Anda di halaman 1dari 14

EVALUASI KINERJA SIMPANG BERSINYAL JALAN

BYPASS KARANG JATI JALAN RAYA SURABAYAMALANG JALAN KALI TENGAH TOL PANDAAN

Oleh :
MIFTACHUL DIMAS WIDO
HADIANSYAH
09 5301 0004

G
N
A
K
A
L
E
B
R
A
T
LA
Menigkatnya
Menigkatnya
pertumbuhan
pertumbuhan
transportasi
transportasi

Perlunya sarana
sarana
Perlunya
dan prasarana
prasarana
dan
tranportasi
tranportasi

Pentingnya evaluasi
evaluasi
Pentingnya
sarana dan
dan
sarana
prasanan
prasanan
transportasi
transportasi

H
A
L
A
S
A
M
N
A
S
RUMU

bagaimanakah
bagaimanakah evaluasi
evaluasi kinerja
simpang
simpang bersinyal
bersinyal ?

bagaimana rencana manajemen


lalu
lalu lintas ?
?

TUJUAN
mengevaluasi kinerja simpang
bersinyal
Menentukan manajemen lalu lintas

H
A
L
A
S
A
M
N
A
BATAS
~ Ruas jalan yang ditinjau
Titik pertama dari ruas jalan bypass karang jati menuju jalan raya
surabaya-malang dan tol pandaan
Titik kedua dari ruas jalan raya kali tengah menuju jalan raya
surabaya-malang dan tol pandaan
Titik ketiga dari ruas jalan raya surabaya-malang menuju jalan
bypass karang jati, jalan kali tengah serta tol pandaan
Titik keempat dari tol pandaan menuju jalan raya surabaya-malang,
jalan bypass karang jati serta jalan kali tengah
~ survey volume kendaraan dilakukan pada jam sibuk diantaranya
I. Pukul 06.00-08.00
II. Pukul 11.00-13.00
III. Pukul 15.00-17.00
~ tidak menghitung analisa biaya
~ tidak mempermasalahkan struktur jalan
~ evaluasi menggunakan manual kapasitas jalan 1997
~ tidak menghitung hambatan samping

LOKASI

simpang bersinyal antara :


Jalan bypass karang jati
Jalan kali tengah
Jalan raya surabaya-malang
Tol pandaan

Beberapa definisi teknik lalu lintas :


1.Tahap dari perencanaan yang berkenaan dengan geometric design dan
operasi lalu lintas jalan dan jalan raya, sistem jaringan, wilayah
terminal and hubungan dengan moda transportasi lain sehingga
terpenuhi rasa aman, efisien and dapat memperpendek
pergerakan manusia dan barang. (Pignataro, Louis J., 1973, Traffic
Engineering Theory and Practice, Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs,
New Jersey )
2.Bagian dari ilmu pengetahuan yang mengukur lalu lintas dan
perjalanan, yang menstudi hubungan dasar dari pergerakan lalu lintas
dan penyebabnya, dan pengetahuan ini dapat diaplikasikan oleh
tenaga ahli dalam perencanaan, desain dan operasi sistem lalu lintas
yang aman
dan
efisien
dandan
barang.
( by
3.Bagian
teknik
yang
terdiribagi
atas pergerakan
perencanaan orang
lalu lintas
rancangan
W.R.Blunden.Susantyo,
Diktat parkir,
Kuliah Teknik
Lalu Lintas,
tidak
jalan, pengembangan
sisiSusilo,
jalan, -,
fasilitas
pengendalian
lalu lintas
dipublikasikan
) nyaman serta murah bagi gerak pejalan maupun
agar aman dan
kendaraan. (Wells, G.R., 1993, Rekayasa Lalu Lintas, Bhratara,
Jakarta)

Sistem jaringan jalan di Indonesia sesuai dengan Undang Undang jalan raya No. 13
tahun 1980 dan peraturan pemerintah No. 26 tahun 1985, dibedakan menjadi :
Jalan Primer
Jalan Sekunder
Jalan Penghubung

Berdasarkan fungsinya, jalan dapat


dibagi dalam beberapa kategori
sebagai berikut :
Jalan
Jalan
Jalan
Jalan
Jalan
Jalan

Arteri primer
Arteri Sekunder
Kolektor Primer
Kolektor Sekunder
Lokal Primer
Lokal Sekunder

Karakteristik utama jalan akan mempengaruhi kapasitas dan kinerjanya apabila


dibebani lalu lintas antara lain :

Geometrik Jalan
Arus, Komposisi dan Pemisahan Arah
Pengaturan Lalu Lintas
Fungsi dan Guna Lahan

Kapasitas ( C ) didefiniskan sebagai arus maksimum


melalui titik jalan yang dapat dipertahankan persatuan jam
pada kondisi tertentu ( MKJI 1997 ). Nilai kapasitas telah
diamati melalui pengumpulan data lapangan selama
mungkin.
Persamaan dasar untuk menentukan kapasitas jalan
sebagai berikut :
C = Co x FCw x FCsp x FCsf
Dimana :
C = Kapasitas sebenarnya dari jalan luar kota yang ditinjau
(smp/jam)
Co = Kapasitas dasar (ideal) untuk kondisi (ideal) tertentu
(smp/jam)
FCw
= Faktor penyesuaian lebar jalan.
FCsp
= Faktor penyesuaian pemisah arah (jalan tak terbagi
atau undevided)
FCsf
= Faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu
jalan atau kerb.

ARUS KENDARAAN
total jenis kendaraan yang melewati jalan dan
dapat di definisikan pada rumusan di bawah ini :
Q = LV + MHV + LB + LT + MC

Dimana :
Q = Arus Total kendaraan
LV = Light Vehicle (sedan, minibus, dll)
MHV
= Kendaraan Berat Menengah (truk kecil 2
gandar, bis kecil)
LB = Bis Besar
LT = Truk Besar 3 Gandar, Truk Trailer
MC = Sepeda Motor

Derajat kejenuhan didefinisikan sebagai rasio arus


terhadap kapasitas, digunakan sebagai faktor
kunci dalam penentuan perilaku lalu-lintas pada
suatu simpang dan juga segmen jalan. Nilai
derajat kejenuhan menunjukkan apakah segmen
jalan akan mempunyai masalah kapasitas atau
Derajat
tidak. kejenuhan dihitung dengan
menggunakan arus dan kapasitas
yang dinyatakan dalam smp/jam.
Derajat kejenuhan digunakan untuk
analisa perilaku lalu-lintas.
Rumus untuk menghitung derajat
kejenuhan ialah :
DS= Q/C
Dimana :
DS = Derajat Kejenuhan
Q = Jumlah Volume Kendaraan
(smp/jam)
C = Kapasitas (smp/jam)

Asumsi Analisis Regresi Linier


1. Data Y berskala minimal interval
Data X berskala minimal nominal
(jika data X berskala nominal /
ordinal harus menggunakan
bantuan variabel dummy)
2. Existensi untuk setiap nilai dari
variabel x yang tetap, y adalah
variabel random dengan distribusi
probabilitas tertentu yang
mempunyai mean dan varians.

12

Asumsi Analisis Regresi Linier


3. Nilai y secara statistik saling bebas
4. Linieritas, nilai rata-rata y adalah
sebuah fungsi garis lurus dari x
5. Homoscedasticity. Varians dari y
adalah sama pada beberapa x
6. Distribusi normal pada beberapa
nilai tertentu x, y mempunyai
distribusi normal
13

MULAI
PERUMUSAN MASALAH

PENGUMPULAN DATA

Data LHR 5 tahun sebelumnya (2010-2014)

Survey volume kendaraan dilokasi studi

Analisa data
Menghitung analisa regresi linear 2015-1019
Menghitung derajat kejenuhan ( DS ) pada tahun 2015
Menghitung derajat kejenuhan ( DS ) pada tahun 2019

tidak
Derajat kejenuhan ( DS ) < 0,8
ya
SELESAI

Manajemen lalu lintas