Anda di halaman 1dari 63

DIREKTORAT PEMERINTAHAN DESA DAN KELURAHAN

DIREKTORAT JENDERAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN


DESA
KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengertian Desa
Desa atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disebut desa adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas
batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal
usul dan adat istiadat setempat yang diakui
dan dihormati dalam sistem Pemerintahan
Negara Republik Indonesia.

Sehingga urusan pemerintahan yang menjadi

kewenangan desa mencakup:


a. Urusan pemerintahan yg sudah ada berdasarkan
hak asal usul desa;
b. Urusan pemerintahan yg menjadi kewenangan
kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya
kepada desa;
c. Tugas pembantuan dr Pemerintah, PemProv,dan
Pem Kab/Kota; dan
d. Urusan pemerintahan lainnya yg oleh peraturan
per-uu diserahkan kepada desa.

KEPALA DESA
TUGAS
MENYELENGGARAKAN URUSAN
PEMERINTAHAN, PEMBANGUNAN DAN
KEMASYARAKATAN

WEWENANG
1.

MEMIMPIN PENY. PEMDES BERDASARKAN

2.

MENGAJUKAN RANCANGAN PERDES

3.

MENETAPKAN PERDES YG TLH MENDPT PERSETUJUAN


BERSAMA BPD

4.

MENYUSUN & MENGAJUKAN RANCANGAN PERDES


MENGENAI APBDesa

5.

MEMBINA KEHIDUPAN MASY

6.

MEMBINA PEREKONOMIAN DESA

7.

MENGKOORDINASI PEMBANGUNAN DESA SCR PARTISIPATIF

8.

MEWAKILI DESANYA DI DLM & DI LUAR PENGADILAN

9.

MELAKSANAKAN WEWENANG LAIN SESUAI DGN


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

PP 72 Thn 2005 ttg Desa, psl 67 ayat 1-3

Penyelenggaraan urusan pemerinthan desa yg

menjd kewenangan desa didanai dr APB


Desa,Bantuan Pemerintah dan bantuan
pemrintahan daerah.
Penyelggaraan urusan pemerintahan daerah yg
diselenggarakan o.pemd.desa didanai dari
APBD.
Penyelenggaraan urusan pemerintahan yg
diselenggarakan pem.des didanai dr APBN

PENGELOLAAN KEUANGAN DESA


KEUANGAN DESA :
SEMUA HAK DAN KEWAJIBAN DESA DALAM RANGKA
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA YANG
DAPAT DINILAI DENGAN UANG, TERMASUK DIDALAMNYA
SEGALA BENTUK KEKAYAAN YANG BERHUBUNGAN
DENGAN HAK DAN KEWAJIBAN DESA TERSEBUT.

PENGELOLAAN KEUANGAN DESA :


KESELURUHAN PROSES KEGIATAN, YG MELIPUTI:
PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN,
PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN,
PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN,
SERTA PENGAWASAN KEUANGAN DESA

ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA:


RENCANA KEUANGAN TAHUNAN PEMERINTAHAN DESA
YANG DIBAHAS DAN DISETUJUI BERSAMA OLEH
PEMERINTAH DESA DAN BADAN PERMUSYAWARATAN DESA,
YANG DITETAPKAN DENGAN PERATURAN DESA.

KEUANGAN DESA

UU No. 17 tahun 2003 Tentang Keuangan Negara


UU No. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional
UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah
UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU No. 18
Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
PP Nomor72 Tahun2005Tentang Desa
Permendagri No 4 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Kekayaan Desa
Permendagri No. 37 Tahun 2007 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa

MEMPERKUAT MANAJEMEN
KEUANGAN DESA

Keuangan Desa
adalah semua hak dan kewajiban dalam
rangka penyelenggaraan pemerintahan
desa yang dapat dinilai dengan uang
termasuk didalamnya segala bentuk
kekayaan yang berhubungan dengan hak
dan kewajiban desa tersebut.

BENDAHARA
adalah perangkat desa yang ditunjuk oleh
Kepala Desa untuk menerima, menyimpan,
menyetorkan, menatausahakan, membayarkan,
dan mempertanggungjawabkan keuangan desa
dalam rangka pelaksanaan APBDesa.

APBDESA
adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan desa yang dibahas dan
disetujui bersama oleh pemerintah desa
dan Badan Permusyawaratan Desa, dan
ditetapkan dengan Peraturan Desa.

FUNGSI APB-DESA
FUNGSI
FUNGSI OTORISASI:
OTORISASI: APB-DESA
APB-DESA MENJADI
MENJADI
MELAKSANAKAN
MELAKSANAKAN PENDAPATAN
PENDAPATAN DAN
DAN BELANJA
BELANJA
YANG
YANG BERSANGKUTAN.
BERSANGKUTAN.

DASAR
DASAR UNTUK
UNTUK
DESA
DESA PADA
PADA TAHUN
TAHUN

FUNGSI
FUNGSI PERENCANAAN:
PERENCANAAN: APB-DESA
APB-DESA MENJADI
MENJADI PEDOMAN
PEDOMAN BAGI
BAGI
MANAJEMEN
MANAJEMEN DALAM
DALAM MERENCANAKAN
MERENCANAKAN KEGIATAN
KEGIATAN PADA
PADA TAHUN
TAHUN YANG
YANG
BERSANGKUTAN.
BERSANGKUTAN.
FUNGSI
FUNGSI PENGAWASAN:
PENGAWASAN: APB-DESA
APB-DESA MENJADI
MENJADI PEDOMAN
PEDOMAN UTK
UTK MENILAI
MENILAI
APAKAH
APAKAH KEGIATAN
KEGIATAN PENYELENGGARAAN
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
PEMERINTAHAN DESA
DESA
SESUAI
SESUAI DENGAN
DENGAN KETENTUAN
KETENTUAN YANG
YANG TELAH
TELAH DITETAPKAN.
DITETAPKAN.
FUNGSI
FUNGSI ALOKASI:
ALOKASI: APB-DESA
APB-DESA HARUS
HARUS DIARAHKAN
DIARAHKAN UTK
UTK MENCIPTAKAN
MENCIPTAKAN
LAPANGAN
LAPANGAN KERJA/MENGURANGI
KERJA/MENGURANGI PENGANGGURAN
PENGANGGURAN &
& PEMBOROSAN
PEMBOROSAN
SUMBER
SUMBER DAYA,
DAYA, SERTA
SERTA MENINGKATKAN
MENINGKATKAN EFISIENSI
EFISIENSI DAN
DAN EFEKTIVITAS
EFEKTIVITAS
PEREKONOMIAN
PEREKONOMIAN DESA.
DESA.
FUNGSI
FUNGSI DISTRIBUSI:
DISTRIBUSI: KEBIJAKAN
KEBIJAKAN APB-DES
APB-DES HARUS
HARUS MEMPERHATIKAN
MEMPERHATIKAN
RASA
RASA KEADILAN
KEADILAN DAN
DAN KEPATUTAN
KEPATUTAN MSY.
MSY.

14

APBDesa merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:


a.
Pendapatan Desa;
b.
Belanja Desa; dan
c.
Pembiayaan Desa.

Pendapatan Desa terdiri atas:


a.
b.
c.
d.
e.

Pendapatan Asli Desa (PADes);


Bagi Hasil Pajak Kabupaten/Kota;
Bagian dari Retribusi Kabupaten/Kota;]
Alokasi Dana Desa (ADD);
Bantuan Keuangan dari Pemerintah,
Pemerintah Provinsi, Pemerintah
Kabupaten/Kota dan Desa lainnya;
f. Hibah;
g. Sumbangan Pihak Ketiga

PENDAPATAN ASLI DESA

HASIL USAHA DESA

BAGIAN LABA BADAN USAHA MILIK DESA


HASIL USAHA EKONOMI DESA SIMPAN PINJAM
BAGIAN LABA LUMBUNG PANGAN DESA
HASIL KERJASAMA DENGAN PIHAK KETIGA
LAIN-LAIN HASIL USAHA DESA YANG SAH

HASIL KEKAYAAN DESA

TANAH KAS DESA


PASAR DESA
TAMBATAN PERAHU
BANGUNAN DESA
PELELANGAN IKAN MILIK DESA
LAIN-LAIN KEKAYAAN MILIK DESA

HASIL SWADAYA, GOTONG


ROYONG, DAN PARTISIPASI MASYARAKAT

KONTRIBUSI DANA
KONTRIBUSI IN NATURA (SEPERTI TENAGA,
BAHAN BAKU LOKAL YG DAPAT DIHITUNG
DALAM NILAI UANG)

LAIN-LAIN PENDAPATAN
ASLI DESA YANG SAH

HIBAH DARI PEMERINTAH PUSAT, PROV,


ATAU KAB/KOTA.
DANA DARURAT DARURAT DARI PEMERINTAH,
DALAM RANGKA PENANGGULANGAN KORBAN/
KERUSAKAN AKIBAT BENCANA ALAM;
PENDAPATAN BUNGA DEPOSITO

17

BAGI HASIL PAJAK/RETRIBUSI DAERAH


KABUPATEN/ KOTA KEPADA DESA
HASIL PAJAK/
RETRIBUSI DAERAH

MINIMAL 10%
UNTUK DESA
DUA ALTERNATIF
KEBIJAKAN

KEADILAN KOMUTATIF:
10 % DARI HASIL PENERIMAAN
PAJAK/RETRIBUSI DAERAH
DI DESA BERSANGKUTAN

KEADILAN DISTRIBUTIF:
10 % DARI TOTAL PENERIMAAN PAJAK/
RETRIBUSI DAERAH DIBAGI SECARA
MERATA UNTUK SELURUH DESA

IDEALNYA:
PERPADUAN/KOMBINASI
ANTARA DUA PENDEKATAN
KEADILAN TERSEBUT

18

BANTUAN KEUANGAN DARI


PUSAT, PROVINSI, DAN
KABUPATEN/KOTA KEPADA DESA
DUA PERTIMBANGAN
KEBIJAKAN
PELAKSANAAN ASAS
TUGAS PEMBANTUAN

AKSELERASI
PEMBANGUNAN DESA

DUA POLA ALOKASI

PROGRAM INDIKATIF
(PEMERINTAHAN DESA
SEBAGAI PELAKSANA)

DANA TUNAI
(CASH TRANSFER)
(PEMERINTAHAN DESA
BERWENANG MENGATUR)

KOMPETISI PROPOSAL
ANTAR DESA

PEMENUHAN KEBUTUHAN
SELURUH DESA

DUA PERTIMBANGAN
ALOKASI
19

KEBIJAKAN
ALOKASI DANA DESA

ARAHAN
KEBIJAKAN
UMUM

BAGIAN DARI DANA


PERIMBANGAN KEUANGAN
ANTARA PEMERINTAH PUSAT
DAN DAERAH YG DITERIMA
KABUPATEN/KOTA

DANA PERIMBANGAN:
DANA BAGI HASIL
DANA ALOKASI UMUM
DANA ALOKASI KHUSUS

DIKURANGI ALOKASI DASAR


UTK BELANJA PNS DAERAH
MINIMAL 10% UNTUK ADD
BAGI SELURUH DESA
POLA ALOKASI

ALOKASI DANA DESA MINIMAL:

ALOKASI DANA DESA PROPORSIONAL:

60% DARI TOTAL ADD DIBAGI


SECARA MERATA UTK SELURUH DESA

40% DARI TOTAL ADD DIBAGI UTK DESADESA TERTENTU SESUAI HASIL PENILAIAN

DIATUR DAN DIURUS


OLEH PEMERINTAHAN DESA

TOTAL ADD TIAP DESA

20

KEBIJAKAN
ALOKASI DANA DESA
ALOKASI DANA DESA
PROPORSIONAL/ADDP
DITETAPKAN BERBEDA-BEDA
UNTUK TIAP DESA
DIANALISIS BERDASARKAN
DUA VARIBAEL POKOK

VARIABEL INDEPENDEN UTAMA:


KEMISKINAN, PENDIDIKAN DASAR,
KESEHATAN, DAN
KETERJANGKAUAN DESA

VARIABEL INDEPENDEN TAMBAHAN:


JUMLAH PENDUDUK, LUAS WILAYAH,
POTENSI EKONOMI, TINGKAT PARTISIPASI
MSY, JMLH UNIT KOMUNITAS DI DESA, dll.

KETEPATAN ADD UNTUK TIAP DESA,


TERGANTUNG AKURASI DATA DESA

21

PENGELOLAAN
ALOKASI DANA DESA
PRINSIP-PRINSIP KEBIJAKAN ALOKASI DANA DESA:
MENDORONG SEMANGAT DESENTRALISASI, KHUSUSNYA
DESENTRALISASI FISKAL SEJALAN DENGAN DESENTRALISASI KEWENANGAN;
DIALOKASIKAN SECARA ADIL, TRANSPARAN DAN AKUNTABEL;
PASTI DAN DAPAT DIUKUR KINERJA HASIL KEGIATAN.
TUJUAN ALOKASI DANA DESA:
MEMPERKUAT KEDUDUKAN DESA SEBAGAI GARIS DEPAN
(FRONT LINE) PEMERINTAHAN SECARA NASIONAL
MENINGKATKAN KEMAMPUAN DESA DALAM MENETAPKAN
KEBIJAKAN DAN PROGRAM SERTA PEMBIYAAN PEMBANGUNAN
DESA SESUAI ESENSI MASALAH DAN PRIORITAS KEBUTUHAN MSY.
MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DESA SECARA PARTISIPATIF;
MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PELAYANAN PMERINTAHAN DESA
KEPADA MASYARAKAT.

22

MEKANISME PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA


(MENYATU DENGAN PENGELOLAAN APB-DESA)

PERENCANAAN

PEMBAHASAN
DAN PENETAPAN
PERDES TENTANG
APB-DESA

PENCAIRAN
DANA ADD

PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DESA


(RKP-DESA) PADA FORUM MUSRENBANGDES.
PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN/RKA
(BERDASARKAN RKP-D), YAKNI: RKA OPERASIONAL
PEMDES DAN RKA PEMBERDAYAAN MSY
KADES BERSAMA BPD MEMBAHAS RANCANGAN
PERATURAN DESA TENTANG RAPB-DESA.
PENETAPAN PERDES TENTANG APB-DESA.
KADES MENGAJUKAN USULAN KEPADA BUP/WK (SURAT
PERMINTAAN PEMBAYARAN/SPP. NO. REKENING DESA,
KEPUTUSAN KADES TENTANG KUASA PENGGUNA
ANGGARAN/KPA DAN BENDAHARA);
BAGIAN KEUANGAN KAB/KOTA MEMPROSES ADMINISTRASI PENCAIRAN DAN MENTRANSFER DANA ADD
KEPADA REKENING DESA DI BANK YANG DITUJU.
DICAIRKAN SECARA PERIODIK (BULANAN / TRIWULANAN)
SETELAH PERTANGGUNGJAWABAN REALISASI DANA ADD
PERIODE SEBELUMNYA.
PENCAIRAN DANA ADD DI BANK OLEH KPA & BENDAHARA.

23

MEKANISME PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA


(MENYATU DENGAN PENGELOLAAN APB-DESA)
PELAKSANAAN
KEGIATAN
ADMINISTRASI
DANA ADD

PERTANGGUNGJAWABAN DAN
PELAPORAN

PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN

OLEH PEJABAT PELAKSANA TEKNIS KEGIATAN


(DITETAPKAN DGN KEPUTUSAN KADES)
OLEH KUASA PENGGUNA ANGGARAN DAN BENDAHARA
PERTANGGUNGJAWABAN ADD TERINTREGASI
DENGAN PERTANGGUNGJAWABAN APBDESA.
JENIS PELAPORAN: LAPORAN BERKALA, DAN
LAPORAN AKHIR.
LAPORAN PENGGUNAAN ADD DARI KADES
KEPADA BUPATI MELALUI CAMAT
KECAMATAN MEMBUAT LAPORAN/REKAPAN
DARI SELURUH LAPORAN TINGKAT DESA
DAN SECARA BERTAHAP DILAPORKAN
KEPADA BUPATI
PEMERINTAH PROVINSI WAJIB MENGKOORDINASI
PEMBERIAN DAN PENYALURAN ADD DARI KAB/
KOTA KEPADA DESA;
PEMERINTAH KAB/KOTA WAJIB MEMBINA DAN
MENGAWASI PELAKSANAAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DESA (TERMASUK ADD)
CAMAT WAJIB MEMFASILITASI DAN MENGKORDINASI
PENGELOLAAN KEUANGAN DESA (TERMASUK ADD)
24

ARAH PENGGUNAAN
ALOKASI DANA DESA

BIAYA OPERASIONAL
PEMDES (30%)

CONTOH:
PENGHASILAN TETAP KADES
DAN PERANGKAT DESA
BIAYA OPERASIONAL PEMDES
BIAYA OPERASIONAL BPD

NAMUN:
BAGI DESA YANG BELUM MAMPU
MEMBIAYAI PENGHASILAN TETAP
KADES DAN PERANGKAT DESA,
WAJIB DIBIAYAI OLEH APBD
KABUPATEN/KOTA.

PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT ( 70% )

CONTOH:
PENANGGULANGAN KEMISKINAN
PENGEMBANGAN BUM-DESA
PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA
PEMBANGUNAN KESEHATAN (POSYANDU).
BANTUAN OPERASIONAL LKMD/LPM
BANTUAN OPERASIONAL PKK
BANTUAN OPERASIONAL RT.RW, DUSUN
PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK DESA
BIDANG PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
INFRASTRUKTUR DESA, DLL

25

Belanja Desa terdiri dari:


a. Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap;
b. Belanja Barang dan Jasa;
c. Belanja Modal;
d. Belanja Subsidi
e. Belanja Hibah (Pembatasan Hibah)
f. Belanja Bantuan Sosial
g. Belanja Bantuan Keuangan
h. Belanja Tak Terduga

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
BELANJA TIDAK LANGSUNG:
1.

2.

3.

4.

BELANJA PEGAWAI/PENGHASILAN TETAP: belanja kompensasi dalam bentuk


penghasilan tetap dan tunjangan lainnya yang diberikan kepada Kepala Desa,
Perangkat Desa, anggota BPD, dan/atau pengurus Lembaga Kemasyarakatan.
BELANJA SUBSIDI: digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi
kepada Badan Usaha Milik Desa, agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan
dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.
BELANJA HIBAH: digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam
bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah desa lainnya dan/atau
kelompok masyarakat dan perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan
peruntukannya, serta bersifat bantuan yang tidak mengikat/ tidak secara terus
menerus dan harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan
dalam naskah perjanjian hibah desa.
BELANJA BANTUAN SOSIAL: digunakan untuk menganggarkan pemberian
bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang
bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan diberikan tidak
secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif dan
memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya.

27

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
BELANJA TIDAK LANGSUNG (lanjutan):
5.

6.

BELANJA BANTUAN KEUANGAN: digunakan untuk menganggarkan bantuan


keuangan yang bersifat umum atau khusus dari Pemerintah desa kepada
pemerintah desa lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan
kemampuan keuangan desa.
Bantuan keuangan yang bersifat umum: peruntukan dan penggunaannya
diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah desa penerima bantuan.
Bantuan keuangan yang bersifat khusus: peruntukan dan pengelolaannya
diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah desa pemberi bantuan.
BELANJA TAK TERDUGA: merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya
tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana
alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Kegiatan yang bersifat tidak biasa, yaitu untuk tanggap darurat dalam
rangka pencegahan gangguan terhadap stabilitas penyelenggaraan
pemerintahan demi terciptanya keamanan, ketentraman dan ketertiban
masyarakat di daerah.

28

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
BELANJA LANGSUNG:
1. BELANJA PEGAWAI/HONORARIUM: untuk pengeluaran honorarium/ upah dalam
melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan desa.
2. BELANJA BARANG DAN JASA: digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan
barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian
jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan desa.
Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa: mencakup belanja
barang pakai habis, bahan/material, jasa kantor, perawatan kendaraan
bermotor, cetak/ penggandaan, sewa rumah/gedung/ gudang/parkir, sewa
sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan kantor,
makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian
khusus dan hari-hari tertentu, dan perjalanan dinas.
3. BELANJA MODAL: digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka
pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai
manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan,
seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi
dan jaringan, dan aset tetap lainnya.
Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud hanya
sebesar harga beli/bangun aset.
Belanja honorarium panitia pengadaan barang/jasa dan administrasi
pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset, dianggarkan pada
belanja pegawai/honoraroim dan/atau belanja barang dan jasa.

29

Pembiayaan Desa terdiri dari Penerimaan Pembiayaaan dan


Pengeluaran Pembiayaan.
Penerimaan Pembiayaan mencakup:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun
sebelumnya.
b. Pencairan Dana Cadangan.
c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan.
Pengeluaran Pembiayaan mencakup:
a. Pembentukan Dana Cadangan.
b. Penyertaan Modal Desa.

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
ANGGARAN PEMBIAYAAN:

PENERIMAAN PEMBIAYAAN:
1.
Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA):
pelampauan penerimaan PAD, pelampauan penerimaan dana perimbangan,
pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah, pelampauan
penerimaan pembiayaan, penghematan belanja, kewajiban kepada fihak
ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan, dan sisa dana kegiatan
lanjutan.
2.
Pencairan Dana Cadangan: digunakan untuk menganggarkan pencairan dana
cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum desa dalam
tahun anggaran berkenaan.

Jumlah yang dianggarkan harus sesuai dengan jumlah yang telah


ditetapkan dalam PERDES tentang pembentukan dana cadangan.

Penggunaan atas dana cadangan yang dicairkan dari rekekning dana


cadangan ke rekening kas umum desa dianggarkan dalam Belanja
Langsung.
3.
Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan: digunakan antara lain untuk
menganggarkan hasil penjualan Badan Usaha Milik desa/BUMDES dan
penjualan aset milik pemerintah desa yang dikerjasamakan dengan pihak
ketiga, atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah desa.

31

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
ANGGARAN PEMBIAYAAN:

PENGELUARAN PEMBIAYAAN:
1.

Pembentukan Dana Cadangan: Pemerintah Desa


dapat membentuk dana
cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat sekaligus
dibebankan dalam satu tahun anggaran.
a.
Pembentukan dana cadangan ditetapkan dengan PERDES, dengan materi
muatan: tujuan pembentukan dana cadangan, program dan kegiatan yang
akan dibiayai, besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus
dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana cadangan, sumber dana
cadangan, dan tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan.
b.
Rancangan PERDES tentang pembentukan dana cadangan dibahas dan
ditetapkan bersamaan dengan pembahasan Rancangan PERDES tentang
APB-Desa.
c.
Dana cadangan dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan desa, dan
penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu
berdasarkan peraturan perundang-undangan.
d.
Dana cadangan ditempatkan pada rekening tersendiri.
e.
Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan
dalam portofolio dicantumkan sebagai penambah dana cadangan berkenaan
dalam daftar dana cadangan pada Lampiran Rancangan Peraturan Desa
tentang APB-Desa.

32

STRUKTUR
STRUKTUR APB-DESA
APB-DESA
ANGGARAN PEMBIAYAAN:

PENGELUARAN PEMBIAYAAN (Lanjutan):


2.

Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Desa: Investasi pemerintah desa


digunakan untuk menganggarkan kekayaan pemerintah desa yang
diinvestasikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
a.
Investasi jangka pendek: investasi yang dapat segera
diperjualbelikan/dicairkan, ditujukan dalam rangka manajemen kas
dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12 (duabelas)
bulan (seperti deposito berjangka waktu 3 bulan s/d 12 bulan yang
dapat diperpanjang secara otomatis).
b.
Investasi jangka panjang: investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki
lebih dari 12 (duabelas) bulan yang terdiri dari investasi permanen dan
non permanen. (seperti surat berharga yang dibeli pemerintah desa).
c.
Investasi permanen: bertujuan untuk dimiliki secara berkelanjutan
tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali, seperti
kerjasama desa dengan pihak ketiga dalam bentuk
penggunausahaan/pemanfaatan aset desa, penyertaan modal desa
pada BUMDesa dan/atau badan usaha lainnya dan investasi
permanen lainnya yang dimiliki pemerintah desa untuk menghasilkan
pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

33

FORMAT
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
DESA .......................... KECAMATAN ..
TAHUN ANGGARAN
KODE
REKENING

URAIAN

PENDAPATAN
1.1 Pendapatan Asli Desa
1.1.1
Hasil Usaha Desa
1.1.1.1
Dst .................................................
1.1.2
1.1.2.1

Hasil Pengelolaan Kekayaan Desa:


Hasil Pengelolaan Tanah Kas Desa:
(*)
Dst..................................................

1.1.2.1.1
1.1.2.2
1.1.2.3
1.1.2.4
1.1.2.5
1.1.2.6
1.1.2.7
1.1.2.8

Pasar Desa
Pasar Hewan
Tambatan Perahu
Bangunan Desa
Pelelangan Ikan yang dikelola
Desa
Lain-lain Kekayaan Milik Desa
Dst .................................................

1.1.3
1.1.3.1

Hasil Swadaya dan Partisipasi


Dst .................................................

1.1.4
1.1.4.1

Hasil Gotong Royong


Dst .................................................

1.1.5

Lain-lain Pendapatan Asli Desa


yang sah
Dst .................................................

1.1.5.1

TAHUN
SEBELUMNY
A

TAHUN
BERJALA
N

KET.

1.3

Bagi Hasil Retribusi


Dst ................................................

1.4

Bagian Dana Perimbangan Keuangan


Pusat dan Daerah
ADD
Dst ................................................

1.5
1.5.1
1.5.1.1

Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi,


Kabupaten/Kota, dan desa lainnya
Bantuan Keuangan Pemerintah:
Dst ................................................

1.5.2
1.5.2.1

Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi


Dst ................................................

1.5.3

1.5.3.2

Bantuan
Keuangan
Pemerintah
kabupaten/kota:
Dana tambahan penghasilan tetap Kepala
Desa dan Perangkat Desa
Dst ................................................

1.5.4
1.5.4.1

Bantuan Keuangan Desa lainnya:


Dst ................................................

1.3.1

1.4.1
1.4.2

1.5.3.1

1.6

Hibah
Hibah dari pemerintah
Hibah dari pemerintah provinsi
Hibah dari pemerintah kabupatenkota
Hibah
dari
badan/lembaga/organisasi
swasta
Hibah
dari
kelompok
masyarakat/perorangan
Dst ................................................

1.7

Sumbangan Pihak Ketiga


Sumbangan dari ............
Dst ................................................

1.6.1
1.6.2
1.6.3
1.6.4
1.6.5
1.6.6

1.7.1
1.7.2

Bagi Hasil Pajak:


1
.
2
1.2.1
1.2.2
1.2.3

JUMLAH PENDAPATAN

Bagi hasil pajak kabupaten/kota


Bagi hasil PBB
Dst ................................................

2.1.1
2.1.1.1
2.1.1.2

BELANJA
2.1 Belanja Langsung
Belanja Pegawai:
Honor tim/panitia
Dst ................................................

FORMAT (LANJUTAN)
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
DESA .......................... KECAMATAN ..
TAHUN ANGGARAN
2.1.2
2.1.2.1
2.1.2.2
2.1.2.3

Belanja Barang /Jasa:


Belanja perjalanan dinas
Belanja bahan/material
Dst .............................................
...

2.1.3
2.1.3.1
2.1.3.2
2.1.3.3

Belanja Modal:
Belanja ModalTanah
Belanja Modal Jaringan
Dst .............................................
...

3.2 Pengeluaran
Pembiayaan
3.2.1
3.2.2
3.2.3

2.2 Belanja Tidak Langsung


Belanja
Pegawai/Penghasilan
Tetap
2.2.1.1
Dst .............................................
...

JUMLAH
PEMBIAYAAN

2.2.1

2.2.2
2.2.2.1

Belanja Subsidi
Dst .............................................
...

2.2.3
2.2.3.1

Belanja Hibah
Dst .............................................
...

2.2.4
2.2.4.1

Belanja Bantuan Sosial:


Dst .............................................
...

2.2.5
2.2.5.1

Belanja Bantuan Keuangan


Dst .............................................
...

2.2.6
2.2.6.1
2.2.6.2
2.2.6.3

Belanja tak terduga


Keadaan darurat
Bencana alam
Dst .............................................
...
JUMLAH BELANJA

PEMBIAYAAN

Pembentukan
Dana
Cadangan
Penyertaan
Modal
Desa
Pembayaran utang

....................., tanggal....................
KEPALA DESA,
(Nama Lengkap)
Catatan:
*

Tanah Kas Desa atau istilah lainnya seperti:Tanah


Titi Sara, Suguh Dayoh, Bengkok, Bondo Deso,
kokoan, Timbul, Pangonan, Tanah Pembelian Desa,
dsb.

Ditetapkan di
: Jakarta
pada tanggal
: 24 Juli
2007
MENTERI DALAM NEGERI
a.i.,

A. TRANSPARAN
B. AKUNTABEL
C. PARTISIPATIP
D. DISIPLIN ANGGARAN

KEPALA DESA

PEMEGANG
KEKUASAAN
KEUANGAN DESA

PENGELOLA KEUANGAN DESA


1.

2.

3.
4.

5.

Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa adalah Kepala Desa,


yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan
keseluruhan pengelolaan keuangan desa.
Kepala Desa sebagai Kepala Pemerintah Desa dan sebagai Pemegang
Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Desa, mewakili Pemerintah Desa dalam
kepemilikan kekayaan desa yang dipisahkan.
Kepala Desa dalam melaksanakan pengelolaan keuangan desa, dibantu oleh
Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD).
Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD) adalah Perangkat
Desa yang ditunjuk oleh Kepala Desa untuk melaksanakan pengelolaan
keuangan desa, yakni: (a) Sekretaris Desa; dan (b) Perang-kat Desa lainnya.
Sekretaris Desa berkedudukan selaku koordinator pelaksanaan penge-lolaan
Keuangan Desa, juga berperan selaku Kuasa Penggunaan Anggaran/Barang
Desa, dan bertanggung jawab kepada Kepala Desa.

39

PENGELOLA
PENGELOLA KEUANGAN DESA
DESA
KEPALA
KEPALA DESA:
DESA: (a)
(a) Pemegang
Pemegang Kekuasaan
Kekuasaan Pengelolaan
Pengelolaan Keuangan
Keuangan Desa;
Desa;
dan
dan (b)
(b) Mewakili
Mewakili Pemerintah
Pemerintah Desa
Desa dalam
dalam kepemilikan
kepemilikan kekayaan
kekayaan desa
desa
yang
yang dipisahkan.
dipisahkan.
SEKRETARIS
SEKRETARIS DESA:
DESA: (a)
(a) Koordinator
Koordinator pelaksanaan
pelaksanaan keuangan
keuangan desa;
desa; (b)
(b)
Kuasa
Kuasa Pengguna
Pengguna Anggaran/Barang
Anggaran/Barang Desa;
Desa; (c)
(c) Menguji
Menguji Tagihan
Tagihan (sesuai
(sesuai
Surat
Surat Permintaan
Permintaan Pembayaran/SPP
Pembayaran/SPP dari
dari PPTKD),
PPTKD), dan
dan Memerintahkan
Memerintahkan
Pembayaran
Pembayaran (menerbitkan
(menerbitkan Surat
Surat Perintah
Perintah Membayar/SPMU).
Membayar/SPMU).
UNSUR
UNSUR PELAKSANA
PELAKSANA TEKNIS
TEKNIS LAPANGAN
LAPANGAN (SEPERTI
(SEPERTI KEPALA
KEPALA SEKSI):
SEKSI):
Pelaksana
Pelaksana Teknis
Teknis Pengelolaan
Pengelolaan Keuangan
Keuangan Desa.
Desa.
BENDAHARA
BENDAHARA DESA:
DESA: (a)
(a) Bendahara
Bendahara Umum
Umum Desa;
Desa; (b)
(b) Bendahara
Bendahara
Penerimaan;
Penerimaan; (c)
(c) Bendahara
Bendahara Pengeluaran;
Pengeluaran; (d)
(d) Bendahara
Bendahara Barang.
Barang.

40

PERENCANAAN
PENGANGGARAN
PENATAUSAHAAN

PELAPORAN & PERTANGGUNGJAWAB


PENGAWASAN

A. RPJMDesa
1.

RPJMDesa untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan


penjabaran dari visi dan misi dari Kepala Desa yang terpilih.
2.
RPJMDesa sebagaimana dimaksud pada angka 1
ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala

diatas
Desa dilantik

B. RKPDesa

1.Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD)


menyusun RKPDesa yang merupakan penjabaran dari
RPJMDesa berdasarkan hasil Musyawarah Rencana
Pembangunan Desa.
2. Penyusunan RKPDesa diselesaikan paling lambat
akhir bulan
Januari tahun anggaran sebelumnya.

C. Penetapan ABPDesa
1. Sekretarias Desa menyusun Rancangan Peraturan
Desa tentang APBDesa berdasarkan pada RKPDesa.
2. Sekretaris Desa menyampaikan rancangan Peraturan
Desa tentang APBDesa kepada Kepala Desa untuk
memperoleh persetujuan
3. Kepala Desa menyampaikan rancangan Peraturan Desa
sebagaimana dimaksud pada
angka 2 di atas kepada BPD
untuk dibahas bersama dalam rangka memperoleh persetujuan
bersama.
4. Penyampaian rancangan Peraturan Desa sebagaimana
dimaksud pada angka 3 di atas, paling lambat minggu
pertama bulan November tahun anggaran sebelumnya.
5. Pembahasan sebagaimana dimaksud pada angka 3 di
atas, menitik beratkan pada kesesuaian dengan RKPDesa.
6. Peraturan Desa tentang APBDesa ditetapkan paling
lambat 1 (satu) bulan setelah APBD Kabupaten / Kota
ditetapkan.

D. Evaluasi APBDesa
1. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disetujui
bersama sebelum ditetapkan oleh Kepala Desa paling lambat 3 (tiga)
hari kerja disampaikan kepada Bupati/Walikota untuk dievaluasi.
2. Hasil evaluasi Bupati/Walikota dituangkan dalam Peraturan
Bupati/Walikota dan disampaikan paling lama 20 (dua puluh) hari
kerja kepada Kepala Desa.
3. Apabila hasil evaluasi sebagaimana dimaksud melampaui batas
waktu dimaksud, Kepala Desa dapat menetapkan Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa.
4. Dalam hal Bupati/Walikota menyatakan hasil evaluasi Raperdes
tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum dan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Kepala Desa
bersama BPD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari
kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.

G. Azas Umum Pelaksanaan APBDesa


1. Semua penerimaan desa dan pengeluaran desa dalam
dikelola

rangka pelaksanaan urusan pemerintahan desa


dalam APBDesa.
2. Pemerintah desa wajib melaksanakan pemungutan dan/atau
penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan.
3. Penerimaan desa dilarang digunakan langsung untuk
membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh
peraturan perundang-undangan.
4. Penerimaan desa berupa uang atau cek harus disetor ke

rekening kas desa paling lama 1 (satu) hari kerja .

5. Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBDesa


merupakan Batas tertinggi untuk setiap pengeluaran

6. Pengeluaran desa tidak dapat dibebankan pada anggaran

belanja
jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup
tersedia dalam APBDesa.

7. Pengeluaran belanja desa menggunakan prinsip hemat, tidak mewah,


efektif, efisien, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
8. Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada angka 6 (enam) dapat
dilakukan jika dalam keadaan darurat, yang selanjutnya diusulkan
dalam rancangan perubahan APBDesa dan /atau disampaikan dalam
laporan realisasi anggaran.
9. Kriteria keadaan darurat sebagaimana dimaksud di atas ditetapkan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
10.Pemerintah desa dilarang melakukan pengeluaran atas beban
anggaran desa untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam
APBDesa.
11.Kepala desa dan aparat desa dilarang melakukan kegiatan
perdagangan, pekerjaan pemborongan, dan penjualan jasa atau
bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan
yang
berkaitan dengan pemerintah desa dan kekayaan milik desa.

H. Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Desa


1. Semua pendapatan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa
2.

Setiap pendapatan desa harus didukung oleh bukti yang lengkap


dan sah.

3.

Kepala desa wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan


desa yang menjadi wewenang dan tanggungjawabnya

4.

Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan selain dari yang


ditetapkan dalam peraturan desa

5.

Komisi, rabat, potongan, atau pendapatan lain dengan nama dan

dalam bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang, baik


secara langsung sebagai akibat dari penjualan, tukar
menukar,
hibah, asuransi, dan/atau pengadaan barang dan
jasa termasuk
pendapatan bunga, jasa giro atau pendapatan lain sebagai akibat
penyimpanan dana anggaran pada bank serta pendapatan desa

PENATAUSAHAAN
- Kepala Desa dalam melaksanakan
harus

penatausahaan keuangan Desa


menetapkan Bendahara Desa;

- Kepala Desa menetapkan Bendahara Desa


dengan Keputusan Kepala Desa.

PELAKSANAAN PENATAUSAHAAN
KEUANGAN DESA

BENDAHARA DESA

PENATAUSAHAAN KEUANGAN DESA

- PENATAUSAHAAN PENERIMAAN
- PENATAUSAHAAN PENGELUARAN

PRINSIP-PRINSIP
PRINSIP-PRINSIP PENGANGGARAN
PENGANGGARAN
DALAM
DALAM APB-DESA
APB-DESA
SEMUA PENERIMAAN (BAIK DALAM BENTUK UANG,
MAUPUN BARANG DAN/ATAU JASA) DIANGGARKAN
DALAM APB-DESA.
SELURUH PENDAPATAN DAN BELANJA DIANGGARKAN
SECARA BRUTO.
JUMLAH
PENDAPATAN
MERUPAKAN
PERKIRAAN
TERUKUR DAN DAPAT DICAPAI SERTA BERDASARKAN
KETENTUAN PER-UU-AN.
PENGANGGARAN PENGELUARAN HARUS DIDUKUNG
DENGAN
ADANYA
KEPASTIAN
TERSEDIANYA
PENERIMAAN DALAM JUMLAH CUKUP DAN HARUS
DIDUKUNG
DENGAN
DASAR
HUKUM
YANG
MELANDASINYA.

52

PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN APB-DESA


PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN PENDAPATAN DESA:
1. Semua pendapatan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa;
2. Khusus bagi desa yang belum memiliki pelayanan perbankan di wilayahnya,
maka pengaturannya diserahkan kepada daerah;
3. Program dan kegiatan yang masuk desa merupakan sumber penerimaan dan
pendapatan desa dan wajib dicatat dalam APBDesa;
4. Setiap pendapatan desa harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah;
5. Kepala desa wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan desa yang menjadi
wewenang dan tanggungjawabnya;
6. Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam
peraturan desa;
7. Pengembalian atas kelebihan pendapatan desa dilakukan dengan membebankan
pada pendapatan desa yang bersangkutan untuk pengembalian pendapatan desa
yang terjadi dalam tahun yang sama.
8. Untuk pengembalian kelebihan pendapatan desa yang terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya dibebankan pada belanja tidak terduga;
9. Pengembalian kelebihan pendapatan desa harus didukung dengan bukti yang
lengkap dan sah;

53

PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN APB-DESA


PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN BELANJA DESA:
1.
Setiap Pengeluaran belanja atas beban APBDesa harus didukung dengan bukti
yang lengkap dan sah;
2.
Bukti harus mendapat pengesahan oleh Sekretaris Desa atas kebenaran material
yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud;
3.
Pengeluaran kas desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat dilakukan
sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi Perdes.
4.
Pengeluaran kas desa tidak termasuk untuk belanja desa yang bersifat mengikat
dan belanja desa yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa;
5.
Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya,
wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya
ke rekening kas negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN PEMBIAYAAAN DESA:
1.
Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya, merupakan penerimaan
pembiayaan yang digunakan untuk: (a) menutupi defisit anggaran apabila realisasi
pendapatan lebih kecil dari pada realisasi belanja; (b) mendanai pelaksanaan kegiatan
lanjutan atas beban belanja langsung;(c) mendanai kewajiban lainnya yang sampai
dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan.
2.
Dana cadangan: (a) Dana cadangan dibukukan dalam rekening tersendiri atau disimpan
pada kas desa tersendiri atas nama dana cadangan pemerintah desa; (b) Dana cadangan
tidak dapat digunakan untuk membiayai kegiatan lain diluar yang telah ditetapkan dalam
Perdes tentang pembentukan dana cadangan; (c) Kegiatan yang ditetapkan berdasarkan
Perdes dilaksanakan apabila dana cadangan telah mencukupi untuk melaksanakan
kegiatan.
54

PELAPORAN
PELAPORAN &
& PERTANGGUNGJAWABAN
PERTANGGUNGJAWABAN
PENGELOLAAN
PENGELOLAAN KEUANGAN
KEUANGAN DESA
DESA
JENIS - JENIS LAPORAN KEUANGAN DESA:
1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN;
2. NERACA;
3. LAPORAN ARUS KAS; DAN
4. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN (YANG HARUS MENGGAMBARKAN
TENTANG HAK, KEWAJIBAN, DAN KEKAYAAN DESA PADA AKHIR TAHUN
SERTA SUMBER DAN PENGGUNAANNYA);
LAPORAN KEUANGAN DESA DIPERIKSA OLEH BAWASDA KAB/KOTA SEBELUM
DIAJUKAN
DALAM
BENTUK RANCANGAN PERDES TENTANG PERHITUNGAN
APB-DESA KEPADA BPD;
PERDES TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBDESA DAN
KEPUTUSAN KEPALA DESA TENTANG KETERANGAN PERTANGGUNG- JAWABAN
KADES, DISAMPAIKAN KEPADA BUP/WK MELALUI CAMAT, PALING LAMBAT 7 HARI
KERJA SETELAH PERDES DITETAPKAN.

55

PELAPORAN
PERTANGGUNGJAWABAN

- PELAPORAN PENERIMAAN DAN

PENGELUARAN PALING LAMBAT


TANGGAL 10 BULAN BERIKUTNYA
- PERTANGGUNGJAWABAN PENGGUNAAN

DANA KESELURUHAN DISAMPAIKAN


PALING LAMBAT PADA AKHIR TAHUN
ANGGARAN.

BUKU KAS UMUM


DESA.KECAMATAN..
TAHUN ANGGARAN..
NO

TGL.

KODE REKENING

URAIAN

PENERIMAAN
(Rp)

PENGELUARAN
(Rp)

JUMLAH

Jumlah bulan/tanggal
Rp.
Rp.
Jumlah sampai bulan lalu/tanggal
Rp.
Rp.
Jumlah semua s/d bulan/tanggal
Rp.
Rp.
Sisa Kas pada hari ini tanggal..200
Oleh kami didapat didalam Kas Rp...............(.....................................................................)
Tunai
Rp.
Saldo Bank
Rp
Surat berharga
Rp.
Mengetahui
..................tanggal....
Kepala Desa,
Bendahara Desa,
(.........................)

(...........................)

BUKU KAS PEMBANTU PERINCIAN OBYEK PENERIMAAN


DESA.KECAMATAN..
TAHUN ANGGARAN..
NO
URUT

NO.BKU
PENERIMAAN

Jumlah bulan inil


Jumlah sampai dengan bulan lalu
Jumlah s/d bulan ini
Mengetahui
Kepala Desa,
(.........................)

TGL
SETOR

NOMOR STS&BUKTI
PENERIMAAN LAINNYA

JUMLAH
(Rp)

Rp.
Rp.
Rp.
..................tanggal....
Bendahara Desa,
(...........................)

BUKU KAS PEMBANTU PERINCIAN OBYEK PENGELUARAN


DESA.KECAMATAN..
TAHUN ANGGARAN..
NO
URUT

NO.BKU
PENGELUARAN

TGL
PENGELUARAN

Jumlah bulan inil


Jumlah sampai dengan bulan lalu
Jumlah s/d bulan ini
Mengetahui
Kepala Desa,
(.........................)

NOMOR SPP&BUKTI
PENGELUARAN LAINNYA

JUMLAH
(Rp)

Rp.
Rp.
Rp.
..................tanggal....
Bendahara Desa,
(...........................)

BUKU KAS HARIAN PEMBANTU


DESA.KECAMATAN..
TAHUN ANGGARAN..
NO
URUT

TGL.

URAIAN

PENERIMAAN
(Rp)

PENGELUARAN
(Rp)

SALDO

JUMLAH

Mengetahui
Kepala Desa,
(.........................)

..................tanggal....
Bendahara Desa,
(...........................)

BUKU PAJAK PPN/PPH


DESA .......................... KECAMATAN ..
TAHUN ANGGARAN .
NO.
URUT

TANGGAL

URAIAN

JUMLAH
MENGETAHUI
KEPALA DESA,

(Nama Lengkap)
Cara Pengisian:
Kolom 1 diisi dengan
Kolom 2 diisi dengan
Kolom 3 diisi dengan
Kolom 4 diisi dengan
Kolom 5 diisi dengan
Kolom 6 diisi dengan

PEMOTONGA
N
(Rp.)
4

PENYETORAN
(Rp.)

SALDO
(Rp.)

....................., tanggal....................
BENDAHARA DESA,

(Nama Lengkjap)

nomor urut Pemotongan atau Penyetoran Pajak


tanggal Pemotongan atau Penyetoran Pajak
uraian Pemotongan atau Penyetoran Pajak
jumlah rupiah Pemotongan Pajak
jumlah rupiah Penyetoran Pajak
saldo Pemotongan atau Penyetoran Pajak.

MENTERI DALAM
NEGERI a.i.,

WIDODO A.S..

GOOD GOVERNANCE

1.
2.
3.
4.

ASAS
ASAS
ASAS
ASAS

KEPASTIAN HUKUM
AKUNTABILITAS
KETERBUKAAN
PROFESIONALITAS