Anda di halaman 1dari 52

GEOLOGY

PERTAMBANGAN
 Bunga Triana
 Calvin Syatauw
 Muhammad Jahus Jarzani
 I Kadek Bagus Widana Putra
 Neneng Winarsih
 Yogi Oktopianto
GAMBAR 1

Lokasi pertambangan di daerah


( 9890000-990000 )N dan (20000 -210000 )
E diwilayah ini terdapat patahan diantara
dua jenis material yaitu Tomc dan Prb.
GAMBAR 1 Lanjut…
1. Daerah Tomc ( Purukcahu Formation )
mengandung :
Fossilli ferous claystone, dark grey,
interbedded with siltstone containing small
lenses and thin latered vitrinite coaland
parallel and convolute lamination sandstone,
intercalated by breccia, the fragments
consist of andesitec, dacite, gneis and coal,
the matrix consist of coarse sandstone
containing vitrinite coal fragments.
Gambar 1 Lanjut…
2. Daerah Prb ( Busang Complex )
mengandung :

Granite, granodorite, diorite, gabbro,


commonly metamorphosed and foliated,
schist, gneiss, quartzite.
Granodiorite
Gabbro

Granite

Dark Grey
Diorite
GAMBAR 2
Menunjukkan :

1. Sector Boundary
2. Slope and Location of Bedding Dip
3. River
4. Open hole
1. Sector Boundary
Menunjukkan luasan daerah yang
merupakan lokasi dari Pertambangan yang
akan di amati.
Didalamnya terkandung berbagai informasi
yang dapat mendukung proses
pertambangan.
2. Bedding Dip
Lokasi (205000-205500)E dan (9896000-9896500)N
a. 12 derajat arah Barat Laut
b. 12 derajat arah Timur Laut
c. 19 derajat arah Barat Laut
d. 6 derajat arah Barat Laut
e. 12 derajat arah Barat Laut

Lokasi (205500-206000)E dan (9896000-9896500)N


a. 4 derajat arah Barat
b. 4 derajat arah Barat Laut f. 9 derajat arah Timur Laut
c. 15 derajat arah Timur Laut g. 10 derajat arah Barat laut
d. 9 derajat arah Timur Laut
Bedding Dip…
Lokasi (206000-206500)E dan (9896000-9896500)N
a. 16 derajat arah Timur Laut

b. 15 derajat arah Timur Laut

c. 22 derajat arah Timur Laut

d. 62 derajat arah Timur Laut

e. 50 derajat arah Utara

Lokasi (206500-207000)E dan (9896000-9896500)N


f. 25 derajat arah Timur Laut

g. 10 derajat arah Timur Laut

h. 2 derajat arah Timur Laut

i. 10 derajat arah Utara

j. 29 derajat arah Utara

k. 60 derajat arah Timur Laut


Bedding Dip…
Lokasi (207000-207500)E dan (9895500-9896000)N
a. 6 derajat arah Barat laut

b. 27 derajat arah Timur Laut

c. 26 derajat arah Timur Laut

d. 31 derajat arah Timur Laut

e. 30 derajat arah Timur Laut

Lokasi (207500-208000)E dan (9895500-9896000)N


f. 49 derajat arah Barat laut

g. 37 derajat arah Utara

h. 35 derajat arah Utara


3. River (sungai)

Terdapat satu sungai kecil pada daerah


Sector Boundary [(207000-208000)E –
(9896000-9896500)N] yang merupakan
percabangan dari Sungai Marau. Sehingga
harus dilakukan Open hole di daerah
tersebut.
4. Open Hole (Pembukaan lubang)

Dilakukan dengan pemboran, yang bertujuan untuk


memperoleh informasi mengenai keadaan bawah
tanah melalui garis lubang pengeboran.

Dari setiap pemboran biasanya dibuat sebuah


laporan pemboran. Di dalamnya dicatat dengan
cermat material-material apa saja yang telah
ditemukan, dan selain itu juga kecepatan penetrasi
dan perilaku material terhadap alat pemboran.
Pada sebuah galian tambang terdiri dari dua bagian yaitu
High wall dan Low wall.

High wall adalah permukaan kerja tambang terbuka atau kuari, khususnya
tambang batubara terbuka. Dapat pula berarti permukaan atau lereng
dibagian yang lebih tinggi dari tambang terbuka kontur.

Low wall adalah sisi bukaan tanah penutup batubara atau bahan galian
tambang lainnya pada tambang terbuka. Dapat juga berarti sisi bukaan
tanah/batuan sisi tanah buangan arah tegak lurus terhadap sisi buangan
dan arah kemajuan tambang (High Wall). Low wall dapat ditentukan
(searah) berdasarkan Bedding dip suatu permukaan tanah.
Peletakkan High wall dan Low wall dapat
ditunjukkan pada gambar-gambar berikut :

A A’

High wall
B’ B
High wall
Low wal
l
C C’

Low
wal High wall
l
D D’

Low High wall


wa
ll
E E’

Lo
w High wall
wa
ll
F F’

Low
wall
High wall
PENYELIDIKAN LAPANGAN
Penyelidikan yang dilakukan untuk menganalisa
kestabilan lereng adalah penyelidikan lapangan.

Di dalam penyelidikan lapangan ada beberapa uji yang


yang dilakukan. Dan untuk menganalisis kestabilan
lereng, maka uji yang digunakan yaitu CPT, uji coba
beban pelat, uji geser untuk bidang-bidang yang tidak
diskotinu, pengukuran permeabilitas dan tegangan air.
Penyelidikan Lapangan
Analisis kestabilan menggunakan data-data yang
telah ada dan digunakan untuk menghitung angka
keamanan lereng. Data yang telah ada meliputi
data pemboran, CPT, dan uji laboratorium.
Data tersebut digunakan untuk membuat
penampang lapisan dan memodelkan dalam
bentuk analisis numerik. Hasil analisis numerik
ini adalah angka keamanan.
CPT (CONE PENETRATION TEST)

CPT digunakan untuk mengukur dan


mengevaluasi karakteristik tanah yang
meliputi :
a. Stratifikasi tanah
b. Tipe tanah
c. Kerapatan/kepadatan tanah relatif dan
kondisi tekanan
d. Parameter kekuatan geser
Alat yang digunakan
CPT dibagi dua yaitu
CPT Mekanis dan
CPT Elektris

Hydraulic CPT
CPT-MEKANIS
 CPT Mekanis
dilegkapi
dengan Konus
 Pada konus
terdapat selubung
yang
membungkus pipa
selubung
Cara melakukan uji CPT
 Dapat dilakukan dengan cara pipa konus
didesak dengan sistem sekrup hidrolik
 Gaya : luas permukaan konus = hambatan
konus

qc=Fc/Ac
Pipa selubung didesak kebawah untuk
mengukur hambatan-lekat diantara pipa
selubung dan dinding.

fs = Fs/As
CPT- ELEKTRIS
 Hambatan konus dan hambatan lekat diukur
dengan kotak-kotak beban yang ditempatkan
didalam .
CPT
 Hasil grafik yang dihasilkan pada Cone Penetration
Test, terlihat ada grafik yang berbentuk zigzag pada
kedalaman tertentu dan ada grafik yang lebih lembut
(smooth) -*lembut??!!- pada kedalaman tertentu, hal
ini menggambarkan jenis tanah yang ada pada
kedalam tersebut. Jika terlihat grafik membentuk
zigzag itu berarti lebih condong kebentuk tanah pasir,
tetapi jika grafik lebih membentuk garis yang lebih
lembut, hal ini menunjukan pada kedalaman tersebut
jenis tanah lebih cenderung ke jenis tanah lempung.
Hal ini disebabkan karena partikel pada pasir lebih
besar dari pada lempung.
UJI COBA BEBAN PELAT
 Pada tanah uji ini dilakukan untuk
menentukan gaya geser dan perilaku
deformasi suatu material dibawah pelat
yang dibebani.
 Karena kedalaman tanah yang dibebani
sebuah bangunan lebih besar, sehingga
dalam menggunakan uji ini digunakan skala.
 Parameter yang di dapat yaitu perilaku
deformasi dan data amblasan oleh sebuah
beban tertentu
UJI GESER LAPANGAN
 Pada uji ini sebongkah batuan atau tanah pada
bidang yang dipilih secara khusus dikenakan
beban geser langsung
 Sebuah bongkah kita gergaji atau tusuk, hanya
pada bidang geser material ini masih utuh.
Dengan bantuan sekrup angkat-suatu beban
normal ditempatkan, juga dalam arah geser,
beban geser dipasang secara berangsur-
angsur, hingga akhirnya bongkahan tersebut
kehilangan ketahanannya dan mulai bergeser.
 Parameter yang di dapat yaitu gaya-geser
PENGUKURAN PERMEABILITAS
 Permeabilitas = suatu sifat teknis yang memampukan
fluida untuk mengalir dalam media berpori.
 Uji tinggi-jatuh cara buatan permukaan air pada
lubang bor, kecepatan surutan.

 Uji tinggi –naik Pada ketinggian permukaan air


yang berbeda lalu diratakan hasilnya Menurunkan/
menaikan permukaan air tanah.
 Uji pengepakan
o Air ditekan ke dalam lapisan oleh pipa berlubang
o Air dipompa dengan tekanan konstan (15 menit)
o Lalu diulang dengan tekanan yang berbeda

Permeabilitas lapisan tertentu

7
Dinyatakan dalam
10“Lugeon”
(1 Lugeon = m/s)
PENGUKURAN TEGANGAN AIR
 Fungsi :
 Untuk pembebanan atau pembangunan diatas tanah
lembek,
 Pemantauan tekanan air pada lereng-lereng alami
 Caranya :
 Paling sederhana = Lubang bor yang diberi selubung sampai
kedalaman tertentu lapisan yang ada air nya
 Tanah sukar air (lempung) = piezometer
 Alat ukur elektrik = ruang yang diisi air yang bagian atas
ditutup membran
PIEZOMETER
Peletakan Borhole
Borhole di letakkan pada lereng (high wall)
agar dapat menentukan kondisi atau
penampakan tidak langsung bawah
lereng. Juga pada daerah pertambangan
yang berdekatan dengan sumber air agar
dapat mengetahui tegangan air.
Kesetabilan lereng dapat di
dipengaruhi oleh :
a. Sudut lereng
Semakin besar sudut lereng maka
kemungkinan runtuhnya sebuah lereng
semakin besar.
• Kebanyakan sudut lereng yang
menyebabkan longsor adalah 180 apabila
ujung lerengnya terjal dan bidang
longsorannya mendatar.
b. Kekuatan material

Material yang kurang kuat akan mudah


mengalami proses pelapukan dan
umumnya rentan terhadap tanah longsor
bila terdapat pada lereng yang terjal.  
  
c. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak
sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:
• Bidang perlapisan batuan
• Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan
dasar
• Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan
batuan yang kuat.
• Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air
dengan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air).
• Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah
yang padat.
d.Kedudukan air tanah
Dalam keadaan kering (tanpa air tanah)
kesetabilan lereng sangat tinggi
sementara dalam keadaan terisi oleh air
maka kesetabilan akan berkurang.
e. Penyebaran batuan
Penyebaran dan keragaman jenis batuan sangat
berkaitan dengan kemantapan lereng, ini karena
kekuatan, sifat fisik dan teknis suatu jenis batuan
berbeda dengan batuan lainnya. Penyamarataan jenis
batuan akan mengakibatkan kesalahan hasil analisis.
Misalnya : kemiringan lereng yang terdiri dari pasir tentu
akan berbeda dengan lereng yang terdiri dari lempung
atau campurannya.
f. Struktur geologi
Struktur geologi yang mempengaruhi
kemantapan lereng dan perlu diperhatikan
dalam analisis adalah struktur regional dan
lokal. Struktur ini mencakup sesar, kekar, bidang
perlapisan, sinklin dan antiklin,
ketidakselarasan, liniasi, dll. Struktur ini sangat
mempengaruhi kekuatan batuan karena
umumnya merupakan bidang lemah pada
batuan tersebut, dan merupakan tempat
rembesan air yang mempercepat proses
pelapukan.
h. Iklim
Iklim mempengaruhi temperatur dan
jumlah hujan, sehingga berpengaruh pula
pada proses pelapukan. Daerah tropis
yang panas, lembab dengan curah hujan
tinggi akan menyebabkan proses
pelapukan batuan jauh lebih cepat
daripada daerah sub-tropis. Karena itu
ketebalan tanah di daerah tropis lebih
tebal dan kekuatannya lebih rendah dari
batuan segarnya.
i. Tingkat pelapukan
Tingkat pelapukan mempengaruhi sifat-
sifat asli dari batuan, misalnya angka
kohesi, besarnya sudut geser dalam,
bobot isi, dll. Semakin tinggi tingkat
pelapukan, maka kekuatan batuan akan
menurun.
Test Laboratorium
Ada beberapa tes Laboratorium yang
berhubungan dengan kestabilan lereng yaitu :

1. IndeksTanah (γ, ω, e, GS dll.)


• Uji saringan (sieve analysis test)
• AtterbergTest
2. Kuat Geser Tanah (c, φ)
• Unconfined Compression Test
• Uji Kuat Geser Diskontinuitas
3. Kompresibilitas (Cc, Cv)
• Tes Konsolidasi
4. Permeabilitas (k)
• Tinggi Jatuh (Falling Head)
Uji Kuat Tekan Berporos Tunggal
(Unconfined Compression Test)
 Dilakukan dengan menempatkan sebuah contoh batuan yang
berbentuk silinder (panjang : diameter = 2 : 1) dalam sebuah
Bangku Tekan dan kemudian perlahan lahan menekan piston
hingga contoh tersebut hancur. Bahan silinder yang digunakan haru
disiapkan dengan cermat , permukaannya harus rata dan sejajar.

 Parameter yang dihasilkan adalah Tegangan σ = 4F/Лd² dan


Perpindahan є = (l – l0) / l0

Kelas u.c.s (Mpa) Skala kekuatan


A > 200 Luar biasa kuat
B 100 - 200 Sangat kuat Klasifikasi
menurut
C 50 - 100 Kuat Deere
D 25 - 50 Cukup kuat
E < 25 Lemah
Uji Kuat Geser suatu
Diskontinuitas
 Menggunakan alat “Field Shear Box”

 Dilakukan dengan meletakkan contoh batuan yang mengandung


diskontinuitas dalam sebuah bak geser. Kemudian diberikan
tegangan yang sama besarnya dengan keadaan riil, yang tegak
lurus terhadap diskontinuitas ini. Kemudian dengan bantuan sebuah
sekrup pengangkat, ecara perlahan-lahan diberikan tegangan yang
sejajar dengan bidang diskontunuitas. Dan pada saat terjadi
geseran pada bidang tersebut, kuat geser dari diskontinuitas telah
dilampaui.

 Parameter yang dihasilkan adalah besar kuat geser suatu bidang


tertentu (dari hasil yang ditunjukkan pada alat ukur)
Uji Saringan
• Metode ini digunakan untuk menentukan pembagian
butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan
menggunakan saringan, tujuannya untuk memperoleh
distribusi besaran atau jumlah persen-tase butiran.
• Peralatan yang digunakan ; timbangan, satu set
saringan, oven, alat pemisah, mesin guncang jaringan,
talam dan alat lainnya.
• Hasil pengujian ini dapat digunakan antara lain: untuk
penyelidikan quarry agregat.
• Dengan mengetahui Persentase dari butiran pada
sampel, maka kita dapat menentukan apakah Tanah
tersebut termasuk dalam kondisi Well Greaded atau
Poor Greaded.
Uji Konsolidasi
• Bertujuan untuk memperoleh parameter kompresbilitas
(Cc dan Cv) dan kecepatan konsolidasi tanah.
• Dilakukan dengan memberi beban arah aksial secara
bertahap, pergerakan akibat pembebanan aksial yang ke
arah lateral harus ditahan. Ukur penurunan dari benda
uji pada setiap penambahan beban.
• Peralatan yang digunakan harus dilengkapi dengan
pembebanan aksial, sel konsolidasi berikut batu pori
yang tidak mudah tersumbat butiran lempung dan tidak
mudah patah. Juga dilengkapi alat pembentuk benda uji
dan bahan penunjang berupa air.
Uji Tinggi Jatuh
(Falling Head)

Dirancang untuk menentukan Koefisien


permeabilitas (k) dengan metode aliran
laminar air melalui butiran butiran tanah.

Gambar disamping merupakan alat


Constant/Falling head Permeameter.
Thank You !

Anda mungkin juga menyukai