Anda di halaman 1dari 24

MASALAH PROSES PENDELEGASIAN

WEWENANG TINDAKAN KEDOKTERAN


KEPADA BIDAN/PERAWAT

Oleh :
Dra. Sri Siswati, Apt. SH.M. Kes

TANTANGAN PELAYANAN
KESEHATAN DI MASA DEPAN

Meningkat kesadaran masyarakat


untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang bermutu.
Pentingnya pemahaman hak dan
kewajiban antar tenaga kesehatan
dan pasien.
Diperkenankan pendelegasian
wewenang dalam melaksanakan
tindakan kedokteran.

FILOSOFI UU NO. 36 TAHUN 2009


TENTANG KESEHATAN
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan
salah satu unsur kesejahteraan yang harus
diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa
Indonesia
sebagaimana
dimaksud
dalam
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan
salah satu unsur prinsip nondiskriminatif,
partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka
pembentukan sumber daya manusia Indonesia,
serta peningkatan ketahanan dan daya saing
bangsa bagi pembangunan nasional;

FILOSOFI UU KESEHATAN
Setiap hal yang menyebabkan terjadinya
gangguan kesehatan pada masyarakat
Indonesia akan menimbulkan kerugian
ekonomi yng besar bagi negara, dan setiap
upaya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat juga berarti investasi bagi
pembangunan negara;
Setiap upaya pembangunan harus dilandasi
dengan wawasan kesehatan dalam arti
pembangunan nasional harus
memperhatikan kesehatan masyarakat dan
merupakan tanggung jawab semua pihak
baik Pemerintah maupun masyarakat.

Substansi Pemahaman Kesehatan

kesehatan :

sehat fisik,
Sehat mental,
Sehat spritual
Sehat sosial

Tujuan: agar memungkinkan setiap orang untuk


hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

AZAS DAN TUJUAN

Azas : memuat tentang Pembangunan


kesehatan dise lenggarakan dengan
berasaskan perikemanusiaan,
keseimbangan, manfaat, pelindungan,
penghormatan terhadap hak dan kewajiban,
keadilan, gender dan nondiskriminatif dan
norma-norma agama.
Tujuan : meningkatkan kesadaran, kemauan,
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya, sebagai investasi
bagi pembangunan sumber daya manusia
yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Kata investasi ini merupakan tambahan dan
penyempurnaan dari tujuan pembagunan

PELAYANAN KESEHATAN : TIDAK HANYA OLEH


TENAGA MEDIS (DOKTER) SAJA, TETAPI JUGA
TENAGA KESEHATAN LAINNYA SEPERTI
PERAWAT DAN BIDAN.
DIPERBOLEHKAN MENDELEGASIKAN SEBAGIAN
TINDAKAN KEDOKTERAN , HARUS SECARA
TERTULIS.

PENDELEGASIAN WEWENANG : PELIMPAHAN


DARI DOKTER KEPADA TENAGA KEPERAWATAN
(PERAWAT/BIDAN) MENGERJAKAN TINDAKAN
KEDOTERAN.
JIKA PASIEN DIRUGIKAN SIAPA YANG
BERTANGGUNG JAWAB ?

METODOLOGI

KAJIAN TEORITIS
DATA DAN FAKTA
DILAPANGAN
HASIL PENELITIAN
BEBERAPA PENULIS
WAWANCARA
DISKUSI

DATA , FAKTA DAN HASIL PENELITIAN (1)


1.

Reni Suryanti (2011), Injeksi 41,7 %,


pemasangan infus (33,3%), kateter (25
%), NGT (18,7 %) belum ada dasar
hukum dan administrasi yang lemah.

2.

Musakkar (2013), 58,1 % perawat


pernah melakukan tindakan
kedokteran. Pelimpahan seara lisan
72,1 % dan telpon 27,9 %.

3.

Intan Pramesti (2009) tidak ada diskusi


dengan dokter mengenai
perkembangan pasien

DATA , FAKTA DAN HASIL PENELITIAN (2)


1.

Uniersitas Indonesia (2005), perawat


menetapkan diagnosis (92,6 %), resep
obat (93,1 %), tindakan pengobatan di
luar puskesmas (97,1 %), pemeriksaan
kehamilan (70,1 %), pertolongan
persalinan (57,7 %).

2.

RSJ Prof. HB. Saanin Padang terdapat


SK Direktur pelimpahan wewenang
dokter kepada perawat untuk
melakukan beberapa tindakan
kedokteran. Ada SOP dalam dokumen
ISO, Pelayanan Publik dan Akreditasi.

PELAYANAN KESEHATAN

Harus mengutamakan indikasi


medik, tidak diskriminatif,
kepentingan terbaik untuk
pasien.

Harus memenuhi kode etik,


standart profesi, hak pengguna
pelayanan kesehatan.

Standar Pelayanan

Standart Operasional

SYARAT PENDELEGASIAN
1.

Diagnosis tidak boleh


didelegasikan

2.

Pemberi pendelegasian harus


yakin akan kemampuan yang
didelegasikan.

3.

Pendelegasian secara rinci dan


jelas

MASALAH PROSES :
1.BAGAIMANA

KALAU TIDAK TERTULIS

2.ADA

TERTULIS, MASIH BERSIFAT UMUM, BELUM


JELAS DARI SIAPA UNTUK SIAPA. BISA
BERBENTUK SK ATAU SOP.
3.ADA

DI LAPANGAN TIDAK BERJALAN SESUAI


DENGAN ATURAN YANG DIBUAT.

SOLUSI (1)
1.

2.

3.

4.

Permenkes No. 2052 Tahun 2011, pelimpahan


harus secara tertulis.
UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,
Pasal 20 ayat 1 , suatu pellayanan publik harus
mempunyai Standart Operasional Prosedur .
Pelayanan Publik prima, mempunyai sertifikasi
ISO yang mempunyai Manual Mutu, Standart
Prosedur Pokok, Standart Prosedur Penunjang,
Sasaran Mutu.
UU Nomor 36 Tahun 2009 (Pasal 24 ayat 1)
tentang Kesehatan , tenaga kesehatan harus
mempunyai kualifikasi minimum, memiliki izin
dari pemerintah, memenuhi ketentuan kode etik,
standart profesi, hak pengguna pelayanan

SOLUSI (2)
UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit.

Tenaga bekerja sesuai standar


profesi
Standart Operasional Prosedur
Etika Profesi
Menghormati Hak Pasien
Keselamatan Pasien

MASALAH HUKUM (1)


Pasal 1365 KUH Perdata
Tiap perbuatan yang melanggar
hukum dan membawa kerugian
kepada orang lain, mewajibkan
orang yang menimbulkan
kerugian itu karena
kesalahannya untuk mengganti
kerugian tersebut.

MASALAH HUKUM (2)


Pasal 1366 KUH Perdata
Setiap orang bertanggung jawab,
bukan hanya atas kerugian yang
disebabkan oleh perbuatannya,
melainkan juga atas kerugian
yang disebabkan kelalaiannya

MASALAH HUKUM (3)


Pasal 1367 KUH Perdata
Setiap orang tidak hanya
bertanggung jawab atas
kerugian yang disebabkan
perbuatannya sendiri, melainkan
juga atas perbuatan orang yang
menjadi tanggungan atau
barang yang berada di bawah
pengawasannya.

KETENTUAN PIDANA
Perundang-undang Kesehatan
umumnya memuat Ketentuan
Pidana
(204, 359 s.d 361 KUHP)
Bersifat personal, tidak bisa
diwakilkan
Pelayanan Kesehatan umumnya
tidak menjanjikan hasil, tetapi
upaya maksimal

KESIMPULAN (1)
Tenaga Keperawatan seperti bidan dan
perawat bertanggung jawab penuh
(independent) terhadap asuhan
keperawatan/asuhan kebidanan yang menjadi
tugas pokok profesinya.

Pendelegasian wewenang tindakan kedokteran


dibolehkan kepada tenaga keperawatan secara
tertulis dan memenuhi persyaratan yang
disyaratkan.

Penyederhanaan secara tertulis dapat


dilaksanakan melalui adanya Standart
Operasional Prosedur yang baku dan
diketahui pimpinan sarana pelayanan

KESIMPULAN (2)
Standart Operasional Prosedur diwajibkan
oleh peraturan perundangan-undangan
pelayanan publik, undang-undang
kesehatan, undang-undang, rumah sakit,
standart akreditasi rumah sakit dan
perundang-undangan bidang kesehatan
lainnya.
Standart Operasional Prosedur harus
lengkap dan detail sehingga jelas dan
akuntabel.

KESIMPULAN (3)
Harus terjadi komunikasi dan interaksi
yang dinamis antara tenaga medis
dengan tenaga keperawatan untuk
menghasilkan suatu proses dan hasil
tindakan kedokteran yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada pasien.
Pelanggaran terhadap pelaksanaan
tindakan kedokteran yang tidak sesuai
peraturan dan prosedur dapat dijatuhkan
sanksi, baik sanksi etika maupun sanksi

TERIMA KASIH