Anda di halaman 1dari 17

Definisi :

Penyakit infeksi akut , menular yang


disebabkan oleh corynebacterium
Diphtheriae
Etiologi:
Kuman batang, gram positif, tidak berkapsul,
tidak membentuk spora
Tahan dalam keadaan beku dan kering, mati
pada pemanasan 60 C
Dapat dibiak/ tumbuh pada media K-tellurit
atau Loeffler
Ada 3 type : gravis, intermedius dan mitis

Patogenesa :
Masuk

melalui mukosa / kulit


Berkembang biak di sal.nafas bgn atas dan melepaskan
toksin
Efek toksin : menghambat pembentukan protein dalam
sel sel nekrosis.
Sel nekrotik + inflamasi lokal membentuk bercak eksudat
+ fibrin + eritrosit - membran warna kelabu ,sukar
diangkat, mudah berdarah.
Membran akan terlepas sendiri pada masa penyembuhan
atau bisa disertai infeksi sekunder dengan bakteri lain
sehingga edematous dan tejadi sumbatan jalan nafas.
Efek toksin -> semua organ terutama jantung ,saraf dan
ginjal

Difteri Hidung

Menyerupai common cold,


sekret hidung mukopurulen,
lecet pada nares dan bibir atas.
Membran putih pada daerah septum nasi,
Absorpsi toksin sangat lambat

Difteri Tonsil faring.


Anoreksia,

malaise, demam ringan sakit menelan


Membran menutup tonsil dan faring, meluas ke
uvula dan palatum molle
Membran sulit diangkat dan mudah berdarah
Bisa terjadi lymfadenitis cervikal dan
submandibula
Bisa terjadi Bullneck (limfadenitis
submandibula + edema jaringan lunak leher)
Kasus berat bisa terjadi gagal nafas dan
paralysis palatum molle

Difteri Laring.
Bisa merupakan perluasan dari atas
Bila primer laring maka toksisitas lebih
kurang hanya gejala obstruksi
Nafas berbunyi, suara parau, stridor,
batuk kering
Obstruksi laring,ditemukan retraksi
suprasternal, interkostal dan
supraklavikula
kematian akibat membran menyumbat
jalan nafas

Diagnosa :
Harus

berdasarkan klinis ! !
Pemeriksaan kuman lama dan masih ?
Pemeriksaan dgn flourescent antibody
technique mahal dan memerlukan
keahlian khusus
Dx. pasti Isolasi c.diftheriae pd media
loeffler

Diagnosa Banding

Difteri hidung :
1.
2.
3.

Rhinorrhoe ( cc, sinusitis, adenoiditis)


Benda asing di hidung
Lues congenital (Snuffles)

Diferi Tonsil Faring :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tonsillitis membranosa
Mononukleus Infeksiosa
Tonsilitis herpetic
Moniliasis
Blood dyscrasia
Pasca tonsilektomi

Difteri Laring:
1.
2.
3.
4.

Laringitis
Infectious Croups
Edema laring
Benda asing di laring

Kematian pada difteri disebabkan oleh :

Obstruksi jalan nafas


Miokarditis dan gagal jantung
Paralysis diafragma (neuritis n. Frenikus)

Pengobatan :
Tujuan
a.
b.
c.
d.

Menetralisir toksin yang belum terikat erat


Mencegah / mengusahakan komplikasi minimal
Mengeliminasi c.diftheriae
Mengobati infeksi sekunder & komplikasi

Penatalaksanaan Umum
Isolasi, tirah baring
Jaga jalan nafas bila perlu nebilizer

Menetralisir Toksin
Anti Diphtheria Serum (ADS)
Dosis tergantung berat & lama sakit
Dif.hidung : 20.000 KI
Dif.Tonsil : 40 000 KI
Dif.Faring : 40.000 KI
Kombinasi : 80.000 K
+ bullneck : 80 100.000 KI

ADS bisa im atau iv (dlm NaCl / Dext 5% 100 ml


diberikan 1-2 jam)
Harus di test alergi :dengan Uji kulit / Uji mata :
Uji Kulit
0.1 ml ADS intrakutan (pengenceran Nacl 1:1000)
Uji (+) bila dalam 20 menit indurasi > 10 mm

Uji Mata
Teteskan 1 tetes (pengenceran NaCl 1:10 )
Hasil (+) bila dalam 20 menit mata hyperemis dan
lakrimasi dibanding mata kontrol.
Harus selalu tersedia Adrenali 1: 1000.
Bila penderita alergi, ADS harus tetap diberikan dengan
cara desentisasi (Besredka)

Membunuh kuman
Penisilin prokain 50-100.000 U /kgBB/h- im selama 10 hr
-atau
Eritromisin 40 mg/kgBB/hr
Kortikosteroid:
Masih kontroversi tapi dianjurkan difteri dengan tanda2
obstruksi sal. Nafas atau dengan penyulit miokarditis
Indikasi Trakheostomi bila tampak gelisah, iritable serta
gangguan nafas progresif.

Pencegahan :

Imunisasi pasif transplasental bertahan 6 bulan


Antitoksin bertahan 2-3 minggu
Imunisasi aktif DPT (I,II,III,IV dan V)
Imunitas dapat diukur dengan Uji Schick dan Uji
Moloney
Uji Schick untuk menentukan apakah seseorang
ada mempunyai kekebalan terhadap difteria.

Cara Uji Schick :


Suntikan toksin difteri 0,1 ml yang dilemahkan
1/50 MLD secara intrakutan pada lengan
Hasil :
Uji Schick (+) berarti tidak mempunyai kekebalan
ditandai dengan pembengkakan dan eritema 1-2
hari kmd
Uji Schick (-) mempunyai antitoksin dalam
tubuh (kebal)
Karier : Adalah mereka yang tidak menunjukkan
gejala / keluhan, Uji schick (-) tapi mengandung
basil difteri dalam nasofaring.

Pengobatan Karier :

Penisilin/ ampisillin 100 mg/kgBB/hr atau


Erytromisin 40 mg/kgBB/h selama 7 hari
Bila perlu dilakukan tonsilektomi / adenoidektomi
Pencegahan :
Sesudah sembuh difteri perlu imunisasi DPT ulang
APAKAH SUDAH DPT BISA TERKENA DIFTERI ??

Shynjuku, Tokyo 2005