Anda di halaman 1dari 23

BIAS DALAM STUDI

EPIDEMIOLOGI
Oleh:
Hartini Sri Utami

Definisi
Bias adalah kesalahan sistematis dalam memilih subjek

penelitian atau mengumpulkan data yang menyebabkan


taksiran yang salah (incorrect estimates) tentang
hubungan antara paparan dan risiko mengalami penyakit,
atau efek intervensi terhadap variabel hasil.
Bterletak pada ketiadaan validitas internal, bukan validitas
eksternal
Bias OR * OR /OR

OR* merupakan taksiran OR yang teramati dari populasi

sumber (implikasinya, pada populasi studi), sedang OR


adalah odds ratio pada populasi sasaran. Jika OR*=OR,
maka bias=0 (yakni, tidak terdapat bias).

Sumber-Sumber Bias
1. Proses seleksi atau partisipasi subyek

( bias seleksi)
2. Proses pengumpulan data ( bias
informasi)
3. Tercampurnya efek pajanan utama
dengan efek faktor risiko eksternal
lainnya ( kerancuan/ confounding)

Klasifikasi Bias
Ada beberapa cara:
Sacket (1979) dan Choi (2000) berdasarkan
tahap riset: pemilihan sampel, pengukuran
paparan atau penyakit/ variabel hasil,
pelaksanaan studi, analisis data, interpretasi
hasil, maupun publikasi hasil studi.
Klasifikasi sederhana: bias seleksi dan bias
informasi

1. Bias Seleksi
Distorsi efek berkaitan dengan cara pemilihan subyek

kedalam populasi studi


Bisa terjadi bila status penyakit pada studi kohort
(retrospektif), atau status exposure pada kasus kontrol atau
kedua-duanya pada studi cross-seksional mempengaruhi
pemilihan subyek pada kelompok-kelompok yang
diperbandingkan
Terjadi karena: perbedaan tingkat surveilans (ascertainment
bias), diagnosis, hospitalisasi (bias Berkson), dan rujukan, di
antara subjek-subjek penelitian, dan perbedaan tersebut
berkaitan dengan status paparan
penolakan subjek penelitian (disebut non-reponden), baik
dari kelompok kasus ataupun kelompok kontrol dalam studi
kasus kontrol, sehingga disebut bias non-respons

Bias Informasi
Kesalahan dalam mengukur paparan, penyakit,

atau variabel hasil, dan derajat kesalahan


tersebut berbeda secara sistematis antara
kelompok-kelompok studi
Terjadi karena: penggunaan alat ukur yang cacat;
kuesioner atau prosedur wawancara yang tidak
mengukur apa yang seharusnya diukur; prosedur
diagnostik penyakit yang tidak akurat (untuk
menentukan status penyakit); perbedaan akurasi
dalam mengingat kembali riwayat paparan (recall
bias

Akibat Bias
Deviasi taksiran parameter hubungan paparan dan risiko
penyakit (misal OR) atau efek intervensi dari nilai-nilai
parameter tersebut yg sebenarnya.
Terdapat 3 penyimpangan taksiran parameter:
Bias menuju nol, menunjukkan taksiran hubungan antara
paparan dan penyakit atau efek intervensi yang teramati
yang lebih rendah daripada sesungguhnya
(underestimate), sehingga disebut juga bias negatif
Bias menjauhi nol, hubungan antara paparan dan penyakit
atau efek intervensi yang teramati yang lebih tinggi
daripada sesungguhnya (overerestimate), sehingga
disebut juga bias positif
Bias melintasi nol, paparan yang sesungguhnya protektif
bagi terjadinya penyakit disimpulkan sebagai faktor risiko,
atau sebaliknya

Agar Hasil Studi Dapat Ditafsirkan Dg Benar


Menilai dg kirtis kemungkinan bias
Mengenal arah bias
Mengkuantifikasi besarnya bias
Mengidentifikasi penyebab (sumber) bias
Mencegah atau mengantisipasi bias

Pencegahan bias lebih mudah dilakukan daripada


mengatasi bias yang sudah terjadi.
Intinya bias bisa dihindari dengan cara merancang
desain studi seteliti mungkin dan melakukan studi
dengan hati-hati

Jenis Jenis Bias

Bias Seleksi
1. Bias akses pelayanan kesehatan

Jika pasien-pasien yang mengunjungi fasilitas pelayanan


kesehatan tidak merepresentasikan kasus-kasus yang
sesungguhnya terdapat pada komunitas
Jenisnya:
. Bias popularitas
. Bias saringan rujukan (refferal filter bias)
. Bias akses diagnostik/ pengobatan (doagnostic/ treatment
access bias)
2. Bias Berkson
Ketika terdapat perbedaan probabilitas untuk memasukkan
ke rumah sakit (hospitalisasi) antara kasus dan kontrol, dan
perbedaan itu dipengaruhi oleh status paparan

3. Bias Neyman
. Terjadi karena terdapat keterlambatan pengamatan terhadap

subjek penelitian, sehingga peneliti gagal mengamati kasuskasus berdurasi pendek, baik kasus-kasus dengan episode
fatal (mematikan), kasus-kasus ringan (mild case), kasuskasus dengan gejala dan tanda tidak jelas (silent case),
ataupun kasus-kasus yang telah sembuh
. Sering pd studi potong lintang dan kasus kontrol
4. Bias Spektrum
. Terjadi ketika peneliti hanya memasukkan ke dalam
penelitian kasus-kasus yang menunjukkan tanda dan gejala
klinis yang jelas saja, sehingga tidak merepresentasikan
spektrum keseluruhan dari penyakit, atau hanya
memasukkan kontrol yang jelas saja, sehingga tidak
merepresentasikan kondisi-kondisi pembanding
. Penggunaan tes diagnostik dengan sensitivitas dan
spesifisitas tinggi

5. Length-Bias
. Terjadi karena dipilihnya kasus-kasus penyakit

berdurasi panjang (yakni, kasus-kasus yang bertahan


hidup lebih lama) secara tidak proporsional, yakni
terlalu banyak kasus berdurasi panjang pada satu
kelompok tetapi terlalu sedikit pada kelompok lainnya
. Jika kelompok kasus menggunakan kasus-kasus
berdurasi panjang, maka akan diperoleh taksiran
yang lebih besar daripada sesungguhnya
(overestimate)
6. Bias Eksklusi
Terjadi ketika peneliti mengeksklusi kontrol dengan
kondisi (misalnya, komorbiditas) yang berkaitan dengan
paparan yang diteliti, tetapi tidak mengeksklusi kasus
dengan kondisi tersebut

7. Bias Inklusi

Terjadi pada studi kasus-kontrol berbasis rumah sakit,


ketika inklusi sebuah atau lebih kondisi pada kontrol
berhubungan dengan paparan yang ditelitii. Akibatnya,
frekuensi paparan lebih tinggi pada kelompok kontrol
daripada sesungguhnya, sehingga menghasilkan bias
menuju nol.
8. Pencocokan
. Sebuah metode untuk memilih kontrol dalam studi kasus
kontrol, atau memilih kelompok tak terpapar dalam studi
kohor, yang dapat dilakukan secara individual (individual
matching) atau kelompok (frequency matching)
. Berguna untuk mengontrol kerancuan (confounding)
. Pencocokan yang diterapkan pada studi kasus kontrol
justru dapat mengakibatkan bias

9. Bias Sitasi
. Terjadi ketika artikel-artikel yang sering dikutip memiliki

probabilitas yang lebih besar untuk terpilih ke dalam systematic


review atau meta-analisis daripada artikel yang jarang dikutip
. Artikel yang kerap dikutip biasanya merupakan artikel yang
menunjukkan temuan-temuan yang bermakna secara statistik
. Bias sitasi mengakibatkan taksiran yang menjauhi nilai nol
(overestimate)
10. Bias Bahasa
. Terjadi ketika hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan dalam
bahasa Inggris memiliki peluang lebih besar untuk dimasukkan
ke dalam systematic review atau meta-analisis) daripada
bahasa lainnya
. Seharusnya, systematic review dan meta-analisis memasukkan
semua hasil studi, baik yang ditulis dalam bahasa Inggris
maupun non-bahasa Inggris

11. Bias Publikasi


. Terjadi ketika editor jurnal atau penulis cenderung untuk

mempublikasikan artikel-artikel yang melaporkan temuan positif


(yakni, hasil penelitian yang menemukan hubungan atau pengaruh
yang secara statistik signifikan), dan tidak mempublikasikan temuantemuan yang secara statistik tidak signifikan
. Mengakibatkan distorsi menjauhi nilai nol tentang hubungan antara
paparan-penyakit atau efikasi suatu terapi.
. Faktor yg mempengaruhi: (1) kemaknaan statistik (temuan yang
bermakna secara statistik memiliki peluang lebih besar untuk
dipublikasikan daripada tidak bermakna), (2) ukuran sampel studi
(studi dengan sampel besar memiliki kemungkinan lebih besar untuk
dipublikasikan daripada sampel kecil), (3) pendanaan (sponsor
menyebabkan konflik kepentingan), (4) prestise (hasil riset menjadi
monumental yang akan mendongkrak reputasi peneliti seandainya
melaporkan hubungan yang signifikan), (5) jenis desain studi
(sejumlah penulis mengatakan, studi kohor cenderung menunjukkan
hasil yang lebih positif daripada studi eksperimental, dan (6) kualitas
studi

12. Loss to follow-up bias

Terjadi jika proporsi subjek yang hilang atau


mengundurkan diri dalam suatu studi longitudinal (studi
kohor atau studi eksperimental) cukup banyak, yakni
berkisar antara 30-40 persen, atau tidak sebanyak itu
tetapi hilangnya atau pengunduran diri subjek penelitian
berkaitan dengan status paparan, status penyakit, atau
keduanya
13. Bias non-respons
. Terjadi ketika pemilihan subjek penelitian menghasilkan
peserta studi (responden) yang berbeda dengan bukan
peserta (non-responden), sehingga populasi studi
(sampel) yang diamati berbeda dengan populasi sasaran
. Berkurangnya sampel akibat ketidaksediaan sejumlah
peserta untuk mengikuti studi pada awal rekrutmen

Bias Informasi
1. Bias Misklasifikasi
. Terjadi karena ketidaksempurnaan alat ukur di dalam

mendeteksi paparan, penyakit, atau variabel hasil


yang diteliti, ataupun kesalahan dalam pengukuran itu
sendiri yang bersifat sistematis (measurement error)
. Sensitivitas dan spesifisitas alat ukur yang tidak
sempurna
Ada 2 jenis:
Bias misklasifikasi non-diferensial
Bias misklasifikasi diferensial
2. Bias deteksi
Terjadi ketika terdapat perbedaan akurasi dalam
menentukan diagnosis atau memverifikasi kasus-kasus

3. Bias Pewawancara

Terjadi ketika terdapat perbedaan yang sistematis yang dilakukan


oleh pewawancara, baik secara sadar atau tidak, di dalam
mewawancarai, mengumpulkan, mencatat, atau menginterpretasi
informasi yang diperoleh dari subjek penelitian
4. Recall Bias
. Terjadi jika subjek-subjek dengan penyakit yang sedang diteliti
mengingat dan melaporkan tentang pengalaman terpapar
sebelumnya dengan lebih akurat dan lengkap daripada subjeksubjek tanpa penyakit yang diteliti, atau subjek-subjek yang telah
terpapar melaporkan terjadinya gejala-gejala penyakit dengan
lebih lengkap dan akurat daripada subjek-subjek yang tidak
terpapar
. Recall bias bisa terjadi pada studi kasus kontrol maupun studi
kohor rerospektif
. Recall bias jenis ini disebut juga family information bias
. Recall bias menyebabkan taksiran yang menjauhi nol, yakni
taksiran yang lebih besar daripada sesungguhnya (overestimate).

5. Bias Pelaporan
. Terjadi jika terdapat pengungkapan atau penutupan informasi

secara selektif tentang pengalaman riwayat paparan atau medik


sebelumnya, misalnya perilaku seks sebelumnya
Obsequiousness bias terjadi jika subjek penelitian bekerjasama
dengan peneliti dan memberikan jawaban-jawaban ke arah yang
dipandang sesuai dengan keinginan peneliti
Family aggregation bias terjadi bila adanya kasus di dalam sebuah
keluarga menyebabkan keluarga tersebut melaporkan riwayat
paparan dengan lebih lengkap
Underreporting bias terjadi ketika subjek penelitian menolak
menjawab dengan akurat atau lengkap pertanyaan-pertanyaan
yang sensitif
Mode for mean bias terjadi pada studi yang menggunakan
kuesioner untuk menghitung frekuensi/ kuantitas paparan, di mana
subjek penelitian cenderung memberikan jawaban tentang paparan
dengan frekuensinya paling banyak) daripada paparan dengan
frekuensi rata-rata

Bias Pada Studi Eksperimental


1. Bias Alokasi Intervensi
. Terjadi jika alokasi intervensi kepada subjek-subjek

yang diteliti dalam studi eksperimental tidak dilakukan


dengan cara random, sehingga dipengaruhi oleh
karakteristik subjek penelitian yang memiliki hubungan
dengan variabel hasil yang diteliti
. Bias ini dapat menyebabkan deviasi taksiran efek
intervensi menjauhi nilai nol (overestimate).
. Bias alokasi intervensi dapat dicegah dengan cara
mengalokasikan intervensi secara random

2. Bias Kontaminasi
. Terjadi ketika subjek-subjek penelitian di dalam kelompok

kontrol terkontaminasi oleh intervensi yang diberikan kepada


kelompok eksperimental
. Bias ini akan melemahkan efek intervensi yang sebenarnya,
menyebabkan deviasi taksiran efek intervensi menuju nol
. Bias kontaminasi sering terjadi pada studi intervensi
komunitas
. Mudah terjadi ketika intervensi yang diteliti merupakan
barang publik (public good)
3. Bias Kepatuhan
. Pada studi eksperimental yang membutuhkan kepatuhan
untuk menggunakan intervensi yang diberikan, maka derajat
kepatuhan pasien dalam menggunakan intervensi akan
mempengaruhi penilaian tentang efikasi intervensi.
. Ketidakpatuhan akan menyebabkan deviasi taksiran efek
intervensi menuju nol.

4. Loss to follow-up bias


. Dalam studi eksperimen random (randomized

controlled trial, RCT), alokasi subjek ke dalam


kelompok eksperimental atau kelompok kontrol
dilakukan dengan prosedur random.
. Tujuan randomisasi adalah untuk mencegah
kerancuan dan bias seleksi.
. Tetapi tidak jarang dalam perjalanan implementasi
intervensi terdapat peserta yang hilang.
. Jika hilangnya peserta cukup banyak, sekitar 30-40
persen, atau tidak banyak tetapi hilangnya peserta
berhubungan dengan variabel hasil yang diteliti, maka
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak
layak lagi untuk diperbandingkan