Anda di halaman 1dari 34

Marasmus Kwashiorkor

Oleh : Kelompok 12

Kelompok 12

Andhira Riyan 4111131003


Nevi Mulya 4111131021
Putri Rosalina 4111131041
Intan Kusma 4111131060
Andro Hutagaol 4111131087
Varesha Alvinaldo4111131100
Dendi Septian 4111131125
Noviera Larasati 4111131135
Intan Tiara 4111131151
Farah Shafira 4111131169
Annisa Ismiyanti 4111131174
Iva Revliancha 4111131185

Overview Case
Skenario 1

Keterangan

Anak perempuan, 3 tahun

Insidensi, epidemiologi
malnutrisi

Keluhan utama: Badan


kurus

Kemungkinan gizi buruk

DD keluhan utama:
Etiologi gizi buruk
primer
Etiologi gizi buruk
sekunder

Skenario 2

Keterangan

Sejak lahir hingga berusia


Riwayat aasupan nutrisi
1 tahun anak mendapat
yang sangat kurang
ASI dan kadang mendapat
susu formula. Sejak usia 4
bulan anak mulai diberikan
bubur susu. Sejak 8 bulan
mulai diberi bubur nasi
dengan kuah sayur sop.
Saat ini pasien makan dua
kali sehari berupa nasi
dengan garam, kecap dan
sayur kadang-kadang
disertai lauk pauk berupa
tahu, tempe, ikan asin, tiap
makan 3 4 sendok
makan, kadang-kadang
minum susu cair kemasan
siap minum, tidak setiap
hari
Keluhan disertai badan
lemah, rewel, sering batuk

Sering infeksi, komplikasi


gizi buruk

Skenario 2

Keterangan

Berjalan sering menabrak


saat senja sejak 3 bulan
yang lalu

Defisiensi vitamin A

Riwayat persalinan dan


berat badan lahir

Faktor risiko

Tidak ada batuk berdarah,


sesak nafas, kebiruan
disekitar mulut atau ujung
jari (tidak ada tuberkulosis
dan kelainan jantung)

Etiologi gizi buruk


sekunder disingkirkan

DD: Gizi buruk etiologi


primer

Skenario 3

Keterangan

TB ibu pasien 140 cm,


bapak pasien 163 cm
Hasil pengukuran
antropometri:
BB 7,5 kg dengan TB 81
cm
Pemeriksaan fisik:
Keadaan umum: tampak
lemah
Kesadaran kompos mentis
Tekanan darah: 85/50
mmHg
Nadi: 96x/menit
Respirasi: 30x/menit
Suhu: 34,9 Celcius
Pemeriksaan lain yang
ditemukan konjuntiva
anemis, kelopak mata
cekung, wajah anak
lonjong, berkeriput, old

Severely wasted (KEP III)


dan severely stunted
(Berdasarkan hasil plot ke
kurva WHO CGS 2006)
Kemungkinan Hipoglikemi
Hipotensi
Takikardi
Takipnea
Hipotermi

Tanda dan gejala


marasmus

Skenario 3

Keterangan

Pitting edema di kedua


tungkai bawah, dan
ditemukan ascites

Tanda dan gejala


kwashiorkor

Proporsi segmen atas dan


segmen bawah
proporsional

Menyingkirkan etiologi
kelainan hormon

Pemeriksaan laboratorium: Anemia defisiensi Fe,


Hb 7 g/dL (N: 11 14 g/dL), komplikasi
Ht 18%, leukosit
6900/mm3, hitung jenis
-/2/53/44/1, Tr
160.000/mm3
Apus darah tepi: Eritrosit
hipokrom mikrositer,
leukosit jumlah normal,
trombosit jumlah normal
Total protein serum 3,5
g/dL (N: 6 - 8 g/dL)

Skenario 3

Keterangan

Albumin 2,3 g/dL (N: 3,5 5,6 g/dL)

Hipoalbuminemia
(menunjukan kemungkinan
kurangnya intake protein,
adanya kerusakan hati
atau pengeluaran protein
yang berlebih)

Na 125 mEq/l (N: 130 - 150


mEq/l)

Hiponatremi

Kalium 3 mEq/l (N: 3,5 - 5,5 Hipokalemi (dapat


mEq/l)
menyebabkan gangguan
kerja jantung)
DK: Marasmus kwashiorkor disertai perawakan pendek
dan komplikasi

Conse
pt Map

Basic Science
Biokimia

FASE I (FED STATE) : Glukosa berasal dari asupan


makanan
FASE II (FASTING STATE) : Glukosa berasal dari glikogen hati
FASE III (STARVING STATE)
: Glukosa berasal dari
glukoneogenesis (gliserol dan
asam amino)

Basic Science
FASE I (FED STATE) : Fase Kenyang

Basic Science
FASE II (FASTING STATE) : FASE PUASA

Basic Science
FASE III (STARVING STATE) : FASE KELAPARAN

Basic Science
Fisiologi
Sistem
genito
urinariu
s

Syste Hati
m
Cardio
vaskul System
ar
endokr
in

Sistem
gastro
intestina
l

System
sirkula
si

Fungsi
seluler

Siste
m
imun
Kulit,
otot,
dan
kelenja
r

Dasar Diagnosis
Anamnesis
Tanda Klinis
Sifat yang membedakan

Marasmus

Kwarsiorkor

Faktor Penyebab

Kekurangan kalori
(utama) dan protein

Kekurangan protein
(terutama) dan kalori

Lama perkembangan

Beberapa bulan tahun

Beberapa minggu

Tanda fisik
Penurunan BB

Kurus, atrofi otot


Ada

Biasa
Tidak ada / sedikit sekali

Edema

Ada

Tidak ada

Rambut

Normal

Mudah di cabut, rambut


jagung

Albumin, serum,
transferrin/prealbumin

Normal

Rendah

Dasar Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Pada scenario BB pasien 7,5 kg dan tinggi 81 cm.
Menentukan Cut Off Point:
Berat Badan Terhadap Tinggi Badan
BB saat ini
x 100%= 7,5 x 100%= 71,5%
(<70%)
BB sesuai TB pada standar
10,5
KEP I : BB/TB 80-90%
KEP II : BB/TB 70-80%
KEP III : BB/TB <70%
Interpretasi:
Pasien menderita Marasmus Kwashiorkor KEP III, severly wasted
dan stunded (score -3)

Dasar Diagnosis

Dasar Diagnosis

Dasar Diagnosis

Etiologi
Etiologi Primer yang merupakan akibat
efisiensi nutrisi (makronutrien dan
mikronutrien).

Faktor Risiko
Yang Dapat Diubah

Asupan Nutrisi

Yang Tidak Dapat


Diubah
Usia < 5 Tahun
Sosial ekonomi dalam
keluarga yang rendah
Kurangnya pemberian
ASI ekslusif
Ibu dengan banyak
anak

Click Here

Patofisiol
ogi

Penatalaksanaan
Terdapat tiga fase pemulihan KEP :
1. Fase Stabilisasi
2. Fase Transisi
3. Fase Rehabilitasi

Penatalaksanaan
10 langkah penanganan KEP III :
1. Atasi/cegah Hipoglikemi (kadar gula darah :
< 3mmol/dl atau <54mg/dl)
2. Atasi/cegah Hipotermia
3. Atasi/cegah Dehidrasi
4. Koreksi gangguan keseimbangan Elektrolit
5. Obati/cegah Infeksi
6. Koreksi defisiensi mikronutrien
7. Pemberian makanan
8. Mencapai kejar tumbuh
9. Stimuli
10.Persiapan tindak lanjut

Pencegahan
Penundaan penyapihan pada pasien oleh
ibunya
Memberikan menu yang seimbang pada
asupan gizi
Peran posyandu, puskesmas dalam
pendeteksian pasien gizi buruk
Pemantauan yang teratur (pada daerah yang
endemis kurang gizi) dengan melakukan
penimbangan BB tiap bulan
Pemberian Imunisasi
Penyuluhan gizi
Pemberian makanan tambahan bergizi
Pemberian (ASI) yang merupakan energi paling
baik, sampai umur 2 tahun
Pencegahan penyakit infeksi dengan

Komplikasi

Hipoglikemi
Hipotermi
Dehidrasi
Gagal Hati
Gagal jantung
Refeeding syndrome

Refeeding syndrome

Refeeding syndrome
Gambaran klinis dini refeeding syndrome :
Gambaran klinis akibat gangguan
distribusi cairan
Gambaran klinis gangguan metabolisme
glukosa dan lemak
Defisiensi Tiamin (Vitamin B1)
Hipofosfatemia
Hipomagnesemia
Kematian

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Darah Lengkap
Pemeriksaan Urine
Kultur Bakteri

Interpretasi Hasil Lab


INDIKATOR

NILAI NORMAL

HASIL LAB

INTERPRETASI

Hb
Hematokrit
Leukosit
Hitung Jenis
Leukosit
-Basofil
-Eusinofil
-Batang Neutrofil
-Segmen
Neutrofil
-Limfosit
-Monosit
Trombosit
Total Protein
Serum
Albumin
Natrium
Kalium
GDS
Cholesterol

11-14 g/dl
35-49%
4100-11000

7 g/dl
18%
6900

Anemia
Dibawah Normal
Normal

0-1
2-4
3-5
50-70
26-40

2
0
55
44

2-6

150000-400000

160000

Normal

6-8 g/dl

3.5 g/dl

Hipoprotein

3.5-5.6 g/dl
135-144 mEq/l
4.2 mEq/l
90-140%
150-200%

2.3 g/dl
125 mEq/l
3 mEq/l
70%
150%

5-35 u/l

40 u/l

Hipoalbumin
Hiponatremi
Hipokalemi
Hipoglikemi
Normal
Gangguan Fungsi
Hati

SGOT & SGPT

Secara
Keseluruhan
Normal

Epidemiologi
Merupakan masalah utama di negara
berkembang
Melatarbelakangi lebih dari 50% kematian balita
Angka kematian gizi buruk di rumah sakit 20
30%

Prognosis
Q.A.V = Dubia ad Bonam
Karena pasien sudah lama kekurangan gizi
dan keluarga telat memeriksa anaknya ke
dokter sehingga telah mengalami penyulit.
Q.A.F = Dubia ad Bonam
Karena pada pasien cardiac output
menurun 30% dari normal

Bieoetik dan Humaniora


Medical indication
Dokter melakukan anamnesis , pemeriksaan fisik dan
penunjang sesuai dengan diagnose Marasmus Kwashiorkor
disertai penyulit dan Severely Stunted.
Patient Preference
Dokter memberikan Informed concent pada keluarganya
bukan pasien
Quality of Life
Dokter melakukan penanganan untuk mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih membahayakan pasien.
Contextual Feature
Dokter menangani pasien sebaik mungkin dan
memperhatikan sosial ekonomi pasien.