Anda di halaman 1dari 91

TRAUMA MAXILLO FACIAL

Oleh
SMF. BEDAH RSUD Dr. SOEBANDI
JEMBER

Anatomi
Muka terdiri dari :
- Jaringan lunak (kulit, otot dan jaringan
dalamnya)
- Tulang muka, tulang kepala yang tidak
membatasi otak yaitu :- tulang hidung
- tulang zigoma
- tulang maksila
- tulang mandibula

Perubahan bentuk hidung .Mata juling disertai bengkak atau hematom orbita . infraorbita . supraorbita .n.Arkus zigomatikus kiri kanan tidak simetris .n.Gejala klinis patah tulang muka - Nyeri tekan lokal Hematom lokal Gangguan oklusi rahang Gangguan faal rahang bawah Gangguan sensibilitas .n. mandibularis .

Penyulit cedera muka otak kesadaran Saraf otak Sensoris – kulit. kelopak mata Kontraktur kulit . kelenjar liur Pancaindra Organ mata. hidung lidah kosmetik Patah tulang dislokasi Retraksi bibir. pancaindra Motorik – mulut. menelan. pancaindra Jalan nafas Edema jalan nafas Aspirasi Perdarahan Dislokasi fraktur Jalancerna Mengunyah. faring. telinga. laring otot wajah.

Airway .

Penatalaksanaan trauma muka • ABCDE • Terutama perhatikan airway Adanya suara snoring (mendengkur). suara parau (sumbatan pada laring) Teknik mempertahankan airway .keluarkan semua muntahan .pemasangan orofaringeal . gurgling (berkumur).suction perdarahan .cricotiroidotomi .manuver chinlift/ jaw thrust . (crowing/stridor) bersiul.

maka trauma penyerta tersebut ditangani dulu sedang penanganan definitif trauma maksilofacial belakangan • Bila disertai gangguan kesadaran.• Bila terdapat trauma penyerta yang membahayakan jiwa. penanganan definitif ditunggu sampai kesadaran baik dan kooperatif .

Pemeriksaan Fisik Trauma Wajah .

Prevalence Kejadian Trauma Wajah .

Patahan dilindungi gips kupu 2 minggu. epitaksis.Pemeriksaan penunjang : Ro.Penatalaksanaan : segera direposisi dengan anestesi lokal dan imobilisasi tampon dilubang hidung yang dipertahankan 3 hari. . nasale . nyeri tekan.Trauma langsung .nasale lateral .Fraktur os.Klinis : pembengkakan. teraba garis fraktur .

Fraktur Nasal .

infraorbita (hipoestesia). diplopia dan enoftalmus (karena fraktur dasar orbita (blow out frakture)). Klinis : adanya displaced. Pemeriksaan penunjang : Ro. trismus. gangguan n. sering terkena trauma langsung.Fraktur zigoma Zigoma mambentuk dinding lateral orbita. Posisi Waters .

Foto watters .

Foto Watters The lines of Dolan and the elephants of Rogers .

Blow Out Fraktur .

Fraktur Zigoma .

Fraktur Zigoma .

Reposisi cara Gillies .

Interosseus wiring .

Trauma langsung .Pembagian .LeFort II .Fraktur maksila .LeFort III .LeFort I .

hematom. seksama (hati-hati) dan sistematis (3S) Pemeriksaan penunjang : Ro Waters . maloklusi Palpasi : dilakukan secara serentak (kanan kiri bersamaan). trismus.Fraktur maksila Klinis : Inspeksi : muka asimetris. nyeri spontan. pembengkakan (wajah balon).

Fraktur Maksila (Le Fort) .

Pemeriksaan .

Ro. Frak. Zigoma & maksila .

Suspensi maksila .

Fraktur mandibula . Pemeriksaan penunjang : Ro. korpus.Klinis Inspeksi : asimetris dan maloklusi Palpasi : teraba garis fraktur dan mungkin terdapat mati rasa bibir bawah akibat kerusakan n. Mandibula AP/Lat. angulus. Fraktur umumnya akan disertai dislokasi fragmen tulang karena tonus otot yang menginsersi ditempat tersebut.mandibularis.Pembagian : fraktur simpisis. ramus prosesus kondiloideus & koronoideus .Trauma langsung . (posisi Eisler) .

Fraktur Mandibula .

Fraktur mandibula .

Prevalence kejadian fraktur mandibula .

Fraktur Mandibula .

Fraktur Mandibula .

Pemeriksaan .

Foto fraktur mandibula .

Frakture mandibula .

Fiksasi intermaksilaris .

Interdental Wiring .

Open reduction – internal fiksasi dengan plate .

Dislokasi Mandibula .

.

Tamponade jantung .Tujuan mempelajari ini : bisa mengidentifikasikan dan melakukan terapi awal trauma toraks yang sering mengancam jiwa. Tension pneumotoraks 3. Pada Primary Survey 1. Tujuan khusus A. Sumbatan airway 2. Pneumotoraks terbuka 4. Fleil chest 5. Hemato toraks masif 6.

B. Pneumotoraks sederhana 2. Kontusio paru 4. Pada Secondary Survey 1. Trauma tracheobroncheal 5. Trauma aorta 7. Trauma tumpul jantung 6. Trauma mediastinum . Hemato toraks 3. Trauma diafragma 8.

Kerusakan jaringan paru : kontusio paru. berakibat hipoksia. 3. . Kehilangan darah 4. Perubahan tekanan intra torakal : tension pneumotoraks. kolaps alveoli. Fraktur kosta menyebabkan perfusi O2 di alveoli berkurang (hipoperfusi / hipoventilasi ). hiperkarbia dan berlanjut dengan ascidosis metabolik pada akhirnya menurunkan tingkat kesadaran penderita.Patofisiologi Pada trauma toraks bisa menyebabkan hal-hal : 1. hematom. 2. open pneumotoraks. Sumbatan jalan nafas 5.

Primary Survey Trauma yang mengancam nyawa penderita trauma toraks dimulai dengan airway. – Jejas trauma pada leher ( tercekik. luka ). . Masalah yang ditemukan pada airway harus segera diatasi. – Inspeksi tarikan otot-otot pernafasan dan supraklavicula. mulut dan dada ( stridor ) – Inspeksi pada daerah orofaring. A. adanya sumbatan oleh benda asing. darah. – Patensi jalan nafas dan ventilasi dimulai dengan : – Mendengarkan gerakan udara dalam hidung.

vena-vena besar.B. . Ventilasi = Breathing Dada dan leher harus dilihat. deviasi trakhea. hipoksia dan sianosis. Peningkatan frekuensi nafas dan perubahan pola nafas terutama pernafasan yang lambat.

.1. mediastinum terdorong kesisi berlawanan dan menghambat pengembalian darah vena ke jantung ( venous return ) serta menekan paru-paru yang kontra lateral. paru-paru akan kolaps. Akibat : tekanan intra pleura tinggi. Tension Pneumotoraks Terjadi kebocoran udara berasal dari paru-paru atau dinding dada masuk ke dalam rongga pleura yang tidak dapat keluar lagi ( one – way – valve = fenomena ventil ).

Sebab-sebab lain Tension Pneumotoraks : • Kompliasi penggunaan ventilator mekanik dengan tekanan positif tapi ada kerusakan pleura visceralis. • Pada open pneumotoraks yang salah menutup defeknya ( tutup defek dinding dada pada satu sisinya tidak boleh rapat ). • Komplikasi dari pneumotoraks sederhana yang dipasang kateter subklavia atau vena jugularis yang salah arah.torakal displace . • Fraktur V.

cabut jarumnya dari ICS II. Penanganan ini tidak boleh terhambat oleh karena menunggu foto toraks. distensi vena leher. tapi bisa dibedakan dengan perkusi paru-paru yang hipersonor.Gejala-gejala. Diagnose : Ditegakkan berdasarkan gejala klinik yang ada. distres nafas. takikardi. suara nafas hilang. sesak. Terapi : Segera dilakukan dekompresi dengan pemasangan jarum di sela iga II mid clavicula. yang disusul dengan WSD. . hipotensi. Gejala yang mirip adalah tamponade jantung. deviasi trakhea. Setelah WSD terpasang. Nyeri dada. sianosis.

penanganannya segera tutup defek dengan kasa steril yang diplester di 3 sisinya ( Flutter tipe Valve ) sehingga pada saat inspirasi udara luar tidak masuk. Bila pleura visceralis ikut robek maka udara bisa keluar masuk lewat luka di dinding dada. menyebabkan udara dari luar terhisap masuk dan tekanan di rongga pleura sama dengan atmosfir. Baru kemudian dipasang WSD ditempat yang tidak luka dan lubang segera dijahit air tight ( tidak tembus udara ).2. Diagnosanya jelas. . Pneumotoraks terbuka ( Sucking Chest Wound ) Terjadi akibat luka terbuka pada dinding dada.

3. Fleil Chest
Adalah fraktur kosta multipel segmental sehingga ada
segmen dinding dada yang mengambang ( fleil )
menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada
secara paradoksal.
Jika dibawah dinding yang fraktur terjadi kerusakan paruparu, maka akan menyebabkan hipoxia yang serius.
Gerakan paradoxal yaitu segmen fraktur bergerak
berlawanan arah dengan gerak pernafasan. Gerakan itu
sendiri tidak menyebabkan hipoksia selain karena kontusio
paru dan rasa nyeri sehingga penderita takut bernafas.
Penanganan pada Fleil Chest terutama mencegah
hipoksianya dengan pemberian O2 10 – 12 L/m dan fixasi
dengan plester pada segmen fraktur dengan ½ lingkaran
dinding dada.
Pemakaian WSD dan respirator bisa dilakukan bila ada
indikasi jelas.

4. Hematotoraks masif
Terkumpulnya darah dengan cepat lebih dari 1500 cc dalam
rongga pleura.
Sebab-sebab :- Luka tembus jaringan paru dan pembuluh
darah.
- Trauma tumpul dada.
Diagnostik ditegakkan secara klinik yaitu adanya shok,
suara nafas dan perkusi pekak pada hemitoraks yang
terkena.
Penanganannya : repleascement cairan dan darah,
dekompresi pleura dengan WSD.
Indikasi torakotomi ( membuka rongga dada )
bila : darah keluar awal lebih besar dari 1000 cc atau 200
cc/jam dalam waktu 2 – 4 jam
Bila indikasi jelas, WSD distop dulu sebagai tampon supaya
darah tidak mengucur deras kemudian tindakan transfusi
darah dan torakotomi.

C. Sirkulasi
Evaluasi nadi meliputi : kualitas, frekuensi, regularitasnya.
Tempat-tempat palpasi nadi : a. radialis, a. brachialis,
a.
jugularis, a. femoralis, a. poplitea, a. dorsalis pedis. Pada
shok hipovolemik denyut nadi lemah atau tak teraba.
Monitor jantung atau pulse oximeter digunakan untuk
menilai shok dan trauma jantung.
Disritmia jantung bisa terjadi pada ruptur miokard,
sengatan listrik, hipoksia dan ascidosis maka pemberian
Lidokain 1 mg/kg bisa dipertimbangkan gangguan sirkulasi
pada trauma dada bisa ditimbulkan oleh : hematotoraks
masif dan tamponade jantung.

Diagnosa Tamponade Jantung tidak mudah yaitu adanya Trias Beck : peningkatan tekanan vena leher. penurunan tekanan arteri dan suara jantung melemah. Sebab : . Tamponade 15 – 20 cc darah sudah bisa mengganggu kerja jantung.Trauma tembus miokard Perikard merupakan struktur jaringan ikat yang kaku dan lumennya sedikit. .Trauma tumpul .Tamponade Jantung Terkumpulnya darah ke dalam rongga perikardium sehingga mengganggu kerja otot jantung dan menimbulkan shok.

Hal ini juga dibaurkan dengan tension pneumotoraks.
Terapi pada tamponade jantung dengan evakuasi darah
baik secara tertutup atau terbuka dengan torakotomi
resusitasi.

Pada torakotomi bisa dikerjakan :
1. Evaluasi darah pericard.
2. Kontrol langsung sumber perdarahan.
3. Pijat jantung terbuka.
4. Klem silang aorta descenden untuk mengurangi
kehilangan darah dibawah diafragma dan
meningkatkan perfusi otak.

Secondary Survey = Cedera toraks yang dapat
mengancam jiwa

Dilakukan pemeriksaan fisik yang lebih teliti lagi. Foto
toraks, analisa gas darah, monitoring pulse oximetri, RKG.
Pada primary survey : Immediately Life Threatening,
sedangkan secondary survey : Life Threatening.

Hal-hal yang bisa terjadi :
A. Pneumotoraks sederhana
Laserasi paru penyebab tersering pneumotoraks pada
trauma tumpul.
Tindakan pada pneumotoraks dengan pemasangan
WSD, bila :
– Ada cedera fraktur dislokasi vertebra torakal
– Ada cedera berat lain
– Lebih pneumotoraks lebih dari 1/3 hemitoraks
Tindakan lain yang membantu penyembuhan
pneumotoraks : dengan fisioterapi nafas.
– Tiup balon dengan inspirasi + expirasi dalam
– Tepuk-tepuk punggung
– Dibatukkan

baik pada trauma tajam / tumpul. Ruptura Aorta . D. Biasanya perdarahan bisa berhenti spontan setelah pemasangan WSD. Sa O2 < 90% ) harus segera diberikan bantuan ventilasi. lacerasi pembuluh darah dari arteri interkostal atau mamaria interna. Penderita hipoksia ( Pa O2 < 65 mmHg. C. Kontusio Paru Memar jaringan paru sehingga ventilasi tidak berfungsi baik keadaan ini menyebabkan potensial Lethal Chest Injury.B. Trauma Tumpul Jantung E. Hal kritis yang terjadi : adanya darah dan buih di jalan nafas dan mulut. Hematotoraks Penyebab : lacerasi paru.

Empisema Mediastinum G. Tindakan terapi : repair diafragma. Ruptura Diafragma Ruptura diafragma lebih sering pada sebelah kiri karena di kanan terlindungi hepar. Masuknya isi perut kedada disebut hernia diafragma. sesak nafas waktu tiduran.F. . Diasnostik : adanya bising usus pada toraks. pada pemasangan NGT dan foto toraks terlihat gambaran selang NGT didalam rongga dada.

. paranichim paruparu .jarang trauma ledakan . Empisema Kutis Adanya udara sub kutis daerah dada dengan perabaan adanya krepitasi.trauma jalan nafas. dengan cara multiple insisi dengan anestesi lokal.penggunaan ventilator tekanan positif Umumnya tidak memerlukan tindakan.H. Sebab-sebab : . kecuali yang mengganggu ventilasi.

Penanganan sederhana dari fraktur costa : atasi nyeri. harus dicurigai fraktur vertebra servikalis dan lain-lainnya. atau dengan imobilisasi supaya fragmen fraktur tidak ada pergerakan. bisa dengan suntikan. Fraktur Kosta  Sternum dan Scapula Kosta merupakan komponen dinding toraks yang paling sering mengalami trauma.I. Kosta 1 – 3 terbendung oleh struktur yang kuat sehingga apabila terjadi fraktur. pneumonia. Fraktur kosta 10 – 12 curiga terkena hepar lien. Nyeri pada fraktur kosta menyebabkan takut bernafas sehingga bahaya atelektasis. .

• Trauma diafragma yang terlewatkan. • Kontusio paru-paru sering membawa akibat fatal dalam waktu cepat. • Immobilisasi pada fraktur kosta dengan plester lebar melewati ½ lingkaran dada tidak boleh memperberat ventilasinya.Permasalahan-permasalahan trauma toraks • Pneumotoraks sederhana yang tidak ditangani dengan baik akan berkembang menjadi Tension Pneumotoraks. . • Pemasangan plester lebar pada saat penderita inspirasi maksimal. • Hematotoraks sederhana yang tidak dievakuasi sempurna menyebabkan sisa darah membeku dan terperangkap di paru-paru dengan resiko infeksi empiema. menyebabkan Hernia diafragmatika dengan kemungkinan strangulasi abdomen dan gangguan ventilasi. karena hipoksia.

.

2.ANATOMI ABDOMEN 1. Pinggang Daerah antara garis axilaris anterior dan axilaris posterior dari intercostal space ke 6 sampai krista iliaka 3. maka batas atas adalah garis antar papila mamae. batas bawah di ligamentum inguinalis dan simpisis pubis. Punggung Dari garis aksilaris posterior di ujung skapula sampai krista iliaka yang ditutup otot-otot punggung . Regio Abdomen depan Bagian atas berbatasan dengan toraks. lateral oleh garis aksilaris anterior.

5. buli-buli. hati. doudenum. ginjal. 6. diafragma bisa naik sampai ICS 4 Abdomen bawah : berisi usus halus dan kolon sigmoid Rongga Pelvis Dibentuk oleh tulang-tulang pelvis. berada dibawah ruang retroperitoneum. meliputi : diafragma. Rongga Peritoneum Abdomen atas atau torakoabdominal. lambung dan kolon transversum. pembuluh-pembuluh darah iliaka. pankreas. kolon ascenden dan kolon desenden . Pada waktu expirasi maximal.4. Isi : rektum. uterus Rongga Retroperitoneum Dibelakang abdomen yang tidak diliputi peritoneum Isi : pembuluh darah besar. limpa. ureter.

limpa ). dapat menyebabkan kerusakan organ padat maupun organ berongga. tabrakan sepeda motor. benturan stir mobil. “ Cedera deselerasi “ disebabkan adanya gerakan berbeda dari bagian badan yang bergerak dan yang tidak bergerak ( hati.Macam Trauma A. Trauma Tumpul ( Blunt Injury ) Pukulan langsung. “ Shearing Injuries “ adalah mekanisme trauma yang terjadi bila adanya alat penahan ( sabuk pengaman jenis lap belt atau sabuk bahu ) yang dipasang dengan cara yang salah. Organ yang sering terkena trauma • Limpa ( 40 – 55% ) • Hati ( 35 – 45% ) • Hematom retroperitoneal ( 15% ) .

B. sering terjadi kerusakan multipel dan lubang peluru keluar lebih lebar. menyebabkan laserasi atau terpotongnya jaringan. . Trauma Tembus Luka tusuk dan luka tembak. Pada luka tembak.

.

senapan angin. petugas gawat darurat dsb. B. orang lain. tajam.Penilaian Trauma A. palpasi. auskultasi. Hal-hal ini didapat dari penderita. keluarga. perkusi. Pemeriksaan Fisik Dilakukan dengan teliti dan sistematis. apakah trauma tumpul. Anamnese ( Riwayat trauma ) Sangat penting diketahui untuk menilai beratnya cidera yang didapat. polisi. dengan urutanurutan : inspeksi. . peluru pistol.

belakang.1. Adanya udara bebas : perkusi timpani. . Auskultasi : suara usus normal atau hilang. Perkusi : menyebabkan pergerakan peritoneum dan organ yang terkena. bekas ban. Pada cedera perut sering terjadi ileus paralitik. Adanya perdarahan internal : pekak sisi dan undulasi. 3. dilihat depan. hematom. samping. 2. Inspeksi : adanya jejas.

Nyeri lepas  pada appendisitis acut. bila cairan dalam rongga terbatas (uterus.4. Nyeri ada 2 : nyeri tekan dan nyeri lepas. perdarahan interna. Palpasi : penekanan pada dinding abdomen. Adanya cairan bebas bisa diketahui adanya undulasi. . Adanya defance muskuler dan nyeri tekan seluruh perut menandakan terjadinya peritonitis. buli-buli) disebut ballotemen.

.

Bila luka menembus fascia di dinding depan abdomen merupakan indikasi explorasi laparotomi. Evaluasi luka tembus Pada luka tembus dinding abdomen. . tidak dibolehkan explorasi karena menyebabkan pneumo toraks. (bisa dengan anestesi lokal). harus diketahui betul oleh seorang dokter dengan cara explorasi luka. Untuk luka tembus di sela tulang-tulang iga. Luka tembak masuk dan keluar bisa dibedakan. memastikan organ apa saja yang terkena.5.

Pemeriksaan Genital. vagina Pada trauma urethra ditandai : hematom scrotum. . Evaluasi stabilitas pelvis Tekanan pada tulang iliaka kanan dan kiri akan meemberikan gerakan abnormal pada patah tulang pelvis. 7. perineal dan rektal.6. keluarnya darah dimana urethra dan pada RT terdapat perdarahan dan prostat melayang.

.

pelvis. pelvis. foto diafragma. tulang belakang. Hal ini untuk mengetahui fraktur costa. toraks. 2. Pemeriksaan Penunjang 1. Foto Rontgen Toraks foto. Abdomen AP lateral.C. perforasi usus. Foto dengan Kontras Sistografi : untuk robekan buli-buli Urethrografi : untuk robekan urethra IVP : untuk robekan ginjal. . dikerjakan di Pada multi trauma.LLD. IGD. pelvis foto AP. foto rontgen prioritas adalah : Cervical AP lateral.

DPL dikerjakan dengan anestesi lokal.CT-Scan : seluruh organ bisa diketahui. kemudian dikeluarkan lagi. memasukkan cairan dalam perut RL 1 liter.3. cairan empedu. Foto Khusus . sisa makanan.USG abdomen : ada ruptura organ padat. . membuka dinding perut sedikit dibawah umbilikus. 4. . dilihat apakah bercampur darah-darah. serat-serat. Studi Khusus : Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL) pada trauma tumpul. buli- buli.

.

000/mm3 atau lekosit  500/mm3 • Indikasi DPL : ragu-ragu dalam menentukan sikap apakah ada perdarahan didalam rongga perut pada trauma tumpul.obstruksi ileus . • Kontra Indikasi : bila ada indikasi laparotomi (Celiotomy) Mis : .Test laboratorium : positif bila ada : Eritrosit  100.peritonitis .perforasi saluran cerna .jelas internal bleeding .

.

tidak invasif dan sensitif dapat diulang akurasi 98% akurasi 80-97% Paling spesifik untuk cedera akurasi 92-98% Kerugian •Invasif •Tergantung •Tidak bisa meoperator ngetahui cedera •Tidak bisa deteksi diafragma atau diafrag. usus.ma. cedera retropancreas peritoneal •Biaya mahal •Waktu lama •Tidak bisa deteksi diafrag. pancreas . USG dan CT-Scan Pada Trauma Tumpul Abdomen DPL USG CT-Scan Indikasi Menentukan adaMenentukan cairnya perdarahan bila an bila TD  TD  Menentukan organ yang cedera bila TD normal Keuntungan Diagnosa cepat dan Diagnosa cepat.Perbandingan DPL.ma usus.

RR. • Pasang cairan IVFD. puasa. • AB. Profilaksis.HB serial tiap 1 – 2 jam . anemia .Penatalaksanaan Trauma Tumpul Abdomen • Bed rest. DK. perut . • Pasang NGT.Ku.Tensi. Suhu tubuh . produksi urine . • Pasang  perut • Monitoring :. Analgetik tidak diberikan. Nadi.Isi NGT.

perforasi. Bila dalam 2 x 24 jam keadaan baik (stabil) : bisa dicoba MSS. mobilisasi (konservatif)  Bila terdapat tensi turun. muntah-muntah. suhu naik. NGT di klem. internal bleeding.  Bila begitu datang sudah lengkap tanda-tanda : peritonitis. maka segera dilakukan laparotomi. kelanjutan diet. pikirkan ada perforasi / peritonitis.halus. nadi naik. . respirasi naik.  abdomen .

5. 7. Luka tembak melintasi rongga peritoneum. 3. retroperitoneum (viseral / vaskuler ). Perdarahan Gaster. Dubur. Berdasarkan Evaluasi klinik 1. Trauma tumpul dengan Hipotensi terus walaupun dilakukan resusitasi. Genitourinaria pada trauma tembus. Adanya peritonitis : defance musculer + nyeri seluruh perut. 4.Indikasi laparotomi pada trauma abdomen A. 6. Trauma tumpul dengan DPL atau USG  2. Eviserasi isi perut. . Hipotensi dengan luka tembus abdomen.

Adanya udara bebas ( air sicle ) atau ruptura diafragma. 2.B. Berdasarkan Rontgen 1. . CT-Scan dengan kontras ada ruptura organ-organ vaskuler.

.

.

Pemeriksaan fisik : sesak nafas waktu terlentang. terdengar bising usus di dada. Dapat terjadi pada setiap bagian tapi yang paling sering adalah hemidiafragma kiri. . pada pemasangan NGT dan foto paru tampak tube melengkung ke rongga dada ( hernia diafragmatika ). Ruptura diafragma. adanya suara nafas menurun.Masalah Khusus trauma abdomen 1. baik oleh karena trauma tumpul ataupun tajam.

Pemeriksaan IVP / CT-Scan atau arteriografi ginjal dapat mengetahuinya. Bila ada robekan ginjal atau ruptura pedikel. ditandai dengan adanya hematuria. Bila hanya memar / contusio ginjal. Pada ruptura urethra biasanya disebabkan patah tulang pelvis merupakan kontra indikasi pemasangan DK. . dilakukan explorasi ginjal ( bisa dijahit atau dinefrektomi ). Genitourinaria. Trauma pinggang bisa menyebabkan memar. cukup dengan perawatan konservatif yaitu bed rest total sampai tidak ada hematuria.2. luka pada ginjal dan pedikel ginjal.

dengan cara palapsi gelang panggul atau pada simpisis pubis. pubis.3. Gelang panggul terdiri dari tulang-tulang sakrum. . bisa menyebabkan fraktur tulang pelvis. ischium. Pemeriksaan berulang menyebabkan nyeri hebat dan menambah perdarahan yang terjadi. Patah Tulang Panggul. Bisa terjadi perdarahan didalam rongga retroperitoneal yang cukup banyak ( bisa sampai 4 liter ) karena bentuk tulangnya spongiosa. Pemeriksaan sederhana dan penting. Biasanya trauma-trauma yang besar. selain inspeksi terdapatnya asimetris panggul. dibawahnya ada os coccygis. Palpasi pelvic ring ini dengan memakai 2 tangan dan hanya boleh dilakukan satu kali bila ada ketidakstabilan pelvis ring.