Anda di halaman 1dari 33

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN KASUS

INFEKSI SALURAN KEMIH


Oleh:
Ramdita Amalia, S.Ked

Pembimbing:
dr. Hasan, Sp.PD

KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Jenis kelamin : laki-laki
Umur: 47 tahun
Suku bangsa : Makassar
Agama : Islam
Pekerjaan : Guru Sekolah Dasar
Tanggal Masuk : 10 Mei 2015
No/ RM : 150643
Dokter Pemeriksa : dr. Happy Lawrentz, Sp.PD
Dokter Muda : Ramdita Amalia

ANAMNESA
Keluhan Utama : nyeri perut suprapubik
Anamnesis Terpimpin:
Dialami sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit,
nyeri dialami ketika selesai berkemih, tembus ke
belakang. Nyeri disertai demam yang dialami
sejak semalam sebelum masuk rumah sakit. Sakit
kepala (-), batuk (-), sesak (-), mual (+), muntah
(+) frekuensi 2 kali /hari isi makanan dan cairan.
Nyeri ulu hati (+). Pasien sebelumnya pernah
diperiksa endoskopi dengan diagnosis polip
gaster. Buang air besar biasa, lancar. Buang air
kecil lancar, warna kuning, darah (-), hanya nyeri
suprapubik saat berkemih.

Riwayat
menderita
penyakit
yang
sama
sebelumnya
disangkal,
riwayat
keluarga
menderita penyakit yang sama ada, yaitu istri
pasien. Riwayat kebiasaan menunda berkemih
disangkal, riwayat hipertensi disangkal, riwayat
diabetes mellitus disangkal. Riwayat menderita
batu ginjal tidak diketahui.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : sakit sedang/ gizi cukup/ compos mentis
Vital sign
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 80 kali per menit
Pernapasan : 18 kali per menit
Suhu : 36,40 C
Kepala :

Normocephal, rambut hitam lurus sukar dicabut, mata anemis (-/-),


ikterus (-/-), hidung simetris, sekret (-), mulut kering (+), sariawan (-),
gusi berdarah (-).
Leher
:
Tonsil (T1/T1), faring hiperemis (-), pembesaran tiroid (-), pembesaran
kelenjar getah bening (-).
Thorax:
I = Simetris (ka=ki), mengikuti gerak napas, jejas kemerahan (-)
P = Nyeri tekan (-), massa tumor (-), krepitasi (-), vocal fremitus (ka=ki)
P = Sonor, batas paru hepar ICS V dexter.
A = Bunyi pernapasan : Vesikuler, bunyi tambahan (-) rhonki (- / -),
wheezing (- / -).

Jantung :

I = Ictus cordis tidak nampak


P = Ictus cordis tidak teraba di ICS V linea midclavicula
sinistra
P = Pekak, Batas jantung atas kanan ICS II linea
parasternalis dextra, batas jantung atas kiri ICS II linea
midclavicula sinistra, batas jantung bawah kanan ICS V linea
parasternalis dextra, batas jantung bawah kiri ICS V linea
midclavicula sinistra
A = Bunyi jantung S1 dan S2 murni regular, tidak ada bising.
Abdomen :
I = Datar ikut gerak napas
P = Nyeri tekan (+) regio epigastrium dan suprapubik,
massa tumor (-), hepar teraba (-), lien teraba (-)
P = Timpani (+), ascites (-)
A = Peristaltik (+) kesan normal
Ekstremitas
:
Akral hangat (+), edema (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (09/05/2015)

Jenis pemeriksaan
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit

Hasil
12.0
36
12.700
300.000

Nilai Normal
P: 14-18gr% W: 12-16 gr%
P: 41-53% W: 36-46%
4300 10.000
150.000-350.000/mm3

DIAGNOSIS
Infeksi Saluran Kemih bagian bawah (Cystitis)
DIAGNOSIS BANDING
Infeksi Saluran Kemih bagian atas
Gastritis
ANJURAN
PLANNING
USG abdomen
IVFD RL 20 tpm
Pemeriksaan
Ranitidine 1 amp/12 jam/IV
Urinalisis
Ondansetron 1 amp/12 jam/IV
Pemeriksaan
Paracetamol tab 500 mg 3x1 bakteriologis
Cefadroxyl 500 mg 2x1

Follow Up
Tanggal

Perjalanan Penyakit

11/05/2015 S: nyeri ulu hati (+), nyeri


T : 100/60
suprapubik (+), mual berkurang
mmHg
O: sakit sedang/ gizi cukup/
N : 80 x/i
compos
mentis
P : 24 x/i
Kepala:
S : 36,3oC
anemis (-)
ikterus (-)
sianosis (-)
Thorax:
BP: vesikuler
BT: Rhonki -/Wheezing -/ Abdomen:
Nyeri Tekan (+) regio
epigastrium dan suprapubik
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Extremitas : Edema Pretibial (-)
A: Epigastric pain

Instruksi
-

Pemberian
makanan
lunak
IVFD RL : Dextrose 5% =
1 : 1 24 tpm
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Sesden 2x1
Inj Ketorolac 1 gr/hr/IV
Inj Ranitidine 1gr/8jam/IV
Inj Ondansteron 1gr /
12jam/IV
Sucralfat syr 3x1c
Rencana: kontrol darah
rutin, urin rutin, USG
abdomen

12/05/2015 S: nyeri suprapubik tembus ke


T : 110/60
belakang
mmHg
O: sakit sedang/ gizi cukup/ compos
mentis
N : 80x/i
Kepala:
P : 24x/i
anemis (-)
ikterus (-)
S : 36oC
sianosis (-)
Thorax:
BP: vesikuler
BT: Rhonki -/Wheezing -/ Abdomen:
Nyeri Tekan (+) regio
epigastrium dan suprapubik
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Extremitas : Edema Pretibial (-)
Hasil lab: WBC: 15,3; HGB: 13,4;
PLT: 223; USG abdomen:
Cholecystitis, Cystitis.
A: Cholecystitis
Cystitis

Pemberian maknan lunak


IVFD RL : dextrose 5 % =
1 : 1 24 tpm
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Sesden 2x1
Inj Ketorolac 1 gr/hr/IV
Inj Ranitidine 1 gr/8jam/IV
Inj
Ondansteron
1gr/12jam/IV
Sucralfat syr 3x1c
Urdafalk 3x1

13/05/2015 S: nyeri ulu hati (+) mual (-).


T : 120/80
O: sakit sedang/ gizi cukup/
mmHg
compos
mentis
N : 80x/i
Kepala:
P : 22x/i
anemis (-)
S : 36oC
ikterus (-)
sianosis (-)
Thorax:
BP: vesikuler
BT: Rhonki -/Wheezing -/ Abdomen:
Nyeri Tekan (+) regio
epigastrium dan suprapubik
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Extremitas : Edema Pretibial (-)
A: Cholecystitis
Cystitis

Pembeian makanan lunak


IVFD RL 28 tpm
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Sesden 3x1
Inj Ketorolac 1 gr/hr/IV
Inj Ranitidine 1gr/8jam/IV
Urdafalk 3x1
Stop ondansetron

14/05/2015 S: Nyeri ulu hati mulai berkurang


T : 110/80
O: sakit sedang/ gizi cukup/
mmHg
compos
mentis
N : 60x/i
Kepala:
P : 24x/i
anemis (-)
S : 36,2oC
ikterus (-)
sianosis (-)
Thorax:
BP: vesikuler
BT: Rhonki -/Wheezing -/ Abdomen:
Nyeri Tekan (+) regio
epigastrium dan suprapubik
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Extremitas : Edema Pretibial (-)
A: Epigastric pain

IVFD RL 28 tpm
Ranitidine 3x1
Sucralfat syr 3x1c
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Sesden 3x1
Urdafalk 3x1

15/05/2015
T : 110/80
mHg
N : 80x/i
P : 20x/i
S : 36oC

S: tidak ada keluhan


O: sakit sedang/ gizi cukup/
compos
mentis
Kepala:
anemis (-)
ikterus (-)
sianosis (-)
Thorax:
BP: vesikuler
BT: Rhonki -/Wheezing -/ Abdomen:
Nyeri Tekan (-)
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Extremitas : Edema Pretibial
(-)
A: Baik

Ranitidine 3x1
Sucralfat syr 3x1c
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Sesden 3x1
Urdafalk 3x1
Vit B1, B6, B12 3x1

Pemeriksaan Follow Up
Laboratorium
TINDAKAN

11-05-2015

PEMERIKSAAN

TINDAKAN
PEMERIKSAAN

11-5-2015

Hematologi rutin

Hasil

Urin rutin

WBC

15.13

Warna

RBC

4.54

Ph

7.0

HGB

13.4

Sedimen lekosit

7-10

HCT

38.3

Sedimen eritrosit

0-2

PLT

223

Sedimen lain

Radiologi
USG Abdomen (11-05-2015)
Hasil: Cystitis

Hasil
Kuning agak keruh

Bakteri 1-3

DISKUSI
Pasien

MRS dengan keluhan nyeri perut


suprapubik yang dialami sejak 1 hari SMRS.
Nyeri ini merupakan akibat dari proses
peradangan pada kandung kemih akibat infeksi
dari bakteri. Salah satu gejala klinis dari infeksi
saluran kemih yaitu nyeri
suprapubik, yang
berdasarkan gejala klinis dari lokasi terjadinya
infeksi termasuk ISK bagian bawah yaitu cystitis.
Nyeri dirasakan setelah selesai berkemih. Urin
warna kuning, darah tidak ada. Demam ada,
menandakan terjadinya proses infeksi dalam
tubuh. Mual ada, muntah ada frekuensi 2 kali
/hari isi makanan dan cairan. Nyeri ulu hati ada.
Klimis ini merupakan gejala dari riwayat gastritis
dan polip gaster pasien yang didapatkan dari

Pada pemeriksaan fisis didapatkan tanda vital yakni tekanan


darah 100/60 mmHg, nadi 80 kali per menit, pernapasan 18
kali per menit, suhu axilla 36,40 C. Sebelum masuk rumah
sakit pasien sempat demam dan telah mengkonsumi
paracetamol sehingga saat diukur suhu pasien normal. Pada
pemeriksaan palpasi abdomen didapatkan nyeri tekan regio
epigastrium dan suprapubik. Nyeri tekan tersebut akibat
adanya radang di gaster dan vesika urinaria pasien. Pada
pemeriksaan penunjang darah rutin didapatkan leukositosis
yang menandakan terjadinya infeksi dalam tubuh. Hasil
pemeriksaan urin rutin didapatkan leukosit 5-10 (meningkat)
yang menandakan adanya infeksi pada saluran kemih.
Pemeriksaan USG abdomen dengan kesan Cystitis.

Di UGD pasien telah mendapatkan terapi awal yaitu


IVFD RL, infus dilakukan dengan indikasi untuk
pemberian obat dan nutrisi secara intavena. Injeksi
ranitidine dan ondansetron untuk pengobatan mual
dan nyeri ulu hati pasien, Paracetamol untuk
mencegah naiknya suhu tubuh pasien kembali, dan
untuk meredakan nyeri suprapubik, injeksi ketorolac
sebagai analgesik, Cefadroxyl untuk pengobatan
antibiotik berdasarkan hasil laboratorium darah rutin
pasien yaitu WBC 13.000 (meningkat). Hari
perawatan selanjutnya pasien diberikan terapi lanjut
dan tambahan sesden dan sucralfat untuk nyeri ulu
hati pasien. Hari kelima perawatan keadaan pasien
sudah membaik dan pasien diperbolehkan pulang,
dan dianjurkan untuk rawat jalan di poli interna.

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Infeksi saluran kemih: suatu infeksi yang
melibatkan ginjal, ureter, buli-buli, ataupun uretra.
ISK adalah istilah umum yang menunjukkan
keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin.
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam
klinis mengenai ISK:
ISK uncomplicated (sederhana)
ISK complicated (rumit)
First infection
Infeksi berulang
Asymtomatic significant bacteriuria (ASB)

Klasifikasi
Klasifikasi ISK berdasarkan:
1. Anatomi
ISK bawah:
- Perempuan: sistitis, SUA
- Laki-laki: sistitis, prostatitis, epididymitis, dan uretritis.
ISK atas : pielonefritis akut (PNA), pielonefritis kronik
(PNK)
2. Klinis
ISK Sederhana/ tak berkomplikasi
ISK berkomplikasi

Epidemiologi
ISK tergantung banyak faktor; seperti usia,
gender, prevalensi bakteriuria, dan faktor
predisposisi yang menyebabkan perubahan
struktur saluran kemih termasuk ginjal.
Selama periode usia beberapa bulan dan
lebih dari 65 tahun perempuan cenderung
menderita ISK dibandingkan laki-laki.

Etiologi
Penyebab terbanyak adalah bakteri gramnegatif termasuk bakteri yang biasanya
menghuni usus kemudian naik ke sistem
saluran kemih. Paling sering ditemukan:
Escherichia coli

Patogenesis
MO memasuki saluran kemih melalui 4 cara:
Asending
Hematogen
Limfogen
Langsung dari organ sekitar yang
sebelumnya sudah terinfeksi atau
eksogen sebagai akibat dari pemakaian
instrumen.

4 tahap infeksi
ascending:
1. Kolonisasi
mikroorganisme pada
uretra
2. Masuknya
mikroorganisme ke
dalam buli buli
3. Multiplikasi dan
penempelan
mikroorganisme
dalam kandung kemih
4. Naiknya
mikroorganisme dari
kandung kemih ke
ginjal.
ISK terjadi karena adanya gangguan
keseimbangan antara:
Faktor host -> wash out urin

Diagnosis
1. Gambaran klinis
ISK bawah: nyeri supra pubik, disuria, hematuri,
dan urgensi.
ISK atas: demam, kram, nyeri punggung, muntah.
2. Pem. Penunjang
Laboratorium
Urinalisis: eritrosit, leukosit
Bakteriologis
Tes Plat celup (Dip - slide)
Radiologi
USG
BNO IVP
CT scan

Penatalaksanaan
Prinsip umum:
Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan
antibiotik yang sesuai.
Mengkoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor
prediposisi.
Tujuan penatalaksanaaan:
mencegah dan menghilangkan gejala,
mencegah dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria,
mencegah dan mengurangi risiko kerusakan ginjal yang
mungkin timbul dengan pemberian obat obatan yang
sensitif, murah, aman dengan efek samping yang
minimal.

ISK bawah
Intake cairan yang banyak
Antibiotik tunggal yang adekuat
Terapi simptomatis
Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48

jam dengan antibiotika tunggal, seperti ampisilin 3 gram,


trimetropim 200 mg.
Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis
(leukosuria) diperlukan terapi konvensional selama 5 10
hari.
Pemeriksaan mikroskopis urin dan biakan urin tidak
diperlukan bila semua gejala hilang dan tanpa leukosuria.

Bila pada pasien reinfeksi berulang:


Disertai faktor predisposisi, terapi antimikroba yang
intensif diikuti dengan koreksi faktor resiko.
Tanpa faktor predisposisi, terapi yang dapat dilakukan
adalah asupan cairan yang bayak, cuci setelah melakukan
senggama diikuti dengan terapi antimikroba dosis tunggal
(misal trimetroprim 200 mg)
Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan.
Pasien sindroma uretra akut (SUA) dengan hitungan
kuman 103 105 memerlukan antibiotika yang adekuat.
Infeksi klamidia memberikan hasil yang baik dengan
tetrasiklin. Infeksi yang disebabkan miikroorganisme
anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi (golongan
kuinolon.)

Tabel 1. Antimikroba pada ISK bawah tak berkomplikasi


Antimikroba
Trimetoprim-Sulfametoksazol

Dosis

Interval

2 x 160/800 mg

3 hari

Trimetroprim

2 x 100 mg

3 hari

Siprofloksasin

2 x 100 250 mg

3 hari

Levofloksasin

2 x 250 mg

3 hari

Sefiksim

2 x 250 mg

3 hari

Sefpodoksim proksetil

1 x 400 mg

3 hari

Nitrofurantoin makrokristal

2 x 100 mg

3 hari

Nitrofurantoin monohidrat

4 x 50 mg

7 hari

Nitrofurantoin
makrokristal

2 x 100 mg

7 hari

2 x 500 mg

7 hari

Amoksisilin/ klavulanat

monohidrat

ISK atas
The infection Disease Society of America
menganjurkan satu dari tiga alternatif
terapi antibiotika intravena sebagai terapi
awal selama 48-72 jam sebelum diketahui
mikroorganisme penyebabnya :
Flurokuinolon
Aminoglikosida dengan atau tanpa
ampisilin
Sefalosporin berspektrum luas dengan atau
tanpa aminoglikosida

Tabel 2. Antimikroba pada ISK atas berkomplikasi


Antimikroba
Dosis
Interval
Sefepim
1 gram
12 jam
Siprofloksasin

400 mg

12 jam

Levofloksasin

500 mg

24 jam

Ofloksasin

400 mg

12 jam

3-5 mg/kgBB

24 jam

1 mg/ kg BB

8 jam

Ampisilin (+gentamisin)

1-2 gram

6 jam

Tikarsilin klavulanat

3, 2 gram

8 jam

Piperasilin tazobaktam

3, 375 gram

28 jam

Imipenem silastarin

250-500mg

6 -8 jam

Gentamisin (+ ampisilin)

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada
infeksi saluran kemih antara lain batu
saluran kemih, obstruksi saluran kemih,
sepsis, infeksi kuman yang multisistem,
gangguan fungsi ginjal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sukandar E. Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. In : Buku Ajar Ilmu Penyakit
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.

Dalam jilid I. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbit IPD FK UI 2006


Tessy A, Ardaya, Suwanto. Infeksi Saluran Kemih. In Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam jilid II. Edisi 3. Jakarta. Fakultas kedokteran Universitas Indonesi a ; 2001
Liza. Buku Saku Ilmu Penyakit Dalam. Edisi I. Jakarta : FKUI 2006
Rani HAA, Soegondo S, Nasir AU et al. Standar Pelayanan Medik Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 2004. Jakarta : Pusat Penerbitan IPD FKUI;2004.
Rani HAA, Soegondo S, Nasir AU et al. Panduan Pelayanan Medik - Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Edisi 2004. Jakarta Pusat Penerbitan
IPD FKUI;2006.
Corwin EJ. Infeksi saluran kemih. In buku saku patofisiologi edisi 3. Jakarta :
penerbit buku kedokteran
Pattman R, Snow M, Handy P et al. Oxford Handbook of Genitourinary Medicine,
HIV, and AIDS. 1st Edition. Newcastle : Oxford University Press;2005.
Gardjito W, Puruhito, Iwan A et all. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Lelaki.
Dalam : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : Penerbit EGC;2005
Purnomo BB. Dasar Dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta : Sagung Seto 2003

TERIMA KASIH