Anda di halaman 1dari 62

BEBERAPA KETENTUAN HUKUM YANG

BERHUBUNGAN DENGAN PELAYANAN DOKTER


DALAM BIDANG
KEDOKTERAN FORENSIK
I. PENDAHULUAN
lmu Kedokteran Forensik disebut juga Forensic Medicine Science atau Ilmu
Kedokteran Forensic, merupakan cabang ilmu kedokteran yang banyak
berhubungan dengan bidang hukum. Pengetahuan ini tidak saja harus
diketahui oleh kalangan kedokteran (yang memberi bantuan), tetapi juga harus
dipelajari oleh kalangan yang memakai bantuan dokter tersebut yaitu kalangan
penegak hukum : polisi, jaksa, hakim, pembela dan lain-lain.
Seorang dokter selain kewajibannya dalam bidang kesehatan yaitu untuk
mengobati, mencegah berjangkitnya penyakit dan rehabilisasi, ada tugas lain
lagi yang dibebankan kepadanya yaitu membantu pihak penegak hukum
dalam menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai contoh ialah terlibatnya dokter dalam membantu tegaknya hukum;
dan keadilan, sebagai saksi ahli dalam sidang pengadilan, karena seorang
hakim, jaksa atau penuntut umum tidaklah mungkin mengetahui seluruh ilmu,
untuk dipakai nantinya dalam memutuskan perkara kriminil, yaitu yang
berhubungan dengan kekerasan terhadap tubuh manusia seperti kecelakaan
lalu lintas, perkosaan, pembunuhan anak dan lain-lain yang mana hal ini lebih
banyak diketahui oleh dokter.

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP


KEDOKTERAN FORENSIK
Cabang ilmu Kedokteran semula bernama Medicolegal Science di
berbagai negara namanya disesuaikan. Dalam perkembangannya
muncul istilah Forensic Medicine. Forensic berasal dari kata forum,
yaitu tempat berlangsungnya sidang peradilan pada zaman Romawi,
dan medicine berarti kedokteran. Istilah lain yang dipakai ialah Legal
medicine, Medical Jurisprudence, Gerichtliche Medizine, Gerechtelijke
Geneeskunde, Medicine Forensic, Medico-Legal dan lain-lain.
Sejak awal tahun 1990 para ahli ilmu kedokteran forensikdi Indonesia,
mulai mempopulerkan nama ilmu Kedokteran Forensik. Ahli dalam
bidang ini merasa lebih tepat memakai istilah Kedokteran Forensik
ketimbang Kedokteran Kehakiman. Alasannya antara lain: tidak semua
bantuan yang diberikan akan sampai ke pengadilan (kehakiman),
sebagian hanya sampai di tingkat penyidikan, di samping itu
pemakaian istilah kehakiman dapat menyesatkan, karena sebutan
dokter kehakiman dapat menimbulkan asosiasi sebagai dokter yang
bekerja di Departemen Kehakiman.

Ada berbagai pengertian yang dikemukakan oleh ahli Kedokteran


Forensik, di antaranya Sidney Smith mendefinisikan "Forensic
medicine may be defined as the body of medical and paramedical
scientific knowledge which may services in the administration of the
law", yang maksudnya ilmu Kedokteran Forensik merupakan
kumpulan ilmu pengetahuan medis yang menunjang pelaksanaan
penegakan hukum.
Tjokronegoro (1952) sesepuh ahli bidang ini di Indonesia
mendefinisikan ilmu kedokteran forensikadalah ilmu yang
mempergunakan ilmu Kedokteran dan yang dipakai dalam
menyelesaikan perkara kehakiman.

SEJARAH ILMU KEDOKTERAN FORENSIK


Secara kronologis sejarah ilmu kedokteran forensik itu dibagi kepada dua periode
yakni :
1. Periode awal, yaitu beberapa ribu tahun yang lalu.
Pada masa ini kita lihat :
belum ada pemisahan secara khusus ilmu kedokteran forensik
belum ada bantuan yang jelas dalam ilmu kedokteran oleh ahlinya
Belum ada tulisan tentang pengajaran / pendidikan ilmu kedokteran forensik
2. Periode baru perkembangan ilmu kedokteran forensik
Pada masa ini ilmu kedokteran forensiktelah muncul sebagai suatu disiplin
yang kemudian berkembang dengan pesat yang dapat dipelajari secara
sistematis.
Orang pertama yang bertindak sebagai ahli forensik adalah Imhotep, seorang
bangsa Mesir (2980-2900 SM), dimana ia bertindak sebagai dokter dan sekaligus
sebagai ketua pengadilan pada jaman Pharaoh Zoser. Tahun 1700 S.M. Raja
Hamurabi dari Babylonia mengeluarkan apa yang disebut Legal Code yang
menyangkut perbuatan dokter.

Dan juga pada masa Raja Hamurabi ini para dokter berperan dalam
menyelesaikan
perkara-perkara
sosial
seperti
perzinaan,
abortus,
penganiayaan, perkosaan, pembunuhan dan lain-lain.
Di Yunani, tahun 460-355 S.M. hipocrates menganjurkan agar abortus
provakatus dilakukan selama 40 hari, karena roh masuk tubuh janin pada hari
ke empat puluh. Juga pada masa ini Hipocrates mengemukakan etika
kedokteran yang disebut sebagai Sumpah Hipocrates.
Pada waktu mulai berkembangannya ilmu kedokteran dengan pesatnya
Eropah, melalui pusat-pusat pendidikan di Sakerno, Mountpllier, Padua,
Leyden, Paris dan London serta tempat-tempat lain di Eropah daratan
Universitas Edinburg pada ketika itu telah mengembangkan pendidikan
pengajaran ilmu kedokteran forensik.
Tahun 1789 Prof. Andrew Duncan memberikan penyajian ilmu kedokteran
forensik secara sistematis untuk pertama kalinya di beberapa fakultas
kedokteran di Inggris. Di Inggris, Scotlandia dan Irlandia pada tahun 1875 di 23
fakultas kedokteran di negara tersebut telah mempunyai seorang dosen yang
memberikan kuliah Forensic Medicine. Pada tahun 1807, Raja Inggris dengan
resmi mendirikan dan melantik staf dari Bagian Forensic Medicine di
Universitas Edeinburg.
Di Indonesia peranan ilmu ini sudah dikenal sejak lama tetapi baru sesudah
tahun enam puluhan baru berkembang, dan ini dimulai di Fakultas-fakultas
kedokteran dan rumah sakit yang dipakai untuk pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran.

BEBERAPA KETENTUAN HUKUM YANG


BERHUBUNGAN DENGAN PELAYANAN DOKTER
DALAM BIDANG
KEDOKTERAN FORENSIK

Pasal 133
Ayat 1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban: baik luka, keracunan
ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan
tindak
pidana,
ia
berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kedokteran
kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.
ayat 3.
Mayat yang dikirm kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dokter pada rumah sakit
harus di perlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat, tersebut dan diberi
label yang memuat identitas mayat, dilak dengan
diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki
atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134 KUHAP


ayat 1.

Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk


keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin
lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan
terlebih dahulu kepada, keluarga korban.
ayat 2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib
menerangkan dengan sejelas jelasnya tentang
maksud
dan
tujuan
perlu
dilakukannya
pembedahan tersebut.
ayat 3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan
apapun dan keluarga juga pihak yang perlu
diberitahu tidak diketemukan penyidik segera
melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 135 KUHAP


Dalam hak penyidik untuk kepentingan peradilan perlu
melakukan penggalian mayat, dilaksanakan menurut
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat
(2) dan pasal 134 ayat 1) undang-undang ini.

Pasal 136 KUHAP


Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan
pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam
Bagian
Kedua Bab XIV di tanggung oleh negara.

YANG BERHAK MEMINTA VISUM


Yang-berhak meminta visum adalah penyidik
Menurut pasal 6 KUHAP berbunyi
ayat 1. Penyidik adalah :
a. Pejabat Polisi negara Republik Indonesia
b.. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus
oleh undang-undang.
ayat 2. Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan.

Pasal 10 KUHAP
ayat

ayat

1. Penyidik pembantu adalah pejabat


kepolisian negara Republik Indonesia
yang diangkat oleh Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia berdasarkan
syarat kepangkatan dalam ayat (2) pasal
ini.
2. Syarat kepangkatan sebagaimana
tersebut pada ayat (1) diatur dengan
peraturan Pemerintah.

Pasal 11 KUHAP
Penyidik pembantu mempunyai wewenang
seperti tersebut dalam pasal (7) ayat 1,
kecuali mengenai penahanan yang wajib
diberikan dengan pelimpahan wewenang
penyidik.

WEWENANG PENYIDIK DALAM PENYILIDIPAN


Sesuai
dengan
keputusan
Hankam/Pangab
No.
Ke/B/17/IV/1974 tanggal 13 Juni 1974 antara lain ditentukan
sebagai berikut :

Penyidikan adalah tindakan selama pemeriksaan


pendahuluan untuk mencari bukti-bukti tentang tindak
pidana.
Penyidikan dilakukan oleh penyidik dan pembantu
penyidik.
Penyidik dijabat oleh pejabat Kepolisian Negara yang
berpangkat Sersan Dua sampai dengan Sersan Mayor
dan anggota Kepolisian khusus yang atas usul
Komandan atau Kepala Jawatan Instansi Sipil
Pemerintah yang diangkat Kapolri.

Untuk kepentingan penyidikan antar alain pasal 13


undang-undang No. 13/1961 (sesuai ketentuan pasal 13
keputusan Menhankam/Pangab) maka polisi/penyidik
berwenang sebagai berikut :

mendatangkan ahli
Melakukan penyitaan barang bukti untuk dijadikan
barang bukti
Mengambil tindakan-tindakan lain yang perlu
dalam hubungannya dalam pemeriksaan perkara.

SANKSI HUKUM TERHADAP YANG MENGHALANGHALANGI ATAU MENOLAK MEMBANTU


PIHAK PERADILAN.
Pasal 222 KUHP
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalangi atau
menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan atau denda sebanyakbanyaknya tiga ratus ribu rupiah.

Pasal 224 KUHP


Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi
saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak menjalankan
suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankan dalam
kedudukan tersebut diatas
ke. I. Dalam perkara pidana, dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya 9 bulan.
ke,.2, Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya enam bulan.

Pasal 216 KUHP


Ayat 1.

Barang siapa dengan sengaja tidak menurut


perintah atau permintaan keras yang dilakukan
menurut peraturan undang-undang oleh pegawai
negeri yang diwajibkan atau dikuasakan mengusut
atau memeriksa tindak pidana, demikian juga
barang siapa yang dengan sengaja mencegah
menghalang-halangi atau menggagalkan suatu
pekerjaan yang disahkan oleh salah seorang
pegawai negeri itu untuk menjalankan suatu
peraturan undang-undang, dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya empat bulan
dua minggu atau denda sebanyak-banyaknya
enam ratus rupiah.

SAKSI WAJIB MENGUCAPKAN SUMPAH


Pasal 160 KUHP
ayat 3.

Sebelum memberi keterangan, saksi wajib


mengucapkan sumpah atau janji menurut
agamanya masing-masing, bahwa ia akan
memberikan keterangan yang sebenarya dan
tidak lain dari pada yang sebenarnya.]

ayat 4.

Jika pengadilan menganggap perlu, seorang


saksi atau, ahli wajib bersumpah atau berjanji
sesudah saksi atau ahli itu selesai memberi
keterangan.

Pasal 161 KUHAP


ayat 1.

Dalam hal saksi atau ahli tanpa alasan yang sah


menolak
untuk
bersumpah
atau
berjanji
sebagaimana dimaksud dalam pasal 160 ayat 3 dan
ayat 4, maka pemeriksaan terhadapnya tentu,
dilakukan, sedang ia dengan surat penetapan hakim
ketua sidang dapat dikenakan sandera ditempat
rumah tahanan negara paling lama empat belas hari.

ayat 2.

Dalam hal tenggang waktu penyanderaan tersebut


telah lampau dan saksi atau ahli tetap tidak mau
disumpah
atau
mengucapkan
janji,
maka
keterangan, yang telah diberikan merupakan
keterangan yang dapat menguatkan keyakinan
hakim.

Pasal 162 KUHAP


ayat 1.

Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam


penyidikan meninggal dunia atau karena halangan
yang sah tidak dapat hadir disidang atau tidak
dipanggil karena jauh tempat kediaman atau
tinggalnya atau karena sebab lain yang
berhubungan dengan kepentingan negara, maka
keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan.

ayat 2.

Jika keterangan itu sebelumnya telah diberikan


dibawah sumpah, maka keterangan itu disamakan
nilainya dengan keterangan saksi dibawah
sumpah yang diucapkan disidang.

VISUM ET REPERTUM DAN KESAKSIAN


Dalam undang-undang ada sata pasal yang
tentang visum et repertum yaitu tercantum
1937 No. 350 yang berbunyi :

menulis langsung
dalam Staatsblad

Pasal 1
Visum et repertum dokter yang diperbuat baik atas sumpah
jabatan yang diucapkannya.pada waktu berakhirnya pelajaran
medis di negeri Belanda atau Indonesia, maupun atas sumpah
yang khusus sebagai dimaksud dalam pasal-pasal dalam
perkara pidana, mempunyai daya bukti, sekedar visum et
repertum itu memuat keterangan tentang segala apa yang
kelihatan oleh dokter pada tubuh atau benda yang diperiksa.

Pasal 2
1.

Para dokter yang belum bersumpah di Negeri Belanda


atau Indonesia, sebagai termasuk dalam pasal 1, dapat
Inengucapkan sumpah seperti tersebut di bawah ini
"Saya bersumpah (berjanji) bahwa saya akan berbuat
menurut sebaik-baik pengetahuan dan kesanggupan
saya segala keterangan-keterangan tertulis yang
digunakan untuk keperluan peradilan sebagai bukti
mengenai segala apa yang kelihatan pada saya dalam
pemeriksaan selaku dokter". Demikianlah semoga Tuhan
Yang Maha Kuasa akan menolong saya (demikian itulah
saya berjanji).

2.

Sumpah dimaksud dalam ayat 1, atas permintaan dari


dokter itu harus diucapkan dihadapan asisten residen
dalam wilayah Gubernur di Jawa Madura dan di lain-lain
tempat di Hadapan Kepala Pemerintah setempat, (baca
kiri) : dihadapan Kepala Pamongraja yang tertinggi
pangkatnya di tempat dalam bilangan wilayah itu).
Tentang penyumpahan itu harus dibuat proses perbal
dalam rangkap tiga, selem,bar dikirimkan kepada
Kepala Jawatan dan yang selembar disimpan dalam
arsip pada kantor Kepala Pamongaraja dihadapan
siapa itu telah dilakukan.

Jelaskan pada saat blad ini diterangkan bahwa :


1.

2.

3.

4.

Setiap
dokter
yang
telah
disumpah
waktu
menyelesaikan kuliah di negara Belanda/Indonesia atau
dokter-dokter lain berdasarkan sumpah khusus pada
ayat 2 dapat membalas permintaan visum et repertum.
Bahwa visum et repertum dokter merupakan benda
bukti yang suyah dalam perkara pidana disidang
pengadilan.
Visum et repertum itu haruslah berisi tentang apa yang
dilihat dan ditemukan pada benda-benda yang
diperiksanya yaitu sikorban.
Dokter tidak perlu mengangkat sumpah duluh sebelum
melakukan sebab sumpah dokter waktu menamatkan
kuliahnya dapat dianggap sebagai sumpah yang syah
untuk pengadilan (kepentingan pembuat visum et
repertum) biarpun maksud dan lafalnya berbeda.

Pasal 184 KUHAP


Ayat 1.

Alat bukti yang syah ialah :


Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan terdakwa

Ayat 2.

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak


perlu dibuktikan

Pasal 185 KUHAP


Ayat 1
Ayat 5

: Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa


yang saksi nyatakan disidang pengadilan.
: Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh
dari hasil pemikiran saja buka merupakan
keterangan saksi.

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di
sidang pengadilan secara lisan.

Pasal 187 KUHAP


Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1)
huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan
dengan sumpah adalah :
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang
memuat
pendapat berdasarkan
keahliannya
mengenai sesuatu
hal atau sesuatu keadaan
yang diminta secara resmi dari padanya.

WAJIB MELAPORKAN TERHADAP


TINDAK PIDANA
Pasal 108 KUHAP
Ayat 1 Setiap oran yang mengalami, melihat, menyaksikan dan
atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak
pidana berhak untuk mengajukan laporan atau
pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik
lisan maupun tulisan.
Ayat 2 Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk
melakukan tindakan pidana terhadap ketenteraman dan
keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak
milik wajib seketika itu juga melaporkhn hal tersebut
kepada penyelidik atau penyidik.
Ayat 3 Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan
tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa
yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan
hal itu kepada penyelidik tau penyidik.

TENTANG RAHASIA JABATAN


Seorang dokter dalam menjalankan profesinyat
terikat pada sumpah jabatan kedokteran yang
diucapkan waktu disumpah menjadi dokter.
Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1960 (lafal
sumpah.dokter).
"Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang
saya
ketahui karena pekerjaan saya sebagai
dokter.

Pemerintah No. 10 tahun 1966


"Tentang wajib simpan rahasia kedokteran"
Pasal

1. Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala


sesuatu yang diketahui oleh orang tersebut dalam pasal 3 pada
waktu selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan
kedokteran.
Pasal 2. Pengetahuan tersebut pasal I harus dirahasiakan oleh orangorang dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain yang
sederajat atau lebih tinggi dari pada peraturan Pemerintah ani
menentukan lain
Pasal 3.
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam
pasal 1 ialah :
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 undangundang
tentang tenaga kesehatan (Lembaran
Negara Tahun
1963 No. 7).
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam
lapangan pemeriksaan, pengobatan, dan atau
perawatan
dan orang lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

Pasal 4. Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan


rahasia kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipindana
menurut Pasal 322 atau pasal 112 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, Menteri Kesehatan dapat melakukan
tindakan administratif berdasarkan pasal 11 Undang-undang
tentang kesehatan.
Pasal 5.

Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4


dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b,
maka Menteri Kesehatan dapat mengambil tindakan
berdasarkan wewenang dan kebijaksanaannya.

Pasal 6.

Dalam pelaksanaan peraturan ini Menteri Kesehatan dapat


mendengar Dewan Pelindung Susila Kedokteran dan atau
Badan-badan lain bilamana perlu. Sebagai contoh Seorang
yang menyimpan arsip dilarang memberitahukan tentang
surat-surat kepada yang tidak berkepentingan. Hal ini tidak
diajukan kepada dokter semata-mata, tetapi juga kepada
profesi lain, sipembela, adpokat, pastor dan lain-lain. Dokter
akan
mengetahui
keadaan
pasiennya
itu
harus
dirahasiakannya. Untuk menjaga agar rahasia itu dapat
dilindungi, maka bagi yang melanggarnya dapat dikenakan
sanksi hukum seperti tertulis diatas. Demikian juga halnya
rahasia seseorang dengan pastor, pembela dan lain-lain.

Selain harus menyimpan rahasia jabatan, ada lagi pengecualian


terhadap rahasia jabatan atau rahasia kedokteran dan termasuk
disini adalah :
Pelaksanaan pembuatan visum et repertum
Sebagai saksi ahli di sidang pengadilan
Penyakit wabah dan karantina
Ini tercantum dalam pasal 48, 50 dan 51 KUHP yang berbunyi
Pasal 48 KUHP
Tidak boleh dihukum barang siapa melakukan perbuatan
karena terdorong oleh berat lawan.
Pasal 50
Barang siapa melakukan pembuatan untuk menjalankan
peraturan undang-undang tidak boleh dihukum.

Pasal 51
1. Barang siapa melakukan perbuatan untuk menjalankan perintah
jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak akan itu, tidak
boleh dihukum.
2. Perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang tidak berhak
tidak membebaskan lagi hukum, kecuali jika pegawai yang
dibawanya atas kepercayaanya memandang bahwa pemerintah
itu seakan-akan diberikan oleh kuasa yang berhak dengan syah
untuk menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang
dibawah perintah itu.
Pada beberapa keadaan rahasia jabatan dapat dikecualikan oleh
karena pertimbangan untuk kepentingan masyarakat umumnya
seperti :
1. Seorang guru yang menderita T.B.C. aktif boleh dilarang
mengajar buat sementara dan guru tersebut haruslah berobat
dalam masa itu.
2. Seorang supir yang menderita epilepsi, dianjurkan
kepadanya supaya mencari pekerjaan lain saja, tetapi, kalau dia
menolak, maka dapat kita beritahukan kepada majikannya.

ANCAMAN BILA MEMBUKA RAHASIA JABATAN DAN


HAK UNDUR DIRI DARI KESAKSIAN.

Pasal 322 KUHP


Ayat 1.

Barang siapa dengan sengaja membuka


suatu rahasia, yang ia wajib menyimpannya
oleh karena jabatannya atau pekerjaannya
baik yang sekarang maupun yang dahulu
dihukum penjara selama-lamanya 9 bulan
atau dengan sebanyak-banyaknya enam
ratus rupiah.
Ayat 2. Jika kejahatan itu dilakukan terhadap
seorang yang ditentukan maka perbuatannya
itu hanya dituntut oleh pengaduan orang itu.

Keterangan
Ayat 1.
Supaya dapat dihukum menurut pasal ini, maka elemen-elemen
di bawah ini harus dibuktikan :
a. Yang diberitahu (dibuka) itu harus suatu rahasia.
b. Bahwa orang yang diwajibkan untuk menyimpan rahasia
tersebut, harus betul-betul mengetahui ia wajib menyimpan
rahasia.
c. Bahwa kewajiban untuk menyimpan rahasia itu adalah akibat
dari jabatannya atau pekerjaan yang sekarang maupun
yang dahulu pernah dijabat.
d. Membuka rahasia itu dengan sengaja. Yang diartikan
dengan rahasia yaitu suatu yang hanya diketahui oleh
yang
berkepentingan, sedangkan orang lain belum
mengetahuinya. Siapa yang diwajibkan menyimpan rahasia
tu, tiap-tiap peristiwa harus ditinjau sendiri oleh hakim yang
masuk disitu misalnya : seorang dokter harus menyimpan
rahasia penyakit pasiennya.

Ayat

2.

Pertimbangan apakah permintaan untuk


mengundurkan diri itu beralasan atau tidak,
diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau jika
orang yang dipanggil untuk memberikan
penyaksian itu, orang asing maka pertimbangan
itu diselesaikan Pengadilan Negeri.

Pasal 170 KUHAP


Ayat 1. Mereka yang karna pekerjaan, harkat martabat
atau jabatannya diwajib-kan menyimpan rahasia,
dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk,
memberi keterangan sebagai sanksi, yaitu
tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
Ayat 2. Hakim menentukan sah atau tidaknya segala
alasan untuk permintaan tersebut.

TENTANG PERKOSAAN DAN


PELANGGARAN KESUSILAAN
Pasal 285 KUHP
Barang siapa yang dengan kekerasan atau dengan
ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan
istrinnya bersetubuh dengan dia, karna perkosaan,
dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 12
tahun.
Pasal 286 KUHP
Barang siapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan
istrinya pada pada hal diketahui perempuan itu dalam
keadaan pingsan atau tidak berdaya, dihukum dengan
hukuman selama-lamanya 9 tahun.

Pasal 287 KUHP


Ayat 1 Barang siapa bersetubuh dengan perempuan
yang bukan istrinya, dalam hal diketahuinya
atau patut dapat disangkanya bahwa umur
perempuan itu belum cukup lima belas tahun
atau tidak terang berapa umurnya bahwa
perempuan itu belum panmtas buat diwini,
dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya sembilan tahun.
Ayat

2 Penuntutan hanya dilakukan kalau ada


pengaduan, kecuali perempuan itu belum
sampai 12 tahun jika ada salah satu hal
tersebut pada pasal 29 dan pasal 294.

Pasal 288 KUHP


Ayat 1.
Barang siapa yang bersetubuh dengan
perempuan yang diketahuinya atau patut dapat
disangkanya bahwa perempuan itu belum pantas
buat dikawini, dihukum selama lamanya 4 tahun,
kalau perempuan itu berakibat badan perempuan
itu mendapat luka.
Ayat 2. Jika perempuan itu berakibat perempaun itu
mendapat luka berat dijatuhkan hukuman penjara
selama-lamanya delapan tahun.
Ayat 3. Jika perbuatan itu berakibat matinya perempuan
itu dijatuhi hukuman penjara selama-lamanya
dua belas tahun.

Pasal 289 KUHP


Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa seorang melakukan atau membiarkan dilakukan
padanya perbuatan cabul, karena perbuatan yang
merusakan kesusilaan, dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya sembilan bulan.

Pasal 290 KUHP


Di hukum dengan hukuman selama-lamanya tujuh tahun.
Ayat 1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan
seseorang, sedang diketahui bahwa orang itu pingsan
atau tidak berdaya.
Ayat 2. Barang siapa melakukan cabul dengan seseorang,
sedang diketahuinya atau patut dapat disangkanya
bahwa umur orang itu belum cukup lima belas tahun
atau kalau umur itu tidak terang, bahwa orang itu belum
pantas buat dikawini.
Ayat 3. Bahwa siapa membujuk seseorang yang diketahuinya
atau patut dapat sisangkanya, bahwa umur orang itu
belum cukup lima belas tahun atau kalau umur itu tidak
terang, bahwa ia belum pantas buat dikawini untuk
melakukan atau membiarkan diperbuat padanya
perbuatan-perbuatan cabul untuk berzina dengan orang
itu.

ANCAMAN BILA MEMBERIKAN HARAPAN


IKHTIAR PENGGUGURAN
Pasal 299 KUHP
Ayat 1
Barang siapa dengan sengaja mengobati seseorang
perempuan atau menyuruh seseorang perempuan
diobati dengan memberitahu atau menerbitkan
pengharapan bahwa oleh karena pengobatan itu dapat
gugur kandungannya, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 4 tahun, atau denda sebanyakbanyaknya tiga ribu rupiah.
Ayat 2
Kalau yang bersalah berbuat, karena mencari
keuntungan bila melakukan kejahatan itu, ia jadikan
pekerjaan atau kebiasaan atau kalau ia seorang dokter,
bidan dan atau tukang membuat obat, hukuman boleh
ditambah sepertiganya.
Ayat 3.
Kalau yang bersalah melakukan kejahatan itu, dalam
pekerjaanya, maka dapat dicabut haknya melakukan
pekerjaan itu.

Pasal 535 KUHP


Barang
siapa
dengan
terang-terangan
mempertunjukkan ikhtiar untuk menggugurkan
kandungan atau dengan terang-terangan atau
tanpa meminta menawarkan ikhtiar atau
pertolongan untuk menggugurkan kandungan atau
menyatakan ikhtiar atau pertolongan itu bisa
didapat, dihukum dengan hukuman selamalamanya tiga bulan atau denda sebanyakbanyaknya tiga ratus rupiah.

ABORTUS PROVOCATUS
Pasal 346 KUHP
Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugurnya atau
mati kandungannya atau menyuruh orang lain menyebabkan itu,
dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya empat
tahun.
Pasal 347 KUHP
Ayat 1. Barang siapa yang dengan sengaja
menyebabkan gugur atau mati kandungan
seseorang perempuan tidak dengan izin
perempuan
itu,
dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya dua
belas tahun.
Ayat 2. Jika perbuatan berakibat perempuan itu mati, ia
dihukum dengan hukuman penjara lima belas
tahun.

Pasal 348 KUHP


Ayat 1. Barang siapa dengan sengaja menyebabkan
gugur atau mati kandungan seseorang perempuan dengan
izin perempuan itu dihukum
dengan hukuman penjara
selama-lamanya tujuh
tahun.
Ayat 2. Jika perbuatan itu berakibat perempuan itu mati,
ia dihukum dengan hukuman penjara selama- lamanya
tujuh tahun.
Pasal 349 KUHP
Jika seorang dokter, bidan atau tukang obat membantu
kejahatan tersebut dalam pasal 346 atau bersalah
melakukan atau membantu salah satu kejahatan
diterangkan dalam pasal 347 dan 348 maka hukuman yang
ditentukan dalam pasal itu boleh ditambah sepertiganya
dan boleh dicabut haknya melakukan pekerjaanya untuk
menjalankan kejahatan itu.

PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI


Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang karena takut akan diketahui ia sudah melahirkan
anak pada ketika anak itu dilahirkan atau tidak lama sesudah
melahirkan anak dengan sengaja menghilangkan nyawa anak itu
dihukum karena salahnya pembunuhan anak dengan hukuman penjara
selama-lamanya tujuh tahun.
Pasal 342 KUHP
Seorang ibu yang menjalankan keputusan yang diambilnya karena
takut diketahui orang karena ia tidak lama lagi akan melahirkan anak,
pada ketika melahirkan atau tidak lama kemudian daripada itu dengan
sengaja menghilangkan nyawa anaknya itu, karena pembunuhan anak
berencana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
sembilan tahun.
Pasal 343 KUHP
Bagi orang yang turut campur dalam kejahatan yang diterangkan
dalam pasal 341 dan 342 dianggap kejahatan itu sebagai makar mati
atau pembunuhan.

Pasal 181 KUHP


Barang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut atau
menghilangkan mayat dengan maksut hendak menyembuyikan
kematian dan kelahiran orang itu, dihukum penjara setinggi-tingginya
sembilan bulan atau dengan setinggi-tingginya tiga ratus rupiah.
Pasal 304 KUHP
Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang
dalam kesengsaraan, sedang ia wajib memberi kehidupan perawatan
atau pemeliharaan kepada orang itu karena hukum yang berlaku
atasnya atau menurut perjanjian di hukum penjara setinggi-tingginya
dua tahun delapan bulan atau denda setinggi-tingginya tiga ratus
rupiah.
Pasal 305 KUHP
Barang siapa menaruhkan anak yang dibawah umur tujuh tahun
disuatu tempat supaya dipungut orang lain atau dengan maksud akan
terbebas dari pada pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, dihukum
penjara setinggi-tingginya lima tahun enam bulan.

Pasal 306 KUHP


Ayat 1. Kalau salah satu perbuatan yang diberangkatkan
dalam pasal 304 dan 305 itu menyebabkan luka
berat,
maka sibersalah dihukum penjara setinggitingginya
tujuh tahun enam bulan.
Ayat 2. Kalah salah satu perbuatan ini menyebabkan
matinya orang sibersalah itu dihukum penjara setinggitingginya sembilan tahun.
Pasal 307 KUHP
Kalau sibersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam
pasal 305 adalah bapak atau ibu dari anak itu maka baginya
hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 dapat
ditambah sepertiganya.

Pasal 308 KUHP


Kalau seorang ibu menaruh anaknya disuatu
tempat supaya dipungut oleh orang lain, tidak
berapa lama sesudah anak dilahirkan, oleh karena
takut akan diketahui orang ia melahirkan anak
atau dengan maksud akan terlepas dari
pemeliharaan anak itu, meninggalkannya maka
hukuman tertinggi yang disebut dalam pasal 305
dan 306 dikurangi hingga seperduanya.

KWALIFIKASI LUKA
Pasal 315 KUHP
Ayat 1. Penganiyaan dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau
denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.
Ayat 2. Jika perbuatan itu berakibat luka berat, yang
bersalah dihukum dengan hukuman penjara
selama-lamanya lima tahun.
Ayat 3. Jika perbuatan itu berakibat matinya orang, maka
yang bersalah dihukum dengan hukuman selamalamanya tujuh tahun.
Ayat 4. Dengan penganiyaan disamakan merusak
kesehatan orang dengan sengaja.
Ayat 5. Percobaan melakukan kejahatan itu tidak dapat
dihukum.

Pasal 352 KUHP


Ayat 1. Lain dari pada hal tersebut dalam pasal
353 dan pasal 356 penganiyaan yang
tidak menyebabkan sakt atau halangan
untuk
menjalankan
jabatan
atau
pekerjaan dihukum sebagai penganiyaan
ringan dengan hukuman penjara selamalamanya tiga bulan atau denda sebanyakbanyaknya tiga ratus rupiah.
Ayat 2. Percobaan melakukan kejahatan itu tidak
dapat dihukum.

Pasal 90 KUHP
Luka berat berarti :
Penyakit atau luka tidak dapat diharapkan sembuh
lagi dengan sempurna atau yang dapat
mendatangkan bahaya maut, senantiasa tidak
cakap mengerjakan jabatan atau pekerjaan
pencaharian, tidak dapat lagi memakai sesuatu
panca indra kudung (kekudung-kudungan) lumpuh
(kelumpuhan) pikiran (tenaga paham) tidak
sempurna lebih lama dari empat minggu,
menggugurkan atau membunuh janin (anak yang
ada dalam kandungan ibunya).

Pasal 353 KUHP


Ayat 1. Penganiayaan dengan dirancangkan lebih dahulu
dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya empat tahun.
Ayat 2. Jika perbuatan itu berakibat matinya orang, maka
yang bersalah dihukum dengan penjara selamalamanya lima belas tahun.
Pasal 338 KUHP
Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang
karena pembunuhan biasa, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Pasal 340 KUHP


Barang siapa dengan sengaja dan dengan dirancang lebih
dahulu menghilangkan nyawa orang karena pembunuhan
berancang dihukum dengan hukuman mati atau penjara
seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya
dua puluh tahun.
Pasal 344 KUHP
Barang siapa menghingkan nyawa orang atau permintaan
sungguh-sungguh orang itu sendiri, dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.
Pasal 345 KUHP
Barang siapa dengan sengaja membujuk orang supaya
supaya membunuh diri atau menolong dalam perbuatan itu
atua memberi ikhtiar kepadanya untuk tiu dihukum dengan
hukuman penjara selama-lamanya empat tahun, kalau
tidak orangnya membunuh diri.

Pasal 359 KUHP


Barang siapa karena kesilapan menyebabkan orang mati
dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
sembilan tahun.
Pasal 360 KUHP
Barang siapa karena kesilapan menyebabkan orang luka,
sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak bisa
menjalankan jabatan atau pekerjaanya, sementara di
hukum dengan hukuman penjara selama-lamanya
sembilan bulan atau kurungan selama-lamanya enam
bulan atau kurungan selama-lamanya enam bulan atau
denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.

PERUNDANG-UNDANGAN YANG MEMBERIKAN


KELONGGARAN UNTUK MEMBUKA
RAHASIA JABATAN
1. Undang-undang No. 1 tahun 1962, tentang Karantina Laut.
2. Undang-undang No. 2 tahun 1962, tentang Karantina Udara.
Lembaran Negara No. 23 tahun 1962.
Undang-undang No. 12 tahun 1962, tentang Karantina Laut dan Udara
Dalam kedua Lembaran Negara tersebut, yang dimaksud dengan
penyakit karantina adalah :
1. Pers (Plague)
2. Kolera (Cholera)
3. Demam Kuning (Yellow Fewer)
4. Cacar (Small
5. Typhus bercak wabah-Thypus exanthematicus infectiosa (Louse
borne typhus)
6. Demam balik-balik (Louse borne relapsing fever)

Lembaran Negara No. 12 tahun 1962


Undang-undang No. 6 tahun 1962, tentang wabah Bab II,
pasal 3 : wabah dalam undang-undang ini meliputi :
1. Penyakit Karantina berdasarkan undang-undang No. 1 tahun
1962 tentang Karantina Laut dan Undang-Undang No. 2
Tahun 1962 tentang Karantina Udara.
2. a. Typus perut (typus abdomenalis)
b. Para typus A, B dan C
c. Disentria (mejen) basili (Dycentria baxil laris)
d. Radang hati menular (Hepatitis Infectiosa)
e. Para cholera eltor
f. Diphtheria
g. Kejang tengkuk (Meningitis cerebro spinalis edpidemica)
h. Lumpuh kanak-kanak (Poliomy elitis anterior acuta)
3. Penyakit lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

HAKIM TIDAK WAJIB MENGIKUTI


PENDAPAT AHLI
Pasal 306 RIB
Ayat 1. Pemberian seorang ahli yang diangkat
karena jabatan tentang hal ikhwal atau
keadaan suatu perkara hanya boleh
dipakai untuk memberi keterangan
kepada hakim.
Ayat 2. Hakim tidak diwajibkan untuk mengikuti
keterangan atau pendapat ahli tersebut
jika pendapat itu tidak sesuai /
bertentangan dengan keyakinannya.

TOKSIKOLOGI FORENSIK
Pasal 202 KUHP
Ayat 1. Barang siapa memasukkan suatu zat kedalam
sumur, pom mata air atau kedalam tempat air
minum bagi keperluan umum atau untuk dipakai
bersama-sama dengan orang lain, sedang
mengetahui
bahwa
karena
itu
airnya
membahayakan bagi jiwa atau kesehatan orang,
dan ia mendiamkan sifat yang berbahaya itu,
dipidanakan dengan pidana selama-lamanya lima
belas tahun.
Ayat 2. Kalau itu berakibat matinya orang, yang bersalah
dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
penjara sementara selama-lamanya dua puluh
tahun.

Pasal 204
Ayat

KUHP

1. Barang
siapa
menjual,
menawarkan
menerimakan atau membagikan barang sedang
diketahuinya, bahwa barang itu membahayakan
bagi jiwa atau kesehatan orang, dan ia
mendiamkan sifat yang berbahaya itu, dipidana
dengan pidana selama-lamanya lima belas tahun.
Ayat 2. Kalau hal itu berakibat matinya orang, yang
bersalah dipidana dengan pidana penjara seumur
hidup atau penjara sementara selama-lamanya
dua puluh tahun.

Pasal 205 KUHP


Ayat 1. Barang siapa yang karena sifatnya menyebabkan
barang yang membahayakan bagi jiwa atau
kesehatan orang dijual, diterimakan atau dibagibagikan, sedang yang membeli atau yang
memperoleh tidak tahu sifat berbahaya itu,
dipidana penjara selama-lamanya sembilan bulan
atau kurungan selama-lamanya enam bulan atau
denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima
ratus rupiah.
Ayat 2. Kalau hal yang berakibat matinya orang, yang
bersalah itu dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya satu tahun empat bulan atau
kurungan selama-lamanya satu tahun.
Ayat 3. Barang-barang itu boleh dirampas.

Intruksi KAPOLRI No. Pol. INS/E/20/IX/1975 tertanggal 19 September


1975, yang ditujukan kepada semua KADAPOL, DAN JEN KOSERSE
dan JEN KOMAPTA dengan pokok-pokok isi sebagai berikut :
1. Mengadakan
peningkatan penerbitan prosedur / permintaan
pencabutan visum et repertum kepada dokter/ahli kedokteran
Forensik.
2. Dalam mengirimkan seorang luka atau mayar ke Rumah Sakit
untuk diperiksa, yang berati pula meminta visum et repertum, maka
jangan dilupakan bersama-sama si koraban atau mayat tadi
mengajukan sekaligus permintaan tertulis untuk mendapatkan
visum et repertum.
3. Dalam hal seseorang yang menderita luka tadi akhirnya meningga
dunia, maka harus segera mengajukan surat susulan untuk
meminta visum et repertum atas mayat, berarti mayat harus
dibedah. Sama sekali tidak dibenarkan mengajukan permintaan
visum et repertum atas mayat berdasarkan pemeriksaan luar saja.
4. Untuk kepentingan di pengadilan dan mencegah kekeliruan dalam
pengiriman seorang mayat harus selalu diberi label dan segel pada
jari kaki mayat. Pada label harus jelas diberikan nama jenis
kelamin, umur, bangsa, suku, agama dan asal, tempat tinggal dan
tanda tangan petugas POLRI yang mengirimkannya.

5.

6.

7.

Tidak dibenarkan mengajukan permintaan visum et repertum


tentang keadaan korban atau mayat yang telah lampau yaitu
keadaan sebelum visum et repertum diajukan kepada dokter
mengingat rahasia jabatan.
Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan visum et
repertum bedah mayat adalah kewajiban dari petugas POLRI cq
pemeriksaan untuk secara persuasif memberikan penjelasan perlu
dan pentingnya autopsi untuk kepentingan penyidikan, kalau
bahkan ditegakannya fasal 22 KUHP.
Pada dasarnya penarikan/pencabutan kembali visum et repertum
tidak dapat dibenarkan. Bila terpasak visum et repertum yang sudah
diminta harus diadakan pencabutan/penarikan kembali, maka hal
tersebut hanya dapat diberikan oleh Komandan-Komandan
Kesatuan yang paling rendah tingkat KOMRES dan untuk kota
besar hanya oleh DAN TABES Wewenang penarikan/pencabutan
kembali visum et repertum tidak dapat dilimpahkan pada pejabat /
petugas bawahan.

8.

9.

10.

Untuk menghindarkan kesalah fahaman, perlu dokter yang


memeriksa mayat diberikan keterangan lisan tentang kejadiankejadian yang berhubungan dengan matinya orang/korban
tersebut. Petugas POLRI cq pemeriksa wajib datang menyaksikan
dan mengikuti jalannya pemeriksaan mayat/autopsi yang dilakukan
oleh dokter.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu dokter
melakukan autopsi, pengamanan perlu dilakukan oleh POLRI
setempat.
Dalam orang yang luka atau mayat itu seorang anggota ABRI
maka untuk meminta visum et repertum hendaklah menghubungi
Polisi Militer setempat dari kesatuan sikorban.