Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

SINUSITIS MAKSILARIS

Oleh: Rivanti Asmara Wijaya

Pembimbing :
Dr. Hj. Fitriah Shebubakar, Sp.
THT

Identita
s
Nama

Tn.A

Umur

51 tahun
Islam

Agama

Laki-laki

Jenis
Kelamin

ANAMNESIS

keluhan utama :
Keluar cairan dari hidung sebelah kanan sejak 3 bulan
SMRS

Riwayat penyakit sekarang:


Sejak 3 bulan terakhir, pasien mengeluh keluar cairan
rongga hidung kanan. Sekret berwarna kuning kehijauan ,
kental, dan bau. Sering terasa ada cairan yang turun dari
belakang hidung ke tenggorokan. Pasien juga mengeluh
sakit kepala seperti ditusuk- tusuk yang hilang timbul.
Nyeri dibawah mata kanan dan nyeri tekan pipi kanan juga
dirasakan.
Pendengaran
telinga
kanan
dirasakan
berkurang.
Demam
dan
batuk
disangkalnya.

Riwayat penyakit dahulu


Pasien mengaku belum pernah merasakan
keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga


Pasien menyangkal riwayat penyakit kencing
manis, penyakit jantung, tekanan darah
tinggi, asma di dalam keluarga.

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku sering mengkonsumsi obat
warung untuk menghlangkan sakit kepalanya.

Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 36.5 C
Pernafasan : 16 kali/menit
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Kepala : Normocephali, rambut hitam dengan
distribusi merata dan tidak
mudah dicabut.
Mata : Konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-, pupil
bulat isokor kanan dan kiri, refleks cahaya langsung +/
+, refleks cahaya tidak langsung +/+.
Hidung: status lokalis
Telinga: status lokalis
Mulut dan bibir: Tidak sianosis, mukosa tidak kering

Status Generalis
KGB
Submandibular : tidak teraba
Supraklavikular : tidak teraba
Retroaurikular : tidak teraba
Cervical
: tidak teraba
Paru
Inspeksi
: kedua hemithorax simetris dalam keadaan statis dan
dinamis, tidak ada retraksi sela iga.
Palpasi : Vocal fremitus kedua hemithorax sama kuat.
Perkusi : Sonor pada kedua hemithorax.
Auskultasi : suara nafas vesikuler pada kedua hemithorax, ronkhi (-),
wheezing(-).
Jantung
Inspeksi
: ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis sinistra.
Perkusi : tidak dilakukan.
Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-).
Abdomen
Inspeksi
: Datar
Auskultasi : Bising usus (+) 3 kali / menit.
Palpasi : supel, turgor kulit baik, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak
teraba membesar

Status Lokalis THT


Telinga

Kanan

Kiri

Bentuk telinga luar

Normal

Normal

Normotia, nyeri tarik (-),

Normotia, nyeri tarik (-), nyeri

nyeri tekan tragus (-), nyeri

tekan tragus (-), nyeri tekan

tekan mastoid (-)

mastoid (-)

Retroaurikular

Sikatriks(-), fistel (-)

Sikatriks(-), fistel (-)

Liang telinga

Lapang

Lapang

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Sekret

(-)

(-)

Serumen

(-)

(-)

Utuh, hiperemis (-), reflex

Utuh, hiperemis (-), reflex cahaya

cahaya jam 5, warna putih

jam 7, warna putih mengkilat

Daun telinga

Mukosa

Membran timpani

mengkilat

Rhinoskopi Anterior
Kanan

Kiri

Sekret (+), massa (-),hiperemis (+)

Sekret (-), massa (-), hiperemis (-)

Konka inferior

Hipertrofi (+), hiperemis (+)

Hipertrofi (-), hiperemis (-)

Konka media

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Konka superior

Sulit dinilai

Sulit dinilai

Pus (-), polip (-)

Pus (-), polip (-)

Lapang

Lapang

Hiperemis (+)

Hiperemis (-)

Sekret

(+)

(-)

Septum

Deviasi (-)

Deviasi (-)

Normal

Normal

Vestibulum

Meatus nasi media


Kavum nasi
Mukosa

Dasar hidung

Pemeriksaan Hidung dan wajah

Deformitas
Nyeri tekan wajah
Nyeri ketuk pipi
Krepitasi

Kanan

Kiri

Tidak ada

Tidak ada

Dahi (-), kelopak mata

Dahi (-), kelopak mata

bawah (+)

bawah (-)

Dahi (-), pipi (+), depan

Dahi (-), pipi (-), depan

telinga (-)

telinga (-)

(-)

(-)

TENGGOROKAN
Arkus faring

Simetris, massa (-)

Pilar anterior

Simetris

Uvula

Ukuran dan bentuk normal, letak lurus di

Dinding faring

tengah
Granula (-), cobble stone appearance(-)

Mukosa faring

Hiperemis (-), post nasal drip (-) , massa (-),


Pseudomembran (-), granul (-) , bercak-bercak

Tonsil
Gigi geligi
KGB regional
Palatum durum
Palatum mole

putih (-)
T1 T1, hiperemis -/-,kripta normal, detritus -/Lengkap, Caries gigi (-) , nyeri ketok (-)
KGB tidak teraba membesar
Simetris, massa (-)
Simetris, massa (-), bercak-bercak keputihan (-)

Pemeriksaan penunjang

Posisi PA menunjukkan air fluid level pada sinus


maxillaris

Resume
Laki-laki, 51 tahun datang dengan keluhan
hidung keluar cairan sejak 3 bulan SMRS
yang hilang timbul. Cairan kuning
kehijauan dan berbau. Nyeri kepala juga ia
rasakan sejak 3 bulan terakhir. Kadang
terasa ada cairan yang turun dari belakang
hidung ke tenggorokan. Pendengaran
telinga berkurang.
Pada status lokalis hidung didapatkan
konka inferior hiperemis +/- ,hipertrofi +/-,
mukosa hiperemis +/-, secret +/+. Foto
DIAGNOSA
KERJA
posisi PA kesan
sinusitis maksilaris kanan
Sinusitis maksilaris kronis dextra

PENATALAKSANAAN

Antrostomi ( drainase + spoeling sinus )


Odontektomi
Antibiotik
Analgetik
Tindakan operatif : FESS

RENCANA PEMERIKSAAN
LANJUTAN
Pemeriksaan CT-Scan kepala
PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad malam
Ad Sanasionam: dubia ad malam

ANATOMI SINUS MAKSILARIS

1.

Sinus maksilaris berbentuk pyramid

2.

Basis di medial yaitu dinding lateral cavum nasi

3.

Apeknya pada prosesus zygomaticus ossis maxillaris

4.

Atap sinus dibentuk oleh dasar orbita

5.

Dasar sinus merupakan prosesus alveolaris ossis maxillaries

6.

Dinding anteriornya memisahkan sinus dengan fasies

7.

Dinding posteriornya memisahkan dengan fossa pterigopalatina

FUNGSI SINUS PARANASALIS


I.
II.

III.
IV.

V.

VI.

Mengurangi berat cranium


Resonansi udara dan mempengaruhi kualitas
suara
Penahan suhu dan pengatur kondisi udara
Mempengaruhi
gaya
berat
pada
saat
mengunyah sehingga tekanan tidak langsung
mengenai orbita,
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
pada saat bersin atau membuang ingus,
Membantu
produksi
mukus
untuk
membersihkan partikel yang masuk bersama
udara inspirasi ke dalam sinus.

DEFINISI SINUSITIS

Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal


Sinusitis maksilaris adalah peradangan atau
inflamasi pada mukosa sinus maksilaris

Multi sinusitis : peradang beberapa


sinus
Hemi sinusitis: peradangan satu sisi
sinus
Pan sinusitis : peradangan semua
sinus

KLASIFIKASI
Berdasarkan
konsensus
pada
Internasional
Conference of Sinus Disease, sinusitis maksilaris dibagi
menjadi 2 yaitu :

Sinusitis
maksilaris
akut

Berlangsung selama 7 hari - 8 minggu


Episode serangan kurang dari 4 kali dalam
setahun
Membaik dengan pemberian terapi yang
optimal

Sinusitis
maksilaris
kronis

Berlangsung lebih dari 8 minggu


Episode serangan lebih dari 4 kali dalam
setahun
Tidak membaik dengan terapi sehingga
harus dibuang lewat pembedahan

ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI


Faktor Predisposisi :
Sinusitis maksilaris sering didapatkan pada pasien
yang disertai dengan ditemukannya kasus Odontogen,
Rhinitis alergi dan Rhinitis kronik

Etiologi :
Virus (Rhinovirus, Virus influenza dll.)
2.Bakteri (Pneumococcus, Streptococcus pneumoniae
dll.)
3.Jamur (Phaeohyphomycosis, Pseudallescheria dll.)
1.

PATOFISIOLOGI
Polusi,
Zat
kimia

DRAINA
SE
YANG
TIDAK
MEMAD
AI

HILANG
NYA
SILIA

SINUSITIS
MAKSILARI
S

Sumbatan
Mekanis
INFEKSI

Alergi,
Defisiens
i Imun

PERUBA
HAN
MUKOS
A

Pengobatan
yang tidak
memadai

GEJALA DAN TANDA


Sinusitis Maksilaris Akut

Sekret mukopurulen keluar dari hidung terkadang


berbau busuk.
Demam sampai menggigil, malaise, lesu serta nyeri.
Kurangnya sensitifitas dalam merasakan rasa dan bau.
Inspeksi di dapatkan pembengkakan di daerah muka
yaitu pipi dan kelopak mata bawah.
Palpasi dan perkusi akan terasa nyeri.
Rhinoskopi posterior didapatkan post nasal drip.
Transiluminasi akan tampak gambaran bulan sabit di
bawah rongga mata.

GEJALA DAN TANDA


Sinusitis Maksilaris Kronis

Pendengaran terganggu karena tersumbatnya tuba


eusthachius
Sekret berupa pus atau mukopus disertai bau
busuk, post nasal drip dan epistaksis.
Rasa tidak nyaman di tenggorokan

DIAGNOSIS
Anamnesa
Pilek yang sudah lama disertai sekret yang berbau busuk,
kurangnya sensitifitas dalam merasakan dan bau, sering
terasa ada lendir yang mengalir di tenggorokan (post nasal
drip)
Pemeriksaan Fisik
Rhinoskopi anterior, Rhinoskopi posterior dan Transiluminasi
Pemeriksaan Mikrobiologik Dan
Laboratorium
Pemeriksaan mikrobiologik dengan mengambil sekret dari
meatus medius atau meatus superior dan kultur sinus
Pemeriksaan Radiologi
Dengan Posisi waters namun akhir-akhir ini CT scan
merupakan gold standard diagnosis sinusitis
Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan gigi rahang atas yang mengalami gangren
pulpa, abses pada apeks gigi

DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari sinusitis maksilaris akut


adalah :
Rhinitis alergi
Infeksi gigi geraham atas
Benda asing dalam rongga hidung

Dignosis banding dari sinusitis maksilaris kronik


adalah :
Karsinoma sinus maksila
Benda asing dalam rongga hidung.

PENATALAKSANAAN
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.

Istirahat
Antibiotika
Dekongestan lokal (tetes hidung) atau sistemik
(oral)
Analgetika dan antipiretik
Antihistamin
Mukolitik
Tindakan operatif

PENCEGAHAN
A.

B.

C.

Pasien dengan rhinitis alergi harus segera diobati


karena edema mukosa dapat menyebabkan obstruksi
sinus.
Bila adenoid mengalami infeksi, meghilangkan itu
berarti eliminasi sarang infeksi dan dapat mengurangi
infeksi pada sinus.
Menjaga kebersihan gigi dan mulut.

KOMPLIKASI
Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata
setelah ditemukannya antibiotik.
Lokal : Ostomielitis tulang maksila, Mukokel, Piokel.
Orbita : Edema palpebra, Selulitis orbital.
Intrakranial : Meningitis akut, Epidural, Subdural abses,
Abses otak
Sistemik : Kelainan paru, Sepsis, Empyema.

PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari ketepatan serta
cepatnya penanganan yang diberikan. Semakin
cepat maka prognosis semakin baik. Pemberian
antibiotik serta obat-obat simptomatis bersama
dengan penanganan faktor penyebab dapat
memberikan prognosis yang baik.
Bedah
Sinus
Endoskopi
Fungsional
akan
mengembalikan fungsi sinus dan gejala akan
sembuh secara komplit atau moderat sekitar 8090% pada pasien dengan sinusitis kronis rekuren
atau sinusitis kronis yang tidak responsif terhadap
terapi medikamentosa

DAFTAR PUSTAKA

Mangunkusumo E, Rifki N. Sinusitis. Dalam: Supardi EA,


Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Ed 5.Jakarta: Balai
Penerbitan FKUI; 2009. p.120-4
Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In:
Adams GL, Boies LR,Higler PA, editors. Boies
Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed.Philadelphia, PA:
WB Saunders Company; 1989. p.173-90
Kennedy E. Chronic Sinusitis. November 28, 2005.
Available from:http://www.emedicine.com. Accessed June
14, 2015
Abdel Razek OA, Poe D. Chronic Sinusitis Medical
Treatment. June 7, 2004.Available from:
http://www.emedicine.com. Accessed June 14, 2015