Anda di halaman 1dari 74

GANGGUAN PSIKOSA

Kelompok 2

GANGGUAN PSIKOSA

Semua kondisi terdapatnya hendaya


berat (severe impairment) di dalam
kemampuan daya nilai realitas.
Gejala:
insight(-),awareness,judgement,
waham, halusinasi, inkoheren, agitasi,
disorientasi, depresi, rasa salah yang
mendalam, autisme, mannerism

GANGGUAN PSIKOSA

PSIKOSA ORGANIK
Psikosa timbul karena gangguan otak

dengan adanya suatu penyakit badaniah


(pada otak atau pun di luar otak)

PSIKOSA FUNGSIONAL
Yang berasal terutama dari jiwa

(Emosional)

PSIKOSA ORGANIK

PSIKOSA ORGANIK

GANGGUAN MENTAL ORGANIK


Gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/

gangguan sistemik atau otak yang dapat


didiagnosis.

GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT


ZAT PSIKOAKTIF
Gangguan bervariasi luas dan berbeda

keparahannya (dari intoksikasi tanpa komplikasi dan


penggunaan yang merugikan sampai gangguan
psikotik yang jelas dan demensia, tetapi semua itu
diakibatkan oleh karena penggunaan satu atau
lebih psikoaktif (dengan atau tanpa resep dokter)

GANGGUAN MENTAL
ORGANIK
2 kelompok besar :
DELIRIUM : ditandai dengan konfusi/
kebingungan singkat , akut,
berfluktuasi dan perubahan fungsi
kognitif
DEMENSIA : ditandai dengan gangguan
berat dalam memori, judgment,
orientasi dan fungsi kognitif lainnya

DELIRIUM (3A)

DELIRIUM
merupakan gangguan dalam kesadaran dengan
gangguan atensi dan proses pikir yang kacau
atau gangguan persepsi

yang berkembang secara AKUT

dengan perjalanan penyakit yang


BERFLUKTUASI

dan dengan adanya bukti bahwa terdapat


kondisi fisik/medik yang mendasari
terjadinya keadaan ini.
Bukan penyakit tetapi sindroma dengan
berbagai macam penyebab

Epidemiologi Delirium

Prevalensi (saat mrs) 20-35% pada


perawatan akut dan 30-50% di UGD
Incidensi (onset baru):
10-40% pada pelayanan akut,
40-60% pasca operasi pinggul
30%
di UGD
80%
pada pasien dengan ventilator
Durasi: dapat pulih kembali dalam
beberapa jam sampai hari atau menetap
beberapa minggu sampai bulan

Faktor Predisposisi Delirium

Usia > 70 tahun


Gangguan fungsi kognitif
Psikofarmaka - multifarmasi
Penggunaan physical restraints
Adanya gangguan psikiatrik misalkan :
Delirium sebelumnya,
Psikosis
Anxietas
Depresi
Trauma kepala (CVA dll)

dll

Faktor yang memperberat

Efek samping obat


Infeksi
Ggn keseimbangan cairan & elektrolit
Ggn metabolik
Febris
Pasca operasi
Trauma kepala akut (CVA)

EVALUASI DELIRIUM

Tanda Vital

Status hidrasi

Pemeriksaan Kardiovaskular dan Respirasi

Pemeriksaan Abdomen, termasuk retensi urine

Pemeriksaan Neurologik

Pemeriksaan per-rektal untuk menyingkirkan faecal impaction

Review obat-obatan untuk menyingkirkan adanya obat-obatan


sebagai penyebab delirium .

EVALUASI DELIRIUM
Pemeriksaan dasar meliputi :

Darah lengkap

Ureum Creatinin

Calcium

Liver function test

Pulse oximetry

Photo thorax

Neuroimaging (CT or MRI kepala) pada keadaan :


- Riwayat baru terjadi jatuh atau trauma kepala
- Gejala2 trauma kepala
- Defisik neurologik fokal yang baru
- Panas atau perubahan status mental akut yg mencurigakan ensefalitis / meningitis

PENATALAKSANAAN
DELIRIUM
1.

Identifikasi dan obati penyebab delirium

2.

Penanganan Non-farmakologik untuk menghilangkan gejala .

3.

Terapi Farmakologik untuk masalah agitasi dan perilaku yang


berat

Terapi Non-farmakologik
Obati penyebab yg mendasari
Tindakan Lingkungan :

1.
2.

Anjuran/informasi pd anggota keluarga


Orientasi (sering / berulang)
Mobilisasi / nutrisi / sinar

DEMENSIA (3A)

DEMENSIA
Adalah sindroma akibat penyakit otak yang bersifat
kronik atau progresif, serta
terdapat gangguan fungsi luhur (fungsi kortikal
yang multipel) :
Daya ingat
Daya pikir
Daya orientasi
Daya pemahaman

Kemampuan berhitung
Kemampuan belajar,
Kemampuan berbahasa
Kemampuan menilai

Terdapat kemunduran dari taraf fungsi


sebelumnya

Epidemiologi
USA :
10% populasi usia lanjut demensia
ringan
Berdasarkan tipe :
Demensia Alzheimer
60%
Demensia Vaskular
15-20%
Lain-lain
15-20%

Demensia Alzheimer

= demensia degeneratif primer


Paling sering (5-6% usia >65 th, 20% usia >
80 th)
Tipe presenilis < 65 tahun, senilis > 65 tahun
Perjalanan : progresif slow but sure
Gx dini : ggn ingatan jangka pendek
Gx progresif : 3 A (afasia, apraxia, agnosia)
Gx fisik & neurologis fokal (-) / (+)
Penyakit vaskular umumnya (-)
Wanita >

Demensia Vaskular /
Multi infark

Gejala tergantung dari lokasi & luas infark

Sering timbul mendadak

Pasien sering menyadari kemunduran depresi

Kemunduran bertahap / step wise, berbercak dan berfluktuasi

Gx fisik dan neurologis fokal (+)

Penyakit vaskular (+)

Pria >

Demensia Lain

D. Normal pressure Hydrocephalus


amnesia, enuresis, ataxia reversible

D. Wernicke Encephalopathy
alkoholisme, konfabulasi

Demensia Frontotemporal a.l. penyakit


Pick
Lobus frontalis etik moral

Demensia Lewy Bodies (LBD)


D. pada penyakit Parkinson
dll

Gejala Demensia
Gangguan Fungsi Luhur :

Daya ingat
Daya pikir
Daya orientasi
Pemahaman
Berhitung

Ggn. Perilaku dan Psikologis (BPSD)

Gangguan perilaku dan psikologis


(BPSD : Behavioral and Psychological
Symptoms of Dementia)

Ide / waham paranoid


Halusinasi (Visual > Audiotorik)
Gangguan aktivitas
Agresivitas
Gangguan irama diurnal
Gangguan afek
Anxietas dan fobia

Pemeriksaan :
Pemeriksaan Status Psikiatrium umum
Kesan umum, kesadaran, afek emosi, proses

pikir, persepsi, pertimbangan, insight, dll

Pemeriksaan fungsi kognitif : a.l. :


MMSE : Mini Mental State Examination
Tidak untuk mendiagnosa demensia untuk

menilai kemungkinan adanya gangguan


kognitif
Pemeriksaan t.d. : orientasi, registrasi, atensi
kalkulasi, recall, berbahasa

Terapi farmakologis :

Obat yg efektif perbaiki fungsi kognitif /


defisif memori / menghentikan proses
demensia ??
Farmakoterapi :
Cholinergic agents : (Aricept,

Exelon,Reminyl)
Psikostimulan
Psikofarmaka :

Psikofarmaka : Neuroleptika
Sebelumnya teliti lingkungan fisik &
sosial
Pada pasien agitasi, agresif
Neuroleptika tipikal : Haloperidol 0,5-5

mg /hr
Neuroleptika atipikal : Risperidon,
Olanzapin, dll
Hindari Neuroleptika potensi rendah :
efek samping antikolinergik tinggi,
Kalau perlu + Lorazepam 0,5-1mg p.o. / i.m

Kadang2 perlu antidepresan /


antianxietas

Untuk Demensia Vaskular :


Terapi seperti demensia pada umumnya, tak
ada terapi spefisik
Terapi untuk DM, Hipertensi, Kolesterol yang
tinggi dalam membantu memperlembat atau
menghentikan progresivitas penyakit.
Hentikan merokok
Kadang2 diberikan Cholinesterase Inhibitor
seperti pada D.Alzheimer karena beberapa
pasien D.Vaskular juga menderita
D.Alzheimer
Untuk pasien stroke, mungkin diberikan
Aspirin, untuk mengurangi resiko stroke
berikut.

Terapi non farmakologis :

Psikoterapi suportif pada stad.awal


untuk kurangi anxietas
Behavioral Management :
Orientasi realitas
Terapi tingkah laku : reinforcement
Kegiatan : latihan mengingat, tatakrama,

fisik
Environmental aids untuk ADL (Activities of
Daily Living)

Orientasi realitas :
Warna ruangan, jam, tanggalan, foto,

tulisan besar, pengulangan

Environmental Aids untuk ADL :


Handrails di ruangan dan kamar mandi
Kursi yang cocok
Baju yang mudah dipakai

(membantu aktivitas self care)

Wandering :
Sering merupakan tanda kebingungan
Beri tempat ngluyur
Beri barang-barang milik pasien

Intervensi keluarga
(care giver support)
Dg pertemuan keluarga demensia sharing
Beri petunjuk praktis penanganan pasien
demensia
Psikoterapi : ventilasi / katarsis
mengurangi depresi / kecemasan pada
keluarga
Dapat berupa Respite Care (perawatan
sementara utk memberikan kesempatan
istirahat pada keluarga

GANGGUAN MENTAL DAN


PERILAKU AKIBAT ZAT PSIKOAKTIF

GANGGUAN MENTAL DAN


PERILAKU AKIBAT ZAT PSIKOAKTIF
INTOKSIKASI
intoksikasi /over dosis adalah kondisi fisik dan perilaku
abnormal akibat penggunaan zat yg dosisnya melebihi
batas toleransi tubuh.
KETERGANTUNGAN / ADIKSI
Ketergantungan adalah suatu kondisi cukup berat yg
ditandai dgn adanya ketergantungan fisik, yaitu toleransi
dan sindrom putus zat.
WITHDRAWL
Sindromaputuszatadalahsuatukondisidimanaorangyang
biasa menggunakan secara rutin, pada dosis tertentu
berhenti menggunakan atau menurunkanjumlahzatyang
biasa digunakan, sehingga menimbulkan gejala pemutusan
zat

INTOKSIKASI AKUT ZAT


PSIKOAKTIF(3B)

INTOKSIKASI AKUT ZAT


PSIKOAKTIF(3B)
a. INTOKSIKASI OPIOIDA
b. INTOKSIKASI SEDATIF HIPNOTIK

(BENZODIAZEPIN)
c. INTOKSIKASI AMFETAMIN
d. INTOKSIKASI ALKOHOL
e. INTOKSIKASI KOKAIN

INTOKSIKASI OPIOIDA
Tandadangejala :
penurunan kesadaran (stupor sampai koma)
pupil pinpoint (dilatasi pupil karena anoksia akibat over
dosis)
pernapasankurangdari12x/menitsampaihentinapas
adariwayatpemakaianopioida(needle track sign)
bicara cadel
dan gangguan atensi atau daya ingat.
Perilaku mal adaptif atau perubahan psikologis yang
bermakna secara klinis misalnya euforia awal yang diikuti
oleh apatis, disforia,agitasi atau retardasi psikomotor
atau gangguan fungsi sosial dan fungsi pekerjaan selama
atau segera setelah pemakaian opioid

INTOKSIKASI OPIOIDA
PENATALAKSANAAN :
Bebaskan jalan napas
Berikan oksigen 100% atau sesuai kebutuhan
Pasang infus dextrose 5 % atau NaCl 0,9% atau cairan
koloid jika diperlukan
Pemberian antidotum Naloksom
Tanpa hipoventilasi berikan Narcan 0,4 mg IV
Dengan hipoventilasi berikan Nalokson (Narcan) 1 -2 mg
IV
Jika dalam 5 menit tidak ada respon maka berikan 1 2
mgNarcan hingga ada respon berupa peningkatan
kesadaran, dan fungsi pernapasan membaik

Rujukke ICUjika dosisNarcan telahmencapai 10mg


danbelum menunjukkan adanya perbaikan kesadaran

Berikan1ampulNarcan/500ccdalamwaktu4-6jam
mencegah terjadinya penurunan kesadaran kembali

Observasisecarainvensiftanda-tandavital,
pernapasan,danbesarnya ukuran pupil klien dalam 24
jam

Pasang intubasi, kateterisasi, sonde lambung serta EKG

Puasakan klien untukmenghindari aspirasi

Lakukanpemeriksaanrontgen thoraks sertalaboraturium,


yaitu darah lengkap, urin lengkap dan urinalisis

INTOKSIKASI SEDATIF HIPNOTIK


(BENZODIAZEPIN)
Gejalaintoksikasibenzodiazepinyangprogresif :
hiporefleksia
nistagmusdankurangsiapsiaga,
ataksia,berdiritidakstabil.
Selanjutnyagejalaberlanjutdenganpemburukanataks
ia,letih,
lemah,konfusi,somnolent,koma,pupilmiosis,hipote
rmi,depresisampaidenganhentipernapasan.
Biladiketahuisegeradanmendapatterapi
kardiorespirasi maka dampak intoksikasi jarang
bersifat fatal.

INTOKSIKASI SEDATIF HIPNOTIK


(BENZODIAZEPIN)
PENATALAKSANAAN :
1) MENGURANGI EFEK OBAT DALAM TUBUH
Untuk mengurangi efek sedatif hipnotik dengan
memberikan Flumazenil 0,2 mg IV, kemudian
setelah30detikdiikuti dengan 0,3 mg dosis tunggal. Obat
tersebut lalu dapat diberikan lagi sebanyak 0,5 mg
setelah 60 detik sampai total kumulatif3mg
2) Mengurangi absorbsi obat lebih lanjut
Mengurangiabsorbsimerangsangmuntahjikabaruterjadi
pemakaian.Jikapemakaiansudahlebihdari6jammaka
berikanantidotberupakarbonaktifyangberfungsiuntuk
menetralkan efek obat

INTOKSIKASI SEDATIF HIPNOTIK


(BENZODIAZEPIN)
3)

Mencegah komplikasi jangka panjang


Observasi tanda-tanda vital dan depresi
pernapasan, aspirasi danedemaparu. Bila
sudah terjadi aspirasi maka dpt diberikan
antibiotik. Bilaklienadausahauntukbunuhdiri
maka klien tersebut harus ditempatkan ditempat
khusus denganpengawasan ketat setelah
keadaan darurat diatasi

INTOKSIKASI AMFETAMIN
Tandadangejalaintoksikasianfetaminbiasanyaditunjukkan dengan adanya dua atau lebih
gejala-gejala seperti :
takikardi atau bradikardi, dilatasipupil,
peningkatanataupenurunan tekanan darah,
banyak keringat atau kedinginan,
mual atau muntah,
penurunan BB,
agitasi atau retardasi psikomotor,
kelelahan otot,
depresi sistem pernapasan,
nyeri dada atau aritmia jantung,
kebingungan,
kejang-kejang,
diskinesia,
distonia atau
koma.
Penatalaksanaan adalah dengan memberikannya terapi
symtomatikdanpemberianterapisuportiflain,misal: anti

psikotik,antihipertensi, dll

INTOKSIKASI ALKOHOL
Gejala :
Bicara cadel
Nistagmus
Inkoordinasi
Jalan sempoyongan
Tidak dapat memusatkan perhatian
Daya ingat menurun
Stupor atau koma

INTOKSIKASI ALKOHOL
PENATALAKSANAAN :
Menidurkan klien posisi telentang dgn posisi face
down utk mencegah aspirasi
Observasi TTV
Kolaboratif Thiamine 100mg IV utk profilaksis
mencegah terjadinya Wernick Ensefalopati
Pemberian 50 ml dextrose 5% IV dan 0,4-2 mg
Naloksone jika klien memiliki riwayat pemakaian
opioid
Jika klien agresif bisa diberikan Halloperidol IM

INTOKSIKASI KOKAIN
Tanda dan gejala :
takikardiaataubradikardia,
dilatasipupil,
peningkatanataupenurunan tekanan darah,
berkeringat atau rasa dingin,
mual atau muntah,
penurunan beratbadan,
agitasiatau retardasipsikomotor,
kelemahan otot,
depresi, nyeri dada atauarimia jantung,
bingung(confusion),
Kejang, dyskinesia,dystonia,hinggadapat menimbulkan
koma

INTOKSIKASI KOKAIN
PENATALAKSANAAN
setelahpemberianbantuanhidupdasar
adalah
denganmelakukantindakankolaborati
berupa pemberianterapi-terapi
simptomatik, misal : Benzodiazepin jika
timbul gejala agitasi, obat antipsikotikk
jika timbul gejala psikotik, dan terapi
lain sesuai dgn gejala yg ditemukan.

Adiksi/ketergantungan
Narkoba (3A)

ADIKSI WITHDRAWL

Beberapa cara mengatasi putus opioida :

Tanpa diberi terapi apapun,putus obat seketika (abrupt


withdrawalataucoldturkey)
Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal)
Dapat diberi morfin,petidin, metadon atau kodein dengan dosis
dikurangi sedikit demi sedikit
Terapiputusopioidadengansubstitusinonopioda
menggunakan Clonidine, dosis diturunkan bertahap sampai
berhenti dalam 10 hari
TerapiputusopioidadenganmetodeDetoksifikasi cepat dalam
anestesi(Rapid Opioid Detoxification)
menggunakan antagonist opiat (Naltrekson) dalam waktu 1
tahun
Terapiputuszatsedative/hipnotikadanalcohol
HarussecarabertahapdandapatdiberikanDiazepam

PSIKOSA FUNGSIONAL

PSIKOSA FUNGSIONAL

Skizofrenia
Psikosa Akut dan Sementara
Gangguan Waham
Skizoafektif

SKIZOFRENIA (3A)

Skizofrenia
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi
penyebab, gejala dan perjalanan penyakit yang
luas, yang juga bergantung pada perimbangan
pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya. Pada
umumnya ditandai oleh penyimpangan yang
fundamental dan karakteristik dari pikiran dan
persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau
tumpul

skizofrenia
Subtipe Skizofrenia:
Tipe paranoid

Tipe disorganisasi (hebefrenik)


Tipe katatonik
Tipe tak terinci
Tipe residual
Tipe simpleks
Tipe lain
Yang tak tergolongkan

Gejala Skizofrenia
Skizofrenia seing memperlihatkan berbagai campuran gejala berikut:

Gangguan proses pikir: pikiran mereka sering tidak dapat


dimengerti oleh orang lain dan terlihat tidak logis (asosiasi
longgar, neologisme, dll)
Gangguan isi pikir waham kejar, waham kebesaran,
waham rujukan, thought insertion, thought broadcasting
Tilikan yang buruk
Gangguan persepsi halusinasi
Depersonalisasi, derealisasi, gangguan kepribadian
Gangguan emosi: afek tumpul, afek tak serasi, afek labil

Gejala skizofrenia

Pada fase awal dapat ditemukan kepribadian


prepsikotik yang ditandai dengan penarikan diri dan
kaku secara sosial, sangat pemalu, dan sering
mengalami kesulitan di sekolah meskipun IQ normal

Pasien dengan remisi dapat menunjukkan tanda awal


kekambuhan seperti; peningkatan kegelisahan dan
ketegangan, penurunan nafsu makan, depresi ringan,
anhedonia, sulit tidur, dan konsentrasi terganggu

PEdoman diagnostik

Berdasarkan DSM-IV:
Berlangsung paling sedikit 6 bulan
Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang

pekerjaan, hubungan interpersonal, dan fungsi kehidupan


pribadi
Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas

selama periode tersebut


Tidak ditemui gejala yang sesuai dengan skizoafektif,

gangguan perasaan mayor, autisme, atau gangguan organik

Pedoman diagnostik

Berdasarkan PPDGJ-III:

Harus ada setidaknya satu gejala berikut ini yang amat


jelas (dan biasanya 2 gejala atau lebih bila gejala-gejala
kurang jelas)
(a) thought echo, thought insertion, thought broadcasting
(b) delusion of control, delusion of influence, delusion of

passivity, delusional perception


(c) halusinasi auditorik
(d) waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya

setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil

Lanjutan

Atau paling sedikit 2 gejala di bawah ini


yang harus selalu ada secara jelas:
halusinasi menetap dari panca-indera apa saja,
arus pikiran yang terputus atau yang

mengalami sisipan,
perilaku katatonik
gejala negatif

Lanjutan

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah


berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau
lebih

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan


bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa
aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat
sesuatu, sukap larut dalam diri sendiri, dan penarikan
diri secara sosial

Subtipe Skizofrenia

Tipe Paranoid

- Paling sering dijumpai


- Gambaran klinis didominasi waham yg cenderung stabil, halusinasi
auditorik
- Afek dan pembicaraan hampir tidak terpengaruh
- Onset usia lebih tua dibandingkan tipe lain
Pedoman Diagnostik

Kriteria Umum skizofrenia terpenuhi

Halusinasi dan waham menonjol

Gangg.afektif, gej katatonik tidak nyata

Waham hampir semua jenis, tetapi waham kejar, waham dikendalikan


paling khas

Tipe

hebefrenik (disorganized)

Onset biasanya usia 15-25 tahun

Aktif namun dalam sikap yang nonkonstruktif dan


tidak bertujuan (aimless & empty of purpose)

Gangguan afektif serta proses pikir menonjol,


kontak dengan realitas buruk, sering inkoheren

Penampilan pribadi dan prilaku sosial berantakan

Respon emosional tidak sesuai (tawa meledak


tanpa alasan jelas)

Tipe

Katatonik

Pasien

memiliki paling sedikit satu dari (atau kombinasi)

beberapa bentuk katatonia:


Stupor katatonik atau mutisme: pasien tidak berespon terhadap

lingkungan atau orang, namun pasien menyadari hal yang sedang


berlangsung disekitarnya
Negativisme katatonik: pasien melawan semua perintah atau

usaha untuk menggerakkan fisiknya


Rigiditas katatonik: pasien secara fisik sangat kaku
Postur katatonik: pasien mempertahankan posisi yang tak biasa

atau aneh
Kegembiraan katatonik: pasien sangat aktif dan gembira

Tipe

Tak Terinci

Tipe skizofrenia yang gejalanya memenuhi kriteria skizofrenia, namun tidak


memenuhi criteria tipe paranoid, hebefrenik, atau katatonik, dan residual
Tipe

Residual

Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih


memperlihatkan gejala-gejala residual seperti; penarikan diri secara sosial,
afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik, asosiasi melonggar, atau
pikiran tak logis
Tipe

Simpleks

Suatu diagnosis yang sulit dibuat secara meyakinkan, karena bergantung


pada pemastian perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari
gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat
halusinasi, waham, atau manifestasi lain tentang adanya episode psikotik
sebelumnya

Gangguan psikotik lainnya


1. Skizofreniform
- Durasi waktu dari gejala lebih singkat
- Bersifat episodik
- Prognosis baik
- Rata-rata sembuh sebelum 6 bulan
- Penderita dapat berkembang diagnosis menjadi skizofrenia
Kriteria diagnostik menurut DSM IV

Apabila kriteria dari skizofrenia terpenuhi

G. Bersifat episodik (fase prodromal, aktif dan residual)

Durasi 1 sampai kurang dari 6 bulan

2. Gangguan Depresif Pasca Psikotik dari Skizofrenia


Kriteria diagnostik
Terpenuhi kriteria untuk episode depresi berat dan mood terdepresi harus

ada.
Episode depresi berat ditumpangi oleh dan terjadi hanya selama fase

residual dari skozofrenia.

3. Gangguan Skizoafektif

Kriteria diagnostik menurut DSM IV


Periode penyakit yang tidak terputus, suatu waktu terdapat episode

depresi mayor,episode manik atau episode campuran dengan gejala yang


memenuhi kriteria untuk Skizofrenia.
Selama periode yang sama terdapat waham atau halusinasi selama

sekurangnya 2 minggu tanpa disertai adanya gejala mood yang menonjol.

Menurut PPDGJ-III

Ganguan yang bersifat episodik dengan gejala afektif dan


skizofrenik yang sama menonjol dan secara bersamaan ada
dalam periode yang sama, atau dalam beberapa hari yang satu
sesudah yang lain.

Pedoman diagnosis :

Gejala definitif adanya gangguan skizofrenia dan gangguan afektif


sama-sama menonjol

Episode penyakit tidak memenuhi skizofrenia maupun episode manik


atau depresif.

Tidak termasuk gejala skizofrenia dan gangguan afektif yang terjadi


di episode yang berbeda seperti depresi pasca skizofrenia.

4. Gangguan Waham Menetap

Waham yang berlangsung lama (paling sedikit 3 bulan)


sebagai satu-satunya gejala klinis yang khas dan tidak dapat
digolongkan sebagai gangguan mental organik, skizofrenia
atau gangguan afektif.

5. Gangguan Waham terinduksi

Dialami dua orang atau lebih yang mempunyai


hubungan emosional erat

Hanya seorang individu yang menderita psikosis


sesunguhnya

Biasanya menghilang bila orang-orang tersebut dipisahkan

Waham biasanya bersifat kronis, kejar atau kebesaran.

Pedoman diagnosis :

(a) Dua

orang atau lebih mengalami waham atau sistem

waham yang sama, dan saling mendukung dalam


keyakinan itu;
(b) Mereka

mempunya hubungan yang luar biasa

dekatnya seperti diuraikan diatas;


(c) Ada

bukti dalam konteks waktu atau lainnya bahwa

waham tersebut diinduksi pada anggota/anggotaanggota dari pasangan atau kelompok yang
menerima pasif melalui kontak dengan pasangan
atau anggota kelompoknya yang aktif.

6. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

Onset yang akut (dalam masa 2 minggu) sebagai


ciri khas yang menentukan seluruh kelompok.

Adanya sindrom yang khas (berupapolimorfik=


beraneka-ragam

dan

berubah

cepat,

atau

schizophrenia-like= gejala skizofrenik yang khas)

Adanya stres akut yang terkait

Tanpa

diketahui

berlangsung

berapa

lama

gangguan

akan

7. Gangguan Psikotik Non-Organik Lainnya

Gangguan psikotik yang tidak memenuhi


kriteria untuk skizofrenia atau untuk
gangguan afektif yang bertipe psikotik, dan
gangguan-gangguan yang psikotik yang tidak
memenuhi criteria gejala untuk gangguan
waham menetap.

PENATALAKSANAAN
Psikosis-> berkaitan dengan aktivitas
neurotransmitter dopamin yang meningkat
Antipsikosis tipikal
- Klorpromazin
- Haloperidol
- Fluphenazine
- Perphenazine
Antipsikosis Atipikal
Clozapine
Olanzapine
Risperidone

Psikoterapi Suportif

Ventilasi

Memberi kesempatan seluas-luasnya pada pasien untuk


mengutarakan isi hatinya

Persuasi

Menerangkan secara masuk akal tentang gejala-gejala


penyakitnya yg timbul akibat cara berpikir, perasaan, sikap
terhadap permasalahan yang dihadapinya.
- Psikoterapi reassurance
Meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa pasien sanggup
menghadapi masalahnya.

Lanjutan
Sugesti
Menambahan kepercayaan pada pasien.
- Bimbingan
Memberikan nasehat praktis dan khusus yang
berhubungan dengan masalah kesehatan kejiwaan pasien.
- Konseling
Membantu pasien mengerti dirinya sendiri lebih baik agar
dapat mengatasi permasalahan dan menyesuaikan diri.

TERIMA KASIH