Anda di halaman 1dari 28

Anestesi pada Obstetri

Denny Purbawijaya/
406147036
Kepaniteraan ilmu anestesi
RSUD Ciawi

Perubahan fisiologis pada


kehamilan
Sistem pernafasan:
1.Functional residual capacity menurun
sampai 15-20 %
2.kebutuhan oksigen (oxygen demand)
meningkat sampai 100%.
3.Ventilasi per menit meningkat
sampai 50%

Perubahan fisiologis pada


kehamilan
Sistem Kardiovaskular:
1.Peningkatan isi sekuncup / stroke volume
sampai 30%
2.peningkatan frekuensi denyut jantung
sampai 15%
3.peningkatan curah jantung sampai 40%.
4.Volume plasma meningkat sampai 45%
5.jumlah eritrosit meningkat hanya sampai
25%

Perubahan fisiologis pada


kehamilan
Ginjal:
1.laju filtrasi glomerulus meningkat
sampai 150% pada trimester 1,
menurun sampai 60% di atas
nonpregnant state pada saat
kehamilan aterm

Perubahan fisiologis pada


kehamilan
Sistem gastrointestinal:
1.peningkatan tekanan intragastrik
2.perubahan sudut gastroesophageal
junction
3.peningkatan sekresi asam lambung,
4.penurunan tonus sfingter esophagus
bawah
5.perlambatan pengosongan lambung

Perubahan fisiologis pada


kehamilan
Sistem saraf pusat:
1.peningkatan endorphin
2.pelebaran vena-vena epidural

Prinsip teknik anestesi harus


memenuhi kriteria
1. Sifat anelgesi yang cukup kuat
2. Tidak menyebabkan trauma psikis
terhadap ibu
3. Toksisitas rendah aman terhadap ibu
dan bayi
4. Tidak mendepresi janin
5. Relaksasi otot tercapai tanpa
relaksasi Rahim

Faktor resiko anestesi pada ibu


hamil
1. Kegemukan berlebihan
2. Edema berat atau anomali anatomis wajah dan
leher
3. Gigi menonjol, mandibular kecil, atau kesulitan
membuka mulut
4. Tubuh pendek, leher pendek, atau artritis leher
5. Tiroid membesar
6. Asma penyakit paru kronik
7. Penyakit jantung
8. Gangguan perdarahan
9. Pre-eklampsia berat
10. Riwayat mengalami komplikasi saat dianestesi
11. Komplikasi obstretri dan medis lain yang signifikan

Risiko yang mungkin timbul


pada saat penatalaksanaan
anestesi

1. Adanya gangguan pengosongan


lambung
2. Terkadang sulit dilakukan intubasi
3. Kebutuhan oksigen meningkat
4. Pada sebagian ibu hamil, posisi
terletang (supine) dapat menyebabkan
hipotensi (supine Hypotension
syndrome) sehingga janin akan
mengalami hipoksia/asfiksia

Anestesi Lokal
Infiltrasi langsung di sekitar luka
Blok nervus pudendus

Blok nervus pudendus

Blok nervus pudendus


Siapkan 10 cc larutan lidokain 0,5-1% untuk
anestesia.
Tangan kanan dimasukkan kedalam vagina untuk
mencapai spina iskiadika.
Jarum suntik ditusukkan sampai menembus ujung
ligamentum sakrospinarium, tepat dibelakang spina
iskiadika.
jarum diarahkan agak ke inferolateralis,
dilakukan aspirasi, untuk menghindarkan masuknya
obat anestesi lokal ke dalam pembuluh darah.
Suntikan diberikan sebanyak 10 cc dan ditunggu
selama 2-5 menit sehingga efek anestesi tercapai

Komplikasi

Pusing dan kepala terasa ringan


Tinitus
Perilaku aneh
Kejang
Terdapat gangguan pernapasan
Intoksikasi pada sistem kardiovaskuler,
dengan gejala awal hipertensi dan
takikardi, kemudian diikuti hipotensi dan
bradikardi.

Anestesi Regional
Analgesi/blok epidural (lumbal) :
sering digunakan untuk persalinan
per vaginam.
Anestesi epidural atau spinal : sering
digunakan untuk persalinan per
abdominam/sectio cesarea.

Keuntungan
Mengurangi pemakaian narkotik sistemik
sehingga kejadian depresi janin dapat
dicegah/dikurangi.
Ibu tetap dalam keadaan sadar dan dapat
berpartisipasi aktif dalam persalinan.
Risiko aspirasi pulmonal minimal
(dibandingkan pada tindakan anestesi umum)
Jika dalam perjalanannya diperlukan sectio
cesarea, jalur obat anestesia regional sudah
siap.

Kerugian
Hipotensi akibat vasodilatasi (blok simpatis)
Waktu mula kerja (time of onset) lebih lama
Kemungkinan terjadi sakit kepala pasca
punksi. (Post Dural Punction Headache/
PDPH)
Untuk persalinan per vaginam, stimulus
nyeri dan kontraksi dapat menurun,
sehingga kemajuan persalinan dapat
menjadi lebih lambat.

Kontraindikasi

Pasien menolak
Insufisiensi utero-plasenta
Syok hipovolemik
Infeksi / inflamasi / tumor pada lokasi
injeksi
Sepsis
Gangguan pembekuan
Kelainan SSP tertentu

Anestesi epidural
posisi pasien lateral
dekubitus atau duduk
membungkuk,
dilakukan
punksi antara vertebra
L2-L5 (umumnya L3-L4)
dengan jarum/trokard.
Ruang epidural dicapai
dengan perasaan
hilangnya tahanan/
Loss of resistance
pada saat jarum
menembus ligamentum
flavum

Anestesi Spinal
posisi lateral dekubitus atau
duduk,
dilakukan punksi antara L3-L4
(di daerah cauda equina
medulla spinalis), dengan
jarum / trokard.
Setelah menembus
ligamentum flavum (hilang
tahanan), tusukan diteruskan
sampai menembus selaput
duramater, mencapai
ruangan subaraknoid.
Identifikasi dengan keluarnya
cairan cerebrospinal, jika
stylet ditarik perlahan-lahan.

Obat yang digunakan

Lidocain 1-5%,
bupivacain 0.25-0.75%, atau
chlorprocain 2-3% .
Dosis yang dipakai untuk anestesi
epidural lebih tinggi daripada untuk
anestesi spinal.

Komplikasi

total spinal anesthesia


nausea,
hipotensi
kehilangan kesadaran
henti napas
henti jantung
sakit kepala setelah punksi dura
(Post Dural Puncture Headache)

Anestesi Umum
Indikasi :
Gawat janin.
Ada kontraindikasi atau keberatan
terhadap anestesia regional.
Diperlukan keadaan relaksasi uterus.

Keuntungan
1. Induksi cepat.
2. Pengendalian jalan napas dan
pernapasan optimal.
3. Risiko hipotensi dan instabilitas
kardiovaskular lebih rendah

Kerugian
1. Risiko aspirasi pada ibu lebih besar.
2. Dapat terjadi depresi janin akibat
pengaruh obat.
3. Hiperventilasi pada ibu dapat
menyebabkan terjadinya hipoksemia dan
asidosis pada janin.
4. Kesulitan melakukan intubasi tetap
merupakan penyebab utama mortalitas
dan morbiditas maternal.

Teknik
1. Pasang line infus dengan diameter
besar, antasida diberikan 15-30 menit
sebelum operasi, observasi tanda vital.
2. Preoksigenasi dengan O2 100%
selama 3 menit, atau pasien diminta
melakukan pernapasan dalam sebanyak
5 sampai 10 kali.
3. rapid-sequence induction dengan
propofol 2 2.5 mg/kgBB atau ketamine
1-2mg/kg dan 1,5 mg/kgBB suksinilkolin.

Teknik
Dilakukan penekanan krikoid, dilakukan
intubasi, dan balon pipa endotrakeal
dikembangkan. Dialirkan ventilasi dengan
tekanan positif.
O2-N2O 50%-50% diberikan melalui inhalasi,
dan suksinilkolin diinjeksikan melalui infus.
Dapat juga ditambahkan inhalasi 1.0%
sevofluran, 0.75% isofluran, atau 0.5%
halotan, sampai janin dilahirkan, untuk
mencegah ibu bangun.
Obat inhalasi dihentikan setelah tali pusat
dijepit, karena obat-obat tersebut dapat
menyebabkan atonia uteri.

Teknik
setelah melahirkan bayi dan plasenta, 20
IU oksitosin didrip IV dan 0,2 mg methergin
IM/ dalam 100 ml normal salin di drip
perlahan.
Setelah itu, untuk maintenance anestesi
digunakan teknik balans
(N2O/narkotik/relaksan), atau jika ada
hipertensi, anestetik inhalasi yang kuat
juga dapat digunakan dengan konsentrasi
rendah.
Ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar.