Anda di halaman 1dari 116

REHABILITASI MEDIK ANAK

Dr.JALALIN,SpKFR

Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Fakultas Kedokteran UNSRI Palembang

Physical Medicine and Rehabilitation


Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR )
Kongres IDI 2010 di Palembang
Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi ( SpKFR)

Rehabilitasi adalah suatu intervensi yang bertujuan untuk


memaksimalkan kemandirian pada pasien yang mengalami
gangguan fungsi
Gangguan fungsi terjadi karena undellying pathology, and
Scondary impairments serta faktor lingkungan atau faktor
individu.
Disability ( disabilitas )
Secara umum Rehabilitasi
sequelae dari proses
patologi untuk meningkatkan fungsi dan kemampuan untuk
partisipasi ( minimal untuk kehidupan individu )
Rehabilitasi bukan diarahkan untuk mengatasi proses
patologi itu sendiri
Rehabilitasi harus mempertimbangkan faktor lingkungan dan
individu yang berpengaruh terhadap aktivitas dan hambatan
partisipasi serta sasaran yang ingin dicapai

GANGGUAN FUNGSI
WHO (1980 ) mengklasifikasikan berdasaarkan
konsekuensi dari suatu penyakit .
International Classification Impairment, Disability, and
handicaps ( ICIDH )
Impairment ditandai dengan suatu keadaan abnormal
dari struktur dan fungsi tubuh atau organ termasuk mental
Disability

adalah suatu keterbatasaan beraktivitas


sebagai akibat dari impairment

Handicaps

pada level sosial dari suatu penyakit .


Kondisi yang merugikan pasien sebagai akibat
impairment dan disability

WHO : 2002 melakukan revisi


International Clasification of function ( ICF )
ICF : terdisi dari 3 struktur yaitu :
Tubuh atau bagian dari tubuh, manusia secara utuh dan
manusia utuh dalam konteks mahluk sosial
Dysfungsi dari 3 level tsb disebut Disability yang
merupakan akibat dari :
impairmen

( level tubuh )

Keterbatasaan
Keterbatasa

aktivitas ( level manusia secara utuh )

partisipasi ( level sosial )

ICF ( International Clasification of function )


Struktur dan fungsi tubuh suatu kondisi abnormal dari struktur
atau fungsi disfungsi fisiologis
Aktivitas adalah melaksanakan tugas atau aksi oleh seorang
individu cerminan dari sudut pandang individu tsb. Contoh
kemampuan untuk melakukan pemenuhan perawatan diri
keterbatasan beraktivitas = disabilitas
Partisipasi tergantung pada keterlibatan seorang individu dalam
situasi kehidupan dan cerminan dari sudut pandang sosialnya
Keterbatasan partisipasi = handikap atau ketidak mampuan untuk
dalam menggunakan peran sosial normal

Contoh : Kondisi anak dengan Distropi Muskuler


Struktur dan fungsi Tubuh : - Tidak terbentuknya distropin
- Kerusakan jaringan otot
- Kelemahan otot
Keterbatasan Aktivitas :
- Kesulitan / tidak mampu berdiri, mengangkat
bahu, lengan, tangan

- Ketidak mampuan dalam AKS / ADL


Partisipasi :

- Tidak mampu bermain


- Tidak dapat bersekolah ah

Impairment
disfungsi fisiologis

Struktur dan fungsi


tubuhdisfungsi fisiologis

Disabilitas
perawatan diri dan
mobilitas fungsional dalam
suatu lingkungan

Aktivitas
perawatan diri dan
mobilitas fungsional dalam
suatu lingkungan

Handikap
Pilihan peran sosial, bekerja,
sekolah, berkeluarga,gaya
hidup, rekreasi

Partisipasi
Pilihan peran sosial, bekerja,
sekolah, berkeluarga,gaya
hidup, rekreasi

Khusus terhadap anak anak di titik beratkan pada


1.

2.

3.
4.

Mengerti terhadap proses komplek perkembangan


bayi, anak, adolesen, dewasa muda dan keluarganya
dalam pengertian komunitas .
Mengerti peran biologis, psikologis dan sosial dalam
perkembangan emosi, sosial, motoris, bahasa dan
kognitif
Mekanisme dari pencegahan primer dan sekunder
terhadap kelainan dalam prilaku dan perkembangan
Mengindentifikasi dan menangani terhadap gangguan
dari lingkungan dan perkembangan sepanjang anakanak dan dewasa
Source: Accreditation Council for Graduate Medical Education
(ACGME)

REFLEX DEVELOPMENT 0 - 5 YEARS


CATEGORY

REFLEX

APPEARS

INTEGRATED BY

NEONATAL

MORO
GALANT
CROSSED EXTENSOR
FLEXOR WITHDRAWAL
EXTENSOR THRUST
REFLEX WALKING
PALMAR GRASP
PLANTAR GRASP

BIRTH
BIRTH
BIRTH
BIRTH
BIRTH
BIRTH
BIRTH
BIRTH

6 MONTH
2 MONTH
1 2 MONTH
1 2 MONTH
1 2 MONTH
6 MONTH
6 MONTH
9 MONTH

TONIC LABYRINTHINE
ATNR
STNR
POSITIVE SUPPORTING

BIRTH
2 MONTTH
4 6 MONTH
BIRTH

6
MONTH
4
MONTH
10 MONTH
2
MONTH

NECK
LABYRINTHINE
OPTICAL
BODY ON BODY
BODY ON HEAD
PROTECTIVE EXTENSION - FORWARD
- SIDEWAYS
-BACKWARD
LANDAU
EQUILIBRIUM - PRONE
- SUPINE AND SITTING
- ALL FOUR
- STANDING

BIRTH
2
MONTH

4 6 MONT
LIFE LONG
LIFE LONG
LIFE LONG
5 YEARS
LIFE LONG
LIFE LONG
LIFE LONG
1 2 YEARS
LIFE LONG
LIFE LONG
LIFE LONG
LIFE LONG

POSTURAL

RIGHTING AND
PROTECTIVE

7 12 MONTH
6 9 MONTH
8
MONTH
10
MONTH
3 6 MONTH
6
MONTH
7 8 MONTH
9 12 MONTH
12 21 MONTH

Understanding the complex


developmental processes
In the first few months of life some children need help
learning to roll, sit, crawl and walk. The earlier a
developmental delay is detected, the better the outcome will
be with therapy .

Some major milestones:


Rolling:

4-6 months
Sitting: 6-8 months
Crawling: 7-10 months
Walking : 12-15 months
Running : 24-28 months
Jumping : 26-30 months

DEVELOPMENT 0 - 12 MONTH
AGE

SKILL

2 MONTH
4 MONTH

LIFTS HEAD IN PRONE


LIFTS HEAD IN PRONE , WEIGHT ON FOREARMS
BRINGS HANDS TO MIDLINE
HEAD KEPT IN LINE WITH TRUNK WHEN PULLED TO DITTING

5 MONTH

LIFT HEAD IN SUPINE


LIFT BOTTOM IN SUPINE BRIGES
ROLL TO SIDE
TAKE BOTH FEET TO MOUTH
HELPS PULL SELF TO SITTING

6 MONTH

SITS WITH HANDS IN FRONT FOR SUPPORT


ROLLS SUPINE TO PRONE
TAKES BOTH FEET TO MOUTH
HELPS PULL SELF TO SITTING

7 MONTH

PIVOTS AND PUSHES SELF BACKWARDS IN PRONE

AGE
8

SKILL
MONTH

CREEPS FORWARDS ON FOREARMS


SITS UNSUPPORTED WITH STRAIGHT BACK
CAN REACH IN SITTING
CAN GET INTO LYING

8 10 MONTH

CRAWLS ON ALL FOURS


PULLS TO STANDING

10 12 MONTH

GETS DOWN FROM S TANDING


WALKS WITH BOTH OR ONE HAND HELD

12 MONTH

SOME CHILDREN WALK INDEPENDENTLY

SUMBER : PHYSICAL THERAPY FOR CHILDREN ( PAMELA ARGARET )

Physical
Development

COGNITIVE
DEVELOPMENT

Person

Cultural
influence

Social emotional
Development

Contoh gangguan perkembangan

Developmental Delay ( perkembangan yng terlambat )


Cognitive Disabilities ( disabilitas kognitif )
Motor Disabilities
( disabilitas motoris )

Chromosomal/Genetic Disorders

Examples: cerebral palsy, spina bifida


Examples: Down Syndrome, Fragile X

Autism Spectrum Disorders (ASD )

PEDIATRIC REHABILITATION

HABILITATION
Congenital

REHABILITATION
Acquired Disorder

Cerebral palsy
Chilhood aphasia
Developmental delay

Brain injury
Spinalcord injury

Assesment ( penilaian )
The functional balance

Score :
+ : can without helped
+ : can with helped
- : cannot

The examination point:

From lying to sit down


From sit down to stand up
Standing with support
Standing
Standing with right foot
Standing with left foot
squat

The Examination
Musculosceletal condition

MMT
ROM
Antropometri
Scoliosis Test
Club Foot Test
Trandelenburg Test
Gait test

GAIT COMPONENT

Initial contact
Loading response
Midstance
Terminal stance
Preswing
Initial swing
mid swing
Terminal swing

FUNCTIONAL EXAMINIATION / GROWTH & DEVELOPMENT


DENVER DEVELOPMENTAL TEST ( DDST )
- SOCIAL PERSONAL
- FINE MOTOR ADAPTIVE
- LANGUAGE
- GROSS MOTOR
INTELLIGENCE EXAMINATION

The good IQ grade

is ease

the EXERCISE

Pelayanan Rehabilitasi Medik


TIM WORK

Dokter Rehabilitasi Medik


Spesialis Rehabilitasi Medik ( SpRM ) /
Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi
( SpKFR )
Fisioterapis
Terapis Okupasi ( Ocupational Therapis )
Terapis Wicara ( Speech Therapis )
Ortotis Prostetis
Psikolog
Perawat Rehabilitasi Medis, dll

Dokter Rehabilitasi Medik : membuat diagnosis medik


dan fungsional, konsultasi medik pasien yang di tangani
merencanakan program rehabilitasi medik, melakukan
evaluasi secara berkala, melakukan kerja sama antar
disiplin ilmu kedokteran yang lain dan membuat prognosis
medik & fungsional
Fisioterapis : melaksanakan program yang dibuat dokter
dengan keterapian fisik ( modalitas dan latihan fisik )
Terapis Okupasi: memberikan terapi latihan dan edukasi
menggunakan alat yang mengarah ke fungsional
( kemampuan ADL ) misalnya keterampilan tangan untuk
aktivitas makan minum, menulis, memakai pakaian dll
Terapis wicara : memberikan latihan pasien yang
mengalami gangguan komunikasi verbal ( gangguan
bahasa, bicara, menelan ). Misal pada kasus
keterlambatan kemampuan bicara pada anak anak,
afasia, disartria, disfagia, dysfonia, dysaudia, stutering

Ortotik prostetik : teknisi untuk pembuatan dan


penggunaan alat bantu dan alat ganti ( palsu ). Misalnya
brace, splint (korset), collar, cructh, cane, tiruan anggota
gerak ( tungkai palsu ) , dll
Pekerja sosial Medik : membantu penderita dalam
permasalahan sosial misalnya pembiayaan, pekerjaan,
sekolah, penanganan dirumah
Psikolog : Evaluasi psikologis dan Psikoterapi thd
pasien yang mengalami gangguan psikologi sebagai
akibat kecacatan
Perawat Rehab.Medik: memberikan Rehabilitasi
diruangan perawatan thd pasien yang mengalami tirah
baring lama misalnya pencegahan dan penanganan
ulkus decubitus, pencegahan kontraktur persendian,
blader training,

PHYSIOTHERAPY
THERAPY EXERCISE
TRADITIONAL MODE
Strengthening
ROM ( Range Of
Movement )
Endurance
Compensation
Game

OCCUPATIONAL THERAPY
THE PRINCPLE
Doing activity that funny but the
purposes is to doing therapy
For Example
With game activity
direct the fine motor movement
( skill hand movement , Coordination
hand movement , Coordination eye
movement , centrum attention )
Many kind of puzzle dll

Activities that promote the development of gross motor skill

Playground equipment
Endurance activities
Swimming
Ball Toss
Kick Ball
Jump Rope, Skipping, galloping, hopping
Playing outside
Imitating animals
Wheelbarrow walking
"Simon Says"
Log Rolling
Riding bicycles
General exercises
Walking a line, curb, railroad ties

TERAPI WICARA

SPEECH PATOLOGY
COMUNICATION PROBLEM
Language disorder
Voice production disorder
because neurogenic disorder and organ
disorder had role in Voice production
Sensory disorder ( Auditory )

Terapi Wicara bertujuan untuk memulihkan &


meningkatkan kemampuan perilaku komunikasi yang
berhubungan dengan kemampuan bahasa, wicara, suara
dan irama/kelancaranyang diakibatkan oleh gangguan /
kelainan anatomis, fisiologis, psikologis dan sosiologis.
Terapi Wicara dapat menangani kasus anak - anak
maupun dewasa.

Orthotic Prosthetic

Orthotic
The porpuse is to support , function ,
adaptation
Prosthetic - ( protese )

KONDISI PENYAKIT YANG MEMERLUKAN


REHABILITASI MEDIK
CNS

PROBLEM / CEREBRAL PALSY


BRACHIAL PALSY
MUSCULAR DISTROPY
SCOLIOSIS
TORTICOLIS
CTEV
FLAT FEET
DEFISIENSI EXTREMITY
AUTISM SPECTRUM DISORDER
SPINAL MUSCULAR ATROPI
FRAKTUR EKSTREMITAS
DOWN SYNDROME

JUVENIL

RA
POLIOMYELITIS
GUILLAINBARE,
MIELITIS TRANSVERSA
SPINALCORD INJURY
NEURITIS TRAUMATIC
PARALISIS PERIODIK

POT DISEASE

DEVELOPMENTAL DELAYED
SPEECH DELAYED

MOTOR DELAYED

PALSI SEREBERAL

PALSI CEREBERAL ATAU CEREBERAL


PALSY ( CP ) Adalah gangguan kronis dari
gerakan dan koordinasi, yang disebabkan
oleh cidera pada otak yang belum matur
selama masa prenatal atau perinatal

CP adalah static encephalopathy murni dari


otak yang tidak progresif atau bertambah
parah

CP dapat di klasifikasikan menurut tipe dari


gangguan gerakan yang terjadi

Spastic ( 70 80 %) : ditandai dengan


increased muscle tone, tightness, stiff, jerky
movement
Dyskinetic atau athetoid ( 10 -15 % ): low
nuscle tone, loose, uncontrolled body
movement
Ataxic ( < 5% ) : affect balance and depth
perception

CP dapat juga di klasifikasikan menurut


topography dari neuromuskular
yang terkena

Hemiplegia ; mengenai salah satu sisi tubuh


Paraplegia atau diplegia : mengenai kedua
tungkai ( kadang-kadang melibatkan
gangguan ringan dari anggota gerak lainnya
Quadriplegia : mengenai ke 4 anggota gerak
pada kondisi yang sama dan juga trunkus
Monoplegia : (sangat jarang) mengenai
hanya satu anggota gerak

REHABILITASI C.P
PRINSIP REHABILITASI YANG BAIK DAN BENAR
1. Lakukan evaluasi yang baik dan benar ( per individu )
- Perencanaan program terapi sampai ke penilaian
kemajuan yang telah di capai
2. Terapi awal ditujukan untuk mengatasi defisit fungsi ( se
tingkat apa kemampuan yang telah diperoleh ) dan efek
sequnder dari spastisitas

EVALUASI ANAK CP
Fungsional : kontrol postural, refleks primitif,
penilaian motorik, mobilitas,
Gangguan menelan dan dysfagia
Gangguan berkomunikasi ( bahasa dan
bicara, pendengaran, penglihatan, mental
Toraks, kontrol fungsi bowel & blader
Merawat diri
Psikososial

SCOPE OF CP REHAB.
1. Neurodevelopmental training.
2. Motor facilitation approach.
3. Treatment of spasticity.
4. Rehab. of swallowing problems.
5. Rehab. of speech problems.
6. Rehab. of auditory problems.
7. Rehab. of visual problems.
8. Rehab. of chest problems.
9. Rehab. of urinary bladder & bowel problems.
10.Rehab. Of ADL &
11.Psychosocial rehab.

ASSESSMENT OF MILESTONES &


POSTURAL CONTROL

Understanding normal development allows to adaptive


equipment to assist child in gaining increase the interaction
with the environment.
Sitting balance at age 2 yrs. is an indicator of future walking.
Observe how much parental support given to child.
child own ability in postural stabilization.
collapse on one side of his body, twist to one side, tilt & turn
to one side.

EVALUATION OF PRIMITIVE
REFLEXES

Can be used as indicator of ambulation


Abnormal response for two of the following seven reflexes by age 12
month has a poor prognosis for walking this are
Should be absent
Should be present
ATNR
parachute reaction
STNR
foot placement
Moro response
Neck righting reflex
Extensory thrust
Presence of Moro or ATNR, seizures, ability to sit at 12 month
indicate ambulation by age of 6 yrs.

MOTOR EXAMINATION
GAIT

Hemiplegia Toe
walk
Diplegia
Bilateral
equinovaras,
Knee
flexed & in valgus

DEFORMITIES
Hemiplegia

: adducted arm, flexed


elbow, wrist & fingers equinus foot.
Diplegia:
adducted hip, flexed knee
in valgus, bilateral EV knee height
discrepancy indicates hip dislocation.
Quadriplegia: combination scoliosis &
hyperlordosis in spastic CP

kyphoscoliosis in hypotonic CP

Scissoring
Cerebellar
Ataxic

MOTOR EXAMINATION

ROM
dengan Geniometer
Terbatas ( Fixed deformity ) .. Kontraktur
tak terbatas ( + deformitas = deformitas
dapat di terapi ) = muscle inbalance
Gerakan yang abnormal ( cervical spamodic
torticolis )
Chorea atetosis
Tremor

TONUS OTOT ( MUSCLE TONE )


SPSTISITAS ( = clasp knife ):
- generalized or focal
- grade 0 (non) - 4 (severe) [Ashworth scale]
Rigidity ( = lead pipe )
Hypotonia ( cerebellar )
Combination : the predominant symptoms will
contribute to diagnostic type referred for
treatment

KEKUATAN OTOT ( MUSCLE STRENGTH)


Grade
0 = No contraction detected
1 = Flicker of contraction w/ no movement.
2 = Joint movement possible only with
gravity eliminated.
3 = Muscle contraction possible against gravity without
resistance.
4= Muscle contraction against gravity &
less than normal amount of resistance.
5 = Normal power against gravity and resistance.

Penilaian muscles grading:


- Untuk menentukan ambulasi dengan atau tanpa
brace
( grade 3 dapat ambulasi tanpa bace )

PENILAIAN MENELAN

Untuk memfasilitasi posisi makan yang nyaman, aman dan


efektif
Meningkatkan kemampuan makan sendiri
1. Video fluoroscopic swallowing study
- Requires speech - pathologist & radiologist
- Patient is given liquid & various consistency of solid food
impregnated w/ baruim & folowed by X-ray until be sure safe
effective swallowing
2.Fiberoptic evaluation of swallowing ( FEES )
Transnasal endoscopy of hypopharynx to observe foodway &
airway before & after( but not during ) the moment of swallowing.
3. EMG, manometry, scintigraphy & U.S: less commonly use.

Assessment of speech
Speech problems :
Dysarthria (oral motor control problems ) :
Spastic
Hypokinetic (ataxic )
Hyperkinetic (dystonia,chorea)
Aphasia
Language delay (brain pathology, MR, hearing
impairment )

VISUAL ASSESSMENT

Problems: Strabismus ( imbalance in eye ms. )


Hemianopsia(in dense hemiplegi w/ MCA
occlusion)
Blindness ( anoxic cortical vision loss )
Effects: 1. More motor delay
2. Language delay
3. Abnormal movements ( blindism )
4. More delayed postural mechanism
especially hypotonic CP

MOTOR FACILITATION APPROACH


1. Bobath

Method:
2. Rood Method:
3. Propioceptive Neuromuscular facilitation
(Kabat & Knott)
4. Brunstrom Method ( hemiplegia):

TREATMENT OF SPASTICITY
PENGATURAN POSISI
Hindari duduk lama ( hip flexi )
Tidur malam dengan posisi tengkurap
Kurangi abduksi hip ( duduk di kursi roda )
Penggunaan splint AFO
Penggunaan standing frame
Molded thoracolumbar orthosis ( menghindari
scoliosis )

TREATMENT OF SPASTICITY
Drugs
Indication : generalised spacticity to aid in mobility
Types :
1. Dantrolene Sodium (Dantrium):
Inhibits Ca release in excitation-contraction coupling
Used in cerebral form of spacticity Dose: 25- 200mg
2. Baclofen (Lioresal ) [ presynaptic inhibition ]
Used in spinal form of spasticity Dose :5-40mg
3. Diazepam (Valium) [postsynaptic inhibition]
Used in spinal form of spasticity Dose :2-30mg

Penanganan spastisitas dengan


PHYSIOTHERAPY
PHYSICAL AGENTS
Untuk mengatasi nyeri , merelaksasikan otot dan kelenturan collagen

Modalities: 1) Ice

20 mins.
2) Heat: Superficial : Dry: I.R. Moist: hot packs
Deep
: SWD
Ultra Soud therapy
ELECTRIC CURRENTS
: strengthening (galvanic & faradic) .
Analgesia ( TENS, Interferensial)
EXERCISES For spasticity : Passive ROM
Stretch (short ms.)
Strengthening (weak ms., antagonist),
resistive > 3/5
For hypotonia : Strengthening ( weak ms) Balance
For athetosis : Training to control simple joint motion

TREATMENT OF SPASTICITY
SERIAL CASTING
Indications: focal contracture(especially elbows,
knees, ankles ).
Method:
Limb is stretched then casted in a lengthened
position ( can be combined with blocks )
Changed every few days or weeks to gradually
stretch contracted structures.

TREATMENT OF SPASTICITY
BRACES ( = CALIPERS = ORTHOSIS )
Aim:
Types:

To correct deformity
To control athetosis
To obtain upright position
AFO: For ankle instability w adequate Q > 3/5
Types: solid ( in ankle clonus )
Klenzak ankle joint w/spring(A,P)
w/ stop (A,P)
Accessories: varus strap valgus strap
KAFO: For correction of knee deform. & instab.
HKAFO: For ambulation w/ hip instability
Shoe modification

REHAB OF SPEECH PROBLEMS

Team : speech therapis


Items : 1 - latihan otot rongga mulut ( meniup )
2 latihan pengucapan kata ( nama nama anggota
tubuh, nama hewan ) disertai dengan gambar
atau bantuan alat peraga
3 - latihan menelan
4 latihan khusus pada anak yang mengalami
gangguan pendengaraan dan penglihatan

REHAB OF SWALLOWING
PROBLEMS

Team: speech therapis, OT, ahli gizi ( diet)


Items:
melakukan perubahan posisi kepala saat
menelan
Latihan otot rongga mulut ( lidah, bibir,
tenggorokan)

REHAB OF ADL

Team : occupational therapist ( OT )


( terapis okupasi )
Items : aktivitas permainan yang bernilai terapi
( Puzzele), latihan keseimbangan dan koordinasi saat
duduk, berdiri, berjalan dengan bantuan peralatan,
latihan keterampilan motorik halus tangan, training
Aktivitas kehidupan sehari hari ( makan-minum,
berpakaian, mandi dan aktivitas di toilet

PSYCHOSOCIAL REHAB

Team : psychiatrist + phsycholog


Items : sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan
anak .
Dapat berupa permainan yang bernilai edukasi,
aktivitas rekreasi .
Mobilisasi dengan alat bantu untuk bersosialisasi

Muscular Dystrophy

Muscular dystrpy (Distropi


muskulorum )
Adalah payung dari istilah yang
digunakan untuk sutu kelompok
penyakit genetik dg dikarakteristik
kelemahan otot yang progresif dan
degenerasi dari otot skeletal dan otot
volunter yang mengontrol gerakan.
Otot jantung dan otot involunter lainnya
dapat juga terkena

Definisi
Sekelompok penyakit heriditer yang progresif
Distropi otot berdampak pada kekuatan dan
aktivitas otot, kadang pertama tampak jelas
pada infan dan yang lainnya berkembang
pada usia adolesen atau dewasa muda
Sindroma ini ditandai kelemahan otot secara
umum atau terlokalisir , kesulitan berjalan
atau mempertahankan postur, spasme otot
dan juga terjadi gangguan neurologi,
behavior, jantung berlanjut pada keterbatasan
fungsi

(*) Gowers' sign

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS

Merupakan penyakit yang diturunkan, diturunkan


secara genetik melalui kromosom x resesif . 1/3
nya merupkan hasil mutasi gen baru .
Gen berlokasi di lengan pendek kromosom x
yang berperan thd produksi distropin .
Defek pada lengan pendek kromosom x
menyebabkan distropin tidak terbentuk .
Pada DM tidak didapatkannya distrofin pada
sarkolema serabut otot skelet, sehingga
permeabilitas dinding sel meningkat dan
menimbulkan kerusakan serabut otot

Manifestasi klinis

Perlahan tapi progresif , nampak jelas pada usia 5 th


sering jatuh dan sukar naik tangga dan
bangun dari lantai
Fenomena Gowers
Berjalan seperti bebek ( Waddling gait )
Lordosis yang berlebihan pada punggung
Pseudo hypertropi otot betis
Kelumpuhan simetris
Kelumpuhan mulai dari otot dari otot pelvis, menjalar ke
bahu ( winging skapula ) dan menjalar ke muka
( raut
wajah monoton
Skoliosis , Retriksi dinding dada, kelemahan pada otot
pernafasan mempermudah infeksi saluran nafas yang
berakibat kematian

TIPE

WARISAN

USIA
ONSET

DISTRIBUSI
AWAL

PSEUDO
HIPOTROP
I

PROGER
IFITAS

KONTRAK
TUR

IQ

DUCHENE

SEX
LINKED
RESESIF

2 5 TH

OTOT PELVIS

> 80 %

CEPAT

BIASA

<

BECKER

SEX
LINKED
RESESIF

5 10 TH

OTOT PELVIS

90 %

LAMBAT

BIASA

NORMAL

MIOTONIK

AUTOSOM
AL
DOMINAN

DEKADE
23

OTOT
MUKA,RAHANG,
TEMPORAL

FASCIOSK
APULOHU
MERAL

AUTOSOM
AL
DOMINAN

ANAK
DEWASA

OTOT MUKA,
BAHU, LENGAN
ATAS

EMERY
DREIFUSS

SEX
LINKED

5 15 TH

OTOT LENGAN
ATAS DAN
PERONEAL

TIDAK
BIASA

CONGE
-NITAL

AUTOSOM
AL
DOMINAN

LAHIR

OTOT
PROKSIMAL

TIDAK
BIASA

LIMBGIRDLE

AUTOSOM
AL
RESESIF

10 20
TH

OTOT BAHU PELVIS

VARIASI

TIDAK
BIASA

< 30 %

<

LAMBAT

JARANG

NORMAL

LAMBAT

SIKU

NORMAL

LAMBAT

BIASA

NORMAL

VARIASI

AKHIR
PENYAKIT

NORMAL

DISTROFI MUSKULORUM
DUCHENNE ( DMD )
SBG PROTOTYPE
DMD PALING BANYAK DITEMUKAN
DITURUNKAN SECARA SEX LINKED
RESESIF YANG DIGAMBARKAN
DUCHENNE 1868 DIPERTEGAS
GOWERS 1879
DMD

BIASANYA MENYERANG ANAK


LAKI LAKI ,
WANITA UMUMNYA SEBAGAI
CARRIER TANPA GEJALA KLINIS

KHARAKTERISTIK DMD

PERKEMBANGAN MOTORIK YANG TERLAMBAT


KETERLAMBATAN DALAM DUDUK , BERDIRI DAN BERJALAN
KEJADIAN DMD 1 : 25.000
MENYERANG ANAK LAKI LAKI DENGAN
INSIDEN 1 : 3500 KELAHIRAN BAYI LAKI LAKI
Penyakit DMD tidak dapat disembuhkan , terapi fisik dapat
berpengaruh dalam pencegahan komplikasi, pemeliharaan fungsi
dan memperbaiki kualitas hidup

Perjalan awal dan lanjut dari Distropi


Muskular

Awal

- Flat feet
Kelemahan ekstensi bahu
Keraguan saat naik tangga
Saat bangun dari duduk
mengeser pelvis ke lateral
saat dari berdiri duduk
terjadi
akselerasi / percepatan
lemah waktu bangun
berdiri
Lari, pantat bergoyang

Lanjut

Waddling gait
Sering jatuh
Kesulitan naik tangga
tidur pada bahunya
Gower sign
lordosis, skoliosis
Equinus progresif
Pseudohypertropi otot
betis
fleksi leher lemah
Refleks tendon menurun
kontraktur sendi
gagal jantung

Pemeriksaan penunjang
Creatinin kinase meningkat tinggi
EMG
EKG
BIOPSI OTOT
Komplikasi
osteoporosis menyebabkan fraktur patologis
Obesitas karena kurang ambulasi
Prognosis
DMD meninggal pada dekade kedua ,
kematian umumnya karena infeksi skunder ,
gangguan kardiorespirasi

REHABILITASI ( MD )
I. Stadium dini atau stadium ambulasi
Sasaran : mempertahankan kemampuan ambulasi
dan kekuatan otot selama mungkin
a.Pencegahan kontraktur terutama pada tendon
achiles, hamstring dan iliotibial band dengan
stretching exercise minmal 2 kali sehari , tidur
tengkurap 2 x 30 menit sehari untuk mencegah
kontraktur fleksi pinggul dan latihan ROM pada semua sendi
anggota gerak . Night splint untuk mencegah kontraktur sendi
pergelangan kaki.
b. Mempertahankan endurance ( ketahanan ) . Misalnya renang
c. Bila otot tungkai sudah semakin lemah dapat dibanu dengan
long leg brace
d. Memperbaiki postur untuk mencegah skoliosis

II. Stadium kursi roda


Pada stadium ini dimana kekuatan otot sudah sedemikian
lemahnya sehingga tidak memungkinkan lagi untuk ambulasi
Diperhatikan agar tidak terjadi kontraktur fleksi pada sendi
paha, sendi lutut dan pergelangan kaki . Cegah terjadi skoliosis
dengan latihan atihan merayap
Latihan peregangan diteruskan
Breathing exercise
Ortose untuk anggota gerak atas diperlukan untuk
memngkinkan penderita dapat makan, minum dan bermain
secara mandiri .
Kursi roda yang direkomendasikan
tempat duduk rata dengan seat cushion
Mempunyai arm suport, lumbal suport ( dapat dimiringkan 20
25 derajat
foot rest dalam posisi sedikit dorsofleksi

III. Stadium lanjut


Dalam stadium ini penderita berbaring saja AKS sangat
tergantung.Staium ini merupakan stadium perawatan untuk
mencegah dan mengatasi timbulnya komplikasi pada sistim
kardiopulmonal, gangguan saluran kemih, ulkus dekubitus.
Brethingexcercise , latihan batuk, postural drainase dapat
dilakukan
Alat bantu nafas mungkin diperlukan

Problem psikologis
Menghadapi kondisi penderita yang semakin memburuk dan
isolasi penderita serta IQ yang mungkin rendah perlu kesiapan
psikologis baik penderita maupun keluarganya.
Berikan penjelasan yang bijak tentang proses perjalannan
penyakit serta cara penanganan sederhana dirumah pada
keluarganya untuk menumbuhkan kesiapan mental

Devices. Rehabilitation

An overhead arm
suspension
attaches to the
back of the
wheelchair. The
device eliminates
gravity and may
make it possible
for some patients
to have functional
use of a weak
upper extremity.

Effects of treatment
Walking: Prolonged by 2 to 5 years
Strength: Increased
Falling: Reduced
While patient still ambulatory
? When started at early age (3 to 5 years)
? May prolong walking long enough to reduce
likelihood of serious scoliosis
Death
Most common between 15 - 25 years
Due to respiratory or cardiac failure
Life prolonged by ~ 6 years to 25 years with
respiratory support
Life shortened by 2 years with cardiomyopathy

BRACHIAL
Traumatic obstetric brahial
plexopathy usually result from
traction on the brachial plexus
80 % ( ERBS DUCHENE
PALSY ( C5 C6 ) other
( KLUMKES PALSY ) C8
TH 1 or totaly
Akibat tarikan kuat daerah
leher saat melahirkan bahu
bayi (preskep) /
melahirkan kepala (presbo)

PALSY

Gejala :
- hilang reflek moro
- posisi adduksi
- Putaran ke dalam
- lengan bawah pronasi
Telapak tangan menghadap
kebelakang

SERINGKALI AKIBAT TRAUMA LAHIR ( OBSTETRIC


PARALYSIS )
ANGKA KEJADIAN ( STUDI DI WASHINGTON 1967
1977 ) 0,38 PER
SERIBU KELAHIRAN HIDUP
80 % CEDERA PLEKSUS BRACHIALIS KARENA
TRAUMA LAHIR ADALAH PLEKSUS BRACHIALIS
BAGIAN ATAS
( ERBS DUCHENE
PALSY ( C5 C6 ) YANG LAIN TYPE BAWAH
( KLUMKES PALSY ) C8 TH 1 ATAU TOTAL .

PATOGENESIS
PEREGANGAN PADA SERABUT SARAF YANG
MENGAKIBATKAN ROBEKNYA SHEAT .
EDEMA DAN PERDARAHAN DISEKITARNYA
BILA TERJADI PEREGANGAN DISERTAI
PEROBEKAN PADA SELUBUNG SARAF MAKA
AKAN TERJADI PERDARAHAN INTRANEURAL
DARAH MASUK KE MEDULA SPINALIS --- SERIUS
CEDERA MENGENAI GANGLION SIMPATETIK
STELATUM / RAMI SIMPATIK THORAKAL 1
KELUMPUHAN PLESUS BRACHIALIS + HORNER
SYNDROME
( MIOSIS, PTOSIS, ENOPTHALMUS , FASIAL
ANHIDROSIS, HETEROKROMIA IRIS )

FAKTOR RISIKO
Makrosomia > 4 kg
Pertambahan berat ibu
selama hamil > 20kg
Lama di jalan lahir
Lahir sungsang
Ekstraksi dg Forcep
Bayi lumpuh saat dalam
kandungan
Foetal distress

Klasifikasi

Narakas ( 1987 )
Group 1 C5 C6 classsic Erbss Palsy 4 %
Prognosis Baik
Group 2 C5-C6-C7 29 %
Group 3 Complete palsy dengan Horner
syndrome
Prognosis Buruk

C5 C6 Palsy

Shoulder adduction internal


rotation
Elbow extension
Forearm pronasi
Hand Oke
Paralisis dari Rotator cup Deltoid Biceps Brachialis
anterior Supinator

DIAGNOSIS
ANAMNESIS :
Riwayat persalinan , penyulit persalinan
Pada TYPE ERBS DUCHENE ( CEDERA
SERABUT C5 C6 )
POSISI KHAS WAITER TIP POSTURE , atau
PORTERS TIP POSITION ( ADDUKSI BAHU,
ROTASI INTERNAL BAHU, EKSTENSI SIKU,
PRONASI, FLEKSI PERGELANGAN TANGAN DAN
JARI JARI TANGAN ,
TONUS OTOT MENURUN, REFLEKS TENDON
BISEP NEGATIF
PADA PALPASI DAPAT TERABA PEMBENGKAKAN
KARENA PERDARAHAN ,EDEMA, FRAKTUR

OTOT YANG IKUT TERKENA :

SUPRASPINATUS, INFRA SPINATUS,


SUBSCAPULARIS, RHOMBOIDEUS DAN
SERATUS ANTERIOR
KEADAAN YANG BERAT HILANGNYA
REFLEKS MORO PADA SISI YANG
LUMPUH
FLEKSI JARI JARI TANGAN DAN
REFLEKS MENGENGGAM BIASANYA
MASIH UTUH.

Penanganan awal

PRINSIP PENANGANAN
Mempercepat penyembuhan serabut saraf
Mencegah terjadinya komplikasi skunder
Mengembalikan fungsi lengan tangan semaksimal mungkin

Penatalaksanaan dapat secara konservatif maupun operatif

Penanganan fraktur ( kalau ditemukan )

Imobilisasi dalam posisi tertentu selama 1 2


minggu

Pada Erbs Duchen palsy, diberikan fiksasi dalam


posisi abduksi bahu 900 , eksorotasi pada sendi bahu,
fleksi 900 pada sendi siku , supinasi penuh lengan bawah
disertai ekstensi jari jari tangan statue of Liberty .
Fiksasi dapat menggunakan ortesa Airoplane splin
atau secara sederhana dengan menggunakan bantal
pasir .
Untukmencegah kontraktur dan memperbaiki sirkulasi
dapat diberikan pemanasan superfisial dan latihan pasif ,
masase
Pemberian stimulasi perlu dipertimbangkan terutama
untuk kelompok otot yang kekuatannya kurang dari
3.dan pemulihan tidak ada atau lambat
Observasi selama 3 bulan
Prognosis : tergantung jenis lesi, luasnya lesi serta
cepatnya penanganan

CURVATURA LATERAL
VERTEBRA
SAMPAI 100 NORMAL
BENTUK CURVE C ATAU S
CURVE S MERUPAKAN
KOMPENSASI

DETEKSI AWAL
Pemeriksaan secara visual dari cara berjalan, postur,
panjang tungkai, curve lateral dari tulang belakang
Pemeriksaan dari posterior pada fleksi paha 900
Dapat terdeteksi secara tak sengaja saat pemeriksaan
radiologi tulang belakang

PENANGANAN
CURVA > 25

DILAKUKAN EVALUASI

Curva 25 45 derajat
Awali dengan pemakaian brace
Milawaukee, Boston, Chaleton,
miami brace

Efektif dengan operasi


Penanganan curve 10 25
CURVE AWAL
derajat
Apakah progresif ?
Tidak perlu penanganan bila
monitoring dihentikan tidak progresif
setelah tulang matur
MULA MULA 4 6 BULAN DARI

Exercise therapy

Sasaran memperbaiki ROM

Especially in direction of convexity


Reduce contractural change of soft tissues on
concave side

Aktivitas yang dilakukan :

Improve strength, endurance, & postural control


of muscles on convex side
Identify & correct vestibular and/or
proprioceptive imbalance/deficiency
Improve balance & coordination
Normalize weight bearing in lower extremities & spine

Exercise Therapy - continued


Exercises to restore cervical lordosis

Work with Exercise Ball proprioceptive


control

Sleep posture lying on side with pillow


under rib
Breathing exercises maximize & normalize
chest expansion

BRACE

Common and often benign


orthopaedic concerns

In-toeing
Out-toeing
Bowed legs
Knock-knees
Flat feet

CTEV

Flat Feet / Pes Planus


Arch of the foot is
low. Medial arch is
lost. There may be
some valgus and
eversion deformity
of the foot.

Flatfoot
All infants have it
Most children have it
More than 15% of adults have

AUTISM SPECTRUM DISORDER


ASD
ASD digambarkan sebagai anak yg hidup di dunianya
sendiri , berprilaku aneh dan bicara dengan ucapan aneh
Prilaku anak ASD 2 kutub yang berlawanan
Sama sekali tdk menunjukkan reaksi terhadaap input
sensorik
Memperlihatkan reaksi yang berlebihan pada input tertentu

Kesulitan mengelola input sensorik yg masuk ataupun


reaksi yang berlebihan terhadaap stimulus , merupakan
ciri-ciri dari gangguan sensory Integrasi
Teori sensori integrasi menjelaskan bagaimana cara otak
menerima dan memproses stimulus atau input sensorik
dari lingkungan disekitar kita dan dari dalam tubuh
sendiri
Apabila seorang anak dapat memperoses input sensorik
dengan baik, maka ia akan berprilaku secara adaptif .
Akan tetapi Apabila seorang anak tidak dapat
memperoses input sensorik dengan baik maka anak
akan berprilaku mal adaaptif