Anda di halaman 1dari 29

IMPLEMENTASI

KEBIJAKAN PUBLIK

Pendahuluan
Kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan yang
ditetapkan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan
tertentu berkenaan dengan masalah tertentu yang
diorientasikan pada penyelesaian masalah publik.
Kebijakan publik yang ditetapkan pemerintah diharapkan
mampu mengatasi kebutuhan atau harapan terhadap
suatu kondisi yang mempunyai dampak bagi banyak
pihak.
Kebijakan-kebijakan pemerintah dapat dijabarkan dalam
bentuk peraturan perundang-undangan baik pada tingkat
nasional sampai pada tingkat daerah.
Suatu kebijakan publik yang telah ditetapkan atau
disahkan, tidak serta merta mampu menyelesaikan
masalah yang menjadi acuan dalam perumusan
kebijakan tersebut.
Tujuan dari kebijakan yang telah formulasikan dapat
dicapai melalui pelaksanaan kebijakan tersebut atau
diistilahkan dengan implementasi kebijakan.

Kebijakan publik paling tidak mengandung


tiga komponen dasar, yaitu:
1) tujuan yang hendak dicapai,
2) sasaran yang spesifik, dan
3) cara mencapai sasaran tersebut.
Cara mencapai sasaran Implementasi,
biasanya diterjemahkan ke dalam
program-program aksi dan proyek.

Apa itu Implementasi..?????


Kamus Webster : implementasi to implementation"
(mengimplementasikan) berarti to provide means for
carrying out (menyediakan alat bantu atau sarana
untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect
to (menimbulkan dampak / berakibat sesuatu).
Implementasi berarti menyediakan sarana untuk
melaksanakan sesuatu dan dapat menimbulkan dampak
atau akibat terhadap sesuatu.
Jika dihubungkan dengan pemahaman kebijakan publik,
maka implementasi kebijakan publik dapat diartikan
sebagai suatu tindakan untuk melaksanakan kebijakan
melalui sarana yang disediakan dalam rangka
menimbulkan suatu dampak berdasarkan tujuan
kebijakan tersebut
Jones (1984) ; those activities directed toward putting
a program into effect (proses mewujudkan program
hingga memperlihatkan hasilnya)

Van Meter dan Horn implementasi kebijakan adalah


tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu (dan
kelompok) pemerintah dan swasta yang diarahkan pada
pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
Mazmanian dan Zabatier implementasi adalah pelaksanaan
keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undangundang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau
keputusan badan peradilan. Lazimnya keputusan tersebut
mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan
tujuan atau sasaran yang ingin dicapai secar tegas, dan
berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses
implementasinya
Fokus perhatian implementasi (Mazmanian dan Sabatier):
memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu
program diberlakukan atau dirumuskan. Yakni peristiwaperistiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses
pengesahan kebijakan baik yang menyangkut usaha-usaha
untuk mengadministrasi maupun usaha untuk memberikan
dampak tertentu pada masyarakat

Apa yg dapat disimpulkan???


Implementasi adalah tindakan yang dilakukan
setelah suatu kebijakan ditetapkan
Implementasi merupakan cara agar sebuah
kebijakan dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan
Tujuan kebijakan adalah melakukan intervensi,
dan implementasi adalah tindakan intervensi
itu sendiri.
Implementasi melibatkan usaha dari policy
makers untuk mempengaruhi street level
bureaucracy untuk memberikan pelayanan atau
mengatur perilaku target group

Mengapa implementasi kebij.


dianggap penting???
Implementasi merupakan proses yg penting dalam proses
kebijakan, dan tak terpisahkan dari proses formulasi kebijakan
Implementasi bahkan jauh lebih penting dari pembuatan
kebijakan. Kebijakan hanya berupa impian atau rencana yg
bagus dan tersimpan dalam arsip kalau tak diimplementasikan
Tanpa implementasi kebijakan tak akan bisa mewujudkan
hasilnya.
Implementasi bukanlah proses yang sederhana, tetapi sangat
kompleks dan rumit.
Benturan kepentingan antar aktor baik administrator, petugas
lapangan, maupun sasaran sering terjadi
Selama implementasi sering terjadi beragam interprestasi atas
tujuan, target maupun strateginya
Implementasi dipengaruhi oleh berbagai variabel, baik variabel
individual maupun organisasional

Pada umumnya pemerintah di dunia baru mampu mengesahkan


kebijakan dan belum mampu untuk menjamin bahwa kebijakan
yang telah disahkan itu benar-benar akan menimbulkan dampak
atau perubahan-perubahan tertentu.

Hal ini merupakan suatu gejala yang disebut dengan


implementation gap, yaitu istilah yang menjelaskan suatu
keadaan dimana dalam proses kebijakan selalu akan terbuka
kemungkinan terjadinya perbedaan antara apa yang diharapkan
(direncanakan) oleh pembuat kebijakan dengan apa yang
senyatanya dicapai (sebagai hasil atau prestasi dari pelaksanaan
kebijakan).

Perbedaan tersebut akan tergantung pada implementation


capacity dari organisasi atau aktor atau kelompok organisasi
yang dipercaya untuk mengemban tugas mengimplemetasikan
kebijakan tersebut. (Walter William dalam Abdul Wahab, 2005)

Implementation capacity kemampuan suatu organisasi atau


aktor untuk melaksanakan keputusan kebijakan (policy
decision) sedemikian rupa sehingga ada jaminan bahwa tujuan
atau sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen formal
kebijakan dapat dicapai

Bagaimana mengimplementasikan
kebijakan???
Mazmanian dan Zabatier menyatakan beberapa tahapan :
mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi,
menyebutkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai
secara tegas,
menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya.
Proses implementasi berlangsung setelah melalui sejumlah
tahapan:
pengesahan peraturan perundang-undangan,
output kebijakan dalam bentuk pelaksanaan keputusan
oleh badan (instansi) pelaksanaan,
kesediaan dilaksanakannya keputusan-keputusan tersebut
oleh kelompok-kelompok sasaran,
dampak nyata yang dikehendaki atau yang tidak
dikehendaki dari output tersebut,
dampak keputusan sebagaimana dipersepsikan oleh
badan-badan yang mengambil keputusan,
perbaikan-perbaikan penting (atau upaya untuk melakukan
perbaikan-perbaikan) terhadap peraturan-peraturan yang
bersangkutan

Keberhasilan kebijakan atau program juga dikaji berdasarkan


perspektif proses implementasi dan perspektif hasil.
Perspektif proses program pemerintah dikatakan
berhasil jika pelaksanaannya sesuai dengan petunjuk dan
ketentuan pelaksanaan yang dibuat oleh pembuat
program yang mencakup antara lain cara pelaksanaan,
agen pelaksana, kelompok sasaran dan manfaat program.
Perspektif hasil program dapat dinilai berhasil manakala
program membawa dampak seperti yang diinginkan.
Suatu program mungkin saja berhasil dilihat dari sudut
proses, tetapi boleh jadi gagal ditinjau dari dampak yang
dihasilkan, atau sebaliknya.
M. darwin menyatakan proses implementasi
Pendayagunaan sumber; pelibatan orang/sekelompok
orang; intrepretasi, manajemen program, dan penyediaan
layananan dan manfaat pada publik

Lineberry menyatakan beberapa hal yang


harus diperhatikan dalam implementasi :
1. Pembentukan unit organisasi atau staf
pelaksana
2. penjabaran tujuan dalam berbagai aturan
pelaksana (Standard operating
procedures/SOP)
3. Koordinasi berbagai sumber dan
pengeluaran pada kelompok sasaran serta
pembagian tugas diantara badan
pelaksana
4. pengalokasian sumber-sumber untuk
mencapai tujuan

Lester dan Stewart menyatakan bahwa implementasi kebijakan


mempunyai makna pelaksanaan perundang-undangan di mana
berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik bekerja
bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya
untuk meraih tujuan-tujuan kebijakan atau program.
Implementasi merupakan fenomena yang kompleks yang
mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses, suatu keluaran
(output), maupun sebagai suatu hasil (outcomes).
Sebagai suatu proses, implementasi dapat dilihat sebagai
rangkaian keputusan dan tindakan yang ditujukan agar
keputusan-keputusan kebijakan bisa dijalankan.
Dalam konteks keluaran, implementasi melihat sejauh mana
tujuan-tujuan yang telah direncanakan mendapatkan dukungan
pada tingkat abstraksi yang tertinggi, hasil implementasi
mempunyai makna bahwa telah ada perubahan yang bisa
diukur setelah kebijakan atau program diluncurkan.
Implementasi juga melibatkan sejumlah aktor, organisasi, dan
teknik-teknik pengendalian

Prinsipnya.... aktivitas implementasi


meliputi :
1. Siapa pelaksananya?
2. Berapa besar dana dan darimana
diperoleh?
3. Siapa sasarannya?
4. Bagaimana manajemennya?
5. Bagaimana kinerja dan
keberhasilannya diukur?

Model-model Implementasi:
Pendekatan Top-Down & Pendekatan Bottom-Up

Pendekatan TOP-DOWN
Pendekatan Top-Down (model rasional) digunakan untuk
mengidentifikasi faktorfaktor yang membuat implementasi
sukses.
Berusaha menjelaskan bagaimana proses suatu kebijakan
diimplementasikan untuk dapat mencapai sasaran-saran
kebijakan yang telah ditetapkan.
Cara pendekatan yang demikian ini sering disebut sebagai
pendekatan command and controll, dimana implementasi
dipahami sebagai proses administrasi untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Pencapaian tujuan kebijakan tersebut sangat dipengaruhi
oleh kejelasan perintah atasan kepada bawahan dan
bagaimana cara atasan mengawasi para bawahan tersebut.
Muncul dengan rekomendasi tetang bagaimana cara terbaik
untuk dapat mencapai berbagai sasaran kebijakan yang telah
ditetapkan tersebut dalam model-model yang mereka buat

Pendekatan BOTTOM-UP
Pendekatan ini menyediakan suatu mekanisme untuk bergerak dari street
level bureaucrats (the bottom) sampai pada pembuatan keputusan tertinggi
(the top) disektor publik maupun privat.
Perlu memperhatikan birokrat pada level bawah (street level bureaucrat)
yang justru menduduki posisi kunci yang akan menentukan implementasi
suatu kebijakan.
Implementasi hanya akan berhasil apabila mereka yang terkena dampak
utama dari implementasi kebijakan ini dilibatkan sejak awal dalam proses
perencanaan kebijakan maupun implementasinya.
Untuk memahami implementasi kebijakan secara lebih detail para peneliti
harus memulainnya dari level yang paling bawah, yaitu dengan memahami
konstelasi politik aktor-aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan.
Pemahaman peneliti tentang konstelasi politik antar aktor inilah yang akan
mampu memberikan penjelasan mengapa implementasi suatu
implementasi kebijakan berhasil diimplementasikan di suatu lokasi
sementara gagal di tempat lain.
Pendekatan ini disebut juga descriptive approach karena kecenderungannya
untuk mendeskripsikan berbagai masalah implementasi suatu kebijakan
tanpa berpretensi untuk membuat preskripsi cara mengatasi masalah
tersebut.

Model-model Top-Down
Mazmanian dan Sabatier menyatakan bahwa substansi
proses implementasi dapat dijabarkan melalui jawaban
terhadap pertanyaan:
1. sampai sejauhmana tindakan-tindakan pejabat
pelaksana konsisten dengan keputusan kebijakan
tersebut?;
2. sejauh mana tujuan kebijakan tercapai?;
3. faktor-faktor apa yang secara prinsipil
mempengaruhi output dan dampak kebijakan?; dan
4. bagaimana kebijakan tersebut diformulasikan
kembali sesuai pengalaman lapangan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarah pada inti
sejauh mana tindakan para pelaksana sesuai dengan
prosedur dan tujuan kebijakan yang telah digariskan para
pembuat kebijakan pada level atas.
Fokus tersebut membawa konsekuensi perhatian
terhadap aspek organisasi atau birokrasi sebagai ukuran
efisiensi dan efektivitas pelaksanaan kebijakan.

Model Proses Implementasi Van Meter & Van Horn

Mencoba untuk menghubungkan antara isu kebijakan dengan implementasi dan suatu
model konseptual yang mempertalikan kebijakan dengan prestasi kerja (performance)
Model ini tidak dimaksudkan untuk mengukur dan menjelaskan hasil akhir dari
kebijakan pemerintah, tetapi untuk mengukur dan menjelaskan apa yang dinamakan
pencapaian program atau tujuan dari kebijakan itu sendiri (Kinerja Kebijakan)

Standard (ukuran dasar) dan tujuan kebijakan. Ini berkaitan dg sejauhmana


standard direalisasikan, sebab : sering telalu luas dan kabur, shg susah diukur

Sumber- sumber Kebijakan sumber daya manusia dengan kompetensi dan


kapabilitasnya, sumber daya finansial, serta fasilitas pendukung yang dapat
menunjang keberhasilan implementasi

Karakteristik badan pelaksana karakteristik, norma dan pola hub yang ada.
Dalam hal ini yg harus dicermati adalah : kompetensi dan jumlah staff, Rentang
kendali (hierarki), dukungan politik yg dimiliki, kekuatan organisasi, derajad
keterbukaan dan kebebasan komunikasi, keterkaitan dg pembuat kebijakan

Sikap pelaksana, pesepsi pelaksana atas masalah, standard dan tujuan yang
mungkin mempengaruhi kemampuan dan keinginan mereka untuk melaksanakan
kebijakan, yaitu kognisi (komprehensi, pemahaman) tentang kebijakan, macam
tanggapan terhadap kebijakan (penerimaan, netralitas, penolakan)

Komunikasi antar organisasi & keg pelaksanaan, khususnya


mengkomunikasikan standard aturan, dan dapat dipahami sebagai hubungan
koordinasi antar unit dalam satu organisasi pelaksana maupun antar lembaga yang
berada dalam lingkup pelaksana kebijakan

Kondisi sosial ekonomi dan politik, dianggap sebagai pengaruh dari


lingkungan eksternal terhadap karakter-karakter agen-agen pihak pelaksana

Model Kerangka Kerja Implementasi Kebij. Oleh


Mazmanian & Zabatier
Pelaksanaan atau implementasi kebijakan publik yang dilakukan
dalam konteks manajemen adalah berada di dalam kerangka
organizing-leading-controling yang dapat diartikan bahwa ketika
kebijakan sudah dirumuskan, maka tugas selanjutnya adalah
mengorganisasikan, melaksanakan kepemimpinan untuk
memimpin pelaksanaan dan implementasinya, serta melakukan
pengendalian pelaksanaan atau implementasi kebijakan tersebut
variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan
formal pada keseluruhan proses implementasi:
1. Variabel independent, yaitu mudah tidaknya masalah
dikendalikan yang berkenaan dengan indikator masalah teori
dan teknis pelaksanaan keragaman objek dan perubahan
seperti apa yang dikehendaki.
2. Variabel intervening, yaitu variabel kemampuan kebijakan
untuk menstruktur proses implementasi dengan indikator
kejelasan dan konsistensi tujuan, keterpaduan hirarkis di
antara lembaga pelaksana dan perekrutan pejabat
pelaksanaan dan keterbukaan kepada pihak luar.
3. Variabel dependent, yaitu pemahaman dari lembaga/badan
pelaksana dalam bentuk kebijakan pelaksanaan, kepatuhan
objek, hasil nyata, penerimaan atas hasil nyata dan
kebijakan yang bersifat mendasar.

Untuk mengimplementasikan kebijakan secara optimal ada enam


syarat yaitu :

Adanya tujuan yang ditetapkan secara legal atau sah, jelas dan
konsisten,

Adanya landasan teori sebab akibat yang tepat pada setiap


perumusan dan implementasi kebijakan yang menghubungkan
perubahan perilaku kelompok sasaran dengan tercapainya tujuan
akhir yang diinginkan,

Proses implementasi yang distruktur secara legal guna


mendorong adanya atau timbulnya kepatuhan dari para pejabat
pelaksana dan kelompok sasaran,

Adanya komitmen dan kecakapan (politik dan manajerial) yang


dimiliki oleh para aparat pelaksana untuk memanfaatkan sumber
sumber bagi tercapainya tujuan kebijakan,

Adanya dukungan politik yang aktif dari para pemegang


kekuasaan (eksekutif, dan legislatif) dan kelompok kepentingan,
dan

Prioritas pelaksana tujuan kebijakan pokok atau utama tidak


boleh terganggu oleh adanya kebijakan lain yang bertentangan,
atau adanya perubahan kondisi sosial ekonomi tidak boleh
mengganggu secara substansial terhadap pelaksanaan teknis dan
dukungan politik serta teori sebabakibat dari pelaksanaan
kebijakan atau program yang ada.

Model Implementasi George Edward III


Pendekatan ini dianggap lebih kondusif di dalam
memahami kompleksitas persoalan implementasi yang
seringkali terjadi di dalam kegiatan dan aktivitas
implementasi kebijakan publik
Pendekatan dalam studi implementasi kebijakan
dimulai dengan pertanyaan:
Apa saja prakondisi-prakondisi bagi keberhasilan
implementasi kebijakan?
Apa saja hambatan-hambatan utama bagi
keberhasilan implementasi kebijakan?
Jawabannya berdasarkan tampilan 4 variabel yaitu:

Komunikasi,

Dukungan Sumber Daya,


Disposisi (sikap) aparat pelaksana dan
Struktur Birokrasi

Komunikasi (communication): perintah untuk


mengimplementasikan kebijakan mesti ditransmisikan
(dikomunikasikan) kepada personalia yang tepat. Ada tiga hal
penting yang dibahas dalam proses komunikasi kebijakan, yakni
transmisi, konsistensi, dan kejelasan (clarity).
Sumberdaya (resources): masalah sumber daya harus memadai
terutama SDM dan yang penting meliputi staf dengan
ukuran/jumlah yang cukup dan tepat dengan keahlian yang
diperlukan; selain itu berhubungan dengan wewenang, dan
fasilitas;
Disposisi atau sikap (dispositions): perilaku, sikap dari para
implementor dan disposisi dari atasan (superior) mesti tahu apa
yang harus dikerjakan dan memiliki kapasitas untuk melakukan
hal itu. Kecenderungan dari para pelaksana mempunyai
konsekunsi-konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan
yang efektif.
Struktur birokrasi (bureaucratic structure): organisasi harus
terstruktur secara jelas. Prinsipnya berhubungan dengan
Prosedur kerja dan ukuran dasarnya (SOP), Hierarkhis struktur
organisasi, koordinasi, desentralisasi, kewenangan dsb

Model Implementasi sbg Proses Administrasi dan


Politik oleh Merile S. Grindle
Keberhasilan implementasi suatu kebijakan publik dapat diukur dari
proses pencapaian hasil akhir (outcomes), yaitu tercapai tidaknya
tujuan yang ingin diraih
Pengukuran ini dapat dilihat dari dua hal, yaitu:
a) Dilihat dari prosesnya, dengan mempertanyakan apakah
pelaksanaan kebijakan sesuai dengan yang ditentukan dengan
merujuk pada aksi kebijakannya;
b) Dilihat dari hasil yang dicapai oleh diimplementasikannya
kebijakan tersebut. Dimensi ini diukur dengan melihat dua
faktor, yaitu: dampak atau efeknya pada masyarakat secara
individu dan kelompok, dan tingkat perubahan yang terjadi
serta penerimaan kelompok sasaran terhadap perubahan yang
terjadi.
Keberhasilan suatu implementasi kebijakan publik amat ditentukan
oleh derajat dapat tidaknya kebijakan itu diterapkan atau
implementabilitas (implementability) dari kebijakan tersebut.
Implementabilitas ini dapat dilihat dari aspek isi kebijakan (content
of policy) dan aspek konteks implementasi kebijakan (context of
policy implementation)

Isi kebijakan (content of policy) meliputi:


1. kepentingan yang terpengaruh oleh
kebijakan ,
2. jenis manfaat yang akan dihasilkan,
3. derajat perubahan yang diinginkan,
4. kedudukan pembuat kebijakan ,
5. siapa pelaksana kebijakan; dan
6. sumber daya yang dikerahkan atau yang
dilibatkan
Konteks implementasi kebijakan (context of
policy implementation) meliputi:
1. kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor
yang terlibat,
2. karakteristik lembaga dan penguasa dan
3. kepatuhan dan daya tanggap

Faktor-faktor Pendukung Implementasi Kebij


Van Meter dan Van Horn : terdapat beberapa variabel penting
yang mempengaruhi implementasi kebijakan sebagai
penghubung antara kebijakan dan prestasi kerja, yaitu:
a) ukuran dan tujuan kebijakan,
b) sumber-sumber kebijakan,
c) karakteristik badan atau lembaga pelaksana,
d) komunikasi antarorganisasi terkait dan aktivitas
pelaksanaan,
e) kondisi ekonomi, sosial dan politik, dan
f) sikap para pelaksana kebijakan.
Edward III : ada 4 variabel penentu kebijakan publik yaitu
a) komunikasi,
b) sumber daya,
c) disposisi atau sikap, dan
d) struktur birokrasi .

Hogwood dan Gunn, agar implementasi kebijakan dapat dilaksanakan


dengan baik maka harus memperhatikan faktor-faktor berikut ini yaitu:
1) kondisi eksternal yang dihadapi organisasi dan instansi pelaksana
tidak akan menimbulkan gangguan dan kendala;
2) untuk melaksanakan kebijakan harus tersedia waktu dan sumbersumber yang memadai;
3) keterpaduan antar sumber daya yaitu manusia, dana dan fasilitasfasilitas pendukung lainnya;
4) kebijakan yang di implementasikan harus didasari hubungan
kausalitas yang erat;
5) hubungan kausalitas harus bersifat langsung dan hanya sedikit mata
rantai penghubungnya;
6) hubungan saling ketergantungan harus kecil;
7) pemahaman yang mendalam dan kesepakatan terhadap tujuan;
8) tugas-tugas harus terperinci dan ditempatkan pada urutan yang tepat;
9) komunikasi dan koordinasi yang sempurna dan
10)pihak-pihak yang memiliki wewenang dapat menuntut dan
memperoleh kepatuhan kewenangan.

Kegagalan Implementasi.
Hoogwood dan Gunn membagi pengertian kegagalan kebijakan (policy
failure) atas non implementation (tidak terimplementasikan) dan
unsuccessful implementation (implementasi yang tidak berhasil).
Tidak terimplementasikan suatu kebijakan tidak dilaksanakan sesuai
dengan rencana, mungkin karena pihakpihak yang terlibat didalam
pelaksanaannya tidak mau bekerja sama, atau mereka telah bekerja
secara tidak efisien, bekerja setengah hati atau karena mereka tidak
sepenuhnya menguasai permasalahan. Kegagalan ini lebih pada faktor
teknis pelaksanaan dan unsur pelaksana.
Implementasi yang tidak berhasil tidak mencapai hasil tertentu
manakala suatu kebijakan tertentu telah dilaksanakan sesuai dengan
rencana, namun mengingat kondisi eksternal ternyata tidak
menguntungkan (misalnya tibatiba terjadi peristiwa pergantian
kekuasaan, bencana alam dan sebagainya) kebijaksanaan tersebut
tidak berhasil dalam mewujudkan dampak atau hasil akhir yang
dikehendaki.
Kebijakan yang memiliki resiko untuk gagal itu disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain : pelaksanaannya jelek (bad execution),
kebijakannya sendiri jelek (bad policy) atau kebijakan itu memang
bernasib jelek (bad luck)

Hoogerwerf menyatakan terdapat beberapa faktor penyebab


kegagalan implementasi :
1) Isi kebijakan; implementasi kebijakan dapat gagal karena : (a)
tujuan atau isi kebijakan tidak cukup terperinci, saran dan
penentuan perioritas, program kebijakan terlalu umum atau sama
sekali tidak ada. (b) kurangnya ketetapan intern dan ekstern dari
kebijakan yang akan dilaksanakan, (c) kadang-kadang perundangundangan yang begitu banyak kelemahan, sehingga objek
kebijakan dapat mengelaknya, (d) terbatasnya sumber daya
(waktu, uang, dan tenaga manusia);
2) Informasi; kurangnya informasi dari para aktor terhadap objek
kebijakan atau struktur komunikasi yang kurang antara organisasi
pelaksana dengan objek kebijakan;
3) Dukungan; kurang kesediaan objek-objek kebijakan untuk
bekerjasama dengan pelaksana serta objek-objek kebijakan terikat
kegiatan tertentu dan kepatuhan mereka makin sedikit, bilamana
isi kebijakan bertentangan pendapat atau keputusan mereka;
4) Pembagian potensi, pembagian wewenang dan tanggung jawab
kurang disesuaikan dengan pembagian tugas seperti pembatasanpembatasan yang kurang jelas

Perlu diperhatikan..
Analisis terhadap implementasi kebijakan publik, dapat dilihat dari tiga sudut
pandang yakni : (1) pemrakarsa atau pembuat kebijakan, (2) pejabat
pejabat pelaksana di lapangan, (3) aktoraktor perorangan diluar badan
badan pemerintahan (target group / kelompok sasaran)
Pembuat kebijakan fokus analisis implementasi kebijakan akan
mencakup usahausaha yang dilakukan pejabat atasan atau lembaga di
tingkat pusat untuk mendapat kepatuhan dari lembaga / pejabat yang lebih
rendah dalam upaya mereka memberikan pelayanan atau menerapkan
kebijakan/ program untuk sampai ke kelompok sasaran. Atau fokus utama
analisis mplementasi biasanya berkenaan dengan masalah sejauh manakah
tujuantujuan atau sasaransasaran resmi kebijakan telah tercapai dan
alasanalasan yang menyebabkan tujuan kebijakan tidak tercapai.
Pelaksana program/kebijakan di lapangan kajian implementasi akan
terfokus pada tindakan atau perilaku instansi/pelaksana kebijakan di
lapangan dalam upayanya untuk menanggulangi masalah yang terjadi yang
dapat berpengaruh terhadap efektifitas pelaksanaan kebijakan.
Kelompok sasaran (target group), pemahaman yang mendalam terhadap
persepsi kelompok sasaran sangat penting artinya bagi policy makers dan
implementators, karena pemahaman semacam itu akan memungkinkan
mereka untuk mengantisipasi umpan balik yang akan dijadikan sebagai
dasar bagi penyusunan dan perbaikan setiap program kebijakan.

Ada
Pertanyaan..??
?

Anda mungkin juga menyukai