Anda di halaman 1dari 28

Case Science Session

EPISTAKSIS
Firda Syam M
1110313049
Harsya
Luthfi
1110313052
Firda Syam
MA
1110313049
M.
ZaldyLuthfi
RP A 1110313061
Harsya
1110313052
M. Zaldy RP
1110313061

Preseptor :
dr. Dolly Irfandy Sp. THT-KL

ANATOMI HIDUNG
Hidung berada pada 1/3 tengah horizontal wajah
dan pada 1/5 tengah vertikal wajah
Struktur hidung luar terdiri dari :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kulit
Tulang
Kartilago
Jar. Ikat
Otot
Saraf

TULANG HIDUNG
Prosesus nasalis os frontal
Os Nasalis
Sutura internasalis

Sutura naso-frontalis
Sutura frontomaxillaris

Sutura intermaxillaris

Prosesus frontalis os maksila

PERDARAHAN HIDUNG
A.etmoidalis anterior dan posterior
A.sfenopalatina
A. palatina mayor
A. labialis superior
pleksus Kiesselbach
Vena - vena hidung mempunyai nama yang
sama dan berjalan berdampingan dengan
arteri

PERDARAHAN HIDUNG

EPISTAKSIS
Definisi
keluarnya darah dari hidung yang merupakan
gejala atau manifestasi penyakit lain,
penyebabnya bisa lokal atau sistemik

EPIDEMIOLOGI
Jarang terjadi pada bayi
Epistaksis anterior lebih sering pada anak-anak &
dewasa muda
Epistaksis posterior sering pada usia yang lebih
tua, terutama dengan penyakit hipertensi dan
arteriosklerosis

ETIOLOGI

KLASIFIKASI

Epistaksi
s
Anterior
Epistaksi
s
Posterior

berasal dari Pleksus


Kiesselbach

berasal dari arteri


sfenopalatina (area Woodruff,
dibawah bagian posterior
konka nasalis inferior) atau
arteri etmoid posterior

DIAGNOSIS
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

Anamnesis

Awal terjadinya perdarahan


Riwayat perdarahan sebelumnya,
Aliran darah
Lama perdarahan dan frekuensinya,
Kecendrungan perdarahan,
Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga,
Riwayat Penyakit degeneratif
Riwayat trauma hidung yang belum lama,
Obat- obatan, misalnya aspirin, fenilbutazon
(butazolidin)

PEMERIKSAAN FISIS.

KU,
tanda
vital

Rinoskopi
anterior

Rinoskopi
Posterior

Pemeriksaan hidung untuk menentukan lokasi


dan penyebab perdarahan.
trauma nasal adanya septal hematoma yang
tampak berupa masa hitam kebiruan
Terkadang dapat dilihat hemangioma mukosa
atau telangiektasis.

Jika tidak dijumpai sumber perdarahan namun


ditemukan darah yang menggalir di tenggorokan.
Kemungkinan asal perdarahan dari posterior.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap
Skrining koagulopati PT, APTT, trombosit, dan
waktu perdarahan.
Radiologi
CT-Scan curiga neoplasma

PENATALAKSANAAN

Prinsip utama
Menghentikan perdarahan
Mencegah komplikasi
Mencegah berulangnya epistaksis

Perbaiki keadaan umum pasien


Pada anak tegakkan kepala dan tekan
cuping hidung
Bila perdarahan berhenti, bersihan sisa
perdarahan
Bila tidak berhenti, masukkan tampon dgn
lidokain, pantokain atau adrenalin

Pada epistaksis anterior, jika sumber dapat


terlihat jelas, dilakukan kaustik dengan lidi
kapas yg dibasahi AgNO3
Bila blm berhenti diperlukan tampon anterior
dgn diberi vaselin dicampur betadin atau zat
antibiotik.
Untuk perdarahan posterior, dilakukan
pemasangan tampon bellocq.

TAMPON ANTERIOR

TAMPON BELLOCQ

RENCANA TINDAK LANJUT

Pasien yg sudah ditampon, perlu tindak lanjut:


Identifikasi penyebab
Kontrol tekanan darah pd penderita hipertensi
Hindari buang ingus terlalu keras
Hindari memasukkan jari ke hidung
Membatasi penggunaan obat2an yg memicu
perdarahan

KOMPLIKASI

sinusitis
otitis media
laserasi palatum mole
anemia
syok
Infeksi
Aspirasi
Hemotympanum
Bloody tears

RUJUKAN
Kecurigaan Tumor
Epistaksis
berulang

DAFTAR PUSTAKA
Soepardi E A, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti R D. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Ed 7. Jakarta: Badan Penerbit FK UI. 2012. Hal 131-135.
Adam GL, Boies LR, Higler PA. Boies buku ajar penyakit THT. Alih bahasa: Caroline W. Edisi
VI. Jakarta. EGC Penerbit buku kedokteran, 1997: 174-88; 224 37.
Probst, R. dkk. Basic Othorhinolaryngology. Thieme. New York. 2006 p.1-14.
Probst, R. dkk. Basic Othorhinolaryngology. Thieme. New York. p.32-34. 2006
Nguyen A Quoc.epistaxis-overview. Available from
http://www.emedicine.medscape.com/artickle. diakses pada 5 Oktober 2015.
Pope LER, Hobbs CGL. Epistaxis: An Update on Current Management. Postgrad Med J 2005;
81: 309-14.
Adams, George L, dkk. BOIES Buku
Ajar Penyakit THT edisi 6. EGC. Jakarta. 1997.
Buku Acuan: Modul Hidung Epistaksis.Ed 1.Kolegium ilmu kesehatan THT-KL.2008.
Ballengers Othorhinolaryngology Head and Neck Surgery. BC Decker. Illinois. 2003.p 756757.
Thaller, Seth, R, et al. Diagram Diagnostik Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. EGC.
Jakarta.1990. p, 89-93.
Lubis Bidasari. Tatalaksana Epistaksis Berulang pada Anak. Dalam Sari Pediatri. Vol 9.
2007, hal 75-79.

TERIMA KASIH