Anda di halaman 1dari 39

DISKUSI TOPIK

Pra Anestesi dan Obat-Obat


Anestesi
OLEH: Maria Enjelina (I11111077)
Pembimbing:
Dr. Sandhi Yudha, Sp.An

Persiapan Pre-Anestesi
1. Anamnesis

a. Riwayat anestesi sebelumnya


b. Riwayat penyakit sistemik
c. Pemakaian obat-obat tertentu
d. Riwayat diet
e. Gaya hidup
f. Riwayat penyakit keluarga

2. Pemeriksaan Fisik
Berdasarkan 6B :
a. Breath
b. Blood
c. Brain
d. Bladder
e. Bowel
f. Bone

3. Pemeriksaan Penunjang

a. Darah rutin
b. Kadar glukosa darah
c. Liver Function Test
d. Renal Function Test
e. Foto toraks
f. Albumin, globulin, elektrolit darah, CT
scan, dll

Klasifikasi ASA pasien praanestesi


Untuk menilai kebugaran fisik berdasarkan
the American of Anesthesiologists (ASA)
Kelas I : pasien sehat organik, fisiologis,
psikiatrik dan biokimia
Kelas II : pasien dgn penyakit sistemik
ringan atau sedang eg. DM ringan, HT
terkontrol, anemia ringan, brokitis kronik,
obesitas
Kelas III: pasien dgn penyakit sistemik
berat shg aktivitas rutin terbatas. Eg :
angina pektoris, ppok,

Kelas IV : pasien dgn penyakit sistemik berat : tak

dapat melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya


merupakan ancaman kehidupan setiap saat. Eg. CHF
Kelas V : pasien sekarat yang diperkirakan dengan
atau tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih
dari 24 jam. Eg. Ruptur aorta, aneurisma
Kelas VI : pasien telah mati batang otaknya yang
mana organnya akan diangkat untuk kemudian
didonorkan kepada yang membutuhkan
Jika operasi darurat dapat ditambahkan E
(emergency) atau D (darurat)

Persiapan sebelum
pembedahan
1. Pengosongan lambung : dengan cara puasa,

2.
3.
4.
5.
6.

memasang NGT. Lama puasa pada orang


dewasa kira-kira 6-8 jam, anak-anak 4-6
jam, bayi 2 jam (stop ASI). Pada operasi
darurat, pasien tidak puasa, maka dilakukan
pemasangan NGT untuk dekompresi
lambung.
Pengosongan kandung kemih.
Informed consent (Surat izin operasi dan
anestesi).
Pemeriksaan fisik ulang
Pelepasan kosmetik, gigi palsu, lensa
kontak dan asesori lainnya.
Premedikasi secara intramuskular - 1 jam

Pre-Medikasi
Tujuan :
a. Rasa takut pasien berkurang, pasien
tenang
b. Mengurangi nyeri saat anestesi dan
pembedahan
c. Mengurangi dosis dan efek samping
anestesi
d. Menambah khasiat anestesi

Golongan Obat-obat
Pramedikasi
Morfin : dosis biasa 8 -10 mg i.m depresan

susunan saraf pusat.


Pethidin : dosis 1mg / kg BB sering digunakan
seperti morfin dan menekan TD dan
pernafasan dan meransang otot polos
Barbiturat : menimbulkan sedasi,
pentobarbital dan sekobarbital dosis dewasa
100 -200 mg dan anak 2 mg/ kg BB.
Antikolinergik seperti atropin dan hiosin
efektif sebagai anti mual dan muntah,
mengurangi sekresi kelenjar.

Anestetik inhalasi

Farmakokinetik
Faktor yang menentukan kecepatan transfer
anestetik di jaringan otak:
1. Kelarutan zat anestetik
2. Kadar anestetik dalam udara inspirasi
yang dihirup pasien atau disebut tekanan
parsial anestetik
3. Ventilasi paru
4. Aliran darah paru
5. Perbedaan tekanan parsial anestetik di
darah arteri dan di darah vena

Minimal Alveolar Concentration


(MAC)
Konsentrasi zat anestesi inhalasi dalam
alveoli dimana 50% manusia tidak
memberikan respon rangsang sakit. Pada
umumnya immobilisasi tercapai pada 95%
pasien, jika kadarnya dinaikkan di atas 30%
nilai MAC.
Halotan : 0,87%
Eter : 1,92%
Enfluran : 1,68%
Isofluran : 1,15%
Sevofluran : 1,8%

Eliminasi
Sebagian besar dikeluarkan lagi lewat paru,
sebagian lewat metabolisme oleh hepar
dengan sistem oksidasi sitokrom p450 dan
ekskresi ginjal.

N20
Pemberiannya harus disertai O2 minimal
25%. Sifat anestetik kurang kuat, tapi
analgesik kuat. Pada akhir anestesia
setelah N2O dihentikan, segera berikan O2
100% selama 5-10 menit

Halotan
Pada napas spontan rumatan anestesi
sekitar 1-2 vol% dan pada napas kendali
sekitar 0,5-1 vol%. Tidak disukai untuk
bedah otak karena meninggikan alirah
darah otak melalui vasodilatasi serebral.
Halotan bersifat analgesik lemah, tapi
anestetik kuat, sehingga kombinasi halotan
dan N2O ideal jika tanpa kontraindikasi.
Pada bedah sesar, dibatasi maksimal 1 vol
%.

Enfluran
Induksi dan pulih dari anestesia lebih
cepat dibanding halotan. Kombinasi dengan
adrenalin lebih aman 3x dibanding halotan.
Pemberian enfluran 1% bersama N20 dan
O2 dgn ventilasi terkendali menurunkan
tekanan intraokular.

Isofluran

Banyak digunakan untuk bedah otak,


anestesi teknik hipotensi dan pada
pasien dengan gangguan koroner.
Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi
sampai 1/3 dosis biasa jika
menggunakan jenis anestesi ini.

Sevofluran
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat
dibanding isofluran. Bau tidak menyengat
dan tidak merangsang jalan napas. Efek
pada kardiovaskular dan sistem saraf pusat
cukup stabil.

Efek samping
1. N2O:
.Takikardia
.Pada percobaan dengan hewan

terbukti teratogenik
2. Enfluran:
.Depresi miokard yg dose-related
.Pada keadaan hipokapnia dapat
menyebabkan kejang
.Teratogenik pada hewan coba

3. Isofluran
.Takikardia
.Relaksasi uterus ibu hamil yang

kurang responsif jika diantisipasi


dengan oksitosin perdarahan
pasca persalinan
4. Sevofluran
Belum ada laporan bahayanya
terhadap tubuh

5. Halotan
.Menimbulkan sensitisasi terhadap

katekolamin
.Gangguan fungsi hati ringan dan
depresi napas
.Teratogenik pada hewan coba

Anestetik intravena

Tujuan pemakaian
Untuk induksi dan rumatan anestesia.
Menambah efek hipnosis pada analgesia

regional atau untuk membantu prosedur


diagnostik.
Menimbulkan sedasi pada tindak medik.

Barbiturat
Yang paling terkenal adalah tiopental.

biasanya dalam ampul 500 mg atau 1000


mg. Sebelum digunakan dilarutkan dalam
akuades steril sampai kepekatan 2,5 %
(1ml= 25 mg)
Hanya boleh digunakan IV dgn dosis 3-7
mg/kg dan disuntikan perlahan dlm 30-60
detik.

Tiopental menurunkan aliran darah

otak, tekanan likuor , tekanan


intrakranial, melindungi otak dari
kekurangan O2, dosis rendah bersifat
anti analgesi
70% diikat oleh albumin, 30 % dlm
bntuk bebas, sehingga pd pasien dgn
albumin rendah dosis harus dikurangi

Propofol
Dikemas dlm emulsi lemak berwarna putih

susu bersifat isotonik dgn kepekatan 1%


(1ml=10 mg)
Suntikan IV menyebabkan nyeri, sehingga
beberapa detik sebelumnya diberikan
lidokain 1-2 mg/kg IV
Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg /kg,
dosis rumatan untuk anestesia intravena
total 4-12 mg /kg/jam dan dosis sedasi
untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg.

Pengenceran propofol hanya boleh dgn

dekstrosa 5%. Pd manula dosis harus


dikurangi, pd anak <3 tahun dan pd wanita
hamil tidak dianjurkan

Ketamin
Kurang digemari untuk induksi anastesi,

karena sering menimbulkan takikardi,


hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala,
pasca anastesi dapat menimbulkan mualmuntah, pandangan kabur dan mimpi
buruk.
sebelumnya diberikan midazolam
(dormikum) atau diazepam (valium)
dengan dosis 0,1 mg/kg IV

Untuk mengurangi salivasi diberikan sulfas

atropin 0,01mg/kg
Dosis bolus untuk IV adalah 1-2 mg/kg dan
IM 3-10 mg. Ketamin dikemas dalam cairan
bening kepekatan 1% (1ml=10 mg), 5%
(1ml=50mg) dan 10% (1ml=100mg)

Opioid
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sulfentanil)

untuk induksi diberikan dosis tinggi.


Opioid tidak mengganggu kardiovaskular
sehingga banyak digunakan untuk induksi
pasien dengan kelainan jantung.
Untuk anestesi opioid digunakan fentanil
dosis induksi 20-50 mcg /kg dilanjutkan
dengan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit

Benzodiazepine
Yang sering dipakai midazolam.

Menimbulkan sedasi tanpa efek analgesia,


yaitu pada tindakan endoskopi,
kateterisasi, atau tindakan radiodiagnostik.
Pemulihan lebih lama, tapi amnesia
retrograd yang ditimbulkan bermanfaat
mengurangi kecemasan pascabedah.
Efek sedasi midazolam cepat.

Hati-hati kombinasi dengan opioid karena

menyebabkan depresi kardiovaskular dan


pernapasan.
Dosis untuk induksi 0,1-0,5 mg/kgBB.

Muscle Relaxant

Bekerja pada otot lurik terjadi

kelumpuhan otot napas & otot-otot


mandibula, otot intercostalis, otot-otot
abdominalis & relaksasi otot-otot
ekstremitas.
Bekerja pertama: kelumpuhan otot mata
ekstremitas mandibula intercostalis
abdominal diafragma.
Terbagi dua: Non depolarisasi, dan
depolarisasi

Durasi :
Ultrashort (5-10 menit): suksinilkolin
Short (10-15 menit) : mivakurium
Medium (15-30 menit) : atrakurium, vecuronium
Long (30-120 menit) : tubokurarin, metokurin ,

pankuronium, pipekuronium, doksakurium, galamin

Efek terhadap kardiovaskuler


tubokurarin , metokurin , mivakurium dan atrakurium :

Hipotensi pelepasan histamin dan (penghambatan


ganglion)
pankuronium : menaikkan tekanan darah
suksinilkolin : aritmia jantung

Dosis
Suksinil colin : 11.5 mg/kg
Atracurium : 0.5 mg/kg
Cisatracurium : 0.10.15 mg/kg
Mivacurium is 0.150.2 mg/kg
Doxacuirum : 0.05 mg/kg
Pancuronium: 0.080.12 mg/kg
Pipecuronium : 0.060.1 mg/kg
Vecuronium : 0.080.12 mg/kg
Rocuronium : 0.450.9 mg/kg

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai