Anda di halaman 1dari 139
KEBIJAKAN & STRATEGI PENGENDALIAN ISPA

KEBIJAKAN & STRATEGI PENGENDALIAN ISPA

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

LATAR

BELAKANG

Pneumonia: The forgotten Killer of children

Pneumonia: The forgotten Killer of children 3 | INICHD Oct 2008

3 |

INICHD Oct 2008

Pneumonia: The forgotten Killer of children 3 | INICHD Oct 2008
Pneumonia: The forgotten Killer of children 3 | INICHD Oct 2008

Major

Major causes

causes of

of death

death inin neonates

neonates and

and children

children

under-five

under-five inin the

the world

world -- 2004

2004

Deaths among children under- five

Neonatal deaths

Major causes of death in in neonates and children under-five in in the world - -

35% of under-five deaths are due to the presence of undernutrition*

Sources: (1) WHO. The Global Burden of Disease: 2004 update (2008); (2) For undernutrition: Black et al. Lancet, 2008

4 |

INICHD Oct 2008

Major causes of death in in neonates and children under-five in in the world - -
Major causes of death in in neonates and children under-five in in the world - -

CAPAIAN RPJMN

2005-2009

--------

Angka Kematian

Bayi

34

per 1000 KH

AKI 228 per

100.000

KH Prevalensi gizi kurang 18,4 % pada anak

Balita

SASARAN

TARGET

RPJMN 2010-

(PERPRES 5 /

8 TUJUAN

  • 2014 MDG’s 2015

2010)  Meningkatnya UHH MENJADI 72 thn  Menurunnya Angka Kematian Bayi menjadi 24 per 1000
2010)
 Meningkatnya
UHH MENJADI 72
thn
 Menurunnya
Angka
Kematian Bayi
menjadi 24 per
1000 KH
 Menurunnya AKI
menjadi 118 per
100.000 KH
 Menurunnya
prevalensi gizi-
kurang pada
anak Balita
menjadi 15%.
CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228

POVERTY & HUNGER

EDUCATION

GENDER

MATERNAL HEALTHCOMM.DISEASE
MATERNAL HEALTHCOMM.DISEASE
CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228

CHILD HEALTH

CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228
CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228
CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228

ENVIRONMENTPARTNERSHIP

CAPAIAN RPJMN 2005-2009  --------  Angka Kematian Bayi 34 per 1000 KH  AKI 228

MeAK Ba. 2/3- nya pada tahun

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

ANALISIS

SITUASI

PENURUNAN ANGKA KEMATIAN BAYI & BALITA AK Bayi-Balita cenderung stagnan dalam paruh waktu kedua (2010-2014) bagi

PENURUNAN ANGKA

KEMATIAN BAYI & BALITA

AK Bayi-Balita cenderung stagnan dalam paruh waktu kedua (2010-2014) bagi upaya pencapaian MDG 2015

PENURUNAN ANGKA KEMATIAN BAYI & BALITA AK Bayi-Balita cenderung stagnan dalam paruh waktu kedua (2010-2014) bagi

Bersamaan dengan Pembangunan Jangka Menengah Tahap kedua (2010-2014) Kesempatan terakhir bagi percepatan

7

Penyebab Kematian Bayi 0-11 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 3.7 % Tetanus, 1.7 % Meningtis, 4.5 % Kelainan Kongenital, 5.7 % Masalah
Tidak diketahui penyebabnya,
3.7 %
Tetanus, 1.7
%
Meningtis,
4.5 %
Kelainan Kongenital,
5.7 %
Masalah
Pneumonia,
12.7 %
Neonatal
46,2 %
Diare, 15
%
Masalah
neonatal :
Sumber : Riskesdas 2007
-Asfiksia
-BBLR
-Infeksi, dll

Penyebab Kematian Balita 0-59 bulan

Tidak diketahui penyebabnya, 5.5 % Tetanus, 1.5 % Meningtis, 5.1 % Kelainan Kongenital, 4.9 % Masalah
Tidak diketahui
penyebabnya, 5.5
%
Tetanus, 1.5
%
Meningtis,
5.1 %
Kelainan Kongenital,
4.9 %
Masalah
Neonatal
36 %
Pneumonia,
13.2 %
Masalah
neonatal :
Diare, 17.2
%
Sumber : Riskesdas 2007
-Asfiksia
-BBLR
-Infeksi, dll

KONDISI DI LAPANGAN

SECARA NASIONAL:

Dari hasil pemetaan cakupan Pneumonia membuktikan bahwa Pneumonia tersebar di seluruh wilayah Indonesia

Cakupan penemuan Pneumonia Balita selama 10 tahun berkisar antara 19,65-

35,9%.

Cakupan penemuan kasus pneumonia dari tahun 2000 sampai tahun 2010 belum pernah mencapai target yang ditetapkan;

CAKUPAN CAKUPAN PENEMUAN PENEMUAN PENDERITA PENDERITA PNEUMONIA PNEUMONIA BALITA BALITA Nasional Nasional 2005 2005 -- 2010
CAKUPAN
CAKUPAN PENEMUAN
PENEMUAN PENDERITA
PENDERITA
PNEUMONIA
PNEUMONIA BALITA
BALITA Nasional
Nasional 2005
2005 -- 2010
2010
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA TAHUN 2010
CAKUPAN PENEMUAN PNEUMONIA BALITA TAHUN
2010

KONDISI DI LAPANGAN

Pengendalian Pneumonia Balita sangat dipengaruhi cakupan penemuan penyakitnya. Beberapa hambatan yang ditemui di DAERAH antara lain :

Tenaga terlatih MTBS/ Tatalaksana Standar ISPA tidak melaksanakan di Puskesmas serta mutasi nakes yang tinggi

Pembiayaan (logistik & operasional) terbatas

Pembinaan

(bimbingan teknis, monitoring dan evaluasi)

secara berjenjang masih sangat kurang

Pneumonia

Balita merupakan pandemi yang dilupakan/

tidak ada prioritas sedangkan masalah ini merupakan masalah multisektoral diperlukan kemitraan

Gejala

Pneumonia Balita sukar dikenali oleh orang

awam maupun tenaga kesehatan yang tidak terlatih

PERENCANAAN TERPADU (RESPONSIF)

No

Peran

SDM

Fisik

Peralatan

Operasio

nal

1

Pusat

pelatihan

standar

Standar,

Pedoman,

pembinaan

BOK

,

mengadak

an

2

Propinsi

rekrutmen

pembinaa

Koordinasi

Biaya

n

teknologi

pelaksan aan koord prop

3

Kabupaten

pembinaa

biaya

pengadaan

Pengawas

Kota

n

an dan rencana

4

Masyarakat

pengawas

pengawas

pengawasa

pengawas

an

an

n

an

PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

TUJUAN & SASARAN

DYAH A.R.

TUJUAN PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

  • 1. Tercapainya penemuan dan tatalaksana kasus pneumonia balita pada tahun 2010 (60%), 2011 (70%), 2012 (80%), 2013 (90%) dan 2014 (100%).

  • 2. Tersedianya SDM terlatih profesional dalam penatalaksanaan kasus Pneumonia Balita.

  • 3. Tersedianya SDM terlatih profesional dalam manajemen program pengendalian Pneumonia Balita

  • 4. Tersedianya sarana yang mendukung penatalaksanaan kasus pneumonia Balita secara komprehensif

  • 5. Tersedianya gambaran epidemiologi melalui pengembangan surveilans sentinel pneumonia Balita

GAPP: Objectives

To accelerate pneumonia control through scaling up the delivery of interventions of proven benefit in the context of newborn and child survival strategies in countries

To identify and implement a set of priority activities within each area of work in reducing pneumonia mortality

To develop an approach towards monitoring, documenting and evaluating the impact of the action plan

17 |

INICHD Oct 2008

GAPP: Objectives  To accelerate pneumonia control through scaling up the delivery of interventions of proven
GAPP: Objectives  To accelerate pneumonia control through scaling up the delivery of interventions of proven

Key elements of the action plan

Communication/Advocacy

Implementation

Monitoring and Evaluation

Research and Development: feedback into implementation

18 |

INICHD Oct 2008

Key elements of the action plan  Communication/Advocacy  Implementation  Monitoring and Evaluation  Research
Key elements of the action plan  Communication/Advocacy  Implementation  Monitoring and Evaluation  Research

SASARAN PENGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

Usia Balita, yaitu bayi (0-<1 tahun) dan anak Balita (1-<5 tahun) dengan fokus penanggulangan pada penyakit Pneumonia

KEGIATAN PRIORITAS

Financial side

Optimalisasi dana Jamkesmas, dekonsentrasi, APBD Prov, APBD Kab/Kota dan dana hibah lain (GAVI-HSS, LSM internasional)

Partnership

Peningkatan kerja sama dengan, LSM, LS (Program Keluarga Harapan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Kredit Usaha Rakyat), organisasi internasional & CSR

KEBIJAKAN PENGENDALIAN ISPA (1)

  • 1. Mengupayakan P2 ISPA sebagai salah satu Program Prioritas Nasional dari Program Prioritas Ditjen. PP & PL Departemen Kesehatan RI untuk mencapai MDGs 2015

  • 2. Pengendalian penyakit ISPA dilaksanakan sesuai dengan otonomi daerah dan desentralisasi dalam NKRI.

  • 3. Upaya pengendalian kesakitan dan kematian pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dilakukan bekerjasama dengan lintas program yang terkait dengan kesehatan Balita.

  • 4. Penyebarluasan informasi pengendalian penyakit ISPA melalui berbagai media sesuai dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

KEBIJAKAN PENGENDALIAN ISPA (2)

  • 5. Logistik pengendalian penyakit ISPA meliputi obat esensial, sound timer, oksigen konsentrator dan lain-lain disediakan oleh Pemerintah baik pusat, propinsi dan kabupaten/kota.

  • 6. Pengendalian penyakit ISPA dilaksanakan melalui jejaring kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak

  • 7. Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan dan akuntabilitas pelaksanaan program melalui peningkatan kemampuan sumber daya manusia, pembinaan/supervisi, sistem pemantauan dan evaluasi program serta sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat.

STRATEGI PENGENDALIAN ISPA (1)

Membangun komitmen politis di setiap tingkat administrasi pemerintahan dengan melaksanakan advokasi dan sosialisasi program P2 ISPA dalam rangka pencapaian MDGs 2015.

Penguatan jejaring dilaksanakan melalui pertemuan berkala dengan seluruh pemangku kepentingan terkait.

Penemuan kasus dilakukan secara aktif dan pasif sesuai dengan tatalaksana standar pengobatan.

Peningkatan mutu pelayanan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan kelengkapan logistik bekerjasama dengan pemerintah daerah.

STRATEGI PENGENDALIAN ISPA (2)

Peningkatan peran keluarga dan masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan kader dan tokoh masyarakat.

Evaluasi program dilaksanakan secara berkala bekerjasama dengan lembaga pengkajian/penelitian guna mendapatkan hasil yang obyektif.

Sistem pelaporan dibangun secara bertahap dengan komputerisasi sehingga keterlambatan laporan dapat dikurangi.

Pembinaan teknis dilakukan secara berjenjang dan terstandar.

Hidup terlalu Hidup terlalu singkat……, singkat……, Mengapa Mengapa harus enggan harus enggan menghitung menghitung napas ..
Hidup terlalu Hidup terlalu singkat……, singkat……, Mengapa Mengapa harus enggan harus enggan menghitung menghitung napas ..

Hidup terlalu

Hidup terlalu

singkat……,

singkat……,

Mengapa

Mengapa

harus enggan

harus enggan

menghitung

menghitung

napas ..

napas ,

,

..

Jika banyak

Jika banyak

jiwa bisa

jiwa bisa

L.I.H.A.T dan D.E.N.G.A.R.K.AN

Selamatkan Balita Indonesia dari Kematian

PROGRAM PEGENDALIAN PNEUMONIA BALITA

Hidup terlalu Hidup terlalu singkat……, singkat……, Mengapa Mengapa harus enggan harus enggan menghitung menghitung napas ..

IRA PADA ANAK Infeksi Respiratori Akut

Mekanisme pertahanan respiratorik

hidung - filtrasi partikel refleks epiglotis – pencegahan aspirasi refleks batuk – ekspulsi benda asing selimut mukosilier - pembersihan organisme makrofag alveolar – fagositosis bakteri substansi imunologis lokal – netralisasi kuman sistem limfatik – transport partikel dari paru

Definisi

IRA adalah sekelompok penyakit infeksi pada sistem respiratorik, disebabkan oleh berbagai etiologi, berlangsung < 14 hari

sistem respiratori: sistem yang berperan dalam proses respirasi; hidung s/d alveoli dan struktur terkait (sinus, telinga, pleura)

Respirologi: ilmu tentang sistem respiratorik sebagai satu kesatuan

Istilah

Depkes : ISPA, Inf sal pernapasan akut WHO : ARI, Acute respiratory infection,

AURI : Acute upper respiratory infection ALRI : Acute lower respiratory infection

IKA : IRA, infeksi respiratori akut

IRAA : Infeksi respiratori atas akut IRBA : Infeksi respiratori bawah akut

Pembagian

IRA : atas & bawah (IRAA & IRBA) batas : laring (Nelson) IRAA : rinitis, tonsilitis, faringitis, sinusitis, otitis media IRBA : croup (laringitis dkk), bronkitis, bronkiolitis, pneumonia etiologi IRAA : >90% virus tidak perlu AB

IRAA •Selesma •Faringitis •Sinusitis Sinusitis •Otitis Otitis media media IRBA •Croup •Epiglotitis •Bronkitis •Bronkioliti s •Pneumoni
IRAA
•Selesma
•Faringitis
•Sinusitis
Sinusitis
•Otitis
Otitis media
media
IRBA
•Croup
•Epiglotitis
•Bronkitis
•Bronkioliti
s
•Pneumoni

Pembagian IRA

IRA
IRA
Pembagian IRA IRA Sesak (-) Sesak (+) IRAA IRBA IRAA IRBA •Rinitis •Faringitis •Tonsilitis •Sinusitis •Otitis
Pembagian IRA IRA Sesak (-) Sesak (+) IRAA IRBA IRAA IRBA •Rinitis •Faringitis •Tonsilitis •Sinusitis •Otitis
Sesak (-)
Sesak
(-)
Pembagian IRA IRA Sesak (-) Sesak (+) IRAA IRBA IRAA IRBA •Rinitis •Faringitis •Tonsilitis •Sinusitis •Otitis
Sesak (+)
Sesak
(+)
Pembagian IRA IRA Sesak (-) Sesak (+) IRAA IRBA IRAA IRBA •Rinitis •Faringitis •Tonsilitis •Sinusitis •Otitis
IRAA
IRAA
IRBA
IRBA
IRAA
IRAA
IRBA
IRBA

•Rinitis •Faringitis •Tonsilitis •Sinusitis •Otitis media

•Laringitis

Croup

•Bronkitis

•Difteria
•Difteria

•Epiglotitis

•Bronkiolitis

•Pneumonia

Pneumonia

Anatomi sistem respiratorik

Anatomi sistem respiratorik • Saluran respiratori atas : – Hidung – Sinus – Faring - laring

Saluran respiratori atas :

Hidung

Sinus

Faring - laring

Saluran respiratori bawah :

Bronkus

Bronkiolus

Alveolus

Saluran respiratori atas dan

bawah berhubungan erat

karena merupakan 1 unit

The

KILLER

The KILLER Over 2 million children die from pneumonia each year .. In children < 5

Over 2 million children

die from pneumonia each

year ..

In children < 5 years

pneumonia caused 1 in 5

deaths

UNICEF/ WHO, Pneumonia: The Forgotten Killer of Children, September 2

Pneumonia PEMBUNUH utama balita

Pneumonia PEMBUNUH utama balita Masalah pneumonia Masalah pneumonia pada balita pada balita di di Indonesia Indonesia

Masalah pneumonia

Masalah

pneumonia

pada balita

pada

balita di

di

Indonesia

Indonesia

• Morbiditas

Morbiditas 10-20

10-20 %%

• Mortalitas

Mortalitas

55 // 1000

1000

Kematian krn

Kematian

krn

Pneumonia

Pneumonia

  • 50.000 50.000

// tahun

tahun

  • 12.500 12.500 // bulan

bulan

  • 416 416 /hari

/hari == 11 jumbo

jumbo jet

jet

1717 // jamjam

11 // 44 menit

menit

Pneumonia

inflamasi parenkim paru (alveoli dan

interstisiil)

definisi klinis: penyakit respiratorik

ditandai batuk, sesak, demam, ronki, dan

infiltrat pada foto Rontgen

istilah lain :

pneumonitis (non-infeksi);

alveolitis (Eropa)

Etiologi Pneumonia

terutama : bakteri dan virus

di negara berkembang:

bakteri > virus

Shann,1986: in 7 developing

countries, bacterial - 60 %

Turner, 1987: in developed

countries, bacterial - 19 % ; viral

- 39 %

Etiologi

sebagian besar: kuman (virus, bakteri,

dll); aspirasi, radiasi, dll

pneumonia kuman : virus atau bakteri ?

konsekuensi tata laksana

awal: virus komplikasi bakteri

pola kuman sesuai distribusi umur

terpenting : Streptococcus pneumonia,

Haemophilus influenzae, Staphylococcus

aureus, streptokokus grup B

Bakteri penyebab

Streptococcus pneumoniae Hemophilus influenzae Staphylococcus aureus Streptococcus group A – B Klebsiella pneumoniae Pseudomonas aeruginosa Chlamydia spp Mycoplasma pneumoniae

Pembagian jenis pneumonia

Community acquired pneumonia

umumnya kuman Gram

positif

Hospital acquired pneumonia

umumnya kuman Gram

negatif

Patogenesis

aspirasi kuman

penyebaran langsung dari

respiratorik atas

viremia / bakteremia

penyebaran langsung dari infeksi

intra-abdomen

terbanyak : 2 pertama

Manifestasi klinis

tergantung: kuman, usia, status imuno-logis, beratnya penyakit

neonatus bisa tanpa gejala khusus

gejala: umum, pulmonal, pleural, ekstra-pulmonal

umum : demam, menggigil, sefalgia, resah, gelisah, gastrointestinal (muntah, kembung, diare)

Manifestasi klinis

gejala

gejala

tanda

tanda

pemr fisis

pemr

fisis

demam

demam

demam

demam

ronkhi

ronkhi

napas cepat

napas

cepat

takipnu

takipnu

mengi

mengi

batuk

batuk

dispnu

dispnu

suara nn

suara

lemah

lemah

muntah

muntah

retraksi

retraksi

pekak

pekak

tdk

tdk mau

mau

minum

minum

napas cuping

napas

cuping

fremitus

fremitus

lemah

lemah

Iritabel

Iritabel

merintih

merintih

meningismus

meningismus

letargi

letargi

sianosis

sianosis

pl friction

pl

friction rub

rub

Manifestasi klinis

tanda pulmonal: berguna, tapi pd awitan mungkin belum ada otot bantu napas: chest indrawing / retraksi frekuensi napas: indeks paling sensitif, anak tenang / tidur batuk: pada anak besar, kering produktif, suara napas, ronkhi basah halus (bayi - ) klinis : sulit membedakan bakteri / virus

Manifestasi klinis sederhana (WHO)

Manifestasi klinis sederhana (WHO) Napas cepat (tachypnea) batas frekuensi napas Umur frekuensi nps < 2 bulan

Napas cepat (tachypnea)

batas frekuensi napas

Umur

frekuensi nps

<

2 bulan

60

2

-

12 bulan

50

1

-

5 tahun

40

Chest Indrawing (tarikan dinding dada ke dalam)

Pemeriksaan penunjang

Rontgen toraks:

menunjang diagnosis,

menilai luasnya kelainan patologi

Mencari kemungkinan komplikasi

foto : AP, kadang + lateral

pneumatokel Staphylococcus aureus

normal dalam 3-4 minggu

tidak rutin diulang; kecuali pneumatokel,

pneumotoraks / komplikasi lain

Pemeriksaan penunjang

Analisis gas darah

lekositosis (>15.000/ul) lazim dijumpai

dominasi netrofil, pergeseran ke kiri

bakteri

trombosit >500.000/ul bakteri

trombopeni virus

LED dan CRP tidak khas

biakan darah: spesifik, namun hanya

10-15% yang (+)

Diagnosis

terbaik: etiologik, dengan

pemeriksaan

kendala:

mikrobiologi

teknis: spesimen representatif

Biaya: mahal

dasar diagnosis: klinis + penunjang

lain

masalah : virus atau bakteri ?

ISPA - MTBS

Tujuan: deteksi pneumonia, sehingga tidak ada yang luput

Gejala awal kecurigaan: BATUK, biasanya disertai tanda infeksi berupa demam

Klasifikasi: (bukan diagnosis)

Bukan pneumonia Pneumonia ringan Pneumonia berat

Fokus utama pada pneumonia berat yang potensi mortalitasnya tinggi

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Hub diagnosis klinis - klasifikasi ISPA

Diagnosis klinis

Klasifikasi ISPA

Pneumonia berat

Pneumonia berat

tanpa hipoksemia

hingga

dengan hipoksemia

Pneumonia sangat

dengan komplikasi

berat

Pneumonia ringan

Pneumonia

Infeksi respiratori

Bukan pneumonia

atas

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Pneumonia berat

Batuk &/ kesulitan bernapas, disertai >1 hal:

Kepala terangguk-angguk Napas cuping hidung

Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing)

Tanda lain:

Napas cepat Merintih (grunting) pada bayi Auskultasi: ronki / suara napas turun / bronkial

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Pneumonia sangat berat

Selain gejala pneumonia berat, dijumpai:

Bayi tidak dapat menyusu, makan/minum;

atau memuntahkan semuanya

Kejang, letargis, atau tidak sadar

Sianosis

Sesak sangat berat

WHO, Buku saku Pelayanan Kesehatan di RS, 2006

Tatalaksana

Community acquired pneumonia > rawat

rumah adekuat

rawat inap: sesak nyata, bayi < 3bulan

terapi penunjang & etiologik

Penunjang: oksigen, cairan, makanan

terapi etiologik : antibiotik

deteksi dan tatalaksana komplikasi

Tatalaksana

ideal : sesuai dengan kuman

penyebab

kendala diagnostik, viral ~

bakterial, inf bakteri sekunder

antibiotik untuk semua pneumonia

antibiotik : 5-10 hari, bisa 14 hari

sampai 2-3 hari bebas demam

Vaksin

pneumokok

Faktor risiko pneumonia

Faktor risiko pneumonia Imunisasi tdk lengkap Berat lahir rendah Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan

Imunisasi tdk lengkap

Berat lahir rendah

Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan pathogen carrier
Tanpa ASI
Malnutrisi
PNEUMONIA
High prevalence
Kepadatan
pathogen carrier

Pajanan dgn polusi dalam / luar rumah

Faktor risiko pneumonia Imunisasi tdk lengkap Berat lahir rendah Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan

Asap rokok, asap biomass, polusi kendaraan, pabrik

Defisiensi vit A

Faktor risiko pneumonia Imunisasi tdk lengkap Berat lahir rendah Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan
Faktor risiko pneumonia Imunisasi tdk lengkap Berat lahir rendah Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan

Cuaca dingin

Usia muda

Faktor risiko pneumonia Imunisasi tdk lengkap Berat lahir rendah Tanpa ASI Malnutrisi PNEUMONIA High prevalence Kepadatan

Streptococcus pneumoniae in pleural exudate

(Gram stain)

Streptococcus pneumoniae in pleural exudate (Gram stain) Copyright ©2006 American Academy of Pediatrics

Copyright ©2006 American Academy of Pediatrics

Streptococcus pneumoniae in pleural exudate (Gram stain) Copyright ©2006 American Academy of Pediatrics

History

L Pasteur (1822-1895) & colleagues –

the first notion, the bacteria is

important human pathogen

1886 - Fraenkel– pneumococci

tendency to cause pneumonia

1920 - Society of American Bacteriologist

Diplococcus pneumoniae

1974 - form chain in liquid media –

Streptococcus pneumoniae

Pediatric Respiratory Medicine, 2 nd ed, 2008

Colonization

Nasopharyngeal carriages - most healthy

persons carry various S. pneumoniae in

their upper respiratory tract - carrier

6mo – 5yr of age >90% - at some point

Peak 1 st – 2 nd year of life, decline gradually

Does not consistently induce local /

systemic immunity sufficient to prevent

later reacquisition of the same serotype

Nelson textbook of Pediatrics, 18 th ed, 2007

Transmissions

Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30% of healthy older children and adults

Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30%

Aerosol

Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30%
Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30%
Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30%

Nasal cavity

Asymptomatic

carrier

Nasopharynx: site

of colonisation

  • Inhalation

Nasopharyngeal carriage may occur in up to 60% of healthy pre-school children and up to 30%

Trachea

  • Patient with pneumococcal disease

Dissemination

Fedson, Musher, in Vaccines, 1994 Musher, in Principles and Practice of Infectious Diseases, 1995

Immunology

Capsular polysaccharides impedes phagocytocis – determined the virulence - 90 serotypes

IPD isolates used to study the distribution of serotypes causing the most severe forms of PD

4 decades: 4, 6B, 9V, 14,18C, 19F, 23F – the majority of invasive isolates, in children in developed countries

6B, 9V, 14, 19F – resistant to penicillin Capsule switching – resistance mechanism

Nelson textbook of Pediatrics, 18 th ed, 2007

Pathogenesis

Pathogenesis Salyers, Whitt, in Bacterial Pathogenesis, 1994

Salyers, Whitt, in Bacterial Pathogenesis,

1994

Clinical presentation

Direct extension Otitis media Mastoiditis Sinusitis Laryngotracheo- bronchitis Pneumonia Empyema

Bloodstream Occult bacteremia Sepsis Meningitis Pneumonia Pericarditis Peritonitis Osteomyelitis, etc

Nelson textbook of Pediatrics, 18 th ed, 2007

High risk group

Rates of infection are highest in:

Infants

Young children, below five years

Elderly

Redbook online, 2006

Burden of Pneumococcal Disease

Burden of Pneumococcal Disease •CDC,Prevention of pneumococcal disease, recommendation of the ACIP ,MMWR 1997:46 ( No

•CDC,Prevention of pneumococcal disease, recommendation of the ACIP ,MMWR 1997:46 ( No RR-8 ) •The Pink Book ( 8 th Ed) www.cdc.gov/nip/publications/pink/#download

Pneumococcal Disease:

Overview

Serious

Up to 1 million child deaths each year. Survivors of meningitis are often left with life-long disabilities

1

Common

The No. 1 cause of vaccine-preventable mortality 1

Preventable

Need for modified vaccine formulations 2 for global coverage

WHO, Immunization data fact sheet, 2004; 2. WHO Wkl Epi Report 2008; 83(1) - Target profile new PCVs

Sejarah vaksin pneumokok

1977

14-valent pneumococcal

polysaccharide vaccine (PPV-14) licensed

1983

23-valent pneumococcal

polysaccharide vaccine (PPV-23) licensed –

Pneumo-23

 

2000

7-valent pneumococcal conjugate

vaccine (PCV-7) licensed - Prevenar

20xx?

10-valent pneumococcal conjugate

vaccine (PCV-10) licensed - …

..

???

20xx?

13-valent pneumococcal conjugate

vaccine (PCV-13) licensed?

Pneumococcal polysaccharide vaccine - PPV

Purified capsular polysaccharide

antigen from 23 types of

pneumococcus

Account for 88% of bacteremic

pneumococcal disease

Cross-react with types causing

additional 8% of disease

Pneumococcal polysaccharide vaccine - PPV

Purified pneumococcal

polysaccharide (23 types)

Not effective in children younger

than 2 years

60%-70% against invasive disease

Less effective in preventing

pneumococcal pneumonia

PPV recommendations

Adults 65 years of age or older

Persons 2 years or older with

chronic illness

anatomic or functional asplenia

immunocompromised (disease,

chemotherapy, steroids)

HIV infection

environments or settings with

increased risk

MMWR 1997;46(RR-8):1-24

Pneumococcal conjugate vaccine - PCV

Pneumococcal polysaccharide

conjugated to nontoxic diphtheria toxin

(7 serotypes)

Vaccine serotypes account for 86% of

bacteremia and 83% of meningitis

among children younger than 6 years of

age

Pneumococcal conjugate vaccine - PCV

Highly immunogenic in infants and

young children, including those with

high-risk medical conditions

97% effective against invasive disease

caused by vaccine serotypes

73% effective against pneumonia

7% reduction in all episodes of acute

otitis media

PCV recommendations

All children younger than 24 months of

age

Unvaccinated children 24-59 months

with a high-risk medical condition

MMWR 2000;49(RR-9):1-35

PCV recommendations

Doses at 2, 4, 6, months of age

Booster dose at 12-15 months of age

First dose as early as 6 weeks

Minimum interval of 4 weeks between

first 3 doses

At least 8 weeks between dose 3 and

dose 4

Unvaccinated children >7 months of

age require fewer doses

MMWR 2000;49(RR-9):1-35

IPD by age & year-children <5 years,

1998-2003*

Age group 1 yr <1 yr 2 yrs 3 yrs 4 yrs Year *2003 data are
Age group
1 yr
<1 yr
2
yrs
3
yrs
4
yrs
Year
*2003 data are preliminary.
Source: Active Bacterial Core Surveillance/EIP Network

Effect of infant PCV7 vaccination

Children <2 years: 94% reduction of

invasive PCV7 disease in 5 years

Oldman >65 years: 75% reduction of

pneumococcal disease due to a heard

effect

Antibiotic resistant strain have decreased

Reduced ethnic disparity in disease risk

Increase in non PCV7 serotypes has

caused concern

PENANGGULANGAN PANDEMI

INFLUENZA

LATAR

BELAKANG

PENYAKIT ISPA SEBAGAI KEDARURATAN

KESEHATAN YANG MERESAHKAN DUNIA

(PHEIC-PUBLIC HEALTH EMERGENCY INTERNATIONAL CONCERN)

TAHUN

ISPA-PHEIC

1918

FLU SPANYOL (A H1N1)-KEMATIAN 40-50 JUTA JIWA

1957

FLU ASIA (A H2N2)- KEMATIAN 4-5 JUTA JIWA

1968

FLU HONGKONG (A H3N2)-KEMATIAN SATU JUTA JIWA

2003

SARS-SEVERE ACUTE RESPIRATORY SYNDROME

2005-

FLU BURUNG H5N1

SEKARANG

 

PANDEMI

2009

INFLUENZA JARANG TERJADI

PANDEMI INFLUENZA A BARU H1N1-DERAJAT

TETAPI CENDERUNG BERULANG

KEPARAHAN SEDANG

 

PENANGGULANGAN PANDEMI

INFLUENZA

ANALISIS

SITUASI

ESTIMASI KASUS DI INDONESIA

(Perkiraan jumlah penduduk 220.000.000)

> 2% = >1.320.000
> 2%
= >1.320.000

PANDEMI: Dengan & Tanpa Kesiag

DEKOMPRESI BEBAN PUNCAK KASUS RENDAH DAMPAK BURUK TANPA KURANG INTERVENSI DENGAN INTERVENSI Kasus Harian
DEKOMPRESI
BEBAN
PUNCAK
KASUS RENDAH
DAMPAK BURUK
TANPA
KURANG
INTERVENSI
DENGAN
INTERVENSI
Kasus Harian

“Waktu” mulai kasus pertama

PENANGGULANGAN

PANDEMI INFLUENZA

TUJUAN & SASARAN

DYAH A.R.

TUJUAN UPAYA PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA

Tersusunnya Rencana Kontijensi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014.

Tersedianya pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014.

Tersedianya pedoman Respons Nasional Penanggulangan Pandemi Influenza di seluruh propinsi dan kabupaten/kota sampai dengan akhir tahun 2014.

DYAH A.R.

SASARAN UPAYA PENANGGULANGAN PANDEMI INFLUENZA

Pengambil keputusan di pemerintah pusat, daerah propinsi dan kabupaten/kota

Petugas sektor terkait di institusi pusat, propinsi dan kabupaten/kota

DYAH A.R.

Kewaspadaan Kasus Influenza A (H7N9) dan Novel Corona Virus

Kewaspadaan Kasus Influenza A H7N9

Kewaspadaan Kasus Influenza A H7N9

INFLUENZA TYPE A (H7N9)

Telah terjadi wabah virus Avian Influenza sub tipe influenza A H7N9 yang sifatnya zoonosis di China, meskipun sifatnya low pathogen pada unggas.

Data WHO sampai dengan 29 Mei 2013 wabah tersebut telah menyebabkan 132 orang terinfeksi dengan kematian 37 orang (CFR 28%)

Virus flu burung H7N9 selama ini tidak pernah menginfeksi manusia dan mamalia, eksklusif hanya menginfeksi unggas. Penjelasan yang mungkin mengapa sekarang virus flu burung H7N9 menginfeksi manusia atau mamalia adalah terjadinya mutasi yang mungkin terjadi saat migrasi musim semi unggas air di sekitar Danau Qinghai.

SITUASI TERKINI KASUS AI (H7N9)

PADA MANUSIA(2) PER 17 MEI 2013 sumberWHO

Virus

ini

ditemukan pada unggas

di

pasar

unggas hidup

Shanghai – belum diketahui

dengan pasti bagaimana cara virus ini

menginfeksi manusia manusia.

(mode of transmission)

Genetik

virus pada

manusia sama dengan

genetik virus pada unggas.

INFLUENZA TYPE A (H7N9)

Sebaran kasus berasal dari 8 Provinsi dan 2 Kota di China serta 1 kasus berasal dari Taipei, Taiwan ;

Anhui (4 kss), Fujian (6 kss), Zhejiang (46 kss), Shandong (2 kss), Jiangxi (5 kss), Henan (4 kss), Jiangzu (26 kss), Hunan (2 kss), Beijing City (2 kss), Shanghai City (34 kss) dan Taipei, Taiwan (1 kss)

Dari manusia yang tertular virus H7N9 di China terdapat 2 cluster keluarga.

Hasil uji puluhan kontak erat kasus H7N9 pada manusia oleh Otoritas Kesehatan Shanghai mendapatkan bahwa tidak ada satu pun yang positif terinfeksi. Dengan demikian, tidak terbukti adanya penularan antar manusia.

INFLUENZA TYPE A (H7N9)

Virus Influenza A (H7N9) tersebut kemungkinan dapat berasal dari unggas karena telah ditemukan unggas yang positif virus Influenza A (H7N9) yakni pada burung dara yang mati di pasar Shanghai, kemudian menyusul pada burung puyuh di pasar unggas Huangzhou serta ayam dengan tanda subklinis

Penyakit ini diklasifikasikan dalam Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI), yang berbeda dengan virus Influenza A (H5N1) yang tergolong Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI)

Namun demikian virus Influenza A (H7N9) ini berakibat fatal pada manusia dengan tingkat kematian (mortalitas) yang cukup tinggi.

INFLUENZA TYPE A (H7N9)

Menteri Pertanian telah meterbitkan Peraturan Pertanian No.44/Permentan/OT.140/4/2013 tanggal 10 April 2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan/atau Produk Unggas dari Negara Cina ke Indonesia

Memperhatikan sifat virus AI H7N9 dan virus AI lainnya yang masih akan terus mengalami mutasi antigenik dan genetik

Peran dan koordinasi Balai Besar Penelitian Veteriner dengan instansi terkait lainnya untuk melaksanakan berbagai penelitian monitoring dinamika guna meningkatkan kewaspadaan dini dan kesiagaan darurat terhadap risiko penyebaran virus H7N9 tersebut pada unggas di Indonesia

Gejala klinis H7N9

Gejala utama H7N9 :

Pnemoni berat,

demam,

batuk,

sesak napas,

Riwayat dari daerah terjangkit

Analisis Kasus Influenza A

Analisis Kasus Influenza A (H7N9)

(H7N9)

Analisis Kasus Influenza A (H7N9)
Analisis Kasus Influenza A (H7N9)

CASE

Clinical features of the 4 case-patients .All case-patients were 58- to 73-year-old married men, farmers or retirees, and long-term residents of Shanghai (Fengxian, Baoshan, Songjiang, and Pudong districts, respectively). Case-patient 1 had a history of coronary heart disease and hepatic schistosomiasis; case-patient 2 had no history of chronic disease; case-patient 3 had a history of hypertension and gout; and case-patient 4 had a history of hypertension and repetitive cough for >10 years during spring and autumn.

Case-patient 1 raised chickens at home. Case-patients 2–4 had no clear history of close contact with poultry; however, each had visited various farmers’ markets that sold live poultry. None of the patients raised pigeons or live in or near a heavily pigeon-infested area.

Before being transferred to SHPHCC on April 6, 2013 (patients 1 and 2) and April 7, 2013 (patients 3 and 4), the 4 patients had been treated in local hospitals; infection with influenza A(H7N9) virus had been confirmed by real-time reverse transcription PCR of nasopharyngeal swab samples before transfer. The case-patients had cough and fever and had been expectorating sputum for ≈6–7 days before admittance to SHPHCC. In addition, all had experienced cold-like symptoms and fatigue before influenza-like symptoms developed. Case-patient 4 had cough and fever for 18 and 10 days, respectively, before being transferred to SHPHCC; his case was the most serious of the 4, and the disease progressed rapidly after he was transferred to SHPHCC.

Perbedaan antara Avian Influenza

A(H7N9) dan Novel Corona virus

INFLUENZA A(H7N9)

Kasus ditemukan pd musim semi 2013

131 kasus,36 meninggal

Di China

Klaster kecil penularan dari orang ke orang belum dapat disingkirkan.

Tersedia Neuraminidase Inhibitor

Pengembangan vaksin dalam proses tetapi belum

diputuskan diproduksi.

NOVEL CORONA VIRUS

Kasus ditemukan pd musim semi 2012

41 kasus, 20 meninggal

Arab Saudi. Jordania, Qatar, Uni Emirat Arab,Inggris, Perancis dan German

Beberapa klaster menunjukkan penularan terbatas dari manusia ke manusia dan tidak berkelanjutan.

Perawatan umum,tetapi tak ada obat spesifik dan tak ada vaksin

Persamaan antara Avian Influenza A

(H7N9) dan Novel Corona virus

Keduanya alamiah pada hewan

Kasus sporadis dan terdapat klaster

Tak terjadi KLB yang meluas di masyarakat.

Terbanyak

Penyakit

Saluran

Pernafasan

Berat/ISPA Berat dan Fatal

Terbanyak menyerang lelaki kelompok umur

sama atau lebih 50 tahun

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • 1. Membuat Surat Edaran Kewaspadaan Dirjen PP dan PL mengenai kewaspadaan kasus Influenza A (H7N9) kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan di seluruh Indonesia dengan melakukan langkah2 sbb:

  • a. Melakukan pengamatan ketat dan respon dini

terhadap kasus Influenza Like Illness dan Severe Acute Respiratory

  • b. Melakukan tindak lanjut pengambilan dan pengiriman spesimen pada kesempatan pertama pada setiap kasus suspek Flu Burung yang ditemukan dan memberikan pertolongan/pengobatan dan atau rujukan secepatnya.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • c. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluarga atau tetangga yang sakit dengan gejala seperti demam, batuk/pilek, dan sesak napas, namun tidak perlu menimbulkan kepanikan bagi masyarakat.

  • d. Melaporkan kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI bila menemukan kasus dengan gejala seperti pada kasus Flu burung melalui sarana Posko KLB:

Telepon 021- 4257125 atau 021-36840901

SMS 021-36840901

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • 2. Surat Dirjen PP dan PL kepada Dirjen BUK, mengenai kesiapsiagaan penyakit influenza (H7N9).

  • 3. Pemasangan Banner mengenai kesiapsiagaan H7N9 di seluruh pintu masuk negara

  • 4. Berkoordinasi dengan Pusat BTDK, Litbangkes dan CDC terkait kesiapan pemeriksaan Laboratorium.

  • 5. Koordinasi dengan WHO Jakarta dan WHO Geneva utk update situasi.

  • 6. Penguatan koordinasi lintas sektor terkait, bersamaan dengan pertemuan 4 Way Linking Human-Animal interface Epidemiologi - Laboratorium)

Rekomendasi WHO

1. Jika

pada

pemeriksaan laboratorium PCR

ditemukan virus influenza A unsubtypable (negatif H1,H3 dan H5), harus segera dikirim ke WHO Collaborating Centre untuk analisis lebih lanjut

  • 2. Kasus

influenza

A

unsubtypable

harus

dilaporkan ke WHO melalui National Focal Point

International Health Regulations (IHR) 2005

  • 3. Strategi pengamatan/surveilans terhadap kasus H7N9 sama seperti yang dilakukan terhadap kasus H5N1

Rekomendasi WHO (2)

  • 4. Perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya influenza pada pasien dengan penyakit pernafasan akut yang parah

  • 5. Standar/pedoman pengendalian infeksi dan Pelacakan kontak (contact tracing)

  • 6. Perlu ditingkatkan pengamatan kasus pada pasien Severe Acut Respiratory Infection (SARI) dan terhadap petugas kesehatan/perawat yang merawat pasien SARI

  • 7. WHO tidak menyarankan dilakukan skrining khusus di pintu masuk (bandara,pelabuhan) dan tidak merekomendasikan untuk melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan

KEWASPADAAN & KESIAPSIAGAAN

DI PINTU MASUK NEGARA

Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, terutama dari negara terjangkit

Pemantauan perkembangan kasus Penguatan surveilans berbasis kejadian

Persiapan Logistik : Health Alert Card (HAC), Alat Pelindung Diri (APD), obat (Oseltamivir), Disinfektan

Rumah Sakit rujukan Penguatan jejaring kerja Diseminasi informasi ( lintas sektor, masyarakat) Promosi kesehatan

Penggunaan masker bagi orang yang sakit (agar tidak menular ke yang sehat)

Genetic Evolution of H7N9 Virus in China

Genetic Evolution of H7N9 Virus in China This diagram depicts the origins of the H7N9 virus

This diagram depicts the origins of the H7N9 virus from China and shows how the virus's genes came from other influenza viruses in birds

Electron Micrograph Images of H7N9 Virus from China

H7N9 virus - Image A Large expanded expanded

Electron Micrograph Images of H7N9 Virus from China

Electron Micrograph Images of H7N9 Virus from China H7N9 virus - Image A Large expanded expanded

H7N9 infections in people and poultry in China Sporadic infections in humans; many with poultry exposure No sustained or community transmission Investigation ongoing

Kewaspadaan novel Corona Virus

Kewaspadaan novel Corona Virus

NOVEL CORONA VIRUS

Terdapat peningkatan kasus novel Corona virus yang dilaporkan ke WHO dari berbagai negara. Terhitung sejak September 2012 sampai dengan tanggal 14 Juni 2013 jumlah total kasus sebanyak 61, dengan 34 kematian (CFR 57%).

Rincian kasus berasal dari negara; Saudi Arabia, Jordania, Qatar, United Kingdom, Uni Emirat Arab, Perancis, Jerman, Tunisia, dan Italia.

Terdapat 3 klaster yang dilaporkan ; 2 klaster dari Saudi Arabia,1 Klaster dari Jordania, dan 1 klaster dari Tunisia.

Hal ini menunjukkan kemungkinan penularan dari manusia ke manusia atau alternatif lain karena terpapar dari sumber yang sama.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • 1. Membuat Surat Edaran Kewaspadaan Dirjen PP dan PL mengenai kewaspadaan kasus Novel Corona Virus kepada Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit Vertikal, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan, di seluruh Indonesia dengan melakukan langkah2 sbb:

    • a. Meningkatkan surveilans terhadap kasus Severe Acut Respiratory Infection (SARI) yang mungkin ditemukan di masyarakat khususnya pada kasus klaster (cluster).

    • b. Peningkatan kewaspadaan di Rumah Sakit dengan pengamatan semua kasus Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani dengan seksama serta dilakukan pemeriksaan laboratorium.

    • c. Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas di pintu masuk negara

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • d. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas khususnya bagi jemaah umrah untuk selalu menjaga kesehatannya dan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluarga atau tetangga yang sakit dengan gejala seperti tersebut di atas, serta selalu melaksanakan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), namun tidak perlu menimbulkan kepanikan bagi masyarakat.

  • e. Agar Segera melaporkan kepada Ditjen PP dan PL, Kementerian Kesehatan RI bila menemukan kasus dengan gejala seperti tersebut diatas melalui sarana POSKO KLB:

Telepon 021-4257125 atau 021-36840901

SMS 021-36840901

Email : poskoklb@yahoo.com

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

2. Surat Edaran Dirjen PP dan PL Kepada Dinas Kesehatan Provinsi mengenai Kewaspadaan Novel Corona Virus bagi Jemaah Umrah, agar memberikan informasi dan penyuluhan seputar nCoV dan pencegahan umum kepada calon jemaah umrah berupa :

a. Agar selalu menjaga kesehatan dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), antara lain:

Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir

Menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau lengan baju bagian dalam bila batuk atau bersin.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • b. Segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan bila ada jemaah umroh dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas (sesak, napas pendek).

  • c. Segera melaporkan bila menemukan jemaah umroh dengan gejala sakit di atas kepada POSKO KLB Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI:

Telepon

: +6221-4257125

atau +6221-36840901

SMS

: +622136840901

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

3. Surat Dirjen PP dan PL kepada Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) agar memberikan informasi dan penyuluhan seputar nCoV dan pencegahan umum kepada TKI berupa

a. Agar selalu menjaga kesehatan dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dengan menjaga kesehatan, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi dan jangan merokok.

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • b. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum, selama dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, menangani hewan/bangkai hewan, saat tangan kotor dan setelah mengunjungi orang sakit;

  • c. Menutup hidung dan mulut dengan masker, tisue/sapu tangan atau lengan baju bila batuk atau bersin. Buang tisue yang telah terpakai di tempat sampah tertutup;

  • d. Segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan bila mengalami sakit dengan gejala demam, batuk, dan kesulitan bernapas (sesak, napas pendek).

UPAYA YANG SUDAH DILAKUKAN

  • 4. Berkoordinasi dengan Pusat BTDK, Litbangkes dan CDC terkait kesiapan pemeriksaan Laboratorium.

  • 5. Koordinasi dengan WHO Jakarta dan WHO Geneva utk update situasi.

Rekomendasi WHO

  • 1. Perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya novel corona virus pada pasien dengan penyakit pernafasan akut yang parah

  • 2. Perlu ditingkatkan pengamatan kasus pada pasien Severe Acut Respiratory Infection (SARI) dan terhadap petugas kesehatan/perawat yang merawat pasien SARI

  • 3. Standar/pedoman pengendalian infeksi dan Pelacakan kontak (contact tracing)

Rekomendasi WHO

  • 4. Upaya identifikasi sumber virus, pajanan, dan cara transmisi harus dilakukan secara multisektor dan melibatkan veteriner, otoritas keamanan pangan, kesehatan lingkungan, selain otoritas kesehatan masyarakat.

  • 5. Kasus konfirmasi dan probable dilaporkan dalam waktu 24 jam setelah klasifikasi ditetapkan kepada WHO, melalui National Focal Point International Health Regulations (IHR) 2005

KEWASPADAAN &

KESIAPSIAGAAN

DI PINTU MASUK NEGARA

Pengamatan orang (kru dan penumpang) dengan gejala demam, batuk, kesulitan bernapas, terutama bagi jemaah Umrah atau negara terjangkit

Pemantauan perkembangan kasus Penguatan surveilans berbasis kejadian

Persiapan Logistik : Health Alert Card (HAC), Alat Pelindung Diri (APD), dan obat-obatan

Rumah Sakit rujukan Penguatan jejaring kerja Diseminasi informasi ( lintas sektor, masyarakat) Promosi kesehatan

Selalu Waspada !
Selalu
Waspada !
Detect Respon !
Detect
Respon !

CORDINATION !!!

INFO PENTING

POSKO KLB: 021- 4257125 / 02136840901 (Telp/SMS) Email : poskoklb@yahoo.com SMS Gateway: 085 7645 99996 / 085 7645 99997 Homepage Kementerian Kesehatan RI :

www.depkes.go.id Homepage Ditjen PP dan PL : www.pppl.depkes.go.id Info Penyakit Menular Lokal : www.infopenyakit.org Info Penyakit Menular ASEAN PLUS THREE :

www.aseanplus3-eid.info

Info WHO Head Quarter : www.who.int Info WHO Regional Asia Tenggara : www.searo.who.int Info CDC Atlanta : www.cdc.gov