Anda di halaman 1dari 36

Referat

Surgical Safety

Oleh:
Zhazha Savira Herprananda, SKed
Keyshia Nur Yazid, SKed

Pembimbing:
dr Mayang Indah Lestari, SpAn

SURGICAL SAFETY:

Suatu sistem untuk membuat pasien lebih aman


dalam tindakan pembedahan

PENDAHULUAN

Tindakan pembedahan merupakan salah satu tindakan medis


yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah
kecacatan dan komplikasi. Diperkirakan setiap tahun ada 230
juta operasi utama dilakukan di seluruh dunia, satu untuk
setiap 25 orang hidup

WHO menunjukkan komplikasi utama pembedahan adalah


kecacatan dan rawat inap yang berkepanjangan 3-16% pasien
bedah terjadi di negara-negara berkembang.

Diperkirakan hingga 50% dari komplikasi dan kematian dapat


dicegah di negara berkembang jika standar dasar tertentu
perawatan diikuti.

Global Patient Safety Challenge:


Safe Surgery Saves Lives (SSSL)

Dipublikasikan oleh WHO pada 2006


Terdiri dari 4 tantangan utama dalam pelaksanaan
prosedur pembedahan
1.

Pembedahan
publik

sebagai

pelayanan

utama

kesehatan

2.

Memastikan intervensi pembedahan yang dilakukan


sesuai dengan evidence based yang dapat dipercaya

3.

Data preoperatif yang tidak memadai

4.

Mengidentifikasi permasalahan intraoperatif baik non


technical skills error maupun human error

The Second Global Patient Safety


Challenge: Safe Surgery Saves
Lives (SSSL)

Dimulai pada bulan Januari 2007


Bertujuan untuk meningkatkan keamanan surgical care di

seluruh dunia dengan cara mendefinisikan seperangkat inti


standar keselamatan yang dapat diterapkan pada semua
negara anggota WHO
Mereka mencapai konsesus pada empat bidang di mana

perbaikan yang dramatis dapat dibuat untuk keselamatan


pasien bedah

: surgical site infection prevention, safe

anaesthesia, safe surgical teams dan measurement of surgical


services

Surgical Site Infection


Prevention

Infeksi dari tempat pembedahan tetap menjadi salah satu penyebab


paling umum dari komplikasi bedah yang serius.
Bukti menunjukkan bahwa langkah- langkah yang telah terbukti
misalnya pemberian antibioktik profilaksis satu jam sebelum insisi
dan sterilisasi dari instrumen bedah tidak secara konsisten diikuti.
Hal ini disebabkan karena sistem yang lemah
Antibiotik misalnya, diberikan perioperatif baik pada negara maju
dan berkembang namun seringkali obat ini diberikan terlalu dini,
terlambat, atau tidak teratur, membuat antibiotik menjadi tidak
efektif dalam mengurangi bahaya pada pasien.

Safe Anaesthesia

Komplikasi anestesi tetap merupakan penyebab besar


kematian pasien bedah di dunia, meskipun standar
keselamatan dan monitoring yang telah secara signifikan
mengurangi kematian yang tidak perlu dan kecacatan di
negara maju
Angka kematian terkait anestesi di negara berkembang
tampak 100 1000 kali lebih tinggi dibanding negara
maju,

menunjukkan

keseriusan

masalah

anestesi yang aman pada pembedahan

kurangnya

RSMH Palembang

FORMULIR PENILAIAN PRE-ANESTESI

PENILAIAN PRE - ANESTESI

Barcode

Jenis Pembedahan. Kanan Kiri


Nama Pasien.

Usia :

TB :

Riwayat Operasi:
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

BB :

RM 014C.2

Nama
:
Tgl Lahir :
No RM
:

BMI :

Tanggal Operasi :

Riwayat Obat- obatan:


..
..
..
..
Premed: ....
Beta blocker
Antikoagulan Waktu :..

Alergi/reaksi obat dan makanan:


..
..
..
..
.
Alergi latex

Apakah pernah atau sedang mengalami :

Apakah pernah atau sedang mengalami :

Penyakit Kardiovaskular
Nyeri dada / Serangan jantung
Irama jantung irreguler
Pacu jantung / Defibrilator Merk :
Masalah sirkulasi
Penyumbatan pembuluh darah tungkai atau paru
Hipertensi

Kelainan Darah
Risiko perdarahan atau mendapat pengencer darah
Mengalami atau keturunan sickle cell disease
Riwayat transfusi darah
Penolakan / keberatan terhadap transfusi darah
HIV positif / AIDS

Penyakit Mata / Glaukoma / Ablasio Retina

Penyakit Telinga / Berdenging / Tuli

Penyakit Respirasi
Merokok bks/hari ; Berhenti
Asma
Emfisema / Bronkitis
Sesak saat istirahat
Infeksi saluran napas atas dalam 2 minggu
Sleep Apnea
Menggunakan CAP

Kanker / Kemoterapi / Radioterapi


Jika ya, uraikan

Penyakit Neurologis
Stroke atau stroke ringan (TIA)
Kejang
Masalah punggung atau leher
Keterbatasan fisik
Pelupa, hilang ingatan, bingung
Sklerosis multipel / distrofi otot
Cedera saraf / Spinal
Neuropati

Kelainan psikiatri
Jika ya, uraikan ..

Penyakit atau Kelainan Lain


Jika ya, uraikan ..

Diabetes

Masalah Tiroid

Masalah Ginjal / Buli / Prostat


Jika ya, uraikan ..
Tidak bisa BAK setelah anestesi
Dialisis, Jadwal ...

Untuk Wanita
Apakah mungkin anda hamil?
Hari pertama menstruasi...
Paska menopause / Histerektomi

Riwayat Anestesi
Anestesi dalam 1 tahun terakhir
Riwayat intubasi sulit
Penolakan/ keberatan terhadap anestesi spinal / epidural
Efek samping anestesi
Malignant Hypertermia
PONV (Mual muntah paska anestesi)
Mengetahui risiko makan atau minum pada hari saat
dianestesi

Terapi Insulin Insulin Pump

Masalah Gastro Intestinal


Penyakit hati (Ikterus, Hepatitis)
Hiatal hernia / reflux / heartburn
Lain lain ...

Karena obat-obatan dapat berinteraksi dengan


obat anestesi, apakah:
Riwayat konsumsi alkohol rutin dalam waktu 24 jam
Konsumsi steroid / kortison dalam waktu satu tahun
Konsumsi obat yang dijual di pasar dalam waktu 30 hari

Gigi patah atau kehilangan gigi palsu

RSMH Palembang

FORMULIR PENILAIAN PRE-ANESTESI

RM 014C.2

Hanya diisi oleh staf


Puasa .....
.
T. TD ...
N..RR...SPO2...
Laboratorium
Hb. Ht . Leu . Trb .
Na . K . Cl . Ca .
Glu . BUN . Cr .
INR . PT . PTT .
LFT .
Lain Lain ...
... .
Ro Thoraks...
... Tanggal .
EKG....
... Tanggal .
Echo...
... Tanggal .
Stress Test.....

... Tanggal .
Lain- lain...
... Tanggal .
Hanya diisi oleh staf
Risiko, keuntungan, dan alternatif pilihan teknik anestesi telah
didiskusikan

Penilaian Intubasi
Malampati I . II . III . IV .

Rencana Anestesi:
GA Regional Sedasi IV TIVA Monitored Anaesthesia Care
Dan atau .............

Gigi Palsu
Overbite

Tanggal Jam

Paru : tidak ada bunyi napas tambahan

Dokter Anestesi . Tanda tangan

Cap / crown
Ompong

ROM : Baik Terbatas Tidak ada


Jantung : irama reguler, tidak ada murmur
ASA 1 2 3 4 5

Safe Surgical Teams

Kerjasama tim adalah inti dari sistem fungsional


yang efektif yang melibatkan banyak orang.
Di kamar operasi, dimana tekanan mungkin tinggi
dan

kehidupan

pasien

ada

diujung

tanduk,

kerjasama tim merupakan komponen yang penting.


Meningkatkan karakteristik tim dapat meningkatkan
komunikasi dan menurunkan risiko melukai pasien.

Measurement of Surgical Services

Tidak adanya pengawasan rutin atas tingkat


kematian dan sistem yang ada pada surgical
care

sehingga

tidak

bisa

memanau

keberhasilan dan kegagalan


Harus

dilakukan

surveilans

rutin

untuk

mengevaluasi dan mengukur layanan bedah


agar

dapat

meningkatkan

perawatan bedah

keselamatan

Operating Room (OR)

Ruang operasi adalah ruangan khusus untuk digunakan oleh ahli


anestesi dan tim bedah dan tidak boleh digunakan untuk
kepentingan lain

Requirements
Pencahayaan dan ventilasi
yang baik
Peralatan yang dibutuhkan
untuk melakukan prosedur
operasi
Peralatan untuk memonitor
pasien
Obat-obatan rutin dan
emergensi

Safe Surgery Saves Lives

WHO safe surgery guidelines :

10 Basic Essential
objective

1.

Tim akan melakukan operasi pada pasien dan lokasi tubuh yang benar

2.

Tim akan menggunakan metode yang sudah di kenal untuk mencegah bahaya dari
pengaruh anestesia, pada saat melindungi pasien dari rasa nyeri.

3.

Tim akan mengetahui dan secara efektif mempersiapkan bantuan hidup dari
adanya bahaya kehilangan atau gangguan pernafasan.

4.

Tim mengetahui dan secara efektif mempersiapkan adanya resiko kehilangan


darah.

5.

Tim menghindari adanya reaksi alergi obat dan mengetahui adanya resiko alergi
obat pada pasien.

6.

Tim secara konsisten menggunakan metode yang


meminimalkan adanya resiko infeksi pada lokasi operasi.

7.

Tim mencegah terjadinya tertinggalnya sisa kasa dan instrument pada luka
pembedahan.

8.

Tim akan mengidentifikasi secara aman dan akurat, specimen (contoh bahan)
pembedahan.

9.

Tim akan berkomunikasi secara efektif dan bertukar informasi tentang hal-hal
penting mengenai pasien untuk melaksanakan pembedahan yang aman.

sudah

dikenal

untuk

10. Rumah sakit dan system kesehatan masyarakat akan menetapkan pengawasan

Surgical Safety Checklist

Surgery safety ceklist WHO merupakan penjabaran dari sepuluh


hal penting tersebut yang diterjemahkan dalam bentuk formulir
yang diisi dengan melakukanceklist.
Surgical safety checklist (SSCL) WHO diterapkan di bagian
bedah

dan

anestesi

untuk

meningkatkan

kualitas

dan

menurunkan kematian dan komplikasi akibat pembedahan


Surgical Safety Checklistdi kamar operasi digunakan melalui 3
tahap, masing-masing sesuai dengan alur waktu yaitu sebelum
induksi anestesi (Sign In), sebelum insisi kulit (Time Out) dan
sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (Sign Out).

ImplementasiSurgery Safety Checklistmemerlukan


seorang koordinator untuk bertanggung jawab untuk
memeriksachecklist.
Koordinator biasanya seorang perawat atau dokter
atau profesional kesehatan lainnya yang terlibat dalam
operasi.
Pada setiap fase, koordinatorchecklistharus diizinkan
untuk mengkonfirmasi bahwa tim telah menyelesaikan
tugasnya sebelum melakukan kegiatan lebih lanjut.
Koordinator memastikan setiap tahapan tidak ada yang
terlewati, bila ada yang terlewati , maka akan meminta
operasi berhenti sejenak dan melaksanakan tahapan
yang terlewati

WHO Surgical Safety


Checklist

Sign In

Selama

"sign

in"

sebelum

induksi

anestesi,

koordinator checklist secara lisan akan memastikan


identitas

pasien

telah

dikonfirmasi,

rencana

prosedur operasi dan lapangan operasi sudah


tepat, dan bahwa persetujuan untuk operasi telah
disetuju pasien dan keluarga pasien secara tertulis.
Koordinator akan mengkonfirmasi bahwa lapangan

operasi telah ditandai (marker).


Koordinator

secara

lisan

meninjau

dengan

profesional risiko pada pasien dari kehilangan


darah, kesulitan bernapas, dan reaksi alergi dan
apakah
selesai.

pemeriksaan

keamanan

anestesi

telah

niversal Protocol to confirm the correct patient, site, and procedu

Verificatio
n

Marking

Time Out

When the procedure is scheduled


At any time of admission or entry to the Operating
Theatre
Anytime the responsibility for care of the patient is
transferred to another person
Before the patient leaves the preoperative area or
enters the procedure or surgical room
At or next to the operative site; non-operative sites
should not be marked;
Unambiguous, clearly visible and made with a
permanent marker so that the mark is not removed
during site preparation
Made by the surgeon performing the procedure
Completed, to the extent possible, while the patient is
alert and awake, as the patients involvement is
important.

The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland (AA

Proposed list of anaesthesia safety checks before any


anaesthetic
Patient name

Number

Date of birth

Procedure

Site

Time Out

Saat "time out", masing-masing anggota tim


akan memperkenalkan diri dengan nama dan
perannya dalam tim operasi.
Tim akan mengkonfirmasi bahwa mereka
melakukan operasi yang benar pada pasien
yang benar dan kemudian secara lisan
meninjau dengan satu sama lain, elemenelemen kritis dari rencana operasi berdasarkan
pertanyaan pada checklist sebagai panduan.
Mereka juga akan mengkonfirmasi bahwa
antibiotik profilaksis telah diberikan setidaknya
60 menit sebelum time out dan pemeriksaan
pencitraan seperti foto rontgent telah tersedia.

Sign Out

Saat "sign out", tim akan meninjau bersamasama


operasi
yang
telah
dilakukan,
menghitung kembali kassa dan instrumen
yang digunakan selama operasi, dan memberi
label spesimen bedah apapun yang diperoleh.
Akhirnya, tim akan meninjau aspek hal-hal
yang
perlu
dititikberatkan
mengenai
manajemen pasca operasi dan pemulihan
sebelum pasien dipindahkan dari ruang
operasi ke ruang pemulihan.
"Sign Out" dapat dimulai oleh perawat
sirkuler, ahli bedah atau anestesi profesional
dan harus diselesaikan sebelum ahli bedah
meninggalkan
ruangan.
Hal
ini
dapat
berbarengan dengan penutupan luka.

Post Operative Care


Jika pasien merasa gelisah, berarti ada sesuatu yang salah

Perhatikan jika tanda berikut


muncul di recovery room:

Pasien cocok untuk


dipindahkan ke bangsal bila:

Obstruksi Jalan Nafas


Hipoksia
Perdarahan : internal atau
external
Hipotensi dan/atau hipertensi
Nyeri postoperati
Hipotermi, menggigil
Muntah- muntah
Residual narcosis
Jatuh di lantai

Pasien bangun, membuka mata


Ter ekstubasi
Bernafas spontan, tidak
bersuara, dan nyaman
Dapat mengangkat kepala bila
diminta
Tidak hipoksia
Tekanan darah dan nadi
memuaskan
Analgesik yang sesuai telah di
preskripsikan dan telah
disediakan

RSMH Palembang

RM 014D.2

CHECKLIST KEAMANAN PEMBEDAHAN / PROSEDUR DIAGNOSTIK / INVASIF

Diagnosis
:
Nama Pasien
:

Jenis Operasi
:
Tgl Lahir
:

DPJP
No. RM
:
:

DPJP
Anestesi
TIME OUT (Sebelum Insisi Kulit / Prosedur Diagnostik / Invasif)
SIGN
IN (Sebelum Induksi :Anestesi)
SIGN OUT (Sebelum Luka Operasi ditutup)

Tanggal PukulWIB
Tanggal
PukulWIB
Tanggal PukulWIB

Apakah pasien telah dikonfirmasi:


Identitasnya
Lokasi Operasi
Prosedur Operasi
Persetujuan operasi / informed consent
Apakah lokasi operasi ditandai:
Ya Tidak Tidak Diperlukan
Apakah telah dilakukan pemeriksaan persiapan
dan kelengkapan:
Mesin Anestesi Obat Anestesi
Apakah pulse oxymeter terpasang pada pasien
dan berfungsi:
Ya
Tidak
Apakah pasien memiliki riwayat alergi:
Ya
Tidak
Kesulitan jalan napas / risiko aspirasi:
Ya, dan peralatan tersedia Tidak
Risiko kehilangan darah >500cc (7cc/kgBB pada
anak):
Tidak
Ya, dan 2 akses IV/sentral dan cairan
direncanakan

Konfirmasi semua anggota tim untuk memperkenalkan nama dan


perannya:
Anestesi
Operator
Asisten Operator
Perawat Instrumen
Perawat Sirkuler
Konfirmasi
Nama pasien
Lokasi Operasi
Prosedur Operasi
Apakah diperlukan penggunaan antibiotika profilaksis:
Ya
Tidak

Konfirmasi secara lisan perawat:


Apakah nama prosedur tindakan sudah ditulis
Kelengkapan peralatan instrumen sesuai daftar
dan jumlah
Jumlah penggunaan kassa
Jumlah penggunaan jarum
Pelabelan spesimen (nama dan register)
Apakah ada alat-alat atau masalah lain yang
harus diselesaikan
Untuk tim bedah (ahli bedah, ahli anestesi, dan
perawat)
Apa pertimbangan khusus pada masa pemulihan
dan manajemen pasien?

Antisipasi kejadian kritis:


Untuk ahli bedah
Apakah ada antisipasi terhadap kejadian tidak diharapkan selama
operasi, seperti kehilangan darah?
Untuk ahli anestesi
Apakah ada perhatian khusus terhadap kondisi pasien yang spesifik?
(asma, penyakit yang memperberat jalannya operasi)
Untuk tim perawat
Apakah sudah steril (meliputi hasil indikator) telah dikonfirmasi?
Apakah ada masalah peralatan /beberapa kekhawatiran?
Apakah rontgen penting ditampilkan:
Ya
Tidak

Perawat Sirkuler

Ahli Anestesi

Perawat Sirkuler

(.)

(.)

(.)

Tim Bedah

Nama

TTD

Operator

Ahli Anestesi

Instrumen

Perawat sirkuler

Daftar Pustaka

HaynesAB,WeisherTG,BerryWR,LipsitsSR, Breizat A. Hadi S, Dellinger EP, Herbosa T, et al. A


Surgical Safety Checklist to Reduce Morbidity and Mortality in a Global Population. N Engl J Med
2009; 360:491-499.
World Health Organization. Forward Programme 2008-2009. WHO, Geneva, 2009.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Permenkes NOMOR 1691/MENKES/PER/VIII/2011
Makary MA, Sexton JB, Freischlag JA, et al. Patient safety in surgery. Ann Surg 2006;243(5):628-32
Weiser TG, Haynes AB, Dziekan G, Berry WR, Lipsitz SR, Gawande AA. Efect of A 19-Item Surgical
Safety Checklist During Urgent Operations in A Global Patient Population. Ann Surg. 2010 May;
251(5):976-80.
World Health Organization. World Alliance for Patient Safety ; Safe Surgery Saves Lives. First
Edition. WHO Press, Switzerland, 2008.
World Health Organization. WHO Guidelines for Safe Surgery 2009, WHO Press, Switzerland, 2009.
Suharjo JB, Cahyono B. Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktik Kedokteran (pp. 1396). Kanisius, Yogyakarta, 2008.

THANK YOU
For your kind attention