Anda di halaman 1dari 65

STRUKTUR APBD & KODE

REKENING
DAN
RKA-SKPD & DPA-SKPD
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
DIREKTORAT JENDERAL BINA ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH
TAHUN 2006
1

STRUKTUR ANGGARAN
KEPMENDAGRI 29/2002

PERMENDAGRI 13/2006

Belanja diklasifikasikan menurut


Bidang Kewenangan,
Organisasi, Kelompok, Jenis,
Obyek dan Rincian Obyek

Belanja diklasifikasikan menurut urusan


Pemerintahan Daerah, Organisasi,
Program, Kegiatan, Akun, Kelompok,
Jenis, Obyek dan Rincian obyek

Pemisahan secara tegas antara


belanja aparatur & belanja
pelayanan publik

Tidak dipisahkan anggaran terpadu


(Unified Budget)
Pemisahan belanja aparatur dan
pelayanan publik tercermin dalam
program & kegiatan

Pengelompokan BAU, BOP & BM Belanja Tidak Langsung


cenderung menimbulkan
Belanja Langsung
terjadinya tumpang tindih
anggaran
penganggaran
Menggabungkan antara jenis
belanja sebagai input dan
kegiatan dijadikan sebagai jenis
belanja

Efiseinsi

Restrukturisasi jenis-jenis belanja

KLASIFIKASI BELANJA MENURUT URUSAN WAJIB


(25 Urusan)

Pendidikan
Kesehatan
Pekerjaan umum
Perumahan
Penataan ruang
Perencanaan pembangunan
Perhubungan
Lingkungan hidup
Pertanahan
Kependudukan dan catatan
sipil
Pemberdayaan perempuan
keluarga berencana dan
keluarga sejahtera
Sosial
Tenaga kerja
Koperasi dan usaha kecil dan
menengah

Penanaman modal
Kebudayaan
pemuda dan olah raga
Kesatuan bangsa dan politik
dalam negeri
Pemerintahan umum
kepegawaian
Pemberdayaan masyarakat
dan desa
Statistik
Kearsipan
Komunikasi dan informatika;

Lanjutan
KLASIFIKASI BELANJA MENURUT URUSAN PILIHAN
(8 Urusan)

Pertanian
Kehutanan
Energi dan sumber daya mineral
Pariwisata
Kelautan dan perikanan
Perdagangan
Perindustrian
Transmigrasi

Klasifikasi belanja menurut urusan yang penanganannya dalam bagian atau


bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan
pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundangundangan dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan yang
diklasifikasikan menurut urusan wajib dan urusan pilihan.

STRUKTUR APBD (Kepmendagri 29/2002)


I

II

PENDAPATAN
Pendapatan Asli Daerah

xxx

Dana Perimbangan

xxx

Lain-lain Pendapatan yang Sah

xxx

BELANJA
APARATUR / PUBLIK

III

XXX

XXX
XXX

Belanja Administrasi Umum

xxx

Belanja Operasi dan Pemeliharaan

xxx

Belanja Modal

xxx

SURPLUS/(DEFISIT)

XXX

PEMBIAYAAN

XXX

Penerimaan Pembiayaan

xxx

Pengeluaran Pembiayaan

xxx
5

STRUKTUR APBD (Permendagri 13/2006)

PENDAPATAN

XXX

BELANJA
Belanja Tidak Langsung
Belanja Langsung

XXX
xxx
Xxx

(-)

Surplus/(Defisit)

PEMBIAYAAN
Penerimaan
Pengeluaran

Pembiayaan Neto
SILPA Tahun Berjalan

XXX
xxx
xxx

(-)
XXX

(-)

XXX
6

STRUKTUR PENDAPATAN
A. Pendapatan Asli Daerah:
1.
2.
3.
4.

Pajak Daerah
Retribusi Derah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang sah

B. Dana Perimbangan:
1.
2.
3.

Dana Bagi Hasil


Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus

C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah:


1.
2.
3.

Hibah
Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah
Daerah lainnya
4. Dana Penyesuaian & Dana OTSUS
5. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemda lainnya

PENDAPATAN DAERAH
Pendapatan

Daerah
meliputi
Semua
Penerimaan Uang Melalui Rekening Kas
Umum Daerah, Yang Menambah Ekuitas
Dana, Merupakan Hak Daerah Dalam Satu
Tahun Anggaran Dan Tidak Perlu Dibayar
Kembali Oleh Daerah

Pendapatan

Daerah
Dirinci
Menurut
Urusan
Pemerintahan,
Organisasi,
Kelompok, Jenis, Obyek Dan Rincian Obyek
Pendapatan
8

KELOMPOK PENDAPATAN DAERAH


1. Kelompok
pendapatan
asli
daerah
dibagi
menurut
jenis
pendapatan yang terdiri atas : pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan , dan lain-lain pendapatan
daerah yang sah.
2. Kelompok dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang
terdiri atas : dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus.
3. Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah , dapat bersumber
dari :
hibah, dapat berasal dari pemerintah, pemerintah kab/kota di wilayah
provinsi, kab/kota di luar wilayah provinsi, pemerintah provinsi dan/atau
provinsi lainnya, dari perusahaan daerah/BUMD, dari perusahaan
negara/BUMN atau dari masyarakat.
dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban/kerusakan akibat bencana alam;
Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota dan dari
pemerintah daerah lainnya
Dana penyusuaian
pemerintah

dan

dana

otonomi

khusus

yang

ditetapkan

oleh

bantuan keuangan dari kabupaten/kota di wilayah provinsi, bantuan keuangan


dari prov/kab/kota lainnya di luar wilayah provinsi.
9

STRUKTUR BELANJA
A. Belanja Tidak Langsung:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil
Bantuan Keuangan
Belanja Tak Terduga

B. Belanja Langsung:
1.
2.
3.

Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal
10

BELANJA DAERAH
Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan
urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan
kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan
urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu
yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah daerah atau
antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan
perundang-undangan.
Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk
melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam
bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan,
fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak
serta
mengembangkan sistem jaminan sosial.
11

Lanjutan.
.
Belanja Daerah disusun menurut urusan, organisasi, program dan
kegiatan serta akun belanja
Belanja Daerah menurut urusan pemerintahan disusun berdasarkan
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
pemerintah daerah yang terdiri atas : urusan wajib dan urusan
pilihan
Belanja Daerah menurut organisasi disusun berdasarkan satuan
kerja perangkat daerah yang bertanggungjawab melaksanakan
urusan
tersebut
dan
bertindak
sebagai
pusat-pusat
pertanggungjawaban uang/barang
Belanja Daerah menurut program dan kegiatan disusun sesuai
dengan
kebutuhan
dalam
rangka
melaksanakan
urusan
pemerintahan daerah yang menjadi tanggungjawab satuan kerja
perangkat daerah
12

Belanja Daerah menurut akun belanja sesuai dengan kebutuhan

KELOMPOK BELANJA
1. Belanja Tidak Langsung :
merupakan belanja yang dianggarkan
tidak terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan.
2. Belanja Langsung :
merupakan belanja yang dianggarkan
terkait
secara
langsung
dengan
pelaksanaan program dan kegiatan.
13

PENGELOMPOKAN JENIS
JENIS BELANJA
BELANJA UNTUK
UNTUK EFISIENSI
EFISIENSI APBD
APBD
PENGELOMPOKAN
KEPMENDAGRI 29/2002

PERMENDAGRI

BELANJA ADMINISTRASI UMUM

BELANJA TIDAK LANGSUNG

BELANJA PEGAWAI

BELANJA PEGAWAI

BELANJA BARANG DAN JASA

BUNGA

BELANJA BUNGA

BELANJA PERJALANAN DINAS

BELANJA SUBSIDI

BELANJA PEMELIHARAAN *)

BELANJA HIBAH
BELANJA BANTUAN SOSIAL

BELANJA OPERASI & PEMELIHARAAN

BELANJA BAGI HASIL

BELANJA PEGAWAI

BELANJA BANTU KEUANGAN

BELANJA BARANG DAN JASA

BELANJA TAK TERDUGA

BELANJA PERJALANAN DINAS


BELANJA PEMELIHARAAN *)
BELANJA MODAL

KEGIATAN

BELANJA LANGSUNG
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG DAN JASA
BELANJA MODAL

BELANJA BAGI HASIL & BANTUAN KEU


BELANJA TIDAK TERSANGKA

14

JENIS BELANJA
Belanja pegawai:

belanja penghasilan pimpinan dan anggota DPRD

gaji pokok dan tunjangan KDH/WKDH

gaji pokok dan tunjangan PNSD

Tambahan penghasilan (Beban kerja, tempat tugas/daerah terpencil, kondisi


kerja/resiko tinggi, kelangkaan profesi dan prestasi kerja) dengan Perkada

honorarium

Belanja bunga:

pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang ( principal
outstanding) pinjaman jangka pendek/jangka menengah/jangka panjang.

Belanja subsidi:

Subsidi kepada perusahaan/lembaga tertentu (harus diaudit) agar harga jual


produksi/jasa
yg
dihasilkan
dpt
terjangkau
oleh
masyarakat.
Perusahaan/Lembaga penerima subsidi wajib menyampaikan LPJ kepada KDH.

15

Lanjutan.
.
Belanja hibah:

Pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada


pemerintah/pemerintah
daerah
lainnya/kelompok
masyarakat/perorangan

Telah memenuhi seluruh kebutuhan urusan wajib guna memenuhi


SPM yg ditetapkan dana hibah & jasa

Tidak memiliki nilai ekonomis bagi pemerintah daerah, tetapi


bermanfaat
bagi
pemerintah
daerah
lainnya
atau
masyarakat/perorangan hibah barang.

Hibah kepada pemerintah menunjang penyelenggaraan fungsi


pemerintahan di Daerah (dikelola sesuai mekanisme APBN)

Hibah kepada perusahaan daerah menunjang peningkatan


pelayanan kpd masyarakat

Hibah
kepada
badan/lembaga/organisasi
swasta/kelompok
masyarakat/perorangan peningkatan partisipasi masyarakat dlm
pembangunan daerah.

Tidak Mengikat dan terus menerus.

Ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah


16

Bantuan Sosial:

Lanjutan.
.

Bantuan Sosiali dalam bentuk uang dan barang peningkatan kesejahteraan


masyarakat.
Tidak secara terus menerus dan bersifat mengikat.

Termasuk bantuan PARPOL sesuai ketentuan perundang-undangan.

Belanja Bagi Hasil:

Belanja bagi hasil dari pendapatan provinsi yang dibagihasilkan kepada kabupaten/kota.
Belanja Bagi hasil dari pendapatan kabupaten/kota yang dibagihasilkan kepada
pemerintahan desa.

Belanja bantuan keuangan:

Bersifat umum atau bersifat khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa,
dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada
pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau
peningkatan kemampuan keuangan.

Belanja tidak terduga:

Belanja atas kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang.
Seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan
sebelumnya
Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah
ditutup.

17

Lanjutan.
.

Belanja Barang dan Jasa:

Belanja barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan


dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan.

Belanja modal:

belanja yang digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam


rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud
yang mempunyai nilai manfaatnya lebih dari 12 (duabelas) bulan.

Dalam rangka pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan


untuk memperoleh aset tsb dianggarkan (terpisah kode rekeningnya)
dalam belanja pegawai dan/atau belanja barang dan jasa (spt:
honorarium, ATK dsb).

18

Dasar pertimbangan
Pengelompokan Jenis Belanja
Pasal 39 PP 58/2004 menyatakan bahwa setiap jenis belanja yang
dianggarkan harus memperhatikan keterkaitan pendanaan dengan keluaran
dan hasil yang diharapkan dari program dan kegaitan yang dianggarkan,
termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil tersebut.
Mempertimbangkan ketentuan tersebut diatas, maka Belanja Daerah yang
diklasifikasikan menurut jenis belanja dibagi kedalam kelompok Belanja
Tidak Langsung dan Belanja Langsung.
Jenis belanja yg tidak langsung dapat diukur dengan keluaran dan hasil
yang diharapkan dari suatu program dan kegaitan seperti belanja pegawai
untuk membayar gaji dan tunjangan PNS, belanja bunga, belanja
subsidi belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil,
bantuan keuangan dan belanja tak terduga.
Jenis belanja yang langsung dapat diukur dengan hasil dari suatu program
dan kegaitan yang dianggarkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian
keluaran dan hasil tersebut yaitu belanja pegawai untuk membayar
honorarium/upah kerja, belanja barang dan jasa dan belanja modal.
19

Struktur Belanja
KEPEMENDAGRI 29/2002

PERMENDAGRI 13/2006

APARATUR & PELAYANAN PUBLIK

Belanja Administrasi Umum


Belanja Pegawai
Belanja Barang & Jasa
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Pemeliharaan

Belanja Tidak Langsung


Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil
Belanja Bantuan Keu
Belanja Tak Terduga

Belanja Operasi & Pemeliharaan


Belanja Pegawai
Belanja Barang & Jasa
Belanja Perjalanan Dinas
Belanja Pemeliharaan

Belanja Modal
Belanja Modal

Belanja Langsung
Program
Kegiatan
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Belanja Modal

BELANJA BAGI HASIL & BANTUAN


KEU

20

STRUKTUR PEMBIAYAAN
A. Penerimaan Pembiayaan:
1. Selisih Lebih Perhitungan (SiLPA) Anggaran Tahun
Sebelumnya
2. Pencairan Dana Cadangan
3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
4. Penerimaan Pinjaman Daerah
5. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

B. Pengeluaran Pembiayaan:
1.
2.
3.
4.

Pembentukan Dana Cadangan


Penyertaan Modal pemerintah Daerah
Pembayaran Utang Pokok
Pemberian Pinjaman

Pembiayaan Neto (A B)
21

SURPLUS/(DEFISIT) APBD

Merupakan selisih antara anggaran pendapatan daerah dan


anggaran belanja daerah.

Surplus anggaran terjadi bila anggaran pendapatan daerah


diperkirakan lebih besar dari anggaran belanja daerah.

Surplus, diutamakan untuk pembayaran pokok utang yang


jatuh tempo, penyertaan modal (investasi) daerah,
pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat/pemerintah
daerah lain, dan/atau pendanaan belanja peningkatan
jaminan sosial.

Defisit anggaran terjadi bila anggaran pendapatan daerah


diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah.

Apabila defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan


untuk menutup defisit, meliputi sisa lebih perhitungan
anggaran tahun anggaran sebelumnya, pencairan dana
cadangan,
hasil
penjualan
kekayaan
daerah
yang
dipisahkan, penerimaan pinjaman, penerimaan kembali22

BAGAN KODE REKENING


KEPMENDAGRI 29/2002
X

XX XX XX XX XX XX X

PERMENDAGRI 13/2006
X.XX XX XX XX XX XX XX XX XX

kode anggaran
pendapatan,
belanja &
pembiayaan
kode bidang
pemerintahan

kode urusan
pemerintahan
daerah
kode Organisasi

kode unit
organisasi
kode kelompok
pendapatan,
belanja &
pembiayaan
kode jenis
pendapatan,
belanja &
kode
obyek
pembiayaan
pendapatan,
belanja &
pembiayaan
kode rincian
obyek
pendapatan,
belanja &
kode
bagian
pembiayaan
belanja

kode Kegiatan

kode Program
Kode Akun
pendapatan, belanja
& pembiayaan
kode kelompok
pendapatan, belanja
& pembiayaan
kode jenis
pendapatan, belanja
& pembiayaan
kode obyek
pendapatan, belanja
& pembiayaan
kode rincian obyek
pendapatan, belanja
& pembiayaan
23

Contoh kode urusan


pemerintahan dan organisasi
KODE

Urusan Pemerintahan Daerah

1.
1.

Urusan Wajib
01.

Pendidikan
01

Dinas Pendidikan

02

Kantor Perpustakaan Daerah

03

Sekolah Dasar

24

Contoh Kode Program & Kegiatan


Menurut Urusan Pemerintahan
Daerah
KODE

PROGRAM DAN KEGIATAN

1.

Urusan Wajib

1.

01
.

1.

01.

01.

1.

01.

01.

01.

Kegiatan
Penyelenggaraan
Anak Usia Dini (PAUD)

1.

01.

01.

02.

Pelatihan dan pengembangan kompetensi


tenaga pengajar

PENDIDIKAN
Program Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan

25

Kode Akun
KODE

URAIAN

Aset

Kewajiban

Ekuitas Dana

Pendapatan

Belanja

Pembiayaan
26

Contoh kode rekening dan


susunan
pendapatan (provinsi)
Kode

Uraian

Rekening
1

PENDAPATAN DAERAH

01

01

01

A-1 Sedan, Jeep, Station Wagon ( Tidak Umum )

01

02

A-2 Sedan, Jeep, Station Wagon ( Umum )

01

03

B-1 Bus, Micro Bus ( Tidak Umum )

PENDAPATAN ASLI DAERAH


Pajak Daerah
Pajak Kendaraan Bermotor

27

Contoh kode rekening dan


susunan pendapatan (Kab/Kota)
Kode
Rekening

Uraian

PENDAPATAN DAERAH

Pendapatan Asli Daerah

01

01

02

Hasil Pajak Daerah


Pajak Hotel
01

..
Pajak Restoran

28

Contoh Kode Rekening Belanja


Daerah
Kode
Rekening

Uraian

BELANJA DAERAH

01

01

01

Gaji Pokok/ Uang Representasi

01

02

Tunjangan Keluarga

01

03

Tunjangan Jabatan

01

04

Tunjangan Fungsional

01

05

Tunjangan Beras

01

06

Tunjangan PPh

BELANJA TIDAK LANGSUNG


BELANJA PEGAWAI
Gaji dan Tunjangan

29

Contoh Kode Rekening Pembiayaan


Kode
Rekening

Uraian

PEMBIAYAAN DAERAH

Penerimaan Pembiayaan Daerah

01

01

01 Pajak Daerah

01

02 Retribusi Daerah

SiLPA Tahun Lalu


Pelampauan penerimaan PAD

..........
6

02

02

Pelampauan penerimaan Dana Perimbangan


01 Bagi Hasil Pajak
30

CONTOH BEBERAPA BIDANG URUSAN WAJIB


DITANGANI OLEH 1 ORGANISASI

1.03

URUSAN WAJIB, BIDANG URUSAN PEKERJAAN UMUM


1.03.01

1.04

1.03.1.03.01

URUSAN WAJIB, BIDANG URUSAN PERUMAHAN


1.03.01

1.05

DINAS PEKERJAAN UMUM

DINAS PEKERJAAN UMUM

1.04.1.03.01

URUSAN WAJIB, BIDANG URUSAN PENATAAN RUANG


1.03.01

DINAS PEKERJAAN UMUM

1.05.1.03.01

31

CONTOH URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN


DITANGANI OLEH 1 ORGANISASI

1.17

URUSAN WAJIB, BIDANG URUSAN KEBUDAYAAN


1.17.01

2.04

DINAS KEBUDAYAAN DAN


PARIWISATA

1.17.1.17.01

URUSAN PILIHAN, BIDANG URUSAN PARIWISATA


1.17.01

DINAS KEBUDAYAAN DAN


PARIWISATA

2.04.1.17.01

32

DEPARTEMEN DALAM NEGERI


DIREKTORAT JENDERAL BINA ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH
TAHUN 2006

33

POLA PENYUSUNAN
ANGGARAN
ANGGARAN TRADISIONAL (PP5&PP6Thn 1975)

Line Item dan Incrementalism Penyusunan hanya didasarkan


pada besarnya realisasi anggaran tahun sebelumnya dan
konsekuensinya tidak ada perubahan yg mendasar pada anggaran
tahun berikutnya sehingga sering kurang sesuai dengan kebutuhan
riil.

Berimbang dan Dinamis

ZERO BASE

Penyusunan program/kegiatan dimulai dari nol

Alokasi anggaran belanja didasarkan atas kebutuhan saat ini

Planning Program Budget Sistem (PPBS)

Penekanan pada perencanaan

Cost Benefit dan Cost Effectiviness

ANGGARAN KINERJA (Psl 8, PP 105 Thn 2000)

Orientasi hasil

Menekankan prinsip value for money (ekonomis, efisien, efektif)

Memperbaiki pola penyusunan anggaran sebelumnya yang bersifat


line-item dan incremetalism.
34

Fungsi APBD
1.

Fungsi
otorisasi
yaitu
merupakan
dasar
melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun
bersangkutan.

untuk
yang

2.

Fungsi perencanaan yaitu merupakan pedoman bagi


manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang
bersangkutan.

3.

Fungsi pengawasan yaitu merupakan pedoman untuk


menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan
daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

4.

Fungsi alokasi yaitu harus diarahkan untuk menciptakan


lapangan kerja/mengurangi pengangguran dan pemborosan
sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas
perekonomian.

5.

Fungsi distribusi yaitu merupakan kebijakan yang harus


memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

6.

Fungsi stabilisasi yaitu merupakan alat untuk memelihara

35

Prinsip-Prinsip Penganggaran
Partisipatif,
Efisiensi,
Efektivitas,
Transparansi dan Akuntabel.

Ekonomis,

Semua penerimaan baik dalam bentuk uang, barang


dan/atau jasa dianggarkan dalam APBD
Seluruh pendapatan, belanja
dianggarkan secara bruto

dan

pembiayaan

Jumlah pendapatan merupakan perkiraan terukur


dan dpt dicapai serta berdasarkan ketentuan perUU-an
Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan
adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam
jumlah cukup dan harus didukung dengan dasar

36

SURAT EDARAN KEPALA DAERAH


Tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD
(Permendagri Nomor 13/2006, Pasal 89)

1. PPA yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut


rencana pendapatan dan pembiayaan
2. Sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja
SKPD berkenaan sesuai standar pelayanan minimal yang
ditetapkan
3. Batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD
4. Hal-hal lainnya yang perlu mendapat perhatian SKPD terkait
dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi, efektifitas,
transparansi, dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam
rangka pencapaian prestasi kerja
5. Dokumen sebagai lampiran meliputi KUA, PPA, kode rekening
APBD, format RKA-SKPD, analisis
standar belanja dan standar
Diterbitkan
satuan harga
Paling lambat awal bulan Agustus tahun
berjalan

37

PENYUSUNAN RKA-SKPD
Kerangka
Menengah

Pengeluaran

Anggaran
berbasis
prestasi kerja
Penganggaran
budgeting)

Jangka

kinerja

terpadu

(unified
38

KERANGKA PENGELUARAN JANGKA


MENENGAH (MTEF)

Memelihara kelanjutan fiskal (fiscal sustainability)


Disiplin fiscal secara berkelanjutan
Meningkatkan
keterkaitan
antara
proses
perencanaan dan penganggaran.

Dituangkan dalam Prakiraan Maju (forward


estimate) yaitu perhitungan kebutuhan dana untuk
tahun
anggaran
berikutnya
dari
tahun
yang
direncanakan.

Menjadi dasar penyusunan anggaran


berikutnya.
Implementasi mulai Tahun 2009

tahun

39

METODE PENERAPAN MTEF

Estimasi pengeluaran di masa datang atas dasar


pendekatan
baseline, seperti kegiatan
pemeliharan jalan/gedung/aset lainnya yg telah selesai
dibangun tahun sebelumnya.
Estimasi pengeluaran akibat adanya penghematan
(saving) dana dari kegiatan, sehingga tersedia dana
untuk mendanai program/kegiatan
yang
tinggi
prioritasnya.
Estimasi pengeluaran untuk program/kegiatan baru
yang sudah mendapatkan sumber pendanaan yang
pasti seperti: dari pinjaman/hibah.
Estimasi pengeluaran dengan memasukkan seluruh
program/kegiatan baru yg belum mendapatkan
kepastian pendanaan.

40

PENGANGGARAN TERPADU

Penyusunan rencana keuangan tahunan


yang dilakukan secara terintegrasi utk
seluruh jenis belanja guna melaksankan
kegiatan pemerintahan yg didasarkan
prinsip
pencapaian efisiensi alokasi
dana Tidak mengenal BAU & BOP.

Tidak lagi mengenal anggaran belanja


rutin dan pembangunan,
belanja
aparatur dan belanja publik.
41

PENGANGGARAN BERBASIS
KINERJA

Pendekatan penganggaran yg mengutamakan


keluaran/hasil dari kegiatan yang akan atau telah
dicapai dgn kuantitas dan kualitas yg terukur.

Setiap alokasi dana yg direncanakan harus terkait


dengan tingkat pelayanan dan hasil yang dpt
dicapai.

Utk penyusunan anggaran, didasarkan atas


capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar
belanja, standar satuan harga, standar pelayanan
minimal.

42

ANGGARAN BERBASIS
PRESTASI KERJA =KINERJA
SUATU SISTEM ANGGARAN YANG MEMPERHATIKAN
KETERKAITAN ANTARA PENDANAAN DENGAN KELUARAN
YANG DIHARAPKAN DARI KEGIATAN DAN HASIL SERTA
MANFAAT YANG DIHARAPKAN TERMASUK EFISIENSI
DALAM PENCAPAIAN HASIL DAN KELUARAN

43

PENDEKATAN KINERJA

SISTEM
ANGGARAN
YANG
MENGUTAMAKAN
UPAYA
PENCAPAIAN OUTPUT DARI SUATU INPUT YANG DITETAPKAN

OUTPUT (KELUARAN) MENUNJUKKAN BARANG ATAU JASA YANG


DIHASILKAN OLEH KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN UNTUK
MENDUKUNG PENCAPAIAN SASARAN PROGRAM DAN KEBIJAKAN

INPUT (MASUKAN) ADALAH BESARNYA SUMBER DAYA BAIK


YANG BERUPA PERSONIL, BARANG MODAL TERMASUK
PERALATAN DAN TEKNOLOGI, DANA, ATAU KOMBINASI DARI
BEBERAPA
ATAU
KESEMUA
JENIS
SUMBERDAYA
YANG
DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN KEGIATAN

KINERJA/PRESTASI KERJA ADALAH KELUARAN/HASIL DARI


KEGIATAN/PROGRAM YANG AKAN ATAU TELAH
DICAPAI
SEHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN ANGGARAN DENGAN
KUANTITAS DAN KUALITAS YANG TERUKUR
44

ANALISIS STANDAR BELANJA


(ASB)
DALAM
SISTEM ANGGARAN KINERJA SETIAP
USULAN PROGRAM, KEGIATAN DAN ANGGARAN
DINILAI KEWAJARANNYA
ANALISIS STANDAR BELANJA ADALAH STANDAR
ATAU
PEDOMAN
YANG
DIGUNAKAN
UNTUK
MENGANALISIS KEWAJARAN BEBAN KERJA ATAU
BIAYA SETIAP PROGRAM ATAU KEGIATAN YANG
DILAKSANAKAN DALAM SATU TAHUN ANGGARAN
PENILAIAN KEWAJARAN DALAM ASB MENCAKUP
DUA HAL : KEWAJARAN BEBAN KERJA DAN
KEWAJARAN BIAYA
45

Analisis Standar Belanja


(ASB)
Manfaat :
MENDORONG UNIT KERJA UNTUK
SELEKTIF
MENGHINDARI BELANJA YANG
KURANG EFEKTIF DAN EFISIEN
MENGHINDARI TUMPANG TINDIH
BELANJA

46

PENILAIAN KEWAJARAN
BEBAN KERJA
KAITAN LOGIS ANTARA PROGRAM/KEGIATAN YANG
DIUSULKAN DENGAN KUA DAN PPAS
KESESUAIAN ANTARA PROGRAM/KEGIATAN YANG
DIUSULKAN DENGAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI
SKPD YANG BERSANGKUTAN
KAPASITAS SATUAN KERJA UNTUK MELAKSANAKAN
PROGRAM/KEGIATAN PADA TINGKAT PENCAPAIAN
YANG DIINGINKAN DAN DALAM JANGKA WAKTU
SATU TAHUN ANGGARAN
47

PENILAIAN KEWAJARAN BIAYA


KAITAN
ANTARA
BIAYA
YANG
DIANGGARKAN
DENGAN
TARGET
PENCAPAIAN KINERJA (STANDAR BIAYA)
KAITAN ANTARA STANDAR BIAYA DENGAN
HARGA YANG BERLAKU
KAITAN
ANTARA
BIAYA
YANG
DIANGGARKAN,
TARGET
PENCAPAIAN
KINERJA DENGAN SUMBER DANA
48

PENILAIAN KEWAJARAN BIAYA


PROGRAM

KEGIATAN

ANGGARAN BELANJA

TARGET KINERJA

STANDAR BIAYA

HARGA YANG BERLAKU


49

CONTOH
KEGIATAN
KINERJA
TOT BINTEK PENYUSUNAN
PROGRAM DAN ANGGARAN
DAERAH

ANGGARAN BELANJA
BELANJA PEGAWAI
BELANJA BARANG/JASA

TARGET
100 PESERTA TERLATIH

STANDAR BIAYA
BELANJA RATA-RATA PER
PESERTA

HARGA YANG BERLAKU


HONOR FASILITATOR
BIAYA MAKAN & MINUM
BIAYA PENGGANDAAN
50

STANDAR BIAYA
pengertian :
HARGA SATUAN UNIT BIAYA YANG
BERLAKU
BAGI MASING-MASING DAERAH

tujuan :
ALOKASI ANGGARAN BELANJA
SETIAP PROGRAM/KEGIATAN

51

DASAR PENILAIAN KINERJA


MASUKAN
BESARAN SUMBER DAYA YANG DIGUNAKAN UNTUK
MELAKSANAKAN PROGRAM ATAU KEGIATAN

KELUARAN
BARANG ATAU JASA YANG DIHASILKAN DARI PROGRAM
ATAU KEGIATAN

HASIL
SEGALA SESUATU YANG MENCERMINKAN
BERFUNGSINYA KELUARAN DARI KEGIATAN-KEGIATAN
DALAM SUATU PROGRAM ATAU KEGIATAN
52

FORMULASI INDIKATOR, TOLOK UKUR & TARGET


KINERJA
Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang
akan dicapai dari program dan kegiatan yg direncanakan,
terdiri dari :

masukan, keluaran dan hasil.

Tolok Ukur Kinerja adalah ukuran prestasi kerja yang


akan
dicapai
dari
keadaan
semula
dgn
mempertimbangkan faktor kualitas, kuantitas, efisiensi
dan efektivitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan, seperti : jumlah, rasio, porsentase,

tingkat pencapaian, tingkat kecepatan, waktu


Target kinerja adalah hasil yang diharapkan dari
penyelesaian
dsb.
capaian program,
masukan, keluaran atau hasil dari
suatu kegiatan berdasarkan tolok ukur kinerja yang
ditetapkan, seperti : Target capaian program 1:3, Target
masukan (jumlah dana) Rp 200 juta, Target keluaran
(jumlah penyuluh terlatih) 500 orang, Target hasil (ratio
jumlah kelas dan siswa) 1:40.
53

ALUR PENGERJAAN RKA SKPD


Kode

Nama Formulir

RKA-SKPD

Ringkasan Anggaran
Pendapatan, Belanja dan
Pembiayaan SKPD

RKA-SKPD
1

Rincian Anggaran
Pendapatan SKPD

RKA-SKPD
2.1

Rincian Anggaran Belanja


Tidak Langsung SKPD

RKA-SKPD
2.2

Rekapitulasi Rincian
Anggaran Belanja Langsung
menurut
Program dan Kegiatan
SKPD

RKA-SKPD
2.2.1

Rincian Anggaran Belanja


Langsung menurut Program
dan Per Kegiatan SKPD

RKA-SKPD
3.1

Rincian Penerimaan
Pembiayaan Daerah

RKA-SKPD
3.2

Rincian Pengeluaran
Pembiayaan Daerah

54

Rencana
Rencana Kerja
Kerja Anggaran
Anggaran Satuan
Satuan Kerja
Kerja Perangkat
Perangkat Daerah
Daerah
(RKA
(RKA SKPD)
SKPD)

Kode

Nama Formulir

RKA SKPD

Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja


dan Pembiayaan Satuan Kerja Perangkat
Daerah

RKA SKPD 1

Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja


Perangkat Daerah

RKA SKPD 2.1

Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung


Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA SKPD 2.2

Rekapitulasi Anggaran Belanja Langsung


Berdasarkan Program dan Kegiatan

RKA SKPD
2.2.1

Rincian Anggaran Belanja Langsung Per


Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA SKPD 3.1

Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah

RKA SKPD 3.2

Rincian Pengeluaran Pembiayaan Daerah


55

FORMULIR RKA-SKPD
Logo
Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota *)
RENCANA KERJA ANGGARAN
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH
(RKA - SKPD)
TAHUN ANGGARAN .
Urusan Pemerintahan

: x.xx. ..

Organisasi

: x.xx.xx. .

Pengguna Anggaran :
Nama

: ..

NIP

: ..

Jabatan

: ..
Kode

Nama Formulir

RKA - SKPD

Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA - SKPD 1

Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA - SKPD 2.1

Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA - SKPD 2.2

Rekapitulasi Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA - SKPD 2.2.1

Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah

RKA - SKPD 3.1

Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah

RKA - SKPD 3.2

Rincian Pengeluaran Pembiayaan Daerah

56

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA - SKPD

Provinsi/Kabupaten/Kota .
Tahun Anggaran
Urusan Pemerintahan

: x.xx. ...............................

Organisasi

: x.xx.xx. .
Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan
Satuan Kerja Perangkat Daerah

Kode
Rekening

Uraian

Jumlah
(Rp)

Surplus/ (Defisit)

Pembiayaan neto

..,tanggal..
..,tanggal..
Kepala SKPD

(tanda tangan)

(nama lengkap)
NIP.

57

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA-SKPD 1

Provinsi/Kabupaten/Kota .
Tahun Anggaran
Urusan Pemerintahan

: x.xx.

Organisasi

: x.xx.xx.
Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
Rincian Penghitungan

Kode
Rekening

Uraian

xx

xx

xx

xx

volume

satuan

Tarif/
Harga

Jumlah
(Rp)
6 = (3 x 5)

Jumlah
..,tanggal
..,tanggal
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Keterangan
:
Tanggal Pembahasan
:
Catatan Hasil Pembahasan :
1.
2.
Dst.
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
No
1
2

Nama

NIP

Jabatan

Tandatangan

58

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA-SKPD 2.1

Provinsi/Kabupaten/Kota
Tahun Anggaran
Urusan Pemerintahan

: x.xx.

Organisasi

: x.xx.xx.
Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah
Tahun n

Kode
Rekening

Uraian

xx

xx

xx

xx

volume

satuan

Harga satuan

Jumlah
(Rp)

6=(3x5)

Tahun
n+1
7

Jumlah
..,tanggal..
..,tanggal..
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Keterangan

Tanggal Pembahasan

Catatan Hasil Pembahasan

1.
2.
Dst
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
No
1

Nama

NIP

Jabatan

Tanda Tangan

59

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA-SKPD 2.2

Provinsi/Kabupaten/Kota
Tahun Anggaran ...........
Urusan Pemerintahan

: x. xx.

Organisasi

: x. xx. xx.
Rekapitulasi Anggaran Belanja Langsung Berdasarkan Program dan Kegiatan
Kode

Jumlah

Program

Kegiatan

xx

Uraian

Lokasi
Kegiatan
4

Target Kinerja
(Kuantitatif)
5

Tahun n
Belanja
Pegawai

Barang &
Jasa

Modal

Jumlah
9=6+7+8

Tahun
n+1
10

Program .
xx

Kegiatan .

xx

Kegiatan .

xx

dst .

xx

dst .
xx

dst .

Jumlah
..,tanggal..
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.

60

61

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA-SKPD 3.1

Provinsi/Kabupaten/Kota .
Tahun Anggaran ...
Urusan Pemerintahan

: x. xx.

Organisasi

: x. xx. xx.
Rincian Penerimaan Pembiayaan

Kode
Rekening

Uraian

Jumlah
(Rp)

xx

xx

xx

xx

xx

xx
Jumlah Penerimaan
tanggal
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.

Keterangan

Tanggal Pembahasan

Catatan Hasil Pembahasan

1.
2.
Dst
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
No
1

Nama

NIP

Jabatan

Tanda Tangan

62

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN


SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

Formulir
RKA-SKPD 3.2

Provinsi/Kabupaten/Kota .
Tahun Anggaran ...
Urusan Pemerintahan

: x. xx.

Organisasi

: x. xx. xx.
Rincian Pengeluaran Pembiayaan

Kode
Rekening

Uraian

Jumlah
(Rp)

xx

xx

xx

xx

xx

xx
Jumlah Penerimaan
tanggal
Kepala SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.

Keterangan

Tanggal Pembahasan

Catatan Hasil Pembahasan

1.
2.
Dst
Tim Anggaran Pemerintah Daerah:
No
1

Nama

NIP

Jabatan

Tanda Tangan

63

Baru kemarin beli ikan di Tidore


Untuk hadiah kok kurang tepat
Jangan main2 dengan uang APBD
Hidup nggak berkah dunia akherat

Yang nekat
KUALAT!!

64

65