Anda di halaman 1dari 79

www.bpkp.go.

id

PENERAPAN AKUNTANSI PEMDA


BERBASIS AKRUAL
PERBUP KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN
SISTEM AKUNTANSI PEMDA
DI SAMPAIKAN OLEH:
KEPALA PERWAKILAN BPKP PROVINSI KALTENG
ISKANDAR NOVIANTO, AK.,MSI

Hotel Aquarius, Palangka Raya 23 September 2014


.

Curriculum Vitae
Nama
: Iskandar Novianto, Ak.,M.Si
HP/e-mail
: 082150662013 / iskandarnovi@yahoo.com
Tempat/tgl lahir
: Jakarta, 20 November 1963
Agama
: Islam
Jabatan
: Kepala Perwakilan
Riwayat Pendidikan : - Akuntan, lulus tahun 1993 dari STAN, Depkeu, Jakarta
- Magister Administrasi Publik, Univ Gadjah Mada lulus
tahun 2005
Riwayat Jabatan
:
1. Kepala Seksi, tahun 1998 2002 di Perw.BPKP Kalimantan Selatan
2. Pengendali Teknis, tahun 2003 2005 di Perw.BPKP DIY
3. Kasubdit Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah, BPKP 2005-2011
4.Kasubdit Pengawasan Pertahanan dan Keamanan, BPKP Maret 2012- Sept 2012
5. Kepala Perwakilan BPKP Prov. Kalteng, Sept 2012 s.d Sekarang
Aktivitas Lain
: 1. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD), Bid.Monev
2. Tim Teknis Nasional Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (EPPD)
3. Pokja Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP)

HUBUNGAN KONTRAK PRINSIPAL


AGEN: SOLUSI

P
R
I
N
S
I
P
A
L

R
A
K
Y
A
T

L
E
M
B
A
G
A
P
E
R
W
A
K
I
L
A
N

Ketentuan Undang-Undang
P
E
M
E
R
I
N
T
A
H

Rencana Anggaran / Kerja

Akuntansi

Pelaporan

Auditing

A
G
E
N

DASA HUKU
R

Penerapan
SAP

UU

UU

UU

No.

No.

No.

17/200

1/200

32/200

PP No.

Berbasis

58/2005

Akrual

PP No.

pada Pemda

71/2010
Permenda
gri
No.
64/2013

Dasar Hukum
Psl 1
UU17/2003

Pendapatan negara/daerah dalah hak pemerintah


pusat/daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih
Belanja negara/daerah adalah kewajiban pemerintah
pusat/daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan
bersih

Ketentuan mengenai pengakuan dan


pengukuran pendapatan dan belanja
Psl 36 ayat (1)
UU 17/2003
berbasis akrual dilaksanakan selambatlambatnya dalam 5 (lima) tahun
Ketentuan mengenai pengakuan dan
pengukuran pendapatan dan belanja
Psl 70 ayat (2)
UU 1/2004
berbasis akrual dilaksanakan selambatlambatnya tahun anggaran 2008

Proses Perkembangan Penyelesaian


tentang Kebijakan
Akrual& SAP
Pergub
Peraturan Gubernur tentang
Akuntansi
D
Kebijakan
0%

15%

Akuntan
35%
si

50%

Belum Diproses

Sedang
Diproses Telah
Diproses
Tanpa

Peraturan Gubernur

Keterangan

tentang
0%

15%

Sistem Akuntansi
Pemerintah Daerah
50%

35%

Belum Diproses

Sedang
Diproses
Telah Diproses
Tanpa
Keterangan

Sumber Data : Ditjen Keuangan

Proses Perkembangan Penyelesaian


tentang Kebijakan
Akrual& SAP
Perbup/Perwal
Akuntansi
D
1%

Peraturan

13%

Belum Diproses
Bupati/Walikota
22% tentang
64%

Kebijakan

Sedang
AkuntansiDiproses
Telah Diproses
Tanpa
Keterangan

Peraturan Bupati/Walikota tentang


Sistem
3%

Akuntansi Pemerintah
16%
Daerah
17%
64%

Belum Diproses

Sedang
Diproses
Telah Diproses
Tanpa
Keterangan

Sumber Data : Ditjen Keuangan

OPINI BPK ATAS LKPD TAHUN 2008 S.D. 2013


PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
No.

Nama Pemda

2013

2012

2011

2010

2009

2008

Provinsi Kalimantan Tengah

WDP

TMP

WDP

WDP

TW

WDP

Kab. Barito Selatan

TMP

WDP

TMP

TW

TW

TW

Kab. Barito Utara

WDP

TMP

TMP

TMP

TW

TW

Kab. Barito Timur

TW

TMP

TMP

TMP

TW

TMP

Kab. Kotawaringin Barat

WDP

WDP

WDP

WDP

TW

WDP

Kab. Kotawaringin Timur

WDP

TMP

WDP

TW

TW

TW

Kota Palangka Raya

TMP

TMP

WDP

WDP

TW

WDP

Kab. Kapuas

WDP

WDP

WDP

WDP

WDP

TW

Kab. Murung Raya

WDP

WDP

WDP

TW

TW

TW

10

Kab. Pulang Pisau

TW

TMP

TW

TW

TW

TW

11

Kab. Gunung Mas

WDP

WTP

WDP

WDP

TW

TW

12

Kab. Lamandau

WTP

WDP

WDP

WDP

TW

TW

13

Kab. Sukamara

WTP

WTP

WDP

WDP

TW

WDP

14

Kab. Katingan

WTP

WDP

TMP

TMP

WDP

WDP

15

Kab. Seruyan

WDP

TMP

TMP

TMP

TMP

TMP

TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH

Menyajikan informasi yang


bermanfaat bagi para
pengguna dalam menilai
akuntabilitas dan membuat
keputusan ekonomi, sosial
maupun politik.

PERANAN LAPORAN
KEUANGAN PEMERINTAH
Melaporkan upaya dan hasil
pelaksanaan kegiatan untuk
kepentingan:
1. Akuntabilitas
2. Manajemen
3. Transparansi
4. Keseimbangan antar generasi
(intergenerational equity)

Akuntabilitas
Mempertanggungjawabkan
pengelolaan sumber daya serta
pelaksanaan
kebijakan
yg
dipercayakan
kepada
entitas
pelaporan dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan secara periodik

Manajemen
Membantu
para
pengguna
untuk
mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu
entitas pelaporan dalam periode pelaporan
sehingga
memudahkan
fungsi
perencanaan,
pengelolaan
dan
pengendalian atas seluruh aset, kewajiban,
dan ekuitas dana pemerintah untuk
kepentingan masyarakat

Transparansi
1. Memberikan informasi keuangan yg terbuka
dan jujur kepada masyarakat.
2. Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui
secara terbuka dan menyeluruh atas
pertanggungjawaban
pemerintah
dalam
pengelolaan sumber daya yang dipercayakan
kepadanya dan ketaatannya pada peraturan
perundang-undangan.

Keseimbangan Antargenerasi
Membantu para pengguna dalam menilai
kecukupan penerimaan pemerintah pada
periode pelaporan untuk membiayai
seluruh pengeluaran yang dialokasikan
dan apakah generasi yg akan datang
diasumsikan akan ikut menanggung
beban pengeluaran tersebut

Pengakuan dalam Basis Akrual


Pendapatan diakui pada saat hak telah
diperoleh
Beban atau biaya diakui pada saat kewajiban
timbul (manfaat telah diterima) atau sumber
daya dikonsumsi

Mengapa Akrual?
1. Penyajian informasi keuangan yang lebih
informatif, terutama dalam hubungannya dengan
pengukuran kinerja pemerintah terkait biaya jasa
layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan dalam
periode akuntansi terkait.
2. Memberikan gambaran yang utuh atas posisi
keuangan pemerintah untuk tujuan pengambilan
keputusan
3. menyajikan nilai barang dan jasa yang
digunakan, dihibahkan, dan diperoleh
4. sesuai dengan konsep capital maintenance.
5. Mengikuti International Best Practices dan
memenuhi amanat paket UU di bidang Keuangan
Negara

Penyusunan SAP Akrual


SAP Akrual dikembangkan dari SAP yang ditetapkan

dalam PP 24/2005 dengan mengacu pada International


Public Sector Accounting Standards (IPSAS) dan
memperhatikan peraturan perundangan serta kondisi
Indonesia.

Pertimbangan :
SAP yang ditetapkan dengan PP 24/2005 berbasis Kas
Menuju Akrual sebagian besar telah mengacu pada
praktik akuntansi berbasis akrual,
Para Pengguna yang sudah terbiasa dengan SAP PP
24/2005 dapat melihat kesinambungannya.

KRONOLOGIS SAP Akrual


1. Dengar Pendapat (hearing) telah dilaksanakan dari
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

tahun 2007 sampai tahun 2008;


September 2008,konsultasi ke DPR
Desember 2008, draft final telah disampaikan ke
BPK untuk dimintakan pertimbangan;
Februari 2009, Surat Pertimbangan BPK
Agustus 2009, RPP SAP Akrual disampaikan ke
Menkeu dan Menhukham
November 2009-Juni 2010, pembahasan dengan
Menhukham
Juli 2010, RPP SAP Akrual disampaikan ke
Mensesneg
Oktober 2010, terbit PP 71 SAP Akrual

Struktur SAP Akrual


Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP):
1. PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;
2. PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran;
3. PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas;
4. PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;
5. PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan;
6. PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi;
7. PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;
8. PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam
Pengerjaan;
9. PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban;
10. PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan
Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa;
11. PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian;
12. PSAP Nomor 12 tentang Laporan Operasional.

Tantangan Basis Akrual

Sistem Akuntansi dan IT Based System


Komitmen dari pimpinan
Tersedianya SDM yang kompeten
Resistensi terhadap perubahan

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN

Tujuan umum laporan keuangan


adalah
menyajikan
informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi
anggaran, arus kas, dan kinerja
keuangan suatu entitas pelaporan
yang
bermanfaat
bagi
para
pengguna
dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya.
21

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN - Lanjutan


Tujuan khusus pelaporan keuangan pemerintah
menyajikan informasi yang berguna untuk
pengambilan keputusan dan menunjukkan
akuntabilitas entitas atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya, dengan:
a. menyediakan informasi mengenai posisi sumber
daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana
pemerintah;
b. menyediakan informasi mengenai perubahan
posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan
ekuitas dana pemerintah;
22

TUJUAN LAPORAN KEUANGAN - Lanjutan


c. menyediakan informasi mengenai sumber,
alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi;
d. menyediakan informasi mengenai ketaatan
realisasi terhadap anggarannya;
e. menyediakan informasi mengenai cara entitas
pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi
kebutuhan kasnya;
f. menyediakan informasi
mengenai potensi
pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan
kegiatan pemerintahan;
g. menyediakan informasi yang berguna untuk
mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan
23
dalam mendanai aktivitasnya.

TUJUAN UMUM LK LAINNYA


LK juga berperanan prediktif dan prospektif,
menyediakan informasi yang berguna untuk
memprediksi besarnya resources yang dibutuhkan
untuk operasi yang berkelanjutan, resources yang
dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan, serta risiko
dan ketidakpastian yang terkait.
Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi
pengguna mengenai:
indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan
digunakan sesuai dengan anggaran; dan
indikasi apakah sumber daya diperoleh dan
digunakan sesuai dengan ketentuan, termasuk batas
anggaran yang ditetapkan oleh DPR/DPRD.
24

TANGGUNG JAWAB PELAPORAN


KEUANGAN

Tanggung jawab penyusunan dan


penyajian laporan keuangan berada
pada pimpinan entitas

25

KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

Komponen LK terdiri dari lap. mandatory dan


laporan finansial terdiri dari:

Laporan Realisasi Anggaran;


Laporan Perubahan SAL (LP-SAL);
Neraca;
Laporan Operasional (LO);
Laporan Arus Kas (LAK);
Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
26

KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

Komponen laporan keuangan tersebut


disajikan oleh setiap entitas pelaporan,
kecuali Laporan Arus Kas yang hanya
disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi
perbendaharaan
(Bendahara
Umum
Negara/Daerah)
Selain menyajikan laporan keuangan pokok,
entitas
pelaporan
diperkenankan
menyajikan Laporan Kinerja Keuangan
berbasis akrual dan Laporan Perubahan
Ekuitas
27

PERIODE PELAPORAN

Laporan keuangan disajikan sekurang-kurangnya


sekali dalam setahun.
Apabila laporan keuangan tahunan disajikan dengan
suatu periode yang lebih panjang atau lebih pendek
dari satu tahun, diungkapkan :
Alasan penggunaan periode pelaporan tidak
satu tahun,
Fakta bahwa jumlah-jumlah komparatif untuk
laporan tertentu seperti arus kas dan catatancatatan terkait tidak dapat diperbandingkan.
28

LAPORAN REALISASI ANGGARAN

LRA menyajikan ikhtisar sumber,


alokasi dan penggunaan sumber
daya ekonomi yang dikelola oleh
pemerintah pusat/daerah dalam satu
periode pelaporan
LRA mengungkapkan kegiatan
keuangan pemerintah pusat/daerah
yang menunjukkan ketaatan terhadap
APBN/APBD
29

LAPORAN REALISASI ANGGARAN


LRA menyajikan sekurang-kurangnya unsur-unsur:
1. pendapatan;
2. belanja;
3. transfer;
4. surplus/defisit LRA;
5. pembiayaan;
6. sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran

LRA (Paragraf 32 s.d. 37)

Diatur khusus dalam PSAP Nomor 2

30

LAPORAN PERUBAHAN SAL


LP SAL menyajikan secara komparatif dengan
periode sebelumnya pos-pos berikut:
1. Saldo Anggaran Lebih awal;
2. Penggunaan Saldo Anggaran Lebih;
3. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun
berjalan;
4. Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun
Sebelumnya; dan
5. Lain-lain.
Di samping itu, suatu entitas pelaporan menyajikan
rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang terdapat
dalam LP SAL dalam CaLK
31

NERACA
Neraca
menggambarkan
posisi
keuangan
pemerintah mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas
dana pada tanggal tertentu.
ISI SINGKAT NERACA

Aset Lancar

Kas dan Setara Kas


Investasi Jangka Pendek
Piutang Pajak dan bukan
Pajak
Persediaan

Kewajiban Jangka
Pendek
Kewajiban Jangka
Panjang
Ekuitas

Aset Non Lancar:

Investasi Jangka
Panjang
Aset Tetap
Aset Lainnya
32

ASET

Sumber daya ekonomi yang dikuasai


dan/atau dimiliki oleh pemerintah.
Sebagai akibat dari peristiwa masa lalu.
Manfaat ekonomi dan/atau sosial di
masa depan yang diharapkan dapat
diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat.
Dapat diukur dalam satuan uang,

33

ASET LANCAR

Diharapkan segera untuk direalisasikan, dipakai,


atau dimiliki untuk dijual dalam waktu 12 (dua
belas) bulan sejak tanggal pelaporan. atau
Berupa kas dan setara kas
Semua aset selain yang termasuk dalam (a) dan
(b), diklasifikasikan sebagai aset nonlancar
Aset lancar meliputi: kas, dan setara kas, investasi
jangka pendek, piutang, dan persediaan.

Akuntansi Persediaan diatur dalam PSAP Nomor 05

34

ASET NON LANCAR

Aset nonlancar mencakup aset yang bersifat jangka


panjang dan aset tak berwujud, yang digunakan secara
langsung atau tidak langsung untuk kegiatan
pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum.
Aset nonlancar diklasifikasikan menjadi investasi
jangka panjang, aset tetap, dana cadangan, dan aset
lainnya untuk mempermudah pemahaman atas pospos aset nonlancar yang disajikan di neraca.
Investasi jangka panjang adalah investasi yang
dimaksudkan untuk dimiliki selama lebih dari 12 (dua
belas) bulan. Investasi jangka panjang terdiri dari
investasi nonpermanen dan investasi permanen.

35

ASET NON LANCAR


Investasi nonpermanen adalah investasi jangka
panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki secara tidak
berkelanjutan.
Investasi permanen adalah investasi jangka panjang
yang dimaksudkan untuk dimiliki secara berkelanjutan.
Investasi nonpermanen terdiri dari:
a) Investasi dalam Surat Utang Negara;
b) Penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat
dialihkan kepada fihak ketiga; dan
c) Investasi nonpermanen lainnya

Investasi permanen terdiri dari:


a) Penyertaan Modal Pemerintah pada perusahaan negara/perusahaan daerah,
lembaga keuangan negara, badan hukum milik negara, badan internasional dan
badan hukum lainnya bukan milik negara.
b) Investasi permanen lainnya.

36

ASET TETAP
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai
masa manfaat lebih dari dua belas bulan untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintah atau
dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
Aset tetap terdiri dari:
a)Tanah;
b)Peralatan dan mesin;
c)Gedung dan bangunan;
d)Jalan, irigasi, dan jaringan;
e)Aset tetap lainnya; dan
f) Konstruksi dalam pengerjaan.
37

DANA CADANGAN

Dana Cadangan adalah dana yang


disisihkan untuk menampung kebutuhan
yang memerlukan dana relatif besar yang
tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun
anggaran.
Dana cadangan dirinci menurut tujuan
pembentukannya.

38

ASET NONLANCAR LAINNYA


Aset nonlancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset
lainnya. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak
berwujud, tagihan penjualan angsuran yang jatuh
tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, aset kerjasama
dengan fihak ketiga (kemitraan), dan kas yang
dibatasi penggunaannya.

Akuntansi Investasi diatur dalam PSAP Nomor 06


Akuntansi Aset Tetap diatur dalam PSAP Nomor 07
Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan diatur dalam
PSAP Nomor 08

39

PENGAKUAN ASET
Aset diakui pada saat diterima atau kepemilikannya
dan/atau kepenguasaannya berpindah.
Pengukuran aset adalah sebagai berikut:
a) Kas dicatat sebesar nilai nominal;
b) Investasi jangka pendek dicatat sebesar nilai
perolehan;
c) Piutang dicatat sebesar nilai nominal;
d) Persediaan dicatat sebesar:
(1) Biaya Perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;
(2) Biaya Standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
(3) Nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti
donasi/rampasan.
40

PENGAKUAN ASET
Investasi jangka panjang dicatat sebesar biaya
perolehan termasuk biaya tambahan lainnya yang
terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas
investasi tersebut;
Aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan. Apabila
penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya
perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap
didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh
aset tetap dapat disusutkan sesuai dengan sifat dan
karakteristik aset tersebut.
Aset moneter dalam mata uang asing dijabarkan dan
dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata
uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral
pada tanggal neraca.
41

KEWAJIBAN

Utang yang timbul dari peristiwa


masa lalu yang penyelesaiannya
mengakibatkan aliran keluar sumber
daya ekonomi pemerintah

Akuntansi Kewajiban diatur dalam


PSAP Nomor 09
42

KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

Suatu kewajiban diklasifikasikan


sebagai kewajiban jangka pendek
jika diharapkan dibayar dalam waktu
12 (dua belas) bulan setelah tanggal
pelaporan.
Semua kewajiban lainnya
diklasifikasikan sebagai kewajiban
jangka panjang.
43

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG (1/2)


Suatu entitas pelaporan tetap
mengklasifikasikan kewajiban jangka
panjangnya, meskipun kewajiban tersebut
jatuh tempo dan untuk diselesaikan dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal
pelaporan jika:
a) jangka waktu aslinya adalah untuk periode
lebih dari 12 (dua belas) bulan;
b) entitas bermaksud mendanai kembali
(refinance) kewajiban tersebut atas dasar
jangka panjang; dan
44

KEWAJIBAN JANGKA PANJANG (2/2)


c) maksud tersebut didukung dengan adanya suatu
perjanjian pendanaan kembali (refinancing), atau
adanya penjadualan kembali terhadap
pembayaran, yang diselesaikan sebelum laporan
keuangan disetujui.
Jumlah setiap kewajiban yang dikeluarkan dari
kewajiban jangka pendek sesuai dengan paragraf ini,
bersama-sama dengan informasi yang mendukung
penyajian ini, diungkapkan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
45

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN KEWAJIBAN


Pengakuan Kewajiban:
Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran
sumber daya ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan
kewajiban yang ada sampai saat pelaporan, dan perubahan atas
kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian yang dapat
diukur dengan andal.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada
saat kewajiban timbul.

Pengukuran Kewajiban:

Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal.;


Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan
dalam mata uang rupiah.
Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca.
46

EKUITAS
Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah
yang merupakan selisih antara aset dan
kewajiban pemerintah pada tanggal
laporan.
Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo
akhir ekuitas pada Laporan Perubahan
Ekuitas.

47

LAPORAN ARUS KAS


Laporan Arus Kas menyajikan informasi
mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas
dan setara kas selama satu periode akuntansi,
dan saldo kas dan setara kas pada tanggal
pelaporan.
Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan
berdasarkan aktivitas operasi, investasi,
pendanaan, dan transitoris.
Laporan Arus Kas
diatur dalam PSAP 03
48

LAPORAN OPERASIONAL
Laporan finansial mencakup laporan operasional yang menyajikan
pos-pos sebagai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)

Pendapatan-LO dari kegiatan operasional;


Beban dari kegiatan operasional ;
Surplus/defisit dari Kegiatan Non Operasional, bila ada;
Pos luar biasa, bila ada;
Surplus/defisit-LO.

Penambahan pos-pos, judul dan subtotal disajikan dalam laporan


operasional jika standar ini mensyaratkannya, atau jika diperlukan
untuk menyajikan dengan wajar hasil operasi suatu entitas
pelaporan.

Laporan Operasional
diatur dalam PSAP 12
49

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS (1/2)


Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurangkurangnya pos-pos:
a) Ekuitas awal
b) Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan;
c) Koreksi-koreksi yang langsung menambah/ mengurangi
ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif
yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi
dan koreksi kesalahan mendasar, misalnya:
1. koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang
terjadi pada periode-periode sebelumnya;
2. perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset
tetap.
50

LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

Dalam Laporan Perubahan Ekuitas sekurangkurangnya harus disajikan pos-pos:


1. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran;
2. Setiap pos pendapatan dan belanja beserta
totalnya seperti diisyaratkan dalam standarstandar lainnya, yang diakui secara langsung
dalam ekuitas;
3. Efek kumulatif atas perubahan kebijakan
akuntansi dan koreksi kesalahan yang
mendasar diatur dalam suatu standar terpisah.

51

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (1/3)


Agar dapat digunakan oleh pengguna dalam
memahami dan membandingkannya dengan laporan
keuangan entitas lainnya, Catatan atas Laporan
Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
a) Informasi Umum tentang Entitas Pelaporan dan
Entitas Akuntansi;
b) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan
ekonomi makro;
c) Ikhtisar pencapaian target keuangan selama
tahun pelaporan berikut kendala dan hambatan
yang dihadapi dalam pencapaian target;
52

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (2/3)


d) Informasi tentang dasar penyusunan laporan
keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang
dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian penting lainnya;
e) Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang
disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
f) Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan
Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
g) Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian
yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar
muka laporan keuangan.
53

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (3/3)


Catatan atas Laporan Keuangan disajikan secara
sistematis. Setiap pos dalam LRA, LP SAL, Neraca,
LO, LAK, dan LPE, harus mempunyai referensi
silang dengan informasi terkait dalam CaLK;
CaLK meliputi penjelasan atau daftar terinci atau
analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam
LRA, LP SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE;
Termasuk pula CaLK adalah penyajian informasi
yang diharuskan dan dianjurkan oleh SAP serta
pengungkapan-pengungkapan lainnya yang
diperlukan untuk penyajian yang wajar atas LK,
seperti kewajiban kontinjensi dan komitmenkomitmen lainnya.
54

PENYAJIAN KEBIJAKAN AKUNTANSI


Bagian kebijakan akuntansi pada Catatan atas
Laporan Keuangan menjelaskan hal-hal berikut ini:
a) dasar pengukuran yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan;
b) sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan
akuntansi yang berkaitan dengan ketentuanketentuan masa transisi Standar Akuntansi
Pemerintahan diterapkan oleh suatu entitas
pelaporan; dan
c) setiap kebijakan akuntansi tertentu yang
diperlukan untuk memahami laporan keuangan.
55

KONSEPSI BASIS AKRUAL DAN


PERANAN LAPORAN OPERASIONAL

56

KONSEPSI BASIS AKRUAL DAN


PERANAN LAPORAN OPERASIONAL

LO menyediakan
informasi mengenai
seluruh kegiatan
operasional
keuangan entitas
pelaporan yang
penyajiannya
disandingkan dengan
periode sebelumnya

Performance

Estimate

57

PERANAN LAPORAN OPERASIONAL


DALAM PERHITUNGAN COST
Laporan Operasional menyajikan informasi beban akrual
yang dapat digunakan untuk menghitung cost per
program/kegiatan pelayanan

COST
untuk
setiap
program/
kegiatan

58

PERANAN LAPORAN OPERASIONAL


DALAM PENILAIAN KINERJA
Evaluasi kinerja berdasarkan konsep Value for Money (ekonomi, efisien & efektif)
Konsep VFM digunakan untuk
menilai apakah suatu organisasi
telah mencapai benefit
maksimal, dengan mengunakan
sumber daya yang ada.

efektivitas

efisien
Konsep VFM memberikan
pengertian akan cost dan
kinerja dalam mencapai
efisiensi dan efektivitas
aktivitas organisasi

Laporan
Operasional

ekonomi

Laporan
Kinerja
59

PERANAN LAPORAN OPERASIONAL


DALAM PENILAIAN KINERJA
UU 1/2004 & PP 8/2006
Mengatur tentang laporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah
Kinerja berupa keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau
telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran (beban/cost),
dengan kuantitas dan kualitas terukur
Manajemen Kinerja

Manajemen Keuangan
Aset &
Kewajiban

Pendapatan

Beban

Cost

Kinerja

Mengaitkan cost dengan kinerja

LAPORAN
KEUANGAN

EVALUASI KINERJA

LAPORAN
KINERJA
60

LAPORAN KINERJA : KETERKAITAN


BEBAN DAN HASIL/KELUARAN

Dengan diterapkannya LO, dapat


dihitung beban akrual untuk
dibandingkan dengan hasil/keluran

61

CONTOH TRANSAKSI PADA LAPORAN


OPERASIONAL
TRANSAKSI PENDAPATAN

AKRUAL - LO

1. Telah terbit Surat Ketetapan Dicatat sebagai pendapatan pajak pada


Pajak (SKP) di tahun 2011
periode dikeluarkannya SKP
sebesar Rp700
Jurnal:
Piutang Pajak
700
Pendapatan Pajak 700
2. Pajak diterima oleh
kas daerah Rp600

Dicatat sebagai pelunasan piutang


Jurnal :
Kas
600
Piutang Pajak
600

3. Pada tanggal neraca terdapat


SKP yang belum dibayar oleh
Wajib Pajak Rp100

Tidak ada jurnal

CONTOH TRANSAKSI PADA LAPORAN


OPERASIONAL
TRANSAKSI BEBAN
1. Satuan Kerja menerima
tagihan listrik sebesar Rp300
pemakaian bulan Desember
2011
2. Pada tanggal 31 Desember
2011 belum dilakukan
pembayaran tagihan listrik

AKRUAL-LO
Dicatat sebagai beban
Jurnal:
Beban langganan daya dan jasa
Utang Belanja

300
300

Tidak ada jurnal

TRANSAKSI NON
OPERASIONAL

AKRUAL-LO

1. Satker menjual aset non lancar


pada Desember 2011 sebesar
Rp 150, dengan harga
perolehan Rp 90

Dicatat sebagai Surplus penjualan aset non


lancar.
Jurnal:
Kas
150
Aset tetap
90
Surplus penjualan aset non lancar
60

KETERKAITAN LAPORAN KEUANGAN


Laporan Operasional
Pendapatan
700
Beban
(300)
Surplus/Defisit Opr
400
Kegiatan non
operasional
60
Surplus/Defisit LO
460

Laporan Perubahan Ekuitas


Ekuitas Awal
1.000
Surplus/Defisit LO
460
Ekuitas Akhir
1.460

Neraca
Aset
Kewajiban
Ekuitas

2.000
540
1.460

LRA
Pendapatan
Belanja
Surplus/(defisit)
Pembiayaan
SILPA

750
(0)
750
1.000
1.750

Laporan Perubahan SAL


SAL Awal
Penggunaan SAL
SILPA
SAL Akhir

100
(30)
1.750
1.820

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM


IMPLEMENTASI PSAP 12

Keterkaitan laporan keuangan mengingat


dual basis penganggaran dan pelaporan.
Keterkaitan laporan keuangan, terutama
Laporan Operasional, dengan laporan
kinerja

65

Lampiran I
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 2013

Panduan Penyusunan Kebijakan


Akuntansi
Pemerintah Daerah
Ruang Lingkup:
1.
2.

KEBIJAKAN
AKUNTANSI
KEUANGAN
KEBIJAKAN AKUNTANSI AKUN

PELAPORAN

KEBIJAKAN AKUNTANSI
1. Kebijakan akuntansi adalah proses pemilihan metode
pelaporan, alternatif, sistem pengukuran dan teknik
pengungkapan tertentu diantara semua yang mungkin tersedia
untuk pelaporan keuangan oleh suatu perusahaan (Elden S
Hendriksen)
2. Kebijakan akuntansi adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar,
konvensi-konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik
yang dipilh oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan
penyajian laporan keuangan (PSAP 04)
3. Kebijakan akuntansi akan mempengaruhi pengakuan,
pengukuran dan penyajian atas elemen seperti aset, liabilitas,

ekuitas, pendapatan dan beban, pada laporan keuangan.

Kebijakan Akuntansi

dipilih oleh entitas pelaporan


untuk menjelaskan:

Pengakuan

Kapan dan kondisi seperti apa diakui

Pengukuran

Berapa banyak yang diakui

Penyajian&Peng
ungkapan

Bagaimana disajikannya dan pengungkapannya


di Laporan Keuangan dan CaLK

Kebijakan Akuntansi Lanjutan....


1. Pertimbangan pemilihan untuk penerapan kebijakan
akuntansi yang paling tepat dan penyiapan laporan
keuangan:
a. Pertimbangan sehat;
b. Ketidakpastian melingkupi banyak transaksi;
c. Subtansi mengungguli bentuk;
d. Materialitas
2. Pengungkapan kebijakan akuntansi harus mengindentifikasikan
dan menjelaskan prinsip-prinsip akuntansi yang digunakan oleh
entitas pelaporan dan metode penerapannya yang secara
material mempengaruhi penyajuan LRA, LPSAL, Neraca, LO,
LAK dan LPE. (paragraf 41 PSAP No.04)

Kebijakan Akuntansi Lanjutan....


3. Secara umum, kebijakan akuntansi pada CaLK menjelaskan halhal berikut:
a. Entitas pelaporan;
b. Basis akuntansi yang mendasari penyusunan L/K;
c. Dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan L/K;
d. Sampai sejauh mana kebijakan-kebijakan akuntansi yang
berkaitan dengan PSAP ini diterapkan oleh suatu entitas
pelaporan pada masa transisi. Sebaliknya penerapan lebih dini
disarankan beradasarkan kesiapan entitas;
e. Setiap kebijakan akuntansi tertentu yang diperlukan untuk
memahami L/K

4. Dalam menentukan perlu tidaknya suatu kebijakan akuntansi


diungkapkan, manajemen harus mempertimbangkan manfaat
pengungkapan tersebut dalam membantu pengguna untuk
memahami setiap transaksi yang tercermin dalam laporan
keuangan.

Kebijakan Akuntansi Lanjutan....


5. Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan
untuk disajikan antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Pengakuan pendapatan-LRA;
Pengakuan pendapatan-LO;
Pengakuan belanja;
Pengakuan beban;
Prinsip-prinsip penyusunan laporan konsolidasian;
Investasi;
Pengakuan dan penghentian/penghapusan aset berwujud dan tidak
berwujud;
Kontrak-kontrak konstruksi;
Kebijakan kapitalisasi pengeluaran;
Kemitraan dengan pihak ketiga;
Biaya peneilitian dan pengembangan;
Persedian;
Pembentukan dana cadangan;
Pembentukan dana kesejahteraan pegawai;
Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH


DAERAH

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH


DAERAH
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah yang
selanjutnya disingkat SAPD adalah rangkaian
sistematik dari prosedur, penyelenggara,
peralatan dan elemen lain untuk mewujudkan
fungsi akuntansi sejak analisis transaksi
sampai dengan pelaporan keuangan
dilingkungan organisasi pemerintahan daerah
Pasal 1 angka 8
73

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH


- LANJUTAN
Posting/
Klasifikasi

Identifikasi
Transaksi

Alat :
JURNAL

Laporan
Keuangan

Alat :
Alat :
Kode Rekening
NERACA
(BUKU BESAR)
SALDO
(Pasal 5 ayat 1)
SAPD memuat pilihan prosedur dan teknik akuntansi dalam melakukan
identifikasi transaksi, pencatatan pada jurnal, posting kedalam buku besar,
penyusunan neraca saldo dan penyajian laporan keuangan.
74

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH LANJUTAN

(Pasal 6 ayat 1)

SAPD diatur lebih lanjut dengan


peraturan kepala daerah
(Pasal 6 Ayat 4)
75

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH LANJUTAN


(Pasal 6
ayat 2)
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Pencatatan Anggaran PPKD


Akuntansi Pendapatan PPKD
Akuntansi Beban PPKD
Akuntansi Aset PPKD
Akuntansi Kewajiban PPKD
Akuntansi Pembiayaan PPKD
Jurnal Koreksi dan Penyesuaian PPKD
Akuntansi Konsolidator
Penyusunan Laporan Keuangan PPKD
76
Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian Pemerintah Daerah

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH LANJUTAN


(Pasal 6
ayat 3)
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pencatatan Anggaran SKPD


Akuntansi Pendapatan SKPD
Akuntansi Beban SKPD
Akuntansi Aset SKPD
Akuntansi Kewajiban SKPD
Jurnal Koreksi dan Penyesuaian SKPD
Penyusunan Laporan Keuangan SKPD

77

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH


- LANJUTAN
Panduan penyusunan SAPD tercantum dalam Lampiran II
Pasal 6 ayat (5)
1. Identifikasi prosedur
2. Menentukan pihak-pihak terkait
3. Menentukan dokumen terkait
Tahapan
4. Menentukan jurnal standar
Penyusunan
5. Menuangkannya dalam langkah
teknis
LAMPIRAN II : SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
Pada bagian Petunjuk Penyusunan dijelaskan bahwa :
Pemerintah daerah dapat mengembangkan sistem akuntansi
pemerintah daerah dengan menambahkan bagan alir dan
78
ilustrasi soal atau transaksi beserta jawabannya.

Terima Kasih

79