Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI

KASUS
Presentan : dr. Deasy Nurwianti
Narasumber : dr. A. Mekah Sp.PD

RS ISLAM SARI ASIH AR RAHMAH


TANGERANG
2013

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Alamat
No RM

:
:
:
:

Tn. I
67 tahun
Kp. Jati Baru, Benda
02.49.84

ANAMNESIS
KELUHAN (1/10/2013)

nyeri ulu hati sejak 4 hari, begah, tidak nafsu


makan, badan lemas, lesu. Batuk sejak 2 hari
dahak putih, batuk kadang-kadang. BAB dan
BAK biasa, demam (-), dada terasa panas.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat hipertensi -, riwayat kencing manis -,


riwayat maag -.

PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Frekuensi nadi : 112x/mnt
Suhu
: 36,5 C
Kepala
: normochepal
Jantung
: S1S2 irreguler, murmur Paru
: vesikuler, ronki+/+, wheezing-/Abdomen : supel, BU (+)N, H/L tak teraba ,

NTE+
Extremitas

: hangat

PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Hb
: 12,0
Leukosit
: 7200
Trombosit
: 149.000
Hematokrit : 35
GDS
: 106
Saran

: EKG

DIAGNOSIS
Dispepsia dd/ intake sulit
Aritmia
Susp. pneumonia

Pengobatan di IGD
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ranitidin 2x1
Inj. Ondansetron 3x1
Antasid syr 3x1 cth
Konsul dr. Sp.PD

FOLLOW UP

TANGGAL

KELUHAN

1/10/13
Sp.PD

Nyeri ulu hati, mual, batuk,


dada terasa panas

2/10/13
Sp.PD

Berdebar-debar, sesak nafas

2/10/13
Pk 19.35
Pk 19.50

Apnoe dilakukan bagging


+ RJP + obat resusitasi
(SA+epinefrin) respirasi (-)
dilakukan bagging + RJP
+ obat resusitasi
(SA+epinefrin) respirasi
(-)
dilakukan bagging + RJP
+ obat resusitasi
(SA+epinefrin) respirasi
(-)
Pupil midriasis maksimal +/
+, reflek cahaya -/-, EKG flat
Pasien dinyatakan
meninggal dihadapan
keluarga dan perawat RPU

PEMERIKSAAN
FISIK
Nyeri tekan
epigastrium +
TD: 110/70
EKG: atrial fibrilasi
Dx/
Dispepsia ec intake
sulit
Atrial fibrilasi
TD: 130/80
JVP: meningkat
Dx/
Atrial fibrilasi
CHF fc II ec HHD

TERAPI

KETERANGAN

Ascardia 2x1 tab


Cordaron 1amp bolus
drip 5 amp / 24
jam
Bisoprolol 1x1/2 tab
Inj. Fargoxin 2x1/2
amp

Cek
elektrolit

CPG 1x1 tab


Inj. Furosemid 3x1
amp
ISDN 2x1 tab

Natrium
Kalium
Chlorida

: 138
: 4,4
: 106

Atrial Fibrilasi
AF merupakan aritmia akibat impuls listrik

abnormal dalam jantung. Ketidak teraturan


irama bisa hilang timbul atau menetap.
Merupakan gangguan irama jantung yg
sangat umum. Kondisi ini memperngaruhi
sekitar 1% dari populasi, sebagian besar
berumur diatas 50 thn
Risiko AF meningkat seiring bertambahnya
umur
AF dapat menunjukkan gejala namun tidak
membahayakan jiwa

Elektrofisiologi
Jantung

SA node kedua

atrium kontraksi
atrium darah ke
ventrikel sinyal listrik
ke AV node Berkas
His bercabang di
serabut purkinje
aktivasi serabut
ventrikel memompa
darah keseluruh tubuh
pulse (denyut)

Pengaliran listrik yang teratur ini dari SA node ke AV

node menyebabkan kontraksi teratur dari otot jantung


yang dikenal dengan sebutan denyut sinus (sinus beat).

Atrial Fibrilasi

Elektropatofisiologi AF
beberapa signal listrik yang cepat dan kacau

"menyala" dari daerah-daerah yang berbeda


di atria, Signal-signal menyebabkan kontraksi
ventricle yang cepat dan tidak beraturan.

Etiologi
Penyebab-penyebab dari AF termasuk

serangan jantung, tekanan darah tinggi, gagal


jantung, prolaps katup mitral, tiroid yang aktif
berlebihan, emboli paru, konsumsi alkohol
berlebihan, emphysema, dan perikarditis

Pola AF
Intermitent (paroksismal): jantung menjadi AF

dan biasanya berubah secara spontan


menjadi irama sinus yg normal. Eps: bbrp
detik- bbrp hari
Persisten: AF terjadi dalam beberapa episode
tetapi aritmia tidak merubah irama secara
spontan perawatan medis dibutuhkan pada
akhir episode
Permanen: jantung selalu dalam keadaan AF.

Gejala
Ada yang tidak memiliki gejala
AF intermiten: palpitasi; sensasi denyut

jantung yg cepat dan tidak teratur, disertai


rasa berdebar.
Pusing atau pingsan
Lemah, kurang energi atau sesak napas dan
nyeri dada.
Kebingungan.

Pemeriksaan fisik
Tanda vital : denyut nadi cepat
Tekanan vena jugularis meningkat
Ronki pada paru menunjukkan kemungkinan terdapat

gagal jantung kongestif


Irama gallop S3 pada auskultasi jantung menunjukan
kemungkinan terdapat gagal jantung kongestif,
terdapat bising pada auskultasi kemungkinan adanya
penyakit katup jantung
Hepatomegali : kemungkinan terdapat gagal jantung
kanan
Edema perifer : kemungkinan terdapat gagal jantung
kongestif

Pemeriksaan
penunjang

Laboratorium : hematokrit, TSH (penyakit gondok), enzim

jantung bila dicurigai terdapat iskemia jantung.


Pemeriksaan EKG : dapat diketahui antara lain irama (verifikasi
AF), hipertrofi ventrikel kiri. Pre-eksitasi ventrikel kiri, sindroma
pre-eksitasi (sindroma WPW), identifikasi adanya iskemia.
Foto Rontgen Toraks : Gambaran emboli paru, pneumonia,
PPOK, kor pulmonal.
Ekokardiografi untuk melihat antara lain kelainan katup, ukuran
dari atrium dan ventrikel, hipertrofi ventrikel kiri, fungsi
ventrikel kiri, obstruksi outflow dan TEE ( Trans Esophago
Echocardiography ) untuk melihat trombus di atrium kiri.
Pemeriksaan Fungsi Tiroid. Tirotoksikosis. Pada AF episode
pertama bila laju irama ventrikel sulit dikontrol.
Uji latih : identifikasi iskemia jantung, menentukan adekuasi
dari kontrol laju irama jantung.
holter monitoring studi elektrofisiolagi.

Holter monitor
Dipakai selama 24-48

jam untuk
mendokumentasikan
aritmia ketika
beraktivitas

EKG pada AF

Atrial Fibrilasi AF)


Kriteria :
Irama : tidak teratur
Heart Rate : bervariasi, dapat dibagi
respon ventrikel cepat (HR > 100),,
respon ventrikel normal (HR 60 100),
respon ventrikel lambat (< 60)
Gelombang P : tidak dapat diidentifikasikan
Interval PR : tidak dapat dihitung
Gelombang QRS : 0,04-0,08 detik
QRS lebar, gambaran EKG-nya bisa
berupa :
Ventrikel Takikardi atau Atrial Fibrilasi
dengan aberan. Kedua gambarannya
sama dengan di atas (henti jantung), hanya
saja secara klinis pasien tampak sadar dan
nadi atau heart rate masih dapat diperiksa.

Tatalaksana

Obat antiaritmia
Amiodaron, sotalol, propafenone, flecainide.

Keseluruhan obat ini efektif 50-705


Digoxin; mengurangi konduktivitas impuls listrik
melalui SA node dan AV nodenamun onset kerja
lebih lambat dari b bloker dan ca antagonis
Beta blocker; mengeurangi kecepatan sinyal
dari SA node. Memperlambat konduksi di AV
node (propanolol, metoprolol)
Ca antagonis; memperlambat konduksi AV node
(verapamil, diltiazem)

Obat lain
Warfarin: untuk mengurangi risiko trombus

Anda mungkin juga menyukai