Anda di halaman 1dari 39

Your Company slogan in here

Superimposed
Preeklampsia
Oleh:
Ade Putri Rinanda Ayoumi
Intan Maulinar
Umi Hazzar Nasution

Supervisor: dr. Niken Asri


L/O/G/O

PENDAHULUAN
1

Tiga penyebab utama kematian ibu dalam bidang


obstetri adalah: pendarahan 45%, infeksi 15%,
dan preeklampsia 13%

2 Berdasarkan studi yang dilakukan oleh WHO tahun

2011 , terdapat sekitar 14,9% wanita meninggal


dengan preeklampsia.

preeclampsia adalah preeklampsia


3 Superimposed
pada penderita hipertensi kronik. Beberapa faktor
yang
dianggap
berperan
pada
kejadian
preeklampsia adalah faktor gen, plasenta, respon
imun, dan penyakit vaskular pada ibu.

DEFENISI
Preeklampsia didefinisikan sebagai hipertensi yang timbul
setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria.
Hipertensi umumnya timbul terlebih dahulu dari pada tandatanda lain. Kenaikan tekanan darah sistolik dan diastolik
140/90 mmHg dapat membantu ditegakkannya diagnosis
hipertensi.

Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia: hipertensi


kronik disertai tanda-tanda preeclampsia atau hipertensi kronik
disertai proteinuria.

www.themegallery.com

KLASIFIKASI
Hipertensi kronik dengan
Superimposed
Preeclampsia

Hipertensi kronik

tekanan darah >140/90 mm/Hg


sebelum usia gestasi 20 minggu

Hipertensi
gestasional

Preeklampsi dan
Eklapmsia

tekanan darah >140/90 mmHg


Proteinuria (-)
Kembali normal pada12 minggu
setelah kelahiran

Tekanan darah >140/90 mm/Hg


setelah usia gestasi 20 minggu
Proteinuria (+)

proteinuria > 300


mg/24 jam dengan
hipertensi
hipertensi kronik
disertai tanda-tanda
preeklampsia

Hipertensi dalam Kehamilan


20 minggu

<

1-2%
Hipertensi
Kronis

Proteinuria
(-)

Superimposed
Preeklampsia
Proteinuria
(+)

>

Proteinuria
(-)

partus

3-4%

3-4%

Hipertensi
gestasional

12

Preeklampsia

1-2%
Impending
eklampsia

PER

PEB

PEB +
Gejala*

Protein
+1

Protein
+2

Eklampsia

Kejang

EPIDEMIOLOGI
1

Angka kejadian preeklampsia eklampsia berkisar antara


2% dan 10% dari kehamilan di seluruh dunia

2
Angka kejadian preeklampsia di negara berkembang 5-7
kasus per 10.000 kelahiran .

3
Angka kejadian dari preeklampsia di Indonesia sekitar 7-10%
preeklampsia merupakan penyebab kematian nomor dua di
Indonesia bagi ibu hamil, sedangkan no.1 penyebab kematian
ibu diIndonesia adalah akibat perdarahan.

www.themegallery.com

FAKTOR RESIKO

Usia dan paritas


Ras dan faktor
keturunan
faktor gen dan gizi

adanya penyakit
penyerta (diabetes)

ETIOLOGI
Faktor
Trofoblast

Faktor
Imunologik

Faktor Genetik

Faktor Gizi
dan Peran
Prostasiklin
dan
Tromboksan

Faktor
Hormonal

www.themegallery.com

MANIFESTASI KLINIS

Year

www.themegallery.com

PATOGENESIS

PATOGENESIS
Click icon to add chart

www.themegallery.com

DIAGNOSIS

www.themegallery.com

TATALAKSANA

www.themegallery.com

1. Menyiapkan surat rujukan yang berisikan riwayat


penderita.
2. Menyiapkan partus set dan tongue spatel (sudip lidah).
3. Menyiapkan obat-obatan antara lain: valium injeksi,
antihipertensi, oksigen, cairan infus dextrose/ringer
laktat.
4. Pada penderita terpasang infus dengan blood set.
5. Pada penderita eklampsia, sebelum berangkat diinjeksi
valium 20 mg/iv, dalam perjalanan diinfus drip valium 10
mg/500 cc dextrose dalam maintenance drops. Selain
itu diberikan oksigen, terutama saat kejang, dan
terpasang tongue spatel.
www.themegallery.com

Modifikasi gaya hidup

www.themegallery.com

Click icon to add chart

www.themegallery.com

Click icon to add chart

www.themegallery.com

Click icon to add chart

www.themegallery.com

Click icon to add chart

www.themegallery.com

Bila penderita tidak terlambat dalam


pemberian pengobatan , maka gejala
perbaikan akan tampak jelas setelah
kehamilannya diakhiri. Segera setelah
persalinan berakhir perubahan patofisiologik
akan segera pula mengalami perbaikan.

PROGNOSIS

Diuresis terjadi 12 jam kemudian setelah


persalinan. Keadaan ini merupakan tanda
prognosis yang baik karena dalam hal ini
merupakan gejala pertama penyembuhan.
Tekanan darah kembali normal dalam
beberapa jam kemudian.

Penentuan prognosis ibu dan janin sangat


bergantung pada umur gestasi janin, ada
tidaknya perbaikan setelah perawatan,
kapan dan bagaimana proses bersalin
dilaksanakan, dan apakah terjadi eklampsia.

LAPORAN KASUS

www.themegallery.com

Identitas
Nama
: Ny. Y
CM
: 1042132
Alamat
: Dusun Jubet Lhok
Geulumpang
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur
: 42 tahun
Agama
: Islam
Tgl Masuk RS : 01 Maret 2015
www.themegallery.com

Anamnesis
Keluhan utama : Tekanan darah tinggi
RPS

: Pasien mengaku hamil 9 bulan. HPHT 20/05/2014 dan

TTP 27/02/2015. Pasien melakukan ANC teratur di bidan, USG 4


hari SMRS di poli kebidanan RSUDZA dikatakan janin dalam
keadaan baik, letak normal, hidup tunggal dan kepala di bawah.
Pasien kiriman bidan dengan keluhan tekanan darah tinggi, saat itu
TD 160/110 mmHg. Pasien memiliki riwayat hipertensi sebelumnya
sejak 5 tahun yang lalu. Pasien tidak mengeluhkan adanya mulesmules, keluar lendir darah, keluar air-air disangkal. Keluhan sakit
kepala (+), nyeri ulu hati (+), mual (+), muntah (+), pandangan kabur
(-).

www.themegallery.com

RPD

: Asma (-), Hipertensi(+), DM (-), alergi (-)

RPK

: disangkal

RPO

: Kaptopril

Riwayat menstruasi : menarche usia12 tahun, siklus tidak teratur,


7 hr, GP 1- 2x/hr, nyeri haid disangkal
Riwayat pernikahan :1 kali, umur 20 tahun
Riwayat KB

: suntik 3 bulan

Riwayat persalinan :
Laki-laki, 21 tahun, cukup bulan, BBL 2800 gram, lahir normal di bidan
Perempuan, 17 tahun, cukup bulan, BBL 3200 gram, lahir normal di
bidan
Laki-laki, 15 tahun, cukup bulan, BBL 2900 gram,
lahir normal di bidan
www.themegallery.com

Riwayat persalinan :
Laki-laki, 21 tahun, cukup bulan, BBL 2800 gram, lahir
normal di bidan
Perempuan, 17 tahun, cukup bulan, BBL 3200 gram,
lahir normal di bidan
Laki-laki, 15 tahun, cukup bulan, BBL 2900 gram, lahir
normal di bidan
Laki-laki, 10 tahun, cukup bulan, BBL 2600 gram, lahir
normal di bidan
Laki-laki, 6 tahun, cukup bulan, BB 3000 gram, lahir
normal di bidan
Hamil saat ini
www.themegallery.com

Pemeriksaan Fisik
VS/ KU : baik, Compos mentis
TD : 170/110mmHg
Nadi : 92x/menit,
RR : 22 x/menit
Suhu : 36,6o C
BB: 67 kg,TB: 154 cm,BMI : 28,3 kg/mm2

www.themegallery.com

Status generalis:

Mata
: konjungtiva anemis +/+ sklera ikterik -/T/H/M : dalam batas normal
Jantung: BJ I > BJ II, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : membesar sesuai usia kehamilan
Pulmo : vesikuler ka=ki, wh -/-, rh -/Ekstremitas : akral hangat, edema (+)

Status obstetri:
L1: TFU 32 cm, L2: punggung kiri DJJ 155 dpm, L3: presentasi
kepala, L4: sudah masuk PAP 4/5, HIS 1x/10/10, TBJ 3100
gram
I
: V/U dalam batas normal
Io : Portio licin, flour (+), fluksus (-), valsava (-), air (-), lakmus(-)
VT : Portio posterior, kenyal, Eff 10 %, 1 cm, sekret (+), kepala
H I (PS 2)
www.themegallery.com

CTG :
Baseline
Variabilitas
Akselerasi
Deselerasi
His
: (-)
Gerak janin
Kesan

:154 dpm
: 5-25 dpm
: (+) 2x/10
: (-)
: (+)
: Kategori 1

USG :
BPD
: 91
AC
: 325
FL
: 74
TBJ
: 3080 gram
ICA
: 11
Plasenta
: fundus
DJJ
: (+)
Kesan
:hamil aterm, JPKTH

Laboratorium:

Hb

Leukosit : 9100/ul( 4100-10500 /ul )

Trombosit

Ht

GDS

BT

: 2 ( 1-7 )

CT

: 7 ( 5-15 )

Proteinuria

Kesan

: 10.1 gram/dl ( 12-14 gram/dl ) )


: 240.000 /ul (150000-400000 /ul )
: 31 % ( 37-47 % )
: 106 mg/dl

: +2

: proteinuria
www.themegallery.com

Diagnosis :
Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia pada G6P5
Hamil Aterm, JPKTH, belum inpartu.

www.themegallery.com

Tatalaksana :
Penanganan dokter umum di puskesmas:
Hemodinamik stabil observasi KU, TTV, HIS, DJJ
Kesejahteraan janin baik observasi DJJ/jam, CTG/6 jam
Terminasi kehamilan CTG Reassuring: partus pervaginam
dengan
induksi persalinan
CTG Non reassuring: SC cyto
Induksi persalinan dengan injeksi oksitosin 5 IU didalam larutan
RL 500 cc dalam 12 tetesan permenit

www.themegallery.com

Tatalaksana hipertensi kronik dengan


superimposed preeclampsia
Cegah kejang MgSO4 40% 4 mg + 10 ml
aquabidest IV bolus maintenance 1
gram/jam selama 24 jam
Anti hipertensi nifedipine 4x10 mg titrasi per
20 menit maintenance: adalat oros 1x30 mg
Cegah kerusakan endotel lanjut IV Vit C
2x400 mg
NAC 3x600 mg
www.themegallery.com

Apabila induksi persalinan gagal maka


dipersiapkan persalinan perabdominal
(SC) informed consent
Observasi selama 24 jam (MRS pukul
21.00) tidak ada his dan kemajuan
persalinangagal induksi
persalinanSC cito

www.themegallery.com

Laporan Sectio Cesarea

Seksio Cesarea a.i gagal induksi persalinan


1. Pasien dalam posisi supine dalam anestesi spinal
2. Asepsis dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya dengan povidon iodine
3. Insisi Pfannenstiel
4. Setelah peritoneum dibuka tampak uterus gravidus
5. Segmen bawah uterus diidentifikasi, segmen bawah rahim disayat tajam, ditembus tumpu
dan dilebarkan secara tajam kearah lateral
6. Dengan meluksir kepala lahir bayi laki-laki 3000 gram, PB 48 cm, AS 9/10
7. Implantasi plasenta dinilai, didapatkan plasenta berimplantasi di fundus, dengan tarikan
ringan pada tali pusat, dilahirkan plasenta kesan kotiledon lengkap.
8. Luka pada segmen bawah uterus dijahit jelujur satu lapis dengan polisorb 1.0, dipastikan
tidak ada perdarahan.
9. Pada eksplorasi, kedua tuba dan ovarium dalam batas normal.
10. Dilakukan tubektomi pomeroy
11. Alat dan kassa lengkap
12. Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis. Peritoneum dijahit jelujur dengan chromic cat
gut 2.0.
13. Otot dijahit interuptus dengan chromic catgut 2.0. Fascia dengan jahitan jelujur dengan
polisorb 1, kulit dengan jahitan subkutikuler dengan prolene 3.0.
14. Operasi selesai, perdarahan selama operasi 150 cc, urin
jernih 100 cc.
www.themegallery.com

Kasus

Teori

Pasien didiagnosis dengan hipertensi


kronik

dengan

preeklampsia

superimposed

berdasarklan

hasil

pemeriksaa TD: 170/110 mmHg dan


proteinuria

+2,

pasien

juga

mengeluhkan tekanan darah tinggi


sejak 5 tahun yang lalu.

Menurut Cunningham hipertensi kronik


dengan

superimposed

preeklamsia

adalah hipertensi dengan proteinuria


atau tanpa proteinuria sebelum usia
gestasi 20 minggu, Menurut Sarwono,
hipertensi kronik disertai tanda-tanda
PE atau hipertensi kronik disertai
proteinuria

www.themegallery.com

Kasus

Teori

Faktor resiko yang terdapat


pada ibu yaitu: IMT 28,3 kg/m2

Terjadi
peningkatan
risiko
preeklampsia
dari
4,3%
pada
penderita dengan IMT kurang dari 19,8
kg/m2 menjadi 13,3% pada penderita
dengan IMT lebih dari 25 kg/m2.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada


pasien didapat hasil proteinuria +2

Proteinuria dapat timbul akibat disfungsi


endotel yang menyebabkan perubahan selsel
glomerulus
ginjal
sehingga
meningkatkan permeabilitas membran
basalis sehingga terjadi kebocoran dan
mengakibatkan aliran darah ginjal dan laju
filtrasi
glomerulus
menigkat
secara
bermakna..
www.themegallery.com

www.themegallery.com

Kasus

Teori

Nifedipin bekerja sebagai penyekat


saluran kalsium dengan menghambat
Antihipertensi antepartum yang aktivitas
otot
polos,
termasuk
diberikan pada pasien ini adalah miometrium,
secara
langsung
nifedipin dengan dosis 4x10 mg
dan dilanjutkan dengan pemberian berhubungan dengan kalsium bebas di
dalam sitoplasma, dan penurunan
adalat oros 1x30 mg
konsentrasi
kalsium
akan
menghambat kontraksi

pencegahan kejang diberikan


MgSO4 40% 4 mg diencerkan
dengan 10 ml aquabidest IV bolus
selanjutnya
maintenance
1
gram/jam selama 24 jam

Magnesium sulfat menghambat atau


menurunkan
kadar
asetilkolin
pada
rangsangan
serat
saraf
dengan
menghambat transmisi neuromuscular.
Transmisi neuromuscular membutuhkan
kalsium pada sinaps. Pada pemberian
magnesium sulfat, magnesium akan
menggeser kalsium, sehingga aliran
rangsangan tidak terjadi (tejadi kompetitif
inhibition antara ion kalsium dan ion
magnesium). www.themegallery.com www.themegallery.com

Kasus

Teori

Pada pasien ini diberikan Vit C mencegah kerusakan endotel lebih


2x400mg dan N-Acetyl Cystein lanjut
yang
terjadi
akibat
3x600mg
preeklapmsia.

Terminasi kehamilan :
a. Belum inpartu
Pada pasien di atas belum adanya i. Syarat drip oksitosin tidak dipenuhi :
tanda-tanda inpartu dan dilakukan seksio sesaria
ii. Pelvik skor > 5 dilakukan amniotomi dan
terminasi dengan sectio cesarea
tetes oksitosin apabila 12 jam tidak masuk
fase aktif : seksio sesaria
www.themegallery.com

www.themegallery.com

KESIMPULAN

Hipertensi dengan superimposed preeclampsia


didapatkan hipertensi disertai tanda-tanda
proteinuria atau proteinuria. Hipertensi kronik
merupakan hipertensi yang didapatkan sebelum
timbulnya kehamilan (apabila tidak diketahui
maka hipertensi kronik ditegakkan pada TD
sistolik 140 mmHg atau TD diastolik 90
mmHg sebelum UK 20 minggu). Hipertensi
yang lama ini akan memiliki dampak pada ibu
salah
satunya
yaitu
superimposed
preeklampsia.

www.themegallery.com

Your Business Company slogan in here

Thank You !
www.themegallery.com

L/O/G/O