Anda di halaman 1dari 69

Curriculum Vitae

Nama Lenkap
Tgl Lahir
Status
Alamat

: Setyo Tri Wibowo


: Ngawi, 30 Juli 1973
: Menikah dgn 3 anak
: Kadilangu, Sumberadi, Mlati,

Sleman, DIY
email
Riwayat Pendidikan
Pelatihan di bidang HIV/AIDS

Riwayat Pekerjaan

Organisasi
Tempat Tugas

: setyo_triwibowo@yahoo.com

: Poltekes Depkes Yogyakarta 2001


Ners PSIK UNAIR SURABAYA 2004
: Pelatihan Konselor HIV / AIDS
Pelatihan TB - HIV
Pembentukan jejaring TB-HIV
Pelatihan Adiksi pasien HIV - AIDS
: Perawat ICU RS PKU MUH. Yogyakarta 2002-2006
Perawat Peny. Dalam RSS 1993 sekarang
Ketua KFK Penyakit Dalam RSS 2008 - 2010
: PPNI komisariat RSS
PKVHI (Persatuan Konselor VCT HIV Indonesia)
: R. Bugenvil 4 RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta
1

ASUHAN
KEPERAWATAN
PASIEN HIV / AIDS

Setyo Tri Wibowo


KFK Penyakit Dalam / Konselor HIV
RSUP DR Sardjito Yogyakarta

OUT LINE

Pendahuluan
Pengertian HIV / AIDS
Epidemiologi HIV / AIDS
Penularan HIV / AIDS
Stadium Klinis HIV / AIDS
Asuhan Keperawatan
Discharge Panning
Kesimpulan

PENDAHULUAN
Jumlah odha semakin meningkat
setiap tahun
0.14-0.2 % orang umur 15-49
terinfeski HIV
Estimasi ODHA di Indonesia: 186,257
(2009)
Problem pasien ODHA kompleks
sehingga melibatkan banyak
profesional tenaga kes.
Perawat harus mampu memberikan

APA ITU HIV ?

HUMAN ( Manusia )
IMMUNODEFICIENCY (Penurunan Daya Tahan Tubuh)
VIRUS
HIV adalah virus yang hidup,

berkembang dalam tubuh manusia dan


melemahkan sistem kekebalan tubuh

HIV

Penyebab dari AIDS


Virus RNA, famili Retrovirus,
subfamili Lentiviridae
Terdapat dua subtipe virus HIV
yaitu HIV-1 dan HIV-2
Partikel virus HIV-1 diameter 100 nm
dan dikelilingi oleh membran lipoprotein
Setiap partikel virus mengandung
72 kompleks glikoprotein ygterintegrasi
ke dalam membran lipid, dan masing2
tersusun dari glikoprotein gp120 di bag.
eksternal dan protein gp41 yang berada
di transmembran

AIDS

Singkatan
Singkatan dari
dari Acquired
Acquired Immune
Immune Deficiency
Deficiency
Syndrome
Syndrome
Bentuk
Bentuk lanjut
lanjut dari
dari infeksi
infeksi HIV
HIV yang
yang berjalan
berjalan
progresif
progresif merusak
merusak sistem
sistem kekebalan
kekebalan tubuh
tubuh
manusia
manusia
Cepatnya
Cepatnya dipengaruhi
dipengaruhi oleh
oleh oleh
oleh Viral
Viral Load
Load dan
dan
hitung
hitung sel
sel CD4
CD4 makin
makin tinggi
tinggi viral
viral load
load makin
makin
rendah
rendah CD4
CD4 dan
dan makin
makin tinggi
tinggi perubahan
perubahan
progresi
progresi ke
ke AIDS
AIDS dan
dan kematian.
kematian.
Seminar
Pengenda
Tanpa
Tanpa terapi
terapi kebanyakan
kebanyakan akan
akan mati
mati dalam
dalamInfeksilianbeberapa tahun setelah tanda pertama AIDS UII

Epidemi HIV & AIDS di


Indonesia
Total Populasi 240 juta
Prevalensi HIV 0,2% dan estimasi ODHA 186.000

HIV Prevalence
Estimation
PLHIV Estimation

Jumlah Kasus AIDS di Indonesia Yang


Dilaporkan pada 10 Tahun Terakhir

PASIEN HIV / AIDS


DIRAWAT DI PENY. DALAM RSS TH.2011
N : 129 pasien
30

25

24

20

16

15
13

12
10
8

12

10

0
JAN

FEB

MAR

APR

MEI

JUN

JUL

AGT

SEP

OKT

NOV

PASIEN HIV / AIDS


DIRAWAT DI PENY. DALAM TH.2011
N : 129 pasien
89

120

90

105

80

100

70

80

60
50

60

33

40

40

30

24

20

20

10

0
SEX

PRIA

WANITA

0
USIA

< 20 th

20 - 30 th 31 - 50 th > 50 th

FAKTOR RISIKO
N; 129 pasien
116
120

100

80

60

40

20
3

7
2

0
unsafe sex

IDU

waria

gay

F.suami

PRINSIP PENULARAN HIV


E S S E:
Exit
Survive
Sufficienct
Enter

Apa yang memicu penularan HIV di Ind?


Jumlah Penduduk Indonesia: 240 juta

230.000

penasun

3,1 Juta Pria


membeli Sex
(2-20% dari Pria Dewasa)

230,000
Wanita
Pekerja seks

1,6 Juta
menikah
dg pria risiko
tinggi

800,000
GWL
Anak-anak

Laki-laki

Perempuan
Commission on AIDS in Asia Projections and
Implications 14

KELOMPOK RESIKO TINGGI


Pria homoseksual
Pecandu obat bius iv.
Wanita & pria tuna susila
Pria & wanita dengan banyak mitra seksual
Mitra seksual dari kelompok diatas
Penerima tranfusi darah dari kelompok diatas
Tenaga kesehatan

Estimasi ODHA
Berdasarkan Kelompok Berisiko Tahun 2009

Prisoners; 3%
Partners of Client; 7%
IDU; 33%
Clients of SW; 25%

Partners of IDU; 4%
MSM; 15%

FSW; 8%
Transgender; 4%

Risiko terjadinya infeksi HIV setelah pajanan


tunggal dengan sumber terinfeksi

18

HIV-AIDS TIDAK MENULAR MELALUI


Bekerja sama / hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV
Digigit nyamuk / serangga lain
Berpegangan tangan atau saling berpelukan
Berhubungan seks dengan menggunakan kondom
Berbagi makanan atau menggunakan peralatan makan bersama
Menggunakan toilet / kamar mandi / wastafel / handuk bersama
Terpapar batuk / bersin / buang ingus / meludah
Kolam renang

STADIUM KLINIS (WHO)


Stadiun

Gambaran Klinis

3.
4.

Asimptomatik
Limfadenopati generalisata
Berat badan menurun 10%
Simptomatik, aktifitas normal
Kelainan kulit dan mukosa yang normal seperti dermatitis seboroik,
prurigo, onikomikosis, ulkus oral yang rekuren, kheilitis angularis
Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
Infeksi saluran nafas bagian atas seperti sinusitis bakterialis.

III

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Berat badan menurun > 10%


Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
Demam panjang lebih dari 1 bulan
Kandidiasis oral
Oral Hairy Leukoplekia
TB paru dalam tahun terakhir
Infeksi bakterial yang berat seperti pneumonia, piomiositis.

Pada
umumnya
lemah
aktifitas
diitempat tidur kurang dari 50%.

IV

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

HIV wasting syndrome


Pneumonia Pneumicystis Carinii (PCP)
Toksoplasmosis otak
Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan
Kriptokokis ekstrapulmonal
Retinitis virus sitomegalo
Herpes simpleks mokokutan lebih dari 1 bulan
Leukoencefalopathi multifokal progresif
Mikosis diseminata seperti histoplasmosis
Kandidiasis di esophagus, trakhea, bronkhus dan paru
Mikobakteriosis atipikal diseminata
Tuberkulosis diluar paru
Limfoma
Sarkoma Kapossi
Encephalopati HIV

Pada umumnya sangat lemah, aktivitas


ditempat tidur lebih dari 50%

I
II

1.
2.
1.
2.

Skala Aktifitas
Asimptomatik, aktifitas normal

HIV wasting syndrome :


Berat badan turun lebih dari 10%
ditambah diare kronik lebih dari 1 bulan
atau demam lebih dari 1 bulan yang tidak
disebabkan oleh penyakit blain.

Wasting

PPE / Kelainan kulit pada AIDS

Infeksi Oportunistik dan lokasinya


Kepala
Toksoplasmosis
Kriptokokkus
Mata
Sitomegalovirus (CMV)
Mulut & Tenggorokan
Kandidiasis
Paru
PCP
TB
Histoplasmosis
Perut/Usus
Sitomegalovirus (CMV)
Kritposporidiosis
MAC
Kulit
Herpes Simpleks
Sinanaga
Kelamin
Herpes
HPV
Kandidiasis

IO yang tersering dari laporan kasus AIDS


TBC : 56%
Diare kronis : 30%
Kandidiasis oro-faringeal : 30%
Dermatitis generalisata : 15%
Limfadenopati generalisata persisten : 5%

SKRINING TB PADA PASIEN


HIV

Batuk 2 3 minggu
Demam hilang timbul lebih 1 bulan
Keringat malam tanpa aktifitas
Penurunan BB tanpa sebab jelas
Pembesaran kel. Getah bening > 2cm

Perjalanan penyakit
HIV/AIDS
Infeksi HIV

beresiko

Tidak Terinfeksi

Mulainya AIDS

HIV

AIDS

Terminal

Masing-masing kelompok mempunyai karakter dan membutuhkan


pelayanan dan dukungan yang berbeda

Perjalanan Penyakit HIV


90 %

Infeksi
HIV

<5 %

<10 %

Typical Progressors

7-10 tahun

Rapid Progressors

<3 tahun

Long-term
Non-progressors

>10-15 tahun

Normal, CD4 stabil

PENGGUNAAN APD
APD yg digunakan dalam merawat pasien HIV/AIDS:
Sarung tangan : kontak cairan tubuh/darah
ada kelainan kulit terbuka
Masker
: ada IO pneumonia, TB paru
Gaun/celemek : kelainan kulit terbuka, ada muntah
Sepatu
: saat tind. Op, Bongkar ruang
pasien
Goegle
: adanya risiko percikan ke muka

PENEMPATAN RUANG RAWAT


Perawatan pasien HIV/AIDS prinsip sama dgn
perawatan pasien dgn imunnocompromice.
Pasien HIV / AIDS sebisa mungkin di pisah
dgn pasien non HIV
Pasien HIV / AIDS dgn IO TB paru atau
infeksi air borne disease lain, tdk boleh di
campur dgn pasien HIV yg tidak ada IO nya
atau IO nya bukan air borne disease.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Antibodi HIV :
Rapid test : digunakan untuk uji tapis (skrining)
ELISA
Western Blot : sebagai pemeriksaan konfirmasi ,
mahal biayanya.
Pemeriksaan terhadap virusnya : P24 antigen, Viral Load
Pemeriksaan tingkat kekebalan tubuh:
CD4 dan CD8
Pemeriksaan lain :
darah lengkap, HBsAg
SGOT,SGPT,Ureum Kreatinin, Kolesterol
Sputum BTA, analisis LCS

Penatalaksanaan
Setelah klien terdiagnose HIV positif melalui proses
Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau
Provider Initiated Testing and Counseling (PITC)
kemudian klien masuk dalam program Care Suport
and Treatment (CST) dilakukan penilaian terhadap
stadium klinis WHO dan nilai CD4nya
Pengobatan Antiretroviral diberikan pada saat klien
telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
- Stadium IV WHO tanpa memandang jumlah CD4
- Stadium III WHO , jumlah CD4 < 350/mm3
- Stadium I atau II WHO , jumlah CD4 < 200/mm3.
- Pasien dan keluarga siap menjalani terapi.

Penatalaksanaan
Karena ART diberikan seumur hidup,perlu kesiapan
pasien dan keluarga untuk memiliki komitmen terhadap
manfaat ART.
Konseling kepatuhan obat (adherence) meliputi
manfaat, efek samping dan resistensi dilakukan
sebelum klien/keluarga memberikan inform consent.
Jenis ARV berupa kombinasi NRTI ( Nucleoside
Reverse Transcriptase Inhibitor) dan NNRTI (Non
Nucleoside Reverse Transcriptase) yang bekerja
secara sinergis untuk menghambat perkembangan
virus dalam darah.
Kepatuhan yang tinggi merupakan kunci keberhasilan
terapi dan menjaga ODHA tetap survival

REJIMEN LINI I PADA DEWASA


OBAT ARV

DOSIS

TOKSISITAS

Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)


Abacavir / ABC

300 mg (3 x sehari)

Reaksi hipersensitif

Zidovudin / AZT / ZDV

300 mg (2 x sehari)

Anemia / netropenia
Gangguan GIT
Asidosis laktat

Stavudin / d4T

Lamivudin / 3TC

> 60 Kg : 40 mg (2 x sehari)

Asidosis laktat

< 60 Kg : 30 mg (2 x (sehari)

Lipoartrof
Neuropati perifer

150 mg (2 x sehari)

Minimal, asidosis laktat

Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI)


Efavirenz / EFV

600 mg (1 x sehari) malam hari

Keluhan SSP, Transaminase ,


teratogenik

Nevirapin / NVP

200 mg (1 x sehari) selama 14


hari dilanjutkan 200 mg (2 x
sehari)

Hepatitis, Reaksi hipersensitif


(rash)
Sindroma steven johnson

Efek samping NRTI


AZT:

anemia (kurang darah merah), neutropenia (kurang darah


putih), sakit kepala, toksisitas hati, trombositopenia (darah
sulit beku)

3TC:

(jarang terjadi) mual, diare, sakit kepala, kelelahan,


ruam, sakit perut, enzim hati meningkat

d4T:

sakit kepala, mual, muntah, diare, ruam, enzim hati


meningkat, neuropati perifer, pankreatitis

ddI:

mual, muntah, diare, sakit perut, neuropati perifer, enzim


hati meningkat, pankreatitis

Efek samping NNRTI


Efavirenz:

ruam, sakit kepala, mual, diare,


impian jelas, halusinasi, insomnia,
enzim hati meningkat, hepatitis,
kegagalan hati

Nevirapine:

sakit kepala, mual, ruam, diare ,


enzim hati meningkat, hepatitis,
kegagalan hati

Efek samping PI
Nelfinavir:

mual, muntah, diare, sakit kepala,


sakit perut, ruam, hiperglikemia (kadar
glukosa tinggi dalam darah), kelelahan

ASUHAN KEPERWATAN

PENGKAJIAN

1. Health promotion
2. Nutrition
3. Elimination / exchange
4. Activity / rest
5. Perception / cognition
6. Self perception
7. Role relationships

8. Sexuality
9. Coping / stress tolerance
10. Life principles
11. Safety / protection
12. Comfort
13. Growth / development

1. Health promotion

Menggali faktor risiko (tdk mudah)


Pengetahuan ttg perilaku berisiko
Riwayat perilaku berisiko
Pengetahuan ttg penyakit
Kepatuhan thd petunjuk perawatan &
pengobatan
Harapan ttg perawatan yang di jalani

2. Nutrition
Adanya penurunan BB ( std.3,4)
Gangguan menelan/mengunyah
( candidiasis esofagus/oral)
Penurunan nafsu makan

3. Elimination / exchange
Urinary sistem:
Pola BAK, warna, jumlah, kencing nanah
Gastro intestinal sistem:
adanya diare kronis > 1 bln
Integumentary sistem:
kulit kering, kelainan kulit (std.2)
Pulmonary sistem:
pertukaran gas tdk adekuat (Sesak nafas, hipoxia) t.u
pada IO pneumonia dan TB paru

4. Activity / rest

Kemampuan aktifitas
Penggunaan alat bantu
Kebiasaan tidur
Gangguan tidur / insomnia ( terapi ARV)

5. Perception / cognition

Tingkat pendidikan
Gangguan orientasi
Status mental
Tingkat kesadaran
Respon emosional

6. Self perception

Kecemasan
Merasa dihukum tuhan
Merasa kehilangan
Putus asa
Keinginan mencederai diri

7. Role relationships

Status perkawinan
Dukungan keluarga / orang dekat
Dukungan sosial / Sebaya
Perubahan dalam gaya hidup

8. Sexuality
Kebiasaan melakukan hub.sex (tidak
mudah)
Keamanan hub.sex (pakai kondom)
Partner dlm melakukan hub.sex

9. Coping / stress tolerance

Proses penerimaan penyakit


Tipe coping
Ketakutan
Berduka

10. Life principles

Kegiatan religi / stlh terdiagnosis


Keyakinan thd hidup dan mati
Kemampuan mengambil keputusan
Keyakinan thd regimen perawatan

11. Safety / protection


Infeksi oportunistik
Penurunan status imun (hasil CD 4)
Tanda vital

12. Comfort
Perasaan sehat / sakit
Kel. nyeri (PQRST)
Perasaan tdk nyaman

13. Growth / development

Perencaan setelah pulang:


Siapa pendamping di rumah
PMO dlm minum ARV
Persiapan lingk. di rumah
Persiapan lingk. Sosial sekitar
Suport sistem kelg.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diare
Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
Hipertermia
Kerusakan membran
mukosa oral
Keletihan
Kekurangan volume cairan
Kerusakan integritas kulit
Perfusi jaringan cerebral
tdk efektif
Kerusakan pertukaran gas

Bersihan jalan nafas tidak


efektif
Pola nafas tdk efektif
Gangguan persepsi
sensorik : visual
Ansietas
Isolasi sosial
Resiko inefektif
penatalaksanaan regimen
therapeutik
Ketidakberdayaan
Berduka
Perubahan proses keluarga

Diare (00013)
NIC : Manajemen diare (0460)

Identifikasi faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya diare


Ajarkan meminum obat diare dengan tepat
Catat warna, volume, frekuensi dan konsistensi feses
Instruksikan keluarga untuk melaporkan setiap episode diare.
ambilan sampel untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas feses
Monitor hasil lab (elektrolit dan leukosit)
Monitor tanda dan gejala diare
Observasi kulit di area perianal terhadap iritasi dan ulserasi
Observasi turgor kulit secara teratur, mukosa oral sebagai indikator dehidrasi
Evaluasi pengobatan yang mempunyai efek samping pada gastrointestinal
Evaluasi catatan asupan nutrisi , cairan infus yang diberikan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diit rendah serat, tinggi protein,
dan tinggi kalori.

Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari


Kebutuhan Tubuh (00002)
NIC : Manajemen nutrient (1100)
Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat
nutrisi
Monitor mual dan muntah
Monitor intake nutrisi
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien
Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan
yang adekuat dapat dipertahankan
Monitor BB scr berkala
Monitor lab: Hb, Protein serum

Hipertermi (00007)
NOC : Termoregulasi (0800)
NIC : Penanganan Demam (3740)

Lakukan water tepid sponge


Dorong peningkatan intake cairan dan berikan cairan iv
Tingkatkan sirkulasi udara misalnya dengan kipas.
Berikan oksigen (jika perlu).
Monitor temperatur, warna kulit, suhu, dan IWL
Monitor penurunan tingkat kesadaraan, aktivitas kejang
Monitor intake dan output
Monitor ketidakseimbangan asam b
Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian medikasi antipiretik.
Kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan penyebab demam.

Kerusakan Membrane Mucusa Oral (00045)


NIC : Restorasi Kesehatan Mulut (1730)
lepaskan gigi palsu jika ada
Gunakan sikat gigi lembut
Bantu pasien untuk memilih makanan lembut dan tidak asam
Instruksikan pasien untuk menghindari obat kumur yang dijual bebas
Memotivasi menghindari mengkonsumsi rokok dan alkohol
Monitor bibir, lidah, membran mukosa, gusi menggunakan
pencahayaan yang baik dan tongue blade
Motivasi dan bantu pasien untuk melakukan oral hygiene setelah
makan dan sesuai kebutuhan
Tingkatkan perawatan mulut
Kolaborasi dalam pemberian obat untuk stomatitis

Cemas (00146)

NIC : Penurunan kecemasan (5820)


Gunakan pendekatan teknik komunikasi terapeutik
Jelaskan prosedur pengobatan dan perawatan;
(tujuan, manfaat terapi ARV)
Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
Ajari klien untuk menggunakan tehnik relaksasi.
Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
Identifikasi tingkat kecemasan klien
Kolaborasi pemberian obat anti cemas

Perfusi Jaringan Cerebral tidak Efektif (00024)

NIC : Peningkatan perfusi cerebral (2550)


Monitoring TIK (2590):
Pertahankan parameter hemodinamik dan tekanan perfusi
cerebral
Hindari fleksi ekstrim leher atau pinggul/lutut
Pertahankan level pCO2 >= 25 mmHg
Berikan dan monitor efek diuretic dan kortikosteroid
Batasi stimulus
Berikan jarak pada tindakan keperawatan untuk
meminimalkan PTIK
Pertahankan hiperventilasi terkontrol
Monitor tanda perdarahan
Monitor status neurologic

Perfusi Jaringan Cerebral tidak Efektif (00024)

NIC : Peningkatan perfusi cerebral (2550)


dan Monitoring TIK (2590):
Monitor TIK pasien dan respon neurologis
Monitor status respirasi
Kolaborasi dengan dokter untuk menentukan optimal head of bed (0 0,
150, 300) dengan leher pada posisi netral
Kolaborasi pemberian medikasi nyeri sesuai program
Kolaborasi pemberian agen farmakologi untuk mempertahankan TIK
dalam kisaran tertentu
Kolaborasi pemberian agen neurologik (ex: dosis rendah Mannitol,
Dekstran dengan berat molekul rendah)
Kolaborasi pemberian medikasi untuk meningkatkan perfusi cerebral
dan neuroprotektor
Kolaborasi dengan dokter untuk penentuan parameter hemodinamik

Risiko Infeksi (00004)


( Infeksi oportunistik)

NOC:
Status imun (0702)
Pengetahuan : kontrol infeksi (1807)
Kontrol risiko (1902)

NIC: Kontrol infeksi (6540)


Terapkan kewaspadaan standart
Batasi pengunjung bila perlu
Beri higiene yang baik
Monitor tanda & gejala infeksi (local dan
sistemik)
Ajarkan teknik cuci tangan yg benar
Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang
tanda dan gejala infeksi dan kapan harus
melaporkannya kepada petugas
Kolaborasi dokter bila ada tanda infeksi

NIC:
Proteksi infeksi (6550)
Pertahankan teknik aseptic dalam tiap tindakan
Ganti peralatan perawatan pasien per prosedur protocol
Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan
prosedur.
Tingkatkan cairan dan nutrisi
Inspeksi kulit dan membran mukosa thd tanda infeksi
Lakukan pemeriksaan kultur bila suspek infeksi
Tingkatkan intake nutrisi dan cairan
Tingkatkan tidur dan istirahat
Kelola pemberian antibiotik
Ajarkan pada pasien & kelg cara mencegah infeksi
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal

DISCHARGE PLANNING

Suport sistem dari kelg.


Dukungan finansial
Persiapan lingk. rumah
Penerimaan lingk. Sosial
Ketaatan berobat / minum ARV
Pengenalan IO pada HIV/AIDS
Hub. sex yang aman
Mencegah penularan ke orang lain.

KESIMPULAN
Jumlah odha semakin meningkat dari
tahun ketahun
Faktor Resiko dominan unsafe sex
Bentuk lanjut infeksi HIV akan
berkembang ke arah AIDS
IO terbanyak pada HIV / AIDS TB paru
Penggunaan APD dalam merawat pasien
HIV / AIDS tergantung IO nya

Terima Kasih
Semoga Bermanfaat