Anda di halaman 1dari 180

HISTOLOGI KULIT

Histologi
Kulit

STRATA EPIDERMAL
STRATUM

PENJELASAN

BASALIS

epitel selapis torak, ada melanin dan sel merkel

SPINOSUM

epitel kubis poligonal, permukaan sel terdapat


prickle cell ada melanin dan langerhand

GRANULOS
UM

berlapis 2-5 lapis sel, gepeng, poligonal, sitoplasma


ada keratin lunak

LUSIDUM

bentuk gepeng. Translusen, tak ada inti, sitoplasma


ada eleidin

KORNEUM

bentuk pipih & bertanduk, ada keratin lunak,


bagian tepi yang mengelupas Stratum Disjunctu

Lapisan Epidermis
Ketebalan < 1 mm
Sel utama
berdiferensiasi :
keratinosit keratin
(protein fibrosa)
Proses migrasi sel
epiermis : 28 hari
Melanosit
melanosoma
melanin

Str. korneum Str.


(lap tanduk) lucidum

Str.
granulosum
(lap
keratohialin)

Str. spinosum /
malphigi / prickle cell
layer (lap akanta)

Str basale

Beberapa
lapis sel
gepeng mati

Sel
gepeng

2/3 lapis sel


gepeng

Beberapa lapis sel


poligonal

Sel kubus / kolumnar


tersusun vertikal pada
perbatasan dermo
epidermal berbaris seperti
pagar (palisade)

berinti

Protein /
eleidin

berinti +
sitoplasma
berbutir kasar
(keratohialin)

Bermitosis & fungsi


reproduktif
Sel berbentuk kolumnar :
protoplasma basofilik, inti
lonjong, besar
Sel pembentuk melanin
(melanosit/ clear cell) :
bewarna muda,
sitoplasma basofilik & inti
gelap, butir pigmen
(melanosomes)

inti
Protoplasma
: Keratin / zat
tanduk

Banyak di : Telapak tangan


dan kaki

Jernih (glikogen)
Di antara sel sel nya
terdapat :
jembatan antar sel
(intercellular bridges) :
protoplasma &
tonofibril / keratin
Perlekatan antar
jembatan penebalan
bulat kecil nodulus
Bizzero
Sel langerhans

1. Stratum korneum / Lapisan tanduk


Terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti
Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk)

2. Stratum Lusidum
Lapisan sel gepeng tanpa inti
protoplasma berubah menjadi protein (eleidin)
Biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan.
Tidak tampak pada kulit tipis

3. Stratum granulosum / Lapisan Granular


Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng
Sitoplasma berbutir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti
diantaranya
Mukosa tidak mempunyai lapisan ini

4. Stratum spinosum / lapisan Malphigi


Lapisan epidermis yang paling tebal
Terdiri dari sel polygonal, besarnya berbeda-beda karena ada proses mitosis
Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak
ditengah
terdapat jembatan antarsel (intecelluler bridges) yg tdd: protoplasma dan
tonofibril
Perlekatan antar jembatan membentuk nodulus Bizzozero
Terdapat juga sel langerhans yang berperan dalam respon respon antigen
kutaneus

5. Stratum basale

Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis
Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade
Lapisan terbawah dari epidermis
Mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif
Terdapat melanosit (clear cell) yaitu sel dendritik yang yang
membentuk melanin melindungi kulit dari sinar matahari.
Dengan sitoplasma yang basofilik dan inti gelap, mengandung
butir pigmen (melanosomes)

lucidum
Lapisan keratohialin
Lapisan akanta

Lapisan dermis

Lapisan elastik dan fibrosa padat


dengan elemen seluler dan folikel
rambut
Pars papilare : bagian yang
menonjol ke epidermis (ujung
serabut saraf & pembuluh darah)
Pars retikulare : bagian yang
menonjol ke arah subkutan
Matriks/ dasar : cairan kental
asam hialuronat dan kondroitin
sulfat, fibroblas
Kolagen : dibentuk oleh fibroblas
ikatan : hidroksipolin & hidroksisilin
(kolagen muda lentur tua
kurang larut)
Retikulin
Elastin : bergelombang, amorf,
mudah mengembang & > elastis

Lapisan subkutis

Jaringan ikat longgar berisi


sel lemak
Sel lemak : sel bulat, besar
dengan inti terdesak ke
pinggir sitoplasma lemak
berkelompok lapisan
(panikulus adiposa) : ujung
saraf tepi, pembuluh darah
& getah bening
dipisahkan : trabekula yang
fibrosa
Vaskularisasi
Pleksus superficial (dermis)
beranatomosis di papil
dermis
Pleksus profunda (subkutis)

FISIOLOGI KULIT

FISIOLOGI KULIT
Fungsi proteksi : Melindungi bagian dalam tubuh
terhadap gangguan fisik/mekanik tekanan,
gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, seperti zat-zat
kimia iritan (lisol, karbol, asam/ basa kuat),
gangguan panas atau dingin, gangguan sinar
radiasi/ ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri,
virus
Fungsi Absorpsi dipengaruhi : tebal, tipisnya
kulit, hidrasi, kelembaban udara, metabolisme dan
jenis vehikulum zat yang menempel di kulit
melalui celah antar sel, saluran kelenjar /saluran
keluar rambut
Fungsi Ekskresi zat yang tidak berguna/ sisa
metabolisme dalam tubuh Produk kelenjar lemak
dan keringat di permukaan kulit keasaman kulit

Fungsi Pengindra (Sensori) Kulit mengandung ujungujung saraf sensorik di dermis dan subkutis
Badan Ruffini : panas
Badan Krause: dingin
Badan taktil Meissner dan Badan Ranvier: rabaan
Badan Paccini: tekanan
Fungsi pembentukan Pigmen (melanosit) terletak di
lapisan basal epidermis Jumlah melanosit & jumlah dan
besarnya melanin yang terbentuk menetukan warna kulit
Fungsi Keratinasi : dari sel basal - tanduk (14 21 hari)
penyakit kulit proses ini terganggu kulit akan terlihat
bersisik, tebal, kasar dan kering.
Fungsi Produksi Vitamin D dari bahan baku 7-dihidroksi
kolesterol dengan bantuan sinar matahari.
Fungsi Ekspresi Emosi : Hasil gabungan fungsi yang telah
disebut di atas menyebabkan kulit mampu berfungsi sebagai
alat untuk menyatakan emosi yang terdapat dalam jiwa
manusia

TERMINOLOGI STATUS
DERMATOLOGIKUS

MORFOLOGI KULIT (EFLORESENSI)


Siemens :
Setinggi
permukaan kulit :
makula
Bentuk peralihan,
tidak terbatas pada
permukaan kulit
Eritema
Telangiektasis
Di atas permukaan
kulit
Urtika
Vesikel
Bula
Kist

Abses
Papul
Nodus
Tumor
Vegetasi
Bentuk
peralihan, tidak
berbatas pada
suatu lapisan
saja
Sikatriks
Cekung
Hipertrofi
Anetoderma
Erosi

Ulkus
Yang
melekat
diatas
kulit
(deposit
Skuama
Krusta
Sel asing
&
metabolik
nya
kotoran

Morfologi kelainan kulit


menurut PRAKKEN
Efloresensi primer
Makula
Papula
Plaque (Plak)
Urtika
Nodul
Papiloma
Kista
Vesikel dan Bula
Pustula
Purpura
Teleangiektasi
Komedo

Efloresensi sekunder
Skuama
Krusta
Erosi
Ulkus
Ekskoriasi
Fisura
Atropi
Sikatriks
Sklerosis
Likenifikasi
Hiperkeratosis
Kunikulus
Sinus
Abses

Makula
perubahan warna kulit tanpa
disertai perubahan konsistensi
dan permukaannya.
Makula berukuran 1 cm
disebut patch.

Papul
Penonjolan kulit
yang solid dengan
diameter < 1 cm.

Plaque ( plak )

kelainan kulit seperti papula


dengan permukaan datar dan
diameter > 1 cm.
Plak dapat terjadi karena
perluasan suatu papula, tetapi
dapat juga karena gabungan atau
konfluensi dari beberapa papula

Urtika
Edem setempat karena
pengumpulan serum di dermis
bagian atas
Diagnosa Banding:Angioedema
DermographismHives
Cholinergic urticariaUrticaria
pigmentosa (mastocytosis)

Nodul

Penonjolan kulit dengan batas tegas,


letaknya dalam, diameternya > 1 cm.
Nodul terjadi karena adanya infiltrasi
yang bersifat massif pada dermis dan
subkutis.

Papiloma

penonjolan kulit yang


berbentuk seperti jari-jari
tangan yang disebabkan
karena meningginya
papilla dermis dan ditutupi
oleh epidermis yang
mengalami hiperplasi
Papiloma dijumpai pada :
veruka

Kista

Ruangan berisi
cairan & dikelilingi
kapsul

bulla

Vesikel & bula


vesikel

Vesikel : gelembung berisi cairan serum,


beratap, berukuran < cm garis tengah
& mempunyai dasar; vesikel berisi darah
disebut
vesikelberukuran
hemoragikbesar
Bula : vesikel
Dikenal dengan istilah bula hemoragik,
bula purulen & bula hipopion

Pustula

penonjolan kulit berbatas tegas,


diameter < 1 cm, berisi cairan
pus/nanah.
Vesikel berisi nanah, bila nanah
mengendap di bawah vesikel
disebut vesikel hipopion

Purpura

Adalah perubahan warna kulit


menjadi kemerahan yang terjadi
karena perdarahan di dalam kulit.
berdasarkan diameternya:

A. Petechie : diameter < 1 cm


B. Echymosis : diameter > 1 cm

Telangiektasis

terjadinya pelebaran
pembuluh darah
kapiler, venulae, atau
arteriole yang nampak
pada permukaan kulit.
Contoh: actinic skin,
rosasea

Komedo
penonjolan kulit karena adanya
pelebaran infundibulum folikel
rambut yang terisi masa keratin,
sebum & mikroorganisme
tertentu.Komedo terjadi pada
kasus: acne, comedo senilis

Skuama
stratum korneum yang
terkelupas dan tampak
pada permukaan.

Krusta

Diagnosa Banding:Acute
eczematous inflammation
Atopic (face)Impetigo
(honey colored)Pemphigus
foliaceusTinea capitis

Erosi
kerusakan kulit sampai stratum
spinosum. kulit tampak menjadi
merah dan keluar cairan serosa,
misalnya pada dermatitis kontak

Ulkus
defek yang mengenai seluruh
epidermis dan melebihi
membrana basalis, bahkan
mungkin sampai dermis atau
subkutis, sehingga pada proses
penyembuhannya sering

Eksoriasi
erosi yang terjadi karena
garukan; sehingga seringkali
memberikan gambaran erosi
yang berderet.

Fisura
defek linier yang dapat
mulai dari permukaan
sampai lapisan dermis.
Contoh: cheilitis
angularis

Atropi
penipisan kulit, baik
epidermis maupun dermis.
Kulit yang mengalami atropi
akan nampak mengkilat,
putih, dengan gambaran
permukaan yang hilang,
mengkerut, dan tidak
mempunyai adnexa lagi.

Sikatriks
penonjolan kulit akibat
penumpukan jaringan fibrosa
sebagai pengganti jaringan
kolagen normal.Jika jaringan
terus menerus tumbuh
berlebihan disebut keloid

Sklerosis
adalah mengerasnya kulit yang
hanya dapat ditemukan dengan
palpasi.
HistopatologiBertambahnya
serabut-serabut kolagen
disertai dengan berkurangnya
sel-sel fibroblast.

Likenifikasi
penebalan kulit yang ditandai
dengan penegasan gambaran
garis-garis permukaan kulit baik
longitudinal maupun transfersal,
biasanya disertai hiperpigmentasi.
Proses likenifikasi terjadi sebagai
akibat garukan kronis dan hebat.

Hiperkeratosis
penebalan kulit yang terjadi
karena menebalnya stratum
korneum.
Proses penebalan stratum
korneum akan lebih jelas
apabila dilihat secara
mikroskopis.

Kunikulus
suatu lorong yang terdapat
pada stratum korneum atau
stratum spinosum, yang
biasanya terjadi karena
adanya infestasi larva suatu

Sinus
Aluran yang
dibatasi oleh epitel
dan bermuara
pada kulit.

Abses
timbulnya pus pada
jaringan yang
terlokalisir.Contoh:
carbunkel

Ukuran
Miliar : jarum pentul
Lentikular :biji jagung
Numular : uang logam 100 rupiah
Plakat : > numular
Susunan kelainan/ bentuk
Liniar : garis lurus
Sirsinar/ anular : lingkaran
Arsinar : bulan sabit
Polisiklik : awan
Korimbiformis : induk ayam yang di kelilingi anakanaknya
Bentuk lesi
Teratut
Tidak teratur

Penyebaran dan lokalisasi


Sirkumskrip : berbatas tegas
Difus : tidak berbatas tegas
Generalisata : tersebar pada sebagian besar tubuh
Regional : mengenai daerah terentu
Universalis : mengenai 90-100% tubuh
Soliter : 1 lesi
Herpetiformis : vesikel berkelompok
Konfluens : 2/> lesi yang menjadi 1
Diskret : terpisah 1 dg yang lain
Serpiginosa : proses yang menjalar ke 1 jurusan diikuti
oleh penyembuhan pada bagian yang ditinggalkan
Irisformis : eritema berbentuk bulat lonjong dengan vesikel
warna yang lebih gelap di tengahnya
Simetrik : mengenai kedua belah badan yang sama
Bilateral : mengenai kedua belah badan
Unilateral : mengenai sebelah badan

ERITEMA SQUAMOSA

PSORIASIS
Penyakit autoimun(kronik&residif)
Bercak2 eritema berbatas
tegas&skuama kasar,berlapis2 &
transparan
Fenomena tetesan
Lilin,Auspitz,Kobner
=Psoriasis vulgaris

Plak psoriasis , kasar, dan ditutup


dengan skala/ perak putih
dengan dasar eritema

Plak psoriasis pada


permukaan ekstensor dari
lutut dan siku

Faktor imunologik
Limfosit T,APC(dermal),keratinosit
Lesi psoriasis matangsebukan sel limfosit T
Pada dermis terutama limfosit T CD4 Dgn
swdikit sebukan limfositik dalam epidermis
Lesi baruLimfosit T CD8 ++
Proliferasi epidermisdiawali pergerakan
antigen(eksogen&endogen) di arahkan o/ sel
Langerhans
Pada psoriasi pbtkan epidermis 3-4 hari,N:27
Hari

epidemiologi
Tidak menyebabkan
kematiangangguan kosmetik
Perjalananny menahun&residif
Inisden kulit putih
Insiden pria > wanita
Dapat pada semua usia(dewasa)

eritopatogenesis
Faktor genetik
Psoriasis tipe I :awitan dini bersifat
familial.berhubungan dgn HLA
B13,B17,Bw57,Cw6
Psoriasis tipe II :awitan lambat bersifat
non familial,Berhubungan dengan HLA
B27,Cw2
Psoriasis pustulosa :HLA B27

Faktor pencetus
Stress psikik,infeksi fokal,trauma(fenomena
Kobner,endokrin,gang.metabolik,obat/alkohol,m
erokok
Infkesi Streptococcus
Faktor endokrin pengaruhi
onset(pubertas&menopause puncaknya)
Gang.metabolismehipokalsemia&dialisis
Obt yg membuat residif adrenergic Blocking
agents,litium,antimalaria,penghentian Ks oral
mendadadak

Gejala klinis
Gatal ringan
Tempat predileksi :skalp,perbatasan daerah tersebut dgn
muka,xtremitas bag.xtensor(siku&lutut),daerah
lumbosakral
Kelainan berupa bercak(plak) yg meninggi dgn skuama d
atasnya
Eritema sirkumskrip & merata;stad.penyembuhan
eritema d tgh menghilang&hanya terdapat di pinggir
Skuama berlapis2,kasar,berwarana putih
Besar kelainan :lentikular,numular,plakat atau dapat
berkonfluensi
Jika seluruhnya/ sbagian besar lenitkular :Psoriasis
gutata(tjd stlh inf.akut o/ streptococcus)

Fenomena tetesan lilinskuama


berubah menjadi putih pada
goresan(spt lilin yg d gores)
Fenomena ausfitztampak serum
atau darah berbintik2 akibat
papilomatosis
Fenomena Kobner trauma pada
kulit(garukan),timbul kira2 stlh 3
minggu

Psoriasis juga menimbulkan kelainan


kukupitting nail/nail pit (lekuka2
miliar)
Kuku keruh,tebal,bag.distalny
terangkat(tdpt lap.tanduk di
bawhnya)hiperkeratosis subungual
dan onikolisis

Juga dapat menimbulkan kelainan


sendi(artritis psoriatik) 10-15%
Sendi distal interphalang
Bersifat poliartikular
Usia 30-50 tahun
Sendi membesarankilosis&lesi
kistik subkorteks

Bentuk klinis
Psoriasis vulgaris
Lesi berbentuk plak

Psoriasis gutata
Kelainan tidak lebih 1 cm
Mendadak&diseminata stlh inf.Stereptococus
di sal napas bag atas shbis influenza/morbili
Dpt timbul infeksi yg lain(bakteri&viral)

Psoriasis inversa(Psoriasis fleksural)


T4 Predilkesi daerah fleksor

Psoriasis eksudativa
Kelainan psoriasis kering
Btkny spt dermatitis akut

Psoriasis seboroik(seboriasis)
Gab psoriasis+D.Seboroik
Skuama keringberminyak+agak lunak
Lokasi pda daerah lazim juga terdapat pada t4
seboroik

Psoriasis putulosa
Lokalisata
generalisata

Psoriasis pustulosa palmoplantar(Barber)


Kronik&residif
Telapak tangan,kaki&ke 2nya
Berupa kelompok2 pustul kecil steril dan dalam d atas kulit
eritematosa dsertai gatal

Psoriasis pustulosa genaralisata akut(Von


zumbusch)
Akibat penghentian Ks mndadak
Dapat timbul pada pndrita yg sedang/telah mndrita
psoriasis
Gejala :kulit
nyeri,hiperalgesia+demam,malaise,nausea,anoreksia
Plak psoriasis makin eritematosa
Stlh bbrpa jamtimbul plak edematosa&eritematosa
Timbul pustul miliar(pustul berkonfluensilake of pus)
Px lableukositosis,kultur pus dr pustul steril

Eitroderma psoriatik
Pengobatan topikal tll kuat/penyakit yg
meluas
Lesi khas u/psoriasis tdk tmpak lagi krna
ad eritema dan skuama tebal universal
Lesi psoriasis kdg tmpak samar2lebih
eritematosa dan kulitnya lebih meninggi

Histopatologi
Gambaran Parakeratosis dan
akantosis
st.spinosumkelompok
leukosit(abses Munro)
Papiledematosis dan vasodilatasi di
subepidermis

Diagnosis Banding
Tanda posriasis :
Skuama kasar transparan dan berlapis2
Fenomena tetesan lilin
Fenomena Auspitz

Dermatofitosis
Sifilis psoriasisformis
Dermatitis seboroik

pengobatan
Ksmengontrol psoriasis
Obat sitostatik(metotreksat)
I :Psoriasis,psoriasis pustulosa,psoriasis artritis+lesi
kulit,eritroderma(yg sukar terkontrol dgn obt standar)

Levodopa
DDS(diaminodifenilsulfon)Psoriasi pustulosa
Etretinat dan asitretin kurangi proliferasi sel epidermal
pd lesi psoriasis& kulit normal
Siklosporin imunosupresif
Terapi
biologik(infiksimal,alefasep,etanersep,efalizumab,adalimu
mab)hambat pbtukan TNF (Hambat
inflamasi&angiogenesis serta proliferasi keratinosit)

Pengobatan topikal
Ter
Psoriasis menahun :ter dari batu bara
Psoriasis akut :ter dari kayu

Ks
Muka,genitalia xterna dan lipatan gunakan potensi sedang.
(ES :telangiektasia,pada lipatan :straiae atrofikans)
Pada batang tubuh&xtremitas gunakan potensi kuat

Ditranol(antralin)
Penyembuhan dlm 3 minggu
Kelemahan :Mewarnai kulit dn pakaian

Penyinaran
UVA
UVB
PUVA

Calcipotriol
Sintetik Vit D

Tazaroten
Menghambat proliferasi dan normalisasi dan
penghambar petanda proliferasi pada sel
radang yg menginfiltrasi kulit

Emolien
Melembutkan perm kulit
Tidak punya efek antipsoriasis

Pengobatan cara
Goeckerman
Psoriasis pustulosa
palmoplantar(BARBE)
Tetrasiklin
metotreksat
KS

Psoriasis pustulosa generalisata


akut(Von Zumbusch)
KS
asitretin

Prognosis
Tidak mnyebabkan kematian
Bersifat kronis&resodif

Seborrheic Dermatitis (D.S)

R adang kulit merah, berminyak, dan


mengelupas pada area badan dimana terdapat
kelenjar sebasea kulit kepala, wajah dan
selangkangan

Etiologi : tidak diketahui


Epidemiologi :
Puncak umur :
Bayi pada 3 bulan pertama kehidupan
18-40 th
Pria > wanita
85% pada pasien HIV/AIDS
D.S berhubungan erat dgn Gland. Sebasea :
Aktif pada BBL
Tidak aktif selama 9-12 tahun o.k stimulasi
hormon androgen dari ibu terhenti

Gejala klinis
Kelainan kulit:
Eritema dan skuama yg berminyak
Berwarna agak kekuningan
Batas tidak begitu tegas

D.S yg ringan:
mengenai kulit kepala berupa skuama2 yg halus
pitiriasis sika (ketombe/dandruff) mulanya bercak
kecil, lalu mengenai seluruh kepala dgn skuama yg
halus dan kasar.
Ptiriasis steatoides bercak yg berminyak + eritema
dan krusta2 yg tebal
Rambut cenderung rontok, mulai di bagian verteks
dan frontal

D.S yg berat :
Bercak2 berskuama dan berminyak + eksudasi dan
krusta tebal
Sering meluas ke dahi, glabela, telinga posaurikular
dan leher.

D.S yg lebih berat :


Seluruh kepala tertutup krusta2 yg kotor
Berbau tidak sedap
Pada bayi skuama2 yg kekuningan dan kumpulan
debris2 epitel yg lekat pada kulit cradle cap

Daerah supraorbital:
Skuama2 halus di alis mata
Kulit dibawahnya eritematosa dan gatal disertai
bercak2 squama kekuningan
Dapat terjadi pula blefaritis

Diagnosis Banding
Khas pada D.s skuama yg berminyak dan kekuningan
dan berlokasi di tempat2 seboroik
Psoriasis
Beda: terdapat skuama yg berlapis2 disertai fenomena tetes lilin
dan auspitz
Psoriasis di scalp : skuamanya lebih tebal dan putih seperti mika

Psoriasis inversa
Kandiosis pada lipatan paha dan perianal
Beda: terdapat eritem berwarna merah cerah berbatas tegas
dgn satelit2 di sekitarnya

Otomikosis & otitis eksterna pada saluran telinga


luar
Beda dgn otomikosis : akan terlihat elemen jamur pda sediaan
langsung
Beda dgn otitis eksterna : ada tanda2 radang + pus

Penatalaksanaan
Pengobatan sistemik
Kortikosteroid
Utk bentuk yg berat
Prednison: 20-30 mg / hari

Isotetrinoin
Pada kasus yg relaksitran
Mengurangi aktivitas kelenjar sebasea

Narrow band UVB (TL-01)


Pada kasus yg parah
Terapi 3x/ minggu selama 8 minggu

Ketokonazol jika terdapat P.ovale

Pengobatan topikal
Pitiriasis sika dan oleosa : 2-3
x/minggu, scalp dikeramasi selama
5-15 menit dgn selenium sulfida
(selsun)
Skuama + krusta emolien : krim
urea 10 %
Ter : likuor karbonas detergens / krim
pragmatar
Resorsin
Sulfur praesipitatum
Kortikosteroid

Dermatitis Sebore

http://www.hovedbund.dk/images/sebore.jpg

SEBOROIK KEPALA
Pada daerah berambut, dijumpai skuama yang
berminyak dengan warna kekuningan sehingga
rambut saling melengket; kadang-kadang dijumpai
krusta yang disebut Pityriasis Oleasa ( pityriasis
steatoides )
Kadang-kadang skuamanya kering dan berlapis-lapis
dan sering lepas sendiri disebut pitiriasis sika
( ketombe )
Bisa juga jenis seboroik ini menyebabkan rambut
rontok alopesia dan rasa gatal
Perluasan bisa sampai ke belakang telinga ( retro
aurikularis)

SEBOROIK KEPALA
Bila meluas, lesinya dapat sampai ke dahi,
disebut korona seboroik
Dermatitis seboroik yang dijumpai pada
kepala bayi disebut topi buaian ( Cradle
Cap )

SEBOROIK MUKA
Pada daerah mulut, palpebra, sulkus nasolabial,
dagu ,dll
Terdapat makula eritem, yang diatasnya
dijumpai skuama berminyak kekuning-kuningan
Bila sampai ke palpebra, bisa terjadi blefaritis
Sering pada wanita
Bila didapati didaerah berambut, seperti dagu
dan atas bibir, dapat terjadi folikulitis
Hal ini sering dijumpai pada laki-laki yang sering
mencukur janggut dan kumisnya
Seboroik muka didaerah jenggot disebut sikosis barbe

SEBOROIK BADAN DAN


SELA-SELA
Jenis ini mengenai daerah presternal,
interskapula, ketiak, inframamma, umbilikus,
krural ( lipatan paha,perineum,nates )
Dijumpai ruam berbentuk makula eritema yang
pada permukaanya ada skuama berminyak
kekuning-kuningan
Pada daerah badan, lesinya bisa berbentuk
seperti lingkaran dengan penyembuhan sentral
Didaerah intertrigo, kadang-kadang bisa timbul
fisura sehingga menyebabkan infeksi sekunder

PITYRIASIS ROSEA
Erupsi exanthematous akut
dengan morfologi yang khusus
dan pada umumnya self-limited

ETIOLOGI
Belum diketahui
Terdapat bukti kuat bahwa PR berhubungan
dengan reaktifasi HHV-7 atau HHV-6
(golongan -herpesvirus)
EPID :
10 43 tahun
Bisa dialami oleh BBL / anak kecil dan lansia
( jarang)

Lesi Kulit Herald


patch
Mengawali fase
exanthematous
Berkembang dalam 1
2 minggu
Umumnya : di badan,
soliter
Morfologi :
Oval
Berupa plak / lesi yang
sedikit menonjol (25
cm)
Warna pink salmon
Lesi collarette di

MANIFESTASI
KLINIK
Pruritus :
Tidak ada
(25%)
Ringan
(50%)
Berat (25%)

Lesions aligning along Langer's lines

Inverse form of pityriasis rosea, with peripheral distribution.

Christmas tree pattern on the back


Transversely across the lower abdomen
V-shaped pattern on the upper chest

http://www.aafp.org/afp/2004/0101/afp2004

Fase Exantheme
Sama dengan lesi pertama, namun lebih kecil
Gambaran khas :
Distribusi lesi sejajar dengan sumbu costae
gambaran pohon cemara terbalik (inverted
Christmas tree pattern)
Timbul serentak / dalam beberapa hari
Lokasi :
Badan
Bagian proksimal lengan dan kaki (paha atas)
Jarang di wajah

*Atypical Pityriasis Rosea*


PR dengan bentuk urtikaria, vesikel, atau papul
(lazimnya a/ bentuk eritroskuamosa)
> sering pada anak-anak
Lesi dapat muncul hanya pada wajah dan leher
Herald patch :
Bisa tidak ada
Bisa merupakan satu-satunya manifestasi penyakit
Bisa multipel
Etiologi : iritasi, berkeringat, atau th/ yang tidak
adekuat
PITYRIASIS ROSEA IRRIATA

DIAGNOSA BANDING
Tinea corporis

(skuama kasar, pruritus

hebat, KOH <+>)

Drug eruptions (msl : captopril,


barbiturat)

Psoriasis gutata (tidak ada marginal


collarete)

PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
DERMATOPATOLOGI
Parakeratosis (difus atau patchy)
Lapisan granular (-)
Acanthosis ringan
Spongiosis fokal
Vesikel-vesikel mikroskopis
Sel-sel diskeratosis tertentu dengan aspek
eosinofilik yang homogen
Edema dermis
Homogenisasi kolagen
Infiltrat sel mononuklear pada perivaskular

PROGNOSIS
Baik remisi spontan dalam 6
12 minggu atau kurang
Rekurensi jarang

PENATALAKSANAAN
Simtomatik
Antihistamin oral dan/atau lotion antipruritus
topikal (bedak asam salisilat yang dibubuhi
mentol 0,5 1%) meredakan pruritus
Glukokortikoid topikal
Dapat membaik dengan fototerapi UVB atau
paparan sinar matahari alami jika terapi
dimulai pada minggu pertama terjadinya erupsi
Glukokortikoid sistemik jangka pendek

INFEKSI JAMUR

DERMATOFITOSIS
(Tinea, Ringworm, kurap, teigne, herpes
sirsinata)
Penyakit pada jaringan yang mengandung zat
tanduk (str.korneum pada epidermis, rambut, kuku)
e.c golongan jamur dermatofita

ETIOLOGI
DERMATOFITA
Mempunyai sifat mencerna keratin
(keratofilik)
Termasuk kelas Fungi imperfecti
Terbagi dalam 3 genus :
Microsporum (17 spesies)
Trichophyton (21 spesies)
Epidermophyton (2 spesies)

Berdasarkan ekologinya, dermatofita


diklasifikasikan sbb :
Anthropophilic : transmisi dari orang ke orang
melalui fomites dan kontak langsung
Trichophyton spp.: T.rubrum,
T.mentagrophytes (var. interdigitale),
T.schoenleinii, T.tonsurans, T.violaceum
Microsporum audouinii
Epidermophyton floccosum
Zoophilic : binatang ke manusia melalui kontak
langsung atau fomites
Trichophyton spp : T.equinum,
T.mentagrophytes (var. mentagrophytes),
T.verrucosum, M.canis

EPIDEMIOLOGI
Onset Usia
Anak-anak infeksi pada kulit kepala / scalp
(Trichophyton, Microsporum)
Dewasa infeksi pada area intertriginosa
Insiden onikomikosis berhubungan dengan
usia;
(di Amerika usia 75 tahun [>50%])
Ras
Tinea kapitis > sering ditemukan pada anak
kulit hitam

TRANSMISI
Orang ke orang
Paling sering
Biasanya melalui fomites atau skin-to-skin contact
Melalui binatang (anjing atau kucing)
Melalui tanah atau kontak dengan lantai / benda
yg terkontaminasi jarang
Autoinokulasi dari bagian tubuh lain

FAKTOR PREDISPOSISI
Atopic diathesis : cell-mediated immune
deficiency
Topical immunosuppression (prolonged
application of topical glucocorticoids)
Systemic immunocompromise

Tinea versicolor pytiriasis versicolor


Bukan dermatofitosis
Disebabkan oleh infeksi Malassezia (yeast)
(Berdasarkan struktur yang terlibat)
EPIDERMOMIKOSIS (dermatofitosis epidermal)
TRICHOMIKOSIS (dermatofitosis pada rambut &
folikel rambut)
ONIKOMIKOSIS (dermatofitosis pada kuku jari)

PATOGENESIS
Dermatofit mensintesis KERATINASE :
Mencerna keratin
Memperlama keberadaan fungi pada struktur
berkeratin
Pertahanan host membatasi patogenitas
dermatofit :
Cell-mediated immunity
Aktivitas antimikroba dari leukosit PMN
Faktor lokal yang mendukung infeksi
dermatofit
berkeringat, oklusi, occupational exposure, lokasi

Tampilan klinis dermatofitosis


bergantung pada beberapa faktor :
LOKASI INFEKSI
RESPON IMUNOLOGIK HOST
SPESIES FUNGUS
T.rubrum inflamasi << ; cenderung
menyebabkan infeksi kronis
M.canis respon inflamasi akut dan
resolusi yang spontan

PERBEDAAN PATOGENESIS & STRUKTUR


YANG DISERANG dari epidermomikosis vs
trikomikosis
PERBEDAAN MANIFESTASI KLINIS

EPIDERMOMIKO
SIS
Dermatofit (red dots & line) pada stratum korneum :
Merusak lapisan tanduk menyebabkan scaling
Mencetuskan respon inflamasi (black dots selsel inflamasi) bermanifestasi sebagai eritema,
papulasi, dan bahkan vesikulasi

Menyerang batang
rambut (red dots)
destruksi dan kerusakan
rambut
Jika infeksi meluas ke
folikel rambut

respon inflamasi yang


lebih dalam (black dots)

bermanifestasi sebagai :
nodul-nodul inflamasi
pustulasi folikular
pembentukan abses
TRIKOMIKO

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Mikroskopis (dengan KOH)
Struktur bersepta, tube-like (hifa atau
mycelia)
Pembentukan spora
Wood Lamp
Rambut yang terinfeksi Microsporum spp. akan
berfluoresensi (berpendar) kehijauan
Kultur
Dermatopatolgi

PENATALAKSANAAN
PENCEGAHAN
Gunakan bedak yang mengandung imidazol atau
tolnaftat setelah mandi pada area yang cenderung
terinfeksi jamur
PREPARAT ANTIFUNGAL TOPICAL
Efektif untuk dermatofitosis pada kulit ; tidak
pada rambut / kuku
AGEN ANTIFUNGAL SISTEMIK
U/ infeksi pada kulit berkeratin : gunakan jika lesi
meluas / infeksi tidak membaik dengan preparat
topikal
Biasanya diperlukan untuk th/ :
Tinea kapitis
Tinea unguium
Tinea jenis inflamasi
Tinea pedis tipe moccasin

PREPARAT ANTIFUNGAL
TOPICAL
IMIDAZOLE
Clotrimazole (Lotrimin,
Mycelex)
Miconazole (Micatin)
Ketokonazole (Nizoral)
Econazole (Spectazole)
Oxiconizole (Oxistat)
Sulconizole (Exelderm)
Sertaconazole (Ertazco)
ALLYLAMINES
Naftifine (Naftin)
Terbinafine (Lamisil)
NAFTIONAT
Tolnaftate (Tinactin)
SUBSTITUTE PYRIDONE
Ciclopirox olamine (Loprox)

AGEN ANTIFUNGAL
SISTEMIK
TERBINAFIN
Antidermatofit antifungal
yang paling efektif
Efikasi rendah terhadap
fungi lain
AZOLE / IMIDAZOLE
Itraconazole
Fluconazole
Ketokonazole hepatotoksik

GRISEOFULVIN

Tinea pedis / athletes foot / kutu air kaki (sela-sela jari dan telapak kaki)
EPID

pria > wanita


seiring umur

FX RSK

fasilitas umum yang memudahkan terjadinya penyebaran, ruang


loker, sauna, kolam renang, kamar mandi bersama
Sistem imun yang turun

Interdigitalis

ETIO

Trichophyton rubrum
Trichophyton
mentagrophytes
Epidermophyton floccosum

Mocassin Foot

Subakut

T4 antara jari IV dan V


sub digital & sela jari
kaki yang lain

seluruh kaki

sela jari punggung/


telapak kaki

Gj
l

Kulit menebal &


bersisik
Eritema ringan,
papul, vesikel (tepi

vesikel (cairan jernih


kental) pecah
koleret, vesiko-pustul, &
bula

fisura yang dilingkari


sisik halus & tipis,
maserasi

MANKLI
N

Gatal, menyengat dan rasa terbakar pada jempol dan telapak


kaki
Kulit yang terlepas antara daerah tumit dan telapak kaki
Kulit sangat kering di bagian bawah dan sisi kaki
Kuku yang tebal, mudah hancur, berubah warna dan terlepas
Interdigital tinea pedis
Chronic hyperkeratotic tinea pedis / Moccasin tinea pedis / foot
Inflammatory/vesicular tinea pedi

PEM

Sediaan langsung, kerokan kulit


Kultur jamur

TH/
FARMA

Imidazol topikal
Piridon topikal
Alilamine topikal

KOMPL

Infeksi sekunder : cellulitis, lymphangitis, pyoderma,


osteomyelitis
Reaksi alergi : masuknya protein dari mikroorganisme dalam
aliran darah

PROG

Secara umum jika ditangani dengan tepat, baik

Benzilamin topikal
Antimikotik oral
Dermatologic agent

PCGHAN Jaga kaki agar tetap kering, terutama jari-jari kaki


Gunakan bahan yang menyerap keringat
Gunakan alas kaki yang memiliki ventilasi cukup
Gunakan alas kaki di fasilitas umum

Tinea unguinum (dermatophytic onychomycosis, ringworm of the nail)


kuku
Epid

Dewasa
Tinea mannus

>> Orang yg kerja di air kotor

Etio

T.Rubrum & T.Mentagrophytes

Subngual distalis

Leukonikia trikofita/
mikotika

Subngual
proksimalis

Tepi distal/ distolateral


kuku proksimal & bawah
kuku

Permukaan kuku

Pangkal kuku
proksimal

Kuku rapuh seperti


kapur

Leukonikia / keputihan
o.K T. Mentagrophytes

Kuku bag distal


utuh ; bag proksimal
rusak

Mankl Kuku suram, rapuh & lapuk, dari distal / marginal, bag bebas
in
menebal, leukonika
Pem

Kerokan kuku & KOH 40%


Kerokan skuama di atas/bawah kuku koloni jamur

Th/

Umum (>> higiene)


Sist : griseofulvin,
itrakonazol

Prog

Paling sukar disembuhkan (kuku kaki)

Top : salep whitefield


I,II.Castellanispaint, tolnaftat cair,
imidazol cair, siklopiroksolamin cair

Tinea Kruris/ Eczema marginatum, dhobie itch, jockey itch, ringworm


of the groin lipat paha, perineum, anus
MANKLI Lesi : daerah genitokrural / anus, gluteus, perut bagian bawah,
bagian tubuh lain
N
lipat paha lesi berbatas tegas
Peradangan tepi > nyata
Polimorfi
Garukan Erosi dan keluarnya cairan
PROG

Akut/menahun (bercak hitam + sisik) seumur hidup

Tinea corporis/ sirsinata/ glabrosa/ scherende flechte, kurap herpes sircine


trichophytique : Dermatofitosis pada kulit tubuh tidak berambut (glabrous
skin)
EPID

Indonesia (kalimantan, sulawesi, irian barat, kepulauan aru, dan kei &
sulawesi tengah)

ETIO

Trichopyton rubrum (bersamaan dg tinea unguium)


MANKLIN

Lesi bulat/lonjong, berbatas tegas terdiri atas, eritema, skuama, vesikel


dan papul di tepi garukan erosi dan krusta Lesi polisiklik lesi
menjadi 1
Tanda radang pd anak
Menahun, tanda radang tidak terlihat
Kelainan pada bag tubuh + sela paha (t. Corporis et cruris/ cruris et
corporis)
Trichopyton concentricum tinea imbikatra
Papul coklat str korneum bag tengah terlepas dari dasar dan melebar
skuama kosentris
Tinea favosa / favus : tinea korporis + kelainan pada rambut
T.Scoelini, t. Violaceum, mycosporum gypseum
Titik kecil bewarna merah kuning
krusta bentuk cawan (skutula) dasar cekumg merah & basah
Rambut tidak berkilat & terlepas parut & botak
Bau tikus (mousy odor)

Tinea capitis gray patch/ ringworm of the scalp kulit & rambut di kepala
Manklin Lesi merah & bersisik, alopesia
Gray patch

Kerion (zoofilik)

Black dot
ringworm

Skuama
Radang ringan
Gatal ringan/sangat
Rambut keabuan,kusut, rapuh
terpotong di beberapa milimeter
diatas kepala
Alopesia lampu wood (+)
hijau terang

Edema lunak
kemerahan
Rambut mudah
putus
Pustula, krusta,
erosi, dan nyeri
Pemeriksaan
dengan lampu wood
(-) trichophyton

T. Tonsurans dan
T.Violaceum
Rambut patah
tepat pada muara
folikel, dan yang
tertinggal adalah
ujung rambut
(black dot)yg penuh
spora.

Tinea mannus telapak tangan dan ruang-ruang antara jari-jari tangan


Epid

Menyerang semua umur, pria = wanita, semua bangsa, tropis >>

Etio

T.Rubrum & T.Mentagrophytes

Mankli
n

penebalan (hyperkeratosis) sering unilateral

Pem

Lokalisasi (pergelangan tangan ujung jari)


Efloresensi (makula eritematosa tepi aktif, batas tegas, vesikel
/skuama di atasnya)
Kerokan kulit & KOH 10% elemen jamur.
Sinar wood efloresensi + biakan skuama di media saboraud 1-2
mgg koloni ragi

Th/

Haloprogin
Tonlnaflat

As.Salisilat
Triazol

Tinea barbae jenggot, kumis dan jambang


1.Superfisial: seperti tinea korporis
2.Profunda : folikulitis
Epid

Orang dewasa yang bekerja sebagai pemerah susu/ petani

Etio

Trichophyton sp., Microsporum sp., T. verrucosum

Mankli Papul eritema, skuama pinggir polisiklik folikulitis rambut


n
terputus

Tinea facialis muka kecuali pada area yang berjenggot


MANKL potongan kecil merah dan bersisik dengan pinggir-pinggir yang
IN
tidak jelas

Pembantu Diagnosis
Pemeriksaan langsung sediaan basah (kerokan
kulit tidak berambut/ berambut, kuku) : Bahan
sediaan dibersihkan dengan spiritus 70% Tetes
KOH 10-20% Zat warna tambahan : tinta Parker
superchroom blue black
Kulit & Kuku : Hifa, artospora (spora berderet)
Rambut : Hifa, Mikrospora/ makrospora, ektotriks
(luar rambut) / endotriks (dalam rambut)
Pembiakan spesies jamur Agar dekstrosa
DD
saboraud + AB
Tinea pedis :
Dermatitis kontak
Hiperhidrosis
Akrodermatitis kontinua
Morbus Andrews
Kandidiosis
Sifilis II

Tinea Kruris :
Eritrasma
Kandidiosis
Psoriasis

Tatalaksana
Griseofulvin : Setelah
sembuh klinis, dilanjutkan
2 minggu agar tidak
residif
ES : sefalgia, g3 git,
fotosensitif, g3 f/ hepar
Tinea kapitis obat
topikal & penyinaran dg
sinar x u/ merontokkan
rambut di bag yang sakit
Kerion std dini KS
sistemik (prednison/
prednisolon)
Ketokonazol
Itrakonazol

Terbinafin
Es: g3 git, g3
pengecapan, sefalgia
ringan, g3 f/ hepar
Obat topikal :
As. Salisilat 2-4%, as.
Benzoat 6-12%, sulfur
4-6%, vioform 3%, as.
Undesilenat 2-5%, zat
warna (hijau brillian 1%
dalam cat Castellani)
Tolnaftat 2%, tolsiklat,
haloprogin, derivat
imidazol,
siklopiroksolamin,

KANDIDOSIS
Definisi

Merupakan penyakit jamur, yang bersifat akut dan


subakut yg disebabkan oleh Candida Albicans, dapat
mengenai mulut,vagina,kulit,kuku,bronki atau paru

Sinonim

Kandidiasis, moniliasis

Epidemiol
ogi

Terdpt d seluruh dunia


Semua umru
Laki2=wanita

Patogenesi Endogen:
oPerubahan fisiologik: kehamilan, kegemukan,
s
debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronik
oUmur
o imunologis
Eksogen:
oIklim, panas, kelembaban
oKebersihan kulit
oKebiasaan berendam kaki dlm air yg lama
oKontak dgn penderita

Klasifikasi
Kandidosis selaput Kandidosis kutis
lendir

Kandidosis
sistemik

Kandidosis
oral/thrush
Perlence
Vulvovaginitis
Balanitis
Kandidosis
mukokutan kronik
Kandidosis
bronkopulmoner
dan paru

Endokarditis
Meningitis
Pielonefritis
Septikemia

Lokalisata:
daerah
intertriginosa
dan perianal
Generalisata
Paronikia dan
onikomikosis
Kandidosis kutis
granulomatosa

Kandidid

Kandidosis selaput lendir


kandidosis
oral/Thrush

Biasanya mengenai bayi


Tampak pseudomembran putih,coklat muda kelabu yg
menutupi lidah, palatum molle,pipi bagian dalam dan
permukaan rongga mulut lainnya
Bila pseudomembran terlepas, akan tampak daerah yg
merah dan basah.

Perieche

Lesi berupa fisur pada sudut mulut


Lesi mengalami maserasi, erosi, basah, dasarnya
eritematosa
Defisiensi riboflavin

Vulvovaginitis

Sering pada penderita DM, wanita hamil


Keluhan: Gatal di daerah vulva, Rasa panas dan nyeri
sesudah miksi, Tampak hiperemia di daerah labia minor,
introitis vagina, Adanya gumpalan seprti kepala susu
berwarna putih kekuningan

Balanitis

Infeksi krn kontak seksual dgn wanita yg menderita


vulvovaginitis
Lesi berupa: erosi, Pustula dgn dinding yang tipis pada
glands penis dan sulkus koronarius glandis

Kandidosis

Karena kekurangan fungsi leukosit atau sistem hormonal

Kandidosis kutis
Kandidosis
intertriginosa

Lesi di daerah lipat


paha,ketiak,intergluteal,payudara,antara jari
tangan/kaki,glands penis dan umbilikus
Lesi nya berupa bercak yang berbatas tegas,
bersisik, basah dan eritematosa
Lesi nya dikelilingi oleh vesikel dan pustul kecil
atau bula, jika pecah akan meninggalkan daerah yg
erosif dgn pinggir kasar

Kandidosis
perianal

Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit


tipe basah
Menimbulkan pruritus ani

Kandidosis kutis Terdapat lesi di lipat payudara,intergluteal dan


generalisata
umbilikus
Sering di dertai dgn glositis, stomatitis dan
paronikia
Lesi berupa ekzematosa, dgn vesikel dan pustul
Sering terjadi pada bayi
Paronikia dan
onikomikosis

Diderita pada orang yg pekerjaannya berhubungan


dgn air
Lesi nya : Kemerahan,bengkak tp tdk
bernanah,kuku menjadi tebal, mengeras dan

Kandidosis granulomatosa

Pemeriksaan:

Sering menyerang anak-anak


Lesi berupa:
o Papul kemerahan tertutup
krusta tebal berwarna kuning
kecoklatan dan melekat erat pada
dasarnya
oKrusta dapat timbul seperti
tanduk
oSering timbul pada muka,
kepala, kuku, badan, tungkai dan
faring

Langsung:
Kerokan kulit atau usapan mukokutan dgn menggunakan
larutan KOH 10% atau dgn pewarnaan gram, akan terlihat
seperti ragi, blastospora atau hifa semu
Biakan:
Dgn agar dektrosa glukosa sabouraud.
Corn meal agar
Disimpan dalam suhu kamar
Koloni akan tumbuh 24-48 jam

PENGOBATAN:
Menghindari dan menghilangkan faktor predisposisi

DD

Topikal

Sistemik

larutan ungu gentian -1 % untuk selaput


lendir
Larutan ungu gentian 1-2% untuk kulit,
dioleskan 2X sehari slma 3 hr
Nistatin berupa krim, salep,emulsi
Amfoterisin B
Mikonazol 2% berupa krim atau bedak
Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dlm
krim
Tiokonazol, bufonazol, isokonazol
Siklopirolsolamin 1%

Tablet nistatin
Amfoterisin B
Kotrimazol 500 mg
per vagina dosis
tunggal
Itrakonazol

Kandidosis kutis
lokalisata

Kandidosis kuku

Kandidosis
vulvovaginitis

Eritrasma
Dermatitis
intertriginosa
Tinea

Tinea unguinum

Trikomonas vaginalis
Gonore akut
Leukoplakia
Liken panus

INFEKSI BAKTERI

ERITRASMA
Definisi:
Gejala klinis:
Penyakit bakteri kronik
Lesi kulit dapat berukuran miliar
sampai plakat.
pada stratum korneum
Lesi eritoskuamoasa, berskuama
yang disebabkan oleh
halus kadang-kadang terlihat merah
corynebacterium
kecoklat-coklatan.
Minitussismum, ditandai dg Tempat predileksi daerah ketiak &
adanya lesi berupa eritema lipat paha.
dan skuama halus tertama Perluasan lesi terlihat pd pinggir
yang eritematosa dan serpiginosa.
daerah ketiak dan lipat
Lesi tidak menimbul dan tidak
paha

terlihat vesikulasi.
Penyakit ini terutama menyerang
pria dewasa dan tidak menular.
Eritrasma tidak menimbulkan
keluhan subyektif, kecuali bila terjadi
ekzematisasi karna keringat atau
maserasi.

Diagnosa

Pemeriksaan dengan lampu wood dan


sediaan langsung.
Pemeriksaan lampu wood:
oLesi berfluoresensi merah membara
( coral red)
Pada sediaan langsung
oTerlihat batang pendek halus, bercabang,
berdiameter 1 u atau kurang, yg mudah
putus sebagai bentuk basil kecil atau
difteroid

DD

Ptiriasis rosea
Tinea cruris
Dermatitis seboroik
Dermatitis kontak

Pengobatan

Eritromisin
o1 gr sehari ( 4x250mg) untuk 2-3 minggu
Salep tetrasiklin 3%
Obat antijamur baru berspektrum luas

Prognosis

cukup baik bila semua lesi diobati dengan


menyeluruh dan tekun.

Erisipelas
Penyakit infeksi akut yang
disebabkan oleh streptococcus B
hemolyticus
Gejala klinis

Demam, malaise
Lapisan kulit yang diserang adalah epidermis dan dermis
Didahului oleh trauma , predileksinya ditungkai bawah.
Eritema yang berwarna merah cerah , berbatas tegas dan
pinggirnya meninggi dengan tanda-tanda radang akut.
Disertai edema, vesikel dan bula
Terdapat leukositosis
Residif elefantiasis

Diagnosa banding
Selulitis terdapat infiltrat di
subkutan.

pengobatan
Istirahat, tungkai bawah dan kaki yang diserang di
tinggikan (elevasi), tingginya sedikit lebih tinggi
daripada letak kor
Pengobatan sistemik: antibiotik, topikal di berikan
kompres terbuka dengan larutan antiseptik
Jika terdapat edema, diberikan diuretika.

Morbus Hansen

Definisi
Penyakit infeksi kronis, disebabkan
Mycobacteroium leprae
Mula-mula mengenai SS tepi, lalu
kulit & mukosa traktus respiratorius
atas, RES, mata, otot, tulang, testis &
organ lain, kecuali SSP.
Cenderung menyebabkan cacat
tangan dan kaki

Etiologi
Mycobacterium leprae atau basil Hansen
Ditemukan th 1873 oleh G.H.A Hansen,
Norwegia
Basil tahan asam, batang, p. 1-8 & l. 0,20,5
Berkelompok (globus) atau tersebar satusatu, sifat parasit obligat intraseluler
(jaringan dengan suhu dingin)
Tidak dapat dibiakan dalam media buatan,
dpt menyebabkan infeksi sistemik pd
armadillo

Cutaneus Mycobacterium
Infection

1.
a.
b.
c.
2.
d.
e.
f.
g.
h.

A. TYPICAL
Mycobact. Leprae
Tuberkuloid (TT.)
Borderline (BB.)
Lepromatous (LL.)

Mycobact. Tuberculosis
Scrofuloderma
TBC kutis verukosa
Lupus vulgaris
TBC kutis gumosa
TBC kutis orifisialis

B. ATYPICAL
1. Gol. I: Fotokromogen
- M. marinum
- M. ulcerans
2. Gol. II: Skotokromogen
- M. scrofulaceum
3. Gol. III:
Nonfotokromogen
- M. battey
- M. intracellulare
4. Gol. IV: Rapid growers
- M. fortuitum
- M. chelonei

Epidemiologi

15 20 juta penderita di dunia


200.000 penderita di Indo. (Irian & SulSel,
Maluku, NTT, KalBar, Sumatra, Jawa & Bali)
Sosial ekonomi, higiene dan lingkungan hidup
buruk
Usia 25 35 tahun (13% anak < 14 tahun; tak
pernah bayi < 1 tahun)

Patogenesis
Sumber penularan penderita MB
(multi-basiler) sebagai kontak (+)
melalui:
Kontak langsung erat dan lama lesi
kulit + suhu dingin (terutama
Susceptible persons)

Droplet infection (aerogen) dari/


melalui mukosa hidung (infeksi melalui
oral lambung & kulit utuh ditentang ahli)
Dapat ditularkan melalui tempat tidur,
pakaian, dll o.k diyakini M.leprae dapat
bertahan hidup beberapa hari di luar
tubuh
Kemungkinan penularan melalui gigitan
serangga diakui

KONTAK

Infeksi

Non - Infeksi

Makrofag
Sel Schwann
Sel Datia Langhans
95%

Subklinis
Ggl Spinalis

Ggl Simpatikus

Sembuh
70%

Indeterminate (I)
30%

Determinate

TT
Tuberkuloid
(polar/stabil)
Pausibasiler

BT

BB
Borderline
(tak stabil)

BL

LL
Lepromatosa
(polar/stabil)
Multibasiler

TT

BT

BB

BL

LL

Pausibasiler (PB)
(MB)

Multibasiler

Cell Mediated Immune


Bakterioskopik
Klasifikasi Ridley-Joping, 1992

Gambaran Klinis
Cermin kekebalan seluler penderita
(CMI)
Dari bbp klasifikasi yg dikembangkan,
klasifikasi Ridley & jopling (1962)
yg membagi lepra menjadi 5
kelompok atas dasar gambaran klinis,
bakteriologik, histopatologik dan
imunologis, yang digunakan dlm
bidang penelitian sekarang secara
luas dipakai dalam klinik dan
epidemiologi (utk pemberantasan)

Tipe TT & LL tipe polar yang tidak


berubah
Tipe BB
Tipe tengah
Paling tidak stabil, dapat berubah ke
tipe lain
Lesi berbentuk makula infiltratif
Permukaan berkilat

Batas lesi kurang jelas & cenderung


simetris
Lesi sangat bervariasi baik ukuran,
bentuk dan distribusinya
Khas lesi punch out = makula
hipopigmentasi yang oval cekung bag
tengah dengan batas jelas dengan lesilesi kecil di tepinya

Tipe BT
Tipe peralihan kearah TT
Berupa makula/ plakat dengan lesi
satelit di pinggirnya
Lesi 1 atau beberapa
Hipopigmentasi
Kering
Skuama tak jelas
Ada ggn saraf ringan biasanya asimetris

Tipe BL
Tipe peralihan kearah LL
Awalnya beberapa makula
Bentuk bervariasi cepat menyebar ke
seluruh tubuh disertai papel dan nodus
yang tegas dengan distribusi simetris.
Bagian tengah sering mencekung
dibandingkan pinggir luarnya

Ditemukan plak punch out lesion


Tanda kerusakan saraf spt ggn
sensibilitas, kurangnya keringat,
gugurnya rambut lebih cepat muncul
dari tipe LL serta penebalan saraf yang
teraba pada tempat predileksi

Tipe TT

Tipe BB

Perbedaan TT dan LL
Perbedaan

Tuberkuloid
(TT)

Lepromatosa (LL)

Jumlah lesi

1/ bbrp

Banyak

Efloresensi

Makula/ plakat

Papel, nodul & infiltrat

Distribusi

Asimetris

Simetris

Permukaan
Lesi

Lebih kasar

Lebih halus dan mengkilap

Tepi lesi

Batas jelas

Batas tak jelas

Anestesi

Jelas stad dini

Tak jelas, biasa stad lanjut

Sering stad dini

Terutama stad lanjut

BTA atau
sedikit

BTA banyak

Kontraktur
Bakterioskopi

Perbedaan TT. & LL.


Perbedaan

Tuberkuloid
(TT)

Histopatologi

Tuberkel

Tes Lepromin

Positif
Imunitas
seluler

Lepromatosa (LL)
Lini tenang
(Subepidermal clear zone)
Sel busa
(Foam cell/ Virchow cell)
Negatif
Imunitas seluler

Simtomatologi
1. Efloresensi Kulit

Makula, papula, nodula


Infiltrat ulkus
Makula hipopigmentasi yang khas + 5A
yaitu :

Achromia = tidak ada pigmen


Anestesia = baal
Atrofi = kulit agak mencekung
Alopesia = tanpa rambut
Anhidrosis = tidak berkeringat

2. Kelainan Saraf
a. Penebalan saraf perifer, a.l:
N.facialis: raba bagian pelipis
N.auric.magnus: raba sisi/ lateral leher
N. radialis: raba lateral lengan atas
N.ulnaris: raba dorsal epicondilus medial
N.peroneus lateral: raba dorsal capitulum fibulae
N.tibialis posterior: raba dorsal maleolus medialis

b. Gangguan sensibilitas
(+ tabung reaksi, jarum &
kapas)
Lakukan pemeriksaan:
rasa suhu (panas & dingin)
rasa sakit (tajam & tumpul)
rasa raba (sentuhan kapas)
rasa nyeri dalam

C. Gangguan Saraf Autonom

Alopesia (alis mata/ madarosis, bulu


mata)
Anhidrosis (tes potlot Gunawan, tes
histamin)

D. Gangguan Saraf Motorik


Atrofi otot thenar, hipothenar &
interphalangeal
Claw Hand & Drop Wrist
Drop Foot & Claw Toes

3. Gangguan organ-organ lain


(merupakan komplikasi), a.l:
Mata: iritis, iridosiklitis, ggn visus
(buta), lagofthalmus
Hidung: epistaksis, hidung pelana
(kerusakan tulang rawan)
Lidah: nodus, ulkus
Larings: suara parau

Ginjal: pielonefritis, nefritis interstitiel,


Glomerulonefritis, amilidosis ginjal
Testis: epididimitis, orchitis, atrofi ginekomastia
& steril
Kel limfe: limfadenitis
Tulang & sendi: artritis, tendosinovitis, absorpsi
tulang jari tangan (mutilasi)
Pada Stadium Lanjut: xerosis, ulkus tropikum,
mutilasi, ankilosis

Diagnosis
1. Anamnesa teliti ( 80%)
Keluhan utama/ tambahan
Riw kontak dengan penderita
Latar belakang keluarga, asal/
sos-ekonomi

Diagnosis
2. P.f (klinis):

Bercak kulit: makula hipopigmentasi/


eritematosa + ggn rasa sentuh, suhu
& nyeri
Penebalan saraf dan atau nyeri disertai
dengan :

Gangguan sensoris rasa nyeri sampai


dengan mati rasa
Gangguan motoris paresis & paralisis
Gangguan otonom kulit kering & retak,
edema & alopesia

3. Pemeriksaan Bakteriologi
Pew Ziehl Neelsen/ Kinyoun
Gabet/ Tan Thiam Hok
Bahan dari 6 lokasi lesi
kulit (2), cuping telinga (2),
kulit distal jari telunjuk/
tengah (2)
Bahan biopsi kulit atau
saraf

Indeks bakteri (I.B):


Untuk menentukan klasifikasi penyakit
Lepra, dengan melihat kepadatan BTA
tanpa melihat kuman hidup (solid) atau
mati (fragmented/ granular)
Indeks Bakteri (I.B)
0

BTA -

1 10/ 100 L.P

+1

1 10/ 10 L.P

+2

1 10/ 1 L.P

+3

10 100/ 1 L.P

+4

100 1000/ 1 L.P

+5

> 1000/ 1 L.P

+6

Indeks Morfologi (I.M):


Untuk menentukan persentasi BTA
hidup atau mati

Rumus:
Jumlah BTA solid
x 100 % =
X%
Jumlah BTA solid + non solid
Guna:

Untuk melihat keberhasilan terapi


Untuk melihat resistensi kuman BTA
Untuk melihat infeksiositas penyakit

4. Pemeriksaan histopatologik (utk


membedakan tipe TT & LL)
Pada tipe TT ditemukan
Tuberkel (Giant cell, limfosit)
Pada tipe LL ditemukan sel
busa (Virchow cell/ sel lepra)
yi histiosit dimana di
dalamnya BTA tidak mati, tapi
berkembang biak membentuk
gelembung. Ditemukan lini
tenang (subepidermal clear
zone)

5. Pemeriksaan tes lepromin


(digunakan utk melihat daya
imunitas pdrt thdp peny Lepra)

TES MITSUDA

Menggunakan basil lepra mati


Hasil rx diperiksa stlh 3 4 minggu
Interpretasi:
- tidak ada reaksi/ kelainan
+/- papel + eritema < 3 mm
+1 papel + eritema 3 5
mm
+2 papel + eritema > 5 mm
+3 ulserasi

TES FRENANDEZ
Menggunakan fraksi prot M.leprae
Hasil reaksi diperiksa setelah 48
jam
Interpretasi:
- tidak ada kelainan
+/- indurasi + eritema < 5
mm
+ 1 indurasi + eritema 5
10 mm
+ 2 indurasi + eritema 10
15 mm
+ 3 indurasi + eritema 15

Dalam perjalanan penyakit Lepra sering


timbul gambaran klinik yang disebut
REAKSI LEPRA (Lepra Reaction) t.d:
1. Reaksi Lepra Tipe I (Reversal
Reaction)
Sering pada tipe Pausi-basiler (TT-BB)
1.a. Reaksi Down Grading o.k.
imunitas
penderita menurun,
sehingga
proliferasi bakteri
>>, timbul lesi-lesi
baru tipe L

1.b.Reaksi Up Grading o.k.


peningkatan imunitas penderita,
sehingga lesi yang tenang
meradang akut tipe T
Gejala:
Kelainan kulit bertambah dengan
atau tanpa ringan/ berat cacat a.l.
Claw Hand

2. Reaksi Lepra Tipe II (Eritema Nodosum


Leprosum/ ENL)
Sering timbul tipe multibasiler (BLLL), di sini imunitas humoral menurun,
sehingga terjadi reaksi dengan antigen
yang banyak dilepas serta
mengaktifkan sistem komplemen
kompleks imun
Umumnya sedang dapat terapi DDS
(Dapsone)

Gejala:
Malaise, mialgia, demam sampai
menggigil
Infiltrat bertambah nodulus/ nodus
eritematosus berkelompok + nyeri
tekan terutama di muka, punggung,
dada
Iritis, neuritis, arthritis, pleuritis,
nefritis, orchitis

Faktor Pencetus:
Setelah terapi intensif
Stress fisik/ mental
Infeksi
Pembedahan
Imunisasi
Kehamilan & saat setelah
melahirkan

OBAT KUSTA BARU


OFLOKSASIN
Merupakan obat turunan
fluorokuinolon yang paling efektif
thd M.leprae
Kerja melalui hambatan thdp enzim
girase DNA mikobakterium
Dosis percobaan: 400 mg/ hari
selama 1 bulan

OBAT KUSTA BARU


MINOSIKLIN
Merupakan turunan tetrasiklin yang aktif
thdp M.lepra karena sifat lipofiliknya
mampu menembus dinding sel kuman
Cara kerjanya menghambat sintesis protein
Obat ini dapat menembus kulit dan
mencapai jaringan saraf yang mengandung
banyak kuman
Dosis uji klinis: 100 mg/ hari selama 2
bulan

OBAT KUSTA BARU


KLARITROMISIN
Merupakan obat golongan makrolid
(spt eritromisin & roksitromisin)
Mempunyai efek bakterisidal
setara dengan ofloksasin &
minosiklin ada mencit
Bekerja dengan menghambat
sintesis protein
Dosis uji klinis: 500 mg/ hari

SIFILIS
penyakit infeksi yang kronik dan bersifat
sistemik
Etiologi : Treponema pallidum
Dapat melewati sawar plasenta
Mengenai hampir semua alat tubuh
Epidemiologi

Insiden terendah di Cina


Insiden tertinggi di Amerika Selatan
Di Indonesia insidennya 0,61%
Yang paling sering stadium laten, disusul stadium I,
yang langka stadium II

Klasifikasi
Kongenita
l

Dini
Lanjut
Stigmata

Sifilis

Klinis

Stadium I
Stadium II
Stadium III

Akuisita
Epidemiolo
gik

Stadium dini
menular

Stadium lanjut tak


menular

STADIUM SIFILIS

STADIUM DINI MENULAR1 TAHUN


STADIUM LANJUT TIDAK MENULA
STADIUM REKUREN
SI
S II
S.t.
68
24
minggu
minggu
Sifilis laten dini
(menular)

S III

3 10 tahun
Sifilis laten lanjut
(tidak menular)

PATOGENESIS
Stadium dini

PATOGENESIS
Stadium dini

PATOGENESIS
Stadium lanjut

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
6-8 minggu
Anoreksia, BB, malaise, sefalgia, atralgia,
demam tidak tinggi
Kelainan pada kulit tidak gatal, yang eksudatif
(kondilomata lata dan plaque muqueuses) sangat
menular, yang kering kurang menular
Pada S II dini kelainan kulit generalisata, simetrik
dan lebih cepat hilang
Pada S II lanjut kelainan kulit setempat, asimetris,
dan lebih lama bertahan
Lesi dapat berbentuk roseola, papul, pustul atau
bentuk lain

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
Roseola
Eritema makular, berbitik-bintik, warna merah
tembaga, berbentuk bulat atau lonjong
Kelainan pertama yang tampak pada S II
roseola sifilitika
Timbulnya cepat dan menyeluruh
Dapat menghilang dalam beberapa hari/minggu,
dapat pula bertahan hingga beberapa bulan
Jika menghilang dapat meninggalkan bercak
hipopigmentasi leukoderma sifilitikum
Dapat menimbulkan kerontokan rambut

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
Papul
Bentuk yang paling sering terlihat
Dapat berskuama papulo-skuamosa
Sukama dapat di pinggir (koleret), dapat pula
menutupi permukaan papul psoriasiformis
Pada leher leukoderma koli atau collar of
Venus
Pada dahi korona venerik
Kondiloma lata paul lentikular, permukaan
datar, terdapat pada tempat lipatan kulit

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
Pustul
Jarang
Papul vesikel pustul
Sering pada kulit berwarna dan jika
daya tahan tubuh menurun
Dapat disertai demam intermiten
Disebut juga sifilis variseliformis

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
S II pada mukosa
Disebut enantem
Terdapat di mulut dan tenggorok
Berupa makula eritematosa
berkonfluensi angina sifilitika
eritematosa
Nyeri telan, suara parau
Plaque muqueuses papul
eritematosa, permukaan datar,
berbentuk miliar atau lentikular, di
selaput lendir alat genital

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
S II pada rambut
Pada stadium dini Alopesia difusa
Pada stadium lanjut Alopesia areolaris

S II pada kuku
Warna kuku menjadi putih dan kabur
Kuku menjadi rapuh
Bagian distal lempeng kuku menjadi
hiperkeratotik sehingga kuku terangkat onikia
sifilitika
Paronikia sifilitika radang kronik, kuku rusak
sampai terlepas

GEJALA KLINIS SIFILIS


STADIUM II
S II pada alat lain
KGB superfisial membesar
Uveitis anterior
Hepatomegali dan ikterus ringan
Pembengkakan sendi, tidak nyeri dann
pergerakan tidak terganggu
Peninggian sel dan protein pada CSS,
TIK

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan T. pallidum
Mengambil serum dari lesi kulit dan
dilihat dengan mikroskop lapangan
gelap, Treponema tampak berwarna
putih, pergerakan memutar terhadap
sumbunya dan bergerak perlahan
Dengan pewarnaan Buri tidak tampak
pergerakannya, hanya bentuk saja
Secara mikroskopik dan serologik tidak
dapat dibedakan dengan T. pertenue
dan T. carateum

PEMERIKSAAN PENUNJANG
T.S.S.
Lini pertama
Dibagi menjadi
Nontreponemal (tes reagin)
Tes fiksasi komplemen WR, Kolmer
Ters flokulasi VDRL, Kahn, RPR, ART,
RST
Treponemal
Tes imobilisasi TPI
Tes fiksasi komplemen RPCF
Tes imunofluoresen FTA-Abs
Tes hemoglutisasi TPHA, 19S IgM SPHA,
HATTS, MHA-TP

DIAGNOSIS BANDING

Erupsi obat alergik


Morbili
Pitiriasis rosea
Psoriasis

Dermatitis
seboroika
Kondiloma
akuminatum
Alopesia areata

TERAPI
SIFILIS

PENGOBATAN

PEMANTAUAN
SEROLOGIK

Primer &
sekunde
r

Penisilin G benzatin dosis


4,8 juta unit secara IM (2,4
juta) dan diberikan 1x
seminggu

Pada bulan I, II, VI dan


XII dan setiap enam
bulan pada tahun ke II

Penisilin G prokain dalam


akua dosis total 6 juta unit,
diberik 0,6 juta unit/hari
selama 10 hari
PAM (penislin prokain + 2%
aluminium monostrerat).
Dosis total 4,8 juta unit,
diberikan 1,2 juta unit/kali
diberikan 2x seminggu

PROGNOSIS
Sifilis yang diobati penicilin baik
Sifilis yang tidak diobati
Seperempatnya kambuh, 5% mendapat
S III, 10% sifilis kardiovaskular dan
neurosifilis, 23% meninggal
DUA, TIGA SIPUT
MENANGIS
HATI-HATI KENA SIFILIS

DAFTAR PUSTAKA
Wolff K, Johnson RA. Fitzpatricks Color Atlas &
Synopsis of Clinical Dermatology. Edisi 6. Amerika
Serikat: Mc Graw Hill, 2009.
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest, BA, dkk,
editor.. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. Edisi 7. Amerika Serikat: Mc Graw Hill,
2008.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: FKUI,
2007.
Siregar RS. Atlas Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2.
Jakarta: EGC, 2004.