Anda di halaman 1dari 95

TEKNIK ANESTESI UMUM PADA

PERITONITIS
Eni Yulvia Susilayanti

1010312040

Fadhila Aini 1010312023


Preseptor :
dr. Boy Suzuky, SP. An
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

BAB I
PENDAHULUAN

Gawat abdomen kegawatan di rongga


perut yang biasanya timbul mendadak
dengan nyeri sebagai keluhan utama

Memerlukan penanganan segera yang sering


berupa tindak bedah

Infeksi, obstruksi, atau strangulasi saluran


cerna perforasi kontaminasi rongga
perut oleh isi saluran cerna peritonitis

Peritonitis

Pembedahan pada peritonitis merupakan


pembedahan darurat yang harus segera
dilaksanakan untuk meminimalisir komplikasi
yang terjadi
Terdapat perbedaan-perbedaan pokok dari
anestesi untuk pembedahan elektif dengan
anestesi untuk pembedahan darurat , yaitu :
Bahaya aspirasi dari lambung
Adanya gangguan-gangguan
pernafasan
Hemodinamik dan kesadaran
yang tidak selalu dapat diperbaiki
sampai optimal
Terbatasnya waktu persiapan
untuk mencaribaselinedata dan
perbaikan fungsi tubuh

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Peritonitis

Klasifikasi Peritonitis
Agen

Patofisiologi Peritonitis

Diagnosis Peritonitis
Anamnesis

:
nyeri pada seluruh lapangan
perut kadang disertai dengan :
- Demam
- Mual / Muntah
- BAB tidak ada khas
- kadang mencret

Pemeriksaan fisik :
Inspeksi
Pada peritonitis biasanya akan
ditemukan distensi abdomen
Palpasi
kekakuan dinding abdomen

Perkusi

Pada pasien dengan peritonitis,


pekak hepar akan menghilang
Auskultasi
Pasien dengan peritonitis
bising usus akan melemah atau
menghilang sama sekali

Tatalaksana Peritonitis
Terapi Konservatif
indikasikan jika:
(1) infeksi telah terlokalisasi (misalnya appendix
mass);
(2) penyebab peritonitis tidak membutuhkan tindakan
pembedahan (misalnya pankreatitis akut);
(3) pasien tidak cocok untuk anestesi umum/general
anaesthesia (misalnya pada pasien lanjut usia,
pasien sekarat dengan komorbiditas yang hebat)
(4) fasilitas medis tidak dapat mendukung manajemen
bedah yang aman

Elemen

utama pada terapi


medikamentosa adalah hidrasi
cairan melalui i.v. line dan
antibiotik spektrum luas
Terapi suportif sebaiknya
mencakup early enteral feeding
(daripada total parenteral
nutrition) untuk pasien dengan
sepsis abdomen yang kompleks
di ICU

Terapi Definitif
Prinsip umum terapi:
penggantian cairan dan elektrolit yang
hilang
pemberian antibiotik yang sesuai
dekompresi saluran cerna dengan
penghisapan nasogastrik dan intestinal
pembuangan fokus septik (apendiks,
dsb) atau penyebab radang lainnya

Antibiotik spektrum luas, dapat


menjangkau bakteri aerob dan
anaerob
Penggunaan antibiotiklebih awal
dan sesuai merupakan kunci
untuk mengurangi mortalitas
pada pasien dengan syok septik
yang berhubungan dengan
peritonitis

Komplikasi Peritonitis
Syok septik, abses intraabdomen,
dan adhesi merupakan
komplikasi yang dapat terjadi
pada peritonitis

Prognosis Peritonitis
tergantung dari berapa lamanya proses
peritonitis sudah terjadi.
Pembagian prognosis dapat dibagi
menjadi tiga, tergantung lamanya
peritonitis:
(1) kurang dari 24 jam: prognosisnya >
90 %
(2) 24 48 jam: prognosisnya 60 %;
(3) lebih dari 48 jam: prognosisnya 20 %

Anestesi umum
keadaan kehilangan kesadaran, disertai
hilangnya sensasi rasa sakit diseluruh tubuh
dan relaksasi otot pada derajat tertentu karena
pemberian obat anestesi.

Masalah-masalah anestesi umum

1. Lambung terisi penuh


2. gangguan kardivaskular, seperti :
hipotensi
3. Kegagalan pernafasan
4. Tamponade kardiak
5. CNS (Central Nervous System)

pasien harus sudah dalam keadaan


stabil hemodinamikanya.
Pencegahan Aspirasi
mencegah terjadinya aspirasi dari isi
lambung dapat dilakukan cara :
o Posisi head down selama trakea tidak
diintubasi
o Tube nasogastrik diisap bersih lalu
dilepas sebelum diinduksi
o Siapkan suction yang kuat, bekerja
baik dan kateter besar.

Teknik Anestesi Umum


Parenteral
Obat anestesi masuk ke dalam darah dengan
cara suntikan IV atau IM. Untuk selanjutnya
dibawa darah ke otak dan menimbulkan
keadaan narkose.
Inhalasi

Obat anesthesia dihirup bersama udara


pernafasan ke dalam paru-paru, masuk ke
darah dan sampai di jaringan otak
mengakibatkan narkose.

Perrectal
Obat

anestesi diserap lewat mukosa rectum


kedalam darah dan selanjutnya sampai ke otak.
Dipergunakan untuk tindakan diagnostic
(katerisasi jantung, roentgen foto, pemeriksaan
mata, telinga, oesophagoscopi, penyinaran dsb)
terutama pada bayi-bayi dan anak kecil. Juga
dipakai sebagai induksi narkose dengan inhalasi
pada bayi dan anak-anak. Syaratnya adalah:
rectum betul-betul kosong
tak ada infeksi di dalam rectum
Lama narkose 20-30 menit.

Obat-obat anastesia intravena


adalah obat anastesia yang
diberikan melalui jalur intravena,
baik obat yang berkhasiat
hipnotik atau analgetik maupun
pelumpuh otot.

Dalam praktek anastesia, obat-obat


anastesia intravena adalah :
Thiopentone
Methotheksital
Althesid
Propanilidid
Gamma

hidroksi butirik
Ketamin hidrokhlorida
Etomidat
Dihidrobenzperidol
Diazepam
Analgetik narkotik
Midazolam
Di- iso propil fenol atau propofol

Obat-obat anastesia yang sampai


saat ini ada dan sudah ada di
pasaran indonesia serta umum
digunakan dalam praktik anastesia :
Thiopentone
Diazepam
Dihidrobenzperidol
Fentanil
Ketamin hidrokhlorida
Midazolam
Di- iso propil fenol atau propofol

Thiopentone
Berupa bubuk yang berwarna
putih kekuningan, bersifat
higroskopos, rasanya pahit,
berbau seperti bawang putih dan
sediaannya selalu dicampur
sodium karbonat anhidrous,
sehingga mudah larut dalam air

Efek farmakologi
Terhadap

sistem saraf pusat


obat ini sangat cepat berdifusi ke
jaringan otak dan efeknya akan
segera tampak dalam 30 detik
Derajat depresinya sangat
bergantung dari dosis yang
diberikan. Makin tinggi dosis yang
diberika , depresinya makin berat.

Terhadap

sistem respirasi
menimbulkan depresi pusat nafas
menyebabkan pasien henti nafas

Terhadap

sistem kardiovaskular
penurunan tekanan darah yang
sangat bergantung dari konsentrasi
obat dalam plasma

Terhadap

otot rangka dan uterus


Pada dosis lazim tidak ada
pengaruhnya terhadap tonus otot
rangka dan uterus yang hamil

Terhadap

metabolisme
Menurunkan laju metabolisme sel
sehingga konsumsi O2 akan
berkurang sesuai dengan dalamnya
anastesia

Reaksi thiopenton dalam tubuh


Pada

pemberian intravena,
segera didistribusikan ke seluruh
jaringan tubuh, selanjutnya diikat
oleh jaringan saraf dan jaringan
lain yang kaya dengan
vaskularisasi

secara

perlahan akan mengalami


difusi kedalam jaringan lain
seperti : hati, otot, jaringan

Setelah

terjadi penurunan dosis obat


dalam plasma konsentrasi dalam
otak juga akan turun.
Dalam darah diikat oleh protein
plasma.
Pemecahannya terutama di hati dan
ekskresinya melalui urin dan feses
dalam bentuk hasil metabolit.

Tidak boleh diberikan pada


pasien yang menderita
Penyakit

paru obstruksi menahun


Dekompensasi kordis
Syok yang berat
Insufisiensi adrenokortikal
Status asmatikus

Dosis dan cara pemakaian


Untuk

induksi, dibuat dalam


larutan akuades atau NaCL 0.9%
dengan konsentrasi 2,5% atau
5,0%.
Dosis untuk induksi adalah 4-5
mg/KgBB, diberikan intravena
pelan-pelan.

Ketamin hidrokhlorida
Ketamin hidrokhlorida adalah
golongan fenil sikloheksilamin
merupakan rapid acting non
barbiturat general anastesia
Merupakan larutan tidak
berwarna, bersifat agak asam
dan sensitif terhadap udara dan
cahaya

Efek farmakologi
Terhadap

susunan saraf pusat


menyebabkan mimpi buruk dan
halusinasi, sehingga pasien
mengalami agitasi. Aliran darah
ke otak meningkat, menimbulkan
peningkatan intrakranial.
Efek-efek tersebut dikurangi
dengan pemberian diazepam
atau obat lain yang mempunyai
khasiat amnesia

Terhadap

mata
Menmulkan lakrimasi, nistagmus dan
kelopak mata terbuka spontan

Terhadap

sistem kardiovaskular
Ketamin adalah obat anastesia yang
bersifat simpatomimetik, sehingga
bisa meningkatkan tekanan darah
dan denyut jantung.

Terhadap

sistem respirasi
Pada dosis biasa, tidak mempunyai
pengaruh terhadap sistem respirasi
bila menimbulkan respirasi bronkus
karena sifat simpatomimetiknya,
sehingga merupakan obat pilihan
pada pasien asma.

Terhadap

pada otot
Tonus otot bergaris meningkat,
bahkan bisa terjadi rigiditas sampai
kejang-kejang.

Terhadap

reflek-reflek proteksi
Refleks proteksi jalan nafas masih
utuh, oleh karena itu hendaknya
hati-hati melakukan isapan pada
daerah jalan nafas atas

Terhadap

metabolisme
Ketamin merangsang sekresi
hormon-hormon katabolik seperti :
katekolamin, kortisol, glukagon dan
tiroksin sehingga laju katabolisme
meningkat

Dosis dan cara pemberian


Untuk

induksi
Diberikan intravena dalam
bentuk larutan 1 dengan dosis
lazim 1-2mg/KgBB pelan-pelan.
Untuk pemeliharaan
Pemberian secara intermiten
diulang setiap 10-15 menit
dengan dosis setengah dari dosis
awal

Propofol
Merupakan derivat fenol dengan
nama kimia di-iso profil fenol
yang banyak dipakai sebagai
obat anastesia intravena
Berupa cairan berwarna putih
seperti susu, tidak larut dalam air
dan bersifat asam.

Efek farmakologi
Terhadap

susunan saraf pusat


Penurunan kesadaran segera terjadi
setelah pemberian obat ini secara
intravena

Terhadap

sistem respirasi
Menimbulkan depresi respirasi yang
beratnya sesuai dengan dosis yang
diberikan. Pada beberapa pasien, bisa
disertai dengan henti nafas sesaat

Terhadap

sistem kardiovaskular
Depresi pada sistem kardiovaskular
yang ditimbulkan sesuai dengan
dosis yang diberikan.

dosis
Induksi anastesia, dosisnya 2,02,5mg/KgBB. pada lansia dan
bayi dosis ini harus disesuaikan

ANESTESI INHALASI
anestesi umum yang dihasilkan oleh
uap obat anestesi ( volatile) masuk
dalam tubuh melalui pernafasan.
Perkembangan obat anestesi
mengalami banyak perbaikan.
Contoh obat anestesi inhalasi
adalah: Ether, halothane, enflurane,
Isoflurane, Sevoflurane, desflurane,
N2o.

Syarat obat anestesi yang


ideal
1. Berbau enak, tdk merangsang
nafas, shg induksi cepat dan
lancar.
2. Mempunyai daya kelarutan gas
rendah
3. Stabil dalam penyimpanan, tdk
terpengaruh pada bahan/sirkuit
anestesi dan absorber.
4. Tidak mudah terbakar/meledak

5. Harus mampu menghilangkan


kesadaran, menghasilkan anelgesi
dan relaksasi otot.
6. Harus cukup kuat dan bisa diberikan
dengan kadar O2 tinggi
7. Harus tidak dimetabolisme tubuh,
tidak toksis, tidak menimbulkan
reaksi alergi.
8. Harus menghasilkan depresi
minimal pada Kardiovaskular dan
sistem respirasi, tidak saling
mempengaruhi dengan obat lain
yang sering digunakan dlm anestesi

HALOTAN
Adalah obat anestesi golongan
hidrokarbon berhalogen yang
tidak dapat terbakar atau
meledak.

Efek farmakologi
Terhadap

sistem saraf pusat


dapat menurunkan tahanan vaskuler
otak dan meningkatkan aliran darah otak
dengan jalan melebarkan pembuluh
darah otak.

Terhadap

sistem kardiovaskular
Terjadi depresi otot jantung sesuai
kedalaman anestesi dan depresi
langsung S-A node, relaksasi otot polos
dan inhibisi baroreseptor

Terhadap

sistem respirasi
Halotan menyebabkan pernafasan
yang cepat dan dangkal, karena
depresi sentral
( medulla) dan perifer ( disfungsi
otot interkostal).

Terhadap

ginjal
Terjadi penurunan aliran darah ginjal,
filtrasi glomeruler dan produksi urin
oleh karena turunnya tekanan darah
arterial

Terhadap

hati
Pada konsentrasi 1,5vol% akan
menurunkan aliran darah pada
lobulus sentral hati.
penurunan aliran darah pada pada
lobus sentral ini menyebabkan
nekrosis sel pada sentral hati,

Dosis :
Untuk induksi : konsentrasi yang
diberikan pada udara inspirasi adalah
2,0-3,0% bersama dengan N2O.
Untuk pemeliharaan dengan pola
nafas spontan, konsentrasinya
berkisar antara 1.0-2,5%, sedangkan
untuk nafas kendali berkisar antara
0,5-1,0%.

kontraIndikasi
penggunaan halotan tidak
dianjurkan pada pasien :
Menderita gangguan fungsi hati
dan gangguan irama jantung
Operasi kraniotomi.

ENFLURANE
Merupakan obat anastesia
inhalasi yang termasuk turunan
eter.
Dikemas dalam bentuk cair, tidak
berwarna, tidak iritatif, berbau
agak harum, tidak eksplosif, lebih
stabil dibandingkan dengan
halotan

Efek farmakologi
Terhadap

sistem saraf pusat


Pada dosis tinggi menimbulkan
twitching ( tonik-klonik ) pada
otot muka dan anggota gerak
tidak dianjurkan pada pasien
yang mempunyai riwayat epilepsi

Terhadap

sistem kardiovaskular
Secara kualitatif efeknya sama dengan
halothane .walaupun enfluran
meningkatkan kepekaan otot jantung
terhadap katekolamin.

Terhadap

sistem respirasi
Menimbulkan depresi respirasi sesuai
dengan dosis yang diberikan.volume tidal
berkurang tetapi frekuensi nafas hampir
tidak berubah.

Terhadap

ginjal
Dapat menurunkan Darah ginjal,
menurunkan laju filtrasi ginjal dan
akhirnya menurunkan diuresis.
pemecahan enfluran menghasilkan
metabolit flourida anorganik, tetapi
konsentrasi dalam plasma tidak
pernah mencapai konsentrasi yang
nefrotoksik.

Terhadap

otot rangka
Menurunkan tonus otot skelet
melalui mekanisme depresi pusat
motoris pada serebrum

Terhadap

uterus
Menimbulkan depresi tonus otot
uterus, namun respon uterus
terhadap oksitosin tetap baik

Terhadap

hati
Terjadi gangguan fungsi hati yang
ringan
sekitar 2,0-8,0% dari dosis yang
diberikan mengalami metabolisme di
hati

Dosis :
Untuk induksi, konsentrasi yang
diberikan pada udara inspirasi adalah
2,0-3,0% bersama dengan N20
Untuk pemeliharaan dengan pola
nafas spontan konsentrasinya
berkisar antara 1,0-2,5%, sedangkan
nafas kendali 0,5-1,0%

ISOFLURANE
Daya kelarutannya paling kecil,
shg kadar dalam alveolus mudah
tercapai keseimbangannya, lebih
bersifat iritasi dibanding dengan
halothan

Efek farmakologi
Terhadap

sistem saraf pusat


Meningkatkan aliran darah otak
( ADO) dan TIK, tapi lebih kecil
dibanding obat anestesi lain
Sistem kardiovaskular
depresinya lebih kecil daripada
halothan dan enflurane

Terhadap

sistemRespirasi:
bersifat bronkodilator walau
mengiritasi jalan nafas, jarang
terlihat takipnea.

Terhadap

Metabolisme
Metabolisme utamanya dalam
bentuk oksidasi , difluorometanol
yang dipecah menjadi asam asetat,
minimal dan tidak bersifat toksis
terhadap ginjal dan hepar

SEVOFLURAN
Merupakan halogenasi eter,
dikemas dalam bentuk cairan,
tidak berwarna, tidak eksplosif,
tidk berbau dan tidak iritatif
sehingga baik untuk induksi
inhalasi

Efek farmakologi
Terhadap

sistem saraf pusat


Efek depresinya hampir sama
dengan isofluran. Aliran darah
otak sedikit meningkat sehingga
sedikit meningkatkan tekanan
intrakranial.

Terhadap

sistem kardiovaskular
Relatif stabil dan tidak menimbulkan
aritmia selama anesthesi dengan
sevofluran

Terhadap

sistem respirasi
Menimbulkan depresi nafas yang
derajatnya sebanding dengan dosis
yang diberikan.

Terhadap

otot rangka
Efeknya terhadap otot rangka lebih
lemah dibandingkan isofluran

Terhadap

ginjal
Efek terhadap aliran darah ginjal dan
filtrasi glomerolus lebih ringan
dibandingkan dengan isofluran

terhadap

hati
tidak toksik dan tidak menimbulkan
gangguan fungsi hati.

Biotransformasi

Hampir seluruhnya dikeluarkan


melalui udara ekspirasi, hanya
sebagian kecil 2-3%
Dimetabolisme dalam tubuh

Dosis :
Untuk induksi, konsentrasi yang
diberikan pada udara inspirasi adalah
3,0-5,0% bersama dengan N20
Untuk pemeliharaan dengan pola
nafas spontan konsentrasinya
berkisar antara 2,0-3,0%, sedangkan
nafas kendali 0,5-1,0%.

BAB III LAPORAN KASUS


Identitas pasien
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
MR : 86.39.35
Usia: 65 tahun

Evaluasi pre-anestesi
Anamnesis
Keluhan Utama :
Seorang pasien perempuan usia 65 tahun datang ke IGD
RSUP Dr.M.Djamil Padang pada tanggal 30 Desember
2014 dengan keluhan nyeri perut dan kembung sejak 1
minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasein mengeluhkan nyeri perut ketika disentuh sejak 1
minggu yang lalu
Nyeri semakin bertambah ketika ditekan
Pasien mengeluhkan tidak BAB sejak 2 hari sebelum
masuk rumah sakit
Pasien tidak demam
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien telah diketahui ,menderita DM dan Hipertensi.
Riwayat alergi obat (-)

Anamnesis penyulit anestesi :


Asma tidak ada
Alergi tidak ada
Hipertensi tidak ada
DM ada
Angina pectoris tidak ada
Kejang tidak ada
Penyakit hati tidak ada
Penyakit ginjal tidak ada
Kelainan kardiovaskuler tidak ada

Riwayat obat yang sedang/telah digunakan


Anti hipertensi tidak ada
Anti reumatik tidak ada
Anti diabetes ada
Obat jantung tidak ada

Riwayat operasi sebelumnya :


ada

Riwayat anestesi sebelumnya :


ada

Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum

BB :

46 kg

TB :

152 cm

Mata

Breathing (B1)

sedang

konjungtiva anemis

Airway : bebas, tidak ada obstruksi, tidak ada potensial obstruksi


Breathing : Frekuensi 16x / menit, irama teratur

Blood (B2)
Perfusi baik, akral hangat kering dan merah.Nadi : 89 x / menit, kuat angkat,
teratur
Tekanan Darah : 130/80 mmHg

Brain (B3)
Kesadaran

: soporous

GCS 15 : E4M6V5. Tidak ada defisit neurologis, tidak ada lateralisasi

Bladder (B4)

Pasien terpasang kateter, dengan volume urin 700cc, warna kuning pekat

Bowel (B5)

Mual tidak ada, muntah tidak ada, BAB (-) sejak 2 hari yang lalu

Bone (B6)

Udem tidak ada, fraktur tidak ada

Hasil Laboratorium
Darah
Hb : 12,5 g/dl
Ht : 37%
Leukosit : 15200
Trombosit : 343.000
PT : 12,8 s
APTT : 55,5 s
Ureum : 64 mg%
Kreatinin : 1,0 mg%
Gula darah sewaktu : 188 g/dl
Na/K/Cl : 140/4,3/105

Hasil Konsul Interne


Hasil : pada pasien ini untuk dilakukan
tindakan dalam narkose :
Risiko kardiovaskuler, metabolic,
cardiopulmonal secara umum
menjadi berat
Faal hemostasis stabil
Sebaiknya operasi dengan GD <200,
bila sebelum masuk OK GD> 200
post op lakukan Sliding scale
Rawat bersama sub endokrin

Diagnosis

: Peritonitis difus ec
perforasi gaster

Rencana : Laparatomi eksplorasy

Intra Operatif
Jenis Pembedahan

: Laparatomi eksplorasy

Diagnosis Pasca Bedah: Post Laparatomi atas indikasi peritonitis difus ac


perforasi gaster
Anestesia dengan : Sevoflurane, N2O, 02
Relaksasi dengan : Roculax
Teknik Anestesi : Induksi IV
Intubasi Apneu ETT no.7
Cuff (+)
Guedel (+)
Respirasi

: Control respirasi

Posisi

: Supine

Infus

: RL

Obat premedikasi :
Ranitidin 50 mg
Cendantron 4mg
Fortanest 1mg

Obat medikasi
Anestesi Intravena :
Fentanyl 100 g
Propofol 80 mg
Roculax 30 mg
Anestesi Inhalasi :
Oksigen 2liter
N2O 2 liter
Sevofluran 2liter

Monitoring yang dilakukan :

Terapi cairan :
Resusitasi

Kolf

cairan diberikan RL 2

Monitoring Post Operatif


Instruksi dokter yang diberikan untuk Medikasi
post operasi :
Meropenem

3x1 gram iv
Ketorolak 3x30 mg iv
Ranitidin 2x50 mg iv
Cedantron 3x4 mg
Vitamin K 3x1 ampul iv
Vitamin C 2x400 mg iv
Pasien sementara dipuasakan
Infus: tutofusin ops: 2000cc/24 jam
Anjuran: cek laboratorium lengkap

BAB IV
DISKUSI & PEMBAHASAN

Pada

kasus ini, awalnya dilakukan pemeriksaan


keluhan, pasien mengeluhkan perut nyeri yang
sangat saat ditekan disertai dengan perut yang
terasa kembung. Pasien juga mengeluhkan tidak
BAB sejak dua sebelum masuk rumah sakit. Atas
hal itu bagian IGD mengkonsulkan ke bagian
bedah. Selain pemerksaan perut, tekanan darah di
IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang juga diukur dengan
hasil 240/100.
Tekanan darah diturunkan di IGD sampai 130/80,
lalu pasien dinaikkan ke ruang operasi. Pasien
telah terpasang infus, dan infus mengalis lancar.
Cairan yang digunakan saat operasi adalah Ringer
Laktat. Resiko yang terjadi jika tidak segera
dilakukan operasi pada pasien dengan peritonitis
perforasi gaster adalah bisa membahayakan
nyawa pasien.

Pemilihan

teknik anestesi pada pasien


dengan peritonitis dan tindakan
laparatomi eksplorasi adalah karena
operasi yang dilakukan luas dan lama
Persiapan dimulai dari pemeriksaan
jalan nafas, ada tidaknya distress
pernafasan, tekanan darah, kesadaran
pasien dan pemeriksaan darah.
Pemilihan teknik anestesi harus diingat
bahwa pasien adalah geriatric. cardiac
output dan status cairan, harus tetap
dimonitor. Banyaknya organ yang
mengalami kemunduran fisiologis,

Pada kasus ini,


untuk

tindakan anestesi, obat-obat


anestesi yang diberikan yaitu:Untuk
tindakan anestesi, obat-obat anestesi
yang diberikan yaitu:
Premedikasi : Ranitidin 50 mg,
Cendantron 4mg, fortanes 1mg
Anestesi umum : Propofol 80 mg,
Roculax 30 mg, dan Fentanyl 100 ug
Maintenance : Oksigen 2liter/menit,
N20 2liter/menit, sevoflularan

Pada

pasien ini diberikan premedikasi


ranitidin 50 mg sebelum operasi untuk
meminimalkan timbulnya kejadian
pneumonitis asam akibat cairan
lambung.
Induksi anestesi adalah tindakan untuk
membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan
dimulainya anestesi. Obat-obatan yang
dipakai untuk induksi anestesi adalah
propofol, Roculax, dan fentanyl.

Propofol

bekerja cepat dalam


menginduksi dan kesadaran pasien
cepat pulih tanpa sekuele
mekanisme kerja propofol diduga
menghasilkan efek sedatif hipnotik
melalui interaksi dengan GABA
(gamma-amino butyric acid), yang
merupakan neurotransmitter
inhibitori utama pada SSP.
Propofol memiliki efek vasodilator
sehingga dapat menurunkan tekanan
darah.

Roculax

merupakan obat pelumpuh otot


non depolarisasi yang tidak
memengaruhi fungsi kardiovaskular
sehingga merupakan pilihan pada pasien
yang menderita kelainan fungsi
kardiovaskular, misalnya hipertensi.
Rumatan anestesi biasanya mengacu
pada trias anestesi yaitu tidur ringan,
analgesia cukup, dan relaksasi otot lurik
yang cukup. Pada pasien ini diberikan
maintenance oksigen dan N2O. Oksigen
diberikan untuk mencukupi oksigenasi
jaringan, sedangkan N2O sebagai
analgetik untuk pasien.

Karena

pada pasien ini ada riwayat DM maka


beberapa obat anestesi dapat meningkatkan gula
darah. Beberapa obat anestesi dapat mengakibatkan
perubahan di dalam metabolisme karbohidrat, tetapi
mekanisme dan tempat kerjanya belum jelas. Obatobat induksi dapat mempengaruhi homeostatis
glukosa perioperatif.
Pengaruh pada pasien diabetes belum terbukti.
Benzodiazepin akan menurunkan sekresi ACTH, dan
juga akan memproduksi kortisol jika digunakan
dengan dosis tinggi selama pembedah. Pengaruh
propofol pada sekresi insulin tidak diketahui Obat-obat
anestesi intra vena yang biasa diberikan mempunyai
efek yang tidak berarti terhadap kadar gula darah
kecuali ketamin yang menunjukkan peningkatan kadar
gula akibat efek simpatomimetikny

Diagnosis

terakhir dari pasien ini adalah


peritonitis difus ec perforasi gaster. . Dari
pemeriksaan post la[paratomi eksplorasi
di ICU ditemukan keadaan umum
sedang, kesadaran soporous, tekanan
darah 95/65 mmHg, nadi 83x per menit,
nafas 22x per menit dan suhu afebris.
Setelah selesai operasi, pasien langsung
di rawat di ICU batuan ventilator, untuk
mengatasi kegoncangan hemodinamik
dan tanda vital lainnya.

TERIMAKASIH