Anda di halaman 1dari 25

FISTULA PERIANAL

Pendahuluan

Hampir semua
fistula ani, yang
biasanya disebut
fistel perianal atau
fistel pra-anal,
disebabkan oleh
perforasi atau
penyaluran abses
anorektum,
sehingga
kebanyakan fistel
mempunyai satu
muara di kripta
diperbatasan anus
dan rectum dan
lobang lain di
perineum di kulit
perianal.

Kadang fistel disebabkan oleh


colitis yang disertai proktitis

ANATOMI

ETIOLOGI
Hampir semua fistel anus, yang biasa disebut fistula perianal atau
fistula perforasi atau penyaliran abses anorektum, sehingga
kebanyakan fistula mempunyai satu muara di kripta di perbatasan
anus dan rectum dan lubang lain di perineum di kulit perianal.

kadang fistel disebabkan oleh TBC, amubiasis, morbus crohn,


diverticulitis dan kanker atau cedera anus maupun rectum.

cedera dibagian daerah luar anus karena garukan, cukur atau


infeksi akar rambut dll. Setelah cedera, infeksi ini menyebabkan
terbentuknya abses.

Biasanya abses secara spontan membuat sebuah trowongan


antara kulit luar dan anus. Kadang-kadang setelah itu saluran
atau bekas luka membekas menyebabkan gejala berulang.

Peradangan didaerah dubur tepatnya dari kelenjar anal


(kryptoglandular) di daerah linea dentate.

PATOFISIOLOGI
Hipotesis
kriptoglandular

Penyumbatan ini
juga dapat terjadi
setelah trauma,
pengeluaran feces
yang keras, atau
proses inflamasi.

Apabila kripta tidak


kembali membuka
ke kanalis anal,
maka akan
terbentuk abses di
dalam rongga
intersfingteric.

fistula in ano
merupakan absess
anorektal tahap
akhir yang telah
terdrainase dan
membentuk traktus.

Bersamaan dengan
penyumbatan itu,
terperangkap juga
feces dan bakteri
dalam kelenjar.

Abses lamakelamaan akan


menghasilkan jalan
keluar dengan
meninggalkan
fistula

Kanalis anal
mempunyai 6-14
kelenjar kecil yang
terproyeksi melalui
sfingter internal
dan mengalir
menuju kripta pada
linea dentate.

Kelenjar dapat
terinfeksi dan
menyebabkan
penyumbatan.

DIAGNOSIS

Dari anamnesis biasanya ada riwayat kambuhan abses


perianal dengan selang waktu diantaranya, disertai
pengeluaran nanah sedikit-sedikit.
Pada colok dubur umumnya fistel dapat diraba antara
telunjuk dianus (bukan di rectum) dan ibu jari dikulit
perineum sebagai tali setebal kira-kira 3mm (colok dubur
bidigital).
Jika fistel agak lurus dapat disonde sampai sonde keluar di
kripta asalnya.
Fistel perineum jarang menyebabkan gangguan sistemik,
fistel kronik yang lama sekali dapat mengalami
degenerasi maligna menjadi karsinoma planoseluler kulit.
Sering memberikan sejarah yang dapat diandalkan nyeri
sebelumnya, bengkak, dan spontan atau drainase bedah
direncanakan dari abses anorektal.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Fistulogra
fi

USG

MRI
CT Scan

Anal
Manometri
Barium
Enema

Hukum

Goodsall

Untuk membantu pemeriksa memperkirakan arah saluran


dan kemungkinan lokasi dari muara interna, dapat
digunakan Hukum Goodsall. Ketika pasien berada dalam
posisi litotomi : Jika muara eksterna terletak anterior dari
garis imajiner yang ditarik anterior dari kanalis ani, fistula
biasanya berjalan langsung menuju anal kanal. Jika muara
eksterna terletak sebelah posterior dari garis, fistula
biasanya membentuk lengkungan terhadap garis tengah
dari kanalis ani. Pengecualian untuk aturan ini bila muara
eksternal berjarak lebih dari tiga sentimeter dari pinggiran
anus. Gambaran yang terakhir ini hampir selalu berasal dari
traktus primer atau sekunder dari garis tengah posterior
yang konsisten dengan abses tapal kuda sebelumnya.

Penampang yang
menunjukkan Goodsall s rule

KLASIFIKASI

. Fistula intersfingterik
Fistula jenis ini diakibatkan
oleh abses perianal.
Traktus berjalan di dalam
ruang intersfingterik. Jenis
juga merupakan tipe yang
paling sering dengan kisaran
70% dari semua fistula in ano.
Pada fistula intersfingterik
juga dapat didapatkan sebuah
traktus buntu yang tinggi
dengan arah ke atas dari
ruang intersfingterik menuju
ruang supralevator.
Muara eksternalnya biasanya
pada kulit perianal yang dekat
dengan pinggiran anal.

Fistula Transsfingterik
Merupakan fistula kedua yang tersering,
mencakup 23% dari semua fistula yang
didapatkan.
Umumnya hasil dari abses ischiorektal.
Traktus fistula berjalan dari ruang
intersfingterik melewati sfingter
eksternal, menuju ke dalam fossa
ischiorektal, dan kemudian berakhir
pada kulit.
Ketinggian traktus melewati sfingter
eksternal agak bervariasi.
Fistula transsfingterik dapat melibatkan
hampir seluruh sfingter eksternal atau
hanya bagian superfisialnya saja.
Fistula jenis ini juga dapat mempunyai
traktus buntu yang tinggi dan dapat
mencapai apeks dari fossa ischiorectal
atau dapat memanjang melalui otot
levator ani dan ke dalam pelvis.

c. Fistula Suprasfingterik
Fistula jenis ini diakibatkan
oleh abses supralevator dan
mencakup 5% dari semua
jenis fistula.
Traktus berjalan di atas dari
puborektalis setelah naik
seperti abses intersfingterik.
Traktus kemudian berbelok ke
arah bawah lateral menuju
sfingter eksternal dalam ruang
ischioanal dan kulit perianal.
Traktus buntu dapat juga
timbul pada jenis ini dan
mengakibatkan pemanjangan
bentuk tapal kuda.

Fistel Ekstrasfingterik
Merupakan jenis yang paling jarang
dan hanya 2% dari semua fistula.
Pada jenis ini traktus terdapat di luar
dari kompleks sfingter.
Traktus berjalan dari rektum di atas
dari levator ani dan melewatinya
untuk menuju ke kulit perianal via
ruang ischioanal.
Fistul ini dapat terjadi akibat penetrasi
benda asing pada rectum disertai
drainase melalui levator, akibat
cedera penetrasi pada perineum,
akibat penyakit Crohn, atau kanker
serta penatalaksanaannya.
Akan tetapi, penyebab yang paling
sering mungkin akibat iatrogenik
sekunder setelah pemeriksaan yang
terlalu berlebih saat operasi fistula.

PENATALAKSANAAN

Fistulektomi
Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya
untuk menyembuhkan fistula. Terapi terbaik pada
fistula ani adalah membiarkannya terbuka.
Fistulotomi
Pada fistula sederhana, dengan membelah saluran
dan membersihkan dindingnya fistel dibuka dari
lubang asalnya sampai ke lubang kulit. Luka
dibiarkan terbuka sehingga penyembuhan mulai
dari dasar per sekundum intentionem. Luka
biasanya akan sembuh dalam waktu singkatan dan
penyembuhan total kemungkinan dapat tercapai.

SETON yaitu seutas benang atau karet


diikatkan melalui saluran fistula dan
ditinggalkan untuk beberapa bulan sehingga
terlepas sendiri. Cara lain yang susah ialah
dengan menutup lubang dalam fistula dengan
dinding usus (Advancement Flap).

Menyuntikkan perekat khusus (Fibrin glue)


kedalam saluran fistula dan telah di temukan
pula berupa jaringan khusus (Anal Fistula
Plug/AFP) yang juga dimasukkan kedalam
saluran fistula dan akan merangsang
pembentukan jaringan alamiah, AFP ini akan
diserap oleh tubuh

KOMPLIKASI

Komplikasi yang paling terlihat adalah


inkontinensia alvi dimana waktu buang air
besar, kotoran padat, cair dan gas tidak dapat
ditahan.
Kondisi ini dapat menetap atau dapat terjadi
beberapa waktu saja

PERAWATAN PASCA BEDAH

Hari pertama penderita sudah diperbolehkan


makan. Antibiotika dan analgetikdiberikan
selama 3 hari. Pelunak faeces dapat diberikan
pada penderita dengan riwayat konstipasi
sebelumnya. Tampon anus dibuka setelah
224 jam atau jika terdapatperdarahan dapat
dibuka sebelumnya. Rawat luka dilakukan
setiap hari. Setelah penderitamampu
mobilisasi, penderita diminta rendam duduk
2x sehari dengan larutanPermanganas
Kalikus selama 20 menit.

Follow upluka dilakukan tiap minggu hingga

PROGNOSIS

Fistel dapat kambuh bila lubang dalam tidak


turut dibuka atau dikeluarkan,cabang fistel
tidak turut dibuka, atau kulit sudah menutup
luka sebelum jaringangranulasi menempel
permukaan. Setelah fistulotomy standar,
tingkat kekambuhandilaporkan adalah 0-18%
dan tingkat dari setiap inkontinensia tinja
adalah 3-7%.Setelah menggunakan Seton,
melaporkan tingkat kekambuhan adalah 017% dantingkat dari setiap inkontinensia feses
adalah 0-17%. Setelah flap mukosakemajuan,
tingkat kekambuhan dilaporkan adalah 1-17%
dan tingkat dari setiapinkontinensia feses
adalah 6-8%