Anda di halaman 1dari 15

ARTHRITIS & RHEUMATISM Vol. 64, No.

8,
August 2012, pp 26772686 DOI
10.1002/art.34473 2012, American College
of Rheumatology

Derivation and Validation of the Systemic


Lupus International Collaborating Clinics
Classification Criteria for Systemic Lupus
Erythematosus
Alief Leisyah
Pembimbing : dr. Toton Suryotono, Sp.PD
Ilmu Penyakit Dalam
RSUD Cianjur
FKK UMJ
2015

Latar Belakang
Kasus

SLE di US lebih dari 300.000

Kriteria

diagnostik yang sudah banyak digunakan adalah yang di


buat oleh ACR (American College of Rheumatology)

Kriteria ini di publikasikan tahun 1982 dan direvisi tahun 1997

Kriteria tahun 1982 sudah divalidasi, kriteria 1997 belum

Tujuan

penelitian : The Systemic Lupus International Collaborating


Clinics (SLICC)merevisi dan memvalidasi kriteria klasifikasi SLE
dari American College of Rheumatology (ACR) agar meningkatkan
relevansi klinis, mendapatkan persyaratan metode yang lebih
ketat, dan pengetahuan baru mengenai imunologi dari SLE.

Metode
Tahap

Derivasi (menentukan kriteria baru dari kriteria yang


sudah ada)

Memilih variabel yang relevan

Mendapatkan pasien sampel dalam bentuk skenario

Menentukan diagnosis dari sampel (mengklasifikasikan SLE atau


tidak) oleh ahli

Metode
Tahap

Validasi

menilai kriteria yang baru, layak digunakan atau tidak dengan


menggunakan sampel baru (690 sampel)

Hasil
Tahap

derivasi

Didapatkan 716 skenario pasien sebagai sampel

Dari total sampel didapatkan diagnosis menurut ahli : SLE (n 293), RA (n


119), myositis (n 55), chronic cutaneous lupus (n 50), undifferentiated
connective tissue disease (n 44), vasculitis (n 37), primary APS (n 33),
scleroderma (n 28), fibromyalgia (n 25), Sjo grens syndrome (n 15), rosacea
(n 8), psoriasis (n 7), sarcoidosis (n 1), dan Juvenile Idiopathic Arthritis (n 1)

Didapatkan kriteria diagnostik (table 3 terlampir) dibagi dalam kriteria klinis


dan kriteria imunologi

Dikatakan SLE jika pasien tsb memenuhi minimal 4 dari kriteria klinis dan
imunologi, yang didalamnya minimal 1 kriteria klinis dan 1 kriteria imunologi,
ATAU jika pasien tsb telah di biopsi ginjal dan terbukti lupus nefritik dengan
dibuktikan adanya ANA atau Anti dsDNA Antibodi

Hasil
Tahap

Validasi

Didapatkan 690 sampel baru untuk proses validasi kriteria yang


baru

SLE (n 337), RA (n 118), undifferentiated connective tissue


disease (n 89), primary APS (n 30), vasculitis (n 29), chronic
cutaneous lupus (n 24), scleroderma (n 20), Sjo - grens
syndrome (n 15), myositis (n 14), psoriasis (n 8), fibromyalgia (n
4), alopecia areata (n 1), dan sarcoidosis (n 1).

Diskusi
Malar

rash & fotosensitif bukan kriteria yang terpisah, karena keduanya


sering overlap

Kriteria

artritis didefinisikan ulang

Tidak perlu di periksa secara radiologi

Morning stiffness selama 30 menit dapat di masukkan sebagai artritis

Kriteria

renal, sekarang penghitungan proteinuri bisa menggunakan


urin protein-creatinin rasio. (tidak memerlukan waktu lama(24 jam)
untuk menampung urin, bisa menggunakan urin sewaktu/random)

Kriteria

hematologi dibagi menjadi 3 : hemolytic anemia,


leukopenia/lymphopenia, and thrombocytopenia

Diskusi
Aspek

terpenting pada klasifikasi SLICC yang baru adalah hasil


biopsi didapatkan nefritis yang berhubungan dengan SLE
menurut International society of nephrology/renal pathology
society 2003 (klasifikasi dari lupus nefritis) Didapatkannya ANA
atau anti-dsDNA antibodi sekarang sudah bisa diklasifikasikan
SLE

Kriteria

klasifikasi SLICC lebih baik daripada kriteria ACR yang


sudah di revisi untuk sensitivitas tetapi tidak spesifisitas. Kriteria
SLICC lebih relevan dari segi klinis, karena dapat mendefinisikan
lupus secara klinis apda pasien lebih banyak dari pada
menggunakan kriteria ACR yang sudah ada.

Sensitivity.

Identifies the proportion of people who test positive in a group of people known to have the
disease or condition, or the proportion of people who are true positives compared with the total
number of people who actually have the disease. When the observation or test is negative in people
with the disease, the result is termed false negative. Good observations or tests have a sensitivity of
more than 90%, and help rule out disease because there are few false negatives. Such observations or
tests are especially useful for screening.Example: The sensitivity of Homan's sign in the diagnosis of
deep venous thrombosis (DVT) of the calf is 50%. In other words, compared with a group of patients
with deep vein thrombosis confirmed by phlebogram, a much better test, only 50% will have a positive
Homan's sign, so this sign, if absent, is not helpful because 50% of patients may have a DVT.

Specificity.

Identifies the proportion of people who test negative in a group of people known to be
without a given disease or condition, or the proportion of people who are true negatives compared
with the total number of people without the disease. When the observation or test is positive in people
without the disease, the result is termed false positive. Good observations or tests have a specificity of
more than 90% and help rule in disease because the test is rarely positive when disease is absent,
and there are few false positives.Example: The specificity of serum amylase in patients with possible
acute pancreatitis is 70%. In other words, of 100 patients without pancreatitis, 70% will have a normal
serum amylase; in 30%, the serum amylase will be falsely elevated.