Anda di halaman 1dari 67

KIMIA ANALITIK

INSTRUMEN

IR. MUHAMMAD TAUFIK. M.S


2015

SPEKTROFOTOMETER UV/VIS
Spektrofotometer adalah alat yang digunakan
untuk mengukur besarnya transmisi atau
absorbansi suatu sampel sebagai fungsi dari
panjang gelombang.
Spektrofotometer UV bekerja berdasarkan
penyerapan sinar (absorbsi), energi pada daerah
UV dan tampak menghasilkan perubahan energi
elektronik molekul yang merupakan hasil
transisi (perpindahan elektron valensi dalam
molekul tersebut).

Spektrum Ultraviolet
Spektrum UV-VIS disebut juga spektrum
elektormagnetik, terjadi sebagai hasil interaksi
radiasi UV-VIS terhadap molekul yang mengakibatkan
molekul tersebut mengalami transisi elektronik. Pada
UV-VIS ada 2 daerah pengukuran, yaitu:
Daerah radiasi ultra lembayung (ultra violet)

= 200 380 nm
Daerah radiasi sinar tampak (visual)

= 380 780 nm
Spektrum yang umum dikenal adalah absorbsi atau
persen transmisi terhadap panjang gelombang
(absorbansi).

Spektrofotometer ada yang menggunakan berkas


rangkap (double beam) tetapi prinsip peralatannya
sama seperti sistem berkas tunggal (single beam)
yang secara diagram blok dapat digambarkan sebagai
berikut:

Instrumentasi
Spektofotometer UV-Vis
sumber radiasi atau cahaya
monokromator
tempat sampel
detektor
ampli
pengolah data

Skema Instrument Spektrofotometer UV

1
2
3
4
5
Komponen-komponen utama yang diperlukan dalam
spektrofotometer UV-Vis meliputi:
1. sumber radiasi atau cahaya
2. monokromator
3. tempat sampel
4. detektor
5. ampli
6. pengolah data

Khusus pada spektrofotometer UV


dan Vis masing-masing menggunakan
sumber lampu tungsten.

Lampu Deuterium (Hidrogen)

Lampu Tungsten (Wolfarm)

Lampu Deuterium
(Hidrogen)
Lampu ini menghasilkan spektrum

kontinu

dalam daerah ultraviolet yang dihasilkan oleh


eksitasi dari deuterium atau hidrogen pada
tekanan rendah. Biasanya menggunakan arus
searah 40 V dan power suply diperlukan untuk
mendapatkan intesitas yang konstan.Baik lampu
deuterium

ataupun

hidrogen

menhasilkan

spektrum kontinu dalam daerah 180-375 nm,


tetapi bukan merupakan spektrum kontinu.

Lampu Tungsten
(Wolfarm)
Sumber

radiasi

yang

umum

digunakan pada daerah tanmpak dan


inframerah dekat adalah lampu filamen
tungsten. Pada kondisi operasi biasa,
hasil lampu tungsten ini memadai dari
kira-kira 325 nm-2500 nm. Energi yang
dipancarkan sangat bervariasi sesuai
dengan panjang gelombangnya.

Monokromator
Monokromator adalah peralatan optik yang berfungsi
mengisolasi suatu berkas radiasi dari sumber kontinu dengan
kemurnian spektral yang tinggi untuk panjang gelombang
manapun. Unsur-unsur terpenting suatu monokromator sistem
celah (slit) dan unsur pendispersif.

Celah (slit)
Celah Monokromator merupakan bagian yang penting dalam
menentukan unjuk kerja karakteristik dan kualitasnya.Setiap
monokromator selalu dilengkapi dengan sepasang celah,yaitu
celah masuk dan celah keluar.Kedua celah tersebut selain
berperan yang menentukan sifat monokromatis radiasi yang
dihasilkan juga sifat resolusi panjang gelombangnya.celah
umumnya terdiri dari dua buah pelat logam sehingga sisi-sisinya
tajam.

Monokromator terbagi menjadi :


Monokromator

Prisma

Monokromator

Grating (kisi)

Monokromator Prisma
Komponen ini terbuat dari bahan kuarsa yangbisa
digunakan untuk daerah ultraviolet tampak maupun infra
merah dekat.gelas menghasilkan pemilihan yang baik
pada daerah panjang gelombang antara 350 nm 2500 nm
tetapi tidak untuk ultraviolet.Prinsip kerja prisma, apabila
seberkas sinar melewati antar muka dua medium yang
berbeda, sepertiudara dangelas , sinar akan dibelokkan
yang disebut refraksi.Besarnya pembelokan tergantung
pada indeks bias.Indeks bias ini berubah-ubah dengan
panjang gelombang sinarnya, sinar biru lebih dibelokkan
daripada sinar merah.

Monokromator Grating (kisi)


Tahap pertama pada pembauatan
grating refleksi yaitu penyediaan master
grating yangdari bahan ini dapat dibentuk
banyak replikan grating.Master grating
terdiri dari lekukan paralel dengan jarak
rapat disusun pada permukaan keras yang
telah dilapisi dengan peralatan seperti
intan.

bahan

pembuatan sample

reagen

Wadah Sampel (Kuvet)


Sel atau kuvet harus terbuat dari bahan yang

dapat meneruskan sinar daerah spektrum yang


digunakan. Kaca leburan silikat biasa digunakan
antara 350 nm-3,0 m. Pada daerah 300 nm
sampai daerah tampak dapat menggunakan sel
dari bahan kaca corex. Tetapi bahan demikian
tidak boleh digunakan untuk daerah ultraviolet,
karena bersifat mengabsorbsi sinar ultraviolet.
Jadi untuk pengukuran daerah ultraviolet dibawah

350 nm, sel harus terbuat dari bahan kuarsa atau


leburan silika. Sel yang berbentuk persegi adalah
yang lebih baik dan harganya relatif mahal.

Untuk cuplikan padat


Jika cuplikan sudah transparan (misalnya
lembaran plastic, substrat tipis pada kaca)
maka cuplikan tersebut dapat langsung
ditempatkan pada jalur sinar.
Contoh:
SnCl2 dalam alkohol disemprotkan pada
kaca, kemudian dipanaskan supaya alkoholnya
menguap dan SnCl2 nya teroksidasi menjadi
SnO2.

Untuk cuplikan cair

Jika menggunakan pelarut air atau


pelarut organik, digunakan kuvet gelas
atau kuarsa.

Pelarut
Secara umum pelarut yang dipilih harus bersifat :

Dapat melarutkan sampel dengan sempurna

Dapat meneruskan sinar dari daerah panjang


gelombangyang diinginkan atau tidak boleh
mengabsorbsi sinar.

Batas tembus menunjukkan panjang gelombang


terendah yang dapat meneruskan sinar, jadi
panjang gelombang maksimum zat harus lebih
besar dari batas tembus.Pelarut-pelarut yang
umu digunakan untuk daerah ultraviolet dan
tampak dapat dilihat pada tabel

Daftar pelarut untuk Spektrofotometer


UV/Vis
Jenis Pelarut
Air
Alkohol
n-Heksana
sikloheksana
Benzena
Ether
Aseton
Dioksana

Batas tembus sinar


(nm)
190
210
220
210
280
210
330
220

CuSO4

aquades

Pembuatan Larutan Standar


+ H2SO4 5 ml

500 ml

100

100

100

0 ml

2 ml

4 ml

+NH3

+NH3

+NH3

100

100

100

100

6 ml

8 ml

10 ml

12 ml

+NH3

+NH3

+NH3

+NH3

Cat: penambahan NH3 masing-masing sebanyak 5 ml

Detektor
Prinsip detektor adalah mengubah energi radiasi
yang jatuh mengenainya menjadi suatu besaran yang
dapat diukur. Sifat-sifat detektor yang ideal harus
mempunyai kepekaan tinggi, perbandingan sinyal dan
noise tinggi dan respon tetap pada daerah panjang
gelombang pengamatan.
Jenis-jenis detektor :
Fotosel

(Photovoltaice Barrier-Laver-Cells)

Tabung

foton Hampa

Tabung

Penggandaan foton (Photomultiplier

Tube)

Fotosel (Photovoltaice
Barrier-Laver-Cells)

Detektor fotosel digunakan terutama untuk


mendeteksi danpengukuran radiasi dalam daerah
tampak.Pada bagian luarnya disemprotkan lapisan
tipis yang terbuatdari emas, perak atau timah yang
berfungsi sebagai elektroda pengumpul.

Prinsip kerjanya, bila seberkas radiasi yang


ditransmisikan oleh sampel jatuh mengenai
permukaan antara Ag dan seakan lepas dan
terkumpul pada Ag.Detektor ini bentuknya
sederhana, murah dan tidak memrlukan sumber
tenaga listrik dari luar, tetapi fotosel hanya cocok
digunakan untuk fotometer filter.

Tabung foton Hampa

Jenis detektor ini terdiri dari katoda berbentuk


setengah silinder dan kawat anoda yang
keduanya berada dalam tabung kaca yang
dihampakan.Sinar masuk melalui jendela kuarsa
dan jatuh mengenai permukaan katoda yang
dilapisi senyawa peka sinar.energi radiasi
tersebut mampu melepaskan elektron-elektron
dari permukaan katoda dan akan terkumpul
pada kawat anoda dan menyebabkan timbulnya
arus listrik.Besarnya arus rtergantung dari
besarnya energi radiasi yang masuk.

Untuk pengukuran intensitas radiasi yang


kecil, alatiilebihmenguntungkan daripada
tabung foton.Skema dari alat ini yaitu
permukaan katoda mempunyai komposisi
seperti pada tabung foton , elektron-elektron
akan mudah lepas bila ada radiasi jatuh
mengenai katoda.Tabung ini dilengkapi
elektroda-elektroda tambahan disebut dioda
yang mempunyai potensial 90 V lebih positif
daripada katoda sehingga elektron-elektron
akan dipercepat.

Bagian yang berfungsi mencatat dan


mengolah data. Pada kebanyakan
spektrofotometer yang sudah menggunakan
teknologi tinggi (computerized peran bagian
ini dilakukan oleh komputer ( PC).

Berfungsi untuk mengubah sinyal-sinyal


menjadi informasi yang berbentuk data yang
berupa angka-angka.

Cara-cara sederhana mencari


kesalahan dalam spektrofotometri
UV/Vis
1. Lakukan dahulu pengecekan rutin,halhal berikut ini :
Panjang gelombang
Absorbansi (A) atau Transmitansi (T)
Sinar Sesatan
Hasilnya diidiagnosis apakah terjadi
kesalahan dan dibagian mana?

2. Bila alat kurang berfungsi dengan baik selama


pemakaian jangan cepat menyimpulkan bahwa alat
tersebut rusak,oleh karena itu coba lakukan lebih
dahulu berikut ini :

Cek semua kontrol,apakah terpasang dengan baik


dan benar.

Karena operator berpengalaman pun

kadang-kadang lupa menyalakan (on) kan lampu

Kemudian cek kondisi eksperimen apakah ada


sesuatu yang menghalangi alat dari fungsi yang
sebenarnya. Keluarkan kuvet dan lihat apakah
masih ada kesalahan.

3. Bila persoalannya menyangkut kesalahan


pembacaan absorbansi A kemungkinan oleh
adanya kontak kawat atau kabel yangbjelek
pada potensiometer/rekorder maka larutan :

Putar/stel panjang gelombang pada 550


nm, buka celah/slit dan perhatikan jalannya
sinar yang melewati kuvet

Periksa lampu (kondisnya;longgar,karat dsb)


dan cermin

Tentukan kesalahannya apakah optik,elektrik


atau mekanik?

Cek fuse mungkin ada yang putus


Bila terjadi kesalahan mekanis coba oleskan
minyak pelumas

Masalah Yang Sering Timbul


Dan Cara penangannya
A. Garis Dasar (Baseline) Jelek
- Kemungkinan ada kesalahan instrumental
- Kemungkinan kondisi kuvetnya

B. Nilai Absorbansi Rendah


C. Nilai absorbansi tinggi
D. Nilai panjang gelombang maksimum (
maks) tidak tepat

A. Garis Dasar (Baseline) Jelek


Kemungkinan ada kesalahan instrumental

Periksa pada bagian kuvet apakah ada sesuatu


yang menganggu posisi kuvet
Bila alatnya menggunakan filter,shutter dan
attenuator yang dioperasikan secara manual maka
periksa posisinya telah benar
Periksa jalannya sinar sepotong kertas putih
setelah panjang gelombang di set pada 550 nm dan
celah sinar diatur selebar mungkin

Khusus untuk instrument sinar


tunggal,noise mungkin terjadi karena
output lampu lemah atau ada kerusakan
pada komponen eletroniknya
Bila instr ument telah dilengkapi dengan
kompesor baseline maka perlu resetting
apabila terjadi perubahan suhu lingkungan
atau alatnya telah lama tidak dipakai
Bila baseline naik tajam pada panjang
gelombang yang sama ini menunjukkan
kesalahan pada sistem penggantian filter
otomatisnya

Kemungkinan kondisi kuvetnya

Bila hasil pemeriksaan instrument cukup


memuaskan bararti kesalahan pada kuvet
dan isinya

Kosongkan dan isinya kembali kuvat


dengan lautanny yang sama untuk
menyakinkan bahwa larutan tersebut
homogen

Periksa kuvet tersebut apakah ada kotoran


di bagian dalam atau ada bagian kuvet yang
tergores

B. Nilai Absorbansi Rendah

Larutan yang tidak sempurna periksa apakah ada sebagian


bahan yang tertinggal pada tabungnya atau ada bahanbahan yang tersuspensi dalam larutan

Adanya pengotor contoh mungkin contoh terkontaminasi


oleh bahan pengotor yang tidak mengabsorpsi

Terjadi perubahan dalam contoh : periksa Ph larutan.


Beberapa contoh dapat rusak karena fotokimia atau oksidasi

Ada gelembung dalam larutan contoh atau standar karena


pengaruh perubahan suhu bila kuvet telah diisi berulang kali

Sinar melewati contoh tetapi kurang sempurna maka periksa


posisi sinar apakah lebih banyak pada bagian bawah atas
atau disamping

Distorsi puncak karena kecepatan scan teralu tinggi


atau lebar celah spektral efektifnya terlalu besar
terutama puncak-puncak tajam

Untuk daerah panjang gelombang pendek harus


diperhatikan adanya sinar sesatan karena akan
mampu mengurangi absorpsi. Yang lebih sempit
sehingga perbandingan jumlah sinar sesatan yang
mencapai detektor menjadi lebih kecil

Mungkin terjadi penyimpangan terhadap hukum


Beer dikarenakan perubahan konsentrasi oleh
spesies molekul contoh yang mengalami dimerasasi
atau pembentukan kompleks dll. Bila maslah ini
dicurigai terjadi maka ukur bebeapa seri larutan
untuk mengetahui ketidak lineritas absorban

C. Nilai absorbansi tinggi


Nampaknya kesalahan lebih disebabkan oleh
gangguan optik
Adanya gelembung
Penguapan contoh akan meningkatkan

absorbansi
Pengendapan pada contoh
Kondensasi contoh pada jendela kuvet analit

keluar

dari larutan atau sebagian larutan

membeku

Periksalah nilai skala pada kertas pencatat sesuai dengan


skala pada monokromator

Bila mengukur campuran pada umumnya posisi maks


komponen-komponen kecil yang berselahan dengan
puncak-puncak komponen utama akan bergeser dari
harga sebenarnya

Bila 2 puncak dengan ukuran yang hampir sama saling


tumpang tindih maka puncak tunggal yang dihasilkan
tidak akan memberikan informasi dari kedua komponen

Perubahan pH atau pelarut adalah penyebab perbedaan


harga maks dengan data literatur yang umum terjadi

A.

Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Pada


Absorbsi

B.

Pengaruh Matriks

C.

Pengaturan kondisi optimum untuk


menekan gangguan

A. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh


Pada Absorbsi
1. Karakteristik Larutan
Kondisi Ph larutan mungkin memberikan efek pada absorpsi.
Oleh karena itu harus diperhatikan dalam pemilihan rentang pH
dimana signal absorpsi stabil. Pengaturan pH mungkin perlu
dilakukan dalam multi komponen agar dapat dijaga perubahan
antara larutan-larutan asam dan basa.
2. Lebar Kuvet ( Cell path length )
Pada umumnya lebar kuvet adalah 10 mm tetapi untuk
meningkatakan sensitivitas dapat dilakukakn dengan
menggunakan lebar kuvet yang meningkat

3. Indeks Refraksi
Perbedaan absorpsi mungkin dapat terjadi bila larutan
blanko dan sample mempunyai indeks refraksi berbeda karena
komponen-komponen pelarut dan solute.
4. Reflaksi
Bila sinar dilewatkan dari suatu medium kemeum lain
dengan indeks refraksi berbeda maka beberapa sinar akan
direfleksikan. Efek refraksi juga bias terjadi pada permukanan
misalnya pada permukaan dari slit,tabung photomultiplier,lensa
atau cermin-cermin.
5. Turbiditas
Apabila tidak ada jlan lain pengukuran absorbansi tidak
dilakukan pada sample yang kental (Turbid). Prosedur untuk
menghilngkan kekentalan sample biasanya dengan cara
penyaringan,centrifugasi atau flokulasi.

B. Pengaruh Matriks

Ada 4 langkah untuk menekan efek matriks :

Perlakuan awal/pretreatment dari sampel uji


untuk menghilangkan bahan-bahan pengganggu

Adisi unsur-unsur matriks kestandar kalibrasi


disamakan dengan matriks dari sampel ujinya

Pengukuran efek matriks dan penetuan jumlah


dari bahan tersebut sesuai dengan yang
diinginkan

Adisi reagen ke dalam sampel untuk mereaksikan


dengan bahan-bahan penggangu dari matriks
sehingga dapat menghilangkan gangguan
tersebut.

C. Pengaturan kondisi
optimum
untuk
menekan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pada
gangguan
tingkat resolusi instrument dan gambaran
berikut ini perlu diperhatikan sebelum
dilakukan analisis.
1. Lebar Pita Spektral
Untuk slit yang sempit akan memberikan
efek pada signal noise ratio yang baik dan
resolusi yang optimum dapat dicapai
apabila signal noise ratio besar.

2. Spektrum absorbsi
Pemilihan panjang geloombangnya mengikuti
beberapa kriteria berikut ini :
Ketajaman puncak

Biasanya diinginkan pencak yang tajam sehingga kalibrasi


panjang
gelombang dilakukan pada instrument
Intensitas puncak relatif
Biasanya dipilih suatu puncak yang mempunyai absortivitas
relatif tinggi
Posisi puncak pada spektrum
Puncak yang diidentifikasi sebaiknya terpisah baik atau
sempurna dengan peuncak-puncak komponen lainnya .

3. Stabilitas kromofor
Sering kali dalam penentuan senyawa diperlukan
langkah reaksi kimia dari analit sehingga membentuk
kromofor tertentu.waktunya bisa beberapa menit
hingga puluhan kromofor yang terjadi telah stabil.

Apabila analisis menggunkan metode standar,maka kedua


parameter uji presisi harus tersedia

Repeabilitas (r)
Nilainya harus sama atau lebih kecil dari perbedaan hasil
dari dua ulagan singel tes dengan metode,bahan
sampel,personil,laboratorium hari yang sama

Reproducibilitas (R)
Nilainya harus sama atau lebih kecil dari perbedaan hasil
dari 2 ulagn singel tes dengan metode,bahan bahan
sampel,personil,laboratorium hari yang berbeda

Verifikasi, dan Kalibrasi


Spektrofotometer UV-Vis
Kalibrasi diperlukan untuk mengecek akurasi pengukurannyadalam
analisis spektrofotometri
Ada beberapa faktor terhadap fungsi dari spektrofotometer :
Kestabilan
Akurasi panjang gelombang
Spectral bandpass
Sinar sesatan
Akurasi skala absorbans dan transmitans
Kondisi yang berpengaruh thdp kestabilan sampel yg ukur

homogenitasnya

KALIBRASI PANJANG GELOMBANG


Prosedur :
1. Tempatkan blanko ke dalam kompartemen contoh
2. Tepatkan skala panjang gelombang pada nilai yang
akan dikalibrasi, lalu nol kan alat.
3. Memasukkan larutan pengkalibrasi atau filter ke dalam
kompartemen contoh
4. Carilah panjang gelombang puncak abs di sekitar
acuan tersebut dengan cara menggeser dari arah
tertentu;catat nilai 1

Catatan :

Pencarian dari puncak abs selalu dari arah yang


sama
Nilai SD menyatakan presisi panjang gelombang
yang bersangkutan

5. Ulangi langkah 1 s.d. 4 dengan memilih

lainnya( 2, 3,)
Catatan :

yang dipilih diutamakan yang mengapit atau


berdekatan dengan biasa dipakai sehari-hari

6. Untuk masing-masing , akurasi nilainya

dinyatakan oleh nilai (acuan r)


Catatan :
Apabila r berada dibatas luar toleransi
acuan, maka perlu dilakukan koreksi dalam
membaca ; bila terlalu menyimpang maka
spektrofotometer perlu diperiksa

Pembersihan kuvet

Akuades dan methanol p.a. dapat dipakai untuk mebersihkan


kuvet

Perendaman dalam aquades atau larutan mild sulfonate


detergent dapat membersihkan kuvet.

Bila sulit dibersihkan, rendamlah kuvet dalam campuran 1 vol


HCl pekat + 3 vol akuades + 4 vol methanol p.a.

Perendaman dalam larutan asam kromat adalah untuk kuvet


silika; tetapi kuvet harus segera dicuci dengan akuades setelah
direndam.

Jangan gunakan larutan yang dapat merusak kuvet,seperti :


Larutan

alkali

Deterjen
Cairan

yang mengandung optical bleach

berisi serbuk penggosok

Larutan

yang mengandung ion flourida

KONFIGURASI
SPEKTROFOTOMETER UV-Vis

Spektrofotometer Sistem Single Beam.

Spektrofotometer Sistem double Beam. Yang


menggunakan detektor tunggal (Single
Detector).

Spektrofotometer Sistem Double Beam yang


menggunakan dua buah detektor (Double
Detector).

Spektrofotometer Sistem panjang glombang


ganda (Dual Wavelength).

Spektrofotometer Sistem
Single Beam.

Proses pengukuran larutan contoh dilakukan setelah


terlebih dahulu dilakukan pengukuran terhadap pelarutnya
yang biasanya diatur hingga mempunyai nilai Nol (Optical
Null System). Bila akan memperoleh spektrum resapan
secara keseluruhan maka perlu dilakukan pengukuran pada
setiap panjang gelombang secara bergantian antara
penguluran larutan contoh dan pelarutnya. Untuk
memudahkan pengukuran, saat ini telah berhasil dirancang
spektrofotometer yang telah dilengkapi dengan komputer
yang mampu melakukan proses Memory serta pengolahan
data.

Spektrofotometer konfigurasi seperti ini umumnya


mempunyai lebar pita spektra (Spectral Bandwidth) 5 7
nm.

Skema Spektrofotometer Single Beam

Keterangan:
1. Sumber energi

5. Detektor

2. Monokromator

6. Pengolah sinyal

3. Optical Attenuator

7. Pembacaan

4. Tempat contoh

Spectrofotometer Sistem Double Beam


yang Menggunakan Detektor Tunggal

Spectrofotometer sistem ini menggunakan suatu Beam Splitter


untuk menghasilkan Cahaya Ganda yang menuju kebagian
contoh dan pelarut (Referens), serta menggunakan detektor
tunggal.

Spektrofotometer konfigurasi ini umumnya mempunyai lebar pita


spektra yang lebih sempit dibanding spektrofotometer Single
Beam sehingga secara umum akan memberikan hasil
pengukuran yang lebih baik. Ada dua macam pengaturan lebar
celah yaitu yang bersifat tetap, biasanya dengan Spectral
Bandwidth 2 atau 3 nm, dan yang berfariasi dapat berkisar
antara 0,01 5 nm.

Skema Spektrofotometer Double Beam Single Detektor

2
1

Keterangan:
1. Sumber energi

5. Tempat referens

2. Monokromator

6. Detektor

3. Beam splitter

7. Pengolah sinyal

4. Tempat contoh

8. Pembacaan (display)

Penggunaan dua detektor pada


spectrofotometer konfigurasi ini
bertujuan untuk analisis contoh yang
berupa suatu larutan koloid
(berpenampilan keruh). Hal ini
dimungkinkan karena jarak antara
tempat contoh dengan detektor lebih
dekat disamping menggunakan
rancangan detektor yang khusus.

Skema Spektrofotometer Double Beam Double Detektor


4

Keterangan:
1. Sumber energi

5. Tempat contoh

2. Monokromator

6. Detektor

3. Beam splitter

7. Unit pengolah sinyal

4. Tempat referens

8. Pembacaan (display)

Spektrofotometer konfigurasi ini mempunyai


prinsip menggabungkan dua buah sinar yang
berasal dari dua buah monokromator. Dengan
panjang gelombang berbeda sehingga dapat
diperoleh pengukuran beda resapan dan dua
panjang gelombang. Hasil pengukuran ini dapat
dimanfaatkan untuk menganalisis contoh yang
berupa larutan koloid atau analisis campuran
beberap zat secara simultan.

Skema Spektrofotometer Dual Wavelength


1

Keterangan:
1. Sumber energi

5. Tempat contoh

2. Monokromator 1

6. Detektor

3. Monokromator 2

7. Pengolah sinyal

4. Chonner

8. Pembacaan

Spektrofotometer UV/Vis adalah salah satu


peralatan analisa yang ralatif sederhana dan
amat berguna untuk analisa senyawa-senyawa
organik maupun anorganik.Analisa dapat
dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif
berdasarkan ciri khas absorbsi suatu senyawa.
Aplikasi Kimia
Analisa Kualitatif
Analisa Kuantitatif

Aplikasi Kimia

Energi radiasi absorbsi dalam daerah UV dantampak


amat tergantung dari jumlah dan susunan elektron
dalam molekul atau ion yang mengabsorbsi.Diantara
senyawa anorganik,absorbsi selektif biasanya ditentukan
koordinat kovalensi dengan atom-atom lain.Misalnya ,
ion Cu2+ sederhana tidak pernah ditemukan dalam
larutan air,karena terdensi kation tersebutmembentuk
ikatan koordinat dengan molekul atau ion yang
mengandung pasangan elektron bebas
sepertiair,ammonia, sianida atau klorida.Sedangkan
absorbsi selektif senyawa organik tergantung pada
susunan elektron dalam molekul.

Spektra

absorbsi UV dan tampak merupakan


informasi penting untuk mendukung dalam
elusidasi struktur suatu senyawa.Apabila
tidakada absorbsi sekitar 210 nm hingga daerah
tampak, maka senyawa yang bersangkutan tidak
mengandung ikatan ganda terkonjugasi.Dan
apabila turun hingga 180 nm ternyata juga tidak
ada absorbsi,berarti senyawanya tidak
mengandung ikatan ganda.

Analisa Kualitatif

Analisa Kuantitatif
Penentuan suatu senyawa yang mengabsorbsi dapat
dilakukan langsungdengan menggunakan hukum Beer
apabila tidak ada bahan mengabsorbsi
lainyangmengganggu atau apabila bahan pengganggu
tersebutdapat dihilangkan atau dikoreksi.Contohnya
pengukuran konsentrasi ozon pada daerah asap
pinggiran kota.
Senyawa-senyawa yang tidak mengabsorbsi seperti
kation dan anion dapat ditentukan secara
spektrofotometri setelah ditambahkan reagen tertentu
sehingga menghasilkan kompleks berwarba atau
membentuk kromofor yanglain.Salahsatu reagen
yangpaling penting adalah ditizon.

Reagen-reagen untuk penentuan anion


anorganik secara spektrofotometri
Spesies

Reagen

Sianida (CN-)
Ammonia (NH3)
Fosfat (PO43-)
Klorida (Cl-)
Nitrat (NO3-)
Nitrit (NO2-)

Cl2, piridina,pirazolon
Fenol,NaOCl
Na2MoO4, asam askorbat
Hg(SCN)2, Fe3+
Cd,asam sulfamat, asam
kromotropat
Sulfanilamit,N-1
nafteilenediamin
dihidroklorida

Reagen-reagen untuk penentuan spesies organik secara


spektrofotometeri
Gugus
funsional

Reagen

Absorbsiv
itas
Molar,

maks
(nm)

Asam
Karbonil

Ester
Olefin(siklis)
Peroksida
Fenol
Pirol
Sulfanoat

Pinasianol
Dinitrofenilhidrasin
Asam kromotropat
3-metil2benzotiazolon
hidrazon
Asam hidroksamat
Fenil azida
Ferotiosianat
4-Aminoantipirin
Dimetilamino
benzaldehida
Metilene blue

2-5 x 104
1 x 104
2 x104
7 x 104

0,8-1,2 x
103
5 x 104
5 x 103
1 x 104
5-9 x 104
9x 10

620
480
570
635

530
515
525
460
520-580
650

Titrasi Fotometrik
Dalam metode titimetri, titik ekuivalen dari
suatu reaksi ditentukan berdasarkan perubahan
warna secara visual oleh suatu reaktan atau
indikator. Masalah-masalah dalam titrasi ini dapat
diatasi dengan membuat kurva titrasi
spektrofotometri. Kurva ini dibuat dengan
menggambarkan absorbansi versus volume reagen
yang ditambahkan.

Ada beberapa keuntungantitrasi fotometrik


dibandingkan dengan titrasi secara visual.
Penentuan titk akhirnya lebih cepat karena
perubahan warna yang sedikit dapat dideteksi
dengan spektrofotometer.

Total absorbansi suatu larutan pada


panjang gelombang tertentu
merupakan jumlah absorbansi dari
komponen penyusunnya. Korelasi
tersebut memungkinkan untuk
melakukan analisa kuantitatif suatu
campuran meskipun spektranya saling
tumpang tindih.