Anda di halaman 1dari 113

KAKAO

(Theobroma cacao)

KAKAO
(THEOBROMA CACAO
PENDAHULUAN
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah
L.)
satu komoditas perdagangan yang sangat

penting untuk meningkatkan pendapatan


negara, penghasilan pengusaha, dan petani.
Tanaman kakao di Indonesia saat ini sebagian
besar diusahakan oleh para petani dalam
bentuk perkebunan rakyat.
Tanaman kakao dapat berbunga dan berbuah
sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi
sumber pendapatan harian atau mingguan
bagi pekebun.

lanjutan

Dalam budidaya tanaman kakao memerlukan


naungan.
Indonesia yang terletak antara 6o LU 11o LS
merupakan daerah yang sesuai untuk
tanaman kakao.
Untuk pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan kesesuaian
lahannya.
Persiapan lahan dan naungan, perbaikan
tanaman, serta penggunaan tanaman yang
bernilai ekonomis sebagai penaung
merupakan hal yang penting yang perlu
diperhatikan dalam budidaya tanaman kakao.

Persyaratan tumbuh tanaman


A.kakao
Iklim

Garis lintang 10oLS -10o LU.


Tinggi tempat 0 600 m di atas permukaan
laut.
Curah hujan 1500 2500 mm/th.
Bulan kering (curah hujan < 60 mm/bulan),
kurang dari 3 bulan.
Suhu maksimum 30 32oC, minimum 18
21oC.
Tidak ada angin kencang terus menerus,
kecepatan angin maksimum 4 m/detik.

B. Tanah

Kemiringan tanah kurang dari 45%


Kedalaman tanah efektif lebih dari 150 cm.
Tekstur tanah terdiri atas 50% pasir, 10-20%
debu, 30-40% lempung atau lempung pasiran.
Sifat kimia tanah (terutama pada lapisan 0-30
cm):
- kadar bahan organik > 3,5% atau kadar C > 2%.
- Nisbah C/N 10 12.
- pH (H2O) 4,0 8,5, optimum 6,0 7,0.
- Kadar unsur hara minimum: N 0,28%, P 32 ppm,
K tertukar 0,50 me/100 g, Ca tertukar 5,3
me/100 g, Mg
tertukar 1 me/100 g.

C. Penilaian kelas lahan

Berdasarkan tolok ukur iklim dan lahan.


Penentuan kelas lahan didasarkan atas
faktor yang menentukan level yang paling
rendah.
Lahan untuk kakao disarankan dari kelas
S1 (sesuai), S2 (cukup sesuai) atau
minimal S3 (kurang sesuai atau marginal).
Makin rendah kelas lahan produktivitas
yang dapat diharapkan makin rendah atau
kebutuhan masukan (input) makin
banyak.

PERSIAPAN LAHAN
Pembukaan Lahan Selektif
Areal Kebun Kelapa
Pembersihan perlu, tanaman tidak produktif
selain kelapa, dan gulma dilakukan secara
manual dan atau kimiawi.
Kayu-kayu ditumpuk di pinggir kebun.
Kedua pekerjaan tsb sudah selesai 2 bulan
sebelum tanam naungan
Pembuatan jalan-jalan, jembatan beserta saluran
drainase.
Populasi tanaman kelapa dalam (tall) yang
optimum
a.

lanjutan

sebagai penaung kakao adalah 80.000 pohon/ha.


Ajir lubang tanam, jarak tanam kakao 4x2 m atau
3x3 m, jarak tanaman kakao ke kelapa miniumum
3 m. Larikan ajir diusahakan lurus ke semua arah.
Larikan satu dengan yang lain tegak lurus.
Pembuatan lubang tanam, ukuran lubang tgt
tekstur tanah, makin berat tanah ukuran lubang
makin besar. Ukuiran lubang biasanya 60x60x60
cm. Lubang dibuat 6 bulan sebelum tanam. Ke
dalam lubang dimasukkan pupuk hijau dan pupuk
kandang.
Tutup lubang tanam, minimum 3 bulan sebelum
tanam kakao. Di jaga agar batu-batu, padas dan
sisa-sisa akar tidak masuk ke dalam lubang
tanam.

Areal Kebun Aneka Tanaman

Pemberian tanda tanaman-tanaman yang


dipilih sebagai penaung tanaman kakao.
Dipilih jenis yang bernilai ekonomis, tajuknya
mudah diatur dan lebih baik meneruskan
cahaya difus, jarak antar tanaman
disesuaikan 6x6 m atau 8x8 m.
Memotong perdu dan semak tanaman yang
tidak dipilih.
Kayu diusahakan untuk ditumpuk di pinggir
kebun.
Membersihkan gulma secara manual atau
kimiawi.
Ajir lubang tanam kakao, pembuatan lubang,
isi lubang dan tutup luang.

b. Pembukaan Lahan Secara Total


Areal Hutan Sekunder Bekas Peladang
Berpindah

Dipilih areal hutan sekunder, dg kepemilikan jelas.


Pemotongan pohon perdu dan pembersihan gulma.
Pembersihan lahan, kayu-kayu ditumpuk di pinggir
kebun.
Pencetakan kebun secara hektaran.
Pembutan jalan, jembatan dan saluran darinase.
Pembuatan teras pd lahan yg memiliki kemiringan
lebih dari 15%.
Mengajir dan tanam tanaman penaung tetap.
Ajir lubang tanaman kakao, pembuatan lubang, isi
lubang, dan tutup lubang.
Selama persiapan lahan tsb areal kosong dpt ditanami
bbrp jenis tanaman semusim, misal keladi, ubi jalar,
jagung, kacang-kacangan.

Areal Semak Belukar

Pada prinsipnya sama dg persiapan lahan dan


hutan sekunder.
Sisa-sia semak dpt ditumpuk dlm barisan-barisan
di dalam kebun (model lorong = alley sistem).
Lebar lorong yg bersih dan tumpukan semak 1 m
dan jarak antar lorong 4 m.
Ajir penaung di dalam lorong, jarak antar ajir 4
m.
Tanam setek Gliricidia sebagai penaung.
Ajir lubang tanam kakao di dlm lorong, jarak 2 m.
Pembuatan lubang tanam ukuran 60x60x60 cm..
Lubang dibuat 6 bulan sebelum tanam.
Lubang diisi pupuk hijau dan hasil tebasan gulma.

lanjutan

Tutup lubang tanam, 3 bulan sebelum tanam


bibit kakao.
Selama persiapan lahan tsb di dlm lorog dpt
diusahakan beberapa jenis tanaman semusim.

Alang-alang (Imperata cylinfrica)

Daun & batang alang-alang yg telah


direbahkan akan kering & mati tanpa
merangsang pertumbuhan tunas & rimpang,
dan dpt berfungsi sebagai mulsa.
Perebahan dpt menggunakan papan, potongan
kayu atau drum.
Setelah alang-alang terkendali, lahan siap
untuk usaha tani kakao dg tahap-tahap seperti
diraikan di atas.

Cara Mekanis

Dilakukan dengan pengolahan tanah.


Penebasan dapat mengurangi persaingan
alang-alang denga tanaman pokok, tetapi
hanya bersifat sementara dan harus
sering diulangi minimum sebulan sekali.
Setelah alang-alang terkendali, lahan siap
untuk usahatani kakao dengan tahapan
seperti telah diuraikan di atas.

Cara Kultur Teknis

Penggunaan tanaman penutup tanah leguminosa


(PTL). Jenis-jenis PTL yg sesuai meliputi:
C.pubescens, P.javanica, P.triloba, C.mucunoides,
Mucuna spp. & S.guyanensis.
Semprot alang-alang dg herbisida dg model
lorang, lebar lorong 2 m, jarak antar lorong 4 m.
Apabila alang-alang sudah kering, buat 2 alur
tanam sedalam 5 cm, jarak antar alur 70 cm.
Gunakan PTL sesuai rekomendasi untuk daerah
setempat, kebutuhan benih 2 kg.
Benih dicampur pupuk SP36 sebanyak 24 kg/ha
kemudian ditaburkan di dalam alur.
Tutup alur dengan tanah setebal 1 cm.
Alang-alang akan mati setelah tertutup oleh tajuk
PTL.
Metode ini lebih tepat untuk areal yang sudah
ada tanaman pokoknya.

Pengendalian Secara Terpadu ( Pengolahan


Tanah Minimum dan Penggunaan Herbisida)

Semprot alang-alang yang sedang tumbuh


aktif dengan herbisida sistemik.
Rebahkan alang-alang yang sudah mati dan
kering.
Tanam tanaman semusim dengan cara tugal
sebagai pre-cropping.
Bersamaan dengan itu lahan siap ditanami
tanaman penaung dan tanaman kakao dengan
tahap-tahap seperti telah diuraikan di atas.

Pencegahan Erosi
Dilakukan pada tanah yang kemiringannya lebih dari 15%.
Teras
Ada beberapa macam teras di antaranya adalah
teras bangku, teras gulud dan teras individu.
Fungsi teras bangku untuk memperpendek panjang
lereng, memperlambat laju aliran permukaan,
meningkatkan laju infiltrasi air ke tanah,
mempermudah
pengolahan tanah.
Teras bangku diperuntukkan tanah yg dilengkapi
saluran pembuangan air dan dibuat memotong
lereng.
Teras gulud sesuai untuk tanah yg jeluknya
dangkal dan
kemiringannya kurang dari 15%.

lanjutan

Teras individu adalah perataan tanah di


sekitar pokok tanaman. Biasanya garis
tengahnya 1 1,5 m.
Teras individu dpt dibuat bersamaan dg
pembuatan lubang tanam.
Pembuatan teras bangku dimulai dg
penentuan garis kontur. Garis kontur
dapat ditentukan dg alat Teodolit,
Clinometer atau ondol-ondol.

Rorak

Dibuat setelah bibit ditanam di kebun,


diutamakan pada lahan yang miring.
Dibuat sejajar garis kontur, ukuran p x l x
d = 100 x 30 x 30 cm.
Antara rorak yang satu dengan yang lain
dibuat zig-zag.
Ke dalam rorak diisikan bahan organik.
Bila sudah penuh rorak ditutup tanah dan
rorak baru dibuat.

PERSIAPAN POHON
Gliricidia
sp.
PELINDUNG

Setek Gliricidia sp. Panjang 150 cm dan


diameter 5 cm.
Jarak tanam pada lahan datar ;
tipe iklim A-B 6 x 6 m atau 8 x 4 m
tipe iklim C-D 3 x 3 m atau 4 x 4 m.
Setek tidak boleh disimpan lebih dari satu
hari. Penanaman dilaklukan satu tahun
sebelum tanam bibit kakao dan dilakukan
pada awal musim hujan.
Setek yang mati segera disulam.

Kelapa (Cocos nucifera)

Dapat digunakan kelapa dalam (tall) atau


hibrida.
Ditanam 4 5 tahun sebelum tanam
kakao, jarak tanam 10 x 10 m atau 10 x 12
m.
Sebagai penaung sementara dapat
digunakan tanaman pisang, lamtoro,
Gliricidia, dadap, dll.

Pinang (Areca catechu)

Sama dengan kelapa, pinang ditanam 45 tahun sebelum kakao.Jarak tanam


pinang 3 x 6 m atau 4 x 4 m. Pinang
monoku;tur lazimnya 2,7 x 2,7 m.
Banyak jenis tanaman yang cocok
ditanam secara tumpangsari dg pinang
antara lain kakao. Cassivera, lada, sirih,
cengkeh, pisang, nanas, ubi, ubi kayu,
dan jahe.
Agar berproduksi tinggi tanaman
pinang perlu dipupuk Urea 200 kg,
SP36 120 kg dan KCl 200kg masingmasing per hektar per tahun.

Pisang (Musa sp.)

Bibit berasal dari anakan berdaun pedang


(tinggi 75 cm) atau yg lebih besar (umur
5-8 bulan), atau yg lebih kecil. Yang
terpenting adalah keseragaman ukuran
bibit karena berpengaruh terhadap
keseragaman pertumbuhan dan waktu
panen. Bibit asal kultur jaringan
menghasilkan pertumbuhan yang
seragam dan waktu panrn yg serentak.
Bibit ditanam satu tahun sebelum tanam
kakao.
Jarak tanam 3 x 6 m atau 4 x 8 m
tergantung pada jarak tanam kakao.

Tumpangsari (intercropping)

Merupakan upaya optimalisasi pemanfaatan


sumber daya alam untuk menjamin
kelangsungan pendapatan pekebun.
Dilakukan dengan pengusahaan tanaman
semusim sebagai precropping dan
penggunaan tanaman penaung produktif.
Tanaman penaung produktif di antaranya
adalah kelapa, pinang, turi, pisang dan petai.
Dengan pengaturan pola tanam yang baik,
jenis-jenis tanaman buah durian, rambutan,
mangga, nangka dll. Dapat dipakai sebagai
penaung kakao.

Tanaman Semusim dengan Kakao

Ditanam selama persiapan lahan dan


selama kakao TBM I dan TBM II atau
selama iklim mikro masih memungkinkan.
Jenisnya disesuaikan dg kebutuhan
petani, peluang pasar, nilai ekonomi dan
iklim mikro yg ada.
Beberapa contoh yang pernah dikaji
antara lain talas, jagung, sorghum, dan
jenis kacang-kacangan.
Limbah tanaman semusim dikembalikan
ke kebun untuk pupuk hijau atau mulsa
kakao.

Pisang dengan Kakao

Tanaman pisang berperan sebagai penaung


sementara kakao.
Sebagai penaung tetap digunakan Gliricidia
sp. atau lamtoro.
Ditanam satu tahun sebelum kakao,
dibongkar setelah kakao memasuki TM I
(umur 4 tahun).
Pengaturan jumlah anakan, pangkasan daun
kering, pemupukan, pengendalian penyakit
dan pembubunan merupakan perlakuan yg
penting.
Batang dan daun pisang digunakan sebagai
mulsa kakao.

Kelapa dengan Kakao

Populasi tanaman kelapa dalam (tall) 80


100 pohon/ha atau dengan jarak tanam 10
x 120 m atau 10 x 12m.
Jarak tanaman pokok kakao dengan
kelapa lebih dari 3 m.
Dalam beberapa kasus pendapatan
pekebun sangat ditingkatkan apabila hasil
kelapa diolah menjadi gula merah.

Pinang dengan Lada atau Sirih dan


Kakao
Batang pinang berperan sebagai tiang panjat

Batang pinang berperan sebagai tiang panjat


lada atau sirih.
Setek lada atau sirih sepanjang 45 cm. ditanam
pd jarak 30- 35 cm dari pokok batang pinang,
setelah tumbuhan dirambatkan di batang pinang.
Lubang tanam sirih atau lada dibuat ukuran 50 x
50 x 50 cm, diisi pupuk kandang dan ditutup
tanah lapis olah.
Kakao ditanam dg jarak tanam 3 x 3 m atau 4 x 2
m dan pinang 3 x 6 m atau 4 x 4 m.
Pada jarak tanam pinang 4 x 4 m dan kakao juga
4 x 4 m sistem perakaran tanaman dewasa
keduanya belum bersentuhan.
Upaya meningkatkan kesuburan tanah dg
pembuatan lubang tanam dan pemberian pupuk
kandang merupakan dua hal yg penting.

BAHAN TANAMAN

KLON ICS 13
KLON ICS 60
GC 7
HIBRIDA
UIT 1
Pa 300
RCC 70
RCC 71

* RCC 72
* RCC 73

PERBANYAKAN GENERATIF

Benih diperoleh dari produsen yang sudah


mendapat SK Menteri Pertanian. Sampai
dengan tahun 1997 d Indonesia ada 15
produsen benih, tetapi beberapa dicabut
sementara ijinnya, karena terserang hama
penggerek buah kakao (PBK).
Benih yang sudah diterima harus segera
dikecambahkan.
Perhitungan benih per 1 ha sbb.:

Bibit yang harus disiapkan :


Jarak tanam 3 x 3 m
= 1.111 pohon
Persediaan sulaman 20% = 222 pohon
Jumlah = 1.333 pohon atau 1300 pohon
(dibulatkan)
b. Jarak tanam 4 x 2 m = 1250 pohon
Persediaan sulaman 20%
= 250pohon
Jumlah
= 1500 pohon.
a.

Kebutuhan Benih per 1 ha

Daya kecambah = 90%


Jumlah kecambah yang dapat dipindah =
95%
Jumlah bibit yang dapat ditanam = 80%
Jadi kebutuhan benih = 100/90 x 100/95
x 100/80 x Y = 1,46 Y
Y = jumlah bibit kakao yang dibutuhkan.
Untuk jarak tanam 3 x 3 m = 1,46 x 1300
butir = 1`.898 butir.
Untuk jarak tanam 4 x 2 m = 1.46 x 1500
butir = 2.190 butir.

PERKECAMBAHA BENIH

Benih yg diterima segera dikecambahkan


sebab benih kakao tidak mempunyai
masa dormansi.
Pendederan selama 12 hari.
Setelah berlangsung 4 hari, benih yg
sudah berkecambah mulai dipindah ke
kantong plastik. Pemindahan selanjutnya
dilakukan setiap hari.
Kriteria benih yg dapat dipindah adalah
panjang radikula 1-2 cm dan umur
kurang dari 12 hari.

Medium karung goni

Lapisan medium dari bawah ke atas adalah tanah,


batu merah satu lapis, karung goni rangkap, karung
goni tipis untuk munutup benih kakao.
Bedengan dibuat membujur utara selatan, diberi
atap dan daun kelapa atau daun tebu, tinggi atap
sebelah timur 1,5 m, barat 1,2 m.
Karung goni dicelupkan ke dalam larutan fungisida,
misal Dithine M-45 0,2%.
Benih dihamparkan di atas karung, jarak antar
benih 2 x 3 cm, sehingga untuk karung goni ukuran
100 x 72 cm memuat 1200 benih.
Benih ditutp karung goni tipis yg telah dicelup
dalam fungisida, kemudian disiram air setiap hari.

Medium Pasir dalam Bedengan

Lapisan medium dari bawah ke atas adalah


tanah, batu kerikil tebal 10 cm, lapiosan pasir
halus 20 cm.
Bedengan mebujur utara selatan, diberi atap
dari daun kelapa atau daun tebu, tinggi atap
sebelah timur 1,5 m, barat 1,2 m.
Benih dikecambahkan dalam medium pasir,
bagian calon akar menghadap ke bawah, jarak
antar benih 2,5 x 4 cm atau sekitar 1000
benih/m2. Selanjutnya benih ditutup dengan
potongan rumput kering atau karung goni dan
disiram setiap hari.

PEMBIBITAN
Syarat Lokasi
Dekat sumber air dan mudah diawasi.
Tempatnya datar, tetapi drainase
baik.
Terlindung dari angin kencang dan
penyinaran matahari langsung.
Terlindung dari hewan hama.
Dekat lokasi penanaman.

Persiapan Bahan

Medium pembibitan t.a. tanah lapis olah, pasir dan


pupuk kandang.
Medium diayak, ukuran ayakan 0.5 x 0.5 cm,
kemudian medium dicampur rata dengan
perbandingan (v/v) 1 : 1 : 1.
Kantong plastik (polibag) transparan atau hitam,
ukuran 20 x 30 cm, tebal 0,08 mm, diberi lubang
drainase sebanyak 18 lubang/kantong, diameter
lubang 1 cm.
Bedengan pembibitan dibuat di bawah naungan
alami dari tanaman lamtoro, Gliricidia sp., kelapa
dll., dan naungan buatan (atap yg dibuat dari daun
kelapa atau daun tebu. Tinggi atap bedengan
sebelah timur 1,5 m, barat 1,2 m. Atap bedengan
juga dapat untuk massal, tinggi atap sekitar 2 m.
Intensitas cahaya matahari yg diteruskan atap 30 50% dari penyinaran langsung.

Penanaman Kecambah

Kantong plastik diatur di bawah


atap, jarak antar kantong 15 x 15 cm
atau
15 x 30 cm.
Pindah kecambah umur 4 12 hari,
panjang radikula 1 2 cm. Kecambah
umur lebih dari 12 hari tidak dipakai.
Penanaman kecambah, tanah kiri
kanan hipokotil ditekan dengan
tangan agar kecambah tidak goyah.

Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan tiap hari atau sesuai kondisi


cuaca.
Pemupuikan dilakukan tiap 2 minggu dg Urea 2
g/bibit. Pupuk ditebarkan dalam alur di sekeliling
bibit, ditutup tanah dan disiram.
Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan
secara manual atau kimiawi. Hama yg sering
menyerang bibit adalah ulat kilan (Hyposidra talaka),
belalang dan bekicat. Penyakit yg sering menyerang
Phytophthora palmivora dan Fusarium sp.
Pembukaan atap, dilakukan bertahap seiring dg umur
bibit. Dua minggu sebelum dipindah ke kebun,
naungan buatan telah dibongkar.
Penjarangan dilakukan apabila daun antar bibit
terlalu saling menaungi dan pertumbuhan tanaman
tidak seragam.

Kriteria Bibit Siap Dipindah ke


Kebun

Umur 3 5 bulan.
Tinggi 40 60 cm.
Jumlah daun minimum 12 lembar.
Diameter batang 0,7 1 cm.

PERBANYAKAN VEGETATIF
OKULASI
Dilakukan pada bibit umur 3 bulan.
Entres diambil dari kon-klon unggul, misalnya
ICS 60, TSH 858, UIT 1, ICS 13, dan Gc 7.
Entres berupa cabang-cabang plagiotrop yg
sehat tidak bertunas (flush), warna hijau
kecoklatan, diameter 1 cm.
Letak tempelan (pertautan) di bagian hipokotil.
Jendela okulasi dibuat dg cara menoreh kulit
vertikal sejajar sepanjang 3 cm, jarak antar
torehan 0,8 cm. Di ujung bawah torehan
dipotong horizontal sehingga terbentuk lidah
kecil.

lanjutan

Pengikatan dari bawah ke atas dg susunan seperti


genteng.
Tali pengikat dibuka dan diamati umur 2-3
minggu.
Pada okulasi jadi, batang bawah dilengkungkan
untuk memacu pertumbuhan tunas baru.
Pada okulasi yg gagal, diulang pada sisi yg
berlawanan.
Batang bawah dipotong 5 cm di atas pertautan
setelah tunas baru memiliki 6 lembar daun
dewasa.
Pemupukan setiap 2 minggu dg urea 2 g/bibt.
Bibit siap dipindah ke lapangan setelah berumur
8-9 bulan dg ciri-ciri diameter batang 0,7 cm,
tinggi 50 cm dan jumlah daun 12 lembar.

Sambung Pucuk

Dilakukan pada bibit umur 3 bulan.


Entres diambil dari klon-klon unggul , misalnya ICS 60,
TSH 858, UIT 1, ICS 13, dan GC 7.
Entres berupa cabang batang plgiotropyg sehat tidak
bertunas (flush), warna hijau kecoklatan, diameter 1 cm.
Batang bawah dipotong datar, disisakan 3 lembar daun.
Untuk satu sambungan diambil 3 mata tunas entres.
Pangkal entres disayat miring pd kedua sisi shg runcing
spt baji.
Entres disisipkan pd ujung batang bawah yg dibelah,
pertautan diikat tali dan entres ditutup kantong plastik.
Diamati setelah 10-15 hari.
Pd sambungan jadi tunas dibiarkan tumbuh sepanjang 2
cm, kemudian tutup entres deibuka tanpa melepas tali
ikatan pertautan. Tali ikatan pertautan dibuka setelah
tunas baru berumur 3 bulan.
Bibit siap ditanam di lapangan setelah berumur 7 bulan.

Setek

Kakao termasuk tanaman yg sukar disetek, shg metode


perbanyakan ini kurang berkembang.
Sebetulnya tanaman asal setek cepat berbunga dan
berbuah dan habitusnya pendek.
Pohon untuk sumber setek harus jelas identitasnya, sehat
dan tumbuh kuat.
Bahan setek berupa cabang plagiotrop semi hardwood dg
tanda permukaan bawah cabang berwarna hijau,
permukaan atas berwarna cokelat, cabang tidak bertunas
(flush).
Cabang-cabang diambil pagi jam 9.00, dikumpulkan dalam
bak plastik berisi air, pangkal setek tercelup ke air,
Daun setek dikurangi tinggal 1/3 bagian, setiap setek
mempunyai 5 ruas dan membawa 2-3 helai daun.
Sementara itu disiapkan bak setek, lebar 1 m dan panjang
sesuai kebutuhan. Medium perbanyakan berupa pasir
halus.

lanjutan

Medium penyetekan terlebih dahulu disterilkan dg fumigan, misal


Vapam 2%, dosis 5 l per 1 m 3 medium. Setelah disiram medium
ditutup lembaran plastik selama 3 hari. Selanjutnya plastik
dibuka dan medium diaduk-aduk, disiram air dan diratakan.
Sementara itu disiapkan zat pengatur tumbuh, misalnya IBA 3000
ppm dalam pelarut ethanol 50%.
Pangkal setek disayat miring, dicelupkan dalam IBA selama 10
detik, kemudian langsung ditanam. Jarak tanam 3x5 cm, Setek
ditanam agak miring ke barat sehingga permukaan daun
menghadap ke timur.
Setelah disiram dg sprayer, setek disungkup dg lembaran plastik
transparan selama 3 minggu.
Pemeliharaan selama itu adalah penyiraman dg sprayer dg tanpa
membuka plastiknya.
Setelah 3 minggu setek mulai berakar, setek yg sudah berakar
dipindah ke kantong plastik yg berisi medium pembibitan.
Selanjutnya kantong plastik utk seemntara disungkup dg plastik
sama dg proses pengakaran selama 3 bulan. Selama kurun tsb
sungkup secara bertahap dibuka untuk aklimatisasi.
Bibit asal setek dipelihara selama 6 bln di pembibitan, caranya
sama dg bibit asal benih.

PENANAMAN

Bibit kakao ditanam apabila pohon penaung telah


berfungsi baik, dg kriteria intensitas cahaya yg
diteruskan penaung 30-50% dari cahaya langsung.
Penanaman pd awal musim hujan.
Untuk penanaman masal, jumlah tenaga kerja yg harus
disiapkan oleh pengawas mendasarkan pd luas areal,
prestasi kerja dan waktu tersedia.
Contoh: Luas areal 100 ha = 110.000 bibit, prestasi kerja
per orang 50 bibit, waktu tersediaq utk tanaman 25 hari,
maka tenaga yg diperlukan per hari = 110.000/(50x25) =
88 orang.
Alat yg harus disiapkan adalah cangkul, pisau besar yg
tajam, keranjang (alast angkut) utk mengangkut dan
mengecer bibit.
Pada waktu mengangkut, mengecer dan menanam bibit
dihindari pecah dan rusaknya tanah dalam kntong plastik.

lanjutan

Bagian dasar kantong plastik selebar 1-2 cm dipotong.


Kantong plastik dimasukkan ke dalam lubang yg digali
sukuran volume tanah dalam kntong plastik, isikan tanah
hingga kantong plastik berdiri tegak.
Salah satu sisi kantong plastik di sayat dari bawah ke
atas, tanah dipadatkan dg tangan.
Kantong plastik ditarik ke atas kemudian tanah
dipadatkan dg kaki.
Pada wakltu memadatkan tanah dg kakidiwaktu
menanam dihindari pecahnya tanah kantong plastik.
Bibit yg sudah diangkut dan diecer harus selesai ditanam
hari itu juga.
Bibit yg mati atau kerdilsegera disulam, dilakukan
sampai umur 1 tahun.
Piringan bibit kakao muda harus bersih dari gulma
antara lain dengan mrmbrikan mulsa.

Kelapa

Pengelolaan tanaman kelapa dg melakukan siwingan (cincingan)


pelepah, apabila penaungannya terlalu berat terutama pada
musim hujan.
Tingkat penaungan yg baik utk kakao adalah apabila 70-80%
intnsitas cahaya malahan diteruskan oleh tajuk pohon penaung.
Apabila tanaman kelapa sudah sangat tinggi (berumur lebih 40
tahun) maka per;u penambahan penaung, misalnya lamtoro.
Pemupukan tanaman belum menghasilkan menggunakan urea
100 g, TSP 200 g, MSP 420 g, kieserit 210 g, dan boron 10 g
masing-masing per pohon per tahun utk kelapa hibrida.
Selanjutnya utk kelapa dg dosis pupuk setengahnya.
Pemupukan tanaman menghasilkan urea 100 g, rock fosfat v750
g, MOP 1000 g, kieserit 400 g, masing-masing per pohon poere
tahun.
Pengendalian hama dan penyakit. Hama penting adalah Brontispa
sp. dan Sexava sp. Dikendalikan dg penyebaran parasit, sedang
Oryctes sp. dg cendawan Metanozium sp. dan virus Boculovirus
oryctes. Penyakit penting adalah busuk jamur, becak daun
bleeding.

Pinang

Untuk memperoleh hasil yg tinggi, tanaman


pinang perlu dipupuk dg N 100 g, P2O5 40 g
dan K2O 140 g , masing-masing per hektar per
tahun. Pupuk diberikan dua kali setahun,
dibenamkan ke dalam tanah pada alur 75 cm
dari batang.
Perbaikan parit-parit drainase terutama pd
musim hujansebab tanaman ini tidak toleran
genangan.
Pengolahan tanah ringan menjelang musim
kemarau di bagian piringan tanaman. Karena
perakaran terkonsentrasi pd kedalaman 0 50
cm, pengolahan yg dalam perlu dihindarkan.
Pengendalian hama dan penyakit.

Jadwal pangkasan pelindung


Uraian

TBM I

TBM II

1. Penaung Tetap
- Gliricidia &
Lamtoro
topping 50%

- Kelapa
siwing
- Pinang

TBM II

TM I

TM II

topping 50%

topping 50%

topping 50%

siwing

siwing

siwing

2. Penaung Sementara
- Pisang
mengatur jumlah anakan dan pangkas daun-daun
kering
- M. macrophylla
bongkar 50%

pangkas

pangkas

bongkar 50%

PEMELIHARAAN TANAMAN
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Penyulaman
Penyiangan gulma
Pemangkasan
Pemupukan
Penyiraman
Penyerbukan buatan
Rehabilitasi tanaman dewasa
Pengendalian hama dan penyakit

Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman
Untuk menjaga agar jarak tanam yang ditentukan dapat
tetap dipertahankan maka tindakan penyulaman perlu
dilakukan.
Penyulaman dapat dilakukan sampai dengan umur 10 tahun.
b. Penyiangan gulma
Tujuan penyiangan gulma utk mencegah persaingan dalam
penyerapan air, dan unsur hara, utk mencegah hama dan
penyakit serta gulma yg merambat pada tanaman kakao.
Pengendalian gulma dilakukan dg membabat tumbuhan
pengganggu ekitar 50 cm dari pangkal batang atau dengan
herbisida sebanyak 1,5-2,0 l/ha yg dicampur dg 500-600
liter air. Penyiangan yg paling aman adalah dg cara
membabat gulma. Pemberantasan gulma harus dilakukan
rutin minimal satu bulan sekali, yaitu dg menggunakan
cangkul,koret/ dicabut dg tangan.
a.

c. Pemangkasan
Tanaman Asal Perbanyakan Generatif
Pangkas bentuk dilakukan pd tanaman belum
menghasilkan (TBM). Tujuannya utk membentuk
kerangka tanaman yg kuat dan seimbang. Cabang-cabang
primer dr jorket dipelihara tiga yg tumbuh kuat dan
seimbang. Cabang-cabang sekunder diatur yg tumbuhnya
seimbang ke segala arah.
Pangkasan pemeliharaan dan produksi, dilakukan pd
tanaman menghasilkan (TM). Tujuannya utk
mempertahankan kerangka yg sudah terbentuk. Cabang
yg dipangkas cabang sakit, cabang balik, cabang
terlindung atau cabang yg melindungi, cabang yg masuk
jauh ke dalam tajuk tanaman di sebelahnya. Frekuenai
pangkasan 6-8 kali per tahun. Tunas air dibuang 2-4
minggu sekali.
Pangkasan pemendekan tajuk. Tujuannya membatasi
tinggi tajuk tanaman, maksimum 3,5 4 meter. Dilakukan
setahun sekali pd awal musim hujan.

lanjuttan

Alat pangkas berupa gunting, arit bergalah


(antel) dan gergaji harus tajam. Luka
potongan cabang bergaris tengah lebih dari
2-5 cm ditutup ter atau penutup luka
lainnya.
Pangkasan tidak dibenarkan pada saat
tanaman berbunga lebat atau ketika
sebagian besar buah masih pentil (panjang
kurang dari 10 cm).
Pangkasan pemeliharaan bertujuan
membuat indeks luas daun (ILD) dalam
kondisi optimum yaitu 3,7 s.d. 5.7.

Tanaman Asal Perbanyakan Vegetatif

Bahan tanaman dari tunas plagiotrop


menghasilkan percabangan dekat permukaan
tanah.
Pangkasan bentuk dilakukan setelah tanamam
rimbun biasanya setelah berumur 1 tahun.
Pangkasan bentuk dilakukan dg memilih semua
cabang besar yg kuat, arah pertumbuhannya
membentuk huruf V.
Pangkasan selanjutnya dg mengatur cabangcabang sekunder, diusahakan arah
pertumbuhannya merata, seimbang dan tidak
saling menutup.
Pangkasan pemeliharaan selanjutnya sama dengan
tanaman asal perbanyakan generatif.

d. Pemupukan

Jenis dan dosis yg tepat mendasarkan pd faktor tanaman


dan faktor lingkungan.
Jenis pupuk yg lazim adalah Urea (46 N), ZA (21% N), TSP
(46% P2O5), KCl (60% K2O), Kieserit (27% MgO), dan
Dolomit (19% MgO).
Dosis tentatif utk tanaman kakao yg penaungnya baik,
hujannya cukup, sifat fisika dan kimianya baik adalah
sebagai berikut:
Umur/fase
Satuan
Urea
TSP
KCl
Kis
Bibit
g/bibit
5
5
4
4
0 1 th
g/ph/th
25
25
20
20
1 2 th
id
45
45
35
40
2 3 th
id
90
90
70
60
3 4 th
id
180
180
135
75
> 4 th
id
220
180
170
120

lanjutan

Untuk tanah yg kekurangan unsur belerang (S),


Urea dpt diganti dg ZA dg dosis 2,2 kali dosis Urea,
atau KCl diganti dg ZK dg dosis 1,2 kali dosis KCl.
Pada tanah masam dan kadar Ca rendah pupuk
Kieserit dpt diganti dg Dolomit dg dosis 1,5 kali
dosis Kieserit.
Gejala Pemupukan
(untuk tanaman dewasa)
* ukuran daun normal
Urea 220 g/ph/th
* bentuk daun normal
SP 36 280 g/ph/th
* warna daun hijau, tanpa KCl 170 g/ph/th
klorosis maupun nekrosis
Kieserit 120 g/ph/th

e. Penyiraman
Pemberian air pd tanaman kakao perlu dilakuakan
kalau tanamasn memang membutuhkan. Penyiranaman
tanaman kakao yg tumbuh dg kondisiu tanah yg baik
dan berpohon pelindung tidak perlu banyak
memerlukan air. Air yang berlebihan menyebabkan
kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman
pohohn kakao dilakukan pd tanaman muda terutama
tanamn yg tidak diberi pohon pelindung.
f. Penyerbukan Buatan
Dari bunga yg muncul hanya 5% yg akan menjadi
buah. Peningkatan persentase pembuahan dapat
dilakukan dg penyerbukan buatan. Bagian bunga yg
mekasr digosok dg bunga jantan yg telah dipetik
sebelumnya, kemudian bunga ditutup dg sungkup.
Penggosokan dilakukan dg jari tangan.

g. Rehabilitasi Tanaman Dewasa

Tanaman dewasa yg produktivitasnya mulai menurun


tidak ditebang untuk diganti tanaman baru, tetapi
direhabilitasi dg cara okulasi tanaman dewasa dan
sambung samping tanaman dewasa.
Cara yg kedua lebih unggul karena peremajaanm dapat
dilakukan dalam waktu yg lebih singkat, murah dan lebih
cepat berproduksi. Entres diambil dari kebun entres atau
produksi yg telah diseleksi, berupa cabang yg berwarna
hijau, hijau kecoklatan, diameter 0,75-1,5 cm dan panjang
40-50 cm. Sambungan dapat dibuka setelah 3-4 minggu.

h. Pengendalian hama dan penyakit


(1) Hama
(a) Penggerek cabang (Zeuzera coffeae)
Bagian yg diserang cabang berdiameter 3-5 cm. Gejala:
cabang mati atau mudah patah. Pengendalian: membuang
cabang yg terserang, kemudian dg predator alami, jamur
Beauveria bassiana.

(b) Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.)


Bagian yg diserang buah dan daun muda, kuncup bunga.
Gejala: bercak kakaso kehitaman berbentuk cekung
berukuran 3-4 mm.
Pengendalian: membuang bagian yg terserang. Predator
belalang sembah, kepik predator. Selain itu digunakan
insektisida Baytroid 50 EC, Lannat 25 WP, Sumithion 50
EC, Leboycid 50 EC, Orthene 75 SP.
(c) Penggerek buah kakao (Canopomorpha cramerella atau
Cocoa mot)
Bagian yang diserang adalah buah kakao.
Gejala: daging buah busuk .
Pengendalian: membuang dan mengubur buah sisa panen
dg serempak menutupi buah dg kantong plastik dg lubang
di bagian bawah.
(d) Kutu Putih (Planococcus citri)
Bagian yang diserang adalah tunas, bvunga, dan calon
buah,

Gejala: Timbul tunas yg tumbuh tidak normal


(bengkok). Selain itu terlihat pertumbuhan bunga dan
calon buah tidak normal.
Pengendalian: digunakan insektisida berbahan aktif
monokrotofas, fosfamidon, karbaril.
(e)Ulat kantong ( Clania sp., Mahasena sp.)
Bagian yg diserang adalah daun dan tunas.
Gejala: Tanaman gundul dan adanya mati pucuk.
Pengendalian: dg parasit Exoresta uadreimaculata dan
Tricholyga psychidarum. Selain itu digunakan
insektisida racun perut, Dipterex dan Thuricide.
(f) Kutu jengkal (Hyposidra talaca)
Bagian yg diserang adalah daun (muda dan tua).
Gejala: habisnya helaian daun, tinggal tulang daun
saja.
Pengendalian: digunakan insektisida Ambush 2 EC,
Sherpa 5 EC (0,15 - %).

2. Penyakit
(a) Busuk buah hitam
Penyebab: Phytophtora palmivora. Bagian yg
diserang adalah buah.
Gejala: bercak kakao di titik pertemuan tangkai
buah dan buah atau ujung buah.
Gejala pada serangan berat adalah buah diliputi
miselium abu-abu keputihan.
Pengendalian: buah yg sakit diambil, mengurangi
kelembaban kebun dg cara pemangkasan. Selain
itu digunakan insektiosida dg pupuk aktif Cu:
Cuprapit 0,3% atau insektisida pupuk aktif
Mankozeb; Dithane M-45 dan Manzate 200 0,3%
dg interval 2minggu.

(b) Kanker batang


Penyebab: Phytophtora palmivora. Bagian yg
diserang adalah batang.
Gejala: Bercak basah berwarna tua pd kulit batang
atau cabang, keluarnya cairan dari batang atau
cabang yg akan mengering dan mengeras.
Pengendalian: Buah yg sakit diambil, mengurangi
lelembaban kebun dg cara pemangkasan. Selain itu
digunakan fungisida dg pupuk aktif Cu: Cuprapit
0,3% atau Cobox 0,3%. Atau fungisida pupuk aktif
Mankozeb; Dithane M-45 dan Manzatew 200 0,3% dg
interval 2 minggu. Keroklah bagian yg sakit dan
diolesi dg ter/fungisida.
(c) Busuk buah diplodia
Penyebab: Botrydiplodia theobramae (jamur). Bagian
yg diserang buah.
Gejala: bercak kecoklatan pd buah, lalu buah
menghitam menyeluruh.

Pengendalian: cegah timbulnya luka, buah yg sakit dibuang.


Kemudian gunakan fungisida dg pupuk aktif Cu: Vitigran
Blue, Trimiltox Forte, Cupravit OB pada konsentrasi 0,3%.
(d) Vascular Steak Dieback (VSD)
Penyebab: Oncobasidium sp. (jamur). Bagian yg diserang
adalah daun, ranting/cabang.
Gejala: bintik-bintik kecil hijau pd daun terinfeksi dan
terbentuk tiga bintik kecoklatan, kulit ranting/cabang kasar,
pucuk mati (dieback). Pengendalian: digunakan bibit bebas
VSD, perhetikan sanitasi tanaman, kurangi kelembaban,
tingkatkan intensitas cahaya matahari dan perbaiki
drainase dan pemupukan.
(e) Bercak daun, mati ranting dan busuk buah
Penyebab: Colletorichum sp. (jamur). Bagian yg diserang
daun, ranting, buah.
Gejala: bercak nekrotik pd daun, daun gugur, pucuk mati,
buah muda keriput kering (busuk kering).

Pengendalian: peningkatan sanitasi, memotong anting


dan buah yg terserang, pemupukan berimbang dan
perbaikan drainase. Ke mudian digunakan fungisida
sistemik Karbendazim 0,5% dg interval 10 hari.
(f) Buisuk buah monilia
Penyebab: Monilia roreri (jamur). Bagian yg diserang
buah muda.
Gejala: benjolan dan warna belang pd buah berukuran
8-10 cm, penumpukan lendir di dalam rongga buah,
dinding buah mengeras.
Pengendalian: menurunkan kelembabab udara dan
tanah, membuang buah rusak. Kemudian digunakan
fungisida dengan pupuk aktif Cu: Cobox 0,3%, Cupravit
0,3% selama 3-4 minggu.
(g) Penyakit akar
Penyebab: Rosellinia arcuata, R. bumnodes,
Rigidoporus liginosus, Ganoderma pseudoerrum, Fomes
lamaensis (jamur)

Gejala: Daun menguning dan layu, pada


leher akar atau pangkal batang terdapat
miselium.
Pengendalian: pembuatan parit isolasi di
sekitar tanaman terserang, pemusnahan
tanaman sakit. Kemudian dioleskan
fungisida pada permukaan akar yang
lapisan miseliumnya telah dibuang.
Fungisida dengan pupuk aktif PNCB:
Fomac 2, Ingro Pasta, Shell Collar
Protectant, Calixin Cp.

PENGELOLAAN POHON
Moghania macrophylla
PENAUNG
padaSEMENTARA
saat tanam bibit kakao.
I. Disiwing
PENAUNG

Dipotong pd jarak 10 cm dari permukaan tanah setelah


tanaman kakao berumur 2 tahun dan 3 tahun
Pemotongan setahun sekali pd musi hujan.
]Didongkel setelah tanaman kakao berumur 4 tahun.
Tanaman Pisang
Jumlah anakan dibatasi maksimum 2 anak per rumpun.
Anakan yg tidak dikehendaki dipotong, ditugal
tengahnya dan disiram minyak tanah 2-5 ml/anakan.
Daun-daun yg kering selalu dibersihkan sebulan sekali.
Pisang dipupuk Urea, TSP, KCl berturut-turut 300 g,
300 g, dan 400 g/rumpun/tahun.
Tanaman pisang dimusnahka apabiula tan kakao sudah
mulai berbuah yaitu setelah berumur 4 tahun.

II. PENAUNG TETAP


Lamtoro dan Gliricidia sp.

Lamtoro dan Gliricidia sp. Sebagai penaung tetap


kakao semula ditanam dg jarak 3x3 m atau 4x4 m.
Populasi dikurangi secara bertahap dan sistematis.
Pada saat kakao berumur 4 tahun populasi penaung
didongkel sebanyak 25% dan pada umur 5 tahun
didongkel lagi sebanyal 25%.
Populasi akhir dipertahankan sebanyak 500-600
pohon/ha pd daerah bertipe curah hujan C-D dan 200300 pohon/ha pd daerah bertipe curah hujan A-B
(Schmidt dan Fergusson).
Dari populasi akhir tsb sebanyak 50% populasi ditokok
pd awal musim hujan secara berselang seling, 50%
sisanya ditokok pada musim hujan tahun berikutnya.
Penokokan dilakukan pd jarak 1 m di atas tajuk kakao.
Setiap 3 bulan cabang-cabang dan ranting-ranting yg
bersifat mengganggu dibuang.

Kelapa

Pengelolaan tanaman kelapa dg melakukan siwingan (cincingan)


pelepah, apabila penaungannya terlalu berat terutama pada
musim hujan.
Tingkat penaungan yg baik utk kakao adalah apabila 70-80%
intnsitas cahaya malahan diteruskan oleh tajuk pohon penaung.
Apabila tanaman kelapa sudah sangat tinggi (berumur lebih 40
tahun) maka per;u penambahan penaung, misalnya lamtoro.
Pemupukan tanaman belum menghasilkan menggunakan urea
100 g, TSP 200 g, MSP 420 g, kieserit 210 g, dan boron 10 g
masing-masing per pohon per tahun utk kelapa hibrida.
Selanjutnya utk kelapa dg dosis pupuk setengahnya.
Pemupukan tanaman menghasilkan urea 100 g, rock fosfat v750
g, MOP 1000 g, kieserit 400 g, masing-masing per pohon poere
tahun.
Pengendalian hama dan penyakit. Hama penting adalah Brontispa
sp. dan Sexava sp. Dikendalikan dg penyebaran parasit, sedang
Oryctes sp. dg cendawan Metanozium sp. dan virus Boculovirus
oryctes. Penyakit penting adalah busuk jamur, becak daun
bleeding.

Pinang

Untuk memperoleh hasil yg tinggi, tanaman


pinang perlu dipupuk dg N 100 g, P2O5 40 g
dan K2O 140 g , masing-masing per hektar per
tahun. Pupuk diberikan dua kali setahun,
dibenamkan ke dalam tanah pada alur 75 cm
dari batang.
Perbaikan parit-parit drainase terutama pd
musim hujansebab tanaman ini tidak toleran
genangan.
Pengolahan tanah ringan menjelang musim
kemarau di bagian piringan tanaman. Karena
perakaran terkonsentrasi pd kedalaman 0 50
cm, pengolahan yg dalam perlu dihindarkan.
Pengendalian hama dan penyakit.

Jadwal pangkasan pelindung


Uraian

TBM I

TBM II

1. Penaung Tetap
- Gliricidia &
Lamtoro
topping 50%

- Kelapa
siwing
- Pinang

TBM II

TM I

TM II

topping 50%

topping 50%

topping 50%

siwing

siwing

siwing

2. Penaung Sementara
- Pisang
mengatur jumlah anakan dan pangkas daun-daun
kering
- M. macrophylla
bongkar 50%

pangkas

pangkas

bongkar 50%

PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
Buah kakao dapat dipanen apabila telah tampak
perubahan warna kulit dan setelah fase pembuahan
sampai menjadi buah dan matang usia 5 bulan. Cir
i-ciri buah akan dipanen adalah warna kuning pada
alur buah, dan punggung alur buah, warna kuning
pada seluruh permukaan buah, dan warna kuning tua
pada seluruh permukaan buah.
Kakao masak di pohon dicirikan dg perubahan warna
buah :
a) warna buah sebelum masak hijau, setelah masak
alur buah menjadi kuning.
b) warna buah sebelum masak merah tua, warna bua
setelah masak merah muda, jingga, kuning.

lanjutan

Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran


rendah) atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah
penyerbukan. Pemetikan buah dilakukan pada buah yg
tepat masak. Kadar gula kurang masak rendah sehingga
hasil fermentasi kurang baik, sebaliknya pada buah yg
terlalu masak, biji seringkali telah berkecambah , pulp
mengering dan aroma berkurang.
2. Cara penen
Untuk memanen kakao digunakan pisau tajam. Bila letak
buah tinggi, pisau disambung dg bambu. Cara
pemetikannya, jangan sampai melukai batang yg
ditumbuhi buah. Pemetikan kakao hendaknya hanya
dilakukan dg memotong tangkai buah tepat di
cabang/batang yg ditumbuhi buah. Hal tersebut agar
tidak menghalangi pembungaan pada periode berikutnya.
Pemetikan di bawah pengawasan mandor. Setiap mandor
mengawasi 20 orang per hari. Seorang pemetik dapat
memetik buah kakao sebanyak 1500 buah per hari. Buah
matang dengan

lanjutan

kepadatan cukup tinggi dipanen dg sistem 6/7 artinya


buah di areal tersebut dipetik 6 hari dalam 7 hari.
Jika kepadatan buah matang rendah, dipanen dengan
sisten 7/14.
Panen dilakukan 7-14 hari sekali. Selama panen
jangan melukai batag/cabang yg ditumbuhi buah
karena bunga tidak dapat tumbuh lagi di tempat
tersebut pada periode berbunga selanjutnya. Tanaman
kakao mencapai produksi maksimal pada umur 5-13
tahun. Produksi per hektar dalam satu tahun adalah
1.000 kg biji kakao kering.
3. Pasca Panen
Pemetikan Buah.
Buah kakao yg sudah nampak masak di pohon
selanjutnya dipetik dg menggunakan pisau atau
gunting tanaman yg tajam. Secara umum jumlah biji
dalam setiap buah kakao berkisar antara 20-60 biji,
tergantung pd besar kecilnya buah kakao yg
terbentuk. Di Sulawesi Selatan untuk mendapatkan 1
kg biji kakao kering (kadar air 8-7%) diperlukan
sekitar 25-35 buah kakao. Produksi tanaman kakao
sangat dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian lahan atau
kesuburan tanah dan

lanjutan

faktor lingkungan yg mendukung pertumbuhan dan


perkembangan tanaman kakao yg ditanam. Makin besar
tingkat kesesuaian lahan maka akan semakin besar pula
produktivitas tanaman yg dibudidayakan.
Untuk menentukan tingkat kematangan buah dapat dilihat
berdasarkan dari perubahan warna kulit buah kakao.
Apabila alur pada kulit buah kakao sudah berwarna
kuning, maka tingkat kematangannya adalah C, sedang jika
alur dan punggung buah kakao telah berubah warna
menjadi kuning, dimasukan dalam tingkatan kematanag B.
Apabila seluruh permukaan buah sudah berwarna kuning
atau kuning tua, maka tingkat kematangannya masuk pada
tingkat kematangan A dan A+. Petani secara umum atau
kebanyakan akan memanen buah kakao jika tingkat
kematangannya sekurang-kurangnya sudah pada tingkat
kematanagan B. Pemetikan bauh pada umumnya dilakukan
di pagi hari. Buah yg telah dipetik dari pohonnya
selanjutnya dikumpulkan pada suatu tempat dan
dikelompokan menurut kelas kematangan, selanjutnya

lanjutan

menunggu untuk dilakukan proses selanjutnya yaitu


pemecahan kulit buah. Kegiatan tersebut dikenal dg
pemeraman buah.
Pemecahan Buah
Buah kakao hasil panen yg sudah terkumpul selanjutnya
dipecahkan dg alat pemukul yg terbuat dari kayu. Buah
tersebut dipukul punggungnya dg arah miring. Bila kulit buah
kakao telah pecah atau terbagi dua, kulit bagian ujung dibuang
dan selanjutnya dilakukan penarikan biji plasentanya keluar
dari kulit buahnya. Biji yg telah dikeluarkan selanjutnya
ditempatkan pada tempat yg telah disediakan / ditempatkan di
atas lembaran plastik atau di dalam keranjang bambu. Biji
kakao yg masih basah ini secara umum sudah dapat dijual
langsung ke pasar, tetapi kalau penjualan ke pasar dalam
kondisi seperti ini dikenal dg penjualan biji basah atau istilah
lain sering dikatakan dg fermentasi tidak sempurna, sehingga
harga jualnya rendah. Utk mendapatkan biji kakao yg
berkualitas tinggi dan agar dapat diterima di pasar luar negeri/
eksport maka perlu dilakukan pengelolaan biji kakao secara
baik, yaitu :

lanjutan

Fermentasi
Fermentasi yg dilakukan pada biji kakao yg telah dikeluarkan
dari kulit buahnya dimaksudkan utk mematikan lembaga biji
agar tidak dapat tumuh serta utk menumbuhkan aroma yg khas
coklat. Fermentasi dilakukan di dalam suatu wadah/kotak kayu
dg tebal tumpukan biji kakao tidak boleh lebih dari 42 cm.
Fermentasi dilakukan secara sempurna kalau pelaksanaannya
selama waktu 5 hari dan pd hari kedua harus dilakukan
pengadukan/pembalikan. Selanjutnya biji yg telah diaduk-aduk
/dibalik ysb dibiarkan pd tempat fermentasi sampai pd hari ke5. Atau biji kakao basah diperam (difermentasi) selama 6 hari
di dalam kotak kayu tebal yg dilapisi aluminium dan bagian
bawahnya diberi lubang-lubang kecil dg cara sebagai berikut
a. Biji ditumpuk di dlm kotak dg tinggi tumpukan tidak lebih dr
75.
b. Tutup dg karung goni atau daun pisang.
c. Aduk biji secara periodik (1x24 jam) agar suhu naik sampai
50oC.

lanjutan

Selama proses fermentasi berlangsung, sebagian air yg


terkandung dalam biji akan berkurang dan aroma seperti asam
cuka akan keluar selama proses fermentasi. Biji yg sudah
selesai dalam p[roses fermentasi selanjutnya diangin-anginkan
sebentar atau direndam dan dicuci sebelum dilakukan
pengeringan.
Perendaman dan Pencucian
Setelah biji kakao selesai dalam proses fermentasi selanjutnya
dilakukan perendaman maupun pencucian walau ada pula yg
tidak melakukan perlakuan ini. Perendaman yg dilakukan pada
biji kakao yg telah mengalami proses permentasi mempunyai
pengaruh terhadap proses pengeringan dan rendemen. Karena
selama proses perendaman berlangsung, sebagian kulit biji
kakao akan terlarut sehingga kulit bijinya akan menjadi lebih
tipis dan rendemennya menjadi berkurang. Tetapi dalam
proses pengeringannya biji kakao menjadi lebih cepat kering.
Sesudah perendaman selesai dilakukan maka selanjutnya
dilakukan pencucian. Tujuan pencucian untuk mengurangi
sisa-sisa pulp yg masih menempel pada biji dan mengu-

lanjutan

rangi rasa asam pada biji. Bila kulit biji masih ada sisa-sisa
pulp, biji mudah menyerap air dari udara sehingga mudah
terserang jamur dan juga memperlambat proses pengeringan.
Pengeringan
Pengeringan pada biji kakao yg telah direndam dan dicuci
dimaksudkan untuk menurunkan kadar air biji dari sekitar
60% sampai pada kondisi dimana kandungan air dalam biji
minimum sehinggqa tidak dapat terjadi penurunan kualitas
biji, juga biji tidak mudah ditumbuhi oleh cendawan.
Pengeringan yg terbaik dilakukan dg menggunakan pengering
sinar matahari. Umumnya untuk mengeringkan biji kakao
untuk mencapai kadar air sekitar 7-8% diperlukan waktu
antara 2-3 hari, sangat tergantung pada kondisi cuaca saat
dilaklukan pngeringan. Jika cuaca tidak memungkinkan untuk
dilakuakn pengeringan dg menggunakan sinar matahari maka
pengerinan dapat dilakukan dg alat pengering buatan. Biji
kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokan
berdasarkan mutunya :

lanjutan

a. Mutui A: dalam 100 gram biji terdapat 90-100butir biji.


b. Mutu B: dalam100 gram biji terdapat 100-110 butir biji.
c. Mutu C: dalam 100 gram biji terdapat 110-120 butir biji.
Biji-biji kakao yang sudah kering dapat dimasukkan dalam
karung goni. Tiap goni diisi 60 kg biji kakao kering.
Kemudian karung yg berisi biji kakao kering tersebut
disimpan dalam gudang yg bersih, kering dan berventilasi
baik. Bii kakao tersebut sudah segera bisa dijual dan
diangkut dg menggunakan truk dan sebagainya.
Penyimpanan di gudang sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan,
dan setiap tiga bulan harus diperiksa untuk melihat ada
tidaknya jamur atau hama yg menyerang biji kakao. Untuk
menjaga agar produk yg disimpan tetap terjaga kualitasnya
maka perlu dilakukan pengemasan yaitu dengan :
a. Cara pengemasan: kakao dikemas dg karung goni baik,
bersih, bebas hama dan bau asing, dijahit rapat dan kuat dg
benang kapas atau atau tali goni dg berat bersih setiap
karung 62,5 kg atau 16 karung per ton atau cara lain bila
ada persetujuan antara pembeli dan penjual.

lanjutan

b. Pemberian merek: nama barang, jenis mutu,


identitas penjual, buatan Indonesia, berat bersih,
nomor karung, identitas pembeli,
pelabuhan/tempat/negara tujuan.
7. Kualitas Produk
Kualitas produk kakao perlu mendapat perhatian untuk
itu ada beberapa kriteria penentuan standar produksi
yg meliputi syarat mutu, pengambilan contoh, cara uji,
penandaan dan pengemasan. Standar mutu kakao di
Indonesia tercamtum di dalam Standar Nasional SNI
01-2323-1995.
Secara umum klasifikasi dan standar mutu untuk
produk kakao adalah sebagai berikut :
* Klasifikasi berdasarkan jenis tanaman :
a. Jenis mulia (Fine Cocoa/F)
b. Jenis lindak (Bulk Cocoa)

lanjutan

* Klasifikasi menurut jenis mutunya, biji klakao dapat


digolongkan:
a. Mutu I
b. Mutu II
Standar mutu lain adalah diklasifikasikan menurut berat bijinya
yg dinyatakan dalam jumlah biji/100 gram contoh biji kakao
diklasifikasikan dalam 5 golongan, yaitu AA, A, B, C, dan S.
Berbeda lagi apabila dilihat berdasarkan syarat mutu,
dinyatakan dalam 2 pernyataan, yaitu syarat umum dan syarat
khusus.
Syarat mutu umum adalah :
a. Kadar air maksimal 7%
b. Biji berbau asap dan atau abnormal dan atau berbau asin
tidak ada
c. Serangga hidup: tidak ada
d. Kadar biji pecah dan atau pecahan biji dan atau pecahan kulit
maksimal 3%.
e. Kadar benda-benda asing 0%.

lanjutan

Sedangkan rincian syarat mutu khusus dapat


dilihat pada Standar Nasional Indonesia No. 012323-1995 atau standar biji kakao berdasarkan
Asosiasi Kakao Indonesia (1990) seperti yg
disajikan pada tabael 1 di bawahh ini.
Tabel 1. Syarat khusus Kualitas Biji Kakao

8. Pengelolaan Limbah
Kulit kakao pada pertanaman kakao umumnya cukup
banyak dan hal ini merupakan salah satu jenis limbah pada
perkebunan kakao, kalau tidak ditangani secara baik-baik
maka makin hari akan semakin menumpuk dan akan
menimbulkan permasalahan di lingkungan tersebut.
Kulit kakao merupakan salah satu limbah pengolahan biji
kakao. Kulit trsebut umumnya dibuang begitu saja sebagai
sampah yg sering mengganggu masyarakat sekitar. Kalau
dicermati dg baik, sebenarnya limbah kulit kakao tersebut
masih mempunyai nilai yg cukup tinggi yaitu kalau diolah
dengan baik akan dapat menghasilkan pektin, dimana
sampai saat ini kita masih selalu mengimpornya.
Limbah dari perkebunan kakao masih ada lagi yg lain,
karena itu juga perlu mendapat perhatian dan pemanganan
yg serius agar tidak menimbulkan dampak yg merugikan
dan dapat menjaga kelestarian produktivitas perkebunan.