Anda di halaman 1dari 46

AKUNTANSI SKPD BERBASIS AKRUAL

Disajikan oleh:
Budi Mulyana
(Widyaiswara STAN)

IMPLEMENTASI SAP
UNTUK PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
PENGGUNA LPJ KEUANGAN ( STAKEHOLDERS )

RAKYAT
DPR/DPRD

EKSEKUTIF

MASYARAKAT INTERNASIONAL
(NEGARA DONOR/LEMBAGA INTERNTL)

GOVERNMENT FINANCE
PERATURAN
PERUNDANGAN TERKAIT
STATISTICS (GFS)

STANDAR AKUNTANSI
INTERNASIONAL

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN


KEBIJAKAN DAN SISTEM AKUNTANSI PEMDA
PROSES AKUNTANSI
LAPORAN KEUANGAN

Permenkeu _PUSAP
& Permendagri

KONSTRUKSI
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) terbagi ke


dalam dua subsistem besar:
1) Sistem Akuntansi SKPD sebagai entitas akuntansi;
2) Sistem Akuntansi PPKD:
2.1. Subsistem Akuntansi
(entitas akuntansi);

SKPKD sebagai SKPD

2.2. Subsistem Akuntansi PPKD sebagai BUD


(entitas akuntansi);
2.3. Subsistem Akuntansi PPKD-Konsolidator (entitas
pelaporan).

Laporan keuangan dari seluruh entitas akuntansi


disampaikan kepada SKPKD (entitas pelaporan) untuk
dikonsolidasikan, sehingga menjadi Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD).

KONSTRUKSI
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH (SAPD)

SA-PPKD

LK-PPKD:
LRA-PPKD
LO-PPKD
LP-EKUITAS
NERACA-PPKD
CALK-PPKD

LKPD
(KONSOLIDASIAN):
LRA; LP-SAL; LO;
LP-EKUITAS, NERACA
LAK; CALK

SAPD

SA-SKPD

LK-SPKD:

LRA-SKPD
LO-SKPD
LP-EKUITAS
NERACA-SKPD
CALK-SKPD

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH


DAERAH: TEKNIK PENCATATAN
TRANSAKSI

DOUBLE ENTRY SYSTEM


ASET = HUTANG + EKUITAS

Sistem pembukuan ganda (double entry system)


menggunakan kaidah Debit-Kredit yang diturunkan
dari persamaan dasar akuntansi di atas.

KAIDAH
SYSTEM

DOUBLE ENTRY

(SISTEM
AKUNTANSI KEUANGAN)
POS
DEBET KREDIT SALDO

NORMAL

ASET

(+)

(-)

DEBET

KEWAJIBAN

(-)

(+)

KREDIT

EKUITAS

(-)

(+)

KREDIT

PENDAPATANLO

(-)

(+)

KREDIT

BEBAN

(+)

(-)

DEBET

KAIDAH

DOUBLE ENTRY SYSTEM

(SISTEM AKUNTANSIPELAKSANAAN
ANGGARAN)

POS

DEBET KREDIT SALDO

NORMAL

PENDAPATAN-LRA

(-)

(+)

KREDIT

BELANJA

(+)

(-)

DEBIT

Proses Akuntansi double entry system


Tahap-Tahap Proses Akuntansi
Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo sebelum Penyesuaian
Jurnal Penyesuaian
Neraca Saldo setelah Penyesuaian
Laporan Keuangan
Jurnal Penutup
Neraca Saldo setelah Penutupan Buku

1. Jurnal Anggaran
Jurnal anggaran dicatat pada sub-sistem akuntansi pelaksanaan
anggaran. Berdasarkan bukti berupa DPA-SKPD, jurnal:
Estimasi Pendapatan
xxx
Estimasi Perubahan SAL*
xxx
Apropriasi Belanja
xxx

*)Keterangan:
Akun Estimasi Perubahan SAL dicatat di sisi debit apabila
anggaran SKPD menunjukkan jumlah defisit (total jumlah
anggaran pendapatan lebih kecil dari total jumlah anggaran
belanja). Demikian sebaliknya, jika anggaran SKPD menunjukkan
jumlah surplus, akun Estimasi Perubahan SAL dicatat di sisi
kredit

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


1. Jurnal Transaksi Pendapatan-LRA
Pendapatan-LRA dicatat pada sub-sistem akuntansi
pelaksanaan anggaran.
Pendapatan-LRA diakui pada saat kas telah
diterima oleh bendahara penerimaan SKPD.
Berdasarkan bukti penerimaan pendapatan
(kwitansi), jurnal:
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan-LRA
xxx

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
Dicatat pada sub-sistem Akuntansi Keuangan
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 1:
Pendapatan dicatat pada saat diterbitkan surat
ketetapan (SKP/SKR), jurnal:
Piutang Pendapatan
xxx
Pendapatan-LO
xxx

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 1 (lanjutan):
Pada saat diterima pembayaran, berdasarkan bukti
penerimaan (kwitansi), jurnal:

Kas di Bendahara Penerimaan


Piutang

xxx

Pendapatan

xxx

Pada saat disetor ke Kasda, berdasarkan bukti STS, jurnal:

RK-PPKD
Kas di Bendahara Penerimaan

xxx
xxx

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 2 :
Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran,
berdasarkan bukti penerimaan (kwitansi), jurnal:

Kas di Bendahara Penerimaan


Pendapatan-LO

xxx

xxx

Pada saat disetor ke Kasda, berdasarkan bukti STS,


jurnal:

RK-PPKD

xxx

Kas di Bendahara Penerimaan

xxx

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 2 (Lanjutan):
Pada akhir tahun diakui piutang jika masih ada
tagihan yang belum diterima pembayarannya,
(berdasarkan SKP/SKR yang diterbitkan pada tahun
berjalan dikurangi dengan jumlah pembayarannya
yang telah diterima bendahara) jurnal:
Piutang Pendapatan
xxx
Pendapatan-LO
xxx

2. Jurnal Transaksi Pendapatan


2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
b. Pendapatan tanpa didahului surat ketetapan
Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran,
berdasarkan bukti penerimaan (rekening koran, karcis
yang terjual, kwitansi), jurnal:
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
Pendapatan-LO xxx
Jurnal penyetoran ke Kasda sama dengan jurnal di
atas:
RK-PPKD
xxx
Kas di Bendahara Penerimaan xxx

3. Jurnal Transaksi Belanja


Belanja dicatat pada sub-sistem akuntansi
pelaksanaan anggaran
a. Belanja dibayar secara langsung oleh BUD
(Belanja-LS). Pada saat diterbitkan/diterima SP2D-LS,
jurnal:
Belanja
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
b. Belanja dibayar oleh bendahara pengeluaran
SKPD dengan menggunakan UP/GU/TU.
Pada saat SPJ belanja UP/GU/TU disahkan oleh
PA/KPA, jurnal:
Belanja
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx

4. Jurnal Transaksi Beban


Beban dicatat pada sub-sistem akuntansi
keuangan.
Beban dapat berupa belanja (selain belanja modal)
maupun non belanja (seperti beban penyusutan,
beban penyisihan piutang tak tertagih, dsb).
a. Beban berupa Belanja
(1) Belanja LS
Pada saat diterbitkan/diterima SP2D-LS, jurnal:
Beban
xxx
RK-PPKD
xxx

4. Jurnal Transaksi Beban


a. Beban berupa Belanja (lanjutan)
(2) Belanja dibayar oleh bendahara pengeluaran SKPD
dengan menggunakan UP/GU/TU
Pada saat bendahara menerima UP/GU/TU, berdasarkan
SP2D-UP/GU/TU, jurnal:
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
RK-PPKD
xxx
Pada saat SPJ belanja UP/GU/TU disahkan oleh PA/KPA, jurnal:
Beban
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
Pada saat penyetoran sisa UP/GU/TU ke Kasda, jurnal:
RK-PPKD
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx

4. Jurnal Transaksi Beban


b. Utang Beban dan Beban Dibayar Dimuka
b.1. Ayat jurnal penyesuaian akhir tahun untuk
mengakui belanja yang sudah menjadi utang pemda,
namun belum dibayar hingga akhir tahun:
Beban
(selain belanja modal) xxx
Utang Beban
xxx
Jika beban tersebut terkait dengan pembelian aset
tetap, maka jurnal yang dibuat:
Aset Tetap (sesuai jenis asetnya) xxx
Utang Beban
xxx

4. Jurnal Transaksi Beban


b.2. Beban Dibayar Dimuka
Transaksi ini mungkin sangat jarang terjadi, contoh:
sewa dibayar dimuka untuk jangka waktu lebih dari
satu tahun anggaran.
Ayat jurnal penyesuaian akhir tahun untuk
mengakui belanja yang masih jadi hak pemda
Beban Dibayar Dimuka xxx
Beban
xxx

4. Jurnal Transaksi Beban


c. Beban Persediaan
Nilai persediaan yang masih ada pd akhir tahun harus dilaporkan di
Neraca. Oleh karena itu, jika persediaan dicatat dengan metode
periodik, harus dibuat ayat jurnal penyesuaian untuk mengakui
nilai persediaan akhir tahun. Jurnal penyesuaian yang dibuat (jika
pada saat pembelian persediaan dicatat ke akun beban =>
disebut pendekatan beban) :
Persediaan
xxx*
Beban Persediaan
xxx
*)Jurnal tsb dgn asumsi di awal tahun tidak dibuat ayat jurnal pembalik, dan
akun persediaan di debit, jika nilai persediaan akhir lebih besar dari nilai
persediaan awal (terjadi kenaikan pd saldo persediaan akhir). Sebaliknya,
akun persediaan akan dikreditkan jika nilai persediaan akhir lebih kecil dari
nilai persediaan awal (terjadi penurunan pd saldo persediaan akhir).

4. Jurnal Transaksi Beban


d. Beban penyisihan piutang tak tertagih
Jika di dlm kebijakan akuntansi pemda mengharuskan adanya
pembentukan penyisihan piutang tak tertagih, maka pada akhir
tahun dibuat ayat jurnal penyesuaian sbb.:
Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih
xxx
Penyisihan Piutang Tak Tertagih
xxx
Jika sebuah piutang dihapuskan, jurnal:
Penyisihan Piutang Tak Tertagih
xxx
Beban/Kerugian Piutang Tak Tertagih
Piutang
xxx

xxx*

*Jika nilai piutang yang dihapuskan lebih besar dari nilai penyisihan
piutang tak tertagih, maka selisihnya dicatat ke akun beban/kerugian
piutang tak tertagih.

4. Jurnal Transaksi Beban


e. Beban penyusutan aset tetap
Jurnal untuk mengakui penyusutan aset tetap
dilakukan dengan membuat ayat jurnal
penyesuaian di akhir tahun, yaitu:
Beban Penyusutan Aset Tetap
xxx
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap
xxx

5. Jurnal Koreksi Pendapatan


a. Koreksi atas kesalahan yang berulang (recurring)
Jurnal koreksi atas kesalahan yg berulang baik
kesalahan yang terjadi pada tahun berjalan maupun
kesalahan yang berasal dari tahun sebelumnya dibuat
dgn jurnal yang sama sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran (PendapatanLRA) akan menjurnal:
Pendapatan-LRA
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx

Sub-sistem akuntansi keuangan (Pendapatan-LO) akan


menjurnal:
Pendapatan-LO
xxx
RK-PPKD
xxx

5. Jurnal Koreksi Pendapatan


b. Koreksi atas kesalahan yang tidak berulang (nonrecurring)
1) Koreksi atas kesalahan yang terjadi pada tahun
berjalan
Jurnal koreksi yang dibuat adalah sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran (Pendapatan-LRA)
akan menjurnal:

Pendapatan-LRA

xxx

Estimasi Perubahan SAL

xxx

Sub-sistem akuntansi keuangan (Pendapatan-LO) akan


menjurnal:

Pendapatan-LO
RK-PPKD

xxx

xxx

5. Jurnal Koreksi Pendapatan


b. Koreksi atas kesalahan yang tidak
berulang (non-recurring)
2) Koreksi atas kesalahan yang berasal dari
tahun sebelumnya
TIDAK ADA JURNAL YG DIBUAT OLEH SKPD
Untuk koreksi kesalahan jenis ini, SKPD tidak perlu membuat
jurnal koreksi, karena yang membayar restitusi adalah PPKD
dengan menggunakan dana Belanja Tak Terduga, dan
sebagaimana diketahui bahwa akun Belanja/Beban Tak
Terduga hanya ada di dalam sistem akuntansi PPKD. Dengan
demikian, jurnal koreksi kesalahan jenis ini hanya dilakukan di
dalam akuntansi PPKD.

6. Jurnal Koreksi Kesalahan Belanja/Beban


1) Koreksi atas kesalahan yang terjadi pada
tahun berjalan
Jurnal koreksi yang dibuat adalah sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran
(Belanja-LRA) akan menjurnal:
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Belanja
xxx
Sub-sistem akuntansi keuangan (Beban-LO) akan
menjurnal:
RK-PPKD
xxx
Beban
xxx

6. Jurnal Koreksi Kesalahan


Belanja/Beban
2) Koreksi atas kesalahan yang berasal dari
tahun sebelumnya
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran
(LRA) akan menjurnal:
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Lain-lain Pendapatan LRA (PAD) xxx
Sub-sistem akuntansi keuangan (LO) akan
menjurnal:
RK-PPKD
xxx
Lain-lain Pendapatan LO (PAD) xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


a.

Jurnal Transksi Aset Lancar

Aset lancar pada neraca SKPD dapat mencakup akun-akun berikut:

Kas di Bendahara Penerimaan


=> Terkait dengan jurnal transaksi pendapatan

Kas di Bendahara Pengeluaran


=> Terkait dengan jurnal transaksi belanja/beban

Piutang
=> Terkait dengan jurnal transaksi pendapatan

Penyisihan Piutang Tak Tertagih (contra account atas Piutang)


=> Terkait dengan jurnal transaksi beban pengakuan penyisihan
piutang dan penghapusan piutang.

Persediaan
=> Terkait dengan jurnal transaksi beban/belanja persediaan dan
jurnal
penyesuaian persediaan yang terpakai/tersisa .

Beban Dibayar Dimuka


=> terkait dengan jurnal transaksi beban/belanja dibayar di muka dan
penyesuaiannya di akhir tahun.

7. Jurnal Transaksi Aset


b. Jurnal Transaksi Aset Tetap
1). Perolehan aset tetap
a) Apabila aset tetap diperoleh dengan cara membeli atau
membangun maka akan terjadi realisasi belanja modal,
sehingga jurnal yang dibuat adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL

xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)


Aset Tetap (sesuai jenisnya) xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran

xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


b) Apabila aset tetap diperoleh dari hibah, maka jurnal yang
dibuat hanya di subsistem akuntansi keuangan sbb.:
Aset Tetap (sesuai jenisnya)
xxx
Pendapatan Hibah-LO
xxx
c) Apabila sebuah SKPD menerima transfer aset tetap dari SKPD
lain pada pemda yang sama, maka jurnal yang dibuat hanya di
subsistem akuntansi keuangan, sbb.:
SKPD yang melakukan transfer:
Ekuitas
xxx
Akumulasi Penyusutan
xxx
Aset Tetap (misal kendaraan) xxx
SKPD yang menerima transfer:
Aset Tetap (misal kendaraan) xxx
Akumulasi Penyusutan
xxx
Ekuitas
xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


2). Penyusutan aset tetap
Penyusutan aset tetap biasanya hanya
dicatat sekali di akhir tahun melalui jurnal
penyesuaian, dengan jurnal sbb.:

Beban Penyusutan Aset Tetap


xxx
Akumulasi Penyusutan-Aset Tetap
xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


3). Biaya yang dikeluarkan setelah perolehan aset tetap
a) Transaksi pembayaran belanja pemeliharaan ini tidak akan
menambah nilai aset tetap yang bersangkutan, akan tetapi
hanya dicatat/dilaporkan sebagai belanja/beban barang dan
jasa dengan jurnal sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Pemeliharaan

xxx

Estimasi Perubahan SAL

xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (LO)


Beban Pemeliharaan xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran*
*) tergantung cara pembayarannya

xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


b) Perbaikan atau renovasi aset tetap yang sifatnya tidak rutin
akan dikapitalisasi (menambah nilai aset tetap yang
bersangkutan) dengan syarat: (1) nilainya melebihi batas
minimal kapitalisasi; (2) menambah masa manfaat atau
meningkatkan nilai ekonomis/kapasitas dari aset yang
bersangkutan. Transaksi pembayaran biaya perbaikan/renovasi
ini akan dicatat dengan jurnal sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Aset Tetap (sesuai jenisnya) xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran*
xxx
*) tergantung cara pembayarannya

7. Jurnal Transaksi Aset


4). Penghapusan aset tetap
Aset tetap akan dihapuskan dengan alasan rusak berat,
hilang, atau alasan lainnya sehingga dapat dihapuskan. Jurnal
penghapusan aset tetap dibuat berdasarkan bukti berupa SK
Kepala Daerah (atau pejabat yang berwenang) tentang
penghapusan aset dan berita acara penghapusan.
Jika aset tetap yang dihapuskan tidak dapat dijual, jurnal yang
dibuat adalah sbb.:
Akumulasi Penyusutan

xxx

Kerugian Penghapusan Aset Tetap*

xxx

Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan)

xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


Jika aset tetap yang dihapuskan dapat dijual, jurnal yang dibuat
adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Lain-Lain (PAD)-LRA
xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca dan LO)
Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan xxx
Akumulasi Penyusutanxxx
Defisit Penjualan Aset Tetap
xxx
Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan)
Jurnal penyetoran hasil penjualan aset ke Kada:
RK-PPKD
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan

xxx

xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


c. Jurnal Transaksi Aset Lainnya
1) Jurnal untuk mencatat perolehan aset tak berwujud sama
seperti jurnal peroleh aset tetap, yaitu:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Aset Tak Berwujud
xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
Aset tak berwujud tidak disusutkan, namun langsung dihapuskan
jika sudah tidak memberikan manfaat lagi, dengan jurnal:
Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)
Kerugian Penghapusan Aset Lainnya xxx
Aset Tak Berwujud
xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


2) Jurnal untuk mencatat reklasifikasi aset tetap yang tidak
dapat digunakan lagi ke aset lainnya adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Akumulasi Penyusutan
Aset Lainnya *

xxx

xxx

Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan)

xxx

Selanjutnya, bila aset lainnya yang berupa aset tetap tersebut


dihapuskan akan dijurnal sbb.:
(1) Jika aset yang dihapuskan tsb tidak dapat dijual, jurnal
yang dibuat adalah sbb.:
Kerugian Penghapusan Aset Lainnya
Aset Lainnya xxx

xxx

7. Jurnal Transaksi Aset


(2) Jika aset yang dihapuskan tsb dapat dijual, jurnal yang dibuat
adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Lain-Lain (PAD)-LRA*
xxx
*) hasil penjualan aset yang dihapuskan
Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)
Kas di Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluran
Defisit Penjualan Aset Lainnya*
xxx
Aset Lainnya xxx
Jurnal penyetoran hasil penjualan aset ke Kada:
RK-PPKD
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan

xxx

xxx

8. Jurnal Transaksi Kewajiban


Kewajiban (utang) yang mungkin muncul di neraca SKPD
adalah kewajiban jangka pendek, antara lain adalah utang
belanja, utang PPH/PPN. Berikut ini akan diuraikan contoh
transaksi kewajiban di SKPD.
a. Jurnal pengakuan utang belanja umumnya dibuat melalui
jurnal penyesuaian akhir tahun, yaitu untuk mengakui belanja
barang atau jasa yang sudah diterima/dinikmati pemda/SKPD
namun belum dibayar hingga akhir tahun. Jurnal yang dibuat
adalah sbb.:

Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)


Beban.
Utang Beban

xxx
xxx

8. Jurnal Transaksi Kewajiban


Selanjutnya, jika utang tsb dibayar pada tahun anggaran
berikut, jurnal yang dibuat adalah:

Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)

Belanja

xxx

Estimasi Perubahan SAL

xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)

Utang Beban
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx

xxx

8. Jurnal Transaksi Kewajiban


b. Jurnal yang terkait dengan pemotongan PPh/PPN dari pembayaran
belanja yang dibayar oleh bendahara pengeluaran (dengan
menggunakan UP/TU).
Jurnal yang dibuat pada saat memotong/memungut PPh/PPN adalah
sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
Utang PPh..
xxx
Utang PPN
xxx
Jurnal penyetoran uang PPh/PPN ke Kas Negara, berdasarkan bukti
berupa SSP (Surat Setoran Pajak) adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Utang PPh..
xxx
Utang PPN
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx

9. Jurnal Ekuitas

Akun Ekuitas yang dilaporkan di neraca mencerminkan hak


residual pemda/SKPD.

Jurnal yang terkait dengan akun ekuitas umumnya dilakukan


pada saat membuat jurnal penutup pada akhir tahun, yaitu
untuk menutup akun Pendapatan-LO dan Beban.

Jurnal untuk menutup akun-akun Pendapatan-LO dan Beban


terlebih dahulu akan ditutup ke akun Surplus/Defisit-LO, sbb.:
Pendapatan-LO

xxx

Surplus/Defisit-LO*xxx
Beban

xxx

*Jika jumlah total beban lebih besar dari total pendapatan,


maka selisihnya merupakan defisit yang dicatat ke akun
Surplus/Defisit-LO di debit.

9. Jurnal Ekuitas

SKPD pada umumnya akan melaporkan defisit karena mereka


lebih bersifat cost center. Akun surplus/defisit nonoperasional dan pos luar biasa juga pada akhirnya akan
ditutup ke akun Ekuitas.

Melanjutkan jurnal di atas, selanjutnya akun Surplus/DefisitLO dan RK-PPKD akan ditutup ke akun Ekuitas, dengan jurnal
sbb.:
RK-PPKD

xxx

Surplus/Defisit-LO xxx
Ekuitas

xxx

*Jurnal pada Modul di ralat dengan jurnal di atas

TERIMA KASIH
LANJUT KE ILUSTRASI AKUNTANSI SKPD