Anda di halaman 1dari 229

OM SWASTIASTU

OM AMITABA BHUDA
ASSALAMWALAIKUM
SALAM SEJAHTERA

SEJARAH KEBERADAAN LPD,


KONSEP TRI HITA KARANA DAN
CATUR PURUSA ARTHA

SUB POKOK BAHASAN


1. Sejarah Keberadaan
LPD
2. Pengertian LPD
3. Dasar Hukum LPD
4. Filsafat Tri Hita
Karana & Catur
Purusa Artha

LEMBAGA PERKREDITN DESA

(LPD)
DESA PEKRAMAN
BANYU ALIT

Forum Global Alliance For Finansial


Inclusion atau jaringan untuk inklusi
keuangan di Jimbaran Bali, Senin
(27/9).

Ilustrasi
Kewenangan
MUDP Tk I,
MMDP Tk II

DESA ADAT/
PAKRAMAN
(PRAJURU)

LPD, bpr,
koperasi,
BANK

PerDa Provinsi Bali No. 3 Tahun


2001 tentang Desa Pakraman,
sebagaimana telah diubah

Kewenangan
Pemerintah
TK I/ II

DESA DINAS
( KELURAHAN )

Undang- Undang
Pemerintah Desa Nomor 5 /

Prof. DR. IDA BAGUS MANTRA

PENGGAGAS, PENDIRI
LEMBAGA PERKREDITAN DESA
DI BALI

PAYUNG HUKUM LEMBAGA PERKREDITAN DESA/LPD

SK Gubernur No. 972 Tahun 1984 tentang


Pendirian Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
PerDa Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 1988 tentang
LPD
PerDa Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang
LPD
PerDa Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007.
PerDa Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2012 tentang
Perubahan Ketiga Atas PerDa Provinsi Bali
(No.2/88, No.8/2002, dan No.3/2007)
Peraturan Gubernur Bali No.11 Tahun 2013, tentang
Petunjuk Pelaksanaan PerDa P rovinsi Bali tentang LPD.

PerDa Provinsi Bali No.3 Tahun 2001 tentang


Desa Pakraman sebagaimana telah diubah dgn
PerDa Provinsi Bali No.3 Tahun 2003 tentang Desa
Pakraman.
AWIG-AWIG (Aturan Internal) masing-masing Desa

VISI LPD
Terwujudnya industri LPD yang sehat, kuat,
produktif dan dipercaya sebagai produk
kearifan lokal(local genius), untuk
mendukung pembangunan pedesaan, serta
pelestarian budaya dan adat daerah Bali
berlandaskan Tri Hita Karana dan
Catur Purusa Artha
MISI LPD
Menciptakan kondisi yg kondusif, untuk mendorong
peningkatan Kinerja dan Pelayanan KeuanganLPD yg
berkelanjutan pada Warga Desa Adat/ Desa
Pakraman, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
pedesaan dan meningkatkan kesejahteraan Krama
desa di wilayah Bali

SEJARAH KEBERADAAN LPD


DepDagri pada bulan Februari 1984 melaksanakan
Seminar tentang Lembaga Keuangan Desa (LKD)
atau Badan Kredit Desa (BKD) di Semarang.
Mula pertama, dibuat pilot project satu
LPD di tiap-tiap kabupaten. Kala itu, dasar
hukum pembentukan LPD hanyalah SK
Gubernur Tk I Bali No. 972 tahun 1984,
tanggal 19 Nopember 1984. Sbg Implementasi
dari Kebijakan Pemerintah Daerah Tk I Bali
tsb di atas, maka secara resmi LPD
beroperasi mulai 1 Maret 1985, dimana
disetiap Kabupaten didirikan 1 LPD.

Lembaga Perkreditan Desa (LPD):


Lembaga
Keuangan
milik
Desa
Pakraman
yang bertempat di wilayah Desa
Pakraman
SK Gubernur Daerah Tk I Bali
No. 972 tgl 1 November1984.

Pendirian LPD ini dimulai tahun


anggaran 1984/1985, dgn modal
pertama Rp 2.000.000, yang
bersumber dari APBD Provinsi
Bali, sbg kredit investasi dgn
jangka waktu 5-10 thn.

Keputusan Gubernur No. 344 / 1993 juga


menyebutkan fungsi Bank BPD Bali. Dalam
pasal 2 keputusan tsb (pemerintah Bali, 1993b)
dinyatakan bahwa Bank BPD Bali memiliki 3
fungsi berkenaan dengan LPD.
Pertama, memberikan bimbingan teknis dalam dua
cara yaitu melalui bimbingan pasif, dan
melalui bimbingan aktif yang dilakukan
dgn kunjungan langsung kelokasi LPD.
Kedua, memiliki tugas untuk mengelola koordinasi
dgn organisasi lain yang terlibat di dlm
proses bimbingan dan pengawasan LPD.
Ketiga, harus menyiapkan laporan Evaluasi
triwulan tentang kinerja keuangan dan
kesehatan LPD.

Sejumlah provinsi di Indonesia sesungguhnya


sudah memiliki Lembaga Perkreditan
Pedesaan yang tumbuh subur pada dekade
1980-an. Lembaga ini secara umum disebut
Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan (LDKP).
Namun di setiap daerah namanya berbedabeda
; LEMBAGA/ INSTITUSI
NO NAMA
WILAYAH/DAERAH
1

Lembaga Kredit Kecamatan (LKC)

ACEH

Lembaga Perkreditan Kecamatan


(LPK),

Jawa Barat

Badan Kredit Kecamatan (BKK).

Jawa Tengah

Lumbung Pitih Nagari (LPN)

Sumatra Barat

Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK)

Jawa Timur

6 Lumbung Kredit Perdesaan (LKP)


7. Lembaga Perkreditan Desa

NTB

LPD

Bali

JUMLAH PERKEBANGAN LPD


TAHUN
JUMLAH UNIT
1985

8 LPD

1990

24 LPD

1995

143 LPD

2000

930 LPD

2009

1.339 LPD

Nov. 2013

1.418 LPD
Dari 1.482 seluruh Desa
Pekraman
yang ada
di Bali
LPD
se-Bali hingga
tahun

Total aset
2013 tercatat Rp 10,5 triliun

Sampai akhir tahun 2013,


Aset BPR sebesar Rp 7,2 triliun
Aset koperasi Rp 5,2 triliun.

PerDa Provinsi Bali No. 3 tahun 2007


dinyatakan bahwa tujuan dari usaha-usaha
Lembaga Perkreditan Desa (LPD):
1. mendorong pembangunan ekonomi masyarakat
desa melalui kegiatan menghimpun tanbungan/
deposito dari krama desa dan mendistribukan
kembali ke Krama Desa dalam bentuk Pinjaman;
2. memberantas ijon, gadai gelap, dan lain-lain yang
dapat dipersamakan dengan itu.
3. menciptakan pemerataan kesempatan berusaha
dan perluasan kesem-patan kerja krama desa; dan
4. meningkatkan daya beli dan melancarkan lalu
lintas pembayaran dan peredaran uang di desa.

STRUKTUR ORGANISASI LPD


PARUMAN DESA
BADAN
PENGAWAS
Ketua LPD

KASIR

TATA USAHA

STAF KARYAWAN

PERBEDAAN LPD, BPR, DAN KOPERASI


Karakteristik

LPD

BPR

Landasan
pendirian

Hukum adat/awig- Undang-Undang


awig
Nomor 10 Tahun
1998/UndangUndang
Perbankan

Inisiatif

Krama/Warga
desa adat

Koperasi
Undang-Undang
Nomor 25 Tahun
1992/Undang-Undang
Perkoperasian

Pribadi/Kelomp Pribadi/Kelompok
ok

pembentukan
Cara
Sumbangan
Melalui dana
memperoleh
pemerintah dan dari para
modal
sumbangan
pemegang
sukarela dari
saham dan
warga desa adat sektor-sektor
sesuai
lain yang sah
keikhlasan

Modal koperasi
terdiri dari modal
sendiri dan modal
pinjaman.

Perangkat
organisasi

Perangkat
organisasi LPD :

Perangkat
organisasi BPR :

Perangkat organisasi
koperasi :

1.Paruman Desa
Pakraman

1.Rapat Umum
Pemegang
Saham

1.Rapat anggota

2.Prajuru atau
bendesa adat
(ketua badan
pengawas)
3.Ketua LPD

2.Komisaris

2.Pengurus
3.Pengawas

3.Direksi
4.Staf-staf
pendukung

4.Kasir
5.Tata Usaha
6.Staf
Lingkup wilayah Hanya sebatas di
operasional
lingkungan desa
pakraman
Orientasi Usaha Lembaga nonprofit, yang
bersifat saido
kultural
Pembagian
40% untuk modal,
Keuntungan
60% untuk masy.
desa adat

Seluruh wilayah
Negara Republik
Indonesia
Profit

Seluruh wilayah
Negara Republik
Indonesia
Bersifat profit untuk
mensejahterakan
anggota-anggotanya

para pemegang
saham

Berupa SHU untuk


masing-masing
anggota.

UU RI no 1 tahun 2013 tentang


Lembaga keungan Mikro (LKM)
Jika terjadi kredit/pinjaman
bermasalah bagi LPD
PT. Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida)
sebagai lembaga penjamin milik
Pemprov, melakukan kerja sama dgn
pihak Bank Pembangunan Daerah Bali
dan Lembaga Keuangan Lain.

Sanksi adat yang juga dikenal dalam masyarakat desa


pakraman di Bali(Widnyana, 1992):
1. Mangaksama /ngalaku pelih: suatu hukuman di
mana seseorang mela-kukan permohonan maaf /
minta maaf kepada orang yg telah disakitinya.
2. Mararung/mapulang kapasih: suatu hukuman
di mana seseorang ditenggelamkan ke laut oleh
warga desa atau banjar sampai meninggal dunia
3. Mablagbag: suatu hukuman yg diberikan kpd
seseorang yg berupa pengikatan thd anggota
tubuhnya karena orang tsb dianggap dapat
mengganggu ketentraman, kedamaian dan
keamanan desa
4. Katundung: suatu hukuman di mana seseorang
dikeluarkan dgn jalan diusir dari persekutuan.

Om Awighnam Astu Namo Siddham


Om Ano Badrah Krtavo Vyantu Visvatah
Semoga pikiran yang baik
datang dari segala penjuru

FALSAFAH
tri hita karana
&
Catur Purusa Artha

1. Falsafah TRI HITA KARANA


PARAHYANGAN

PAWONGAN

PALEMAHAN

PARAHYANGAN
(HUB. MANUSIA
DENGAN
TUHAN)

PAWONGAN
(HUB. MANUSIA
DENGAN
MANUSIA)

PALEMAHAN
(HUB. MANUSIA
DENGAN
LINGKUNGAN)

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan


umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam
perwujudan:
Parhyangan Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa
Kahyangan Jagat
Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau
Kahyangan Tiga
Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah
Pelemahan

Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah


Propinsi Bali
Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung
Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan

Pawongan

Tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali


Tingkat desa adat meliputi krama desa adat
Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga

Implementasi tanggung jawab sosial


pada LPD di Bali berdasarkan filosofi
Tri Hita Karana THK). Filosofi THK
menekankan bahwa dalam proses
kehidupan menuju hidup yang sejahtera,
manusia ditekankan untuk menjaga
keserasian atau keharmonisan antara
manusia dengan pencipatnya, yakni
Tuhan Yang Maha Esa (Parhyangan),
manusia dengan alam/lingkungannya
(Palemahan), dan manusia dengan
sesamanya (Pawongan) sebagai suatu
kesatuan yang utuh (Sudibya, 1997;
Surpha, 2004; Wiana, 2004; Windia,
2006; Ashrama, 2005; Dinas Kebudayaan

Legitimacy Theory :
Setiap entitas/lembaga mempunyai kontrak
dengan masyarakat berdasarkan nilai-nilai
keadilan dan bagaimana entitas/lembaga
menanggapi berbagai kelompok untuk
melegitimasi tindakan entitas/lembaga.
Jika terjadi ketidakselarasan nilai entitas/
lembaga dan sistem nilai masyarakat, maka
entitas/lembaga kehilangan legitimasinya
shg dpt mengancam kelangsungan hidup
entitas/lembaga itu sendiri.

Stakeholder theory :
Mempertimbangkan berbagai kelompok
(stakeholders) yg terdapat dlm masyarakat
dan
bagimana harapan kelompok stakeholder
memiliki dampak yg > / < thp strategi
entitas.
Teori ini berimplikasi thp kebijakan manajemen
dalam mengelola harapan stakeholder.
Stakeholder entitas pada dasarnya memiliki
ekspektasi yang berbeda mengenai bagaimana
entitas dioperasikan.
Entitas akan berusaha untuk mencapai
harapan stakeholder yg berkuasa dgn
penyampaikan pengungkapan, termasuk

RWA BHINEDA dan TRI HITA KARANA


Konsepsi ini mrpkn keyakinan masyarakat bawah
walaupun mrpkan dua unsur yg selalu berbeda,
namun jika dihayati, maka perbedaan tersebut
sebanarnya proses penciptaan yg tujuannya untuk
mencapai kebahagiaan, dimana keselarasan dan
keseimbangan akan dapat terwujud dalam
kehidupan di dunia ini.
Ajaran ini berpesan bahwa laki-perempuan,
baik-buruk, mati hidup, neraka-sorga, senangsusah, siang-malam, matahari-bulan, keduanya
bersamaan munculnya pergi dan datang.
Dalam konteks hubungan manusia dgn lingkungan
hidup, konsep ini kemudian dirinci ke dalam konsepkonsep yang lebih mendetail yaitu konsep LuanTeben, Segara-Gunung, Kaja-kelod dsb.

2. Falsafah CATUR PURUSA ARTHA


KAMA

DHARMA

LPD
ARTHA

MOKSA

Catur Purusa Artha yaitu


Catur yang berarti empat,
Purusa yang berarti hidup
Artha yang berarti tujuan
Jadi Catur purusa artha artinya :
4 tujuan hidup sebagai manusia.

Catur Purusa Artha terdiri dari empat unsur: Dharma,


Artha, Kama, Moksa.
Kegiatan usaha LPD dilandasi :
Dharma adalah kebaikan (manajemen)
Artha adalah mengarah pd keutungan
Kama adalah keinginan masy. telah

dipenuhi
Moksa, adalah kebahagiaan

Penjelasan.

Dharma, mrpkn dasar utama LPD


dlm menjalankan kegiatan usahanya.
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh
LPD harus selalu didasari oleh Dharma
yaitu kebaikan.

Setelah mengamalkan dharma atau

kebaikan dalam menjalankan


kegiatan

usahanya maka Tuhan (Ida Sang


Hyang

Widhi Wasa) akan melimpahkan

Artha, setelah landasan yang utama


dilaksanakan oleh LPD, dlm menjalankan
ajaran Dharma atau kebaikan barulah
LPD Desa Pkraman, menekankan
kegiatan usahanya pada aspek
keuntungan dari usaha simpan-pinjam
yang dilakukan terutama dalam hal
pemberian kredit kpd masyarakat yang
akan memberikan keuntungan berupa
bunga.

Kama, Setelah aspek artha yang menjadi tujuan


yang kedua terpenuhi maka selanjutnya adalah
Kama yaitu nafsu/ keinginan atau pemenuhan
kebutuhan hidup berupa sandang, pangan, dan
papan.
Jadi dgn Artha tsb maka Kama/ Keinginan akan bisa
terpenuhi dgn keuntungan yg diperoleh LPD dlm
kegiatan usahanya dpt membantu masyarakat Desa
Pakraman dlm melaksanakan pembangunan Desa,
memberi pinjaman untuk keperluan usaha,
menyekolahkan anaknya, upacara dll.
Setelah ketiga tahap diatas tercapai maka yang
terakhir adalah Moksa

Moksa yg dimaksud disini : kebahagiaan.


Jadi dgn kegiatan usaha yg dilakukan oleh
LPD yg dapat membantu perekonomian
masyarakat desa shg dpt meringankan
beban kehidupan masyarakat desa, shg
beban hidup bermasyarakat semakin
ringan maka masyarakat akan merasa lebih
senang atau bahagia karena sebagian/
seluruh kebutuhannya telah dapat
terpenuhi.

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN

OM SWASTIASTU
OM AMITABA BHUDA
ASSALAMWALAIKUM
SALAM SEJAHTERA

LAPORAN
KEUANGAN
LPD

Ilustrasi LAPKEU LPD

SUMBER
DANA

Krama/Warga Desa
Dana Hibah
Pihak Lain
Laba Tahun Lalu
Laba Tahun Berjalan

PROSES
AKUNTANSI

DISTRIBUSI
DANA
Krama/Warga Desa

Pihak Lain:
Bank, Tabungan,
Deposito, LPD dll

LPD BANYU
ALIT
LAPORAN
KEUANGAN

Penata
Bukuan

Standar Akuntansi ??
- Untuk keseragaman laporan keuangan
- Memudahkan penyusun laporan keuangan
karena ada pedoman baku sehingga
meminimalkan bias dari penyusun
- Memudahkan auditor
- Memudahkan pembaca laporan keuangan untuk
menginterpretasikan dan membandingkan
laporan keuangan entitas yang berbeda.
- Pengguna laporan keuangan banyak pihak
sehingga penyusun tidak dapat menjelaskan
kepada masing-masing pengguna

LAPORAN KEUANGAN LPD

LAPORAN NERCA
LAPORAN LABA
RUGI
LAPORAN
PERUBAHAN
MODAL
LAPORAN ARUS
KAS
Cat LAPKEU

Tujuan Laporan Keuangan LPD


Memberikan infomasi
- Posisi keuangan,
- Kinerja, pertanggung jawaban manajemen thd

sumber daya yang dipercayakan.


- Perubahan posisi keuangan

yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai


dalam pengambilan keputusan ekonomi
- Memenuhi kebutuhan sebagian besar pemakai

Internal dan eksternal

Laporan keuangan LPD


Bentuk pertanggungjawaban pemimpin LPD:
berupa ikhtisar keuangan yg biasanya terdiri dari
neraca, perhitungan laba/rugi, laba ditahan,
perubahan posisi keuangan .
Lapkeu perusahaan sama saja dgn laporan keuangan
prshn lainnya.
Neraca: memperlihatkan gambaran posisi keuangan
suatu LPD pada suatu saat tertentu.
Ikhitisar laba/rugi memperlihatkan kegiatan
operasional suatu LPD selama suatu periode tertentu.
Ikhtisar peerubahan posisi keuangan
memperlihatkan dari mana saja pendanaan dan ke
mana saja dana yg telah diserapnya disalurkan.
Laporan perubahan posisi keuangan ini disusun dari neraca
pada dua periode(tanggal) dan ikhitisar laba rugi selama
periode yang dilaporkan.

Ketiga jenis laporan keuangan tsb mrpkn


laporan keuangan yg diwajibkan oleh prinsip
akuntansi sehingga seluruh pihak yg
berkepentingan dgn LPD dapat mengetahui
profit keuangan LPD ybs.
Neraca LPD memberikan gambaran
tentang posisi kekuatan LPD sekaligus
memperlihatkan arah bisnis yg sedang
ditempuh oleh LPD ybs.

Ikhtisar laba-rugi memperlihatkan


kemampuan manejemen LPD dalam
menciptakan pendapatan dari aktiva yg
dimiliki LPD ybs.
Ikhitisar ini juga memperlhatkan efisiensi
pengeluaran biaya, baik dana overhead
maupun personalia, yg telah dikeluarkan
oleh LPD.
Ikhtisar perubahan posisi keuangan
memperlihatkan keefiktifan manajemen
dalam menyerap dana dan menyalurkanya
(profesionalisme manajemen).

PELAPORAN LPD
(PERDA PROVINSI BALI No.11/2013)
LPD harus menyampaikan laporan keuangan kpd Desa
Pakraman melalui Pengawas Internal dan kpd Gubernur,
Bupati/Walikota serta MUDP melalui LPLPD.

Jenis pelaporan mencakup 3 jenis:


1). Laporan bulanan, terdiri dari :
- Laporan kegiatan dan perkembangan
pinjaman;
- Neraca percobaan;
- Laporan neraca; dan
- Laporan rugi / laba.

2). Laporan tiga bulanan, mencakup:


- Laporan penilaian kesehatan LPD, dan
- Laporan penilaian peringkat risiko LPD.
3). Laporan tahunan , mencakup:
- Laporan Renja dan APB LPD;
- Laporan Pertanggung Jawaban Akhir
Tahun; dan
- Laporan hasil Pertanggung Jawaban
audit (Pengawas Internal)

Ketentuan Pasal 16 berbunyi sbb:


1. Tahun
Buku
LPD:
tahun
Takwim/
Kalender.
2. Selambat-lambatnya
3
(tiga)
bulan
setelah Tahun Buku berakhir, Pengurus
LPD
harus
menyampaikan
Laporan
Tahunan
disertai
Laporan
Keuangan
kepada Prajuru Desa.
3. Laporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) harus disampaikan kepada Krama
Desa paling lambat 2 (dua) minggu
sebelum rapat/ paruman Desa.

PENYETORAN DAN PENGGUNAAN


KEUNTUNGAN BERSIH
LEMBAGA PERKREDITAN DESA
Pembagian keuntungan bersih LPD pada
akhir tahun pembukuan ditetapkan sbb:
a. Cadangan modal
b. Dana Pembangunan Desa
c. Jasa Produksi
d. Dana Pemberdayaan
e. Dana Sosial

60 %;
20 %;
10 %;
5 %;
5 %.

Laporan Keuangan
SAK ETAP

Neraca
Kewajiban
Laporan Laba Rugi
Laporan
Perubahan Ekuitas
Laporan Arus Kas
Catatan atas
Laporan Keuangan

PSAK 1 R 2009
Laporan Posisi Keuangan
Liabilitas
Laporan Laba Rugi
komprehensif
Laporan Perubahan
Ekuitas
Laporan Arus Kas
Catatan atas Laporan
Keuangan
Laporan Posisi Keuangan
pada awal periode
komparatif untuk
penyajian kembali

LAPORAN NERACA
LEMBAGA PERKREDITAN DESA
( LPD )

Laporan Keuangan Neraca:


mrpkn LapKeu yg disusun secara sistematis
yg disajikan untuk menunjukkan kondisi
keuangan entitas, meliputi Kekayaan yg
sumber perolehannya dari Hutang dan Modal
pada akhir periode .
Neraca terdiri dari tiga unsur utama:
Kekayaan, Hutang, dan Modal
Neraca dibuat pada waktu tertentu/
setiap saat artinya menunjukkan kondisi
Keuangan pada entitas pada tanggal
tertentu bisa pada posisi harian, akhir
minggu, akhir bulan bahkan akhir tahun .

Laporan Keuangan (Neraca)


Mrpkn LapKeu yang menyajikan data atau informasi

mengenai aset, utang, dan modal dari suatu entitas


pada periode tertentu. (Dwi Martini, Sylvia Veronica
NPS, dkk, 2012), Akuntansi Keuangan Menengah
Berbasis PSAK bahwa:
laporan ini merupakan sumber informasi
utama tentang posisi keuangan entitas
karena merangkum elemen-elemen yang
berhubungan
langsung
dengan
pengukuran
posisi keuangan yaiu Aset, Liabilitas, dan
Ekuitas.

Elemen-Elemen LapKeu (Neraca) al:

ASET
ASET
TAK
LANCAR

ASET
LANCAR

UTANG
UTANG
Jk Pd

UTANG
Jk Pj

EKUITA
S

Modal

Disetor

Laba/
Rugi

AKTIVA

LPD BUKIT BERBUNGA


LAPORAN NERACA
PER 31 DESEMBER 2013
JML
PASIVA

Aktiva Lancar

JML

Rp

Kewajiban Lancar
Tabungan Wajib
Tabungan Sukarela
Tabungan Program
Simpanan Berjangka
Pinjaman Luar/ Utang
Titipan Lain
Kewajiban Lain

Rp

Aktiva Tetap Berwujud


Gedung/ Kantor
Inventaris
Harga Perolehan
Akum. Penyusutan

Rp

Rupa-Rupa Pasiva
Dana Sosial
Dana Desa Pakraman
Lain-Lain

Rp

Aktiva Lain-Lain
Kas bon
Materai
Rupa-rupa aktiva

Rp

Modal
Modal Disetor
Modal Donasi
Cad. Umum(Modal)
Cad. Tujuan(Khusus)
Cad. Dana Sosial
Cad. Dana Perlindungan
Cad. Dana Desa Pakraman

Rp

Kas
Bank
Giro
Tabungan BPD
Deposito
Kredit Yg Diberikan
Cad. Pinjaman Ragu-ragu

Perda Provinsi Bali No.11 Tahun 2013


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menjaga tingkat likuiditas


Prinsip kehati-hatian pengelolaan LPD
Dana Perlindungan LPD
Aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR)
Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Pinjaman yang diberikan atau kredit
Cadangan pinjaman ragu-ragu CPRR
Penilaian kesehatan LPD

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN

PENDAPATAN &
BEBAN
LPD

PENGHASILA
N

PENDAPATAN
/ REVENU

KEUNTUNGA
N atau
RUGI

Peningkatan manfaat ekonomi


selama periode akuntansi dlm
bentuk arus masuk / peningkatan
aset/ penurunan liabilitas yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas,
yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal
Pendapatan : sbg arus
masuk bruto dari manfaat
ekonomi yang timbul dari
aktivitas normal entitas
selama suatu periode.
Pengkaitan (matching)
antara pendapatan dan
beban

PSAK 23 (direvisi 2010) berlaku efektif


1/01/11

Tujuan Pengakuan Pendapatan

Untuk mengatur perlakuan akuntansi atas


pendapatan yang timbul dari transaksi dan
kejadian tertentu.
Untuk mengidentifikasi keadaan-keadaan
ketika kriteria pengakuan pendapatan
terpenuhi, yaitu bila kemungkinan besar
manfaat ekonomi masa depan akan mengalir
ke entitas dan manfaat tsb dpt diukur dgn
andal.
Untuk memberikan panduan praktis dalam
penerapan kriteria pengakuan pendapatan.

Ilustrasi
CASH
BASIS
Saat Kas
Diterima

PERLAKUAN
AKUNTANSI
PENDAPATAN
ACCRUAL
BASIS
PENGAKUAN
PENGUKURAN
Saat Terjadi
PENDAPATAN
Transaksi

Aktiva Produktiv
digolongkan NPL
Pendapatan bunga tdk diakui dlm
periode berjalan
Pendapatan bunga yg telah dibayar tdk
perlu adjusment

PENDAPATAN LPD

Pengertian Pendapatan(Revenue)
Mrpkan arus kas masuk dan keluar
dari manfaat ekonomi, yang timbul
dari aktivitas normal LPD, yang
mengakibatkan kenaikan equitas
selama suatu periode.
Pendapatan dari kegiatan dapat
diklasifikasikan dari kegiatan
opersional LPD dan non-operasional .

PENDAPATAN
Pendapatan Utama :
Pend. Bunga Pinjaman
Pend. Bunga Simpanan/Giro
Pend. Bunga Deposito
Pendapatan Bunga Tabungan
Ongkos Administrasi
Provisi
Pendapatan Lain-lain
Denda Kredit
Simpanan Pasif
Lain-lain (listik,telp, air, PBB dll)

AKUNTANSI PENDAPATAN .

Pengakuan pendapatan
pada dasarnya adalah secara
accrual basis mengakibatkan
pertambahan pendapatan LPD
pada saat jatuh waktu bunga.
Jika terjadi kredit
bermasalah dari debitur !!!

Kecuali
Untuk aktiva produktif yang
digolongkan sebagai Non-Performing
Loans (NPL) diakui secara cash basis.
Pengakuan pendapatan secara cash basis
menyebabkan bertambahnya rekening
administratif (tunggakan bunga) pd
saat jatuh waktu pembayaran bunga dan
pendapatan akan bertambah pada saat
uang benar-benar telah diterima oleh bank
dari nasabah non-performing tsb.

Pendapatan Bunga
Pendapatan bunga dari aktiva produktif
NonPerforming Loans (NPL), tidak diakui
sebagai
pendapatan periode berjalan sejak aktiva tsb
Bank tidaknon
perlu
melakukan
dinyatakan
performing.
penyesuaian terhadap pendapatan
bunga yang telah diakui sebelum aktiva
produktif tsb dinyatakan nonperforming.
Bunga dan aktiva non-performing
yang tidak diakui sbg pendapatan
akan dicatat dalam rekening
administrative karena merupakan
peristiwa kontinjensi.

Pendapatan Utama Bank


1. Pendapatan Bunga Debitur.
2. Pendapatan provisi dan komisi.
3. Pendapatan Transaksi Valas
4. Transaksi Berjangka Valas
5. Swap Suku Bunga.

Pendapatan Non Operasional


Pendapatan Luar Biasa

Perlu diperhatikan dlm hal terjadi pelunasan


yg berkaitan dgn aktiva produktif nonperforming, pelunasan tunggakan bunga tsb
terlebih dahulu diperlakukan sbg pelunasan
tunggakan pokoknya.
Contoh, apabila pendapatan bunga debitur
performing selama bulan Juli dihitung
sebesar Rp.100 jt, sedangkan debitur nonperforming sebesar Rp. 23 jt akan
dibukukan dgn ayat jumal sbb.

Jurnalnya
KETERANGAN

Accrual Basis
Pendapatan YMH Diterima
Pendapatan Bunga Debitur
Pd saat menerima hasil bunga
Cash Basis
Rek. Adm. - Tunggakan Bunga
Kas
Pendapatan Bunga Debitur

DEBIT KREDI
T
100 Jt
100 Jt

23 Jt

23 Jt
23 Jt

Provisi dan Komisi.


Provisi kredit mrpkn sumber pendapatan bank
yang akan diterima dan diakui sbg pendapatan
pada saat kredit disetujui oleh bank.
Biasanya provisi kredit langsung dibayarkan oleh
nasabah ybs.
Komisi mrpkn pendapatan bank yg sedang
digiatkan belakangan ini.
Komisi ini mrpkn beban yg diperhitungkan kpd
para nasabah bank yg mempergunakan jasa
bank.
Komisi juga lazimnya dibukukan langsung sbg
pendapatan pd saat bank menjual jasa kepada
para nasabahnya.

Komisi dan provisi


yang berkait langsung
dgn kegiatan
perkreditan
diperlakukan sebagai
pendapatan atau beban
yang ditangguhkan dan
diamortisasikan secara
sistimatis selama
jangka waktu komitmen
kredit.

Komisi dan provisi


yang tdk berkaitan
langsung dgn kegiatan
perkreditan namun terkait
dgn jangka waktu
diperlakukan sbg
pendapatan atau beban yg
ditangguhkan dan
diamortisasi secara
sistimatis selama jangka
waktunya.

Pendapatan atau beban komisi dan


provisi tsb disajikan sbg
pendapatan dan beban operasional
lainnya dlm laporan L/R.

Contoh 1

Bank Matahari menyetujui kredit untuk PT.


CD sebesar Rp. 200 juta selama jangka
waktu 5 tahun. Provisi kredit ditetapkan
sebesar 0.6% dari pagu kredit.
Ayat jurnal untuk mencatat transaksi ini
sbb.
D/ Kas .

Rp.1.200.000

K/ Provisi Kredit Diterima Dimuka

Rp1.200.000

Transaksi ini berkaitan dengan kegiatan


perkreditan dan terikat dengan jangka waktu.
Oleh sebab itu perlu dialokasikan setiap bulan
selama lima tahun mendatang.
Provisi kredit ini akan dialokasikan menjadi
pendapatan dan akan disajikan dalam laporan
Laba-Rugi bulanan.

Alokasi pendapatan pada bulan pertama


dilakukan dengan cara sbb.
Alokasi Bulan Pertama =
1/60 * Rp.1.200.000 = Rp. 20.000
Ayal jurnal nya:
D/ Provisi Kredit Diterima DimukaRp.20.000
K/ Pendapatan Provisi Kredit Rp.20.000

Contoh 2

Bila Bank Matahari membebankan komisi


kepada nasabah giro atas jasa ATM yang
dipergunakannya sebesar Rp. 20.000.
Transaksi ini tidak terikat dengan jangka
waktu. Oleh Bank Matahari akan dibukukan
kedalam pendapatan .
Ayat jurnal sbb. .
D/ Giro

Rp.20.000

K/ Pendapatan Komisi ATM Rp.20.000

Pengertian Beban(Expenses)
Beban mrpkan
Beban mrpkn
penurunan manfaat
pengeluaran yg
ekonomi selama suatu
dilakukan oleh
periode akunansi dalam
suatu perusahaan
bentuk arus keluar
dlm rangka
/berkurangnya aktiva /
menciptakan atau
terjadinya kewajiban dan
memperoleh
tidak menyangkut
pendapatan.
pembagian kepada
penanam modal.
Maksud dari beban disini adalah biaya
yang secara langsung atau tidak
langsung telah dimanfaatkan untuk
menciptakan pendapatan dalam suatu
periode tertentu.

Ilustrasi
PERLAKUAN AKUNTANSI
BIAYA/BEBAN

CAHS
BASIS
Saat telah
Dilakukan
Pembayaran

PENGAKUAN
ACCRUAL
PENGUKURAN
BASIS
BIAYA/BEBAN
Saat Terjadi
Transaksi
(Starting Point)

Biaya/Beban Utama Operasional:


Bunga, Valas (Spot, forward & Swap),
Overhead (SDM, Kegiatan Kantor dan

Penyusutan

Biaya/Beban Non Operasional


Pos Luar Biaya
Pajak Penghasilan

BIAYA/COST
Biaya Bunga
Biaya Bunga Pinjaman Luar
Biaya Bunga Simpanan
Biaya Bunga Tab.Sukarela
Biaya Bunga Tab.Wajib
Biaya Bunga Simp. Berjangka
Biaya Bunga Tab.Program
Beban Pegawai
Gaji
Pendidikan
Pakaian Seragam
THR
Lembur
Jamsostek

Beban Kantor
SPJ/Perjalanan
Penyusutan Aktiva
Pinjaman Ragu-Ragu
Upacara
Beban Lain-lain
Listrik / PLN
Air / PDAM
Telepon
Koran / Majalah
Alat-alat Tulis Kantor
Barang Cetakan
Service Kendaraan
Premium
Dana Promosi
Insentif
Lain-lain

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN

LAPORAN ARUS KAS


LPD

MENGAPA DIPERLUKAN ARUS


KAS ?
SEDANGKAN
KAS SUDAH DISAJIKAN
DI LAPORAN NERACA

Ilustra
si

LPD BANYU ALIT


LAPORAN NERACA
PER 31 DESEMBER 2013

AKTIVA

JUMLAH

Aktiva Lancar

Rp

100

PASIVA

JUMLAH

Utang
Lancar

Kas dan Setara Kas

Sumber data Laporan Arus Kas :


1. Laporan Laba Rugi Tahun Berjalan (Current
Book)
2. Neraca Perbandingan Tahun Berjalan
dengan
Neraca tahun sebelumnya

LAPORAN ARUS KAS LPD


Laporan arus kas merupakan laporan keuangan
yang berisi informasi aliran kas masuk dan
aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama
periode tertentu.
Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan
menurut jenis kegiatan yang menyebabkan
terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tsb.
Laporan arus kas :
menyajikan informasi perubahan historis
atas kas dan setara kas entitas, yang
menunjukkan secara terpisah perubahan
yang terjadi selama satu periode dari
aktivitas operasi, investasi, dan

FORMAT LAPORAN ARUS KAS

Arus Kas Dari Aktivitas Usaha


xxx
Arus Kas Dari Aktivitas Investasi
xxx
Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan
xxx
Kenaikan (penurunan) kas bersih
xxx
Kas awal tahun
xxx
Kas akhir tahun
xxx

KOMPONEN ARUS KAS


CASH INFLOW

PENERIMAAN:
-Tagihan
-Bunga, Investasi
-Pinjaman/Utang
dll
PENERIMAAN:
-Pinjaman
Diberikan
-Penjualan
Ak.Tetap
-dll
PENERIMAAN:
-Penjualan Saham
-Pinjaman Dana
-dll

AKTIVITAS USAHA

AKTIVITAS
OPERASI

AKTIVITAS
INVESTASI

CASH OUTFLOW

PENGELUARAN:
-Pemasok
-Bunga
-Beban Op.Lainnya
PENGELUARAN:
-Pembelian
Ak.Tetap
-Perolehan Investasi
bukan setara kas
PENGELUARAN:

AKTIVITAS
-Pembelian saham
PENDANAAN -Pembyaran
Dividen
-Pmbyrn Pokok

Laporan arus kas mengandung dua


macam aliran/arus kas yaitu :
1. Cash inflow

Arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi


yang melahirkan keuntungan kas
(penerimaan kas).
Arus kas masuk (cash inflow) terdiri dari:
- Hasil penjualan produk/jasa perusahaan.
- Penagihan piutang dari penjualan kredit.
-Penjualan aktiva tetap.
- Penerimaan investasi jangka pendek
- Penerimaan bunga, provisi
- Pinjaman/utang dari pihak lain.
- Penerimaan sewa dan pendapatan lain.

2. Cash out flow


Cash out flow: arus kas yang terjadi dari
kegiatan transaksi yang mengakibatkan beban
pengeluaran kas.
Arus kas keluar (cash out flow) terdiri dari :

- Pengeluaran biaya bahan baku, TKL dan Overhead


-Pengeluaran biaya administrasi umum dan penjualan
-Pembelian aktiva tetap
- Pembayaran utang-utang perusahaan
-Pembayaran kembali investasi dari pemilik entitas
-Pembayaran sewa, pajak, deviden, bunga dan
pengeluaran lain-lain.

PENYUSUNAN ARUS KAS

METODE
ARUS KAS

METODE
LANGSUNG

METODE TDK
LANGSUNG

Perbedaan antara kedua metode


terletak pada penyajian arus kas
berasal dari kegiatan operasi.

Arus kas dari kegiatan


operasional dirinci
menjadi
arus
kas
masuk dan arus kas
keluar.
(BUKU KAS/BANK)
ke 3 jenis aktivitas

Arus kas dari opersional


kegiatan ditentukan dgn
cara mengoreksi laba bersih
dari laporan L/R dan
NERACA

Metode Langsung
Laporan Arus Kas
Kas Masuk
Aktivitas
Operasional

Kas Masuk
Aktivitas
Investasi

Kas Masuk
Aktivitas
Pendanaan

Kas Keluar
Aktivitas
Operasional

Kas Keluar
Aktivitas
Investasi

Kas Keluar
Aktivitas
Pendanaan

Kas Bersih
Aktivitas
Operasional

Kas Bersih
Aktivitas
Investasi

Kas Bersih
Aktivitas
Pendanaan

Metode Tidak Langsung


Laporan Arus Kas
Laba Neto

Kas Masuk
Aktivitas
Investasi

Kas Masuk
Aktivitas
Pendanaan

Penyesuaian
Terhadap
Laba Neto

Kas Keluar
Aktivitas
Investasi

Kas Keluar
Aktivitas
Pendanaani

Kas Bersih
Aktivitas
Operasional

Kas Bersih
Aktivitas
Investasi

Kas Bersih
Aktivitas
Pendanaan

NERACA KOMPARATIF
PER 31 DESEMBER 2013 DAN
2012
2013
2012

Aktiva
-Kas
-Piutang usaha
-Persediaan
-Beban dbyr Dmuka
-Tanah
-Gedung
-Akm Peny Gedung
-Peralatan
-Akm Peny. Peralatan
Total
Kewajiban dan Ekuitas
- Utang Usaha
- Utang Obligasi
- Saham Biasa
R/E

MUTASI -/+

20.000.000

10.000.000

10 jt/naik

17.000.000

15.000.000

2 jt/naik

10.000.000

8.000.000

2 jt/naik

5.000.000

6.000.000

1 jt/turun

50.000.000

60.000.000

10 jt/turun

65.000.000

65.000.000

(15.000.000)

(10.000.000)

35.000.000

25.000.000

10 jt/naik

(15.000.000) (10.000.000)

5 jt/naik

172.000.000 169.000.000

3 jt/naik

0
5 jt/naik

82.000.000

85.000.000

2 jt/turun

44.000.000

42.000.000

2 jt/naik

26.000.000

20.000.000

6 jt/naik

20.000.000

22.000.000

2 jt/turun

Laporan Laba Rugi


Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2012
(Dalam Rupiah)
Pendapatan
HPP

45.000.000
10.000.000

Beban Operasi

8.000.000

Beban Bunga

6.000.000

Laba dari operasi


Beban pajak
Laba Bersih

24.000.000
21.000.000
3.000.000
18.000.000

METODE LANGSUNG

Laporan Arus Kas


Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2013
Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
- Penerimaan Kas dari pelanggan

43.000.000

-Pembayaran kas pada Pemasok/Gaji


-Pembayaran bunga

(12.000.000)

- Pembayaran pajak penghasilan

( 6.000.000)

Kas Bersih dari kegiatan Operasi

( 3.000.000)

Arus Kas Dari Kegiatan Investasi

22.000.000

- Penjualan tanah
- Pembelian perlatan
Kas bersih dari Aktivitas Investasi

10.000.000
(10.000.000)

Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan

- Penebusan obligasi
- Penjualan saham biasa
- Pembayaran deviden tunai
Kas bersih dari Aktivitas Pembiayaan
Kenaikan Bersih Kas

2.000.000
6.000.000
(20.000.000)

METODE TIDAK LANGSUNG

Laporan Arus Kas


Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2013
Arus Kas Dari Kegiatan Operasi
Laba Bersih dari kegiatan operasi usaha

18.000.000

Merekonsiliasi laba bersih thd kas bersih yang


diterima dari Kegiatan Operasi :
-Beban Penyusutan

10.000.000

-Kenaikan piutang usaha

( 2.000.000)

-Kenaikan persediaan

( 2.000.000)

-Penurunan beban dibayar dimuka


-Penurunan hutang usaha

1.000.000
( 3.000.000)

Kas Bersih yg ditrima dr keg. Oprasi

4.000.000
22.000.000

Arus Kas Dari Kegiatan Investasi


-Penjualan tanah
-Pembelian perlatan

10.000.000
(10.000.000)

Kas bersih yang digunakan o/ keg. Investasi

Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan


-Penebusan obligasi

2.000.000

-Penjualan saham biasa

6.000.000

-Pembayaran deviden tunai

(20.000.000)

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN

Standar Akuntansi
ETAP
LPD

TIGA PILAR
SAK INDONESIA
SAK
UMUM
(IFRS)

SAK ETAP

UKM/
BPR
LPD

SAK
SYARIAH

Karakteristik/ Ciri utama Lembaga


Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia
menurut ADB dan Bank Dunia:
1. Menyediakan beragam jenis pelayanan
keuangan yang relevan atau sesuai dengan
kebutuhan riil masyarakat
2. Melayani kelompok masyarakat yang
berpenghasilan rendah
3. Menggunakan prosedur dan mekanisme yg
kontekstual dan fleksibel agar lebih mudah
dijangkau oleh masyarakat miskin yang
membutuhkan

Pola-pola keuangan mikro di Indonesia:


1. Saving ledd microfinance: pola keuangan
mikro yang berbasis anggota (membership
based). Dalam pola ini, pendanaan atau
pembiayaan yang beredar berasal dari
pengusaha mikro.
Contoh: Kelompok Swadaya Masyarakat
(KSM), Credit Union, dan KSP.
2. Credit Ledd Microfinance: pola keuangan
mikro yang sumber keuangannya bukan dari
usaha mikro tetapi dari sumber lain.
Contoh: Badan Kredit Desa, Lembaga Dana
Kredit Pedesaan dan Grameen Bank.
3. Micro Banking, bank yang difungsikan untuk
melayani keuangan mikro. Contoh: BRI Unit
Desa, BPR
4. Pola hubungan bank dan kelompok swadaya
masyarakat

Menurut Kementerian Negara Koperasi dan


Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM),
bahwa yg dimaksud dgn Usaha Kecil (UK),
termasuk Usaha Mikro (UM):
Entitas usaha yang memiliki kekayaan bersih
paling banyak Rp 200 Juta tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha, dan
memiliki penjualan tahunan paling banyak
Rp 1 Miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi
UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja.
Usaha kecil mrpkn entitas usaha yang memiliki
jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang, sedangkan
Usaha menengah mrpkn entitias usaha yang
memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang .

UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,


Kecil, dan Menengah. dan telah diubah dengan
UU No.1 Tahun 2013, yang disebut Usaha Kecil
adalah entitas yang memiliki kriteria sbb:
1. kekayaan bersih lebih dari Rp 50 Juta
s/d paling banyak Rp 500 juta tdk termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha
2. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari
Rp 300 juta s/d paling banyak Rp 2,5 milyar
dgn tdk mengenyampingkan berbagai
definisi tsb. keberadaan pengusaha mikro,
kecil dan menengah, khususnya yang
berskala usaha mikro merupakan wujud
kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat
Indonesia yang berada di bawah garis
kemiskinan.

UKM
Secara umum persoalan lembaga keuangan
di perdesaan dapat diidentifikasikan menjadi
tiga aspek berikut:
1. Masalah akses kredit
2. Posisi tawar dan informasi masyarakat
perdesaan yg sangat rendah
menyebabkan
rawan terhadap praktik manipulasi dari
lembaga keuangan formal/ semi-formal
3. Informasi yang asimetris (asymmetric
information) dari pemberi pinjaman/kredit
terhadap peminjam (borrower).

Pada umumnya, lembaga keuangan di


perdesaan dibedakan dalam tiga jenis: 1.
lembaga keuangan formal
2. lembaga keuangan semi-formal
3. lembaga keuangan mikro.
Lembaga keuangan formal:
Lembaga keuangan tsb secara
operasional diatur dalam UndangUndang perbankan dan disupervisi
oleh bank sentral.

Lembaga keuangan semi-formal: tidak diatur


dalam UU, tetapi disupervisi dan diregulasi
oleh agen pemerintah maupun bank sentral.
LKM beroperasi di luar regulasi dan supervisi
lembaga pemerintah.
LKM bukan sekedar menyediakan uang (cash)
untuk keperluan transaksi, tetapi kadangkadang menyediakan pinjaman dlm bentuk
barang.

Karakter bersifat fleksibel, membuat


LKM memiliki daya tahan yang kuat
untuk hidup di wilayah pedesaan.
(Tidak ada kontrak/ persyaratan
sejumnlah agunan seperti pada
lembaga keuangan formal).
Dengan segala kemudahan inilah
lembaga keuangan mikro sangat
diterima di kalangan perdesaan.

IFRS for SMEs


(Small & Medium sized Enterprises)

IFRS FOR
SMEs

SAK
ETAP

LPD
?
Tujuan untuk memenuhi kebutuhan standar akuntansi:
1. Pengguna (User) Pelaporan Keuangan Entitas swasta
2. Meringankan beban Pelaporan Keuangan Entitas swasta
melalui suatu pendekatan biaya manfaat.

DAFTAR ENTITAS PENGGUNA


SAK UMUM DAN SAK ETAP
NO
A

NAMA ENTITAS
MEMILIKI AKUNTABILITAS PUBLIK SIGNIFIKAN:

Jenis SAK
SAK UMUM

1 Entitas GO PUBLIK
2 Entitas menguasai aset dlm kapasitas

sebagai fidusia untuk sekelompok besar


masyarakat
3 Entitas yang melakukan kegiatan di Pasar

Modal
4 BUMN
B

TIDAK MEMILIKI AKUNTABILITAS PUBLIK


SIGNIFIKAN:

1. Koperasi
2. BPR
3. UKM

SAK ETAP

Perda Provinsi Bali


No. 2 Tahun1988
No. 8 Tahun 2002
Lembaga Peerkreditan Desa (LPD):
- untuk mendukung pembangunan ekonomi
pedesaan melalui peningkatan kebiasaan
menabung masyarakat desa.
- menyediakan kredit bagi usaha skala kecil,
untuk menghapuskan bentukbentuk
eksploitasi dalam hubungan kredit.
- untuk menciptakan kesempatan yang setara
bagi kegiatan usaha pada tingkat desa.
- untuk meningkatkan kesejahteraan daerah
pedesaan.

PERDA
PROVINSI BALI
NO. 3/ 2007
NO. 11/2013

Faktor yang
mempengaruhi praktik
akuntansi
Lingkungan

Ekonomi:
sosial

Politik
Budaya

-Tingkat Pertumbuhan/
Pembagunan,
-Sumber Pendanaan
-Tingkat Inflasi,
-Sistem Perpajakan

Karakteristik SAK ETAP


a. Stand alone accounting standard
(tidak mengacu ke SAK Umum)
b. Mayoritas menggunakan historical cost
concepts
c. Hanya mengatur transaksi yang umum
dilakukan oleh UKM
d. Pengaturan lebih sederhana
1. Alternatif yang dipilih adalah alternatif
yang paling sederhana
2.Penyerdehanaan pengakuan dan
pengukuran
3. Pengurangan pengungkapan
e. Tidak akan berubah selama beberapa tahun

Manfaat SAK ETAP


Dengan adanya SAK ETAP perusahaan
kecil menengah mampu untuk :
1. Menyusun laporan keuangannya sendiri
2. Dapat diaudit
3. Lebih mudah memperoleh pinjaman
untuk tujuan pengembangan usaha

4. Tidak menerbitkan laporan keuangan


untuk tujuan umum (general purpose
financial statement) bagi pengguna
eksternal.
Pengguna eksternal: pemilik yang tidak terlibat
langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur,
dan lembaga pemeringkat kredit.

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN


Penyajian LAPKEU dalam SAK ETAP tidak
berbeda dengan yang diatur dalam PSAK 1:
Penyajian LAPKEU, dimana secara substansi
pengaturan tsb merupakan ringkasan dari
PSAK yang juga mencakup pengaturan
mengenai komponen laporan keuangan.
Perbedaan yg paling mendasar dlm SAK ETAP:
1. Entitas yg menggunakan standar ini harus
mengungkapkan pernyataan bahwa entitas
patuh
secara keseluruhan terhadap SAK ETAP ini
dlm
catatan atas laoran keuangannya.

2. Pengaturan mengenai penyajian


Laporan Keuangan terkait dgn :
kelangsungan usaha, frekuensi
pelaporan, konsistensi penyajian,
informasi komparatif, materialitas,
agregasi dan komponen lengkap
laporan keuangan.
3. Posisi dan kinerja keuangan yg
ada
dlm SAK ETAP secara umum tidak
berbeda dgn ,yaitu Aset ,
Kewajiban,
Ekuitas, Penghasilan dan Beban.

Bagaiman LPD menjadi sebuah


Entitas yg bersedia untuk
menerapkan SAK -ETAP
1. Diperlukan sosialisasi dan kampanye yg
intens tentang pentingnya penyusunan
laporan keuangan secara rutin yg dapat
diaudit dan mendapat opini audit.
2. SAK-ETAP disajikan lebih sederhana,
mudah dimengerti, mudah diperoleh,
murah dan terjangkau.
3. SAK-ETAP yg dikembangkan harus
mendapat pengakuaun Bank dan
pemerintah.

SARANNYA untuk LPD

Penggunaan SAK ETAP pada LPD bisa


menjadikan pelaporan keuangan LPD
menjadi lebih Transparan, Komprehensif,
Relevan dan Realibel.
Selain itu dgn menggunakan SAK ETAP,
LPD sebagai usaha milik desa bisa
dibandingkan dgn usaha-usaha lainnya.
LPD menggunakan dasar pengakuan
accrual basis yg merujuk pd SAK ETAP.

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN

OM SWASTIASTU
ASSALAMWALAIKUM
SALAM
SEJAHTERA

Standar Akuntansi
ETAP
UNTUK
LEMBAGA KEUANGAN

OVERVIEW
STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS
PUBLIK
(SAK ETAP)
SAK ETAP BERLAKU SEJAK TGL 1-12011
Berlaku bagi Lembaga Keuangan
dan Perusahaan menengah ke
bawah (UMKM).

Akuntansi
Akuntansi mengidentifikasi, mengukur, dan
mengkomunikasikan informasi keuangan.
Akuntansi suatu sistem dgn input data/
informasi dgn output informasi dan laporan
keuangan.
Informasi keuangan terkait suatu entitas
shg informasi dikomunikasikan untuk
pemakai dlm pengambilan keputusan

Tujuan Laporan Keuangan


Memberikan infomasi yg menyangkut posisi
keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan
suatu perusahaan yg bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dlm pengambilan keputusan
ekonomi.
Laporan keuangan menunjukkan apa yg telah dilakukan
manajemen (stewardship), dan pertanggung jawaban
sumber daya yg dipercayakan kepadanya.
Memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pemakai.
Menyediakan pengaruh keuangan dari kejadian di masa
lalu dan tidak diwajibkan menyediakan informasi non
keuangan.

SAK ETAP
SAK ETAP: Standar akuntansi keuangan
untuk Entitas

Tanpa Akuntabilitas Publik


ETAP adalah entitas yang:
- Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
- Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum
(general purpose financial statement) bagi
pengguna eksternal.

Menggunakan acuan IFRS untuk Small


Medium Enterprises (SMEs).
Lebih sederhana antara lain:
Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga
perolehan
Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai
investasi dgn metode ekuitas.

Mengacu pd praktik akuntansi yg saat ini

SAK ETAP:
Ketentuan Transisi
SAK ETAP diterbitkan tahun 2009 berlaku efektif

1 Januari 2011 dan dpt diterapkan lebih

awal yaitu 1 Januari 2010.

Diterapkan secara retrospektif, jika tidak


praktis

diperkenankan prospektif.

Prospektif:
- Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP
- Tdk mengakui aset dan kewajiban jika tdk diijinkan oleh SAK
ETAP
- Mereklasifikasi pos-pos yg sebelumnya menggunakan PSAK
lama menjadi pos-pos sesuai SAK ETAP
- Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yg diakui sesuai
SAK ETAP.

ETAP dpt memilih tetap menggunakan PSAK IFRS/


menggunakan SAK ETAP.
Seluruh entitas sampai dgn 31 Desember 2009
menggunakan satu PSAK yaitu PSAK yg berlaku per 31
Desember 2009.
ETAP yg tetap memilih menggunakan PSAK IFRS tidak
boleh dikemudian hari berubah menggunakan SAK ETAP.
Entitas dgn akuntabilitas publik yg kemudian telah
memenuhi persyaratan sebagai ETAP dapat menggunakan
SAK ETAP.
ETAP yg kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka
harus menggunakan PSAK IFRS dan tdk boleh lagi
menggunakan SAK ETAP

Manfaat SAK ETAP


Diharapkan dgn adanya SAK ETAP, perusahaan kecil,
menengah, mampu untuk menyusun laporan
keuangannya sendiri, dpt diaudit dan mendapatkan
opini audit, sehingga dpt menggunakan laporan
keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya
dari Bank) untuk pengembangan usaha.
Lebih sederhana dibandingkan dgn PSAK IFRS
sehingga lebih mudah dlm implementasinya
Tetap memberikan informasi yg handal dlm penyajian
laporan keuangan.

Disusun dgn mengadopsi IFRS for SME dgn


modifikasi sesuai kondisi di Indonesia dan
dibuat lebih ringkas.
SAK ETAP masih memerlukan professional
judgement namun tdk sebanyak untuk
PSAK IFRS.
Dlm beberapa hal tdk ada perubahan
signifikan dibandingkan dgn PSAK lama:
contoh PSAK 16 (1994).

Namun ada beberapa hal yg dimodifikasi


dari IFRS/IAS.

PSAK lama (2006) yg disederhanakan:


- Pilihan pada alternatif standar yg lebih sederhana
- Penyederhaaan pengakuan dan pengukuran
- Mengurangi pengungkapan
- Penyederhanaan

Merupakan standar yg berdiri sendiri secara


keseluruhan (stand alone)

ISI SAK ETAP


BAB

ISI

BA
B

ISI

Ruang Lingkup

16

Aset Tidak Berwujud

Konsep dan Prinsip Pervasive

17

Sewa

Penyajian Laporan Keuangan

18

Kewajiban Diestimasi dan


Kontijensi

Neraca

19

Ekuitas

Laporan Laba Rugi

20

Pendapatan

Laporan Perubahan Ekuitas

21

Biaya Pinjaman

Laporan Arus Kas

22

Penurunan Nilai Aset

Catatan atas Laporan


Keuangan

23

Imbalan Kerja

Kebijakan Akuntansi,
Perubahan Kebijakan
Akuntansi dan Koreksi
Kesalahan

24

Pajak Penghasilan

10

Investasi pada Efek Tertentu

25

Mata Uang Pelaporam

11

Persediaan

26

134
Transaksi dalam Mata Uang

IFRS for SMEs


IFRS for SMEs, merupakan mini Full IFRS
Terdapat pengurangan opsi dan pengungkapan
Tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang
berbeda dengan Full IFRS, kecuali
borrowing cost dibebankan langsung dan tidak
dikapitalisasi, dan terdapat pengaturan mengenai
ekuitas

Target dari IFRS for SMEs adalah perusahaan


menengah ke bawah.

Bab 1
Ruang lingkup
SAK ETAP, dimaksudkan untuk
digunakan oleh Entitas Tanpa
Akuntabilitas Publik (ETAP), yaitu
entitas yang:
1. Tidak memiliki akuntabilitas
publik
signifikan; dan
2. Menerbitkan laporan keuangan
untuk

Laporan keuangan untuk tujuan


umum
Laporan keuangan yang
ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan bersama sebagian
besar pengguna laporan
keuangan, misalnya:
pemegang saham,
kreditor,
pekerja, dan
masyarakat dalam arti luas

Apakah ETAP menyediakan


laporan keuangan untuk tujuan umum?
Lapkeu yg dipersiapkan sesuai dgn SAK
ETAP untuk menyediakan informasi
mengenai posisi keuangan, kinerja dan
arus kas entitas yg berguna untuk
pengguna luas yg tdk dlm posisi
meminta laporan untuk memenuhi
kebutuhan informasi tertentu, misalnya
diberikan kepada:
Bank
Pemilik
Penyandang dana

Bab 2
Konsep dan prinsip pervasif
KDPPLK-nya untuk SAK ETAP
1. Tujuan laporan keuangan
2. Karakteristik kualitatif informasi
dalam

laporan keuangan
3. Posisi keuangan: aset, kewajiban,
dan ekuitas
4. Kinerja keuangan: penghasilan dan
beban
5. Pengakuan unsur-unsur laporan
keuangan
6. Pengukuran unsur-unsur laporan
keuangan

Tujuan Laporan Keuangan


Karakteristik
kualitatif
informasi
dlm
laporan keuangan
- Dapat dipahami, relevan, materialitas,
keandalan, substansi mengungguli
bentuk, pertimbangan sehat,
kelengkapan, dapat dibandingkan, tepat
waktu, keseimbangan antara biaya dan
manfaat
Posisi keuangan: aset, kewajiban, ekuitas,
Kinerja keuangan: pendapatan dan beban
(Matching)
Pengakuan dan pengukuran unsur-unsur
laporan keuangan
Dasar akrual

Prinsip Pervasif

Dlm hal tdk ada pengaturan tertentu


dlm SAK ETAP untuk transaksi/peristiwa
maka entitas harus menetapkan suatu
kebijakan akuntansi yg menghasilkan
informasi yg relevan dan andal bagi
pemakai.

Dlm menetapkan kebijakan akuntansi


entitas dpt menggunakan rujukan
persyaratan dan panduan dlm SAK ETAP
yg terkait dgn isu serupa dan harus
sesuai dgn definisi, kriteria pengakuan
dan pengukuran pervasif dlm Konsep
dan Prinsip Pervasif.

Prinsip Pengakuan
Aset diakui jika manfaat ekonomi dikemudian
hari besar kemungkinan akan mengalir
kepada entitas dan nilainya dapat diukur
secara andal.
Kewajiban diakui jika besar kemungkinan
entitas harus mentransfer sumber daya
dikemudian hari akibat peristiwa masa lalu
dan nilainya dapat diukur dengan andal.
Pengakuan penghasilan dan beban sebagai
akibat langsung pengakuan aset dan
kewajban

Bab 3
Penyajian Laporan Keuangan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penyajian wajar
Kepatuhan terhadap SAK ETAP
Kelangsungan usaha
Frekuensi pelaporan
Penyajian yang konsisten
Informasi komparatif
Materialitas dan agregasi
Identifikasi laporan keuangan

*Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja


keuangan dan arus kas.
*Entitas yg menggunakan SAK ETAP harus secara
eksplisit menyatakan secara penuh atas
kepatuhan terhadap SAK ETAP dlm catatan
laporan keuangan.
*Entitas harus menilai kelangsungan usaha pada
saat menyusun laporan keuangan
*Entitas menyajikan laporan keuangan minimal
satu kali dlm setahun.
*Informasi komparatif dengan periode
sebelumnya dgn keunggulan yg sama
*Pos-pos yg material disajikan terpisah.

Perubahan periode laporan keuangan


sehingga periode laporan berbeda, maka
ETAP mengungkapkan:
Fakta tersebut: Alasan penggunaan periode yg
lebih pendek/lebih panjang
Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dlm
laporan keuangan yg terkait tdk dapat
diperbandingkan.

Penyajian Konsisten

Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus


konsisten, kecuali:
Terjadi perubahan signifikan operasi entitas
atau perubahan tsb menghasilkan penyajian
yg lebih andal dan relevan.
SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian

Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif,


kecuali tdk praktis dpt secara prospektif.
Jika prospektif: diungkapkan sifat
reklasifikasi dan jumlah pos yg
direklasifikasi serta alasannya.

Laporan Keuangan
SAK ETAP

Neraca
Kewajiban
Laporan laba rugi
Laporan perubahan
ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan
keuangan

PSAK 1 Revisi 2009


Laporan posisi keuangan
(neraca)
Liabilitas
Laporan laba rugi
komprehensif
Laporan perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Catatan atas laporan
keuangan
Laporan posisi keuangan
pada awal periode komparatif
untuk penyajian kembali

Penyajian
Laporan laba rugi dan saldo laba
(digabung) dapat disajikan sebagai
pengganti laporan laba rugi dan
laporan perubahan ekuitas, jika
perubahan ekuitas hanya muncul
karena:
*Laba atau rugi
*Pembayaran dividen
*Koreksi kesalahan periode lalu
*Perubahan kebijakan akuntansi

Identifikasi secara jelas setiap komponen


LapKeu.
Informasi berikut, jika perlu, pada setiap
halaman:
>Nama entitas pelapor dan perubahan dlm
nama tsb

sejak laporan periode terakhir


>Tanggal atau periode yg dicakup oleh laporan
keuangan, mana

yg lebih tepat bagi setiap komponen laporan


keuangan;
>Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dlm
Bab 25 Mata

Uang Pelaporan;
>Pembulatan angka yg digunakan dlm penyajian
laporan

keuangan.

Laporan keuangan lengkap


Neraca (Bab 4)
Laporan laba rugi (Bab 5)
Laporan perubahan ekuitas (Bab
6)
Laporan arus kas (Bab 7)
Catatan atas laporan keuangan
(Bab 8)

Neraca
*Penyajian
Klasifikasi aset lancar, aset tidak
lancar
Klasifikasi kewajiban jangka pendek
dan kewajiban jangka panjang
*Kecuali jika memberikan informasi
yang andal dan relevan dapat
berdasarkan likuiditas

Aset Lancar

1. Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset


lancar jika:
a. diperkirakan akan direalisasi/dimiliki
untuk dijual/ digunakan, dlm jangka waktu
siklus operasi normal entitas
b. dimiliki untuk diperdagangkan
c. diharapkan akan direalisasi dlm jangka
waktu 12 bulan setelah akhir periode
pelaporan
d. berupa kas/setara kas, kecuali jika dibatasi
penggunaannya dari pertukaran atau
digunakan untuk menyelesaikan kewajiban
setidaknya 12 bulan setelah akhir periode
pelaporan.
2. Aset lainnya diklasifiaksikan tidak lancar

3. Entitas mengklasifikasikan kewajiban sebagai kewajiban


jangka pendek jika:
a. diperkirakan akan diselesaikan dlm jangka waktu siklus
normal operasi entitas;
b. dimiliki untuk diperdagangkan;
c. kewajiban akan diselesaikan dlm jangka waktu 12
bulan setelah akhir periode pelaporan; atau
d. entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk
menunda penyelesaian kewajiban setidaknya
12 bulan setelah akhir periode pelaporan.
4. Entitas mengklasifikasikan semua kewajiban lainnya
sebagai kewajiban jangka panjang.

Informasi disajikan di Neraca atau CALK

*Kelompok aset tetap


*Jumlah piutang usaha, piutang dari pihak-pihak
yang memiliki hubungan istimewa, pelunasan
dipercepat dan jumlah lainnya
*Rincian persediaan
*Kewajiban imbalan kerja dan kewajiban
diestimasi lainnya
*Rincian kelompok ekuitas seperti modal dasar,
modal disetor, tambahan modal disetor, agio
saldo laba dan pendapatan beban yg diakui
langsung ke ekuitas
*PT: rincian setiap kelompok modal saham dan
penjelasan cadangan ekuitas.
*Bukan PT: diungkapkan rincian informasi modal
yang setara dengan PT

Laporan Laba Rugi


1. Menyajikan laporan laba rugi suatu
periode
.
tertentu yang menunjukan
kinerja keuangan selama periode
tersebut.
. 2. Pos minimal:
a. pendapatan,
b. beban keuangan,
c. bagian laba/rugi investasi dgn
metode

ekuitas
d. laba rugi neto.
. 3. Analisis beban dapat disajikan

Laporan Perubahan Ekuitas


1. Menyajikan:
a. Laba rugi tahun berjalan
b. Pendapatan dan beban yang diakui langsung
dalam ekuitas
c. Pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan
koreksi kesalahan.
d. Rekonsiliasi jumlah tercatat awal dan akhir
periode dari komponen ekuitas.

2. Laporan laba rugi dan saldo laba


(gabungan) dapat disajikan sebagai
pengganti laporan perubahan ekuitas jika
memenuhi syarat SAK ETAP (lihat Bab 3.13
dan 6.4)

Laporan Arus Kas


1. Menyajikan informasi arus kas dari aktivitas operasi,
aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
2. Aktivitas operasi hanya dapat disajikan secara tidak
langsung.
3. Bunga dan dividen harus diungkap secara terpisah
secara konsisten sebagai aktivitas operasi, investasi
atau pendanaan.
4. Pajak penghasilan diungkapkan terpisah sebagai
aktivitas operasi kecuali dapat secara spesifik
diidentifikasi sebagai aktivitas investasi atau
pendanaan.
5. Transaksi non kas tidak dapat disajikan dalam laporan
arus kas.

Catatan Atas Laporan Keuangan


1. Mengungkapkan informasi tambahan yg
.

disajikan dlm LapKeu, yg berisi


informasi narasi atau rincian jumlah
atau informasi yg tidak memenuhi
kriteria pengakuan.
2. Mengungkapkan dasar penyajian
LapKeu dan kebijakan akuntansi yg
digunakan termasuk dasar pengukuran.
3. Mengungkapkan informasi yg
disyaratkan
.
oleh SAK ETAP

4. Memberikan informasi tambahan yg


relevan, namun tidak disyaratkan SAK
ETAP.
5. Informasi tentang sumber utama
ketidakpastian
estimasi.yg digunakan
6.
Dasar pengukuran

dalam

penyusunan LapKeu.
7. Kebijakan akuntansi lain yg
digunakan

yg relevan untuk memahami


LapKeu.

Kebijakan Akuntansi

1. Pemilihan dan penerapan


kebijakan
.
akuntansi
. 2. Perubahan estimasi
. 3. Koreksi kesalahan periode
lalu

1. Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar,


konvensi, aturan dan praktik tertentu yang
diterapkan oleh suatu entitas dalam menyusun dan
menyajikan laporan keuangannya.
2. Jika SAK ETAP secara spesifik mengatur
transaksi, kejadian atau keadaan lainnya, maka
entitas harus menerapkan SAK ETAP.
3. Namun, jika dampak tidak material maka entitas
tidak perlu mengikuti persyaratan dalamSAK ETAP.

Tidak Ada Pengaturan Spesifik

1. Jika transaksi/peristiwa tdk diatur spesifik dlm SAK


ETAP, maka manajemen dgn menggunakan
judgementnya mengembangkan dan menerapkan suatu
kebijakan akuntansi yg menghasilkan informasi:
a. Relevan bagi pemakai untuk kebutuhan
pengambilan keputusan ekonomi; dan
. b. Andal yaitu dlm laporan keuangan yg ;
.
1). menyajikan dgn jujur posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan
.
arus kas dari suatu entitas
.
2). mencerminkan substansi ekonomi dari
transaksi, peristiwa
.
dan kondisi lainnya, serta tidak hanya
mencerminkan bentuk
.
hukumnya
. 3). netral yaitu bebas dari bias
. 4). mencerminkan kehati-hatian
. 5). bersifat lengkap dlm semua hal yg material

2. Acuan dlm membuat pertimbangan (Bab


9.5):

persyaratan dan panduan dalamSAK ETAP yang


berhubungan dgn isu yng serupa dan terkait; dan
definisi, kriteria pengakuan dan konsep
pengukuran untuk aset, kewajiban, pendapatan
dan beban dan prinsip-prinsip pervasif di Bab 2
Konsep dan Prinsip Pervasif.

3. PSAK non ETAP dan panduan tambahan dpt

dijadikan rujukan, namun tidak boleh

bertentangan dengan Bab 9.5

Kebijakan Akuntansi, Estimasi dan


Kesalahan
1. Entitas harus menetapkan kebijakan akuntansi sesuai
SAK ETAP.
2. Kebijakan akuntansi harus konsisten diterapkan.
3. Perubahan kebijakan akuntansi dilakukan jika diminta
oleh SAK ETAP/menghasilkan informasi yg andal dan lebih
relevan.
4. Perubahan dari suatu alternatif yg diijinkan SAK ke
alternatif lain merupakan perubahan kebijakan akuntansi
5. Perubahan kebijakan akuntansi dilakukan sesuai
persyaratan SAK ETAP/secara retrospektif.
6. Perubahan estimasi akuntansi diakui secara prospektif.
7. Kesalahan periode lalu dilakukan secara retrospektif,
jika tidak praktis maka diakui sebagai koreksi saldo awal
aset, kewajiban dan ekuitas paling mungkin dilakukan
koreksi.

Investasi Efek Tertentu


1. Efek: surat berharga utang/ekuitas
2. Bab 10 tidak diterapkan untuk investasi pada
entitas asosiasi, joint venture dan entitas anak
3. Klasifikasi pada saat perolehan berdasarkan
tujuan manajamen:
a. Held to maturity
b. Trading
c. Available for sale
4. HTM disajikan sebesar biaya perolehan
dikurangi amortisasi premi atau diskonto,
perubahan nilai wajar unrealised tidak diakui.
5. Trading disajikan sebesar nilai wajar pada
tanggal neraca dan laba rugi diakui atas
unrealised maupun realised
6. AFS dinilai pada nilai wajar pada tanggal
neraca dan laba rugi unrealised dicatat sebagai

7. Perubahan kelompok:
a. Dinilai pada nilai wajar pada saat perubahan
b. Dari trading ke kelompok lain, maka unrealised

gain loss dicatat sebagai penghasilan dan tidak

boleh dihapus.
c. Ke kelompok trading, maka unrealised gain loss

diakui pada tanggal perubahan


d. Dari HTM ke AFS, maka unrealised gain loss

diakui dalam kelompok ekuitas


e. Dari AFS ke HTM, maka unrealised gain loss tetap

diakui di ekuitas dan diamortisasi sesuai amortisasi

premi dan diskonto

8. Penurunan nilai untuk AFS dan HTM:


a. Apakah penurunan nilai wajar dibawah biaya
.
perolehan terjadi secara permanen atau tidak.
.b. Jika merupakan penurunan permanen maka
.
biaya perolehan diturunkan ke nilai wajarnya
.
dan diakui sebagai biaya perolehan yg baru
.
dan tdk boleh diubah lagi, rugi penurunan nilai
.
diakui dalam laba rugi yg telah direalisasi.
.c. Perlakuan selanjutnya mengikuti SAK yg
. berlaku.

9. Penyajian di neraca (classified


balance sheet):
a. Trading sebagai aset lancar
b. HTM dan AFS sebagai aset lancar atau
tidak lancar berdasarkan keputusan
manajemen, kecuali akan jatuh tempo pada
tahun berikutnya harus sebagai aset lancar.

10.Laporan arus kas:


a. Trading: arus kas operasi
b. AFS dan HTM: arus kas investasi

Persediaan
1. Bab 10 tidak diterapkan untuk WIP kontrak
konstruksi dan efek tertentu
2. Mencakup: aset utk dijual dlm kegiatan usaha
normal, termasuk aset dlm proses produksi,/ bahan/
perlengkapan untuk proses produksi/pemberian jasa.
3. Cost mencakup seluruh biaya pembelian, biaya
konversi dan biaya lain yg terjadi untuk membawa
persediaan ke lokasi dan kondisi sekarang.
4. Diukur pada nilai yg lebih rendah cost atau NPV.

Biaya pembelian:
harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yg
kemudian dpt ditagih kembali kpd otoritas pajak), biaya
pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yg
secara langsung dpt diatribusikan pd perolehan barang
jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, potongan, dan
lainnya yg serupa dikurangkan dlm menentukan biaya
pembelian.
Biaya konversi: overhead produksi tetap dan variabel
Alokasi biaya overhead produksi tetap berdasarkan kapasitas normal.
Joint product dan by product: biaya overhead dialokasikan secara
rasional dan konsisten,.
Jika by product tidak material dinilai pada harga jual
dikurangi biaya penyelesaian dan dikurangkan ke biaya
produk utama.

Tidak dapat diakui sebagai biaya persediaan, sehingga


harus menjadi beban tahun berjalan:
a. biaya bahan tidak terpakai, tenaga kerja dan biaya
.
produksi lainnya yg tidak normal;
b. biaya penyimpanan, kecuali biaya yg diperlukan dlm
.
proses produksi sebelum tahap produksi selanjutnya;
. c. biaya overhead administratif yg tidak berkontribusi untuk
.
membuat persediaan ke kondisi dan lokasi sekarang; dan
. d. biaya penjualan.

Teknik pengukuran biaya dapat menggunakan biaya


standar atau metode eceran.
Rumus biaya : FIFO atau average, LIFO tidak
diperkenankan
Penurunan nilai persediaan diakui sebagai beban
pada saat terjadinya dan setiap tanggal neraca
dilakukan pengujian
Persediaan diakui sebagai beban pada saat
pendapatan terkait diakui.

Investasi pada Asosiasi dan Anak

Entitas asosiasi: investor


mempunyai pengaruh signifikan,
biasanya 20 % hak suara/lebih.
Entitas anak: entitas yg
dikendalikan oleh induk.
Investasi pada entitas asosiasi
dicatat dgn metode cost.
Investasi pada anak dgn metode
ekuitas, dan tidak dibuat laporan
konsolidasian.

Investasi Pada Joint Venture


Joint venture: perjanjian kontraktual
antara beberapa pihak untuk
menjalankan aktivitas ekonomi
Tipe:
PBO
PBA
PBE

Pengendalian bersama: kesepakatan


kontraktual untuk bersama-sama
mengendalikan suatu aktivitas ekonomi
sehingga keputusan strategis diambil
bersama-sama.

PBO:

Masing-masing venturer menggunakan


aktiva tetapnya, dan mengelola sendiri
persediaannya. Masing-masing venturer
juga memikul pengeluarannya,
menyelesaikan kewajibannya serta
mencari sumber pendanaan untuk
aktivitasnya sendiri.
Aset, kewajiban dan beban sendiri dicatat
masing-masing
Perjanjian mengatur pembagian
pendapatan dan beban bersama.

PBA:
Para venturer melakukan pengendalian
bersama dan kepemilikan bersama atas
satu atau lebih aset yg diserahkan oleh
venturer, atau dibeli untuk digunakan dlm
melaksanakan kegiatan joint venture.
Pengendalian bersama dan kepemilikan
bersama atas satu/lebih aset setiap
venturer membukukan bagian aset,
kewajiban, bagian pendapatan dan beban

PBE:
Joint venture yg melibatkan pendirian suatu
perusahaan, persekutuan/entitas lain dimana
setiap venturer memiliki bagian.
Entitas beroperasi dgn cara yg sama dgn entitas
lain, kecuali adanya perjanjian kontraktual antar
venturer untuk membuat pengendalian bersama
atas aktivitas ekonomi tersebut.
Investor mencatat investasi pada PBE at cost
dikurangi rugi penurunan nilai.

Transaksi penjualan dari venturer ke joint


venture:
Pengakuan porsi keuntungan/kerugian harus
mencerminkan substansinya.
Venturer harus mengakui hanya porsi
keuntungan/kerugian yg diatribusikan ke
venturer lainnya.
Venturer harus mengakui seluruh jumlah
kerugian ketika kontribusi/penjualan
memberikan bukti penurunan nilai.
Transaksi penjualan dari joint venturer ke
venturer:
Venturer tdk boleh mengakui bagiannya atas
laba rugi joint venture dari transaksi tsb
sampai dgn venturer menjual kembali aset tsb
kpd pihak independen, kecuali kerugian harus

Properti Investasi
Properti Investasi: tanah dan atau bangunan yg
dikuasai pemilik/lessee sewa pembiayaan yg
disewakan/untuk kenaikan nilai dan bukan untuk
digunakan untuk proses produksi/ penyediaan
jasa/ tujuan administasi/ dijual dlm kegiatan
sehari-hari.
PI dicatat pd nilai perolehan yaitu harga
pembelian dan setiap pengeluaran yg dpt
diatribusikan secara langsung.
Setelah perolehan awal maka PI dicatat pada nilai
perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan
kerugian penurunan nilai (cost model).

Aset Tetap
Aset tetap:
aset berwujud yg dimiliki untuk digunakan dlm
produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk
disewakan ke pihak lain atau untuk tujuan
administratif dan diharapkan digunakan lebih dari
satu periode.
Diakui sebagai aset jika memenuhi prinsip pengakuan.
Pada saat perolehan, aset tetap dicatat sebesar:

>biaya perolehan
>harga beli,
>biaya-biaya yg dpt diatribusikan secara langsung
atas perolehan aset tetap dan
>estimasi awal biaya pembongkaran aset, biaya
pemindahan dan biaya restorasi lokasi.

Jika pembayaran atas perolehan aset


ditangguhkan maka diakui setara nilai
tunainya dan diakui beban keuangan.
Aset tetap setelah perolehan awal dicatat
pada biaya perolehan dikurangi akumulasi
penyusutan dan kerugian penurunan nilai.
Revaluasi aset tetap sesuai dengan ketentuan
pemerintah diperkenankan

Beban penyusutan diakui dalam


laporan laba rugi kecuali sebagai
bagian perolehan aset.
Beban penyusutan dihitung
berdasarkan alokasi sistematis
jumlah yang dapat disusutkan
selama umur manfaat.
Nilai residu tidak diatur
Metode penyusutan harus
mencerminkan ekspektasi pola
penggunaan manfaat ekonomi
masa depan aset.

Metode penyusutan: garis lurus, saldo


menurun atau jumlah unit produksi.
Penurunan nilai diakui pada saat
terjadinya.
Pengeluaran setelah perolehan awal diakui
bila memperpanjang umur manfaat,
meningkatkan kapasitas, mutu, standar
kinerja atau manfaat ekonomi lainnya.
Aset tetap dihentikan pengakuannya pada
saat dilepaskan atau tidak ada manfaat
ekonomi di masa depan yang diekspektasi
dari penggunaan atau pelepasannya.

Aset Tidak Berwujud


Yaitu aset non moneter yg dpt
diidentifikasi dan tidak mempunyai
wujud fisik.
Syarat identifikasi:
Dapat dipisahkan dari aset
lainnya/terbagi terpisah/dpt dijual,
dialihkan, dilisensikan,
disewakan/ditukarkan baik
invidual/bersama.
Muncul dari hak kontraktual/hak
hukum lainnya.

Dapat diakui jika memenuhi prinsip


pengakuan.
Aset tidak berwujud pada saat perolehan
diukur pada biaya perolehannya.
Aset tidak berwujud dihasilkan secara
internal tidak diakui dan pengeluaran tsb
dicatat sebagai beban.
Pengeluaran yg awalnya diakui sebagai
beban tidak boleh diakui sebagai bagian
perolehan aset tidak berwujud dikemudian
hari.
Aset tidak berwujud setelah perolehan
diukur pada nilai perolehan dikurangi
akumulasi amortisasi dan rugi penurunan
nilai.

Telaah ulang atas umur dan metode amortisasi


dilakukan pada saat terdapat indikasi perubahan
terkait dengan aset, jika berubah maka
mengikuti perubahan sebagai estimasi
akuntansi.
Rugi penurunan nilai diakui pada saat terjadinya.
Aset tidak berwujud dihentikan pada saat
dilepaskan atau tidak ada lagi manfaat ekonomi
masa depan atas penggunaan atau pelepasan.

Sewa
Klasifikasi sewa tergantung pada substansi
transaksi dan bukan bentuk hukumnya.
Sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan
secara substansi seluruh manfaat dan
risiko kepemilikan aset kepada lessee,
jika tidak maka sebagai sewa operasi.
Klasifikasi sewa dilakukan pada awal sewa dan
tidak berubah selama masa sewa kecuali
lessee dan lessor sepakat mengubah
persyaratan sewa sehingga klasifikasi sewa
harus dievaluasi ulang.

Sewa Pembiayaan jika salah satu:


Pengalihan kepemilikan aset sewaan pada
akhir masa sewa
Opsi untuk membeli aset dgn harga yg cukup
rendah
Masa sewa mencakupmin. 75% umur ekonomis
aset
Nilai Pembayaran Sewa Minimum mencakup
minimal 90% semua Nilai Wajar Aset
Aset bersifat khusus

Sewa Pembiayaan Laporan


Keuangan Lessee
Mencatat aset dan kewajiban sebesar nilai tunai
pembayaran sewa ditambah nilai residu
Mencatat depresiasi selama umur manfaat aset
atau masa sewa. Bila tidak ada pengalihan: yang
lebih rendah antara masa sewa dan umur
manfaatnya
Pembelian aset sewaan sebelum berakhirnyamasa
sewa menyebabkan keuntungan atau kerugian
Tingkat diskonto: tingkat bunga yang dibebankan
lessor atau tingkat bunga yang berlaku pada awal
sewa
Mencatat pembayaran minimum
- Pelunasan kewajiban

Mencatat perolehan aset


Menyewakan aset dan mencatat
investasi neto
Penanaman neto sewa =
jumlah piutang sewa + nilai residu
pendapatan sewa belum diakui
Mencatat pendapatan sebagai tingkat
pengembalian berkala atas Investasi
Neto Sewa

Sewa Operasi
Lessee:
Tidak mencatat aset sewaan
Mencatat beban sewa secara straight line

Lessor:
Mencatat aset sewaan (termasuk
depresiasi)
Mencatat penerimaan secara straight line

Sale and Leaseback


2 transaksi terpisah
Menimbulkan keuntungan atau
kerugian ditangguhkan
Amortisasi keuntungan/kerugian:
- Proporsional dengan beban
depresiasi aset sewaan (Sewa
Pembiayaan)
- Proporsional dengan beban sewa
(Sewa Operasi)

Kewajiban Diestimasi dan


Kontinjensi
Kewajiban diestimasi diakui jika entitas mempunyai
kewajiban kini akibat peristiwa masa lalu dan entitas
besar kemungkinan harus mentrasnfer manfaat
ekonomi pada saat penyelesaian dan nilainya dapat
diukur dengan andal.
Dicatat sebagai hasil estimasi terbaik atas
pengeluaran yang diperlukan untuk menyelesaikan
kewajiban kini pada tanggal neraca.
Diukur pada nilai kini jika dampaknya material.
Kewajiban dan aset kontinjensi tidak diakui karena
tidak memenuhi prinsip pengakuan.

Ekuitas

Menggunakan PSAK 21 1994 dgn beberapa


penyesuaian.
Bentuk hukum entitas:
- Entitas perorangan
- Persekutuan perdata
- Firma
- CV
- PT
- Koperasi
Klasifikasi instrumen keuangan: ekuitas atau
kewajiban
Akuntansi ekuitas untuk bukan PT adalah sesuai
ketentuan hukum yg berlaku dan SAK yg relevan.
Akuntansi ekuitas untuk PT dicatat sesuai SAK
ETAP.

Pendapatan
Macam :
- Penjualan barang:
- Penyediaan jasa
- Kontrak kontruksi
- Penggunaan aset oleh pihak lain yg menghasilkan
dividen, bunga atau royalti
Pendapatan diukur pada nilai wajar atas pembayaran

diterima atau masih harus diterima setelah diskon

dan potongan volume.


Perbedaan nilai kini dengan nilai nominal pembayaran

diakui sebagai pendapatan bunga


Pertukaran barang dan jasa yg sejenis dan bernilai

sama tidak diakui sebagai pendapatan.


Kontrak konstruksi: metode persentase penyelesaian

Pendapatan Penjualan Barang


Risiko dan manfaat signifikan telah dialihkan
ke pembeli
Entitas tidak mempertahankan/ meneruskan
baik keterlibatan manajerial sampai berupa
kepemilikan/ pengendalian efektif atas
barang
Jumlah pendapatan terukur andal
Manfaat ekonomi besar kemungkinan
mengalir kepada entitas
Biaya telah atau akan terjadi sehubungan
dgn transaksi dapat diukur dgn andal

Pendapatan Jasa
Diakui jika hasil transaksi penyediaan jasa dapat
diestimasi secara andal, dgn metode persentase
penyelesaian pada akhir periode pelaporan.
Estimasi secara andal jika memenuhi semua kondisi
sbb:
-Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal
-Ada kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomis yg
berhubungan dgn transaksi akan mengalir kpd entitas
-Tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode
pelaporan dapat diukur secara andal
-Biaya yg terjadi dlm transaksi dan biaya penyelesaian
transaksi dapat diukur secara andal.

Bunga, Royalti, Dividen


Diakui pada saat syarat pengakuan terpenuhi:
- Kemungkinan manfaat ekonomi akan
mengalir ke entitas
- Dapat diukur andal
Bunga secara akrual
Royalti dengan dasar akrual sesuai substansi
perjanjian
Dividen diakui ketika hak pemegang saham
untuk menerima pembayaran sudah terjadi

Biaya Pinjaman
Biaya pinjaman diakui sebagai beban
pada periode terjadinya.
Termasuk:
- Bunga cerukan bank dan pinjaman
jangk apendek panjang
- Amortisasi diskonto atau premi
pinjaman
- Amortisasi biaya tambahan pinjaman
- Beban pembiayaan sewa pembiayaan
- Perbedaan nilai tukar dari pinjaman
mata uang asing yang dianggap
sebagai penyesuaian terhadap biaya
bunga.

Impairment
Penurunan nilai pinjaman dan piutang
dinilai sebesar estimasi kerugian yg tidak
dapat ditagih.
Persediaan: harga jual dikurangi biaya
menyelesaikan dan menjual
Pemulihan penurunan nilai diakui maksimal
sebesar rugi yg telah diakui.
Entitas harus menilai pada setiap tanggal
laporan apakah terjadi indikasi bahwa ada
aset yg turun nilainya.
Indikasi: sumber informasi eksternal atau
sumber informasi internal.

Imbalan Kerja
Diakui sebagai kewajiban dikurangi jumlah yg
telah dibayar.
Diakui sebagai beban, kecuali disyaratkan
lain.
Imbalan paska kerja jangka panjang dihitung
berdasarkan projected unit credit, jika
tidak mampu dpt menggunakan yg
disederhanakan dgn mengabaikan beberapa
faktor yaitu tingkat kenaikan gaji, jasa yg
akan datang, dan mortalitas pekerja.

Pajak Penghasilan
Diakui berdasarkan kewajiban
pajak periode berjalan dan periode
sebelumnya yg belum dibayar.
Jika terdapat kelebihan bayar maka
diakui sebagai aset.
Pajak tangguhan tidak diatur.
Akuntansi pajak
SPT tetap menggunakan kebijakan
sesuai peraturan perpajakan.

SAK ETAP:
Mata Uang Pelaporan
-Menggunakan mata uang rupiah.
-Entitas dapat menggunakan mata uang lain
sepanjang memenuhi sbg mata uang
fungsional.
-Mata uang pencatatan harus sama dgn mata
uang pelaporan.
-Mata uang fungsional: indikator arus kas,
indikator harga jual, indikator biaya.
-Penentuan saldo awal untuk pencatatan
akuntansi dilakukan dgn mengukur seolaholah mata uang fungsional telah digunakan
sejak terjadinya transaksi.
-Laporan keuangan harus disajikan kembali
jika entitas merubah mata uang pelaporan.

Transaksi Dlm Mata Uang Asing


Transaksi dlm mata uang asing dicatat pd
pengakuan awal dgn menggunakan kurs

tunai pada tanggal transaksi.


Pada akhir periode pelaporan , entitas harus
melaporkan pos moneter dgn kurs tanggal
neraca, dan pos non moneter yg diukur pd
nilai wajar maka dicatat dengan kurs pd
tanggal nilai wajar.
Gain loss diakui pd beban tahun berjalan,

gain loss yg terkait langsung dgn transaksi


ekuitas dibebankan ke ekuitas.

Post Balance Sheets


Dua jenis peristiwa setelah tanggal
neraca
1. Peristiwa setelah tanggal laporan yg
.
memerlukan penyesuaian
.2. Peristiwa yg tdk memerlukan
penyesuaian.
Dividen yg diumumkan setelah tanggal
laporan tidak boleh diakui sebagai
kewajiban pd akhir perode laporan.

SAK ETAP:
Pihak Hubungan Istimewa
Pengungkapan ralated party termasuk
hubungan entitas induk dgn anak.
Pengungkapan kompensasi personel
manajemen kunci
Pengungkapan transaksi pihak yg
mempunyai hubungan istimewa.
Entitas tidak boleh menyatakan: transaksi
tsb dilakukan setara dgn pihak yg faham
dan berkeingingan untuk melakukan
transaksi kecuali syarat tsb dapat
dibenarkan.

Perbedaan SAK ETAP vs PSAK IFRS


Materi SAK ETAP lebih sederhana sedangkan PSAK
IFRS complicated dan rumit.
SAK ETAP cenderung menggunakan basis
stewardship sbg pertanggungjawaban pengelola
kpd stakeholder shg cenderung menggunakan
prinsip reliability, sedangkan PSAK IFRS telah
bergeser untuk pemenuhan user dlm pengambilan
keputusan sehingga cenderung menggunakan
prinsip relevan.

SAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan


SAK ETAP hanya menggunakan metode tidak
langsung untuk laporan arus kas.
SAK ETAP menggunakan cost model untuk
investasi ke asosiasi dan menggunakan
metode ekuitas untuk anak perusahaan.
SAK ETAP tidak secara penuh menggunakan
PSAK 50/55.
SAK ETAP hanya menggunakan model cost
untuk aset tetap, aset tidak berwujud dan
properti investasi. PSAK-IFRS boleh memilih
cost model atau model reavaluasi.

IFRS for SMEs


IFRS for SMEs, merupakan mini Full
IFRS
Terdapat pengurangan opsi dan
pengungkapan

Tidak terdapat pengakuan dan


pengukuran yang berbeda dengan
Full IFRS, kecuali
borrowing cost dibebankan langsung
dan tidak dikapitalisasi, dan
terdapat pengaturan mengenai
ekuitas

Target dari IFRS for SMEs adalah

Rerangka konseptual
KDPPLK

SAK ETAP

Tujuan laporan keuangan

Sama

Karakteristik kualitatif laporan


keuangan
Unsur-unsur laporan keuangan

Sama

Konsep pengakuan

Sama

Konsep pengukuran:
biaya historis
biaya kini
nilai realisasi bersih
nilai sekarang
Konsep pemeliharaan modal

Konsep pengukuran:
biaya historis
nilai wajar

Sama

Tidak ada

Penyajian Laporan
Keuangan
SAK UMUM

SAK ETAP

Kepatuhan terhadap SAK


Pengungkapan atas PSAK
misleading
Komponen laporan keuangan:
Lap posisi keuangan/neraca
Lap laba rugi komprehensif
Lap perubahan ekuitas
Lap arus kas
Catatan atas laporan
keuangan

Kepatuhan

Tanggung jawab atas lapkeu


Dasar akrual & kelangsungan
usaha

Tidak ada
Sama

terhadap SAK ETAP

Komponen laporan keuangan:


Neraca
Lap laba rugi
Lap perubahan ekuitas
Lap arus kas
Catatan atas laporan
keuangan

SAK UMUM

Neraca
Pos minimal yang disajikan
Klasifikasi aset dan liabilitas
Pengungkapan

SAK ETAP

Neraca
Pos minimal yang disajikan
lebih sedikit
Sama
Pengungkapan lebih
sederhana
Laporan laba rugi komprehensif Laporan laba rugi
Laba rugi dan pendapatan
Laba rugi
kompresensif lain
Pos minimal
Pos minimal lebih sedikit

SAK UMUM

SAK ETAP

Laporan perubahan ekuitas


Laporan perubahan ekuitas
Pos minimal
Pos minimal lebih sedikit
Pengungkapan distribusi dividen dan Tidak ada
dividen per saham
Tidak diperkenankan
Laporan perubahan ekuitas dan
saldo laba dapat menggantikan lap
laba rugi dan lap perubahan ekuitas
Laporan arus kas
Arus kas operasi disajikan dengan
metode langsung atau tidak
langsung
Arus kas valas, bunga & dividen,
pajak penghasilan, investasi pada
entitas anak, ventura bersama &
entitas asosiasi, perubahan
kepemilikan, dan transaksi nonkas
Kas yang dibatasi

Laporan arus kas


Arus kas operasi disajikan dengan
metode tidak langsung
Arus kas bunga & dividen, pajak
penghasilan, dan transaksi nonkas
Tidak ada

SAK UMUM

SAK ETAP

Catatan atas laporan keuangan Catatan atas laporan keuangan


Kebijakan akuntansi
Kebijakan akuntansi
Sumber estimasi
Sumber estimasi
ketidakpastian
ketidakpastian
Modal
Dividen dan informasi umum
entitas

Laporan Keuangan
Konsolidasian
SAK UMUM
Laporan keuangan
konsolidasian
Laporan keuangan tersendiri
(lampiran dari laporan
keuangan konsolidasian)
Konsolidasi entitas bertujuan
khusus

SAK ETAP
Tidak menyusun laporan
keuangan konsolidasian

Kebijakan Akuntansi, Estimasi


Akuntansi dan Kesalahan
SAK UMUM

SAK ETAP

Kebijakan akuntansi
Pemilihan kebijakan akuntansi
PSAK serupa
Conceptual framework
Other pronouncements,
literatur dan praktik

Kebijakan akuntansi
Pemilihan kebijakan akuntansi
Bagian SAK serupa
Conceptual framework
SAK umum
Other pronouncements,
literatur dan praktik
Dampak penerapan PSAK yang Tidak ada
akan berlaku
Estimasi akuntansi

Sama

Kesalahan

Sama

Instrumen Keuangan
SAK UMUM
Instrumen keuangan

SAK ETAP
Efek yang diperdagangkan
(marketable securities)

Diukur pada nilai wajar

melalui laporan laba rugi

Tersedia untuk dijual

Dimiliki hingga jatuh tempo


Pinjaman yang diberikan
dan piutang

Maksud dan kemampuan

Diperdagangkan
Tersedia untuk dijual
Dimiliki hingga jatuh tempo

Maksud

Persediaan
SAK UMUM

SAK ETAP

Biaya perolehan atau nilai


realisasi neto (mana lebih
rendah)
FIFO dan rata-rata tertimbang

Sama

Persediaan pialang-pedagang
komoditi menggunakan fair
value
Persediaan pemberi jasa

Tidak ada

Sama

Sama

Investasi pada Entitas


Asosiasi
SAK UMUM

SAK ETAP

Pengaruh signifikan
Pengaruh signifikan
Faktor kuantitatif dan kualitatif Faktor kuantitatif
Hak suara potensial
Tidak ada
Metode ekuitas

Metode biaya

Investasi pada entitas asosiasi Tidak ada


yang tersedia untuk dijual

Investasi pada Joint Venture


SAK UMUM

Pengendalian bersama operasi


Pengendalian bersama aset
Pengendalian bersama entitas
Metode ekuitas atau
proporsional konsolidasi

SAK ETAP

Pengendalian bersama operasi


Pengendalian bersama aset
Pengendalian bersama entitas
Metode biaya

Investasi pada Entitas Anak


SAK UMUM
Pengendalian, termasuk entitas bertujuan
khusus

SAK ETAP
Pengendalian, tidak mengatur entitas
bertujuan khusus

Metode ekuitas dan harus dikonsolidasikan

Metode ekuitas dan tidak dikonsolidasikan

Transaksi pelepasan kepemilikan tetapi tidak Tidak ada


menyebabkan hilangnya pengendalian
(transaksi ekuitas)

Properti Investasi dan Aset


Tetap
SAK UMUM

SAK ETAP

Properti investasi
Model biaya
Model nilai wajar

Properti investasi
Model biaya

Aset tetap
Model biaya
Model revaluasi

Aset tetap
Model biaya (revaluasi
harus ada izin pemerintah)

Aset Tidak Berwujud


SAK UMUM

SAK ETAP

Berasal dari internal dan


eksternal
Umur manfaat terbatas
dan tidak terbatas

Berasal dari eksternal

Goodwill

Tidak ada

Model biaya dan model


revaluasi

Model biaya

Umur manfaat terbatas

Sewa
SAK UMUM

SAK ETAP

Perjanjian sewa dan perjanjian Perjanjian sewa


mengandung sewa
Klasifikasi sewa: indikator dan
situasi yang memerlukan
judgment

Klasifikasi sewa: indikator yang


tidak perlu judgment
(pengalihan aset, opsi beli, min
75% umur ekonomis, min 90%
nilai wajar, dan aset bersifat
khusus)

Jual dan sewa-balik (sale and


leaseback)

Tidak ada

Sewa dan sewa lanjut (lease


and sublease)

Tidak ada

Kewajiban Diestimasi (Provisi) dan


Kontinjensi, Ekuitas, dan Pendapatan
SAK UMUM

SAK ETAP

Kewajiban diestimasi (provisi), Sama


aset kontinjensi, dan kewajiban
kontinjensi
Ekuitas

Sama

Pendapatan penjualan barang


dan jasa

Sama

Biaya Pinjaman dan Penurunan


Nilai
SAK UMUM

SAK ETAP

Biaya pinjaman dikapitalisasi

Biaya pinjaman dibebankan

Penurunan nilai
Instrumen keuangan:
incurred loss

Penurunan nilai
Pinjaman yang diberikan dan
piutang: expected loss (aging
schedule)
Tidak ada

Goodwill dan aset tidak


berwujud dengan umur
manfaat tidak terbatas
Unit penghasil kas

Tidak ada

Imbalan Kerja
SAK UMUM

SAK ETAP

Imbalan kerja jangka pendek

Imbalan kerja jangka pendek

Imbalan pasca kerja

Imbalan pasca kerja,


perhitungan lebih sederhana

Imbalan kerja jangka panjang


lainnya
Pesangon pemutusan kerja

Imbalan kerja jangka panjang


lainnya
Pesangong pemutusan kerja

Imbalan berbasis saham

Tidak ada

Pajak Penghasilan
SAK UMUM

SAK ETAP

Konsep pajak tangguhan (deferred Konsep pajak terutang (tax


tax concept)
liability concept)
Laba fiskal dan laba akuntansi

Laba fiskal

Aset dan liabilitas pajak


tangguhan

Utang pajak

Mata Uang Pelaporan dan Transaksi Valas


SAK UMUM

SAK ETAP

Mata uang pelaporan: rupiah


atau mata uang asing

Mata uang pelaporan: rupiah


atau mata uang asing

Transaksi valas: kurs tanggal


transaksi

Transaksi valas: kurs rata-rata


bulanan (mingguan)

Mata Uang Pelaporan dan Transaksi


Valas
SAK UMUM

SAK ETAP

Mata uang pelaporan: rupiah


atau mata uang asing

Mata uang pelaporan: rupiah


atau mata uang asing

Transaksi valas: kurs tanggal


transaksi

Transaksi valas: kurs rata-rata


bulanan (mingguan)

SESI
TANYA DAN
JAWAB

THE IMPORTANT THING IS NOT TO


STOP REQUESTIONING
ALBERT EINSTEIN