Anda di halaman 1dari 35

ASMA PADA

KEHAMILAN
dr. Rahmadi Iwan Guntoro, Sp.P.

ASMA PADA KEHAMILAN

Asma peradangan (inflamasi) kronik saluran


napas (saluran tracheobronchial) yang ditandai
peningkatan respons saluran napas oleh
berbagai stimulus (alergen) yang menyebabkan
obstruksi saluran napas bersifat reversible
spontan maupun dengan pengobatan

Gejala asma pada ibu hamil yang telah


menderita asma sebelum hamil :
1/3 mengalami perburukan
1/3 mengalami perbaikan
1/3 tidak mengalami perubahan

ME
MP

ER
BU
RU
K

ME
MP
ER

BA
I

KI

FAKTOR YANG MEMPERBAIKI DAN MEMPERBURUK


ASMA SELAMA HAMIL

Meningkatnya kadar kortisol


Meningkatnya kadar progesteron
Meningkatnya Camp
Menurunnya cell mediated immunity
Antigen janin
Kongesti nasal
Menurunnya volume residual fungsional
Infeksi virus/bakteri
Meningkatnya gastroesofageal reflux
Stress

Terapi, penting untuk mengontrol asma dan


melindungi kesehatan ibu-janin

Asma yang tidak terkontrol menyebabkan


komplikasi serius pada ibu dan janin

Komplikasi pada ibu :


preeklamsia, hipertensi gestasi,
hiperemesis gravidarum, perdarahan pervaginam,
dan komplikasi kelahiran lain

Komplikasi pada janin :


meningkatnya risiko kematian perinatal, retardasi
pertumbuhan intrauterin,
kelahiran prematur,BBLR dan hipoksia neonatal

FISIOLOGI PERNAPASAN
SELAMA KEHAMILAN

Menit ventilasi meningkat selama hamil, karena


progesteron yang bersirkulasi meningkat

Peningkatan menit ventilasi respiratorik


alkalosis selama kehamilan

Analisis gas darah menunjukkan Ph tinggi dan


PCO2 rendah

Hiperventilasi terjadi 60-75% pada perempuan


hamil, terutama trimester I dan II

Faal paru saat kehamilan berubah

Volume tidal meningkat, volume


residu dan kapasiti residu fungsional (FRC)
menurun

Airway mechanics tidak berubah secara


bermakna selama kehamilan

Volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1),


rasio VEP1/KVP (kapasiti vital paksa) atau MMEF
(maximum midexpiratory flow rates) tidak
berubah selama hamil

MANAJEMEN ASMA
YANG EFEKTIF

1.PENGUKURAN OBJEKTIF UNTUK


PENILAIAN DAN MONITORING
Fungsi paru ibu
Spirometer penderita asma
pada kehamilan secara berkala
Portable peak flow meter sederhana
kecepatan arus puncak ekspirasi (APE)
Prediksi APE 380-550 l/menit, tetap, selama hamil
Khusus penderita asma sedang s/d berat, dilakukan
setiap hari di rumah pagi-sore

Monitoring janin :

12-20 minggu: USG diindikasikan saat


trimester 2-3 terutama pada penderita asma
sedang dan berat
Monitoring denyut jantung janin
Catatan harian ibu terhadap aktiviti janin atau
jumlah tendangan
Pengawasan ketat janin pada antepartum
diindikasikan saat eksaserbasi asma yang tidak
berespons baik dgn terapi, atau prolonge
hipoksemia pada ibu
Pemantauan ini dilakukan terus-menerus

2. MENGHINDARI
DAN MENGONTROL PENCETUS
ASMA

Alergen seperti bulu/rambut binatang, air seni


dan air liurnya, debu rumah, kecoa, tepung sari
dan lainnya

Bahan yang bersifat iritasi seperti asap rokok,


bau menusuk, polusi udara, zat pengawet pada
makanan seperti sulfites, obat-obatan seperti
aspirin dan golongan -blockers

3. MANAJEMEN
RENCANA PENGOBATAN
DAN MENGATASI SERANGAN

Tujuan terapi asma pada kehamilan :

mengontrol gejala, termasuk gejala malam hari

mempertahankan fungsi paru mendekati normal

mempertahankan aktiviti normal

mencegah eksaserbasi akut

mencegah efek samping obat

melahirkan bayi yang sehat

asma

3.1. MANAJEMEN ASMA KRONIK


Obat obat anti asma

2 golongan obat asma :


1.
pengontrol
2.
pelega

. Controler

MDI dapat diberikan setiap hari untuk


jangka waktu lama

Obat pelega napas (reliever), bekerja cepat


menghilangkan bronkokonstriksi : inhalasi 2
agonis , kortikosteroid sistemik utk life saving,
inhalasi antikolinergik, gol. xantin dan agonis
-2 oral

Obat pengontrol asma diberikan rutin untuk


beberapa minggu/bulan

Jika sudah terkontrol,dosis obat diturunkan


bertahap dan hati-hati karena tujuan terapi
adalah menggunakan dosis terendah yang masih
efektif untuk dosis pemeliharaan

Kortikosteroid

Obat anti-inflamasi paling efektif mengobati


asma
1. oral (prednison, dexametason,
metilprednisolon)
2. parenteral (metilprednison, dexametason)
3. inhalasi (beclometason, budesonide,
fluticason)

. Kortikosteroid

inhalasi merupakan obat


terpilih untuk mengontrol asma

Terapi inhalasi

Keuntungan terapi inhalasi :


dosis lebih kecil, mula kerja lebih cepat,
langsung bekerja di target organ,
absorpsi sistemik minimal
efek samping minim, cocok u/ wanita hamil

Terapi inhalasi berbentuk :


1. inhaler sederhana (MDI, turbuhaler,
easyhaler)
2. nebuliser

. Obat

yang diberikan : steroid, agonis -2,


antiinflamasi nonsteroid, antikolinergik atau
kombinasi beberapa obat diatas

Agonis beta-2

Bronkodilator yang kuat : salbutamol,


procaterol, fenoterol, formoterol, salmeterol
dan terbutalin
Sebagai terapi awal eksaserbasi akut karena
cepat menghilangkan gejala dan mencegah
bronkospasme
ESO : takikardi, hipoglikemia dan tremor yang
reversibel
Pada kasus abortus imninen obat agonis -2
sudah digunakan secara intravena atau infus
untuk mencegah kontraksi uterus.
Pemberian dg inhalasi tidak berpengaruh pada
uterus

Agonis beta nonselektif

Pada eksaserbasi asma akut yang berat,


epinefrin subkutan dapat dipertimbangkan

Epinefrin dan isoproterenol termasuk agonis


beta yang nonselektif sehingga bisa
mengaktivasi reseptor -1 dan -2

Epinefrin dapat menyebabkan penurunan


sementara perfusi uterus yang menghasilkan
stres janin, tapi karena waktu paruhnya singkat
tidak ada laporan mengenai efek jangka
panjang akibat penggunaan epinefrin ini

Teofilin (gol. Xantin)

Dapat diberi secara oral/intravena

Sudah digunakan > 50 tahun untuk terapi asma

Mencegah pelepasan histamin oleh sel mast,


meningkatkan bersihan mukosilier, menurunkan
kelelahan otot pernapasan dan memperkuat
otot diafragma

Efek samping yang mengancam jiwa seperti


kejang dan aritmia biasanya disertai toksisiti
berat (konsentrasi serum > 30g/ml)

Penggunaan dengan dosis sesuai (<20 g/ml)


tidak menyebabkan toksisiti dan kelainan janin

Jika dibandingkan dengan agonis b-2,


mempunyai efek bronkodilator lebih lemah tapi
mempunyai waktu kerja lama (10 12 jam)
mengontrol serangan asma malam hari

Antikolinergik

Inhalasi atropin atau ipratropium bromide


menyebabkan bronkodilatasi dengan
menurunkan tonus vagal intrinsik

Obat ini juga memblokir refleks


bronkokonstriksi karena inhalasi iritan dan
dipakai sebagai terapi tambahan pada
eksaserbasi akut

Penggunaan selama kehamilan diyakini aman

PENANGANAN ASMA INTERMITEN DALAM


KEHAMILAN

Inhalasi -2 agonis tunggal biasanya


cukup untuk menghilangkan gejala

Tidak diperlukan obat pengontrol

PENANGANAN ASMA PERSISTEN


RINGAN DALAM KEHAMILAN

Sangat dianjurkan, inhalasi antiinflamasi setiap


hari untuk menekan/mencegah inflamasi dan
hiperresponsif saluran napas

Pilihan : inhalasi kortikosteroid 200-500 mcg

Inhalasi agonis -2 harus selalu tersedia untuk


mengatasi gejala asma dan eksaserbasi akut

PENANGANAN ASMA PERSISTEN


SEDANG DALAM KEHAMILAN

Obat pengontrol dianjurkan :


1.
inhalasi kortikosteroid 800-2000 mcg
2.
bronkodilator aksi lama terutama untuk
mengontrol asma malam, berupa agonis
-2 aksi lama inhalasi atau oral atau
teofilin lepas lambat

. Sebagai

pelega inhalasi agonis -2 tetap


digunakan bila perlu

PENANGANAN ASMA PERSISTEN


BERAT DALAM KEHAMILAN

Penderita asma berat harus dievaluasi ahli paru


Penderita perlu pengobatan multipel dan sering
diperlukan dosis maksimal
Inhalasi kortikosteroid dosis tinggi (>800-2000
mcg) dianjurkan sebagai antiinflamasi inhalasi
utama. Biasanya dikombinasi agonis -2 aksi
lama inhalasi, oral, atau teofilin lepas lambat
Bila sangat diperlukan, diberi kortikosteroid
oral jangka panjang
Sebagai pelega inhalasi agonis -2 tetap
digunakan

SERANGAN ASMA
YANG MENGANCAM JIWA (ASMA FATAL)

Perlu perawatan intensif di ICU dan ventilasi


mekanik jika perlu

Keadaan yang memungkinkan hal ini terjadi :


Riwayat pemakaian ventilasi mekanik sebelumnya
Berulang kali dirawat karena asma yang berat
. Perlu terapi oral kortikosteroid jangka lama
Variasi diurnal yang besar dengan pemeriksaan
peak flow meter
Tidak patuh dengan nasehat dokter
Perawatan jangka panjang yang tidak adekuat

3.2. MANAJEMEN EKSASERBASI

Tindakan atau intervensi cepat sangat penting


dalam menangani eksaserbasi akut

Setiap pasien sebaiknya membuat catatan


pribadi harian sehingga mengenali dan
mengetahui dengan cepat jika asma
memburuk

Di catatan juga tercantum panduan


cara meningkatkan dosis terapi, berespons
pada turunnya APE atau meningkatnya gejala
serta bagaimana memperoleh pertolongan

Pasien harus secepatnya mencari pertolongan di


UGD atau RS jika:

Terapi tidak menunjukkan perbaikan berarti


Perbaikan tidak bertahan lama, kembali sesak
Terjadi perburukan
Terjadi eksaserbasi asma yang berat
Frekuensi gerakan janin atau jumlah
tendangan diperut berkurang

Pada saat eksaserbasi asma, kontraksi uterus


biasa terjadi dan berisiko menyebabkan
kelahiran prematur

Terapi untuk mengatasi eksaserbasi yang baik


biasanya dapat meredakan kontraksi

Jika diperlukan terapi tokolisis, obat harus


dipilih dan penggunaan lebih dari satu jenis 2
agonis harus dihindari

Jika sebelumnya pasien sudah menggunakan 2


agonis sistemik disarankan menggunakan
magnesium sulfat untuk mengatasi kontraksi
uterus

3.3. MANAJEMEN ASMA


PADA SAAT PERSALINAN

Pasien rutin menggunakan obat asma


harus tetap melanjutkan
saat persalinan dan sesudahnya

APE pasien harus dicatat saat masuk ruang


persalinan dan jika perlu diulang tiap 12 jam

Untuk mengatasi rasa nyeri saat persalinan,


analgetik narkotik yang dapat melepas histamin
harus dihindari, fentanyl lebih disukai dan
sering dipakai

Analgetik epidural lumbal dapat menurunkan


konsumsi oksigen dan ventilasi semenit selama
persalinan

Jika perlu anestesi umum, penggunaan obat


preanestesi seperti atropin dapat
menyebabkan efek bronkodilatasi

Untuk induksi anestesi, ketamin merupakan


obat pilihan

Anestesi dengan halogen konsentrasi rendah


dapat menyebabkan bronkodilatasi pada pasien
asma

4. EDUKASI PASIEN ASMA


UNTUK BERSAMA-SAMA MENGATASI ASMA

Komunikasi yang baik


Perencanaan terapi antara pasien dan dokter
Dukungan keluarga dalam meningkatkan
pencegahan dan menghindari pencetus
Penanganan gejala yang timbul
sangat membantu untuk keamanan dan
kesejahteraan ibu dan janin

ASMA DINYATAKAN TERKONTROL,


JIKA IBU:

Aktif tanpa terganggu gejala asma


Eksaserbasi minimal (jarang)
Tidak ada kunjungan ke UGD
Kebutuhan obat agonis -2 minimal (idealnya
tidak diperlukan)
Tidur nyenyak malam hari, tidak terbangun
karena keluhan yang berhubungan dengan asma
Variasi harian APE kurang dari 20%
Dapat mempertahankan nilai APE terbaik yang
merupakan indikator objektif terpenting

Anda mungkin juga menyukai