Anda di halaman 1dari 55

Workshop Peningkatan SDM di Bidang Hukum Bagi Aparat Lingkungan Kemenag

Provinsi Jatim Tahun 2015


Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Korupsi bagi PNS
(Memahami, Mencegah, Memberantas Korupsi)

PURPOSE OF LAW
Tentang Legal Expediency Kemanfaatan Hukum
adl : Hukum bukan merupakan alat penguasa yang bisa
setiap saat terjadi abuase of power atau abuse of
authority, namun berlakunya hukum harus bisa
bermanfaat demi ketertiban, dan kepentingan masyarakat
secara komprehensif.
Tentang Legal Certainty Kepastian Hukum adl :
suatau keadaan dimana hukum yang telah berlaku
haruslah mengandung nilai kepastian dan keyakinan atas
keberlakuanya sehingga tidak menyebabkan keresahan
dalam masyarakat.
Tentang Legal Justice Keadilan Hukum adl : hukum
haruslah menjadi sarana yang bisa memberikan keadilan
baik terhadap pelaku, korban, atau semua pihak yang baik
secara langsung maupun tidak langsung merasakan
dampak atas keberlakuaanya hukum tersebut.
2

Faktor Kendala Penegakan


Hukum di Indonesia
Soerjono Soekanto pengaruh perubahan sosial terhadap
proses penegakan hukum tergambar dari adanya
perubahan tata nilai dalam masyarakat.
Beberapa kendala dalam penegakan hukum yakni :
Faktor Politik
Faktor Perundang-undangan
Faktor Pemerintah
Faktor Aparat Penegak Hukum
Faktor Masyarakat
Faktor Sarana Prasarana
Minimnya memasukkan ilmu hukum dalam dunia
pendidikan
Faktor tidak disiplin sejak usia dini
Berkembangnya budaya budak
Kuatnya budaya ego yang tidak peduli terhadap
lingkungan sekitar

Konsep Penegakan Hukum Modern

Ultimum
Remidium

Retroaktif Justice

Premium
Remidium

Hukum sebagai
tujuan (penjeraan)

Mengenal Korupsi, Beserta


Peraturannya Dari Masa
Ke Masa

Istilah korupsi berasal dari bahasa Latin tertua yakni corrumpere yang
berkembang menjadi "corruptio"/corruptus (Latin) atau "corruption"
(Inggris) atau "corruptie"(Belanda) atau corrupt (Prancis), atau
korupsi (Indonesia) yang mana arti harfiahnya menunjuk pada
perbuatan yang rusak, busuk, tidak jujur yang dikaitkan dengan
keuangan (Sudarto, 1976:1).
Atau Korup=busuk=palsu=suap (KBBI 1991)

Apa Yang
Dimaksud
Dengan
Korupsi

Korupsi=pasal 362 KUHP=pencurian=perbuatan secara melawan


hukum mengambil barang sebagian/ seluruhnya milik orang lain
dengan maksud untuk memiliki (ada unsur memperoleh
keuntungan)
Korupsi=pasal 372 KUHP=penggelapan=pencurian barang/ hak
yang dipercayakan atau berada dalam kekuasaan si pelaku (ada
unsur penyalahgunaan kewenangan)
Dalam perkembanganya, Korupsi unsurnya lebih lengkap dan merupakan
tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) atau
menyalahgunakan kewenangan (abuse of authority) atau
menyalahgunakan kedudukan publik untuk kepentingan pribadi/
kelompok/ golongan tertentu .
6

Beberapa
Pendapat
Tentang
Korupsi I

Huntington menyebutkan bahwa korupsi adalah perilaku menyimpang


dari public official atau para pegawai dari norma-norma yang diterima dan
dianut oleh masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungankeuntungan pribadi (Huntington, 1968:59).
VitoTanzi mengemukakan bahwa korupsi adalah perilaku yang tidak
mematuhi prinsip, dilakukan oleh perorangan di sektor swasta atau pejabat
publik, keputusan yang dibuat berdasarkan hubungan pribadi atau keluarga
akan menimbulkan korupsi, termasuk juga konflik kepentingan dan
nepotisme (VitoTanzi, 1994).
Syed Hussein Alatas mengemukakan pengertian korupsi dengan
menyebutkan benang merah yang menjelujuri dalam aktivitas korupsi,
yaitu subordinasi kepentingan umum di bawah kepentingan tujuan-tujuan
pribadi yang mencakup pelanggaran norma-norma, tugas, dan
kesejahteraan umum, dibarengi dengan kerahasiaan, pengkhianatan,
penipuan dan kemasa bodohan yang luar biasa akan akibat-akibat yang
diderita oleh masyarakat. Menurutnya, "corruption is the abuse of trust in
the inferest of private gain" korupsi merupakan penyalahgunaan amanah
untuk kepentingan pribadi (Alatas, 1999:7).
Susan Rose Ackerman mengatakan bahwa korupsi sebagai
penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
All power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely
(Loard Action, April 1887)
7

Menurut Blacks Law Dictionary, 7th edition


Segala perbuatan yg dilakukan dgn maksud untuk memberikan
keuntungan yg tdk sesuai dgn hak-hak pihak lain, perbuatan dari
seseorang yg diberi kepercayaan atau pejabat publik yg secara salah
menggunakan karakternya untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya
sendiri maupun org lain.

Beberapa
Pendapat
Tentang
Korupsi II

F. Prick van Wely, 1946 : 95


Korupsi sebagai penggelapan uang (milik
menerima suap dlm hubungannya dgn
walaupun dari sudut hukum tdk persis sama.

negara
jabatan

atau kantor) dan


atau pekerjaan,

Jacob van Klaveren


Seorang pengabdi negara (pegawai negeri) yang berjiwa korup
menganggap kantor/instansinya sebagai perusahaan dagang, dimana
pendapatannya akan diusahakan semaksimal mungkin.
Transparency International
Perilaku dari pejabat-pejabat sektor publik (politikus atau pegawai
negeri), dimana mereka secara tdk benar dan secara melanggar hukum
memperkaya diri sendiri atau pihak lain yg dekat dgn mereka dgn cara
menyalahgunakan kewenangan publik yg dipercayakan kpd mereka.
8

Berbagai Peraturan Pemerintah Tentang Pencegahan


Dan Pemberantasan Tipikor
Tahun 1957 keluar Peraturan Penguasa Militer No. PRT/PM 06/1957 tentang Pemberantasan
Korupsi ;
Tahun 1958 keluar Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat No. PRT/ PERPU/
013/ 1958 tentang Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan Perbuatan Korupsi dan Pemilikan
Harta Benda dari Kepala Staf Angkatan Darat selaku Penguasa Perang Pusat Angkatan Darat ;
Tahun 1960 keluar Perpu No. 24/Prp/1960 tentang Pengusutan, Penuntutan, dan Pemeriksaan
Tindak Pidana Korupsi, yang menjadi undang-undang berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun
1961 ;
Tahun 1967 keluar Keppres No.228/1967 tanggal 2 Desember 1967 tentang Pembentukan Tim Tas
Korupsi yang mana bertugas membantu pemerintah dalam memberantas korupsi (pencegahan dan
penindakan) ;
Tahun 1970 keluar Keppres No.12 Tahun 1970 tanggal 31 Januari1970 tentang pembentukan
Komisi Empat yang mana bertugas menghubungi para pejabat, instansi, swasta, sipil atau militer,
guna memeriksa dokumen atau administrasi yang diduga terkait dengan tindak pidana korupsi.
Di tahun inilah cikal bakal terbentuknya Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
9

Tahun 1977 keluar Inpres No.9 Tahun 1977 tentang Operasi penertiban yang mana bertugas
melakukan pembersihan pungli, uang siluman, pembersihan aparat pemerintahan ;
Tahun 1982 untuk pertama kalinya dibentuk Tim Tas Tipikor ;
Tahun 1998 keluar Tap MPR No.XI/MPR/1998 tentang Pemerintahan yang bersih dan bebas dari
KKN ;
Tahun 1999 keluar UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas
KKN ;
Kemudian keluar Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.
Dan keluar pula Keppres No. 27 Tahun 1999 tentang Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara
Negara yang mana bertugas sebagai pemeriksa kekayaan pejabat negara ;
Tahun 2000 keluar PP No. 19 Tahun 2000 tentang Tim Gabungan Pemberantasan Tipikor yang mana
bertugas memberantas tipikor yang sulit ditangani.
Kemudian keluar Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Tahun 2002 keluar UU No. 30 Tahun 2002 tentang Pembentukan KPK ;
Tahun 2004 keluarKeppres No. 59 Tahun 2004 tentang Pembentikan Pengadilan Khusus Tipikor ;
Tahun 2005 keluar Keppres No. 11 Tahun 2005 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pemberantasan
Tipikor.
10

Ciri-ciri Korupsi Di Indonesia (Alatas, 1983)

Dilakukan lebih dari satu orang


Merahasiakan motif
Selalu berhubungan dengan kekuasaan/ kewenangan
tertentu
Berlindung dibalik pembenaran hukum
Melanggar kaidah kejujuran dan norma hukum
Mengkhianati kepercayaan

11

Jenis, Penyebab, Dan Tipologi


Korupsi
Di Indonesia

12

Jenis
Korupsi

Syed Hussein Alatas mengembangkan 7 (tujuh) Tipologi Tindak Pidana


Korupsi sebagai berikut :
Korupsi Transaktif yaitu korupsi yang terjadi atas kesepakatan di antara
seorang donor/ pemberi dengan resipien/ penerima untuk keuntungan kedua
belah pihak (suap) ;
Korupsi Ekstortif yaitu korupsi yang melibatkan penekanan dan pemaksaan
terhadap orang lain, sehingga mereka yang terlibat atau orang-orang yang dekat
dengan para pelaku korupsi terhindar dari penegak hukum (gratifikasi) ;
Korupsi Investif yaitu korupsi yang berawal dari tawaran yang merupakan
investasi untuk mengantisipasi adanya keuntungan di masa datang
(keserakahan) ;
Korupsi Nepotistik yaitu korupsi yang terjadi karena perlakuan khusus baik
dalam pengangkatan kantor publik maupun pemberian proyek- proyek bagi
keluarga dekat (kolusi, nepotisme) ;
Korupsi Otogenik yaitu korupsi yang terjadi ketika seorang pejabat
mendapat keuntungan karena memiliki pengetahuan sebagai orang
dalam (insiders information) tentang berbagai kebijakan publik yang
seharusnya dirahasiakan (menjual rahasia, markus) ;
Korupsi Supportif yaitu perlindungan atau penguatan korupsi yang
menjadi intrik kekuasaan dan bahkan kekerasan (penyelengggara negara
sebagai pelindung perbuatan korupsi) ;
Korupsi Defensif yaitu korupsi yang dilakukan dalam rangka
mempertahankan diri dari pelaku pemerasan (beladiri sebagai alasan pemaaf).
13

Penyebab
Korupsi
Menurut
Ahli

Patrick Glynn, Stephen J. Korbin dan Moises Nairn yang


menyebabkan meningkatnya aktivitas korupsi, baik yang sesungguhnya
maupun yang dirasakan ada di beberapa negara, karena terjadinya
perubahan politik (Elliot, 1999: 11).
Syed Hussein Alatas, bahwa korupsi itu terjadi disebabkan oleh faktorfaktor antara lain ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam
posisi-posisi kunci yang mampu mempengaruhi tingkah laku yang
menjinakkan korupsi (Alatas, 1983).
Corruption is the abuse of trust in the inferest of private gain,
Korupsi merupakanpenyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi
(Alatas, 1999:7).

Penelitian yang dilakukan oleh BPKP, penyebab terjadinya korupsi di Indonesiaantara lain karena :
(i) moral yang rendah, (ii) sanksi yang lemah, (iii) disiplin yang rendah, (iv) sifat hidup yang
konsumtif, (v) kurangnya pengawasan dalam organisasi, (vi) contoh perilaku negatif dari atasan,
(vii) wewenang yang berlebihan, (viii) tersedianya kesempatan, (ix) budaya untuk memberi upeti,
(x) lemahnya pengawasan eksternal, (xi) lemahnya peran lembaga legislatif, (xii) peraturan yang
tidak jelas, (xiii) pengaruh lingkungan, (xiv) penghasilan yang rendah, dan (xv) sikap permisif
terhadap perilaku korupsi.
14

Faktor Penyebab Korupsi


Di Indonesia Secara Umum
Faktor Politik
Faktor Ekonomi
Faktor Nepotisme
Faktor
Kurangnya
Pengawasan
Faktor Rendahnya Moralitas
Dan Etika
Faktor Budaya

15

20 Penyebab Korupsi Di Indonesia


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

Sifat tamak
Ketimpangan penghasilan sesama Pegawai Negeri/ Pejabat Negara
Gaya hidup yang konsumtif
Penghasilan yang tidak memadai
Kurang adanya keteladanan dari pimpinan
Tidak adanya kultur organisasi yang benar
Sistem akuntabilitas di Instansi pemerintahan yang kurang memadai
Lemahya sistem pengendalian manajemen
Manajemen yang cenderung menutup perilaku korupsi dalam organisasinya
Nilai-nilai/ budaya perilaku negatif yang terjadi dalam masyarakat
Kesadaran masyarakat yang kurang atas dampak korupsi
Moral dan etika yang lemah
Kurangnya pembelajaran atas nilai-nilai Pancasila
Kebutuhan hidup yang mendesak
Perilaku malas bekerja
Ajaran agama yang tidak optimal penerapanya dalam kehidupan
Lemahnya penegakan hukum
Sanksi yang lemah
Faktor politik suatu bangsa
Budaya organisasi pemerintah yang negatif
16

JACK BOLOGNE yang dikenal


dengan TEORI GONE

M O R AL

NEEDS/
kebutuhan

GREEDS/
keserakahan

CORRUPTION
by...

ETIKA
EXPOSURES/
dipamerkan

OPPORTUNITY/CHANCE
kesempatan
17

10 Titik Rawan Korupsi


Di Indonesia
Pada 29 Maret 2012, telah ditandatangani nota kesepahaman antara Jaksa Agung Muda
Tindak Pidana Khusus, Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri dan Sekretaris
Jenderal tentang 10 (sepuluh) area rawan korupsi yang wajib dipantau bersama-sama.
Antara lain :
1. Pengadaan barang dan jasa Pemerintah;

2. Keuangan dan perbankan;


3. Perpajakan;
4. Minyak dan gas;
5. BUMN dan BUMD;
6. Kepabean dan cukai;
7. Penggunaan APBN, APBD, dan APBNP ataupun APBDP;
8. Aset negara dan daerah;
9. Pertambangan dan
10. Pelayanan Umum
18

Pelaku Korupsi di Indonesia

Dalam setiap perbuatan pidana termasuk didalamnya


Tindak Pidana Korupsi, pelaku yang terlibat adalah
setiap orang. Dalam hal ini bisa perorangan dan bisa
koorporasi yang terdiri atas :
yang melakukan (pleger)
yang menyuruh melakukan (doen pleger)
yang turut melakukan (medepleger)
yang memakai kekuasaan, kekerasan
kemudian membujuk melakuakan (uitlokker)
Dalam berbagai kasus Korupsi, selalu ada intektual
dadeer sebagai motor
utama dalam melakukan
perbuatannya. Tentu
hal ini mengarah adanya
tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)
atau menyalahgunakan kewenangan (abuse of
authority)
19

Rumusan Delik dalam UU RI No. 31 Tahun 1999 yang diperbarui dengan


UU RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasaan Tipikor
7 (tujuh) rumusan delik Tindak Pidana Korupsi yakni :
Berkaitan dengan merugikan keuangan negara atau perekonomian

negara

(pasal 2, 3 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001) ;


Berkaitan dengan

penyuapan, baik aktif (yang menyuap) maupun pasif (yang menerima

suap) (pasal 5, 6, 11, 12 huruf a,b,c,d, UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001) ;
Berkaitan dengan

pembangunan, leveransir, dan rekanan

(pasal 7 UU No.

31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001) ;


Berkaitan dengan

penggelapan (pasal 8, 9, 10 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20

Tahun 2001) ;
Berkaitan dengan

kerakusan/ keserakahan

(pasal 12 huruf e,f,g,h,i UU No. 31

Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001) ;

gratifikasi

(pasal 12B, 12C UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20

Berkaitan dengan pemberian

hadiah/ suap (pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU

Berkaitan dengan

Tahun 2001) ;
No. 20 Tahun 2001).
20

Dasar Tindakan (Represif) Terhadap Pelaku


Tindak Pidana Korupsi
Pasal 183 KUHAP yang menyatakan :
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya
Pasal 184 ayat (1) KUHAP yang menyatakan :
(1) Alat bukti yang sah ialah :
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan

21

Penjatuhan Pidana (Nestapa) Terhadap


Pelaku Tipikor
Yang wajib diterima oleh pelaku Tipikor meliputi :

1. Pidana Pokok (pidana badan)


2. Pengembalian Uang Penganti
3. Pidana Penjara Tambahan (subsidiair)
4. Denda
5. Pidana Pengganti Denda (subsidiair)
Ancaman pidana badan terendah : 1 (satu) tahun penjara
Ancaman pidana badan tertinggi : seumur hidup, hukuman mati
Ancaman denda terendah : Rp. 50 juta
Ancaman denda paling banyak
: Rp. 1 M

22

Penjatuhan Pidana (Nestapa) Mati


Ancaman pidana hukuman mati bisa diterapkan apabila :
Secara kasuistis terhadap pelaku tindak pidana korupsi dapat dituntut
hukuman mati, apabila perbuatannya memenuhi ketentuan Pasal 2
ayat (2) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
dan penjelasannya yang menjelaskan :
Yang dimaksud dengan keadaan tertentu dalam ketentuan ini
dimaksudkan sebagai pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi
apabila tindak pidana korupsi itu dilakukan pada waktu negara
dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang
berlaku, pada waktu terjadinya bencana alam nasional, sebagai
pengulangan tindak pidana korupsi, atau pada waktu negara
dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter.
23

Putusan Mahkamah Agung RI Terhadap


Pelaku Tipikor
Ketentuan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 42/ K/ KR/ 1966
tanggal 08 Januari 1966 yang berbunyi :
Suatu tindakan pada umumnya dapat hilang sifatnya sebagai melawan
hukum, hanya berdasarkan suatu ketentuan dalam perundangundangan, melainkan juga berdasarkan azas-azas keadilan atau
azas-azas hukum yang tidak tertulis dan yang bersifat umum,
dalam perkara ini misalnya faktor-faktor : negara tidak
dirugikan, kepentingan umum dilayani, dan terdakwa sendiri
tidak mendapatkan untung.

24

Dampak
Dan
Modus Korupsi
Di Indonesia

25

Dampak Perbuatan
Korupsi Secara Umum

1. Aspek kekayaan dan aset negara, yang telah beralih secara tidak sah ketangan koruptor
2. Aspek kerusakan lingkungan dan fisik
3. Aspek hancurnya moral dan etika bangsa
4. Aspek struktur sosial/ masyarakat yang tidak sesuai dengan norma bangsa
5. Menurunya kualitas pelayanan publik
6. Terenggutnya hak-hak dasar sebagai warga negara
7. Rusaknya sendi-sendi prinsip dari sistem pengelolaan keuangan negara
8. Meningkatnya kesenjangan sosial
9. Hilangnya kepercayaan investor
10.Terjadinya degradasi moral dan etos kerja
11. Berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah
12. Berkurangnya kewibawaan pemerintah dalam masyarakat dan pergaulan dunia
13. Menyusutnya pendapatan negara
14. Rapuhnya keamanan dan ketahanan negara
15. Rusaknya mental bangsa
16. Hilanganya kewibawaan hukum
17. Meningkatnya kejahatan dan pelanggaran hukum
26

PELAYANAN PUBLIK
TERABAIKAN
HAK AZASI MANUSIA
TERLANGGAR

DEMOKRASI
TERCEDERAIA

HANCURNYA
KUALITAS
HIDUP/
PENDIDIKAN

THE EFFECT OF
CORRUPTION
Berdampak pada
beberapa ASPEK
VITAL

PASAR
TDK STABIL

TDK ADA KESINAMBUNGAN


PEMBANGUNAN

KESEJAHTERAAN
UMUM TERABAIKAN
PENEGAKAN HUKUM
YG TDK TEGAS

27

TERGOLONG TINGGI BAIK KUANTITAS MAUPUN


KUALITAS
PELANGGARAN TERHADAP HAK AZASI MANUSIA
(HAK EKONOMI DAN SOSIAL BUDAYA)
MENINGKAT
TERJADI SECARA SISTEMIK DAN MELUAS

DI GOLONGKAN EKSTRAORDINARY CRIME

HARUS DAPAT DITANGANI SECARA


EKSTRAORDINARY PULA
28

10 Modus Korupsi Yang


Sering Terjadi

1.
2.
3.
4.

Penyuapan (bribery)
Penggelapan (emblezzemen)
Pemalsuan (fraud)
Penyalahgunaan wewenang (abuse of power,
abuse of authority)
5. Usaha/ perbuatan sendiri tanpa melibatkan
pihak lain (internal trading)
6. Pemerasan (extortion)
7. N e p o t i s m e
8. Pilih Kasih/ main tunjuk sesukanya (favoritism)
9. Menerima Komisi/persekongkolan (comission)
10.Sumbangan illegal (illegal contribution)

29

Peran Serta Masyarakat Dalam Pencegahan


KKN

30

Dasar
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945
Berbagai Ketetapan MPR :
Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.


Ketetapan MPR RI Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan.
Mengamanatkan perlu diwujudkan masyarakat Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis,
adil, sejahtera, maju, mandiri serta baik dan bersih dalam penyelenggaraan negara sesuai dengan arah
kebijakan dan kaidah pelaksanaannya
Ketetapan MPR RI Nomor VIII/MPR/2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Pemberantasan dan
Pencegahan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Pasal 41 ayat (5) dan pasal 42 ayat (5) UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang
Tipikor
PP Nomor 71 Tahun 2000 tanggal 21 Agustus 2000, tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta
Masyarakat Dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
Peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi diwujudkan
dalam bentuk antara lain mencari, memperoleh, memberikan data atau informasi tentang tindak
pidana korupsi dan hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi.
31

Upaya Yang Harus Kita Lakukan


dalam mengurangi Korupsi
Menurut Jeremy Pope adalah dengan meningkatkan integritas nasional (Pope, 2003)
Meningkatkan peran serta masyarakat
Secara Preventif dengan melakukan upaya pencegahan dini dengan memperkuat iman

(nilai-nilai kerohanian), sosialisasi pencegahan korupsi melalui


peningkatan pendidikan/ akademik, luhkum, penkum, seminar, lokakarya, di masingmasing sektor
Secara Persuasif yaitu berupa upaya untuk menghilangkan penyebab korupsi,
menghilangkan peluang melakukan korupsi dan semaksimal mungkin mencegah
terjadinya korupsi ;
Secara Detektif yaitu berupa upaya untuk menampilkan suatu informasi apabila
korupsi sudah terjadi dan semaksimal mungkin dapat diidentifikasikan dalam waktu
yang sesingkat mungkin ;
Secara Represif yaitu upaya semaksimal mungkin memproses pelaku korupsi yang
sudah diidentifikasikan menurut ketentuan hukum secara cepat, tepat dengan tingkat
kepastian hukum yang tinggi meliputi proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan
pemeriksaan di persidangan/ putusan pengadilan.
32

Melakukan

3 (tiga) pendekatan
konkret yakni : Hukum, Ekonomi, dan
Moral terhadap berbagai sektor dalam
pemerintahan yang tertuang dalam
stranas
Adanya pemimpin yang berani, bersih,
jujur, bermoral tinggi sehingga
menjadi teladan
Pencegahan korupsi berfokus pada
perbaikan
sistem
(hukum,
kelembagaan, ekonomi) dan perbaikan
manusianya (moral, kesejahteraan,
pendidikan)
Peningkatan dukungan political will
country, political will
parlemen,
political will governance, political will
law enforcement
33

Bagaimana Cara Memerangi KKN....?


Perlu dukungan political will (kemauan dari peran politik), semangat & etos anti

KKN yang kuat dari pemerintah


Adanya dukungan pimpinan, tokoh, orang tua/ keluarga, lingkungan, pendidik
baik formil/ informil sebagai Panutan
Orang yang berkepribadian seperti inilah yang mampu menjadi teladan. Sedangkan
unsur keteladanan ini mutlak dimiliki kalangan atas, agar dapat dicontoh dan diikuti
oleh seluruh jajarannya.(Lopa dalam Achmad AM, 2002:73)
Adanya kemauan pemerintah untuk menciptakan strategi nasional memerangi
KKN khususnya melalui pendidikan dini pencegahan KKN di setiap jenjang
pendidikan baik formal maupun informal, serta sosialisasi tentang bahaya KKN
terhadap masyarakat sebagai amanah pasal 41 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20
Tahun 2001 tentang Tipikor
Perlu dukungan perlengkapan anti korupsi, guna terciptanya pelaksanaan
prinsip tata pemerintahan yang baik dan bersih (good n clean governance),
akuntabel, dan transparansi
Harus ada pemberian reward terhadap peran serta masyarakat sebagai pelaku
dalam pencegahan/ pemberantasan KKN (sebagaimana amanah dalam BAB III PP
No. 71 Tahun 2000 tentang Pemberian Penghargaan berupa Piagam dan atau Premi
dari penegak hukum atas peran serta masyarakat dalam pengungkapan korupsi) jo
pasal 42 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Tipikor
34

Whistle Blower dan Justice Collaborator


Whistle Blower dan Justice Collaborator dalam penanganan kasus korupsi dikutip

dari Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011 tentang
Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistle Blower) dan Saksi Pelaku yang
Bekerjasama (Justice Collaborator) di dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu.
Whistle blower adalah pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana
tertentu dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya.
Justice collaborator merupakan salah satu pelaku tindak pidana tertentu, mengakui
yang dilakukannya, bukan pelaku utama dalam kejahatan tersebut serta memberikan
keterangan sebagai saksi di dalam proses peradilan.
Yang dimaksud sbg. Tindak Pidana Tertentu (selain tindak pidana korupsi) yakni
tp. terorisme, tp. narkotika, tp. pencucian uang, tp. perdagangan orang, maupun
tindak pidana lainnya yang bersifat terorganisir yang menimbulkan masalah dan
ancaman serius bagi stabilitas dan keamanan masyarakat.
35

Keberadaan dua istilah ini bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi publik dalam

mengungkap suatu tindak pidana tertentu tersebut. Salah satu acuan SEMA adalah pasal 37
ayat (2) dan ayat (3) Konvensi PBB Anti Korupsi (United Nations Convention Against
Corruption) tahun 2003. Ayat (2) berbunyi, setiap negara peserta wajib
mempertimbangkan, memberikan kemungkinan dalam kasus-kasus tertentu mengurangi
hukuman dari seorang pelaku yang memberikan kerjasama yang substansial dalam
penyelidikan atau penuntutan suatu kejahatan yang diterapkan dalam konvensi ini.
Ayat (3) berbunyi, setiap negara peserta wajib mempertimbangkan kemungkinan sesuai
prinsip-prinsip dasar hukum nasionalnya untuk memberikan kekebalan dari penuntutan bagi
orang yang memberikan kerjasama substansial dalam penyelidikan atau penuntutan (justice
collaborator) suatu tindak pidana yang ditetapkan berdasarkan konvensi ini.
Whistle blower atau saksi pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun
perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang atau yang telah diberikan.
Sedangkan justice collaborator atau saksi sekaligus tersangka dalam kasus yang sama tidak
dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila terbukti secara sah dan meyakinkan
bersalah. Namun, kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan
pidananya
36

KARAKTER seseorang bukanlah harga mati melainkan dapat dirubah

Karakter dapat dibentuk melalui MINDSET


MINDSET merupakan cara berfikir seseorang yang mempengaruhi cara dalam
berkomunikasi dan cara bertindak
Menurut James Arthur penulis The Sciense of Succes menerangkan bahwa :
mindset sebagai total dari keyakinan, nilai-nilai identitas, ekspektasi, sikap,
kebiasaan, opini, dan pola pikir tentang diri, orang lain, dan bagaimana hidup
berlangsung. Mindset dapat dibentuk lewat pikiran. Pikiran positif akan
melahirkan mindset yang baik hingga membentuk karakter positif. Kalimat positif
akan lebih mudah direspon dan direkam otak bawah sadar untuk membentuk pola
pikir yang baik. Sebaliknya, kalimat negatif akan susah mewujudkan mindset
positif..
Mewujudkan manusia dalam tataran good n clean governance yang
berkarakter, harus didukung dengan individu yang memiliki pribadi yang bersih.
Itu akan terbentuk melalui mindset positif yang diimplementasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Keyakinan positif, ucapan positif, dan pikiran positif yang
selalu diaplikasikan akan mampu menelurkan pribadi berkarakter mulia dengan
harapan tercapainya aparatur yang berkualitas

Kalau Anda menginginkan


perubahan kecil, ubahlah
perilaku Anda.
Tetapi bila Anda menginginkan
perubahan besar dan mendasar,
ubahlah pola pikir Anda
-

Stephen Covey

Memulai Sebuah Perubahan Dari Diri Kita


Sendiri
mindset bisa diubah dan dikembangkan dari waktu ke waktu
mindset bisa diubah dengan cara mempengaruhi komponen
pembentuk mindset yaitu pengetahuan dan pengalaman positif
Perubahan mindset ditempuh dengan cara :
1. Menggali pengetahuan baru yang bermanfaat
2. Aspek adanya fasilitas pembelajaran (sarana/ prasarana yang
memadai)
3. Melakukan interaksi dengan orang atau konteks lain yang
mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang lebih
4. Selalu berusaha menciptakan pengalaman-pengalaman lainnya yang
lebih maju dan berkembang.

Perubahan Mindset Dalam Institusi Atau Lembaga


Pemerintahan
Bekerja untuk kepentingan institusi
bukan kepentingan atasan.
LOYALITAS UNTUK INSTITUSI bukan ATASAN

Menanam dan menumbuh kembangkan


cinta institusi sebagai pengemban amanah

Membentuk aparatur pemerintahan yang


bertanggung jawab dan bertindak
jujur,adil,manusiawi sesuai aturan
Aspek munculnya Transparancy,
Accountability,
Responsibility, Independency , Fairness

Good n Clean Governance


Good n clean governance mencakup semua proses dan tindakan suatu
K/L/D/I/Sektor Publik (legislatif, eksekutif, dan yudikatif)/ Organisasi
masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, mengendalikan
dan mempertanggungjawabkan tindakannya sesuai dengan
kewenangan, fungsi dan tugas pokok yang ditetapkan pada peraturan
perundang-undangan serta untuk mencapai tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan secara efektif dan efisien.

Tujuan Yang Diharapkan


keharusan

keharusan
keharusan

a. Democracy;
b. Law culture;
c. Fairness

a.
b.
c.
d.
e.

Transparancy;
Accountability;
Responsibility;
Independency;
Fairness.

a.
b.
c.
d.
e.

Democracy;
Transparancy;
Accountability;
Law culture;
Fairness.

Good n clean governance


Yang berkesinambungan, akan menciptakan
iklim sehat dalam setiap sektor yang bebas
KKN

Menyadari Pelaksanaan Governance/


Representatives Yang Berkesinambungan

Rakyat/ Masyarakat Bagian


Dari Good n Clean Governance

Transparansi Tata Kelola Pemerintahan Yang


Akuntabel
PEMERINTAH
(Legislatif,
Eksekutif,Yudikatif)

REGULASI

MASYARAKAT
ASPEK ETIKA &
NILAI SOSIAL
YANG
BERKESINAMBUNGAN

ASPEK LEGAL
FORMAL YANG
TERARAH

ASPEK
MANAJEMEN
PEMERINTAHAN

ASPEK PENGEMBANGAN SDM


YANG BERMUTU

ASPEK KELEMBAGAAN YANG


SALING
MENDUKUNG
46

Langkah Sederhana Sipil Society Guna Mencapai


Optimalisasi Pencegahan Korupsi
Langkah strategis meningkatkan Optimalisasi Kinerja :
1.Siap dan terus melakukan perubahan mindset sesuai tuntutan kebutuhan
2. Amanah dilaksanakan secara bertanggungjawab
3. Selalu update dalam penguasaan ilmu, hal ini mutlak dilakukan untuk
menjawab perkembangan Iptek yang cepat berubah
4. Ilmu yang dimiliki diwujudkan dalam tindakan nyata
5.Jadikan diri anda sebagai garda terdepan sebagai agen perubahan melalui
perubahan Mindset yang terus diperbaharui dalam mewujudkan good n clean
governance
6.Hilangkan budaya budak, mindset pola budak

Pancasila, Dan Integritas,


Merupakan Modal Utama
Pencegahan Dan
Pemberantasan Tipikor

48

Kembali Kepada Pancasila Sebagai


Satu-satunya Falsafah Bangsa
- Jadikan keberadaan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang hakiki

- Jadikan Pancasila sebagai ideologi perlawanan terhadap Korupsi yang sudah


sedemikian akut
- Pancasila memiliki pandangan moral luar biasa yang terkandung dalam setiap
sila-silanya
Latif (2011; 41-42), mengemukakan bahwa Pancasila merupakan sumber jati diri,
kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa. Sebagai basis moralitas dan
haluan kebangsaan-kenegaraan, Pancasila memiliki landasan ontologis, epistemologis,
dan aksiologis yang kuat dalam mana setiap sila memiliki justifikasi historis, rasional
dan aktual yang dipahami, dihayati, dipercayai, dan diamalkan secara konsisten
sehingga dapat menopang pencapaian-pencapaian agung peradaban bangsa ini.

I N T E G R I TAS
Istilah integritas berasal dari bahasa Inggris yakni integrity, yang berarti menyeluruh, lengkap
atau segalanya.
Kamus Oxford menghubungkan arti integritas dengan kepribadian seseorang yang meliputi
jujur dan utuh.
Ada juga yang mengartikan integritas sebagai keunggulan moral dan menyamakan integritas
sebagai jati diri.
Integritas juga diartikan sebagai bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik.
Dengan kata lain integritas diartikan sebagai satunya kata dengan perbuatan.
Paul J. Meyer menyatakan bahwa integritas itu nyata dan terjangkau dan mencakup sifat
seperti : bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia.
Jadi, ketika kita berbicara tentang integritas, pastilah tidak pernah lepas dari kepribadian dan
karakter seseorang, yaitu sifat-sifat seperti dapat dipercaya, komitmen, tanggung jawab,
kejujuran, kebenaran, dan kesetiaan.
Baharudin Lopa menulis bahwa : Integritas moral tidak dapat dipisahkan dari budaya malu.
Seseorang yang bermoral sesuai dengan ajaran agama Islam tidak akan melakukan perbuatan
yang tidak terpuji, karena malu adalah sebagian dari iman.

Apakah Makna Integritas Bagi Kita


Pertama, integritas berarti komitmen dan loyalitas.
Apakah komitmen itu? Komitmen adalah suatu janji pada diri sendiri ataupun orang lain yang
tercermin dalam tindakan-tindakan seseorang. Seseorang yang berkomitmen adalah mereka
yang dapat menepati sebuah janji dan mempertahankan janji itu sampai akhir, walaupun harus
berkorban. Banyak orang gagal dalam komitmen. Faktor pemicu mulai dari keyakinan yang
goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidak mampuan mengatasi
berbagai persoalan kehidupan. Gagal dalam komitmen menujukkan lemahnya integritas diri
seseorang.
Kedua, integritas berarti tanggung jawab.
Tanggung jawab adalah tanda dari kedewasaan pribadi. Orang yang berani mengambil
tanggung jawab adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, dan
melakukan kewajiban dengan kemampuan yang terbaik. Peluang menuju sukses terbuka bagi
mereka. Sementara itu, orang yang melarikan diri dari tanggung jawab merasa seperti sedang
melepaskan diri dari sebuah beban (padahal tidak demikian). Semakin kita lari dari tanggung
jawab, semakin kita kehilangan tujuan dan makna hidup.
Kita akan semakin merosot, merasa tidak berarti dan akhirnya menjadi pecundang/ penghasut.

Ketiga, integritas berarti dapat dipercaya, jujur dan setia.


Kehidupan kita akan menjadi dipercaya, apabila perkataan kita sejalan dengan perbuatan kita.
Tentunya dalam hal ini yang kita pandang baik atau positif. Sebuah pribahasa mengatakan
kemarau setahun akan dihancurkan oleh hujan sehari, yang artinya segala kebaikan kita akan
runtuh dengan satu kali saja kita berbuat jahat.
Keempat, integritas berarti konsisten.
Konsisten berarti tetap pada pendirian. Orang yang konsiten adalah orang yang tegas pada
keputusan dan pendiriannya tidak goyah. Konsisten bukan berarti sikap yang keras atau kaku.
Orang yang konsisten dalam keputusan dan tindakan adalah orang yang memilih sikap untuk
melakukan apa yang benar dengan tidak bimbang, karena keputusan yang diambil
beradasarkan fakta yang akurat, tujuan yang jelas, dan pertimbangan yang bijak. Selalu ada
harga yang harus dibayar untuk sebuah konsistensi dimulai dari penguasaan diri dan sikap
disiplin.
Kelima, berintegritas berarti menguasai dan mendisiplin diri.
Banyak orang keliru menggambarkan sikap disiplin sehingga menyamakan disiplin dengan
bekerja keras tanpa istirahat. Padahal sikap disiplin berarti melakukan yang seharusnya
dilakukan, bukan sekedar hal yang ingin dilakukan. Disiplin mencerminkan sikap
pengendalian diri, suatu sikap hidup yang teratur dan seimbang.
Keenam, berintegritas berarti berkualitas.
Kualitas hidup seseorang sangat penting. Kualitas menentukan kuantitas. Bila kita berkualitas
maka hidup kita tidak akan diremehkan.

Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang bathil, dan
janganlah kamu sembunyikan yang baik sedang kamu mengetahuinya
(Q.S Al-Baqarah, ayat 42)
"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta
itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda
orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui
(Q.S Al-Baqarah, ayat 188)
Sesungguhnya beberapa orang yang mengambil hak Alloh dengan cara tidak
benar, maka bagi mereka pada hari kiamat akan masuk neraka
(Hadits Nabi Muhammad Rosullulloh SAW)

saja
u
k
A
nsip
i
p
a
puny
e for
m
i
t
.
I t s
y.....
t
s
e
hon

Its time for honesty

TERIMA KASIH
SEMOGA BERKAH DAN BERMANFAAT

55