Anda di halaman 1dari 23

Oleh:

Jennifer Nathalia
10700222
Fauziah Rachmawati 10700365
Pembimbing
:
Dr.H.Husain Habibie, Sp.OG (K)

Bab I
Pendahuluan
A.

Latar Belakang
Sebanyak dua pertiga dari wanita yang
dirawat dirumah sakit akibat perdarahan
disfungsional berumur diatas 40 tahun
dan 3% dibawah usia 20 tahun.
Perdarahan ovulator merupakan kurang
lebih
10%
pada
perdarahan
disfungsional dengan siklus pendek
atau panjang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara untuk mendiagnosa
pasien dengan menometroragia?
2. Bagaiman penatalaksanaan
penanganan pada pasien
menometroragia?

Bab II
Tinjauan Pustaka
A.

Definisi
Menometroragia
adalah
perdarahan
uterus yang tidak sesuai waktu, tapi dalam
jumlah yang banyak. (Manuaba, 2001)
Menopause yaitu masa berhentinya
menstruasi terakhir atau saat terjadinya
haid terakhir. Diagnosis ini dibuat setelah
terdapatnya
amenorea
sekurangkurangnya satu tahun. (Prawirohardjo,
2007)

B. Penyebab
organik : Serviks uteri, Korpus uteri, Tuba
fallopi, Ovarium
fungsional : Perdarahan disfungsional dapat
terjadi pada setiap umur antara menarche
dan menopause.

C. Patologi
persistensi folikel yang tidak pecah ovulasi dan
pembentukan
korpus
luteumhiperplasia
endometrium
D. Gambaran Klinik
Ovulatoar : Perdarahan ini kurang lebih 10% dari
perdarahan disfungsional dengan siklus pendek
(polimenorea) atau panjang (oligomenorea)
Anovulatoar : Perdarahan disfungsional dapat
dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah,
penyakit umum yang menahun, tumor-tumor
ovarium dan sebagainya

E. Diagnosis
Perlu ditanyakan bagaimana mulainya
perdarahan, apakah didahului oleh siklus
yang pendek atau oligomenorea/amenorea,
sifat perdarahan (banyak atau sedikit-sedikit,
sakit atau tidak), lama perdarahan, dan
sebagainya.

F. Penatalaksanaan
Perdarahan untuk sementara waktu dapat
dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat
diberikan terapi hormonal:
Estrogen dalam dosis tinggi
Progesteron
Androgen
kerokan
Sebagai tindakan

Bab III
Analisis Data
A. Identitas
Nama : Ny. Nikmah
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 55 tahun
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SD
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Masuk RS : 25 November 2014

B. Anamnesis
Keluhan Utama
pasien datang dengan keluhan tiba-tiba
keluar darah banyak
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke VK RSUD dr.R.Koesma
dari Poli kandungan dengan keluhan tibatiba keluar darah banyak. Perdahan
disertai dengan nyeri perut. Perdarahan
berlangsung selama 2 hari. Darah yang
keluar sangat banyak.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku tidak pernah mempunyai
penyakit kronis sebelumnya.
Riwayat Menstruasi
Menarche
: 15 tahun
Siklus
: 30 hari
Lamanya
: 3 hari
Disminorrea : tidak ada nyeri saat
menstruasi
Menopaus
: 6 bulan

C. Status Generalis
Keadaan Umum
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
a/i/c/d : +/-/-/Tanda Vital
Tensi
: 130/80 mmHg
Nadi
: 80 kali/menit
Pernafasan
: 28 kali/menit
Suhu
: 36C

Pemeriksaan Ginekologi
Vaginal Touche : tidak didapatkan
pembukaan pada portio, portio licin
Pemeriksaan Laboratorium
Didapatkan Hemoglobin darah 8,6 g/dl

Diagnosis
Menometroragia
Penatalaksanaan
Prebaikan Keadaan umum
Tranfusi WB 2 x 1 hari sampai Hb 10
g/dl
Persiapan kuret jika Hb sudah 10 g/dl

Follow Up
Tanggal 25 November 2014
pasien datang dari Poli kandungan ke ruang Flamboyan. Pasien
datang dengan perdarahan yang sudah berhenti.
Dilakukan pemeriksaan Darah Lengkap karena pasien anemis.
Dx : pasien usia 55 tahun dengan menometrorhagia.
S : Ibu mengatakan perdarahan banyak selama 2 hari, perdarahan
sudah berhenti
sekarang
O : KU baik
TD :130/80
RR :16 kali/ menit
Nadi : 80 kali/menit
Konjungtiva anemis
A : pasien usia 55 tahun dengan menometrorhagia.
P (11.00):
Dilakukan pemasangan infus RL 20 tpm.
Perdarahan sudah berhenti
Dilakukan tirah baring pada pasien
dilakukan cek Darah lengkap untuk mengetahui Hemoglobin darah
jika hasil lab Hemoglobin <10 g/dl, lakukan tranfusi WB 2 kolf perhari

(15.00): - Pembacaan Hasil lab hemoglobin darah 8,6 g/dl

- Pengambilan darah untuk cek golongan darah

- tranfusi 2 kolf WB dalam satu hari

Tanggal 26 November 2014


S
:Tidak ada keluhan apa-apa
O
: KU baik

TD :130/80

RR :16 kali/ menit

Nadi : 80 kali/menit

A
: pasien usia 55 tahun dengan menometrorhagia.
P
:
Jam 10.00
cek hemoglobindarah pasca tranfusi
didapatkan hemoglobin sudah 11,0 g/dl
dipersiapkan untuk dilakukan kerokan PA
jam 13.00
pasien sudah dilakukan kerokan PA
pasien tidak ada keluhan
keadaan umum baik
KRS

Hasil Pemeriksaan PA
Cervix Biopsi :
Tidak tampak tanda-tanda keganasan

Bab IV
Pembahasan

Dari anamnesis
pasien datang dengan keluhan tiba-tiba keluar darah
banyak
Perdarahan disertai dengan nyeri perut
Perdarahan berlangsung selama 2 hari
Pada pemeriksaan fisik
a/i/c/d
: +/-/-/Tanda Vital
Tensi
: 130/80 mmHg
Nadi
: 80 kali/menit
Pernafasan
: 28 kali/menit
Suhu
: 36C

Pada pemeriksaan penunjang


Hemoglobin
: 8,6 g/dl
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb
8,6 g/dl yang tandanya adalah pasien
mengalami anemis karena mengelurkan darah
yang banyak.
Pada kepustakaan untuk mendapatkan
diagnosis menometroragia perlu ditanyakan
bagaimana mulainya perdarahan, apakah
didahului oleh siklus yang pendek atau oleh
oligomenorea/amenorea, sifat perdarahan
(banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak),
lama perdarahan, dan sebagainya.

Pada kasus ini, dilakukan :


Prebaikan Keadaan umum
Tranfusi WB 2 x 1 hari sampai Hb 10 g/dl
Persiapan kuret jika Hb sudah 10 g/dl
Sesuai dengan kepustakaan, Kadang-kadang
pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat
banyak. Dalam hal ini penderita harus istirahat baring dan
diberi tranfusi darah. Perdarahan untuk sementara waktu
dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat
diberikan terapi hormonal :
Estrogen dalam dosis tinggi, supaya kadarnya dalam
darah meningkat dan perdarahan berhenti.
Progesteron. Pemberian progesteron untuk mengimbangi
pengaruh estrogen terhadap endometrium. Karena
sebagai pertimbangan sebagian besar perdarahan
fungsional bersifat anovulatoar.

Androgen memiliki efek baik terhadap


perdarahan disebabkan oleh hiperplasia
endometrium. Terapi ini tidak dapat diberikan
terlalu lama mengingat bahaya virilisasi.
Pada wanita dalam masa pubertas, terapi yang
paling baik adalah dilatasi dan kerokan.
Tindakan ini baik untuk terapi maupun untuk
diagnosis.
Sebagai tindakan terakhir pada wanita dengan
perdarahan disfungsional terus-menerus
(walaupun sudah dilakukan kerokan beberapa
kali, dan yang sudah mempunyai anak cukup)
ialah histerektomi

Bab V
Kesimpulan
Untuk mendapatkan diagnosis pada
menometroragia perlu ditanyakan bagaimana
mulainya perdarahan, apakah didahului oleh
siklus yang pendek atau
oligomenorea/amenorea, sifat perdarahan
(banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak),
lama perdarahan, dan sebagainya.
Pada wanita dalam masa pubertas umumnya
tidak perlu dilakukan kerokan guna
pembuatan diagnosis. Pada wanita berumur
antara 20 sampai 40 tahun kemungkinan
besar ialah kehamilan terganggu, polip,
mioma submukosum, dan sebagainya.

Penatalaksanaan pada pasien dengan


menometroragia adalah dengan
memperbaiki keadaan umunya, diberikan
terapi horminal, dan dilakukan kerokan
untuk mengetahui penyebab dari
perdarahannya.
Pada kasus ini, dalam menentukan
diagnosis dan pemberian penatalaksanaan
sudah sesuai dengan kepustakaan. Namun
pada pasien ini tidak diberikan terapi
hormonal.