Anda di halaman 1dari 14

U

T
N
JA
T
I
K
R
A
E
Y
N
N
O
E
P RPOK 3
KOELOM
K

G
N

LATAR BELAKANG
Sistem kardiovaskuler merupakan suatu sistem
yang sangat vital pengaruhnya bagi tubuh
manusia. Sistem kardiovaskuler terdiri dari
jantung dan pembuluh darah yangmeliputi arteri,
kapiler dan vena.
Jantung berperan besar dalam berlangsungnya
hidup seorang manusia.
Abnormalitas mengenai jantung sangat banyak
ragamnya. Salah satunya yaitu Penyakit Jantung
Koroneryang secara garis besar termasuk ke
dalam kelompokPenyakitJantung Degeneratif

DEFINISI
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi
yang dimulai ketika zat kolesterol keras (plak)
terakumulasi di dalam arteri koroner.
Plak dalam arteri koroner itu kemudian pecah dan
menyebabkan pembentukan gumpalan kecil,
yang dapat menghambat aliran darah ke otot
jantung, memproduksi gejala dan tanda-tanda
PJK yang mungkin termasuk nyeri dada
(angina), serangan jantung atau kematian
mendadak karena gangguan fatal dari irama
jantung.

ETIOLOGI
Penyakit Jantung Koroner pada mulanya disebabkan
oleh penumpukan lemak pada dinding dalam
pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), dan
hal ini lama kelamaan diikuti oleh berbagai proses
seperti penimbunan jarinrangan ikat, perkapuran,
pembekuan darah, dll.,yang kesemuanya akan
mempersempit atau menyumbat pembuluh darah
tersebut.
Hal ini akan mengakibatkan otot jantung di daerah
tersebut mengalami kekurangan aliran darah dan
dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup
serius, dari Angina Pectoris (nyeri dada) sampai
infark jantung, yang dalam masyarakat di kenal
dengan serangan jantung yang dapat menyebabkan
kematian mendadak (Medistra Hospital, 2012)

FAKTOR RISIKO
Faktor risiko dibagi menjadi 2:
faktor risiko yang dapat diperbaiki (reversible) atau bisa diubah
(modifiable)
Faktor risiko seperti umur, jenis kelamin, anatomi pembuluh kororner
dan faktor metabolisme adalah faktor-faktor alamiah yang sudah tidak
dapat diubah.
faktor risiko yang sudah menetap atau tidak bisa diubah (nonmodifiable)
Faktor faktor risiko yang penting dan dapat diperbaiki itu meliputi
(Mamat, 2008):
Hipertensi
Kolesterol
Rokok
Kencing manis
Kelainan gambaran jantung (EKG)
Stress
Salah makan
Gaya Hidup (life style)
Fraksi Lemak (TG, HDL, VDL)
Kurang Olah raga

RIWAYAT ALAMIAH
Tahap Pre-Patogenesa
Pada keadaan ini penyakit belum ditemukan oleh karena pada
umumnya daya tahan tubuh pejamu masih kuat. Dengan perkataan
lain seseorang berada dalam keadaan sehat
Inkubasi: bertahun-tahun
Dini:
Nyeri dada, rasa sakit tidak enak di dada dengan rasa tertekan, terhimpit
atau tercekik
Lokasi terasa sakit berada di bagian belakang tulang dada kiri.
Rasa sakit mulai dari bawah lengan atas dan dapat menjalar ke atas, ke bahu
kiri, ke leher atau rahang bawah.
Lanjut:
gangguan terhadap arteri/ arteriosklerosis (gangguan pada suplai darah pada
otot jantung jantung mengalami kekurangan darah iskemia miokard.
Angina pektoris terjadi akibat plaque yang mendasari pembentukan trombus
miokard infark terjadi akibat oklusi pada koroner sehingga terjadi miokard
akibat gangguan suplai darah yang sangat kurang.
payah jantung.
Akhir:
Sembuh dengan cacat
Karier
Kronis
Meninggal Dunia

EPIDEMIOLOGI
WHO melaporkan bahwa pada tahun 2000
proporsi beban penyakit di dunia akibat PJK
adalah 3,8% terdiri atas 4,2% pria dan 3,4%
wanita dengan proposi kematian akibat PJK
adalah 12,4% terdiri atas 12,2% kematian pria
dan 12,6% kematian wanita.
Berdasarkan penelitian di RSUP H. Adam Malik
Medan tahun 2005-2007 penderita penyakit
jantung koroner paling banyak ditemukan pada
jenis kelamin pria yaitu 178 orang (66,7%) dan
perempuan 89 orang (33,3%).

Penyakit jantung koroner lebih banyak terjadi


pada negara maju di bandingkan negara
sedang berkembang dan lebih banyak
ditemukan di daerah perkotaan di
bandingkan dengan daerah pedesaan.
Menurut laporan WHO 2004, pada tahun 2002
jumlah penderita PJK mencapai 56,8 juta
yaitu 3,9% dari seluruh beban penyakit di
dunia.

PENCEGAHAN PJK
Pencegahan Primordial
Usaha mencegah terjadinya resiko atau
mempertahankan keadaan risiko rendah dalam
masyarakat terhadap suatu penyakit. Pencegahan
primodial pada penyakit jantung koroner :
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor854/MENKES/SK/IX/2009 Tentang
Pedoman Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh
Darah
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 tentang
Pengamanan Rokok bagi Kesehatan.
Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 84/Menkes/Inst/II/2002 tentang
Kawasan Tanpa Rokok di Tempat Kerja dan Sarana Kesehatan.
Instruksi Menteri Pedidikan dan Kebudayaan RI Nomor 4/U/1997 tentang
Lingkungan Sekolah Bebas Rokok.
Instruksi Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
161/Menkes/Inst/III/ 1990 tentang Lingkungan Kerja Bebas Asap Rokok.
Pembuatan sarana olahraga
Pembuatan Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok oleh
Kemenkes RI.
Adanya pengembangan Kawasan Tanpa Rokok

Pencegahan Primer
Peningkatan derajat kesehatan (Health Promotion)
Meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara
optimal agar jauh dari faktor risiko dari PJK
Mengurangi atau menghilangkan kebiasaan merokok
Pemeliharaan berat badan ideal.
Melakukan aktivitas fisik yang teratur.
Menerapkan pola makan sehat
Menghindari stress
Menurunkan peranan penyebab dan derajat resiko
Meningkatkan secara optimal lingkungan yang sehat
Mendiagnosis dan mengontrol hipertensi, hiperbetalipoproteinemia, dan
diabetes mellitus.

Pecegahan khusus (spesific protection)


Pemeriksaan kesehatan secara rutin terutama bagi orangorang yang memiliki faktor risiko.
Pemeriksaan tekanan darah, indeks massa tubuh, lingkar
pinggang harus diperiksa selang 2 tahun.
Peningkatan status psikologis.

Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada orang yang
sudah terkena gagal jantung bertujuan untuk
mencegah gagal jantung berlanjut ke stadium
yang lebih berat. Pada tahap ini dapat dilakukan
dengan diagnosa gagal jantung,tindakan
pengobatan dengan tetap mempertahankan gaya
hidup dan mengindari faktor resiko gagal jantung.
Pencegahan sekunder antara lain:
Diagnosis gagal jantung
Terapi non-farmakologik
Terapi Farmakologi atau Pengobatan
Tranplantasi jantung

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah
komplikasi yang lebih berat atau kematian akibat
gagal jantung. Upaya yang dilakukan dapat
berupa latihan fisik yang teratur untuk
memperbaiki fungsional pasien gagal jantung.

PROGRAM TERKAIT PJK


Peringatan Hari Jantung Sedunia (HJS) pada tanggal 29
September oleh Kemenker RI.
Penyusunan Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK)
Pengembangan SDM yang terdiri dari Training of Trainers
(TOT) di 17 wilayah, dan kalakarya di lokasi pelaksanaan
bimbingan teknis dan sosialisasi.
Penyediaan alat stimulan berupa masscrening yang terdiri
dari timbangan badan, alat ukur tinggi badan, lingkar
pinggang, tekanan darah, cardiochek, dan EKG yang
didistribusikan ke 33 provinsi.
Surveilans Epidemiologi.
Pengendalian factor risiko penyakit jantung dan pembuluh
darah berbasis masyarakat melalui peningkatan
pemberdayaan peran serta masyarakat. Kegiatan ini
dilakukan dengan melatih kader-kader Pos Pembinaan
Terpadu (Posbindu) di 17 provinsi dan 36 kabupaten/kota.
Jejaring kerja berdasarkan faktor risiko PJPD. Kegiatan ini
dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan lintas sektor,
lintas program dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

R
E
T

A
K
A
IM

H
I
S