Anda di halaman 1dari 29

dispepsia

Febrika sonia putri


03011098
Trisakti

Latar belakang
Dispepsia merupakan keadaan klinik yang sering
dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari . Berdasarkan penelitian pada
populasi
umum di dapatkan 15-30% orang dewasa pernah
mengalami hal
ini dalam beberapa hari.

definisi
Dalam konsensus roma II tahun 2000 disepakati
bahwa definisi dispepsia sebagai berikut :
Dyspepsia refers to pain or discomfort centered in
the upper abdomen

Dispepsia menggambarkan keluhan atau


Kumpulan gejala yang terdiri dari: nyeri
atau
Rasa tidak nyaman di epigastrium,mual,
muntah,
kembung, cepat kenyang,rasa perut
penuh,dan
sendawa,
rasa
panas
di
daerah
epigastrium yang
menjalar ke dada

Lambung merupakan organ otot berongga yang


besar
Terdiri dari 3 bagian yaitu :
Kardia.
Fundus.
Antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari
kerongkongan
melalui otot berbentuk cincin (sfingter), yang
bisa membuka
dan menutup. Dalam keadaan normal, sfingter
menghalangi
masuknya kembali isi lambung ke dalam

Lambung berfungsi sebagai gudang makanan,


yang berkontraksi untuk mencampur makanan
dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi
lambung menghasilkan zat penting :
* Asam klorida (HCl)
klorida menciptakan suasana yang sangat
asam, yang diperlukan oleh pepsin guna
memecah protein. Keasaman lambung yang
tinggi juga berperan sebagai penghalang
terhadap infeksi dengan cara membunuh
berbagai bakteri.
* Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan
protein)

1. Sel Lendir sekret yang dihasilkan lendir berfungsi


melindungi dinding lambung dari pepsidan HCl.
2. Sel zymogen sekret yang dihasilkan pepsinogen
berfungsi dalam suasana asam (HCl) pepsinogen
menjadi pepsin.
3. Sel parietal sekret yang dihasilkan HCL, Vaktor,
Intrinsik Mengubah pepsinogen menjadi pepsin
berikatan dengan vitamin B12 sehingga vitamin B12
dapat diabsorpsi.
4. Sel endokrin sekret yang dihasilkan gastrin
meningkatkan sekresi getah lambung, memperkuat
kontraksi otot-otot lambung, merelaksasi sphincter
pylorus

etiologi dispepsia
-Akibat penyakit/gangguan dalam lumen
saluran cerna atas, seperti penyakit:
Tukak gaster (ulkus lambung)
Ulkus duodenum
Inflamasi : gastritis/duodenitis
Tumor gaster
-Penyakit2 hati, pankreas, dan bilier, spt:
hepatitis
pankreatitis, kolesistitis dll

-Penyakit sistemik, spt :

DM, GGK, hamil, PJK, CHF


-Ggn fungsional Non Organik (dispepsia
fungsional) = dispepsia non ulkus
- 30% dari kasus dispepsia
- tanpa kelainan/ggn organik/struktural

Dispepsia bisa disebabkan oleh gangguan patologis


organik
Atau bersifat fungsional . Dlam konsensus ROMA III
(tahun
2006) Khusus membicarakan tentang dispepsia
fungsional .
Dispepsia fungsional didefinisikan sebagai :
1.Satu atau lebih keluhan misalnya rasa penuh
setelah makan, cepat kenyang, nyeri ulu hati .
2.Tidak ada bukti kelainan struktural yang dapat
menerangkan penyebab keluhan tersebut
3.Keluhan ini terjadi selama 3 bulan dalam waktu 6
bulan terakhir sebelum diagnosis ditegakkan.

Dispepsia fungsional dibagi menjadi 3 kelompok


yaitu:
1.Dispepsia tipe seperti ulkus , dimana yang lebih
dominan adalah nyeri epigastrik
2.Dispepsia tipe seperti dismotilitas , dimana yang
lebih dominan adalah
kembung,mual,muntah,rasa penuh,cepat
kenyang
3.Dispepsia tipe non-spesifik , dimana tidak ada
keluhan yang dominan.

patofisiologi
1.Sekresi asam lambung dan keasaman duodenum
pasien dispepsia mempunyai hipersekresi asam
lambung dari ringan sampai sedang dan
meningkatnya sensitivitas terhadap asam, dan
menunjukkan buruknya relaksasi fundus terhadap
makanan.
2.Infeksi Helicobacter pylori
Prevalensi dan tingkat keparahan gejala dispepsia
ada hubungan dengan H pylori. Walaupun
penelitian epidemiologis menyimpulkan bahwa
belum ada alasan yang meyakinkan.

3.Perlambatan pengosongan lambung


Penelitian menunjukkan adanya perlambatan waktu pengosongan lambung dengan
perasaan perut penuh setelah makan, mual dan muntah
4.Gangguan akomodasi lambung
Gangguan dari akomodasi dan maldistribusi tersebut berkorelasi dengan cepat kenyang
dan penurunan berat badan.
5.Gangguan fase kontraktilitas saluran cerna
6.Hipersensitivitas lambung
7.Intoleransi lipid intra duodenal
Pasien dispepsia fungsional mengeluhkan intoleransi terhadap makanan berlemak dan
dapat di demonstrasikan hipersensitivitasnya terhadap disetensi lambung . Gejala pada
umumnya adalah mual dan perut kembung.
8.Faktor Psikososial
Korelasi dengan stress,dengan hidup,dan tipe kepribadian dalam kehidupan sehari-hari

9.Disfungsi otonom ggn Vagal (neuropati vagal)


gagal relaxasi proximal lambung saat makanan
masuk cepat kenyang/penuh.

DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis dispepsia, diperlukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium sederhana dan
pemeriksaan tambahan: seperti pemeriksaan radiologis dan
endoskopi. Pada anamnesis, ada tiga kelompok besar pola
dispepsia yang dikenal yaitu:
1.Dispepsia tipe seperti ulkus (gejalanya seperti terbakar, nyeri
di epigastrium terutama saat lapar/epigastric hunger pain yang
reda dengan pemberian makanan, antasida dan obat
antisekresi asam).
2. Dispepsia tipe dismotilitas (dengan gejala yang menonjol
yaitu mual, kembung dan anoreksia)
3.Dispepsia non spesifik

Gambaran alarm sign untuk dispepsia

Umur 45 tahun (onset baru)


Perdarahan dari rektal atau melena
Penurunan berat badan >10%
Anoreksia
Muntah yang persisten
Anemia atau perdarahan
Massa di abdomen atau limfadenopati
Disfagia yang progresif atau odinofagia
Riwayat keluarga keganasan saluran cerna bagian atas
Riwayat keganasan atau operasi saluran cerna sebelumnya
Riwayat ulkus peptikum

Kuning (Jaundice)

PENUNJANG DIAGNOSTIK
Pemeriksaan endoskopi mempunyai beberapa keuntungan.
Diantaranya untuk menegakkan diagnosis yang dapat
menunjukkan adanya kelainan atau abnormalitas seperti
esofagitis atau ulkus serta meningkatkan kepuasan pasien.
Temuan yang dapat ditemukan pada pemeriksaan
endoskopi
lambung antara lain :
Normal
Gastritis (akut atau kronis)
Ulkus gaster
Massa
Keganasan

PENATALAKSANAAN
NON MEDIKAMENTOSA
Hindari makanan/minum sbg pencetus,
makanan merangsang spt:
Pedas
Asam
tinggi lemak
mengandung gas
Kopi
alkohol dll

Bila muntah hebat, jgn makan dulu


Makan teratur, tidak berlebihan, porsi kecil tapi
sering
Hindari stress, olah raga

MEDIKA MENTOSA

ANTACIDA :
penetralisir faktor asam sesaat, pe nyeri
sesaat
Paling umum digunakan

Penyekat H2 reseptor: pesekresi asam


lambung
Telah umum juga dikonsumsi
Generik : cimetidin, ranitidin, famotidin

Penghambat pompa proton /


proton pump inhibitor (PPI)
menghambat produksi asam
lambung :
Paling efektif dalam menghambat
produksi asam lambung
omeprazol, lansoprazol, pantoprazol,
rabeprazol, esomeprazol

Antibiotik:
bila terbukti terlibatnya H.pylori (+)
Amoxicillin, claritromisin, tetrasiklin,
metronidazol, bismuth

Tranguilizer antianxietas,
antidepresan
Bila ada faktor psikik

Prokinetik (anti mual-muntah):


dimenhidrinat, metoklopramid,
domperidon, cisapride,
ondansetron
domperidon dan cisapride
mempunyai efektifitas yang baik
dalam mengurangi nyeri epigastrik ,
distensi abdomen dan mual.

PROGNOSIS
DISPEPSIA YANG DI TEGAKKAN SETELAH
PEMERIKSAAN KLINIS DAN PENUNJANG YANG
AKURAT , MEMPUNYAI PROGNOSIS YANG BAIK.

KESIMPULAN
Dispepsia merupakan kumpulan gejala berupa
rasa nyeri atau perasaan tidak nyaman pada
daerah epigastrium perut. dispepsia terbagi
menjadi 2 yaitu dispepsia organik dan dispepsia
fungsional , penegakan diagnosis dispepsia di
dasarkan pada keluhan atau simptom yang
dirasakan pasien berdasarkan anamnesis yang
baik dan pemeriksaan yang tepat.
Pilihan pengobatan dispepsia berdasarkan pada
keluhan yang dirasakan pasien sehingga terapi
medikamentosa dan non medika mentosa yang
diberikan dapat bermanfaat.

REFERENSI
- Kalantar, J. S., Talley, N. J. 2007. Towards a diagnosis of
functional dyspepsia.MedicineToday.
- Loyd, R. A., McClellan, D. A., 2011. Update on the Evaluation
and Management of Functional Dyspepsia. American Family
Physician, 548-552.
- Maramis, W.F ., 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.
Surabaya: Airlangga University Press.
- Mertz, H., 2003. Stress and the Gut. UNC Center for Functional
GI & Motility.
- Mudjaddid, E., 2009. Dispepsia Fungsional. In : Sudoyo,
AW., Setiyohadi, B,. Alwi,
- I., Simadibrata, M., Setiati, S., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid III. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2109- 2110.

Abdullah, M., Gunawan, J., 2012. Dispepsia.


Continuing Medical Education, 647-651.
Appendix A: Rome III Diagnostic criteria for
functional gastrointestinal
disorders.http://www.romecriteria.org/criteria/
Almatsier, S., 2004. Penuntun Diet. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Barikani, A., 2007. Stress in Medical Students.
Journal of Medical Education, 41-44.
Baron, J.H., Watson, F., Sonnenberg, A,. 2006.
Three centuries of stomach symptoms in Scotland.
Aliment Pharmacol Ther 24: 821829.

TERIMA
KASIH