Anda di halaman 1dari 50

BAHAN KULIAH:

PERPAJAKAN
Topik Bahasan:

KETENTUAN
PEMOTONGAN DAN
PEMUNGUTAN
DOSEN: 21/26
PPh Pasal
Dr. SUMIHARTI, Ak, M.Si

MEKANISME POTONG/PUNGUT
PEMOTONG
(Witholder)

MEMBAYAR

YANG DIPOTONG
(Subjek Pajak)
Penerima Penghasilan

Pemberi Hasil

OBJEK PEMOTONGAN

BUKAN OBJEK

Psl 4 (1) & (2) UU PPh

Psl 4 (3) UU PPh

KEWAJIBAN PERPAJAKAN

POTONG/PUNGUT
SETOR
LAPOR

SSP
Bukti
Potong

SPT MASA
2

OBJEK PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN
PPh

PEMOTONGAN
PPh PASAL 21/26

PEMUNGUTAN
PPh PASAL 22

PEMOTONGAN
PPh PASAL 23/26

PEMOTONGAN
PPh
PASAL 4 AYAT (2)

DASAR HUKUM PEMOTONGAN PPh PASAL 21

UU

PP

PER
MENKEU

PER
DIRJEN

UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)


UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)

-PP No.45 Tahun 1994 (PPh atas Penghsl PNS dkk)


-PP No. 8 Tahun 2007 (Peraturan Pelaks.UU KUP)
-PMK No. 181 Th 2007 (Bentuk dan Isi SPT)
-PMK No. 184 Th 2007 (Tgl jatuh tempo pembayaran,pelaporan)
-PMK No.186 Th 2007 (Dikecualikan dari pengenaan sanksi)
-PMK No.190 Th 2007 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
-PMK No.252 Th 2008 (Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21)
-PMK No.246 Th 2008 (Bea siwa dikecualikan dari Objek PPh)
-PMK No.250 Th 2008 (Biaya jabatan dan Biaya Pensiun)
-PMK No.206 Th 2012 (PTKP untuk Pegawai Harian dan Mingguan)
- PMK No.162 Th 2012 (Perubahan PTKP mulai 1 Jan.2013)
-PERDIRJEN No.31/PJ/2012 (Pedoman Tatacara Pemot. PPh Ps.21)
-PERDIRJEN No.32/PJ/2009 (Form.SPT Masa & Bukti Pot PPh Ps.21)
-PERDIRJEN No.38/PJ/2009 (Formulir SSP)
Dit.P2Humas
4 4

PENGERTIAN PPh PASAL 21/26


PPh
SEHUBUNGAN DENGAN
- PEKERJAAN
- JASA DAN KEGIATAN ,
YG DILAKUKAN WP ORANG PRIBADI
PENGHASILAN BERUPA :
-GAJI
-UANG PENSIUN
-TUNJANGAN,
- BONUS, THR
- PEMBAYARAN LAIN DENGAN NAMA APAPUN

- UPAH
- HONORARIUM
- KOMISI, FEE, UANG HADIR
- HADIAH DAN PENGHARGAAN

WP DN

WP LN

PPh PASAL 21

PPh PASAL 26
5

PEMOTONG PPh PASAL 21


PEMOTONG
PEMBERI
KERJA

ORANG PRIBADI
BADAN
(TERMASUK BUT)

BENDAHARA PEMERINTAH PUSAT/DAERAH


(TERMASUK INSTANSI/LEMBAGA PEMERINTAH LAINNYA,
LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA LAINNYA, KEDUBES RI DI LUAR NEGERI)

DANA PENSIUN, PT. TASPEN, PT. ASTEK, PENYELENGGARA JAMSOSTEK

PENYELENGGARA KEGIATAN TERMASUK BADAN PEMERINTAH,


ORGANISASI YG BERSIFAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL, PERKUMPULAN,
ORANG PRIBADI SERTA LEMBAGA LAINNYA YG MENYELENGGARAKAN
KEGIATAN
6

TIDAK WAJIB MELAKUKAN PEMOTONG PPh PASAL 21


BUKAN PEMOTONG
KANTOR PERWAKILAN NEGARA ASING

ORGANISASI-ORGANISASI INTERNASIONAL YANG DITETAPKAN


MENTERI KEUANGAN RI SEBAGAI BUKAN SUBJEK PAJAK

PEMBERI KERJA ORANG PRIBADI YG TIDAK MELAKUKAN KEGIATAN USAHA


ATAU PEKERJAAN BEBAS YG SEMATA-MATA MEMPERKERJAKAN
ORANG PRIBADI UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA
ATAU PEKERJAAN BUKAN DALAM RANGKA MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA ATAU PEKERJAAN BEBAS
7

PENERIMA PENGHASILAN YANG DIPOTONG


PPh PASAL 21/26
PENERIMA PENGHASILAN
PEGAWAI

PEGAWAI TETAP*
PEGAWAI TIDAK TETAP

BUKAN PEGAWAI

TENAGA AHLI, SENIMAN, ARTIS, PEMBAWA ACARA,


OLARAGAWAN, PENGAJAR, PELATIH, PENCERAMAH,
PENGARANG, PENELITI, PENERJEMAH, AGEN IKLAN,
PENGAWAS/PENGELOLA PROYEK, PEMBAWA PESAN,
PETUGAS PENJAJA BARANG DAGANGAN, PETUGAS
DINAS LUAR ASURANSI, DISTRIBUTOR PERUSAHAAN
MULTILEVEL MARKETING/DIRECT SELLING

PESERTA KEGIATAN
PENERIMA PESANGON, PENSIUN ATAU UANG MANFAAT
PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA ATAU JAMINAN HARI TUA
*PEGAWAI TETAP : PEGAWAI YG MENERIMA/MEMPEROLEH PENGHASILAN DLM JUMLAH TERTENTU SECARA
TERATUR, TERMASUK ANGGOTA DEWAN KOMISARIS & ANGGOTA DEWAN PENGAWAS YG SECARA TERATUR
TERUS MENERUS IKUT MENGELOLA KEGIATAN PERUSAHAAN SECARA LANGSUNG, SERTA PEGAWAI YG
BEKERJA BERDASARKAN KONTRAK UTK SUATU JANGKA WAKTU TERTENTU SEPANJANG PEGAWAI YANG
Dit.P2Humas
8 8
BERSANGKUTAN BEKERJA PENUH (FULL TIME) DLM PEKERJAAN TERSEBUT.

TIDAK TERMASUK PENERIMA PENGHASILAN


YANG DIPOTONG PPh PASAL 21/26
TIDAK TERMASUK
PENERIMA PENGHASILAN

PEJABAT PERWAKILAN
DIPLOMATIK/KONSULAT ATAU
PEJABAT LAIN DARI NEGARA
ASING TERMASUK ORANGORANG YANG
DIPERBANTUKAN &
BERTEMPAT TINGGAL
BERSAMA MEREKA

BUKAN WNI
TIDAK MENERIMA/ MEMPEROLEH
PENGHASILAN LAIN DI LUAR
JABATANNYA DI INDONESIA
NEGARA YBS. MEMBERIKAN
PERLAKUAN TIMBAL BALIK

PEJABAT PERWAKILAN ORGANISASI


INTERNASIONAL YG DITETAPKAN
OLEH MENKEU YAITU KMK. NO.
574/KMK.04/2000 SBG.MANA TELAH
DIUBAH DGN PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NO. 215/PMK.03/2008

BUKAN WNI
TIDAK MENJALANKAN USAHA/
KEGIATAN/PEKERJAAN LAIN UNTUK
MEMPEROLEH PENGHASILAN DI
INDONESIA

WNI YG BEKERJA
SBG OFFICIAL
BADAN
INTERNASIONAL
DARI
PERSERIKATAN
BANGSA-BANGSA
(PBB)

TIDAK MENERIMA/
MEMPEROLEH
PENGHASILAN
LAIN DI LUAR
SBG OFFICIAL

PENGHASILAN YANG DIPOTONG


PPh PASAL 21/26
PENGHASILAN
DITERIMA/DIPEROLEH SECARA TERATUR
DITERIMA/DIPEROLEH SECARA TIDAK TERATUR
BERUPA UPAH HARIAN, UPAH MINGGUAN,UPAH BULANAN,
UPAH SATUAN, DAN UPAH BORONGAN
BERUPA UANG PESANGON , UANG MANFAAT PENSIUN,
JAMINAN/TUNJANGAN HARI TUA, DAN PEMBAYARAN LAIN
SEJENIS
BERUPA HONORARIUM, KOMISI, FEE, UANG SAKU, UANG SAKU,
UANG REPRESENTASI, UANG RAPAT, HONORARIUM, HADIAH ATAU
PENGHARGAAN DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN,
DAN IMBALAN SEJENIS DENGAN NAMA APAPUN
TERMASUK PEMBERIAN DLM BENTUK NATURA/KENIKMATAN YG DIBERIKAN OLEH BUKAN WAJIB PAJAK
ATAU WAJIB PAJAK YG DIKENAKAN PPH YG BERSIFAT FINAL DAN YG DIKENAKAN PPh BERDASARKAN 10
Dit.P2Humas
10
NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS (DEEMED PROFIT)

TIDAK TERMASUK PENGHASILAN


YANG DIPOTONG PPh PASAL 21

PENGHASILAN
PEMBAYARAN MANFAAT ATAU SANTUNAN ASURANSI DARI PERUSAHAAN
SEHUBUNGAN DGN ASURANSI KESEHATAN, ASURANSI KECELAKAAN,
ASURANSI JIWA, ASURANSI DWIGUNA, DAN ASURANSI BEASISWA
PENERIMAN DLM BENTUK NATURA DAN/ATAU /KENIKMATAN DLM BENTUK
APAPUN YG DIBERIKAN OLEH WAJIB PAJAK ATAU PEMERINTAH
IURAN PENSIUN YANG DIBAYARKAN KEPADA DANA PENSIUN YG
PENDIRIANNYA TLH DISAHKAN MENKEU,IURAN TUNJANGAN HARI TUA
ATAU IURAN JAMINAN HARI TUA KEPADA BADAN PENYELENGGARA
TUNJANGAN HARI TUA/JAMSOSTEK YANG DIBAYAR OLEH PEMBERI KERJA
ZAKAT YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI BADAN/
LEMBAGA AMIL ZAKAT YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH, ATAU
SUMBANGAN KEAGAMAAN YG SIFATNYA WAJIB BAGI PEMELUK AGAMA YG
DIAKUI DI INDONESIA YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI
LEMBAGA KEAGAMAAN YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH
BEASISWA YG DITERIMA WNI DLM RANGKA MENGIKUTI PENDIDIKAN DI DLM
NEGERI PADA TK PENDIDIKAN DASAR, MENENGAH & TINGGI DGN SYARAT
PEMBERI DGN PENERIMA BEASISWA
TDK MEMPUNYAI HUB. ISTIMEWA 11 11
Dit.P2Humas

PENGHITUNGAN PPh PASAL 21


PENGHASILAN BRUTO
PEGAWAI TETAP DAN
PEGAWAI TIDAK TETAP*

PENERIMA PENSIUN

GAJI, TUNJANGAN
TERKAIT DGN GAJI

UANG PENSIUN
BULANAN,TUNJANGAN

DIKURANGI:
- BIAYA JABATAN, 5% DARI
PENGH. BRUTO MAKS
Rp 6.000.000,-/ THN ATAU
Rp 500.000,-/BLN (HANYA
UTK PEGAWAI TETAP)
- IURAN YG TERIKAT DGN
PENGHASILAN TETAP

DIKURANGI:
BIAYA PENSIUN, 5% DARI
PENGH.BRUTO MAKSIMAL
Rp 2.400.000,00/THN ATAU
Rp 200.000,00

PENGHASILAN
NETO

DIKURANGI

TARIF PS.17 UU PPh


*YANG
PENGHASILAN
NYA DIBAYAR
SECARA
BULANAN

JIKA WP TDK MEMILIKI NPWP MAKA


TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

BUKAN PEGAWAI
HONORARIUM,
KOMISI DAN FEE DGN
SYARAT PUNYA NPWP
& HANYA MENERIMA
PENGHASILAN DARI 1
PEMBERI KERJA
D
I
K
U
R
A
N
G
I

PESERTA
KEGIATAN
UANG SAKU,
UANG
REPRESENTASI,
UANG RAPAT,
HONORARIUM,
HADIAH DAN
PENGHARGAAN

PTKP
PENGHASILAN KENA PAJAK
(dibulatkan ke bawah hingga ribuan penuh)

12

PTKP=PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK


PTKP BARU
Mulai 1-1-2013
SETAHUN
(Rp)

SEBULAN
(Rp)

UNTUK DIRI PEGAWAI (TK/-)

24.300.000,-

2.025.000,-

UNTUK DIRI PEGAWAI YG


KAWIN/NIKAH (K/-)

26.325.000,-

2.193.750,-

UNTUK PEGAWAI YG KAWIN &


MEMILIKI 1 TANGGUNGAN (K/1)

28.350.000,-

2.362.500,-

UNTUK PEGAWAI YG KAWIN &


MEMILIKI 2 TANGGUNGAN (K/2)

30.375.000,-

2.531.250,-

UNTUK PEGAWAI YG KAWIN &


MEMILIKI 3 TANGGUNGAN (K/3)

32.400.000,-

2.700.000,-

PTKP MAKSIMAL 3 TANGGUNGAN


TAMBAHAN PTKP UTK WAJIB PAJAK KAWIN DAN SETIAP TANGGUNGAN SEBESAR Rp
2.025.000
PTKP DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA AWAL TAHUN KALENDER,
13
PTKP BAGI PEGAWAI YG BARU DATANG DAN MENETAP DI INDONESIA DLM BAGIAN
TAHUN KALENDER YG NYA DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA AWAL BULAN

PTKP UTK KARYAWATI

STATUS KAWIN

HANYA UTK DIRI


SENDIRI, YAITU
RP 24.300.000,00
SETAHUN

STATUS KAWIN,
SUAMI TDK MENERIMA/
MEMPEROLEH
PENGHASILAN

- UTK DIRI SENDIRI


- STATUS KAWIN
- TANGGUNGAN
MAKS 3 ORG

STATUS TIDAK
KAWIN

- UTK DIRI
SENDIRI
- TANGGUNGAN
MAKS 3 ORG

SYARAT:
MENUNJUKKAN KETERANGAN TERTULIS DARI
PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT
SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN BAHWA SUAMI
TIDAK MENERIMA/MEMPEROLEH PENGHASILAN
14

TARIF UNTUK WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI


Pasal 17 ayat (1) a UU No.36/2008 ( UU PPh)
NO

LAPISAN PENGHASILAN

TARIF

1. S.d. Rp 50.000.000,-

5%

2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000

15%

3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp500.000.000,-

25%

4. Di atas Rp500.000.000,-

30%

15

PENGHITUNGAN PPh PASAL 21


PEGAWAI TETAP, PENERIMA PENSIUN BERKALA
& PEGAWAI TIDAK TETAP YG MENERIMA IMBALAN
BERSIFAT BERKESINAMBUNGAN)

PERHITUNGAN SETIAP MASA

PERHITUNGAN MASA PAJAK AKHIR


(BULAN DESEMBER)

PERKIRAAN ATAS PENGHASILAN


YG DIPEROLEH SELAMA 1 TAHUN
(PENGHASILAN TERATUR + TDK TERATUR)
DIKURANGI:
- BIAYA JABATAN * : 5% DARI
PENGH. BRUTO MAKS
Rp 6.000.000,-/ THN ATAU
Rp 500.000,-/BLN
- IURAN YG TERIKAT DGN
PENGHASILAN TETAP

DIKURANGI:
BIAYA PENSIUN, 5% DARI
PENGH.BRUTO
MAKSIMAL
Rp 2.400.000,00/THN
ATAU
Rp 200.000,00/BULAN

PENGHASILAN NETO

DIKURANGI : PTKP
PENGHASILAN KENA PAJAK

DIBAGI 12

PPh Ps.21 atas

TARIF PS.17 UU PPh

SELURUH PENGHASILAN KENA PAJAK


SETAHUN ATAU BAGIAN TAHUN PAJAK
D
I
K
U
R
A
N
G
I
PPh Ps.21 YG TELAH DIPOTONG
PADA MASA-MASA SEBELUMNYA
DLM BAGIAN TAHUN PAJAK YBS

*BIAYA JABATAN
HANYA UTK PEGAWAI TETAP

16

PENGHITUNGAN PPH PASAL 21 TIAP MASA/BULAN


PERKIRAAN ATAS PENGHASILAN
YG BERSIFAT TERATUR DALAM
1 BULAN (Contoh Bulan Januari)

- GAJI KEHORMATAN
- GAJI
- TUNJANGAN YG TERKAIT

- UANG PENSIUN
- TUNJANGAN YG TERKAIT

DIKALI 12
DIKURANGI:
- BIAYA JABATAN, 5% DARI PENGH. BRUTO
MAKS Rp 6.000.000,-/THN
ATAU Rp 500.000,-/BLN
- IURAN YG TERIKAT DGN PENGH.TETAP

DIKURANGI:
BIAYA PENSIUN, 5% DARI
PENGH.BRUTO (UANG PENSIUN)
MAKS Rp 2.400.000,00/THN ATAU
Rp 200.000,00

PENGHASILAN NETO

Contoh untuk Gaji + Tunjangan


Bulan Januari

Rp4.500.000,-

Rp4.500.000 x 12 = Rp54.000.000,-

(5%xRp54.000.000)+Rp600.000)=
Rp2.700.000+Rp600.000 =
Rp3.300.000

Rp50.700.000,-

DIKURANGI

PTKP
PENGHASILAN KENA PAJAK

X TARIF PS.17 UU PPh


12

- Rp24.300.000
Rp26.400.000
Rp26.400.000 X 5%=Rp1.320.000
17
12
12 17
Rp110.000 = PPh bln Januari

Soal : PPh Pasal 21


Tuan Mulyana status Menikah dan menanggung 2 anak kandung dan seorang ibu mertua
pensiunan PNS, bekerja pada PT Indo Jati sejak tahun 2008. PT Indo Jati bergerak dibidang
industri mebel. Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya PT Indo Jati mengikuti Program
Jamsostek dan Program Pensiun ke Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkah Menteri
Keuangan. Penghasilan Tuan Mulyana dari PT Indo Jati dalam Mei 2014 sbb :

Gaji
Rp.15.000.000,
Tunjangan transport
Rp. 1.500.000,
Tunjangan makan
Rp.
750.000,
Bahan sembako (nilai pasar)
Rp.
500.000,
Premi asuransi kecelakaan kerja dibayar pemberi kerja
Rp.
150.000,
Premi asuransi kematian dibayar pemberi kerja
Rp.
100.000,
luran THT dibayar pemberi kerja
Rp.
200.000,
luran pensiun dibayar pemberi kerja
Rp.
120.000,luran THT dibayar pegawai
Rp.
150.000,
luran pensiun dibayar pegawai
Rp.
200.000,
Pertanyaan:

a. Hitung PPh Pasal 21 yang harus dipotong atas penghasilan Tuan Mulyana bulan Mei 2014 PT
Indo Jati.
b. Berapa penghasilan yang dibawa pulang (takes home pay) oleh Tuan Mulyana pada bulan Mei
2014 tersebut.
.

18

Penghitungan PPh Pasal 21


Gaji sebulan Rp 17.500.000,00 (15.000.000,- + 1.500.000,- + 750.000,- + 150.000,- + 100.000,-)
Pengurangan:
Biaya Jabatan:
1. 5% x Rp17.500.000,00 = Rp 875.000,00
Maximum diperbolehkan
Rp.500.000,00
2. Iuran pensiun
Rp 150.000,00
3. Iuran THT
Rp.200.000,00

Penghasilan neto sebulan


Penghasilan neto setahun 12 xRp16.650.000,00
PTKP setahun
- untuk WP sendiri
Rp 24.300.000,00
- tambahan WP kawin
Rp 2.025.000,00
- tanggungan 2 orang
Rp. 4.050.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp.50.000.000,00
15% x Rp.119.425.000,00

Rp
850.000,00
Rp 16.650.000,00
= Rp199.800.000,00

= Rp.30.375.000,00
Rp169.425.000,00

= Rp
2.500.000,00
= Rp.17.913.750,00

Rp. 20.413.750,00
a. PPh Pasal 21 sebulan Rp 20.416.300,00 : 12 = Rp.1.701.145,83
b. Gaji yang dibawa pulang sebulan :

Gaji
: Rp.15.000.000,00 + 1.500.000,00 + 750.000,00= Rp.17.250.000,00
Iuran yg dibayar pegawai :
Rp.350.000,00

PPh Pasal 21 atas uang Rapel


Tuan Mulyana dalam soal diatas mendapatkan kenaikan gaji sebesar Rp.5000.000,menjadi Rp.20.000.000,- sebulan dan mulai bulan Januari 2014 yang diterima
sekaligus pada bulan Mei 2014, dan data lainnya sama;
Ditanyakan: PPh Pasal 21 terutang , PPh Pasal 21 atas uang rapel dan Tax home
Pay untuk Tuan Mulyana pada bulan Mei 2014;
JAWABAN:
Gaji sebulan = Rp 22.500.000,00 (20.000.000,- + 1.500.000,- + 750.000,- +
150.000,- + 100.000,-)
Pengurangan:
Biaya Jabatan:
1. 5% x Rp22.500.000,00 = Rp 1.125.000,00
Maximum diperbolehkan Rp.500.000,00
2. Iuran pensiun Rp 150.000,00
3. Iuran THT
Rp.200.000,00
Rp

Penghasilan neto sebulan

Rp 21.650.000,00

850.000,00
20

PPh Pasal 21 atas uang


Rapel

Penghasilan neto setahun 12 xRp21.650.000,00


PTKP setahun
- untuk WP sendiri
Rp 24.300.000,00
- tambahan WP kawin Rp 2.025.000,00
- tanggungan 2 orang Rp. 4.050.000,00 +

Penghasilan Kena Pajak setahun


PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp.50.000.000,00 = Rp
2.500.000,00
15% x Rp.179.425.000,00 = Rp.26.913.750,00
Rp. 29.413.750,00

= Rp259.800.000,00

Rp.30.375.000,00

Rp.229.425.000,00

a. PPh Pasal 21 sebulan Rp 29.413.750,00 : 12 = Rp 2.451.145,83


b. Gaji yang dibawa pulang sebulan :

Gaji : Rp.20.000.000,00 + 1.500.000,00 + 750.000,00=


Rp.22.250.000,00
Iuran yg dibayar pegawai :
Rp.350.000,00

PPh Pasal 21 :
Rp.2.451.145,83 +
Rp.2.801.145,83

THP

Rp.19.448.854,13

21

PPh Pasal 21 atas uang


Rapel

PPh Pasal 21 setelah rapel


PPh Pasal 21 sebelum rapel
PPh atas Rapel
1bulan
PPh Rapel 5 bulan

Rp.2.451.145,83
Rp.1.701.145,83
Rp. 750.000,00
Rp.3.750.000,-

THP sesudah rapel =


Penghasilan Bruto = Rp.17.250.000,- + Rp.25.000.000,- = Rp.42.250.000,PPh Pasal 21 Gaji :
Rp.1.701.145,83
PPh Rapel 5 bulan
Rp.3.750.000,Iuran yg ditanggung karyawan
Rp. 350.000,Rp. 5.801.145,83
THP
Rp.36.448.854,17

22

PPh Pasal 21 atas


Bonus/THR

Tuan Mulyana dalam soal diatas mendapatkan BONUS sebesar Rp.40.000.000,- pada bulan
Mei 2014, dan data lainnya sama;
Ditanyakan: PPh Pasal 21 terutang , PPh Pasal 21 atas BONUS dan Tax home Pay untuk
Tuan Mulyana pada bulan Mei 2014;
Gaji sebulan = Rp17.500.000,00 (15.000.000,- + 1.500.000,- + 750.000,- + 150.000,- +
100.000,-) x 12 = Rp.210.000.000,- + Bonus : Rp.40.000.000 = Rp.250.000.000,Pengurangan :
1. Biaya Jabatan: 5% x Rp.250.000.000,- = Rp12.500.000,Maximum
Rp.6.000.000,2. Iuran pensiun
Rp 150.000,00
3. Iuran THT
Rp.200.000,00
Rp.350.000,00 x 12
Rp,4.200.000,-Rp.10.200.000,PKP 1 tahun
Rp.239.800.000,PTKP Rp.30.375.000,00
PKP 1 tahun
Rp.209.425.000,PPh Pasal 21 =
5% x Rp.50.000.000,= Rp. 2.500.000,15% x Rp.159.425.000,= Rp.23.913.750,Rp.26.413.750,00

Ph Pasal 21 sebelum Bonus


Rp.20.413.750,00
PPh Pasal 21 atas Bonus
Rp. 6.000.000,00

TUNJANGAN PAJAK
Tunjangan Pajak yang diberikan oleh pemberi
kerja menambah penghasilan bagi karyawan
dan bagi pemberi kerja juga dapat
dibebankan sebagai biaya yang mengurangi
Penghasilan Bruto.
Sesuai contoh sebelumnya misal PT Indojati
memberikan tunjangan Pajak kepada Tuan
Mulyana sebesar Rp.1.500.000,- setiap
bulan Maka perhitungannya sbb:
24

TUNJANGAN PAJAK
Penghitungan PPh Pasal 21 Tuan Mulyana adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 19.000.000,00 (15.000.000,- + 1.500.000,- 1.500.000,- + 750.000,- + 150.000,- + 100.000,)
Pengurangan:
Biaya Jabatan:
1. 5% x Rp19.000.000,00 = Rp 950.000,00
Maximum diperbolehkan
Rp.500.000,00
2. Iuran pensiun
Rp 150.000,00
3. Iuran THT
Rp.200.000,00
Rp 850.000,00

Penghasilan neto sebulan


Rp 18.150.000,00

Penghasilan neto setahun 12 xRp18.150.000,00


= Rp217.800.000,00
PTKP setahun
- untuk WP sendiri
Rp 24.300.000,00
- tambahan WP kawin
Rp 2.025.000,00
- tanggungan 2 orang
Rp. 4.050.000,00
Rp.30.375.000,00

Penghasilan Kena Pajak setahun


Rp187.425.000,00
PPh Pasal 21 terutang

5% x Rp.50.000.000,00
= Rp 2.500.000,00

15% x Rp.137.435.000,00
= Rp.20.613.750,00 + Rp. 23.113.750,00
a. PPh Pasal 21 sebulan Rp 23.113.750,00 : 12 = Rp1.926.145,84
b. PPh Psal 21 yang menjadi tanggungan karyawan : Rp1.926.145,84 - - 1500.000,00 = Rp.426.145,84
b. Gaji yang dibawa pulang sebulan : Gaji
Rp.17.500.000,00

Iuran yg dibayar pegawai : Rp. 350.000,00

THP:

PPh Pasal 21 :

Rp. 426.145,84 +

Rp. 776.145,84 = Rp. 16.723.054,16

Penghitungan PPh Pasal 21


Masa Pajak Terakhir

PPh Pasal 21
terutang atas
seluruh Penghasilan
Kena Pajak selama 1
Tahun atau bagian
tahun pajak

PPh Pasal 21
Yg telah dipotong
pada masa-masa
sebelumnya
dalam tahun pajak
ybs

PPh Pasal 21
Masa Pajak
Terakhir

Contoh (dari jumlah penghasilan Jan s.d Novem. yg sama dan kenaikan penghasilan
terjadi pada bulan Desem.sebesar Rp1.500.000 shgg menjadi Rp6.000.000)
(Rp4.500.000 x 11 + Rp6.000.000)
[(5%x (Rp4.500.000 x 11 +
Rp6.000.000)+Rp600.000]
Rp24.300.000 = Rp43.500.000
(Rp2.175.000 +Rp600.000
+Rp24.300.000)=
Rp55.500.000 Rp24.300.000
=Rp31.200.000

X
5% = Rp31.300.000 =

Rp1.560.000

Rp 1.260.000*
*Rp114.545/BULAN
Dit.P2Humas X 11

Rp200.000
26

Penghitungan PPh Pasal 21


Atas Penghasilan yg Bersifat tidak teratur
PPh Pasal 21
Terutang atas
seluruh Penghasilan
atas jumlah yg
teratur x 12 + jumlah
penghasilan tdk
teratur

PPh Pasal 21
Yg terutang atas
penghasilan
teratur x 12

PPh Pasal 21
Masa Pajak
Terakhir

Contoh (ada penambahan kenaikan penghasilan yg terjadi pada bulan Desem.sebesar


Rp1.500.000 yg merupakan penghasilan yg bersifat tdk teratur yaitu THR
(Rp4.500.000 x 11 + Rp6.000.000)
[(5%x (Rp4.500.000 x 11 +
Rp6.000.000)+Rp600.000]
Rp24.300.000 = Rp43.500.000
(Rp2.175.000 +Rp600.000
+Rp24.300.000)=
Rp55.500.000 Rp24.300.000
=Rp31.200.000

X
5% = Rp31.300.000 =

Rp1.560.000

Rp 1.260.000*
*lihat contoh penghit.tiap
masa
(teratur) hl.17
Dit.P2Humas

Rp200.000
27

DASAR PENGHITUNGAN PPh Ps. 21


KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF
PEGAWAI TETAP
WP DALAM NEGERI
SEJAK AWAL
TAHUN
MULAI BEKERJA SETELAH BULAN
JANUARI TERMASUK PEGAWAI YG
SEBELUMNYA BEKERJA PADA
PEMBERI KERJA LAINNYA

JUMLAH PENGHASILAN YG SEBENARNYA DITERIMA/DIPEROLEH


DALAM TAHUN PAJAK/BAGIAN TAHUN TAKWIM

TIDAK
DISETAHUNKAN

CONTOH :
SI A KERJA MULAI BLN JULI
DGN PENGHASILAN TIAP BLN Rp 10 JT
MAKA PENGHITUNG PPh PSL 21
ADALAH (Rp 10 JT [(BIAYA JAB.PERBLN
+IURAN PENS/BLN)] X 6 BLN) - PTKP
X TARIF PSL 17 ATAU : 6 BLN

SETELAH PERMULAAN
TAHUN PAJAK
MULAI BEKERJA
DALAM TAHUN
BERJALAN

PENGHASILAN KENA PAJAK


YG DISETAHUNKAN

CONTOH :
SI BUSH MULAI BLN JULI DGN PENGHSL
Rp 10 JT TIAP BLN, MAKA PENGHIT.PPh
PSL 21 SELAM 6 BLN :(Rp 10 jt-[(BIAYA
JAB.PERBLN +IURAN PENSIUN PERBLN)] x
12) - PTKP X TARIF PSL 17 : 6 BLN
28

Penghitungan PPh Pasal 21


ATAS PENGHASILAN BERUPA UPAH HARIAN,
MINGGUAN, SATUAN, BORONGAN, DAN
UANG SAKU HARIAN

Tdk termasuk
Honorarium atau
Komisi yg diterima
Penjaja barang &
Petugas dinas luar

DIBAYAR HARIAN
TIDAK LEBIH DARI
Rp 200.000,-

LEBIH DARI
Rp 200.000,DIKURANGI
Rp 200.000,-

TIDAK DIPOTONG
PPh Ps.21

DIPOTONG PPh
TARIF 5%

PADA SAAT TELAH MELEBIHI


Rp2.025.000 DALAM SATU BULAN KALENDER

DIKURANGI
PTKP HARIAN SEBENARNYA +
Iuran Jaminan Hari Tua/
Iuran Tunjangan Hari Tua
yg dibayarkan ke Jamsostek,
bila diwajibkan

TARIF 5%

PKP
TARIF Psl 17

JIKA PENGHASILAN
KUMULATIF DLM
1 BLN < Rp 7.000.000
JIKA PENGHASILAN
KUMULATIF DLM
1 BLN > Rp 7.000.000

Dit.P2Humas
DIPERHITUNGKAN PPh Ps.21

YANG TELAH DIPOTONG

JIKA WP
TDK
MEMILIKI
NPWP
MAKA
TARIFNYA
20% LEBIH
TINGGI

29

PPh Pasal 21 Pegawai Harian,


Tenaga Harian Lepas, Penerima Upah Satuan/Borongan
Husni menerima upah harian sebesar Rp.250.000,00
perhari Penghitungan PPh Pasal 21 adalah :
Upah sehari dikurangi batas PENGHASILAN TIDAK
KENA PAJAK
Rp250.000,00 Rp200.000,00 = Rp50.000,00
PPh 21 terutang : 5% x Rp50.000,00 = Rp.2.500,00
jika Husni tidak memiliki NPWP maka dipotong PPh
20% lebih tinggi sehingga menjadi
: 5% X120% X Rp50.000,00 = Rp.3.000,00
30

CONTOH PENGHITUNGAN PEGAWAI HARIAN,


TENAGA HARIAN LEPAS
PENERIMA UPAH SATUAN/BORONGAN
BUDIMAN MENERIMA UPAH HARIAN SEBESAR Rp250.000
PERHARI
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 ADALAH :
UPAH SEHARI DIKURANGI BATAS PENGHASILAN YANG TIDAK KENA
PAJAK
Rp250.000,00 Rp200.000,00 = Rp50.000,00
PPh 21 terutang : 5% x Rp50.000,00 = Rp2.500,00
JIKA BUDIMAN TIDAK MEMILIKI NPWP MAKA DIPOTONG PPh 20%
LEBIH
TINGGI SEHINGGA MENJADI : 120% X 5% X Rp50.000,00 =
Rp3.000,00
31

Penghitungan PPh Pasal 21


ATAS PENGHASILAN BERUPA UPAH HARIAN, MINGGUAN,
SATUAN, BORONGAN, DAN UANG SAKU HARIAN

DIBAYAR BULANAN
DIKURANGI PTKP SEBULAN
PKP SEBULAN
JIKA WP TDK MEMILIKI NPWP
MAKA
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

PKP DISETAHUNKAN
X
TARIF PPh Ps.17
PPh SETAHUN

PPh SEBULAN

32

TENAGA AHLI YG
MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS
(BUKAN PEGAWAI)
TERDIRI DARI :
- PENGACARA
- KONSULTAN
- AKUNTAN
- NOTARIS
- ARSITEK
- PENILAI
- DOKTER
- AKTUARIS
MENERIMA PENGHASILAN BERUPA
HONORARIUM, KOMISI, FEE, DAN IMBALAN SEJENISNYA
DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN
DASAR PENGENAAN &
PEMOTONGAN
PPh PASAL 21 ADALAH
50% DARI JUMLAH
PENGHASILAN BRUTO

DIPOTONG PPH PS.21


DENGAN TARIF PASAL 17
DARI DASAR PENGENAAN &
PEMOTONGAN PPh PASAL 21
JIKA WP TDKDit.P2Humas
MEMILIKI NPWP MAKA
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

33

CONTOH PENGHITUNGAN PPh PASAL 21


Contoh 1
dr. Slamet Santosa (tenaga ahli), menerima honorarium sebesar Rp 60.000.000,Penghitungan PPh Pasal 21
5% x (50% x Rp60.000.000) =
5% x
(Rp30.000.000) = Rp1.500.000
PPh Pasal 21 adalah tarif Pasal 17 UU PPh dari Dasar Pengenaan dan Pemotongan
PPh Pasal 21
Jika Dr. Slamet Santosa tidak punya NPWP
5% x (50% x Rp 60.000.000)x 120% = Rp1.800.000,5% x
(Rp30.000.000) x 120% = Rp1.800.000,-

Contoh 2
Anton Sujarwo SH, LLM (memiliki NPWP) menerima honorarium sebagai pengacara
sebesar Rp100.000.000,Penghitungan PPh Pasal 21 :
5% x (50% x Rp100.000.000) = 5% x (Rp50.000.000) = Rp2.500.000

IMBALAN KEPADA BUKAN PEGAWAI


YANG TIDAK MEMILIKI NPWP ATAU
DIBAYARKAN TIDAK BERKESINAMBUNGAN*
HONORARIUM, KOMISI, FEE, DAN IMBALAN SEJENISNYA DENGAN
NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN APAPUN

DITERIMA
BUKAN PEGAWAI
SENIMAN, OLAHRAGAWAN;
PENASEHAT, PENGAJAR, PELATIH, PENCERAMAH,
PENYULUH & MODERATOR,
PENGARANG PENELITI, DAN PENERJEMAH;
PEMBERI JASA DLM SEGALA BDG TERMASUK
TEKNIK, KOMPUTER DAN SISTEM APLIKASINYA
TELEKOMUNIKASI,, ELEKTRONIKA, FOTOGRAPHI,
EKONOMI DAN SOSIAL
AGEN IKLAN;
PENGAWAS, PENGELOLA PROYEK;
PESERTA PERLOMBAAN, PESERTA RAPAT,
KONFERENSI, PERTEMUAN ATAU KUNJUNGAN
KERJA, PESERTA ATAU

JIKA WP TDK MEMILIKI


NPWP MAKA
TARIFNYA 20% LEBIH
TINGGI

ANGGOTA PANITIA, PESERTA PENDIDIKAN,


PELATIHAN & MAGANG DLL;
PEMBAWA PESANAN/PENEMU
LANGGANAN/PERANTARA
DISTRIBUTOR PERUSAHAAN MULTILEVEL
MARKETING ATAU DIRECT SELLING
PETUGAS DINAS LUAR ASURANSI YG TDK
BERSTATUS SBG PEGAWAI;
PENJAJA BARANG DAGANGAN YG TDK
BERSTATUS PEGAWAI; DAN/ATAU
PENERIMA PENGHASILAN BUKAN PEGAWAI
LAINNYA

DIPOTONG PPh Ps.21 DENGAN


TARIF Ps. 17 x DPP

DPP= 50% X JUMLAH BRUTO

* JIKA MEMILIKI NPWP ATAU


IMBALAN YG DIBERIKAN
BERKESINAMBUNGAN
35
MAKA LIHAT KETENTUAN
PADA HALAMAN 12 35

CONTOH PENGHITUNGAN
PPh PASAL 21
Contoh 1
HESTY adalah penyanyi menerima honorarium sebesar Rp 50.000.000,- atas
Penghitungan PPh Pasal 21
DPP : 50% x Rp50.000.000,- = Rp.25.000.000,PPh Pasal 21 = 5% x Rp25.000.000) = Rp1.250.000,Jika HESTY tidak memiliki NPWP, penghitungan PPh Pasal 21 :
(5% x 120%) x Rp25.000.000,- = Rp1.500.000
Contoh 2
Tukul Arwana adalah pelawak menerima honorarium sebesar Rp120.000.000,Penghitungan PPh Pasal 21 : DPP = 50% x Rp120.000.000,- = Rp.60.000.000,5% x Rp50.000.000

= Rp2.500.000,-

15% x Rp.10.000.000,- = Rp.1.500.000,-

+ Rp. 4.000.000,-

Jika Tukul Arwana tidak memiliki NPWP, penghitungan PPh Pasal 21 :


120% x 5% x Rp50.000.000,= Rp3.000.000,120% x 15% x Rp.10.000.000,- = Rp.1.800.000,- +
Rp.4.800.000,-

36

KETENTUAN LAIN UNTUK BUKAN PEGAWAI


DOKTER (BUKAN PEGAWAI)
YG MELAKUKAN PRAKTIK
DI RUMAH SAKIT/KLINIK

BUKAN PEGAWAI
SELAIN TENAGA AHLI,
YG MEMPERKERJAKAN
ORANG LAIN SBG PEGAWAINYA

MENERIMA

MENERIMA

HONORARIUM,
KOMISI DAN FEE

HONORARIUM,
KOMISI DAN FEE

PENGHASILAN BRUTO =
PENGHASILAN BRUTO =
JUMLAH BRUTO PEMBAYARAN
DIKURANGI BAGIAN GAJI/UPAH
PEGAWAI YG DIPERKERJAKAN

DI DALAM
KONTRAK
DIPISAHKAN
BIAYA
BAGIAN GAJI/
UPAH TSB

JUMLAH BRUTO JASA DOKTER


YG DIBAYARKAN PASIEN MELALUI
RUMAH SAKIT / KLINIK
SEBELUM DIPOTONG
BIAYA-BIAYA ATAU BAGI HASIL

37

KETENTUAN LAIN PEMOTONGAN PPh PASAL 21

PEJABAT NEGARA, PNS,


ANGGOTA TNI, ANGGOTA
POLRI, & PENSIUNANNYA
MENERIMA

PENGHASILAN YG
BERSUMBER APBN/APBD

PEGAWAI
DIATUR
DALAM
KETENTUAN
KHUSUS

MENERIMA
UANG PESANGON, UANG
MANFAAT PENSIUN,
TUNJANGAN HARI TUA,
JAMINAN HARI TUA,
YG DIBAYARKAN SEKALIGUS

38

PPH PASAL 21 ATAS UANG


PESANGON
Dasar Hukum PP No. 68 Tahun 2009 Tentang Tarif PPh
Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Pegawai
berupa Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan
Hari Tua, atau Jaminan Hari Tua yang dibayarkan
sekaligus dikenai pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21
yang bersifat final sebesar:
1.0% = atas penghasilan bruto sd. Rp50.000.000, 2. 5% = diatas Rp 50.000.000,- s.d. Rp100.000.000, 3. 15% diatas Rp100.000.000,- sd. Rp500.000.000, 4. 25% atas penghasilan bruto diatas Rp500.000.000.apabila Penghasilan Bruto lebih besar dari
Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
39

CONTOH PERHITUNGAN UANG


PESANGON
Tuan Ali pensiun pada tanggal 01 Maret 2013
mendapat uang pesangon yg dibayar sekaligus sebesar
Rp.750.000.000,- Berapa PPh Pasal 21 atas Uang
Pesangon tsb?

Jawab:
PKP =Rp.750.000.000m,-- Rp.50.000.000,- =Rp700.000.000,Tarif:
5% x Rp.50.000.000,= Rp. 2.500.000,15% x Rp.100.000.000,= Rp.15.000.000,25% x Rp.550.000.000,= Rp.137.500.000,PPh Pasal 21 terutang = Rp.155.000.000,40

KETENTUAN TARIF DAN KREDIT PAJAK


PENGHASILAN
DITERIMA

DITERIMA

PEGAWAI TETAP/
PENERIMA PENSIUNAN
YG TIDAK MEMILIKI NPWP
TERUTANG PPh PASAL 21
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

PEGAWAI TETAP/
PENERIMA PENSIUNAN
MENDAFTARKAN DIRI SEBELUM
MASA DESEMBER DLM TAHUN
KALENDER YBS

BUKAN PEGAWAI
YG TIDAK MEMILIKI NPWP
TERUTANG PPh PASAL 21
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

SELISIH PENGENAAN
TARIF 20% LEBIH TINGGI
DIPERHITUNGKAN DGN
PPh PSL.21 UTK BLN
SELANJUTNYA

TERUTANG PPh PASAL 21


TARIFNYA NORMAL
DAPAT DIKREDITKAN DLM SPT TAHUNAN PPh TAHUN PAJAK
YBS, TIDAK TERMASUK SELISIH PENGENAAN
TARIF 20% LEBH TINGGI YG TELAH DIPERHITUNGKAN
Dit.P2Humas
PADA BULAN SELANJUTNYA

BUKAN PEGAWAI YG TIDAK


MEMILIKI NPWP DAFTARKAN
DIRI DLM TAHUN KALENDER YBS

DAPAT DIKREDITKAN
DALAM SPT TAHUNAN UNTUK
TAHUN PAJAK YBS
KETENTUANTARIF
TARIF20%
20%LEBIH
LEBIH
KETENTUAN
TINGGI
TIDAK
BERLAKU
TINGGI TIDAK BERLAKU
41 41
ATAS
PENGENAANPEMOTONGAN
PEMOTONGAN
ATAS PENGENAAN
PPhPASAL
PASAL21
21YG
YGBERSIFAT
BERSIFATFINAL
FINAL
PPh

ORANG PRIBADI
STATUS WP LUAR NEGERI
PENGHASILAN YG DITERIMA/DIPEROLEH
DARI PEKERJAAN, JASA, DAN KEGIATAN
DIPOTONG PPh PSL 26
TARIF : 20% atau Berdasarkan P3B
DARI PENGHASILAN BRUTO

BERSIFAT FINAL
JIKA BERUBAH STATUS
MENJADI WP DLM NEGERI

TIDAK FINAL
42

CONTOH PPh Pasal 26


JOHN TRAVOLTA Karyawan Asing dari
USA pada bulan Maret 2015
mendapatkan gaji $.10.000,- Kurs Men
Keuangan yang berlaku $.1 = Rp.13.295,PPh Pasal 26 terutang =
$.10.000,- x Rp.13.295,- = Rp.132.950.000,20% x Rp.132.950.000,- = Rp.26.590.000,43

PENGHASILAN YANG DITERIMA


DALAM MATA UANG ASING
PENGHITUNGAN PPh PSL 21/26

BERDASARKAN KURS YG DITETAPKAN


MENTERI KEUANGAN
SECARA BERKALA (TIAP MINGGU)

44

KEWAJIBAN PEMOTONG PPh PASAL 2


MENDAFTARKAN DIRI UNTUK MENDAPATKAN NPWP
MENGHITUNG, MEMOTONG, MENYETOR DAN MELAPOR PPh YANG TERUTANG
SETIAP BULAN KALENDER TERMASUK LAPORAN PENGHITUNGAN PPh YG NIHIL
MEMBUAT CATATAN ATAU KERTAS KERJA PERHITUNGAN PPh PSL 21 UTK MASING2
PENERIMA PENGHASILAN, YG MENJADI DASAR PELAPORAN PPh PSL 21 DAN/ATAU
PPh PSL 26 YG TERUTANG UTK SETIAPMASA PAJAK DAN WAJIB MENYIMPAN
CATATAN ATAU KERTAS KERJA PERHITUNGAN TSB
DALAM HAL TERJADI KELEBIHAN PENYETORAN PPh PSL 21 DAN/PPh PAL 26 YG
TERUTANG PADA SUATU BULAN,KELEBIHAN TSB DAPAT DIPERHITUNGKAN DGN
PPh PSL 21 DAN/ATAU PPh PASAL 26 YG TERUTANG PADA BLN BERIKUTNYA
MELALUI SPT MASA PPh PSL 21 DAN/ATAU PPh PSL 26
MEMBUAT & MEMBERIKAN BUKTI PEMOTONGAN PADA SAAT DILAKUKAN
PEMOTONGAN PAJAK
MENGAMBIL SENDIRI FORMULIR YG SUDAH DITETAPKAN DALAM PERDIRJEN PAJAK

45

KEWAJIBAN PENERIMA
PENGHASILAN YANG DIPOTONG PPh PASAL 21
MEMBUAT SURAT PERNYATAAN YG BERISI JUMLAH TANGGUNGAN
KELUARGA PADA AWAL TAHUN KALENDER ATAU PADA SAAT MULAI
MENJADI SUBJEK PAJAK DLM NEGERI SBG DASAR PENENTU PTKP PADA
SAAT MULAI BEKERJA ATAU MULAI PENSIUN
APABILA TERJADI PERUBAHAN TANGGUNGAN KELUARGA,
PENERIMA PENGHASILAN MEMBUAT SURAT PERNYATAAN YG BERISI
JUMLAH TANGGUNGAN KELUARGA YG BARU DAN MENYERAHKANNYA
KE PEMOTONG PPh PSL 21 DAN/PPh PSL 26 PALING LAMA SEBELUM
MULAI TAHUN KALENDER BERIKUTNYA

46

TATA CARA PENYETORAN


PPh PASAL 21/26

TIDAK
DITANGGUNG PEMERINTAH

DGN SSP KE :
- BANK PERSEPSI, ATAU
- KANTOR POS GIRO

PALING LAMA
TGL 10 BULAN BERIKUTNYA*
*Ketentuan ini juga berlaku bagi
Wajib Pajak dengan Kriteria
Tertentu yg diijinkanmelaporkan
beberapa masa pajak dalam satu
SPT Masa

DITANGGUNG PEMERINTAH

TDK ADA
PENYETORAN
BILA JATUH PADA
HARI LIBUR PENYETORAN
PADA HARI
KERJA BERIKUTNYA

47

TATA CARA PELAPORAN


PPh PASAL 21/26

DITANGGUNG
PEMERINTAH

TIDAK
DITANGGUNG PEMERINTAH

DGN SPT MASA PPh


PASAL 21
KE KPP/KP2KP

MELAPORKAN PENGHITUNGAN
PPh PSL 21
DLM DAFTAR TERSENDIRI

PALING LAMA 20 HARI


SETELAH
MASA PAJAK BERAKHIR*
JIKA JATUH PD
HARI LIBUR

KPP/KP2KP
PD HARI KERJA
BERIKUTNYA

*Bagi WP dengan Kriteria Tertentu yg iijinkan melaporkan


beberapa masa pajak dalam satu SPT Masa, batas waktu
pelaporan paling lama 20 hari setelah berakhirnya masa
pajak terakhir.

48

TATA CARA PELAPORAN PPh PASAL 21/26 BAGI WP BADAN


YG MEMPUNYAI BEBERAPA CABANG

PELAPORAN
DENGAN SPT MASA
PPh PASAL 21/26
KE KPP DI TEMPAT KEDUDUKAN
ATAU USAHA DILAKUKAN (LOKASI)
PALING LAMA 20 HARI
SETELAH MASA PAJAK BERAKHIR*

JIKA JATUH PD
HARI LIBUR
PADA HARI KERJA
SEBELUMNYA
*Bagi WP dengan Kriteria Tertentu yg iijinkan melaporkan beberapa masa pajak dalam
satu SPT Masa, batas waktu pelaporan paling lama 20 hari setelah berakhirnya masa
pajak terakhir.

49

SELAMAT BELAJAR

50