Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


KJDK ( KEMATIAN JANIN DALAM
KANDUNGAN)
Oleh : Muhammad Harris

Pembimbing :dr.Fita Drisma, Sp.OG,. M.kes


dr.Arika Husnayanti, Sp.OG

DEFINISI
Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK) adalah kematian janin
dalam kehamilan sebelum terjadi proses persalinan, mulai
kehamilan 20 minggu atau berat badan lahir 500 gram keatas.

ETIOLOGI
Faktor

Preeklampsia dan eklampsia


Hipertensi esensial
Nefritis kronika
Diabetes mellitus

Faktor

Plasenta

Solutio plasenta atau perdarahan fetomaternal masif


Plasenta previa yang berat

Faktor

Ibu

Janin

Eritroblastosis fetalis
Post maturitas
Obstruksi pembuluh darah tali pusat
Sifilis
Kehamilan kembar
Kehamilan kongenital

FAKTOR RESIKO

Umur

Paritas
:Wanita yang telah melahirkan lebih dari 4
kali cenderung mengalami kasus lahir mati

Riwayat penyakit

: umur <20 tahun dan >35 tahun

Penyakit infeksi pada kehamilan

Penyakit dasar pada ibu yang berupa penyakit sistemik dan


metabolik (DM, penyakit jantung, anemia pada kehamilan,
hipertensi dalam kehamilan)

Riwayat kehamilan :Riwayat kehamilan terdahulu yang dialami


ibu juga mengalami resiko tinggi dalam terjadinya komplikasi
kehamilan

PATOFISIOLOGI
Kelangsungan hidup janin dalam uterus, dapat
berlangsung dengan adanya penyediaan zat asam
dan nutrisi, disamping bahan-bahan lain yang
berasal dari darah ibunya. Hal ini tergantung dari
beberapa faktor :

Adekuatnya perfusi plasenta dengan darah ibu


Adekuatnya fungsi plasenta
Sirkulasi janin melalui pembuluh darah umbilikus yang
berfungsi baik.

PATOLOGI ANATOMI
Sastrawinata mengklasifikasikan tingkatan perubahan pada janin
KJDK sebagai berikut :
Rigor Mortis (Kaku Mayat)
Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
Stadium Maserasi I
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, lepuh ini mula-mula terisi cairan
jernih tetapi kemudian menjadi merah. Berlangsung sampai 24
jam setelah janin mati.
Stadium Maserasi II
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah
cokelat, terjdi 48 jam setelah janin mati.
Stadium Maserasi III
Terjadi kira-kira 3 minggu setelah janin mati. Badan janin
sangat lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar dan
terdapat edema dibawah kulit.

DIAGNOSA

Anamnesa
- terhentinya gerakan janin
- pembesarab perut tidak bertambah
Pemeriksaan fisik
- Inspeksi : Tidak terlihatnya gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat
terlihat terutama pada ibu yang kurus.
Palpasi
:

Tinggi fundus uteri lebih rendah dari seharusnya tua kehamilan atau bahkan lebih kecil dari
sebelumnya
Pada perabaan dinding perut uterus dan janin tidak elastik (melembek)
Mammae mengalami perubahan retrogresi
Pada pemeriksaan dalam melalui fornik vagina atau kanalis servikalis dan kadang-kadang
melalui dinding perut, teraba kepala janin yang melembek atau teraba adanya krepitasi (egg
cracking sensation)

Auskultasi
: denyut jantung tidak terdengar menggunakan stetoskop
monoaural, juga dengan alat dapton.

o Amniosintesis : Bila dilakukan amniosintesis, terlihat cairan ketuban

berwarna merah sampai kecoklatan


o Pemeriksaan

lain untuk diagnosa :

Usg
Rontgen

abdomen

PENANGANAN KJDK

Penanganan ekspektatif :
Tunggu

persalian spontan hingga 2 minggu


Yakinkan bahwa 90% persalinan spontan akan terjadi tanpa komplikasi

Penanganan aktif (sebagai pilihan pasien, trombosit menurun atau


persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu)
Jika

servik matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin atau


prostaglandin.
Jika servik belum matang, lakukan pematangan servik dengan prostaglandin
atau kateter Foley. Penggunaan misoprostol yaitu dengan menempatkan
misoprostol 25 mcg di puncak vagina, dapat diulang sesudah 6 jam jika tidak
ada respon setelah pemberian 2 x 25 mcg, naikkan dosis menjadi 50 mcg setiap
6 jam (dosis tidak lebih dari 50 mcg setiap kali dan jangan melebihi 4 dosis).
Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir
Embriotomi yaitu suatu cara pembedahan dengan jalan melukai atau merusak
janin, memungkinkan janin dilahirkan pervaginam, syarat yang harus dipenuhi
ialah pembukaan lengkap, dan panggul yang tidak seberapa sempit sehingga
dapat dilalui oleh janin yang sudah menjadi kecil.3 Pengeluaran janin secara
spontan dapat terjadi pada keadaan janin yang kecil, lembek dan terlipat dua
dimana dikenal dengan istilah Konduplikasio korpore atau evolusio spontanea.

PENANGAN PEB PADA KJDK

Pengobatan PEB dengan Perawatan aktif, yaitu dengan pengobatan


medisinalis

a.

Infus larutan ringer laktat

b.

Pemberian MgSO4

Cara pemberian MgSO4 :


Pemberian melalui intravena secara kontinyu ( dengan
menggunakan infusion pump) :

1.

a.

Dosis awal :
4 gram (20cc MgSO4 20%) dilarutkan kedalam 100cc RL, diberikan selama
15-20 menit

b. Dosis pemeliharaan
10 gram (50cc MgSO4 20%) dalam 500cc cairan RL, diberikan dengan
kecepatan 1-2 gram/jam (20-30 tetes per menit)
2. Pemberian melalui intramuskular secara berkala :
a.

Dosis awal
4 gram (20cc MgSO4 20%) diberikan secara i.v dengan kecepatan 1
gram/menit

b.

Dosis pemeliharaan
selanjutnya diberikan MgSO4 4 gram (10cc MgSO4 40%) i.m setiap 4
jam. Tambahkan 1cc lidokain 2% pada setia pemberian i.m untuk

Selain pemberian RL dan MgSO4 pada pasien


PEB juga diberikan :
1. Diuretikum
2. Antihipertensi
3. Kardiotonika
4. Lain lain, seperti obat-obat antipiretik,
antibiotik, analgesik

PENGARUH KJDK PADA IBU

Akan terjadi hipofibrinogenemia yang


nantinya menyebabkan perdarahan
postpartum
DIC

LAPORAN KASUS
ANAMNESA
Keluhan utama : tidak merasakan gerak janin 2 hari yang lalu Keluhan
tambahan : nyeri perut sebelah kanan
Telaah
: Ny.NA, 38 tahun baru masuk pada jam 21.30 wib KIRDA dr.Fita
D, Sp.OG, M.Kes dengan G5P1A3 + KJDK + PEB, hal ini di alami sejak 2
hari ini, mules-mules (-), keluar air-air dari kemaluan (-), keluar lendir
bercampur darah (-), demam (-), riwayat trauma (-), kejang (-), oedem
(+).
RPD : DM (+), hipertensi (+)
RPO : Riwayat Alergi Obat : Ampicillin
TTP : 07-08-2015
Riwayat Persalinan
: - anak ke 1 (abortus)
-anak ke 2 (abortus)
-anak ke 3 (KJDK)(SC)
-anak ke 4 (abortus)
-kehamilan ini (KJDK)

STATUS PRESENS
KU : baik
anemis : Kes
: CM
sianosis : TD : 180/110 mmHg
ikterus : HR : 70 x/i, reg
dyspnue : RR : 23 x/i, reg
oedem : +
T : 36,3o c

STATUS OBSTRETIKUS

Abdomen : membesar simetris


TFU : 19 cm
Gerak janin : tidak dirasakan lagi
Djj: tidak ada
His: tidak ada
VT : tidak ada pembukaan

LABORATORIUM

KGDs : 223 mg/dl


Proteinuria: +2
Hb
: 12,9 g/dl
Ht
: 35,9 %
Goldar : O, Rh (+)

DIAGNOSA
Pada kasus ini pasien didiagnosa :
G5P1A3 + KJDK + PEB, H 26-27 minggu

Penanganan
Rawat Diruang Bersalin
pemasangan IVFD RL Kec 20 Tts/i

Rencana
Pengeluaran hasil konsepsi

FOLLOW UP
Lapor supervisor VK dr.Fita D, Sp.OG, M.Kes, jam 21.40 wib
Anjuran : -kalau ada bukaan pasang balon kateter
- kalau tidak ada bukaan pasang misoprostol tablet / 6 jam per
porsio
-pasang infus 2 jalur + DC :
-SM 20% 20cc dalam cairan RL 100cc guyur (22.50 wib)
-SM 20% 50cc dalam cairan RL 500cc 20 tts/i (23.00 wib)

Tanggal 3 juni 2015 jam 23.10 wib


Dilakukan pemberian misoprostol per porsio tablet / 6 jam
Tanggal 4 juni 2015 jam 05.00 wib
VT : 1 cm
Dilakukan pemasangan balon kateter ke jalan lahir
Tanggal 4 juni 2105 jam 08.10 wib
-VT : 2 cm
-Balon kateter terlepas
-Selaput ketupan pecah
-IVFD RL + DC : - SM 20% 50cc dalam cairan RL 500cc 20 tts/i
- drip pitogin 1 amp dalam cairan RL 500cc 20 tts/i

Tanggal 4 juni 2015 jam 10.00 wib visit supervisor dr.Fita D,


Sp.OG, M.Kes a/i : terminasi kehamilan
Tanggal 4 juni 2015 jam 10.30 wib
-VT : lengkap
-Tangan tampak di vulva, tangan dibebat dengan kasa dibeikan beban
cairan infus RL
Tanggal 4 juni 2015 jam 11.00 wib
His semakin kuat, ibu dipimpin mengedan kaki terlihat maju mundur
divulva lahirlah bokong, kemudian dengan teknik Lovset lahirlah
bahu bayi, maka lahirlah kepala bayi dengan teknik merichue
dengan tidak segera menangis dalam keadaan meninggal.
JK : BB : 500gr A/S : 0
MAK III (+) plasenta + flitzer lahir lengkap, ruptur (-), hecting L/D
(-), perdarahan normal, kontraksi bagus
Tanggal 4 juni 2015 jam 14.00 wib
Os dengan post partus
IVFD 2 jalur + DC :- SM 20% 50cc dalam cairan RL 500cc 20 tts/i
- cairan RL 500cc 20 tts/i
Kontraksi bagus
Perdarahan normal
k/u ibu baik

tanggal 4 juni 2015 jam 20.00 wib


IVFD + DC lanjutkan
Kontraksi bagus
Perdarahan normal
k/u ibu baik
tanggal 5 juni 2015 jam 06.00 wib
TD : 180/120 mmHg
HR : 73x/i
RR : 24x/i
T : 36,5oc
Lapor supervisor dr.Fita D, Sp.OG, M.Kes, a/i :
IVFD + DC lanjutkan
Nipedipin tab 3x1
Amlodipin tab 1x10 mg
Tanggal 5 juni 2015 jam 08.30 wib supervisor dr.Fita D, Sp.OG, M.Kes
visit a/i :
Nipedipin tab 3x1
Amlodipin tab 1x10mg
Cefadroxil tab 3x1
Asam mefenamat tab 3x1
Sohobion tab 1x1
K/u ibu baik

Tanggal 5 juni 2015 jam 14.20


IVFD + DC lanjutkan
Obat oral lanjutkan
Tanggal 5 juni 2015 jam 20.15
IVFD + DC lanjutkan
Obat oral lanjutkan
Tanggal 6 juni 2015 jam 08.00
TD : 170/110 mmHg
HR : 73 x/i
RR : 24 x/i
T : 36,5oc
IVFD + DC lanjutkan
Obat oral lanjutkan
Tanggal 6 juni 2015 jam 08.30
visit a/i :
Aff DC
Aff infus 1 jam
Bila urine lancar os bisa pulang
Tanggal 6 juni 2015 jam 10.00
Os PBJ
Th : obat oral lanjutkan

wib

wib

wib

wib supervisor dr.Fita D, Sp.OG, M.Kes

wib

TERIMA KASIH