Anda di halaman 1dari 23

ANEMIA HEMOLITIK

Santi Prima Natasya Pakpahan


102011143
Kelompok A9

Skenario 5
Seorang wanita, 25 tahun, datang dengan keluhan
mudah lelah kurang lebih 2-3 minggu ini, dan wajahnya
terlihat agak pucat. Pasien tidak merasakan demam, mual,
muntah, BAK frekuensi dan warna dalam batas normal,
dan BAB frekuensi, warna, dan konsistensi masih dalam
batas normal.

Hipotesis
Seorang wanita, 25 tahun, datang dengan keluhan mudah

lelah kurang lebih 2-3 minggu ini, dan wajahnya terlihat


agak pucat diduga menderita Anemia hemolitik.

Pendahuluan
Eritropoiesis : pematangan sel darah merah.
Pronormoblas normoblas normoblas akhir

stadium retikulosit
Enzim eritropoietin

Anemia hemolitik
anemia yang disebabkan oleh proses hemolisis.
Hemolisis adalah pemecahan eritrosit dalam pembuluh
darah sebelum waktunya. Hemolisis dapat terjadi dalam
pembuluh darah (intravaskular) atau di luar pembuluh
darah (ekstravaskular).

Apabila derajat hemolisis tidak terlalu berat maka

sumsum tulang masih mampu melakukan kompensasi


sehingga tidak timbul anemia. Keadaan ini disebut
sebagai keadaan hemolisis terkompensasi. Akan tetapi,
jika sumsum tulang tidak dapat berkompensasi akibat
proses hemolisis maka akan terjadi anemia yang kita
kenal sebagai anemia hemolitik.

Keluhan utama : mudah lelah, wajahnya pucat

Anamnesis
Mudah lelah, sudah sejak kapan?
Lelah nya kapan terjadi? Saat beraktifitas atau beristirahat ?
Ada keluhan lain seperti pusing, mual, muntah, dan sesak nafas ? jika ada, tanyakan

bagaimana intensitas gejala tersebut? Pada saat sedang beraktifitas atau beristirahat
gejala tersebut muncul? Apakah gejala tersebut muncul tiba-tiba atua perlahan?
Bagaimana warna, bau dan frekuensi BAK dan BAB?
Bagaimana riwayat menstruasi? Teratur atau tidak ? Saat menstruasi, berapa kali ganti
pembalut?
Adakah gangguan saluran pencernaan ?
Adakah riwayat trauma atau perdarahan pada saluran pencernaan ?
Apakah sedang mengkonsumsi obat-obatan jantung, obat diabetes, antibiotik?
Riwayat penyakit keuarga ditanyakan,
Apakah keluarga ada yang menderita anemia?
Bagaimana pengaturan pola makan?
Apakah mengkonsumsi minuman beralkohol, merokok atau obat-obatan terlarang?

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada penderita
anemia adalah pemeriksaan tanda-tanda ital, inspeksi, dan
palpasi.
Inspeksi akan terlihat bahwa pasien pucat dan lemas,
sedangkan saat palpasi akan teraba ujung-ujung jari terasa
dingin, konjungtiva anemis atau kekuningan (ikterik), kuku
tanganh akan terlihat putih.

Pemeriksaan penunjang
Uji Hematokrit
Hitung Retikulosit
Hemoglobin Total
Indeks Sel Darah Merah
Pemeriksaan untuk mendeteksi antoantibodi pada

eritrosit

Klasifikasi Anemia Hemolitik


Anemia hemolitik karena faktor di dalam eritrosit sendiri

(intrakorpuskuler), yang sebagian besar bersifat herediterfamilier.


Anemia hemolitik karena faktor di luar eritrosit
(ekstrakorpuskuler), yang sebagian besar bersifat didapat
(acquired).

Sferositosis herediter
Kelainan dasar sferositosis herediter terletak pada protein

struktural membran eritrosit.


bayi sampai usia tua.
ikterus yang berfluktuasi.
Splenomegali
Batu empedu.

Apusan darah tepi menunjukkan sferosit, eritrosit

kelihatan lebih bulat dengan bagian pucat di tengah


(central pallor) menghilang.
Retikulosit meningkat 5-20%.
Tes coombs (-)
Splenektomi

Anemia ec Defisiensi G6PD


G6PD adalah sejenis enzim yang diperlukan untuk
menstabilkan membran sel darah merah dengan
pengaktifan (inactivation) komponen oksidan. Jika G6PD
berkurang, sel-sel darah merah akan menjadi rusak dan
pecah (hemolisis) apabila orang yang sakit tersebut
memakan obat-obatan yang memiliki ciri pengoksida.

Anemia ec Defisiensi G6PD


Obat-obatan atau zat yang dapat mempresipitasi

hemolisis pada pasien G6PD adalah metilen blue, asam


nalidiksat, naftalen, niridazol, nitrofuranton, fenazopiridin,
primakuin, pamakuin, dapson, sulfasetamid,
sulfametoksazol, sulfapiridin, tiazolsulfon, toluidin blue,
trinitrotoluen, urat oksidase, vitamin K, doksorubisin.

Terapi Anemia ec Defisiensi G6PD


Hemolisis terjadi self-limited sehingga tidak perlu terapi
khusus kecuali terapi untuk infeksi yang mendasari dan
menghindari obat-obatan atau zat yang mempresipitasi
hemolisis serta mempertahankan aliran ginjal yang adekuat
karena adanya hemoglobinuria saat hemolisis akut.

Anemia hemolitik autoimun (AHA)


AHA tipe panas
AHA tipe dingin

AHA tipe Panas


wanita muda
Gejala yang menonjol adalah anemia, demam, ikterus

dan splenomegali. Gejala sering hilang timbul.


Normokromik normositer.
Retikulosit sangat meningkat.
Tes antiglobulin direk (Coombs) (+)
Terapi: Prednison diberikan secara oral dengan dosis 60-

100 mg per hari

Terapi AHA tipe panas


Prednison diberikan secara oral dengan dosis 60-100 mg

per hari
Splenektomi dipertimbangkan jika tidak ada respon
kortikosteroid dalam waktu 2-3 minggu.
Obat imunosupresif lain yang dapat dipakai adalah
azathioprim atau siklofosfamid dengan dosis 1000 mg iv
dalam 1-3 kali pemberian dan obat imunosupresif yang
paling mutakhir adalah mycophenolate mofetil (Cellcept).

Kulit jari tangan / kaki mati rasa pada udara dingin (akrosianosis)
Anemia bisa ada bisa tidak
Retikulosit tinggi, tanmpak autoaglutinasi
Tes aglutinin dingin dijumpai titer tinggi dan tes Coombs direk

positif.
Terapi untuk tipe ini adalah menghindari udara dingin, mengobati
penyakit dasar, kadang-kadang diperlukan splenektomi. Di sini
kortikosteroid tidak efektif. Khlorambusil dapat memberikan hasil
pada beberapa kasus.2

AHA karena obat (drug induced AIHA)


Obat dapat menimbulkan hemolisis dengan 3 cara :
Innocent by standar : komplek Ag-Ab melekat secara pasif pada
eritrosit, contoh : phenacetin, quinine, quinidin, chlorpropamide.
Obat sebagai hapten : obat sebagai hapten yang bergabung dengan
protein membran eritrosit menjadi antigen komplit, contoh : openisilin
dan cephalotin.
AHA karena obat yang sebenarnya : obat menyebabkan perubahan
pada membran eritrosit sehingga membentuk autoantigen dari
membran sendiri, contoh : methyldop dan fludarabine.
Gambaran klinik AHA karena obat sama dengan gambaran klinik AHA

pada umumnya.
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang teliti tentang adanya
pemaparan pada obat tertentu.
Terapi utama adalah menghindari obat tersebut.

Pencegahan
Pemeriksaan darah secara rutin, terutama bila mendapat

gejala-gejala anemia.

Kesimpulan
Pasien wanita berusia 25 tahun mengalami anemia

hemolitik autoimun atau biasa disebut AIHA. Hal ini dapat


dilihat dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Namun karena belum ada hasil
pemeriksaan tersebut yang lengkap, maka terdapat
beberapa differential diagnosis yaitu anemia defisiensi
G6PD, anemia sferositosis herediter, dan anemia karena
obat-obatan. Saat diagnosisnya tepat, penatalaksanaan
dari penyakit tersebut dapat dilakukan dengan tepat pula
sehingga kondisi pasien dapat membaik.

Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai