Anda di halaman 1dari 40

KARSINOMA

MAMMAE

Name : Sy. Rugaiyah Alkaf


NIM : 09 777 037
Pembimbing : dr. Alfreth Langitan, Sp.B,
FINACS

PENDAHULUAN
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012,

kanker payudara atau carcinoma mammae didefinisikan


sebagai penyakit neoplasma yang ganas yang berasal dari
parenkim.
99% keganasan terjadi pada wanita, usia 40-44 tahun.
Di Indonesia jumlah penderita ca mammae menduduki

tingkat

kedua

setelah

ca cervix,

didapatkan estimasi

insidensi ca mammae di Indonesia sebesar 26 per 100.000


wanita dan ca cervix sebesar 16 per 100.000 wanita.

Anatomi payudara

Definisi
Kanker

adalah suatu kondisi dimana sel telah

kehilangan

pengendalian

dan

mekanisme

normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang


tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
Carcinoma mammae didefinisikan sebagai kanker

yang terbentuk di jaringan payudara, biasanya pada


saluran (tabung yang membawa susu ke puting) dan
lobulus (kelenjar yang memproduksi air susu).

Epidemiologi
Ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relatif

tinggi, yaitu 20% dari seluruh keganasan.


Dari data The American Cancer Society tahun 2008

memperkirakan

setiap

tahunnya

sekitar

178.000

wanita Amerika yang terkena kanker payudara.


Ca mammae di Indonesia menempati urutan kedua

setelah Ca servix
99% keganasan terjadi pada wanita, usia 40-44 tahun.

Usia

Gaya
hidup

Etiologi
& faktor
resiko

Hormona
l

Genetik

Patogenesis
Secara klinis dan histopatologis, terjadi beragam

tahap

morfologis

dalam

perjalanan

menuju

keganasan.
Hiperplasia duktal, ditandai oleh proliferasi sel-sel

epitel poliklonal yang tersebar tidak rata yang pola


kromatin dan bentuk inti-intinya saling tumpang
tindih dan lumen duktus yang tidak teratur, sering
menjadi tanda awal kecenderungan keganasan.

Perubahan dari hiperplasia ke hiperplasia atipik

(klonal), yang sitoplasma selnya lebih jelas,


intinya lebih jelas dan tidak tumpang tindih serta
lumen

duktus

yang

teratur,

secara

klinis

meningkatkan resiko kanker payudara.

Setelah

adalah

hiperplasia
timbulnya

atipik,

tahap

karsinoma

berikutnya

insitu,

terjadi

proliferasi sel yang memiliki gambaran sitologi


sesuai dengan keganasan, tetapi proliferasi sel
tersebut

belum

menginvasi

stroma

dan

Setelah sel-sel tumor menembus membran

basal dan menginvasi stroma, tumor menjadi


invasif dan dapat menyebar secara
hematogen dan limfogen sehingga
menimbulkan metastasis.

Klasifikasi
Kanker epithelial non-invasif
Ductal carcinoma in situ (DCIS) atau karsinoma intraduktal jenis papiler,
kribiformis
Lobular carcinoma in situ (LCIS)
Keganasan epithelial invasif
Karsinoma duktal invasif (50-70%)
Karsinoma tubular (2-3%)
Karsinoma musinosus atau koloid (2-3%)
Karsinoma medular (5%)
Karsinoma kribiformis invasif (1-3%)
Karsinoma papiler invasif (1-2%)
Karsinoma sistik adenoid (1%)
Karsinoma metaplastik (1%)

Karsinoma lobular invasif (10-15%)


Keganasan campuran jaringan epitel dan jaringan ikat
Tumor filoides ganas
Karsinosarkoma
Angiosarkoma

Manifestasi klinis
a. Benjolan
Adanya benjolan yang tidak nyeri pada
payudara yang dapat diraba dengan
tangan. Semakin lama benjolan tersebut
semakin mengeras dan bentuknya tidak
beraturan.

b. Perubahan kulit
pada payudara
- Tampak cekungan
seperti lesung pipi
(dimpling)
- Benjolan yang dapat
dilihat (visible lump)
- Gambaran kulit
jeruk (peu dorange)
- Eritema
- Ulkus

c. Kelainan pada puting


- Puting tertarik (nipple retraction)
- Eksema (radang)
- Cairan pada puting (nipple discharge)

Diagnosis
Terdapat

berbagai

macam

cara

untuk

mendiagnosis kanker payudara dan untuk


menentukan apakah sudah ada metastasis ke
organ

lain

atau

belum.

Diagnosis

bisa

ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik


dan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang
Mamografi
Duktografi
Ultrasonografi
MRI
Biopsi

Kanker Payudara BISA dideteksi


sejak dini
Pemeriksaan klinis oleh dokter dapat
mendeteksi sampai 85% kanker
payudara

85%

Mammografi dapat mendeteksi sampai


90% kanker payudara

90%

91%

99,5%

BIOPSI dapat mendeteksi sampai 91%


kanker payudara

Kombinasi ketiganya dapat mendeteksi


sampai 99,5% kanker payudara

Staging
Klasifikasi TNM kanker payudara:
1. Tumor primer (T)
Tx : Tumor primer tidak dapat diniali
To : Tidak terbukti adanya tumor primer
Tis : Karsinoma in situ
T1 : Ukuran tumor < 2 cm
T1mic : mikroinvasif > 1 cm
T1a : Ukuran tumor > 0,1 cm tetapi < 0,5 cm
T1b : Ukuran tumor > 0,5 cm tetapi < 1 cm
T1c : Ukuran tumor > 1 cm tetapi < 2 cm
T2 : Diameter terbesar tumor > 2 cm tetapi < 5 cm
T3 : Diameter terbesar tumor > 5 cm

T4 : Tumor berukuran apapun dengan disertai

perlekatan pada dinding toraks atau kulit


T4a : Melekat pada dinding dada
T4b : Edema kulit, ulserasi, nodul satelit pada

kulit yang terbatas pasa satu payudara


T4c : Edema termasuk peau dorange atau

edema kulit
T4d : Gabungan antara T4a dan T4b, karsinoma

inflamatorik

2. Nodus limfe regional (N)


Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
N0 : Tidak ada metastasis ke KGB regional
N1 : Metastasis pada kelenjar axilla ipsilateral, bersifat

mobile
N2 : Metastasis pada kelenjar limfe ipsilateral, tidak

dapat digerakkan
N3 : Metastasis pada kelenjar limfe infraklavikular, atau

mengenai kelenjar mammae interna, atau kelenjar limfe


supraklavikular

3. Metastas jauh (M)


Mx : Metastasis tidak dapat dinilai
M0 : Tidak terdapat metastasis
M1 : Terdapat metastasis jauh

Staging berdasarkan American Joint


Committee on Cancer Staging of Breast
Carcinoma :
Stage 0: tahap sel kanker payudara tetap di

dalam kelenjar payudara, tanpa invasi ke dalam


jaringan payudara normal yang berdekatan.
Stage I: Karsinoma invasif dengan ukuran 2 cm

atau kurang serta kelenjar getah bening normal.

Stage IIA: tumor tidak ditemukan pada


payudara tapi sel-sel kanker ditemukan
dikelenjar getah bening di ketiak, atau tumor
dengan ukuran 2 cm atau kurang dan telah
menyebar ke kelenjar getah bening aksiler,
atau tumor yang lebih besar dari 2 cm tapi
tidak lebih besar dari 5 cm dan belum
menyebar ke kelenjar getah bening aksiler.

Stage IIB: tumor yang lebih besar dari 2


cm, tetapi kurang dari 5 cm telah menyebar
ke kelenjar getah bening yang berhubungan
dengan ketiak, atau tumor yang lebih besar
dari 5 cm tapi belum menyebar ke kelenjar
getah bening ketiak.

Stage IIIA: tumor yang lebih besar dari 5 cm, kanker


ditemukan di kelenjar getah bening ketiak yang melekat
bersama atau dengan struktur lainnya, atau kanker
ditemukan di kelenjar getah bening di dekat tulang
dada, atau tumor dengan ukuran berapapun dimana
kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak,
terjadi perlekatan dengan struktur lainnya, atau kanker
ditemukan di kelenjar getah bening di dekat tulang
dada.

Stage IIIB: tumor dengan ukuran tertentu dan


telah menyebar ke dinding dada dan/atau kulit
payudara

dan

mungkin

telah

menyebar

ke

kelenjar getah bening ketiak yang berlekatan


dengan struktur lainnya, atau kanker mungkin
telah menyebar ke kelenjar getah bening di
dekat tulang dada. Kanker payudara inflamatorik
dipertimbangkan paling tidak pada tahap IIIB.

Stage IIIC: ada atau tidak ada tanda kanker di

payudara atau mungkin telah menyebar ke dinding


dada dan/atau kulit payudara dan mungkin telah
menyebar ke kelenjar getah bening baik di atas
atau di bawah tulang belakang dan kanker mungkin
telah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak
atau kelenjar getah bening di dekat tulang dada.
Stage IV: Metastasis jauh.

Penatalaksanaan
Setelah diagnosis klinis dan stadium
tumor ditegakkan, maka terapi akan
dimulai, dimana seorang dokter
menentukan terlebih dulu performance
status pasien dengan karnofsky scale.

Karnofsky scale
Kemampuan fungsional

Tingkat aktivitas
100% normal, tidak ada keluhan, tidak ada tanda
dan gejala penyakit

Mampu menjalankan aktivitas normal, tidak

90%, mampu menjalankan aktivitas normal,

perlu perawatan khusus

sedikit gejala dan tanda penyakit


80%, aktivitas normal dilakukan dengan upaya;
beberapa tanda dan gejala penyakit
70%, mampu merawat diri sendiri, tidak mampu
menjalankan aktivitas normal atau melakukan

Tidak mampu bekerja, mampu hidup di rumah,

pekerjaan aktif

mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan 60%, sesekali memerlukan bantuan tetapi
pribadi, derajat bantuan untuk memenuhi mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan
kebutuhan bervariasi

pribadi
50%, cukup memerlukan bantuan serta asuhan
medis

Karnofsky scale
40%, hendaya (disabled); memerlukan
bantuan dan asuhan medis khusus
30%,
hendaya
berat;
memerlukan
layanan rawat inap, walaupun tidak akan
diri meninggal dalam waktu dekat
20%, sangat sakit, wajib dirawat inap,
sendiri; memerlukan asuhan
wajib mendapatkan terapi suportif akut
setingkat asuhan rumah sakit
10%, sekarat, proses fatal berlangsung
Tidak

mampu

merawat

cepat
0%, meninggal

Penatalaksanaan kanker
payudara dilakukan dengan
serangkain pengobatan meliputi
pembedahaan, kemoterapi,
terapi radiasi, dan yang terbaru
adalah terapi imunologi
(antibodi).

A. Pembedahan
Mastektomi radikal klasik
Mastektomi radikal dimodifikasi
Mastektomi simpel
Breast conserving treatment (BCT)
Rekonstruksi segera

B. Radioterapi
C. Terapi sistemik
Terapi hormonal
Kemoterapi
Terapi imunologi

Prognosis
Kelangsungan

hidup

pasien

kanker

payudara dipengaruhi oleh banyak hal seperti


karakteristik tumor, status kesehatan, faktor
genetik,

level

stress,

imunitas,

keinginan

untuk hidup, dan lain-lain. Stadium klinis dan


jenis

kanker

merupakan

indikator

terbaik

untuk menentukan prognosis penyakit ini.

Pencegahan
Karsinoma

memahami

payudara

dapat

dicegah

faktor

resiko

dan

memiliki

riwayat

dengan
kemudian

menghindarinya.
Seorang

wanita

yang

keluarga

menderita kanker payudara atau ovarium, sebaiknya


melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
sebulan sekali sekitar hari ke-8 menstruasi baik untuk
dilakukan sejak usia 18 tahun dan mamografi setiap
tahunnya sejak usia 25 tahun.

Langkah-langkah pemeriksaan payudara


sendiri (SADARI) dapat dilakukan dengan 2
cara, yaitu:
Tahap I melihat perubahan di hadapan
cermin
(1) Berdiri tegak di depan kaca
dengan kedua tangan lurus
ke
bawah, bandingkan payudara kanan
dan kiri (besar dan simetrinya)
perhatikan apakah ada kelainan
lekukan,
kerutan
dalam,
atau
pembengkakan
pada
kedua
payudara atau puting.

(2)
Kedua
tangan
diangkat ke atas kepala
periksa payudara dari
berbagai sudut.

(3)
Tegangkan
otot-otot
bagian
dada
dengan
meletakkan kedua tangan di
pinggang. Perhatikan apakah
ada kelainan pada kedua
payudara atau puting.

(4) Pijat puting payudara


kanan dan tekan payudara
untuk melihat apakah ada
cairan atau darah yang
keluar dari puting payudara.
Lakukan hal yang sama
pada payudara kiri.

Tahap II melihat perubahan dengan cara


berbaring
(1) Letakkan bantal di bawah
punggung pada sisi yang akan
diperiksa, dan letakkan tangan kanan
di atas kepala. Gunakan tangan kiri
untuk memeriksa payudara kanan
untuk memeriksa benjolan atau
penebalan.

(2) Raba payudara dengan gerakan


melingkar (teknik spiral) mulai dari sisi
terluar menuju areola.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai