Anda di halaman 1dari 17

Abces otak

Tumor otak

b.

Perubahan perubahan volume cairan cerebrospinal


misalnya :
Peningkatan produksi cairan cerebrospinal
Adanya hambatan dalam sistem ventikuler
Penurunan absorbsi cairan cerebrospinal

c.

Edema Cerebral, misalnya :


Overhydrasi Cairan hipotonik
Efek dari trauma cerebral

Peningkatan tekanan intra kranial dapat terjadi secara


akut atau perlahan-lahan. Efek perubahan ketiga
komponen diatas terhadap integritas hidup klien
tergantung pada komponen nama yang berubah serta -

sejauh mana rongga kepala dapat menyesuaikan


dengan perubahan tersebut. Pada anak-anak dimana
sutura kepala belum bersatu menyebabkan kepala
membesar
dengan
fontanella yang
menonjol.
Sedangkan pada orangt dewasa dimana tulang-tulang
kepala keras dan sudah menutup secara sempurna
(tidak expandable) maka efeknya akan lebih berat
oleh karena isi rongga kranium akan menggeser organ
atau bagian-bagian yang vital. Kondisi ini yang disebut
dengan herniasi otak atau batang otak.
Kompresi yang terjadi akibat meningkatnya tekanan
intra kranial akan menyebabkan aliran darah keotak
akan berkurang sehingga perfusi jaringan serebral
menjadi tidak adekuat. Tekanan parsial CO2 menjadi
meningkat, tekanan O2 dan PH darah/cairan akan
berubah
sehingga
timbul
kompesasi
berupa
vasodilatasi yang justru akan -

berdampak pada :
1.
Perubahan Kesadaran
Akan terjadi penurunan kesadaran yang dapat
dinilai dari respon klien terhadap berbagai
stimulus (nyeri), atau dapat pula dengan
menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS).
Penurunan kesadaran dapat terjadi dari mulai
letargi sampai koma. Perubahan kesadaran
yang dalam merupakan tanda dini/awal herniasi
otak/batang otak, sehingga perlu observasi dan
dicatat dengan cermat. Perfusi cerebral yang
tidak adekuat menyebabkan nyeri kepala
sebagai akibat kongesti pada pembuluh darah

2.

Perubahan Pupil
Respon pupil dipersarafi oleh Nervus III, bila
terjadi herniasi otak, Nervus III ini akan terjepit
dan reaksi pupil tehadap rangsang cahaya
akan menjadi lambat dan bahkan hilang.
Ukuran pupilpun akan menjadi besar (dilatasi
pupil), yang dapat terjadi pada satu atau kedua
mata tergantung pada lesi yang terjadi.

3.

Gangguan Penglihatan
Penglihatan dipersarafi oleh nervus II (optikus).
Bila terjadi herniasi otak akan menjadi
perubahan/gangguan pada nervus II sehingga
akan dijumpai diplopia (penglihatan ganda)
penglihatan kabur dan visus mejadi menurun
dengan cepat

4.

Perubahan tanda-tanda vital


Pada fase awal, peningkatan tekanan intra kranial
akan merangsang pusat pernafasan dan sirkulasi
dibatang otak sehingga pernafasan menjadi
dalam tanpa disertai perubahan ritme. Tekanan
pada pusat vasomotor menyebabkan nadi
menjadi lambat, tekanan darah sedikit meningkat
khususnya tekanan sistolik. Tekanan nadipun
akan meningkat kondisi ini disebut cushing
respon, fase lanjut dari peningkatan tekanan intra
kranial akan menstimulasi pusat vital di batang
otak sehingga pada fase ini menjadi cepat, tidak
teratur dan tekanan darah menurun. Suhu tubuh
akan mengalami perubahan bila terjadi kompresi
pada pusat thermoregulator di hypothalamus.
Dapat terjadi hypertemi dapat juga disebabkan
oleh peningkatan dapat juga disebabkan oleh
peningkatan metabolisme jaringan otak. -

Kompresi nervus vagus menyebabkan kontraksi


spasmodik diagfragma yang disebut Hiccuping
dan terjadi pula mutah yang proyektil.
5.

Gangguan Sensorik dan Motorik


Kompresi traktus Corticospinal (yang naik dan
turun) sehingga perpindahan impuls akan
terganggu. Penurunan terhadap rangsangan dan
kelelahan otot akan terjadi :

Penurunan tingkat kesadaran

Perubahan perilaku

Nyeri kepala

Nausea dan muntah

Perubahan pola bicara

Aphasia

Pembicaraan yang kacau

Perubahan dalam sensori-motor

Perubahan pupil

Disfungsi saraf kranial


Ataksia
Kejang
Abnormal posturung berupa decebrasi dan
dekortikasi, biasanya terjadi pada tahap yang
sangat lanjut. Posturing abnormal ditunjukkan
pada gambar 2 berikut ini :

Gamabar 2 : Abnormal Posturing A. Decebrasi b. Dekortikasi

Pengkajian keperawatan #
Data Subyektif :

Pemenahan klien tentang kondisinya

Adanya keluhan gangguan penglihatan seperti


diplopia dan penglihatan kabur

Penurunan kemampuan berfikir

Adanya nyeri kepala, nyeri kepala yang khas pada


peningkatan
tekanan
intra
kranial
berupa
pertambahan intensitas nyeri pada saat batuk,
bersin, mengedan dan perubahan posisi, biasanya
lebih berat pada pagi hari setelah bangun tidur
Penurunan :

Penurunan/hilangnya kemampuan dalam melakukan


aktifitas sehari-hari

Adanya Nausea bahkan muntah

Data Obyektif :

Perubahan tingkat kesadaran

Perubahan pupil meliputi ukuran dan reaksi terhadap


cahaya

Tanda-tanda vital
Tanda-tanda penurunan fungsi sensorik dan motorik :

Muntah projektil

Gangguan bicara
Permasalahan keperawatan pada klien ini merujuk
pada Asuhan Keperawatan
pada klien dengan
stroke tetapi ada beberapa permasalahan yang
memerlukan perhatian khusus yaitu :

1.

1.

Peningkatan Tekanan Intra Kranial


Kemungkinan penyebab :
Perdarahan Cerebral
Edema Cerebral (disebabkan peningkatan permeabilitia
kapiler cerebral)
Tujuan / Kriteria Hasil :
Tekanan Intra Kranial tidak bertambah :
Kesadaran tidak semakin memburuk
Nyeri kepala tidak semakin hebat
Gangguan fungsi sensasi dan motorik semakin
memburuk
Tidak ada muntah, papiledema dan kejang-kejang
Reaksi pupil dan ukurannya normal
Tanda-tanda vital stabil

fsfs

Intervensi Keperawatan #
a. Kaji dan laporkan segera tanda-tanda yang
mengarah pada peningkatan tekanan intra
kranial yag lebih hebat
Gelisah, bingung, letargi
Nyeri kepala semakin berat
Menurunnya/hilangnya
fungsi
motorik/sensorik
Timbulnya posisi tubuh yang abnormal
seperti ekstensi dan fleksi
Muntah, biasanya tanpa nausea
Papiledema
Kejang-Kejang
Perubahan pola nafas (Cheynestokes,
hiperventilasi neurologic central)
Peningkatan sistolik dan tekanan nadi
yang meningkat.

b.

Lakukan
upaya-upaya
untuk
mencegah
peningkatan tekanan intra kranial :

Batasi cairan sesuai program terapi

Berikan cairan hipertonik seperti mannitol


dan diuretik seperti furosemid untuk
mengurangi edema cerebral

Berikan
posisi-posisi
tertentu
untuk
membantu meningkatnya drainage cena
cerebral yang lebih baik, dengan cara :

Elevasi kepala 30-45 derajat bila tidak


ada kontra indikasi

Pertahankan kepala dan leher pada


posisi mid line, hindarkan fleksi, ekstensi
dan rotasi pada kepala dan leher

Berikan obat-obatan untuk melunakan


feses,
obat
antitusive
dan
anti
emetiksesual untuk mencegah tahanan -

yang bertambah pada saat mengedan,


batuk dan muntah karena hal ini dapat
mengakibatkan peningkatan venous
return di otak .
c.

Lakukan upaya-upaya untuk mencegah


hypoxia cerebral dan tetap mempertahankan
perfusi cerebral, mempertahankan jalan
nafas tetap bersih (bila perlu lakukan
penghisapan) serta berikan oksigen sesuai
program terapi

d.

Lakukan upaya-upaya untuk mencegah


vasodilatasi pembuluh darah, dengan cara
mencegah
peningkatan
tekanan
darah
seperti :

Observasi dan awasi kondisi-kondisi yang


dapat menimbulkan agitasi seperti takut,
cemas dll

e.

f.

2.

Anjurkan klien untuk menghindarkan aktifitas yang


dapat menyebabkan kontraksi otot-otot isometrik

Buat jadual aktifitas secara cermat misalnya


penghisapan lendir, memandikan dan merubah posisi
jangan dilakukan sekaligus dalam waktu yang sama.
Jika tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial
lebih buruk terjadi siapkan klien untuk rencanakan
tindakan sebagai berikut :

Insersasi alat monitor tekanan intra kranial

Tindakan pembedahan seperti ligasi pembuluh


darah, evakuasi hematoma dsb.

Potensial Komplikasi : Iritasi dan Abrasio Cornea


Kemungkjnan :
Ketidak mampuan klien menutup mata (sebagai akibat
parese/paralise saraf kecil)

Tujuan/Kriteria hasil
Klien tiak mengalami iritasi dan abrasio cornea

Mata tidak merah

Pengeluaran sekret tidak terjadi

Nyeri pada mata tidak terjadi

Visus mata baik


Intervensi Keperawatan :
a.
Kaji gejala dan tanda iritasi dan abrasio cornea seperti
air kelur terus menerus, mata nampak merah, mata
perih dan penglihatan kabur
b.
Kabur upaya untuk mecegah iritasi dan abrasio corneo
pada mata yang mengalami gangguan, dengan cara :
Hindarkan mata klien dari zat iritan seperti talk,
asap rokok

c.

Gunakan kaca mata pelindung


Basahi mata dengan kasa dan plester anti isotonis
sesering mungkin
Tutup mata dengan kasa dan plester anti alergi jika
klien tidak dapat menutup mata dengan rapat.
Anjurkan klien untuk tidak mengesek-gesek matanya

Jika tanda dan gejala iritasi dan abrasio cornea terjadi :


Lakukan semua tindakan diatas
Bantu klien untuk membersihkan sekret mata
Beri obat mirobakterial dan anti radang dalam
bentuk salep atau tetes sesuai program terapi
Konsultasi pada dokter bila masalah yang dialami
oleh klien tidak dapat ditanggulangi

SEKIAN

DAN TERIMA KASIH #


~~~~~~~W a s s a l a m ~~~~~
By

Hj. Halwatiah, S.Kep, Ns