Anda di halaman 1dari 107

HUKUM MARITIM

1.
2.

3.
4.
5.
6.

PENGERTIAN HUKUM
STRUKTUR ORGANISASI KAPAL DAN PEMBAGIAN
TUGAS
PERJANJIAN KERJA LAUT (PKL)
HAK DAN KEWAJIBAN AWAK KAPAL
SIJIL AWAK KAPAL
INSTANSI YANG TERKAIT DENGAN OPERASIONAL
KAPAL

( Mengacu pada STCW 1978 amandemen 1995 )

1. PENGERTIAN HUKUM

A. Pengertian Hukum

Hukum adalah : Himpunan


peraturan-peraturan yang bersifat
memaksa yang mengurus tata tertib
suatu lingkungan masyarakat.
Peraturan hukum memiliki ciri memaksa
yaitu adanya perintah atau larangan dan
harus ditegakkan dengan cara paksa.

B. Sumber Hukum

Sumber hukum yaitu segala sesuatu dari mana


orang dapat mengenal bermacam-macam
peraturan yang berlaku di dalam masyarakat
dan oleh hukum dianggap sebagai yang pada
hakekatnya merupakan peraturan-peraturan
yang mempunyai ketentuan hukum.
Sumber hukum yang utama : Undang-undang
Undang-undang yaitu setiap keputusan
pemerintah yang menentukan peraturanperaturan yang mengikat.

C. Hukum Laut

Hukum Laut yaitu rangkaian peraturan dan


kebiasaan hukum mengenai laut yang bersifat
keterpadatan dan publik.
Hukum Laut Keterpadatan Mengatur
hubungan-hubungan perdata yang timbul karena
perjanjian-perjanjian perdata.
Hukum Laut Publik (Kenegaraan) Obyek dari
peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan
baik nasional maupun internasional adalah laut
dan berisikan hak-hak dan kewajiban

Hukum Laut Publik (Kenegaraan) peraturan


peraturan dan kebiasaan-kebiasaan baik nasional
maupun internasional.

Hukum Laut Publik : berisikan hak-hak dan


kewajiban bagi negara yang berbatasan
pada laut tersebut.

Hukum Laut Publik Laut wilayah, Zona Tambahan dan


Zona Ekonomi Eksklusif.

Di laut bebas dilarang : Perbudakan, Bajak


Laut (Piraty), Pemancar Gelap (Illegal
Broadcast), Lalu Lintas Narkotik,
Pencemaran (Pollution).

2. STUKTUR ORGANISASI KAPAL


DAN
TUGAS AWAK KAPAL

NAHKODA

MUALIM
I/CH.
MUALIM
II
MUALIM III OFF
MUALIM IV
CADET
BOSUN/SERANG
MISTRY
JURUMUDI/AB
KELASI

CH.
MASINIS KKM/CHIEF
I
CH. COOK/PELAYAN
STEWARD
MASINIS II ENG
LAUNDRY
MASINIS III
ELECTRICIAN
CADET
MANDOR/FOREMAN
JURU MINYAK
WIPER

Organisasi kapal untuk tiap-tiap perusahaan kadang tidak sama.


Tetapi bagan diatas dapat dijadikan pedoman organisasi di atas kapal pada umumnya.

TUGAS TUGAS DARI AWAK KAPAL


1. Bagian Dek (Deck Departement)
a. Nahkoda
b. Mualim I
c. Mualim II
d. Mualim III
e. Mualim IV
f. Serang/Bosun
g. Juru mudi/AB
2. Bagian Mesin (Engine Departement)
a. Kepala Kamar Mesin
b. Masinis II
c. Masinis III
d. Masinis IV
e. Mandor/Foreman
f. Juru Minyak

DEFINISI - DEFINISI

AWAK KAPAL adalah semua orang yang melakukan


dinas jaga diatas kapal, tercantum dalam sijil awak
kapal dan mempunyai PKL. Termasuk Nahkoda.
NAHKODA adalah pemimpin tertinggi dan pemegang
kewibawaan diatas kapal.
ANAK BUAH KAPAL adalah mereka yang disebut
sebagai awak kapal kecuali Nahkoda.
PERWIRA adalah ABK yang didalam sijil awak kapal
diberi jabatan Perwira.
BAWAHAN ( RATING ) adalah semua ABK kecuali
Perwira
PELAYAR adalah semua orang yang berada diatas
kapal kecuali Nahkoda.

3. PERJANJIAN
KERJA
LAUT
( PKL )

Perjanjian Kerja Laut ( PKL ) adalah


suatu persetujuan antara seseorang
dengan majikan dan dengan
perjanjian itu seseorang mengikatkan
diri kepada majikan untuk untuk
bekerja menurut ketentuan yang
berlaku. (ps. 395 KUHD)

Syarat syarat PKL :


- Dibuat dan ditandatangani oleh
kedua belah pihak.
- Ditanda tangani oleh syahbandar
- Dibiayai oleh pemerintah

Jenis jenis PKL :

Berdasarkan waktu atau periode :


1. PKL untuk satu perjalanan
Yaitu PKL yang berdasarkan pelayarannya dari
pelabuhan lain, biasanya disebutkan pula
ketentuan kapal dan trayeknya.

2. PKL untuk jangka waktu tertentu


Yaitu PKL menurut waktu tertentu.

3. PKL untuk jangka waktu tak tertentu


Yaitu PKL yang tidak ditetapkan masa berlakunya
dan berakhir sesuai dengan persetujuan kedua
belah pihak.

Jenis jenis PKL

Berdasarkan sudut perbedaan dalam


undang undang :
1. PKL untuk Nahkoda
2. PKL untuk Anak Buah Kapal
Perbedaan dalam undang undang yaitu
yang menyangkut alasan alasan yang
sah ketika terjadi pemutusan hubungan
kerja.

Jenis jenis PKL

Berdasarkan pihak yang melibatkan diri :


1. PKL Perseorangan
Yaitu PKL antara seseorang dengan
majikan.

2. PKL Kolektif
Yaitu PKL antara gabungan pelaut
( organisasi Union ) dengan gabungan
majikan / pengusaha.

ISI P K L (meliputi ps. 401 KUHD) :

Nama, tempat dan tanggal lahir dari Pelaut.


Jabatan diatas kapal.
Tempat dan tanggal perjanjian dibuat
Nama kapal dimana pelaut akan bekerja.
Periode atau waktu atau trip.
Gaji pelaut dan jaminan-jaminannya.
Pernyataan apakah pelaut juga mengikatkan diri dengan
tugas lainnya selain tugas utama.
Nama Syahbandar yang ikut menandatangani.
Tanggal saat perjanjian mulai berlaku.
Pernyataan mengenai undang-undang dan peraturan yang
berlaku dalam penentuan hak dan kewajiban, juga mengenai
pemutusan hubungan kerja.
Tanda tangan Pelaut, Majikan dan Syahbandar.
Tanggal ditanda tangani dan disyahkan PKL tersebut.

AKHIR PKL :
PKL berakhir dapat terjadi karena berbagai alasan :
Alasan wajar/biasa (ps. 1603 KUH Perdata)
- Masa PKL telah berakhir, PKL bisa
diperpanjang
- Pelaut meninggal dunia
- Persetujuan kedua belah pihak
- Perjanjian tidak sah
- Salah satu pihak tidak setuju selama masa
percobaan
- Perusahaan di likuidasi

AKHIR PKL

Alasan mendesak untuk majikan (ps.


1603 KUH Per & ps. 418 KUHD)

ABK menganiaya Nahkoda atau Pelayar lainnya


Pelaut terlambat datang atau tidak datang ke kapal
tanpa ijin Nahkoda.
Kurang cakap
Suka mabuk minuman, bertingkah laku tidak senonoh
walupun sudah diperingatkan
Melalaikan kewajiban yang menjadi tanggung
jawabnya
Berkeras menolak perintah
Dengan sengaja melakukan perusakan barang milik
majikan.

AKHIR PKL

Alasan mendesak untuk Pelaut (ps. 1603


KUH Perdata & ps. 419 KUHD)

1.

Majikan menganiaya, menghina atau mengancam


pelaut atau keluarganya.
Tidak membayar upah
Majikan mengabaikan kewajibannya seperti dalam
perjanjiannya.
Tidak memberikan makan / akomodasi sesuai
dengan perjanjian.
Memerintah berlayar ke daerah perang, daerah
musuh dan tidak tercantum dalam PKL.
Menyuruh memakai kapalnya untuk perdagangan
budak, pembajakan, mengangkut barang terlarang.

2.
3.

4.

5.

6.

Alasan Penting (ps. 1603 KUH


Perdata & ps. 420 KUHD)

Dengan keputusan oleh pengadilan atas pengaduan


oleh salah satu pihak, dimana setelah
penandatanganan PKL :
Meneruskan hubungan akan menimbulkan halhal yang membahayakan jiwa si pengadu.
Semua alasan alasan yang mendesak

Alasan lain (ps. 1267 KUH Perdata

1. Dengan ganti rugi atau ganti biaya plus bunga


2. Pelaut mendapat pekerjaan lain yang lebih tinggi
gaji atau jaminannya, asal pelaut dapat
mencarikan penggantinya, akan tetapi PKL
tersebut jangka waktunya kurang dari satu tahun.

SURAT BERHENTI :
Pada tiap akhir PKL pengusaha/majikan wajib
memberikan surat keterangan berhenti bila
dikehendaki oleh pelaut, pada surat keterangan
dicantumkan keterngan mengenai :
a. Jenis pekerjaan yang telah dilakukan pelaut
b. Lama bekerja
c. Bukti diri pelaut
d. Konduite
e. Alasan PHK
f. Tanggal dan tanda tangan.

4. HAK
DAN
KEWAJIBAN AWAK KAPAL

KEWAJIBAN ANAK BUAH KAPAL :

Mematuhi perintah Nahkoda


Minta ijin setiap kali meninggalkan kapal
Minta ijin Nahkoda atau penggantinya untuk
mempunyai, menyimpan atau menggunakan barangbarang yang bukan merupakan kebutuhan wajar.
Melakukan tugas tambahan bila dianggap perlu.
Melakukan tugas dengan penuh dedikasi.
Bersedia untuk cadangan TNI-AL atau wajib militer.
Bertindak dan bertingkah laku sopan dan baik sesuai
dengan tugas, jabatan dan ketentuan perusahaan.
Mempelajari situasi keadaan kapal sehubungan
dengan alat-alat keselamatan.

HAK ANAK BUAH KAPAL :

Hak atas Upah


Hak atas tempat tinggal dan makan
Hak atas cuti
Hak awak kapal waktu sakit atau kecelakaan
Hak pengangkutan
Hak menggugat atau menuntut.

KESEJAHTERAAN AWAK KAPAL


PP no.7 Th.2000

MELIPUTI :
Jam kerja maksimal
Waktu istirahat
Upah minimum
Hak cuti tahunan
Hak apabila jatuh sakit atau tertimpa kecelakaan dalam
dinas.
Hak atas makanan yang cukup dan tempat tinggal yang
pantas.
Hak atas upah pekerjaan lembur bagi awak kapal.
Hak awak kapal yang telah habis masa kerjanya.
Ganti rugi bagi awak kapal yang kapalnya karam.
Hak bila awak kapal meninggal dunia diatas kapal.

5. SIJIL AWAK KAPAL

SIJIL KAPAL : Suatu daftar yang berisi nama-nama


(Syahbandar/

awak kapal yang dibuat dihadapan pegawai pendaftaran awak kapal


di luar negeri Konsul) .

MENURUT PASAL 375 KUHD :


1. Sijil kapal yaitu daftar semua orang
yang harus melakukan dinas sebagai
awak kapal.
2. Dinas awak kapal yaitu pekerjaan
yang dilakukan oleh mereka yang
diterima untuk bekerja di kapal
kecuali Nahkoda.

Isi Sijil Kapal :

Nama kapal
Pelayaran
Nama pengusaha
Nama Nahkoda
Nama awak kapal
Kedudukan kerja awak kapal
Penunjukan perwira kapal.

PENYIJILAN : Pembuatan sijil kapal yang dapat dilakukan


untuk waktu tertentu atau untuk sejumlah
perjalanan.
Pada waktu penyijilan Pengusaha kapal menyerahkan :
1. Perjanjian kerja yang diadakan dengan awak kapal
2. Perjanjian kerja kolektif yang masih berlaku.
Nahkoda menyerahkan :
1. Pengangkatannya sebagai Nahkoda
2. Ijazah yang diperlukan untuk jabatannya.
3. Keterangan Kesehatan.
Awak kapal menyerahkan :
1. Buku Pelaut yang masih berlaku
2. Keterangan Kesehatan
3. Ijazah atau sertifikat ketrampilan
4. Surat permohonan Pengusaha kapal (Penyijilan di kapal/di
kantor perusahaan).

6. INSTANSI YANG TERKAIT


DENGAN
OPERASIONAL KAPAL

INSTANSI / KANTOR DIPELABUHAN YANG


TERKAIT DENGAN OPERASIONAL KAPAL

SYAHBANDAR / ADMINISTRATOR PELABUHAN


BEA CUKAI
IMIGRASI
KESEHATAN PELABUHAN
PELINDO
BIRO KLASIFIKASI
ASURANSI
PERWAKILAN PERUSAHAAN KEAGENAN
CARGO SURVEYOR

MARITIME LAW

IN ASPECT OF CONTROLLING THE OPERATION OF SHIP


(Pengendalian dan pengoperasian kapal)
1.
2.

PUBLIK MARITIME LAW


PRIVATE MARITIME LAW

1. KESELURUHAN KAEDAH DAN ASAS HUKUM YANG MENGATUR


HUBUNGAN YANG BERKAITAN DENGAN KEKUASAAN ATAS LAUT OLEH
SUATU NEGARA.
YANG MENJADIKAN LAUT DARI PERMUKAAN SAMPAI DASARNYA SEBAGAI
OBYEK PERATURAN DAN KEBIASAAN NASIONAL/INTERNASIONAL YANG
BERISIKAN HAK-HAK DAN KEWAJIBAN BAGI NEGARA YANG BERBATASAN/
LAW OF THE SEA. (Prof. R. Soekardono, SH)

2. PERATURAN HUKUM YANG BERADA DALAM LINGKUNGAN HUKUM PERDATA


YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN LAUT YANG SELANJUTNYA DIGUNAKAN
ISTILAH HUKUM PENGANGKUTAN LAUT ATAU HUKUM PERKAPALAN /
SHIPPING LAW (Wirjono Prodjodikoro)

HUKUM INTERNASIONAL
SUMBER HUKUM
1. International Customery
2. Jurisprudensi
3. General Princple of Law
4. International Convention

International Convention UNO ILO, IMO, UNCTAD and Other Diplomatic


Converence.
Hukum Laut Publik Indonesia
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

TXMKO 1939
Deklarasi Djuanda 1957
Prp No.4 Th. 1960 diundangkan UU No.6 Th. 1996 tentang perairan Indonesia
UU No.1 Th. 1973 landas.kontinen Indonesia
UU No.5 Th. 1984 tentang ZEEI
UU No.9 Th. 1985 tentang Perikanan
UU No.17 Th. 1985 tentang ratifikasi UNCLOS 1982
PP No.36 Th. 2002 Hak dan Kewajiban Kapal Asing dalam melaksanakan lalu lintas
damai melalui Perairan Indonesia.

Teritoriale
TeritorialeZee
Zeeen
enMaritiem
MaritiemKringen
KringenOrdonatie
Ordonatie(TZMKO)
(TZMKO)1939
1939
Ps. 1 ay. 1 angka 1 s/d 4. Lebar laut wilayah Indonesia selebar 3 mil diukur dari garis pangkal
yang dihubungkan dari titik-titik pangkal air laut surut mengikuti liku-liku pantai.
Ps. 2 s/d 21
Ketentuan menangkap ikan di lingkungan maritim
Larangan berlabuh di lingkungan maritim
Wewenang penegakan hukum dan pengawasan kepada KSAL, komandan kapal perang dan
Nakhoda kapal Dit.Jen.La.
4. Hot Persuit

Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957


Yurisprudensi I.C.J. (M.I) tentang sengketa perikanan Norway dengan Inggris 1951/2, Degree king
of Norway 1935
1. Menghapus pasal 1 ayat 1 angka 1 s/d 4 TZMKO 39 diganti dengan Penentuan batas terotorial
lebar 12 mil diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung terluar pada pulau-pulau
Negara Indonesia.
2. Menjamin right of innocent passage bagi kapal asing

Diundangkan dengan PRP No.4 Th. 1960 UU No.6 Th. 1996 tentang Perairan
Indonesia

UU No.5 Th. 1984 tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia


ZEEI adalah jalur laut diluar wilayah Indonesia sesuai dengan UU PRP No.4 Th.60
yang lebarnya 200 mil laut yang diukur dari garis pangkal dari mana laut teritorial
Indonesia diukur.

Undang-Undang No.1 Th. 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia


Landasan kontinen adalah dasar laut dan tanah dibawahnya sepanjang kelanjutan
alamiah wilayah daratan hingga tepi kontinen atau hingga jarak 200 mil dari garis
pangkal dari mana laut teritorial diukur.
Undang-Undang No.17 Tahun 1985 tentang Ratifikasi UNCLOS 1982
United Nation Convention on the Law of the Sea 1982
Hasil konferensi PBB pada tahun 1982 di Yamaica yang dihadiri oleh 117 negara
sepakat menerima final text (adopted of final text)
Terdiri dari 17 Bab dan 320 pasal.

a. Territorial Sea
Adalah laut yang berbatasan dengan negara pantai yang diukur dari garis
pangkal selebar 12 mil.
Garis pangkal adalah garia air rendah sepanjang pantai sebagaimana terlihat
pada peta skala besar

b. Laut Pedalaman/Internal Waters adalah perairan pada sisi darat garis


pangkal laut teritorial merupakan bagian perairan pedalaman negara
pantai.
c. Negara kepulauan suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau
lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. 46/1
Kedaulatan negara pantai di a dan b diatas adalah Mutlak - Terbatas
MUTLAK adalah ........

TERBATAS adalah .

Lintasan Damai (Innocent Passage) :


Lintasan adalah : Pelayaran Kapal Asing :
- Dari laut bebas ke laut bebas melewati laut terotorial dan atau perairan pedalaman negara
pantai.
- Dari laut bebas ke pelabuhan Negara pantai dan sebaliknya.
17-18

Syarat Kapal Melaksanakan Lintas Damai


a.
b.

Dilakukan terus menerus, langsung dengan kecepatan full away


Labuh jangkar harus ada alasan

Pengertian Lintas Damai:


Lintas adalah damai sepanjang tidak merugikan bagi kedamaian, ketertiban atau
keamanan negara pantai.
Lintas dianggap Tidak Damai apabila :
1. Setiap ancaman/penggunaan kekerasan terhadap kedaulatan negara pantai.
2. Setiap latihan dengan senjata.
3. Perbuatan spionase.
4. Peluncuran / pendaratan pesawat udara.
5. Melanggar bea cukai, fiskal dan imigrasi.
6. Pencemaran laut dengan sengaja.
7. Mengganggu sistim komunikasi.
8. Kegiatan perikanan.
9. Kegiatan riset.

Alur Laut dan Skema Pemisah (TSS)

Negara pantai dapat membuat alur dan TSS di laut teritorialnya.


Kapal tangker, kapal nuclear dan pengangkut nuklir atau bahan
beracun dibatasi lintasnya.
Dicantumkan dalam peta.
(20)
Tidak ada pungutan kapal asing yang melakukan lintas damai
Pungutan sebagai pungutan pelayanan khusus saja (26)

Yurisdiksi kriminal negara pantai tidak dapat dilaksanakan untuk kapal yang damai
(27) kecuali :
Akibat kejahatan dirasakan Negara pantai.
Kejahatan termasuk yang mengganggu kedamaian dan ketertiban laut wilayah.
Atas permintaan NKD, atau oleh wakil diplomatik negara benera kapal atau
Untuk pemberantasan perdagangan gelap narkoba.
Yurisdiksi Perdata :
Negara pantai tidak seharusnya menghentikan atau merubah haluan kapal asing untuk tujuan
melaksanakan yurisdiksi perdata dengan orang yang berada diatas kapal.
Negara pantai tidak dapat melaksanakan eksekusi / menahan kapal untuk keperluan proses
Perdata, kecuali berkaitan dengan kewajiban atau tanggung jawab ganti rugi yang dipikul oleh
kapat itu sendiri dalam perjalanannya melalui laut teritorial negara pantai

Contigeouse Zone
Laut yang berbatasan dengan negara pantai yang diukur dari garis
pangkal dari mana laut teritorial diukur selebar 24 mil. Kedaulatan
negara pantai di Zona tambahan adalah :
Tidak ada pungutan kapal asing yang melakukan lintas damai
Menghukum pelanggaran aturan diatas yang dilakukan di wilayah laut.
Ps. 34. Status hukum perairan selat yang digunakan untuk pelayaran internasional,
merupakan yurisdiksi negara selat.
Kapal asing mempunyai hak transit dengan syarat :

Lewat dengan cepat


Tidak menggunakan kekerasan yang mengancam kedaulatan negara selat
Memenuhi peraturan tentang Colreg
Mengikuti prosedur tentang pencegahan pencemaran.
(39)

Ps. 41 Negara yang berbatasan dengan selat dapat menentukan :


Alur laut dan skema pemisah.
Merubah alur laut dan skema pemisah dengan catatan konsultasi dengan negara yang
berbatasan dan IMO digambarkan dalam peta dan diumumkan.

Negara yang berbatasan dengan selat membuat peraturan yang berkaitan


dengan lintas transit yaitu :
Keselamatan pelayaran dan TSS
Pencegahan dan pengendalian pencemaran
Pencegahan penangkapan ikan
Menaik-turunkan komoditi orang / barang
Ps. 43. SBN dan pencegahan, pengurangan dan pengendalian pencemaran.
Negara pemakai dan negara yang berbatasan dengan selat dapat melakukan
kerjasama dalam :
Pengadaan dan Pemeliharaan SBN
Pengendalian, pengurangan dan pengendalian pencemaran dari kapal.

Zona Ekonomi Eksklusif


Adalah laut yang berbatasan dengan negara pantai yang diukur dari garis pangkal dari
mana laut teritorial diukur selebar 200 mil.
Negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk keperluan eksplorasi dan eksploatasi
dan pengelolaan sumberdaya hayati dan non-hayati.
Yurisdiksi berkenaan dengan :
Pembuatan dan pemakaian pulau buatan, instalasi dan bangunan.
Riset ilmiah kelautan.
Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut.
(55-56)

Perairan bebas pelayaran semua kapal

Laut teritorial
12

Zona tambahan
12

ZEE
176

Laut bebas adalah


laut diluar kekuasaan
suatu negara

High Seas

Freedom on High Seas


Pulau buatan

60. Pulau Buatan, Instalasi dan Bangunan di ZEE


Negara pantai mempunyai hak Eksklusif untuk membangun dan untuk menguasakan
dan mengatur operasi penggunaan :

Pulau buatan.
Instalasi dan bangunan riset, perlindungan dan pelestarian lingkungan.
Menetapkan lebar zona keselamatan 500 meter sekeliling bangunan.
Setiap kapal harus menghormati zona keselamatan

PRIVATE MARITIME LAW (HUKUM PERKAPALAN)


SUMBER HUKUM

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)


Undang-Undang No.21 Th. 1992 tentang Pelayaran
Peraturan Pemerintah R.I. No.7 Th. 2000 tentang Kepelautan
Peraturan Pemerintah R.I. No.51 Th. 2002 tentang Perkapalan
Peraturan Pemerintah R.I. No.82 Th. 1999 tentang Angkutan Perairan
Keputusan 2 Menteri Perhubungan R.I.
Konvensi Internasional

Kapal?
Ps. 309 KUHD ..
Ps. 310 KUHD ..
Ps. 311 KUHD ..
Ps. 1 angka 2 UU No. 21 Th.1992

Ship Seaworthiness (Kelaik Lautan Kapal) Ps.1 UU No.21 Th. 1992


1.
2.
3.
4.
5.
6.
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Keselamatan kapal (Safety Ship)


Pencegahan pencemaran perairan dari kapal (prevention of pollution from ship)
Pengawakan (manning)
Pemuatan (loading)
Kesehatan dan kesejahteraan awak kapal dan penumpang (healthy and wealthy)
Status hukum kapal (national of ship)

SOLAS 1974 > 500 GT Pelayaran Internasional.


Marpol 73/78, UNCLOS 82.
KM No.70 Th. 1998 jo. STCW 78/95.
Load Line Convention 1966 > 24 m pelayaran Intl. & SK.Dit.Jen.La No.PY.66/1/1-86.
PP No.7 Th.2000 Jo. ILO 147.
KUHD, PP No.51 tentang Perkapalan, Convention on Condition Registration of ship
86. Dan UNCLOS 82.

KESELAMATAN KAPAL
Sebagai pedoman tertuang dalam SOLAS Convention 1974 dengan berbagai
amandemennya.

Terdiri dari 12 Chapter sebagai berikut :


Chapter I
Chapter II-1
Chapter II-2
Chapter III
Chapter IV
Chapter V
Chapter VI
Chapter VII
Chapter VIII
Chapter IX
Chapter X
Chapter XI-1
Chapter X-2
Chapter XII

:
General Provision
:
Construction, Structure, Subdivision & Stability, M/E Inst.
:
Construction, Fire Protection, Fire Detection and Fire
Extinction
:
Live Saving Appliances and Arrangements
:
Radio Communication
:
Safety Navigation
:
Carriage of Cargoes
:
Carriage of Dangerous Goods
:
Nuclear Ship
:
Management for the Operation of Ships
:
Safety Measures for High-Speed Craft
:
Special Measures to Enhance Maritime Safety
:
Special Measures to Enhance Maritime Security
:
Additional Safety Measures for Bulk Carriers

Chapter I terdiri dari:


Bagian A:
1. Pemberlakuan
2. Definisi-definisi
3. Pengecualian
4. Pembebasan
5. Kesetaraan

Bagian B:
1. Survey and Certificates

Bagian C: Casualties

Time table survey berdasarkan SOLAS 1974


Year

Month

9 12 15

21 24
27

33 36
39

45 48
51

57 60

IN

Safety Equipment

IN

A atau P

A atau P

Safety Radio

IN

Safety Construction

IN

A atau P

A atau P

Under Bottom Survey

cp

cp

cp

cp

cp

cp

Kapal Barang

Kapal Penumpang
Kapal Barang

Continuous Survey

2
20%

20%

29%

20%

20%

Chapter VI mengatur tentang muatan curah termasuk grain


Chapter VII memberikan kewajiban kepada negara peserta konvensi untuk
mengeluarkan petunjuk pengemasan dan pemuatan barang berbahaya (safe packing
and stowage of dangerous goods)
Chapter IX mensyaratkan tentang pengelolaan pengoperasian kapal dengan selamat
ISM Code.
Kapal cepat, kapal penumpang
Kapal tangker, Oil dan Chemical, Gas dan Bulk > 500 GT 1 Juli 1998.
Cargo Ship > 500 GT 1 Juli 2002
Chapter XI mensyaratkan tentang tindakan khusus dalam rangka meningkatkan
keselamatan.
Regulasi 3. Kapal Penumpang > 100 GT dan Kapal Barang > 300 GT dilengkapi dengan
nomor identifikasi (IMO Number)
Regulasi 4 tentang prosedur Port State Control
Tanggal 13 Desember 2002 SOLAS amandemen yang berkaitan dengan :
Chapter V yang berkaitan dengan sistim dan peralatan navigasi yang ada diatas
kapal
Chapter XI-1 berkaitan dengan nomor identifikasi dan Continuous Synopsis
Record.
Chapter XI-2 berkaitan dengan Special Measure to Enhance Maritime Security

Chapter V R.19, AIS (Automatic Identification System) > > Final date
implementasi pada saat diberlakukan survey safety equip. 1 Juli 2004 atau
31 Desember 2004 mana yang lebih dulu.
Chapter XI-1 ? R.3
Ship Identification Number (IMO Number)
Harus dipasang tetap pada bagian dalam dan bagian luar skat pemisah dan
pada bagian luar buritan, pada sisi samping atau atas dan harus terlihat
denganjelas serta tidak dapat terhapus.
Chapter XI-1 R.5. Continuous Synopsis Record (CSR)
setiap kapal harus ada CSR yang selaluy di-update berisi 13 informasi
yang berkaitan dengan: IMO number, pemilik, bendera kapal, klas, nama,
dan seterusnya.
SOLAS Chapter XI-2 (13 Reg.)
R.2. Application
C.S. > 500 GT & all pss.ship on
international voyage
Mobile offshore drilling unit transit
Application date 1 July 2004

Ad. 2. Pencegahan Pencemaran Laut dari Kapal


Ps. 1 ay. 4 UNCLOS 82. Pencemaran lingkungan laut adalah dimasukkannya oleh
manusia secara langsung atau tidak langsung, bahan atau energi ke dalam lingkungan
laut, termasuk kuala yang mengakibatkan akibat buruk sedemikian kerusakan pada
kekayaan hayati laut dan kehidupan laut, bahaya bagi kesehatan manusia dan
gangguan.
1. International Convention for the prevention of pollution by oil from ship 1954
2. International convention for the prevention of pollution from ship 1973
International conention on tangker safety and prevention pollution 1978
MARPOL 73/78
Annex I
Annex II
Annex III
Annex IV
Annex V
Annex VI

Regulation Prevention of Pollution of Pollution by Oil from Ship


Regulation Prevention of Pollution by Noxious Liquid substance in bulk (NLS in bulk)
Regulation Prevention of Pollution by harmful substances in package form
Regulation Prevention of Pollution by Sewage from Ship
Regulation Prevention of Pollution by Garbage from Ship
Regulation Prevention of Pollution by Air Pollution from Ship

Annex I telah banyak di amandemen antara lain :


Amdt. 1987 tentang penetapan teluk Aden sebagai special area 1 April 1989
Amdt. 1990 tentang HSSC (Harmonized System of Safety and Certification 2 Februari
2000
Amdt. 1991 tentang SOPEP 4 April 1993
Amdt. 1999 tentang perubahan aturan 13 G dan 26 serta IOPP cert. 1 Januari 2001

Chapter I Berisi tentang Definisi, aplikasi, kesetaraan dan survey dan sertifikasi.
Aturan 4 menetapkan bahwa setiap kapal tanker minyak > 150 GT dan non Oil tanker > 400
GT wajib dilakukan survey.
Aturan 8 memberikan hak kepada negara pelabuhan untuk melakukan
pemeriksaan kapal asing yag berada di pelabuhan negaranya (Port State
Control).

Chapter II mengatur tentang persyaratan pembuatan limbah berminyak dari kamar mesin
dan ballast voyage, dan tentang persyaratan perlengkapan dan bangunan kapal untuk
pencegahan pencemaran.

Chapter IV Regulasi 26 mewajibkan untuk setiap kapal tangker minyak > 150 GT dan non
oil tangker > 400 GT harus membuat Shipboard Oil Pollution Emergency Plan (SOPEP),
merupakan hasil dari International Convention on Pollution Preparedness Response and
Cooperation (OPRC) 1990 amdt. 1991 4 April 1993.

Syarat SOPEP:

Dibuat dalam bahasa kerja kapal atau bahasa yang dikuasai oleh Nakhoda/Pwa.
Disyahkan oleh Administrasi.

Secara garis besar SOPEP berisi :

Prosedur pelaporan kecelakaan yang menimbulkan pencemaran minyak sesuai IMO


guideline
Daftar pejabat yang dapat dihubungi pada saat kecelakaan
Rincian petunjuk tindakan yang wajib dilakukan dengan segera oleh awak kapal untuk
mengurangi dan atau mengendalikan tumpahan minyak
Prosedur kerja sama dengan penguasa lokal dalam penanggulangan pencemaran

Annex II. Regulation Prevention by Noxious Liquid Substances in Bulk (NLS in bulk).
Telah banyak dilakukan amandemen, antara lain:

Amdt. 1989 meng-update lamp. II dan III disesuaikan dengan IBC code dan BHC code 1990
Amdt. 1990 tentang HSSC 2 Februari 2002
Amdt. 1994 tentang pelaksanaan PSC 3 Maret 1996
Amdt. 1999 tentang penambahan aturan 16 berisi kewajiban, setiap kapal > 150 GT yang
dibolehkan mengangkut NLS in bulk membuat SMPEP for NLS.

Annex ini berisi antara lain :


Definisi, aplikasi, katagori NLS, daftar NLS, persyaratan pembuangan limbah NLS, sistim penataan
pipa, dengan perlengkapan pompa baik dalam pemuatan maupun dalam pembongkaran, tindakan
pengawasan, buku catatan muatan kerja diatas kapal atau bahasa yang dikuasai oleh NKD/PWA

- Di syahkan oleh Administrasi


SMPEP for NLS (Shipboard Marine Pollution Emergency Plan for NLS) 1 Januari 2003
Syarat :

- Dibuat dengan bahasa kerja diatas kapal atau bahasa yang dikuasai oleh NKD/PWA

- Di syahkan oleh Administrasi


Isi SMPEP for NLS secara garis besar :
Prosedur pelaporan kecelakaan pencemaran NLS sesuai IMO guideline yang wajib diikuti
oleh NKD/PWA.
Daftar Pejabat yang dapat dihubungi pada saat terjadi kecelakaan yang menimbulkan
pencemaran NLS.
Rincian petunjuk tindakan yang wajib dilakukan dengan segera oleh awak kapal untuk
mengurangi dan atau menanggulangi pencemaran
Prosedur kerja sama dengan penguasa lokal dalam penanggulangan pencemaran.

Annex III. Regulation for the Prevention of Pollution by Harmful Susbtance Carriage
by sea in Package form berlaku 1 Juli 1992
Diberlakukan melalui IMGD Code

Terdiri dari 8 regulasi antara lain mengatur tentang :

Ketentuan tentang Aplikasi


Pengemasan barang berbahaya
Pemberian label dan penandaan pada setiap kemasan sesuai nama produk diberi UN number
Dokumen ditambah kalimat Marine Pollutant

Annex IV. Regulation for the Prevention of Pollution by Sewage 27 September 2003
Diberlakukan untuk :
Kapal baru ukuran > 400 GT
Kapal baru ukuran < 400 GT membawa pelayar 15 orang
Kapal lama diberlakukan 27 September 2008

Perlengkapan Holding tank dan atau Sewage Tretment Plan disurvey OK


Dikeluarkan International Sewage Prevention Pollution Certificate ISPP C)

Annex V. Regulation

for the Prevention of Pollution by Garbage 31

Desember 1986
Amandemen 1994 tentang pelaksanaan PSC
Amandemen 1995 tentang keharusan kapal membuat plakat, Garbage
Management Plan dan Garbage Record Keeping 1 Juli 1997
Amandemen 2000 tentang pencatatan pembuangan sampah

Annex VI.

Regulation for the Prevention of Pollution by Air Pollution.


not jet

Survey berdasarkan MARPOL


Year

Month

9 12
15

21 24 27

33 36 39

45 48
51

57 60

Annex I

IN

A atau I

I atau A

IOPP
Cert.

Annex II

IN

A atau I

A atau I

NLS.
Cert.

GC Code

IN

A atau I

A atau I

IGD Code

IN

A atau I

A atau I

BCH
Code

IN

A atau I

A atau I

IBCH
Code

IN

A atau I

A atau I

Certificate of fitness for the Carriage of dangerous chemical in bulk.

Pemantauan (Loading)
Pembebasan atas pemantauan kapal sangat mempengaruhi keselamatan kapal
untuk kapal-kapal yang mempunyai panjang > 24 meter yang digunakan untuk
pelayaran Internasional diatur dalam Intenrational Convention on Load Line 1966
dengan segala amandemennya.
Untuk kapal pelayaran dalam negeri Indonesia diatur dalam Keputusan Direktur
Jenderal Perhubungan Laut No.PY.66/I/I-86 tentang peraturan garis muat kapal
Indonesia untuk pelayaran dalam negeri.
Pasal 13 & 14 Load Line 1966 memberi pedoman yang berkaitan dengan survey dan
marking atas kapal menurut musim dan jenis air, lampiran 1 memberikan rumusan
tentang type kapal, kekuatan bahan, penetapan lambung bebas, petunjuk
mengevaluasi lambung bebas sesuai karakteristik geograpis dan phisik kapal.
Pasal 21 sebagai dasar hukum Port State Control

Survey menurut Load Line 1966


Year

Month

9 12
15

21 24 27

33 36 39

45 48
51

57 60

IN

Batas
beban

International Load Line Certificate oleh Klas.

Lambung Timbul

Main Deck

Fw T
T

at

S
W
WNA

al
Internasional
Dalam negeri

5.1 VESSEL SURVEY & INSPECTION


INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE HARMONIZED SYSTEM OF SURVEY AND
CERTIFICATION 1988 ADOPTED THE SOLAS PROTOCOL 1988 AND LOAD LINE
PROTOCOL 1988, AND THE MARINE ENVIRONMENT PROTECTION COMMITTEE OF
IMO ADOPTED IN THE 1990 (HSSC) AS AMANDEMENT TO MARPOL
COMING INTO FORCE 2 FEBRUARY 2000

REGULATED A SUSTEM WHEREBY THE SURVEY AND CERTIFICATION


REQUIREMENTS OF THESE THREE CONVENTION ARE HARMONIZED

ADVANTAGE OF SHIP OWNER TO ENABLING DELAYS AND COST TO BE KEPT TO A


MINIMUM AND THE SAME TIME MAKING IT EASIER FOR ADMINISTRATION TO
ENSURE THAT CONVENTION REQUIREMENT ARE BEING MET.
Jadwal
HSSC

5.1 TIME TABLE HSSC


Year

Month

9 12
15

21 24 27

33 36 39

45 48 51

57 60

Kpl Penumpang

Pass. Ship Safety


Cert.

Kpl. Barang :
Perlengkapan

IN

A atau P

P atau A

C.S.Safety Equipt.
Cert.

Instalasi Radio

IN

C.S.Safety Radio
Cert.

Construction

IN

A atau I

I atau A

C.S.Safety Const.
Cert.

Mapro I

IN

A atau I

I atau A

IOPP Certificate

GC Code

IN

A atau I

I atau A

IGC Code

IN

A atau I

I atau A

Mapro II

IN

A atau I

I atau A

BCH Code

IN

A atau I

I atau A

IBC Code

IN

A atau I

I atau A

Load Line

IN

Dry docking

CP

CPP

Dry docking CS

CP

Cont. Survey

100%

20%

CPP

CPP

20%

CPP

CPP

CP

20%

20%

1. Int. Cert. of Fitness for the Carriage of Liquefied gas in Bulk


2. Int. Cert. of Fitness for the Carriage of Dangerous Chemical in Bulk

20%

Int. Load Line Cert.

Ad. 4. Pengawakan (Manning)


Human Factor
Chapter II s/d II/4 dominan
Berisi persyataran

minimum yang wajib dipenuhi untuk


memperoleh setifikat mulai rating, perwira navigasi dan nakhoda.

Chapter III s/d III/4 persyataran minimum yang wajib dipenuhi untuk memperoleh
setifikat dari tingkat KKm, perwira mesin rating dinas jaga mesin.

Chapter IV/3 mengatur persyaratan untuk memperoleh GMDSS sertifikat.


Chapter V mengatur persyaratan pelatihan khusus
Pasal X Junto R I/4 dasar hukum PSC.
Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.79 Th. 1998 tentang Pengawakan
Kapal Niaga
Pengawakan didasarkan atas daerah pelayaran dan daya mesin, terbagi :
Daerah Pelayaran semua lautan (unlimited)
Daerah pelayaran kawasan indonesia (Near Coastal Voyage)
Daerah pelayaran Lokal (radius 500 mil pelabuhan tertunjuk tidak memasuki laut
teritorial negara lain)
Kapal diawaki dengan cukup dan aman (SOLAS amd.89 RV/13 (b)
Sertifikat Keselamatan Awak Kapal
(Minimum Safe Manning Document)

Ps. 2 ILO 147 (minimum standard)


Flag State wajib membuat peraturan terhadap kapal-kapalnya yang berkaitan
dengan :
Standard keselamatan meliputi standar komp. Pwa, jam kerja, pengawakan,
pencegahan kecelakaan, umur minimum, akomodasi awak kapal dan permakanan
Melakukan tindakan yang tepat terhadap jaminan sosial (dalam hal sakit atau cidera)
Menetapkan kondisi perburuhan di kpl dgn penataan kondisi kerja & akomodasi
Mewajibkan pejabat yg berwenang melakukan pengawasan apakah ketentuan tersebut
dilaksanakan
Memberikan alternatif apabila Pejabat yang berwenang tidak melaksanakan
kekuasannya dengan efektif, pengawasannya didasarkan persetujuan awak kapal
dengan pengusaha.

Ps. 4 ILO 147 PSC


INDONESIA? dituangkan dalam PP No.7 Th. 2000 tentang kepelautan terdiri
dari:
Bab I
Bab II
Bab III
Bab IV
Bab V
Bab VI
Bab VII

Tentang Ketentuan Umum


Tentang Pelaut
Tentang Pengawakan Kapal Niaga dan Kewenangan Jabatan
Tentang Pendidikan pengujian dan sertifikasi kapal niaga
Tentang Perlindungan Kerja Pelaut
Tentang Pengawakan Kapal Penangkap Ikan
Tentang Pengawakan Kapal Sungai dan Danau

Kesejahteraan awak kapal diatur dalam pasal 21 s/d 31 antara lain mengatur tentang :
Jam kerja 8 jam / hari dengan 1 hari libur dalam 1 minggu dan hari libur resmi
Perhitungan gaji 44 jam/minggu lebih lembur
Waktu istirahat minimum 10 jam dalam 24 jam dibagi dua salah satunya 6 jam terus
menerus kecuali emergency
Tugas darurat termasuk latihan tidak dihitung lembur
Social Security awak kapal sakit
Biaya perawatan dan pengobatan dikapal dan didarat ditanggung perusahaan.
Setelah dirawat (akibat kecelakaan kerja) menderita cacat tetap yang mempengaruhi
kemampuan kerja mendapat santunan sebagai berikut :

Kemampuan kerja hilang 100%


Rp.150.000.000,Kehilangan satu lengan
40%
Kedua lengan
100%
Kehilangan satu telapak tangan
30%
Kedua telapak tangan 80%
Kehilangan satu kaki dari paha
40%
Kedua kaki dari paha 100%
Kehilangan satu telapak kaki
30%
Kedua telapak kaki
80%
Kehilangan satu mata
30%
Kedua mata
100%
Kehilangan pendengaran satu telinga
15%
Kedua telinga
40%
Kehilangan satu jari tangan
10%
Satu jari kaki
5%
Lebih dari satu anggota badan jumlah dari setiap bagian anggota badan
Awak kapal meninggal dikapal kompensasi Rp.100.000.000,- & akibat kecelakaan kerja
Rp.150.000.000,- dan biaya pemulangan / penguburan.

Ad. 6. Kebangsaan Kapal Identik dengan Pendaftaran Kapal


Latar belakang perlunya kapal mempunyai Kebangsaan.
Tidak ada satu negarapun yang mempunyai yurisdiksi di laut bebas
Pelayaran melibatkan berbagai kapal dan melintasi batas wilayah
berbagai negara.
Adanya hak dan kewajiban antara negara dengan warga negaranya.
Dasar hukum pendaftaran Kapal
UNCLOS 82
Conv. On Condition for Registration of Ship 86.
KUHD & UU No.21 Tahun 1992
Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2002

Ps.92 UNCLOS 82.


1. Ship shall sail under the flag of one state only,
shall be subject to its exclusive yurisdiction on
high sea.
2. Kapal berlayar dibawah 2 negara dapat
dianggap kapal tanpa kebangsaan

Pasal 94. Kewajiban Negara Bendera Kapal


1. Wajib melaksanakan secara efektif yurisdiksi dan pengawasan di bidang
Administrasi, teknis dan sosial
2. Menjaga keaslian kapal sesuai pada saat didaftarkan
3. Melakukan tindakan agar kapal yang mengibarkan benderanya memenuhi
syarat dalam hal :
Konstruksi, perlengkapan kapal dan kelaikan
Pengawakan, kondisi perburuhan dan pelatihan awak kapal sesuai
kententuan Internasional
Penggunaan isyarat komunikasi dan pencegahan tubrukan
4. a. Sebelum pendaftaran dan sesudah selang waktu tertentu kapal disurvey
tersedia alat navigasi 4b
b. Awak kapal mempunyai kompetensi sesuai dengan jabatannya
c. Nakhoda, PWA dan ABK sedapat mungkin benar-benar memahami
aturan internasional yang berkaitan dengan : keselamatan jiwa di laut,
pencegahan tubrukan, pencegahan / pengurangan dan
pengendalian
pencemaran laut.

DASAR HUKUM PENDAFTARAN KAPAL


Konvensi Pendaftaran Kapal 1986 Kapal > 500 Grt untuk pelayaran Internasional
Closed System & Opened System
Disponent owner mendaftarkan atas namanya.
Sentralisasi & Desentralisasi
UU No.21 Th. 1992 Ps.46 ay.2 Kapal yang dapat
didaftarkan di Indonesia adalah:
a.

Kapal ukuran > 20 m3 atau dinilai sama dengan itu

b.

Dimiliki oleh WNI, atau badan hukum yang didirikan


berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di
Indonesia.

Jakarta, Surabaya,
Semarang, Belawan, Teluk
Bayur, s/d Merauke

Desentralisasi

Closed System
KUHD 314
Kapal laut Indonesia isi > 20 m3
dapat didaftarkan didaftar kapal
yang disediakan
Kapal terdaftar sama dengan benda
tak bergerak
Kapal terdaftar dibebani hipotik

Tempat Pendaftaran ?
Keppres No.219 Th.
1958

Perubahan Hukum perdata

Merubah dari benda bergerak benda tak


bergerak
Merubah dari hak gadai hak hipotik

Prosedur Pendaftaran Kapal Kapal diukur dulu


Kapal diukur dengan 3 metode :
Pengukuran dalam negeri kapal panjang < 24 m
Pengukuran Internasional > 24 Tonnage Measurement 1966 ps. 12 PSC
Pengukuran khusus Panama Suez
Tujuan Kapasitas kapal, persyaratan awak kapal, perlengkapan
kapal, perhitungan premi asuransi dan biaya pelabuhan.

Owner
ke
Port
of
Registration mebawa :
1.
2.
3.
4.

Surat ukur
Bukti kepemilikan
Certificate of delivery
Certificate of deletation
(old)
5. Safety certificate
6. Surat Kuasa

Dipasang tanda Selar

Kapal ditaksir
nilainya oleh
Syahbandar
dan disyahkan

Pemilik ke
Kantor Inspeksi
Pajak SKUM
BBN & BM

Pemilik
dengan
SKUM
membayar
ke Kantor
Bendahara
Negara

Ke Syahbandar didaftar, diberi Gross Akte


(Certificate of Registration)

Akte Pendaftaran kapal memuat: Nomor dan tanggal Akte, Nama dan ked. Pejabat pendaftaran,
nama dan domisili pemilik, data kapal dan uraian singkat kepemilkan. (PP.51 Th. 2002)

DOKUMEN PENDAFTARAN KAPAL


1. PROOF OF OWNERSHIP
Building contract or Purchase contract
Bill of sale and Certificate of Delivery
2. TONNAGE MEASUREMENT CERTIFICATE
3. SAFETY CERTIFICATE
4. CERTIFICATE OF DEREGISTRATION ISSUED BY FORMER STATE (SECOND
HAND SHIP FROM ABROAD)
5. STATEMEN BY OWNER THAT THE SHIP IS NOT REGISTRATION ABROAD
6. STATEMEN BY OWNER GRANTING FOR NATIONALITY
7. FOR DISPONENT OWNER STATEMEN BY OWNER DOES NOT OBJECT

CANCELLATION OF REGISTRATION
1.
2.
3.

SHIP IS LOST
THE SHIP IS REGISTRATE ABROAD
THE SHIP IS NOT LONGER MEETS THE OWNER SHIP

Pasal 41 s/d 48 PP No.51 Th. 2002 tentang perkapalan


mengatur tentang kebangsaan kapal Indonesia.
Kapal yang telah didaftarkan di Indonesia dapat diberi
Surat Tanda Kebangsaan Kapal dalam bentuk :
Surat Laut untuk Kapal > 175 GT
Pas Tahunan untuk Kapal < 175 GT s/d 7 GT
Pas Kecil untuk Kapal < 7 GT

Surat Tanda Kebangsaan dapat dibatalkan bila :


Diperoleh dengan secara tidak sah
Kapal digunakan untuk melakukan kegiatan yang
membahayakan negara
Akte pendaftaran dibatalkan
Pemilik/badan hukum dinyatakan bangkrut dengan
penetapan pengadilan

Surat Laut Sementara


Pas Tahunan Sementara
berlaku 3 bulan

Surat Tanda Kebangsaan


Tidak Berlaku jika:
a. Masa berlakunya habis
b. Kapal bukan lagi kapal
Indonesia
c. Data kapal berubah
d. Kapal dirampas oleh
bajak laut
e. Kapal tenggelam

Hak HIPOTIK (MORTGAGE) adalah hak kebendaan atas benda tak bergerak yang
bertujuan untuk mengambil pelunasan hutang dari benda tersebut tanpa
menyerahkannya.
Hak GADAI (LIEN) adalah hak kebendaan atas benda bergerak milik orang lain, dimana
benda harus diserahkan untuk mengambil pelunasan hutang.

Pendaftaran kapal merupakan perbuatan Hukum Perdata yaitu :


Merubah kapal dari benda bergerak menjadi benda tak
bergerak
Merubah kapal dari hak gadai menjadi hak Hipotik
Pendaftaran kapal merupakan perbuatan hukum Publik :
Merubah kapal tanpa status hukum menjadi wilayah
hukum negara bendera kapal (Flag State Yurisdiction) Nakhoda
wajib memahami hukum negara bendera kapal.
MORTAGE, hak kebendaan atas benda tak bergerak yang bertujuan untuk mengambil
pelunasan hutang dari benda tak bergerak tanpa penyerahan atas benda tersebut.
SHIP AS COLLATERAL (GROSS AKTE/CERTIFICATE OF REGISTRATION
OWNER KRIDIT KE
BANK / OTHER FINANCIAL
PORT OF SHIP REGISTRATION
Deed of Convenant
Notary Public
Akte Pengakuan hutang dan Perintah Pemasangan HIPOTIK
PORT OF REGISTRATION
CERTIFICATE OF MORTGAGE
MORETAGE IS A LIEN BASED ON CONTRACT follow the vessel whatever hand its may passed.

Dasar hukum HIPOTIK KUHPdt, KUHD dan PP No.51 Th. 2002 tentang Perkapalan.
Setiap Akte HIPOTIK diterbitkan Gross Akte Hipotik.
Roya hipotik (pencoretan hipotik atas kapal yang tidak lagi diperlukan sebagai jaminan
kredit) dilakukan oleh pejabat pendaftar dan pencatat balik nama kapal atas
permintaan dari penerima hipotik.
List of Certificates and document should
be checked during inspection

17. SOPEP
18. Cargo Record Book

1.

ITM Certificate (69)

19. Minimum Safe Manning Document

2.

Passenger Ship Safety Certificate

20. Certificate of Competency

3.

Cargo Ship Safety Construction Certificate

21. Medical information

4.

Cargo Ship Safety Equipment Certificate

22. Stability information

5.

Cargo Ship Safety Radio Ceriticate

23. SMC and Copy DOC (SOLAS IX)

6.

Exemption Certificate

24. Ships Hull Strength & Machinery (Class)

7.

Cargo Ship Safety Certificate

8.

Document of Compliance (R II-2/54 SOLAS

25. Survey Report File (bulk or oil tanker Rest.


A.744(18)

9.

Dangerous Goods Special List or Manifest

10. Int. Cert. of Fitnes for the Carriage of Liquefied


gas in bulk (tanpa Int.)
11. Int. Cert. of Fitness for the Carriage of
Dangerous Chemical in Bulk (tanpa Int.)
12. IOPP Cetificate
13. IPP Cert. for the Carriage of NLS in Bulk
14. International Load Line Certificate
15. International Load Line Exemption Cert.
16. Oil Record Book Part I, Part II

26. Documen of authorization for carriage of grain


27. Record of oil discharge monitoring and control
system for the ballast voyage (for oil tanker)
28. The muster list, fire control plan and damage
control plan
29. Ship log book (record of test and drills)
30. P & A Manual (chemical tangker)
31. Cert. Registry or other National doc
32. Garbage management plan & GRB
33. Report of previous PSC

2. Dokumen dan sertifikat yang berkaitan dengan Awak Kapal terdiri :


Crew Agreement (PKL) Indonesia Ps. 395 dan 400 KUHD Ps.408 & 413
kalau tidak disebutkan berlaku sejak ditandatangani
Crew List (Muster Roll) 374 keharusan 2 rangkap satu disyahbandar (PP.7
Th.2000)
Seamans Identity (buku pelaut ) PP.7 Th.2000
COC dan COP, Medical Record Book

3. Dokumen Penunjang Pengoperasian Kapal.


Official Log Book & Suplement KUHD
348-352
Merupakan bukti pelaksanaan UndangUndang
Bukti pelaksanaan aktifitas kerja awak kapal
Sebagai
pertanggungjawaban
semua
tindakan awak kapal
Alat kontrol pejabat yang berwenang

Exhibitum 2x24 jam tidak termasuk hari libur


(352 KUHD)

Marine Note of Protest (kisah


kapal ps.353 KUHD 3x24
jam
setiba
kapal
di
pelabuhan isinya:
Kejadian
dalam
satu
pelayaran yang menimbulkan
kerusakan muatan
Kejadian/peristiwa
yang
menimbulkan
korban
manusia
Memberikan pertolongan jiwa
dan atau kapal
Dan semua kejadian yang
menimbulkan kerugian pihak
owner atau pihak lain

MARINE NOTE OF PROTEST


On this Nine teenth Day of Monday October in the year two thousand and
one personally appeared and presented himself me notary public.
at Moji..Capt. Herman.. Master of Indonesia motor vessel called..
Marunda.of
Jakarta official 882/Ba and 12,500 gross tonnage or there about, which sailes from
Hakata. on or about the seventeenth.. day of Sunday. Of October two
thousand and one with cargo of plawood.1,800 KT and arrived atHesaki
anchorage Moji onseventeenth day of
Sunday October 2001 at emergency call... and fearing loss or damage owing
to: On the date of 17th of October, 2001 at 21.35 Lt. whilst the vessel passed
Kanmon Kaiko by under Master command and Kanmon pilot advises, was collide
with domestic cargo ship Daich Maru.
That accident caused the damages at portside hull plate of cargo hold no.1.. (sea
attached list of extract log book and statement pf fact). during the voyage, he
hereby notes his protest against all losses, damage etc., reserving the right to extent
the same at the time and palce convenient.
Sign before me
Notary Public

Herman
Master

Prosedur dokumentasi / keluar masuk pelabuhan

The International Convention on Facilitation of International


Maritime Traffic 1965 (Fal Convention)
Prosedur dokumentasi semua dokumen & sertifikat kapal
Penyeragaman formalitas (syarat dan prosedur) resmi kapal tiba dan
meninggalkan pelabuhan
EDI (Economic Data Interchange)
Port authority pada saat kapal tiba/berangkat meminta dokumen yang
tetap ditahan berupa :

General declaration
Cargo declaration
Ships store declaration
Crews Effects Declaration
Crew List
Passanger List
Maritime declaration of health dan Postal Convention for mail

DOKUMEN YANG BERKAITAN DENGAN MUATAN


1. Mates Receipts
2. Bill of Lading
Konosemen (506 KUHD)

Surat bertanggal
Pernyataan penerimaan barang
Diangkut pelabuhan tujuan
Diserahkan pada penerima
Ada 2 syarat

Kewajiban Pengangkut: Ps. 468


ay.
1
KUHD
Wajib ganti rugi barang rusak dan
atau
hilang
sebagian
atau
seluruhnya kecuali dapat dibuktikan
bahwa kerusakan dan kehilangan
disebabkan karena malapetaka laut
yang tidak dapat dihindari atau
cacat dari barang tersebut atau
kesalahan pengiriman.

Carrier wajib menjaga kes barang yang


diangkut mulai saat diterima hingga saat
diserahkan.
Ayat 2. Pengangkutan bertanggung jawab
untuk segala perbuatan dari segala
mereka, yang diperkajakan, dan untuk
segala benda yang dipakainya dalam
penyelenggaraan pengangkutan tersebut.

Pasal 470 KUHD Pengangkut tidak


mempunyai hak membatasi tanggung
jawab atas kerugian barang yang diangkut
sebagai
akibat
:
Kurang
diusahakannya
pemeliharaan,
perlengkapan
/
pengawakan.
Kurang diusahakan kemampuan alat angkut
Kurang melaksanakan pengamanan atas
barang yang diangkut Rp.600/potong (ok)

Pasal 471 KUHD ada janji untuk membatasi tanggung jawab


pengangkut, tetapi tidak membebaskan ia dari tanggung jawab
apabila dibuktikan adanya kesalahan atau kelalaian dari
pengangkut sendiri atau orang yang bekerja untuknya.

Saat dimulainya tanggung jawab pengangkut :


Pasal 468.
Pengangkut berkewajiban untuk menjaga keselamatan barang
yang diangkut mulai saat diterimanya hingga saat diserahkannya
barang tersebut.

Art. 2 Hague Vis by Rule


The carrier shall be subject to responsibility and liability in relation
to loading stowage and discharge.

INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE UNIFICATION OF CERTAIN RULES OF LAW


RELATING BILL OF LADING 1924
AMANDEMEN 1968
HAGUE VIS BY RULE 1968
Art. 1(b). Three function of B/L

1.

A Document of title
Evidence of contract of carriage
Evidence of receipt

Art. 3 (b). Obligation of Carrier


Before and the beginning of the
voyage to exercise Due diligence
(2) Pengangkut
wajib
melakukan
tindakan yang benar dan pemuatan
dan atau pembongkaran serta
menangani muatan dengan baik.

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Act of God
Act of war
Public enemies
Penahanan / penyitaan
Akibat pembatasan karantina
Tindakan atau kelalaian shipper
Pemogokan buruh

Cassatoria Clause
Parramount Clause

Ia mempunyai hal imunitas dalam hal


kerusakan sebagai akibat :
1.

Tindakan, kelalaian atas kesalahan NKD,


ABK pandu atau orang yang bekerja pada
pengangkutan dalam hal Navigasi

2.

Kebakaran, kecuali akibat kesalahan atau


sepengetahuan pengangkut.

10.

Kerusuhan dan pemberontakan

11.

Penyelamatan jiwa / harta di laut

12.

Susut (sifat barang)

13.

Pembungkus yang tidak cukup

14.

Merk yang tidak jelas

15.

Cacat tersembunyi

Clausula Cassatoria
In accepting this B/L, the shipper and consignee agree to bound by all its
stipulation, exception and conditions, whether written, printed or stamped on front
or back here of this B/L.

In witness whereof two original B/L have been signed, if not otherwise stated
below, one of which being accomplished the other to be void.

Melindungi
Melindungi Carrier
(one
(one for all, all for one)
Paramount
Paramount Clause.
Clause.
Merupakan
Merupakan syarat
syarat utama
utama yang
yang menunjuk
menunjuk hukum
hukum mana
mana dalam
dalam pemberlakuan
pemberlakuan B/L.
B/L.
Hague-Visby
Hague-Visby Paramount
Paramount Clause.
Clause.
This
This B/L
B/L shall
shall be
be deemed
deemed to
to incorporate
incorporate the
the rules
rules generally
generally known
known as
as the
the HagueHagueVisby
Visby rules,
rules, namely
namely those
those rules
rules are
are contained
contained in
in B/L
B/L convention
convention 1924
1924 as
as amended
amended by
by
rd
protocol
protocol signed
signed at
at Brussels
Brussels on
on February
February 23
23rd 1968,
1968, subject
subject however
however to
to any
any
enactment
enactment thereof
thereof which
which compulsorily
compulsorily aplicable.
aplicable.

Terkait dengan ketentuan hukum kalau terjadi sengketa

Macam dan Jenis B/L


1. Ditinjau dari kondisi barang
a.
b.

Clean B/L
Tertulis. Received for shipment in apparent good order and condition
Foul Bill of Lading
Received for shipment inadequate packing, quality quantity unkown LOI

2. Ditinjau dari penerima barang


a.

b.

c.

Order B/L (B/L atas Perintah)


Halaman depan tertulis Shipper, nama penerima tidak tertulis
Shipper terima B/L dari Carrier, dipindah tangankan kepada penerima dengan
endorsemen di pelabuhan tujuan.
Straigh B/L
B/L atas nama, penerima barang (Consignee namanya tercantum) kalau dipindah
tangankan harus dilampiri Acta Cessi.
B/L to Bearer (kepada pembawa)
Yang berhak menerima barang adalah si pembawa. Tertulis The holder of this bill of
lading is the owner of goods state herein.

3. Ditinjau dari pelabuhan tujuan


a.

Through Bill of Lading


B/L berlaku untuk beberapa kapal pengangkat / first carrier second carrier (ok)

b.
c.
d.

Direct Bill of Lading


Menunjuk pelabuhan tujuan
Option Bill of Lading
Pelabuhan tujuan belum ditetapkan pada saat kapal sudah berlayar.
Groupage Bill of Lading
Muatan dalam kontainer dengan pelabuhan tujuan sama dengan cara L.C.L.

4. Ditinjau dari pengapalan


a. Shipped Bill of Lading
b. Tobe Shipped Bill of Lading

5. Ditinjau dari segi perdagangan


a. Negotiable Bill of Lading
b. Non Negotiable Bill of Lading

Unlawful merchandises (ok)

374 KUHD. Manifest adalah


surat keterangan muatan yang
menerangkan tentang semua
muatan yang ada diatas kapal,
pelabuhan muat, pelabuhan
bongkar, nomor B/L dari
muatan dan penerima barang

Surat pernyataan NKD atas semua


di kapal, macam, jenis dan jumlah

STANDARD FORM BILL OF LADING


a. VISCONBILL
Liner term approved by Baltic International Maritime Conference (BIMCO) in
corporating the Hague-Visby rules.
b. COMBICONBILL
Combine transport B/L (negotiable), BIMCO, January 1971
c. ACL B/L (atlantic container B/L)
d. SEAWAY BILL (Non negotiable B/L)
Nama dan alamat wajib tertulis didalamnya
Dalam penyerahan barang tanpa membawa B/L, cukup dengan membawa
tanda pengenal sesuai dengan nama tercatat dalam B/L

CHARTER
CHARTERPARTY
PARTY
Ps.
Ps.454
454KUHD.
KUHD.Suatu
Suatuakta
aktapersetujuan
persetujuantentang
tentangpencharteran
pencharterankapal
kapal
Ps.
Ps.453
453KUHD.
KUHD.Charter
Chartermenurut
menurutwaktu
waktudan
danmenurut
menurutperjalanan
perjalanan
Time Charter Charter hire based on time
Voyage Charter charter hire based on Voyage or Voyages. (ok)

STANDARD
STANDARDFORM
FORM TIME
TIMECHARACTER
CHARACTER
1.1. DRY
DRYCARGO
CARGO
2.2. TANK
TANK
3.3. SUPPLY
SUPPLY

Standard

form

dry

Cargo

BALTIME STANDARD FORM, (Baltic and International Maritime


Conference)
LINERTIME
STANDARD
FORM
TIME CHARTER GOVERNMENT FORM APPROVED BY NEW YORK
PRODUCE EXCHANGE PRODUCE EXCHANGE

b.

Re-Delivery

Redelivery
Notice
Last
Acceptance of redelivery (off hires)

Clause
place
Voyage

g. Owner Obligations
Wages, store
Vessel insurance,
Crew assistance
Documentation

d. Off Hire
Suspension of hire (breakdown clause)
Inability to perform service > 24 hours

2. Liner time Standard form


Ada
tambahan

pencharter
mempunyai
hak
pilihan
menggunakan
form
B/L

pemberlakuan Hague-Visby rules


and Both to Blame collision clause.

h. Character Obligations
Voyage expenses
Bunker fuel
Agency cost
Stevedoring
Advance to master

3. Produce Exchange
Charter
hire
B/L

15 hari dimuka
US Dolar
COGSA Par. Clause

Off hire

at once

Arbitration

BALTIME
30 hari dimuka
Tidak harus US $
Hauge rule
> 24 jam

New York
(ok)

Fleksibel

BARE BOAT CHARTER (DEMISE CHARTER)


OWNER

DISPONENT

CHARTERER

OWNER

CHARTERER

CARRIER

CARRIER INCLUDES THE


OWNER OR CHARTERER
WHO ENTER IN TO A
CONTRACT WITH SHIPPER
(ART.1)

OBLIGATION.
LIABILITY
TO
THIRD
LIABILITY
FOR
OPERATION
LIABILITY
MAINTENANCE
INSURANCE
P&I

PARTY
COST
COST

BARECON. A. THE BALTIC AND


INTERNATIONAL
MARITIME
CONFERENCE STANDARD BARE
BOAT CHARTER. (ok)

VOYAGE CHARTER
Ps. 453 KUHD. Suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan diri untuk
menyediakan kapal tertentu, seluruh atau sebagian kepada pihak lawannya, dengan maksud untuk
baginya mengangkut orang atau barang melalui laut dalam satu perjalanan atau lebih dengan
pembayaran harga pasti.

Charter hire based on voyage or voyage


Dibagi 4 Tahap
1. Approaching Voyage

3. Carrying process

Loading process & Discharge process


COOPERATION BETWEEN OWNER
ANG CHARTERER

2. Loading Process

4. Dischange process (ok)

STANDARD FORM VOYAGE CHARTER


A. Dray Cargo

The Baltic and International Maritime Conference Scandinavian Voyage Charter 56 (Code
name SCANCON)
The Baltic and International Maritime Council Uniform General Charter (Code name
GENCON)
Grainvory (Grain Voyage Charter)

B. Tank

Gasvoy (Liquid gas except. LNG)


EXXONVOY (Tanker Voyage Charter)
BEEPEEVOY

Laytime : Jangka waktu yang disepakati oleh Owner dan Charterer dimana selama waktu tersebut
Owner menyediakan kapalnya untuk melaksanakan pemuatan / pembongkaran tanpa tambahan
biaya kecuali uang tambang.

2. Per workable hatch per day


1. Per hatch per day
Quantity of Chargo
Lay Time = --------------------------------------------------Dialy rate X numb. Of hatch

Larges Quantity of one hold


-------------------------------------------------------------------------Dialy rate/hatch X numb. Hatch serv. That hold (ok)

Parties agree that the loading rate to be 1000 metric ton per-hatch per-day,
kapal lima palka bekerja masing-masing satu gang, jumlah muatan total
15000 metric ton Laytime?
Parties agrees that rate per workable hatch per-day = 1000 metric ton, palka
yang paling besar mempunyai kapasitas 4000 mts palka yang bekerja satu.
Laytime?

Exception of Laytime.
1. Weather permitting
Apabila cuaca tidak memungkinkan untuk pemuatan laytime tidak dihitung.
(Laytime for loading 500 mts per-hach per-day weather permitting.

2. Weather working day of 24 hours (Weather working day of 24 hours)


3. SHEX EIU (Sunday holiday excepted even if used)
Apabila kegiatan muat / bongkar dilakukan selama waktu dikecualikan laytime
tidak dihitung.

4. SIEX UU (Sunday Holiday Excepted Unless Used)


(Sunday and holiday excepted unless used in which case only time actually used
to count) (ok)

Commencement
Commencement of
of LAYTIME
LAYTIME
ARRIVED SHIP?

1. Kapal telah tiba dilingkungan


administrasi, hukum dan fiskal
pelabuhan
(port
charter)
Kapal telah tiba di pelabuhan
dan telah sandar
(berth
charter)

1.1. Wheter
Wheterin
inport
portor
ornot
not(WIPON)
(WIPON)
Whether
Whether in
in berth
berth or
or not
not
(WIBON)
(WIBON)
Wheter
Wheter Customs
Customs cleared
cleared or
or
not
(WCCON)
not
(WCCON)
Whether
Whether in
in free
free praqtique
praqtique or
or
not
(WIFPON)
not (WIFPON)

NOR TENDER
Laytime commence 13.00 NOR tender before noon.
Laytime commence 06.00 next morning, NOR tender after noon.

WIBON
Apabila kapal tiba belum tersedia dermaga untuk muat bongkar, dan kapal menunggu atau off the
port, Nakhoda berhak menyerahkan NOR, dan laytime mulai dihitung. Dan akan berhenti dihitung
begitu tersedia dermaga dan akan dilanjutkan apabila kapal siap muat/bongkar. (ok).

Demurage
Kesepakatan atas sejumlah pembayaran oleh charterer kepada owner sebagai
akibat kapal delay melampaui laytime.

Dispatch

adalah kesepakatan atas sejumlah pembayaran yang dilakukan oleh


Owner kepada charterer jika pelaksanaan muat/bongkar selesai sebelum laytime
habis.

Trip Time Charter


Charter ini pada dasarnya merupakan time charter dengan dasar sewa berdasarkan atas
waktu, dengan periode waktu tidak ditetapkan, tetapi lamanya waktu didasarkan atas
perjalanan.

Deadweight Charter
Adalah bentuk charter dimana pencarteran didasarkan atas kapasitas seluruh ruang
muat kapal (net tonnage) dimana pencharter wajib membayar charter hire seluruh
kapasitas ruang muat kapal tidak menjadi masalah apakah pencharter hanya dapat
memenuhi sebagian dari kapasitas ruang muat.

Clean Charter
Pengertian dari clean charter ini pada dasarnya tidak membebankan kepada Owner
komisi yang berupa return commission yang dikenal dengan Adress Commission.

Reversible laytime berarti suatu pilihan yang diberikan kepada pencharter


untuk menjumlahkan waktu yang dibolehkan untuk muat dan bongkar.
Dimana pilihan dalam penggunaan berpengaruh pada jumlah waktu yang
mencakup kegiatan muat dan bogkar.
Average laytime adalah perhitungan terpisah untuk kegiatan pemuatan dan
pembongkaran dan setiap adanya waktu yang dihemat dalam salah satu
kegiatan dapat diperhitungkan dengan kelebihan waktu yang digunakan pada
kegiatan lain.

Despatch on (all) Working Time Saved atau on (all) laytime Saved


(WTS)
Bahwa despatch money akan dibayarkan atas selang waktu selesainya
pemuatan / pembongkaran sampai dengan berakhirnya laytime diluar periode
waktu yang dikecualikan.
Despatch On All Time Saved (ATS)
Despatch money akan dibayarkan atas selang waktu selesainya
pemuatan/pembongkaran sampai dengan berakhirnya laytime, termasuk
selang waktu yang dikecualikan dalam laytime.

Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut


1. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 tentang Penyelenggaraan
dan Pengusahaan Angkutan Laut
2. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1988 tentang Penyelenggaraan
Pengusahaan Angkutan Laut.
Peraturan pemerintah ini mulai diberlakukan tanggal 21 November 1988.

Peranan Nakhoda di atas Kapal.


1. Nakhoda mempunyai kewenangan untuk melaksanakan fungsi
pemerintah atas nama negara bendera kapal (official function on behalf
of the flag state)
2. Nakhoda bertanggung jawab atas keselamatan kapal, muatan,
penumpang dan anak buah kapal selama pelayaran.
3. Pada saat kapal di negara lain Nakhoda merupakan perwakilan dari
pemilik kapal, pemilik muatan dan para pihak lain yang mempunyai
kepentingan.

Tubrukan / Collision
I. Tanggung jawab terhadap
kerusakan kapal.

1. Berdasarkan pasal 537 KUHD menyatakan, jika bertubrukan keduanya


bersalah maka perlu ditentukan tingkat kesalahannya masing-masing.
2. International Convention for the Unification of Certain Rules Realating to
Collision between Vessels 1910 (Brussel Convention).
Tanggung jawab pemilik kapal besar kecilnya ditentukan dari tingkat
kesalahan masing-masing kapalnya. Namun apabila tingkat kesalahan tidak
dapat dinyatakan, maka tanggung jawab masing-masing adalah sama.
Pada hakekatnya Brussel Convention 1910 bertolak dari tiga prinsip utama
yaitu :
a.
b.
c.

No foult no Liability
Foult Liability
Both to blame, division of liability proporsionally to the degree of foult.

II. Tanggung Jawab Terhadap Muatan


Brussel Convention 1910, menyatakan bahwa kapal tidak bertanggung jawab atas kerusakan
muatan atau harta benda lain dari pihak ketiga, kecuali sesuai perimbangan dari tingkat
kesalahan.

Hague Visby Rules 1968, dalam kasus tersebut pemilik muatan hanya mendapatkan ganti rugi
kerusakan atas muatan dari kapal yang tidak mengangkut karena kesalahan yang disebabkan
error of navigation dari pengangkut, membebaskan ia dari tuntutan ganti rugi jika pemilik telah
melakukan tindakan kewajaran (due diligence).

III.

Pembagian tanggung jawab kerusakan dalam tubrukan

Pembagian kerugian dalam both to blame dengan menggunakan pedoman Brussel Convention
1910 dan atau Merchant Shipping ac 1995.

1. Tubrukan yang menimbulkan kerusakan kapal saja.


Kapal A Tubrukan dengan Kapal B, tingkat kesalahan Kapal A 2/3 dan Kapal B 1/3
Kerugian Kapal A
Biaya perbaikan
Kerugian akibat watu akibat perbaikan

10,000$
2,400$
12,000$

Kerugian Kapal B
Biaya perbaikan
Kerugian akibat watu akibat perbaikan
Jumlah Kerugian A + B

15,000$
3,000$
18,000$
30,000$

A bertanggung jawab 2/3 atas kerugian kapal B.


Biaya perbaikan Kapal B 2/3 x 15,000
Kehilangan atas waktu Kapal B 2/3 x 3,000

10,000$
2,000$

Jumlah tanggung jawab Kapal A terhadap Kapal B

12,000$

B bertanggung jawab 1/3 atas kerugian Kapal A


Biaya kerugian Kapal A 1/3 x 9,600
Kerugian waktu Kapal A 1/3 x 2,400

3,200$
800$

Jumlah tanggung jawab Kapal B terhadap Kapal A


Pemilik Kapal A hutang pada pemilik Kapal B
12,000 4,000

4,000$
8,000$

Pemilik Kapal A berkewajiban membayar


Kerugian Kapalnya sendiri
Pembayaran kepada pemilik Kapal B
Jumlah kerugian Kapal nyata A

12,000$
8,000$
20,000$

Pemilik Kapal B berkewajiban membayar


Kerugian kapalnya sendiri
Dikurangi dengan pembayaran dari A

18,000$
8,000$

Jumlah kerugian nyata kapal B

10,000$

Salvage
No cure no pay merupakan prinsip umum dalam pertolongan (salvage)
dimana bahwa salvor baru akan mendapatkan imbalan apabila usahanya
dalam penyelamatan berhasil.
Besar kecilnya upah tolong tergantung dari kondisi pertolongan yang diberikan dan
nilai barang yang diselamatkan serta besarnya risiko yang dihadapi oleh penolong.

Lloyds Open Form of Salvage Agreement (no cure no pay). Form ini
merupakan kontrak salvage yang secara International sudah diakui.

Mengatur tentang penyelesaian secara arbitrasi untuk mengatasi klaim atas Salvage.
Hal tersebut disebabkan bahwa dalam Lloyd Opened Form tidak dicantumkan
besarnya upah tolong yang akan diterima oleh penolong.

1.
2.
3.
4.
5.

Hasil usaha dari penolong


Tingkat bahayanya dalam penolongan
Lamanya waktu yang digunakan
Biaya yang dikeluarkan oleh penolong dan
Nilai kapal / Properties yang berhasil diselamatkan

Faktor-faktor yang dijadikan dasar pertimbangan dalam menentukan besar kecilnya salvage
reward (upah tolong) yaitu :
1. Nilai kapal dan harta lainnya
2. Ukuran keberhasilan
3. Tingkat bahaya yang dihadapi
4. Usaha dan keterampilan dari penolong
5. Waktu dan biaya yang digunakan dalam penyelamatan
6. Tanggung jawab atas resiko yang dihadapi

8.3. Salvage berdasarkan hukum Indonesia


Ps. 545 Tanpa ijin Nakhoda, siapapun tidak diperbolehkan memberi pertolongan.
Ps. 547 Barang / Kapal yang ditemukan pihak penolong harus diserahkan pada
nakhoda/pemilik dengan menerima jaminan upah tolong.
Ps. 548 Penolong akan kehilangan hak atas upah pertolongan jika kapal/barang yang
ditolong tidak diserahkan kepada nakhoda pemilik.
Ps. 549 Segala biaya yang dikeluarkan dalam upaya penolong sampai ke tempat
harus dibayar oleh mereka yang menerima.
Ps. 550 Jika Nakhoda tidak berada di tempat, kapal / barang
diserahkan kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri.

yang ditolong

Ps. 560 Upah penolong harus dibayarkan, termasuk jika penolong tidak berhasil.

Ps. 561 Dalam hal adanya perselisihan upah penolong itu harus ditetapkan oleh
Hakim menurut keadilan.
Ps. 562 Upah penolong tidak boleh melebihi harga barang yang diselamatkan.
Ps. 568 Pengusaha kapal, Nakhoda dan semua anak buah kapal berhak atas upah
penolongan apabila kapalnya memberikan pertolongan.
Ps. 568f Apabila sebuah kapal oleh Nakhoda dan anak buahnya telah ditinggalkan dan
diterima oleh para penolong, maka nakhoda tersebut adalah setiap waktu leluasa
untuk kembali kekapalnya dan mengambil kembali kekuasaannya atas kapal, dan
apabila tidak ia kehilangna upah tolong.

Penundaan / Towage

a. Harbour Towage

b. Ocean Towage

Dimana kapal tunda


dalam
pelaksanaan
penundaan
dibawah
perintah Nakhoda atau
Pandu laut yang ada di
atas kapal tersebut.

i.

Penundaan tongkang dengan kondisi dimana tongkang yang ditunda


diawaki oleh pemilik kapal tunda dan Nakhoda kapal tunda bertindak
dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan seluruh operasi
penundaan.

ii. Penundaan atas kapal tanpa awak (unmanned ship) atau


tongkang.
iii. Penundaan Kayu (Towage of Timber)
Penundaan jenis ini dulu jiga dikenal di Indonesia pada saat masih
diperbolehkan untuk ekspor log.
iv. Long Distance Towage khusus untuk Dok Apung, Oil Rig dan bagian
badan kapal untuk pembangunan kapal.
Klausula tanggung jawab (Liability Clauses) biasanya berisi
ketentuan sebagai berikut :

i.

Pemilik tug boat tidak bertanggung jawab atas setiap kerusakan


(Tug Owner will not responsible for any demage..atau juga sering
tertulis Owner of the vessel shall take on his account of all demages,

ii. Exception to the general principle whereby the tug owner is


liable for the demaegs caused as a result of want of due
diligence on his part.
iii. The owner of the vessel to idemnify the tug owner against any
claim arising from third party.

Dalam penundaan atas kapal tanpa awak yang


bermuatan sering pemilik kapal tunda disamakan
tanggung jawabnya sebagaimana sebuah kapal
mengangkut muatan.

Tanggung jawab Pencemaran laut oleh minyak dari kapal


Ad.1.

1. Tanggung Pidana
2. Tanggung Perdata

Tanggung jawab Pidana adalah tanggung

jawab yang dibebankan kepada awak kapal


dengan ancaman hukuman penjara dan atau
denda apabila mereka dengan sengaja membuang
limbah pencemaran dari kapal tidak sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. (diatur dalam UU Negara
masing-masing)

Ad.2 Tanggung jawab Perdata adalah tanggung jawab yang dibebankan kepada
pemilik kapal atas kompensasi dan ganti rugi sebagai akibat kapalnya merusak
lingkungan laut yang ditimbulkan pencemaran minyak dari kapalnya.

Diatur dalam International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage 1969
amandemen 1992.
Berdasarkan CLC 69, Owner bebas dari tanggung jawab ganti rugi / kompensasi apabila :
1. Pencemaran disebabkan sebagai akibat perang
2. Sebagai akibat sabotase baik dari dalam maupun dari pihak ke tiga
3. Nyata-nyata kesalahan negara korban yang bertanggung jawab atas bekerjanya sarana bantu
navigasi.

CLC 1969 AMANDEMEN 1992


i.

Kapal mengangkut < 5000 ton maksimum tanggung jawabnya sebesar 3 juta
SDR (3,8 juta US $)
ii. Kapal mengangkut minyak 5000 ton sampai dengan 140.000 ton batas
tanggung jawab maksimum sebesar 3 juta SDR ditambah 420 SDR setiap
kenaikan tonage kapal.
iii. Kapang mengangkut > 140.000 ton maksimum sebesar 59.7 juta SDR (76 juta
US $)

International Fund 71 amandemen 1992

Suplement yang diberikan oleh International Fund (Fund Compensation)


maksimum sebesar 135 juta SDR (171 juta US $)

Certificate of Insureance or other Financial Security in respect of


Oil Pollution Damage (art. VII section 2 or 12)
Sertifikat Dana Jaminan Ganti Rugi Pencemaran Laut
Art. VII, section 2
A Certificate attesting that insurance or other funancial security is in
force in accordance with the provisions of this convention shall be
issued to each ship by Contracting State.
1. Jelaskan hubungan antara CLC 69, International Fund 71 dan P &
I? Coba cari jawaban sendiri.
2. Akibat apa yang timbul apabila kapal pengangkut minyak berat
dan minyak mentah tidak mempunyai sertifikat dana jaminan
ganti rugi pencemaran laut (Certificate of Insurance or other
Financial Security in respect of oil pollution damage).
3. Berdasarkan CLC 69 kapal pengangkut minyak berat dan minyak
mentah mempunyai batas tanggung jawab ganti rugi. Berapa
besar batas tanggung jawab berdasarkan tonage kapal.
4. Bagaimana apabila batas tanggung jawab terlewati.

LEGAL DISPUTE IN SHIPPING


TIMBUL SEBAGAI AKIBAT SALAH SATU PIHAK
TIDAK MELAKUKAN KEWAJIBANNYA
PERMASALAHAN TIMBUL :
a. Pengadilan mana yang mengadili
b. Hukum mana yang diberlakukan

INTERNATIONAL UNIFICATION

INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE UNIFICATION OF CERTAIN RULES


CONCERNING CIVIL YURISDICTION CHOICE OF LAW AND RECOGNATION AND
ENFORCEMENT OF JUDMENT IN THE MATTER OF COLLISION 1977

Art.4.
1. Apabila tubrukan terjadi dilaut wilayah suatu negara, maka Yurisdiksi negara
tersebut dapat digunakan.
2. Apabila collision diluar wilayah negara maka :
a.
b.

Jika yang bertubrukan melibatkan dua kapal yang berbendera sama, maka hukum
negara kapal yang diberlakukan.
Jika kapal yang bertubrukan berbendera negara yang berbeda, dan kedua negara
peserta konvensi maka konvensi yang diberlakukan.

DISPUTE BASE ON CONTRACT


CONTRACT OF CARRIAGE OF GOOD AND MULTIMODAL TRANSPORTS
INTERNATIONAL UNIFICATION
UNITED NATION CONVENTION ON INTERNATIONAL MULTIMODAL
TRANSPORT OF GOODS, GENEVA 1980
PENGADILAN NEGARA SETEMPAT MEMPUNYAI WEWENANG DENGAN KETENTUAN:
PRINCIPAL BERKEDUDUKAN DINEGARA TERSEBUT ATAU
KONTRAK PERJANJIAN DIBUAT DINEGARA TERSEBUT, DENGAN CATATAN ADA KANTOR
CABANG AGEN DI NEGARA TERSEBUT ATAU :
PORT OF LOADING / PORT OF DISCHARGING

ARBITRATION
P
ARBITRATOR

&

T
ARBITRATOR

ARBITRATION (UMPIRE) FINAL AWARD

ARREST OF SHIP
SEBAGAI SITA JAMINAN AGAR PEMILIK KAPAL MENYELESAIKAN
HUTANG BAIK BERUPA MARITIME LIEN ATAU HUTANG LAIN
ACTION IN REM ACTION AGAINST THE THING (GUGATAN MELAWAN
BENDA / KAPAL) SEBAGAI SITA JAMINAN ATAS HUTANG
ACTION IN PERSONAM ACTION AGAINST PERSONAL (GUGATAN
MELAWAN ORANG)
ACTION IN PERONAM BISA BERUBAH MENJADI ACTION IN REM

INTERNATIONAL UNIFICATION
INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE UNIFICATION
OF CERTAIN RULES RELATING TON THE ARREST OF
SEA GOING SHIP, BRUSSEL 1952

ART. 1.
CLAIM YANG DAPAT MENIMBULKAN KAPAL DI ARREST ADALAH :
a.

b.

c.
d.
e.

f.
g.
h.
i.

j.

k.
l.

m.

DAMAGE CAUSED BY ANY SHIP EITHER IN COLLISION OR OTHERWISE (Kerusakan


yang diakibatkan oleh setiap kapal baik sebagai akibat tubrukan atau lainnya)
LOSS OF LIFE PERSONAL INJURY CAUSED ANY SHIP OR OCCURING IN
CONNECTION WITH THE OPERATION OF ANY SHIP (Kematian/cideranya orang
diakibatkan oleh setiap kapal sebagai akibat operasi kapal).
SALVAGE
CHARTER PARTY HIRE
LOSS OF OR DAMAGE TO GOODS, INCLUDING BAGGAGE CARRIED IN ANY SHIP
(Kerugian atau kerusakan muatan termasuk barang bawaan disetiap kapal)
GENERAL AVERAGE
TOWAGE
PILOTAGE
GOODS OR MATERIAL WHEREVER SUPPLIED TO A SHIP FOR OPERATOR OR
MAINTENANCE (Supply barang atau bahan lain dalam rangka untuk perawatan
kapal)
CONSTRUCTION, REPAIR OR EQUIPMENT OF ANY SHIP OR DOCK CHARGE AND
DUES (Biaya perbaikan serta biaya galangan untuk kapal)
WAGES OF MASTERS, OFFICERS OR CREW
MASTERS DISBURSEMENTS, INCLUDING DISBURSEMENTS MADE BY SHIPPERS,
CHARTERER OR AGENTS ON BEHALF OF A SHIP OR ITS OWNER.
THE MORTGAGE OF ANY SHIP.

FORCED SALE

TUJUAN PEMBAYARAN KLAIM PARA


KREDITOR ATAS MARITIME LIEN,
MORTGAGE DAN HUTANG LAINNYA YANG
MELEKAT PADA KAPAL

PERHATIAN
1. SEBELUM DILAKUKAN PENAHANAN KAPAL OWNER DIBERI SURAT PERINGATAN
AGAR MELAKUKAN KEWAJIBAN TO STTLE HIS DEBT.
2. YANG BERWENANG MELAKUKAN FORCE SALE ADALAH PENGADILAN DIMANA
KAPAL DITAHAN.
3. OFFICER OF THE COURT (PENETERA PENGADILAN AKAN KE KAPAL DAN
MEMERINTAHKAN NAKHODA UNTUK PENAHANAN KAPAL.
4. NOTICE OF SEIZURE DISAMPAIKAN KEPADA OWNER, SYAHBANDAR DAN SEMUA
CLAIMAN SERTA CONSUL FLAG STATE.
5. PENGADILAN MENUNJUK VALUATION.
6. SYARAT LELANG DITETAPKAN OLEH PORT AUTHORITY.
7. APABILA HARGA DASAR LELANG TIDAK TERCAPAI, DILAKUKAN LELANG ULANG
DENGAN HARGA DASAR YANG BARU.

ART.10 MENSYARATKAN
PENGADILAN DIMANA AKAN DILAKUKAN PENJUALAN LELANG DIWAJIBKAN 30 HARI
SEBELUM DILAKUKAN PENJUALAN MEMBERITAHUKAN SECARA TERTULIS (WRITEN NOTICE)
KEPADA SEMUA PEMEGANG HIPOTIK DAN PARA KREDITOR LAINNYA.

INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE UNIFICATION OF CERTAIN


RULES RELATING TO MARITIME LIEN AND MORTGAGE 1967

ART. 4.
The following claim shall be secured by maritime lien on the vessel :
i.
ii.
iii.

iv.

v.

Wages and other sum due to the Master, officer


Port, cannal and other waterway dues and pilotage dues
Claim against the owner in respect loss of life or personal injury occuring in direct
connection with operation of the vessel
Claim against the owner based on tort and not capable of being based on contract
in respect of loss of or damage to the properties
Claims for salvage, wreek removal and contribution of General Average.

ART. 5.
The maritime lien set out in art. 4 shall rank in order listed, proved however the
maritime lien securing for salvage shall take priority over all other maritime lien
which have attached to the vessel prior to the time when the operation giving rise
to the said lien were performance.

ART. 8.
The maritime lien set out in art. 4 shall be extinguised after a periode of one year
from the time when the claim secured there by unless, prior to the expiry of such
periode the vessel has been arrested, such arrest leading to forced sale.