,92) X 100 % = 18,59 %
BERIKUT CONTOH LEMBAR PENGUJIAN IMPEDANSI TRAFO
MEASUREMENT OF IMPEDANCE VOLTAGE

T
A
P

TAP
VOLTAGE
(kV)

RATED
CUR
RENT

No

(V)

(AMP)

Z (%)

Z (%)

Z (%)

FAC
TORY
TEST
(%)

525000/3

226.5

0.85

203

17.85

0.86

204

17.72

0.86

205

17.81

18.15

512000/3

232.0

0.87

203

18.32

0.88

203

18.11

0.87

203

18.31

18.52

500000/3

238.0

0.90

203

18.59

0.92

204

18.28

0.9

203

18.59

18.87

487500/3

244.0

0.93

204

19.01

0.93

203

18.92

0.94

205

18.91

19.28

475000/3

250.5

0.98

202

18.83

0.98

203

18.92

0.97

201

18.92

19.32

462500/3

257.5

1.00

202

19.48

1.01

203

19.38

1.00

202

19.48

19.83

450000/3

264.5

1.04

204

19.97

1.04

204

19.97

1.04

203

19.87

20.17

437500/3

272.0

1.07

204

20.53

1.07

203

20.43

1.07

204

20.53

20.68

425000/3

280.0

1.11

203

20.87

1.11

203

20.87

1.12

204

20.78

21.09

RE
SULT

54

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.4. PENGUJIAN ARUS MAGNETISASI (MAGNETIZING CURRENT)


DALAM BAB II, KHUSUSNYA MENGENAI PROSES TRANSFORMASI TEGANGAN TELAH
DIBAHAS MENGENAI ARUS EXCITASI, ATAU JUGA DISEBUT ARUS MAGNETISASI
ARUS MAGNETISASI ATAU ARUS EXCITASI BERFUNGSI UNTUK MEMBANGKITKAN
FLUXI MAGNET () DIDALAM INTI TRAFO, SEHINGGA PROSES TRANSFORMASI
TEGANGAN DAPAT TERJADI.
SEBENARNYA PENGUJIAN ARUS MAGNETISASI DILAKUKAN DENGAN MEMBERIKAN
INJEKSI TEGANGAN NOMINAL PADA SISI TEGANGAN RENDAH TRAFO, SEDANGKAN
SISI TEGANGAN TINGGI TERBUKA.
SEDANGKAN PENGUJIAN SIMULASI DENGAN INJEKSI TEGANGAN RENDAH HANYA
UNTUK MEMASTIKAN KONDISI LINEARITAS KURVA TEGANGAN-ARUS DAN PERFORMANCE ARUS MAGNETISASI DALAM KONDISI NORMAL
BERIKUT LANGKAH-LANGKA PENGUJIAN (SIMULASI) ARUS MAGNETISASI TRAFO,
LIHAT GAMBAR :
SISI TEGANGAN TINGGI TRAFO POSISI OPEN, SISI TEGANGAN RENDAH DIINJEKSI TEGANGAN RENDAH MENGGUNAKAN VOLTAGE REGULATOR
BERANGSUR-ANGSUR NAIK, CATAT ARUS DAN TEGANGAN SETIAP KENAIKAN
TERSEBUT.
ULANGI PENGUKURAN PADA FASA-FASA LAINNYA
BERIKUT LEMBAR PENGUJIAN SIMULASI ARUS MEGNETISASI, BANDINGKAN
DENGAN FACTORY TEST

55

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

Gambar 46. :
Pengujian
Simulasi
Arus
Magnetisasi

mA

220 V AC

VR

LV

HV

MEASUREMENT OF MAGNETISING CURRENT


RATED CURRENT 14424 A (BASE 412.2 MVA)

TAP
NO

PHASA r

PHASA s

PHASA t

mA

mA

mA

48.5

29

48.5

30

48.7

32

99.7

41

100.2

46

99.6

49

150.2

60

150.1

61

149.7

64

202.2

73

202.2

75

201.7

79

RESULT

CARA MENENTUKAN ARUS MAGNETISASI


GAMBAR KURVA TEGANGAN-ARUS HASIL PENGUJIAN DIATAS
KORELASI KEDUANYA AKAN MEMBENTUK SEBUAH GARIS LURUS (PROPORSIONAL), PERPANJANGLAH GARIS TERSEBUT SAMPAI TEGANGAN NOMINAL,
ATAU CARI TITIK ARUS PADA TEGANGAN NOMINAL DENGAN RUMUS

56

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

ARUS (mA)
Gambar 47. :
Korelasi Tegangan-Arus
73
Fasa r Hasil Pengujian
60
Simulasi Arus Magnetisasi

(0,073 - 0.029) =

Iex__

41
29

(202.2 - 48,5)
16.500
Iex = (0,073 - 0.029) (16.500)
(202.2 - 48,5)
= 4,7 Amp.

48,5

99,7

150,2

202,2

TEGANGAN
(Volt)

BANDINGKAN DENGAN FACTORY TEST BERIKUT

MEASUREMENT OF MAGNETISING CURRENT (FACTORY TEST)


RATED CURRENT 14424 A (BASE 412.2 MVA)

APPLIED
VOLTAGE
LV SIDE (KV)

MAGNETISING CURRENT (A)


u

RESULT

16.5
26.6
29.4
32.2
Good Rata-rata = 0.204 %
MENGAPA INI DAPAT TERJADI ? BANYAK FAKTOR PENYEBABNYA, ANTARA LAIN :
* TRAFO TERSEBUT DUA GROUP DAN NGROUP KEDUA TIDAK DISAMBUNG,
SEHINGGA DAYA TRAFO HANYA x 412 MVA = 206 MVA
* AKURASI ALAT UKUR
* KURVA MAGNETISASINYA SENDIRI TIDAK LINEAR BETUL DLL.

57

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.5. PENGUJIAN RATIO TRAFO


RATIO TRAFO, SEPERTI TELAH DISINGGUNG DALAM BAB II, ADALAH PERBANDINGAN
TEGANGAN PRIMER TERHADAP SEKUNDER
RATIO TRAFO PERLU DIUJI DAN DIBANDINGKAN DENGAN FACTORY TEST, KARENA
DALAM PERIODE WAKTU OPERASIONAL DAPAT PULA BERKURANG ATAU BERTAMBAH DISEBABKAN KARENA TERJADINYA KEBOCORAN ARUS BAIK DISISI PRIMER
ATAU SEKUNDER
BILA TRAFO TERSEBUT DILENGKAPI TAP CHANGER, MAKA PENGUJIAN DILAKUKAN
SETIAP TAP
U

LANGKAH-LANGKAH PENGUJIAN :
INJEKSI SISI TEGANGAN TINGGI
TRAFO DENGAN TEGANGAN
RENDAH PERFASA PER TAP

Gambar 48. : Pengujian Ratio Trafo

N
V

T S

UKUR TEGANGAN DISISI PRIMER


DAN SEKUNDER PADA FASA
YANG SAMA
RATIO = VPRIMER / VSEKUNDER

380 V SOURCE

V VOLT METER

t
r
s
v

58

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

BERIKUT CONTOH LEMBAR PENGUJIAN RATIO TRAFO. JADI JELAS BAHWA RATIO
TRAFO TIGA FASA DINYATAKAN DALAM RATIO TRAFO PER FASA
CONTOH LEMBAR PENGUJIAN RATIO TRAFO
TAP
No.

TAP VOLTAGE
(kV)

MEASURED RATIO
UN/u-v

VN/v-w

WN/ w-u

RATED
RATIO

HV / LV
1

525.0/3 / 16.5

18.336

18.330

18.334

18.37

512.5/3 / 16.5

17.897

17.891

17.894

17.93

500.0/3 / 16.5

17.458

17.452

17.457

17.50

487.5/3 / 16.5

17.021

17.015

17.020

17.06

475.0/3 / 16.5

16.583

16.576

16.581

16.62

462.5/3 / 16.5

16.145

16.139

16.144

16.18

450.0/3 / 16.5

15.706

15.699

15.705

15.75

437.5/3 / 16.5

15.268

15.261

15.267

15.31

425.0/3 / 16.5

14.830

14.822

14.828

14.87

CRITERIA = 5 % OF RATED RATIO

59

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.6. INSULATING OIL CHECK


PENGUJIAN TEGANGAN TEMBUS MINYAK TRAFO ATAU DIELECTRIC BREAK DOWN
VALTAGE MENGACU KEPADA STANDAR IEC
PENGUJIAN DILAKUKAN ENAM KALI MASING-MASING DENGAN TENGGAG
WAKTU 10 MENIT, MAKSUDNYA GAS KARBON HASIL BREAKDOWN AGAR
HILANG TERLEBIH DAHULU
HASIL PENGUJIAN KEDUA SAMPAI DENGAN KE ENAM DIJUMLAH DAN DI BAGI 5
(KETEMU BESARAN RATA-RATA)
ELECTRODE
BERIKUT CONTOH
DATA HASIL PENGUJIAN
OIL
BREAKDOWN VOLTAGE
~ SOURCE
INSULATING
MINYAK DIALA B
OIL
CHECKKER

Gambar 49. :
Insulating Oil Check

2,5 mm

INSULATING OIL CHECK

TEST No.

AVERAGE
VALUE (2 ~6)

BREAKDOWN
VOLTAGE (KV)

87

78

50

86

68

80

72.4

60

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.7. PENGUJIAN VEKTOR GROUP TRAFO


(POLARITY & PHASE RELATION CHECK)
VEKTOR GROUP ADALAH PERNYATAAN HUBUNGAN DAN PERGESERAN VEKTOR
LILITAN PRIMER TERHADAP SEKUNDER TRAFO TIGA FASA
VEKTOR GROUP TRAFO TENAGA BIASANYA TELAH DIRANGKAI DARI PABRIK, ATAU
BILA KITA MENGINGINKAN PERUBAHAN DAPAT DILAKUKAN DILAPANGAN, NAMUN
JANGAN LUPA UNTUK MENGGANTI GAMBAR DALAM NAME PLATE NYA
SEDANGKAN VEKTOR GROUP CURRENT TRANSFORMER (CT) UNTUK KEPERLUAN
PROTEKSI (DIFFERENTIAL RELAY), UMUMNYA DIRANGKAI DILAPANGAN KARENA
DISESUAIKAN DENGAN VEKTOR GROUP TRAFO TENAGA YANG DIPROTEKSI
DALAM BAB III TELAH DISINGGUNG TENTANG BAGAIMANA KITA MENENTUKAN
VEKTOR GROUP SEBUAH TRAFO. ADA DUA CARA YANG DAPAT DILAKUKAN YAITU
TEST POLARITY DENGAN BATU BATTERE ATAU DENGAN METODA VEKTOR.
DISINI AKAN DIBAHAS MENGENAI PENGUJIAN VEKTOR GROUP DENGAN METODA
VEKTOR
YANG DIMAKSUD DENGAN METODA VEKTOR ADALAH DENGAN MENGINJEKSI
SALAH SATU SISI TRAFO TIGA FASA DENGAN TEGANGAN RENDAH TIGA FASA,
SALAH SATU TERMINAL PRIMER DAN TERMINAL SEKUNDER DIHUBUNGKAN DAN
DIUKUR TEGANGAN SELURUH TERMINAL
SALAH SATU CONTOH TAHAPAN METODA VEKTOR SEBAGAI BERIKUT :

61

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

HUBUNGKAN TERMINAL W SISI PRIMER DENGAN


w SISI SEKUNDER, GAMBAR VEKTORNYA

V
V

INJEKSI TERMINAL SISI TEGANGAN TINGGI


TRAFO DENGAN TEGANGAN RENDAH 3 FASA
(MISAL 220 V)

UKUR TEGANGAN DISISI U-u, U-v, V-v DAN V-u

MISALKAN HASILNYA PENGUKURAN SEPERTI


FORMAT PENGUJIAN DIBAWAH INI

Gambar 50. : Pengujian Vektor Group Trafo

3 FASA
220 V

POLARITY AND PHASE RELATION CHECK BY VECTOR METHOD


TAP
VOLTAGE
(KV)

425/ 16.5

APPLIED
WINDING

VOLTAGE

HV

U-V = 231 V
V-W = 235 V
W-U = 231 V

CONNEC
TION

W-w

MEASURED VOLTAGE
(VOLT)

U-u

U-v

V-v

V-u

224

232

223

223

RESULT

SUBTRACTIVE
Good

62

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

GAMBARKAN SEBUAH VEKTOR GROUP DENGAN PANJANG VEKTOR DISESUAIKAN DENGAN HASIL PENGUKURAN
CARANYA PERHATIKAN TERMINAL-TERMINAL TRAFO TERSEBUT.
TERMINAL W SISI BINTANG SATU TITIK DENGAN TERMINAL w SISI DELTA
VEKTOR U-v SESUAI DENGAN HASIL PENGUKURAN ADALAH TERPANJANG
SEDANGKAN U-u, V-v dan V-u PANJANGNYA
SAMA, LEBIH PENDEK DARI U-v

KARENA UJUNG TERMINAL PRIMER (V)


SEARAH DENGAN UJUNG TERMINAL
SEKUNDER ( v ) SEDANGKAN SUDUT u
HUBUNGAN DELTA DISEBELAH KIRI,
MAKA JELAS BAHWA VEKTOR GROUP
DARI TRAFO TERSEBUT ADALAH Yd1
KEMBANGKAN SENDIRI UNTUK VEKTOR
GROUP LAINNYA

u
U

v
w

CONNECTION > Yd1


Uv>Uu=Vv=V-u
Gambar 51. : Vektor Group Yd1

63

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.8. PENGUJIAN INSTALASI PENGAWATAN SISTEM KONTROL


BILA PROSES SELURUH PEMASANGAN BARU ATAU OVERHAUL ATAU INSPEKSI
TELAH SELESAI, MAKA KEMUDIAN DIPERLUKAN PENGUJIAN RANGKAIAN APAKAH
TELAH MEMBENTUK SEBUAH SIRKUIT SESUAI DENGAN YANG DIINGINKAN.
DISAMPING ITU JUGA DIPERLUKAN PENGECEKAN SAMBUNGAN-SAMBUNGAN
(CONNECTOR) APAKAN ADA YANG KENDOR ATAU LEPAS.
SEBAB APABILA YANG KENDOR ATAU LEPAS TERSEBUT HANYA KABEL KONTROL
POMPA PENDINGIN, DAMPAKNYA HANYA POMPA PENDINGIN ITU SAJA YANG TIDAK
DAPAT DIOPERASIKAN
NAMUN APABILA YANG KENDOR ATAU LEPAS TERSEBUT ADALAH KABEL CURRENT
TRANSFORMER (CT), MAKA DAPAT BERAKIBAT CT TERSEBUT MELEDAK PADA
SAAT DIOPERASIKAN. SELANJUTNYA KARENA CT TERSEBUT DIDALAM TRAFO,
MAKA TRAFONYA JUGA IKUT MELEDAK.
KECUALI PENGUJIAN SAMBUNGAN (CONNECTOR) DAN SIRKUIT, JUGA DIPERLUKAN
PENGUJIAN KETAHANAN ISOLASI KABEL KONTROL SEHINGGA SELURUH KABEL
KONTROL AKAN DAPAT DIYAKINI BERFUNGSI DENGAN BAIK
CUKUP BANYAK PENGAWATAN SISTEM KONTROL TRAFO YANG HARUS DIUJI.
NAMUN DISINI HANYA AKAN DIBERIKAN DUA CONTOH SAJA DARI FORMAT
PENGUJIANNYA.

64

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

BERIKUT CONTOH FORMAT PENGUJIAN KABEL KONTROL POMPA MINYAK


PENDINGIN TRAFO DAN THERMAL RELAY UNTUK COOLING FAN
KEDUANYA MENGGUNAKAN MEGGER 500 Volt, KARENA DALAM OPERASINYA
NANTI HANYA DENGAN TEGANGAN RENDAH
CHECK OF COOLING DEVICE
MEASUREMENT OF INSULATION RESISTANCE BY 500 V MEGGER

COOLING
DEVICE
OIL PUMP

TERMINALS

INSULATION
RESISTANCE (M)

WIRING
CONNECTION

REMARKS

PR-1, PS-1, PT-1

360

Good

PR-1, PS-1, PT-1

360

Good

d.s.t

d.s.t

d.s.t

Connection
Was checked
By rotating
direction

CHECK OF PROTECTIVE DEVICE


MEASUREMENT OF INSULATION RESISTENCE BY 500 V MEGGER

PROTECTIVE
DEVICE
Thermal
Relay for
Cooling Fan

TERMINALS

INSULATION
RESISTANCE (M)

WIRING
CONNECTION

69 Q-1, 69 Q2-1

> 1000

Good

49F1 2, 49 F2-2

> 1000

Good

d.s.t

d.s.t

d.s.t

REMARKS

65

BAB VI
PENGUJIAN TRAFO

VI.9. PENGECEKAN KONSTRUKSI


PENGECEKAN KONSTRUKSI MERUPAKAN FINAL CHECK SEBELUM TRAFO BENARBENAR DIOPERASIKAN.
DISINI SUPERVISOR HARUS BERKELILING MENGECEK KONDISI SETIAP
EQUIPMENT
TERPASANG SECARA FISUAL, BERIKUT SALAH SATU CONTOH FORMAT
PENGUJIANNYA

FOLLOWING ITEMS WERE CHECKED VISUALLY

CHECK ITEM

RESULT

o Damage of tank and accessories

Good

o Cleanliness of transformer, especially bushing porcelain, control cubicle &


radiators

Good

o Proper attaching of accessories

Good

o Tightness of bolts and terinations of auxiliary wiring

Good

o Condition of valves (open or close)

Good

o Oil leakage

Good

o Earthing connection of transformer tank and neutral terminal of HV winding

Good

o Operating condition of breather

Good

o Check of all protective relays for normal condition

Good

66

BAB VII
PROSEDUR ENERGYZED
VII.1. SEKILAS TENTANG STANDAR JIS
1. SEPERTI DIJELASKAN DIMUKA, BAHWA SETELAH PROSES PENGISIAN MINYAK DAN
PENGUJIAN TRAFO SELESAI, MAKA HIGH VACUUM OIL PURIFIER TETAP DIOPERASIKAN UNTUK SIRKULASI MINYAK DIDALAM TANGKI TRAFO.
2. UNTUK TRAFO DENGAN TEGANGAN 500 kV, PROSES SIRKULASI MINYAK DILAKUKAN SELAMA 3 X 24 JAM
3. UNTUK TRAFO DENGAN TEGANGAN 270 kV, PROSES SIRKULASI MINYAK DILAKUKAN SELAMA 1,5~2 X 24 JAM
4. UNTUK TRAFO DENGAN TEGANGAN < 270 kV, PROSES SIRKULASI MINYAK DILAKUKAN SELAMA 1 X 24 JAM

VII.2. PROSEDUR ENERGYZED


1. SETELAH SIRKULASI MINYAK SELESAI, LAKUKAN PENGUJIAN MINYAK, COCOKKAN
DENGAN STANDAR YANG ADA
2. CEK KEMBALI APAKAH TRAFO DAN SELURUH ROTEKSINYA TELAH DIUJI
3. ENERGYZED (PENGISIAN TEGANGAN) DILAKUKAN SELAMA 24 JAM SEBELUM
PEMBEBANAN
4. SELANJUTNYA DILAKUKAN PEMBEBANAN BERTAHAP.

67

BAB VII
PROSEDUR ENERGYZED

VII.3. PROSEDUR PENGUJIAN MINYAK SETELAH ENERGYZED


1. KONDISI MINYAK TRAFO PERLU DIMONITOR SETELAH PEMBEBANAN 100 %
KARENA PADA BEBAN TERSEBUT TELAH MENGALAMI PROSES PEMANASAN
MAKSIMAL DIDALAM INTI MAUPUN BELITAN TRAFO, SEHINGGA DIHARAPKAN BILA
ADA PARTIKEL PENGHANTAR YANG MENYANGKUT DI BELITAN ATAU PERUBAHAN
SIFAT MENYAK DAPAT TERURAI DAN IKUT TERUJI.
2. KEMUDIAN MASIH TETAP PERLU PENGUJIAN LAGI SECARA BERKALA DENGAN
PERIODE SEMAKIN LAMA, UNTUK MEMASTIKAN KONDISI MINYAK PADA PERIODE
TERSEBUT SETELAH MENGALAMI PEMANASAN, TEGANGAN DAN GETARAN
1. AFTER 100 % LOAD
2. AFTER 1 WEEK
3. AFTER 3 WEEK
4. AFTER 1 MONTH
5. AFTER 3 MONTH
6. AFTER 6 MONTH

1W
3W
1M
3M
6M
EVERY YEAR

Gambar 52. : Periode Pengujian


Minyak

68

REFERENSI
1. SAGULING HEPP, GENERATING EQUIPMENT LOT II & III, OPERATING & MAINTENANCE
INSTRUCTION VOL. III-1, MITSUBISHI ELECTRIC CORPORATION, JAPAN
2. INSPECTION PROCEDURE & REPORT FOR LOT III-1, MAIN TRANSFORMER, SWITCHGEAR
AND OUT DOOR EQUIPMENT, MITSUBISHI ELECTRIC CORPORATION, JAPAN
3. STIGANT, S AUSTIN & FRANKLIN, HC, THE J & P TRANSFORMER BOOK BUTTER WORTH
LONDON 1980
4. LANGSDORF , ALEXANDER S, THEORY OF ALTERNATING CURRENT MACHINERY, MC
GROW HILL
5. RICHARDSON , DONALD V, HAND BOOK OF ROTATING ELECTRICAL MACHINERY,
DESTON PUBLISHING COMPANY, ICC, DESTON, VIRGINIA 1980

69